Main Pair : Yunjae and Yoosu

Rate : M

Genre : Romance, Drama, and Hurt

Warning : Boy x Boy / BL / OOC

Summary : Perasaan yang tidak bisa diutarakan berdampak pada menghilangnya Jaejoong. Yunho tidak mengerti apa yang terjadi. Seiring berjalannya waktu, semua terungkap

CHAPTER II

7 Tahun Kemudian...

Tumpukan kertas memenuhi meja kerja manajer East Corp. Bahkan papan nama bertuliskan Jung Yunho, pemilik meja tersebut sedikit tertutup oleh kertas pekerjaan manajer tersebut.

Tok Tok Tok

"Masuk!" suara berat keluar dari seseorang di balik tumpukan kertas.

"Tuan Jung, Anda ada meeting dengan wakil dari perusahaan Mike 1 jam lagi."

"Hahhh~," helaan napas berat mengiringi kegiatan relax sang direktur,"bisakah itu ditunda atau dibatalkan, Chanmi? Lihatlah! Tumpukan kertas ini masih menungguku untuk di perhatikan," ujarnya dengan menunjukkan wajah frustasi.

Sang lawan bicara hanya tersenyum simpul melihat tingkah manajernya seperti anak kecil. "Tapi tuan, perusahaan Mike memiliki saham besar di perusahaan kita. Bagaimana jika nanti mereka tidak mau bekerja sama lagi? Saya tidak mau Direktur Utama marah besar."

"Ck! Kenapa kau selalu mengancamku dengan sebutan Direktur meyebalkan itu?"

"Siapa yang kau sebut Direktur menyebalkan, Manajer Jung?"

Dzzzttt!

Sang manajer terpaku mendengar suara khas yang menurutnya suara –tidak-diperbolehkan-untuk-kau-menyebut-namanya- terdengar jelas di telinganya. Dia hanya mengangkat kepalanya dan menemukan seorang pria –maaf- tua dan –maaf untuk sekali lagi- tambun berkacak pinggang di depan pintu. Wanita bernama Chanmi itu mundur dan keluar sebelum ada perhelatan besar terjadi.

Cklek! Pintu tertutup dengan lembut,"Jung Yunho!" Ucap sang direktur dengan suara khasnya

"Ayah! Jangan memanggilku seperti itu. Aku anakmu- "

"BAGAIMANA AKU MEMPUNYAI ANAK YANG MANJA SEPERTIMU?! HAH?!"

Oke. Sang manajer yang baru saja disebut namanya, Jung Yunho, hanya bisa menarik napas saat sang direktur, ayahnya, kembali memarahinya. Sepertinya ini bukan kali pertama ia dimarahi, melihat gaya santai setelah mendengar ayahnya yang sudah berkoar di depan wajahnya.

"Rubah sikapmu atau perusahaan ini tidak akan pernah untukmu."

Yunho membulatkan matanya. Bagaimana bisa? "Ya! ayah tidak bisa seperti itu. Aku ini anakmu, satu-satunya anakmu. Bagaimana bisa kau tidak memberikan perusahaan ini kepadaku."

"Hey! Aku yang mempunyai perusahaan ini. Jadi aku berhak menentukan siapa yang berhak mendapatkan ini. Aku akan memberikan perusahaan ini kepada Yoochun."

"TIDAK BOLEH!" teriak Yunho, membuat Tuan besar Jung terkesiap, " – maaf ayah"

Tuan besar Jung hanya menggelengkan kepala selagi di dalam batinnya bertanya Kenapa aku mempunyai anak seperti ini? poor tuan besar Jung.

"Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Kenapa kau semakin seperti anak kecil sekarang? Apa yang ibu berikan saat kau makan?"

"Ayah- bukan seperti itu. Hanya saja, yeah~ mungkin aku sedang lelah."

"Lelah setiap hari? Apa yang kau lakukan setiap harinya?""

Yunho mengeluarkan puppy eyesnya dan membuat senyum dengan terpaksa.

"Aku tidak tahan denganmu. Sepertinya ada jiwa anak kecil masuk ke tubuhmu. Sebaikya kau lebih rajin ke gereja dan meminta ampun kepada Tuhan." Tuan besar Jung membuka pintu dan kembali memandang ke Yunho," ubah sikapmu dan menjadi dewasalah. Atau kau kupindahkan ke tempat terpencil," lalu menghilang dari balik pintu.

Yunho yang mendengarnya hanya mengangkat bahu dan kembali melihat dengan pasrah tumpukan kertas pekerjaannya. Mungkin benar kata ayahnya dia harus ke gereja agar lebih semangat. Jangan sampai perusahaan ini diberikan Yoochun. Fighting! Batin Yunho dengan mengepalkan tangannya –seperti anak TK–

_0_

Setiap pagi aku selalu bersamamu

Pagi yang kujalani akan berwarna jika bersamamu

Tapi maaf, sepertinya pagiku akan mulai berubah

Karena aku memutuskan untuk tak bersamamu

Memutuskan untuk meninggalkanmu

Dengan banyak pertanyaan yang mungkin akan kau lontarkan

Atau mungkin..

Kau sudah tak menganggapku sama sekali

Udara pagi sangat menyegarkan, kata orang. Sinar matahari dibutuhkan manusia, kata orang. Garam dapur membuat masakan lebih enak, kata orang. Dan banyak orang bilang, kehilangan seseorang yang sangat dekat dengan kita itu menyakitkan.

Apa itu benar? Batin seseorang sedang berbaring di bangku taman panjang sambil memandang langit cerah. Tangan kanannya digunakan untuk bantalan di bawah kepala.

"Tapi sepertinya, hanya aku yang sakit," ucapnya menerawang langit. Menggapai langit dengan tangan kirinya, sesuatu yang sia-sia. "Dasar tak berguna"

Tiba-tiba cahaya disekitarnya menjadi gelap. Seseorang menutupi cahanya, "siapa yang tak berguna?"

"Hm?"

"Aku tanya siapa yang tak berguna, Jaejoong?" ucap seseorang yang menutupi cahaya orang yang bernama Jaejoong itu.

"Tidak ada, hanya bergurau."

Orang tersebut duduk bersila bersebelahan dengan Jaejoong, "kau selalu seperti itu. Tidak pernah bercerita jika benar-benar tidak dipaksa. Apa artinya aku seorang Park Yoochun sebagai temanmu? Hah~ kau ini."

Jaejoong tersenyum geli mendengarnya. Yoochun selalu seperti itu, ingin tahu segala hal yang ada dipikiran Jaejoong. Ingin menjaganya? Mungkin. Dari awal bertemu pun Yoochun sudah menampakkan jiwa penjaga kepada Jaejoong.

"Di mana Junsu?" tanya Jaejoong mencoba mengalihkan topik. "Tertidur di mobil. Sepertinya dia kelelahan dalam perjalanan. Kau tahu sendiri bagaimana berisiknya suara dia." Celoteh Yoochun dengan gaya bibir seperti bebek. Bahkan jaejoong tertawa kecil saat melihat tingkah Yoochun tidak kalah beda dengan orang yang ia ceritakan. Mereka jodoh? Mungkin haha.

"Jaejoong!"

"Hm?"

"Aku dan Junsu akan pergi ke Seoul."

Jaejoong menoleh,"berapa lama?"

"Aku dan dia akan menetap di Seoul. Aku akan melanjutkan bisnis keluargaku yang di Seoul"

"Bisnis keluargamu juga ada di sini, bukan?"

"Benar. Tapi aku akan bertukar tempat dengan saudaraku yang bekerja di Seoul. Dia sedikit bermasalah menangani bisnis yang di Seoul."

"Bermasalah?" Jaejoong mengernyitkan pertanda tak mengerti

"Aku dapat kabar dari ayahnya kalau saudaraku belum bisa memegang perusahaan di sana, mungkin karena masih pemula. Ayahnya meminta untuk bertukar tempat denganku kalau dia akan bekerja di sini beberapa waktu dan aku yang menggantikan dia di sana." panjang lebar Yoochun.

"Oh, baiklah."

"Tapi aku ingin meminta bantuanmu."

"Bantuan apa?"

"Bantulah dia selama dia menetap di sini."

Jaejoong sejenak berpikir. Jadi bisa dikatakan kalau dia akan menjadi pemandu saudara Yoochun untuk beberapa waktu? Tour Guide?

"Kau ingin aku menjadi Tour Guide-nya?"

"Haha. Kira-kira seperti itu. Tenang saja, dia orang yang baik dan ramah. Hanya saja dia kenak-kanakan akhir-akhir ini."

"Siapa namanya?"

"Kau akan tahu nanti saat dia datang. Sepertinya kalian cocok jika berteman dekat."

"Ck! Jangan memutuskan sesuatu yang belum terjadi."

"Haha. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku yakin kalau kalian sepertinya akan berteman dekat. Sudahlah, lebih baik kau bantu aku membawa Pangeran Junsu ke rumah. Aku ada pekerjaan lagi setelah ini."

"Tidak mau. Kau saja gendong dia," tolak Jaejoong

"Oh! Ayolah, Kim Jaejoong. Kau tahu kejadian saat aku mencoba menggendongnya saat dia tertidur di ruang tv? Asmaku kambuh dan kau masih menolaknya?" pinta Yoochun

"Itu bukan urusanku, hahaha." Jaejoong berjalan santai sambil menggoyangkan tangannya layaknya Sang Maestro.

"Ya! Kim Jaejoong! Kau harus membantuku. Hey, jangan lari!" Yoochun yang merasa ditinggal oleh Jaejoong mencoba mengejarnya. Dan terjadilah kejadian kejar-mengejar antara Yoochun dan Jaejoong. Seorang sahabat selalu membuat nyaman, bukan?

_0_

KRINGG! KRINGG! KRINGG!

Jaejoong membuka matanya terpaksa karena kebisingan yang ditimbulkan dari alat penunjuk waktu di kamarnya. Digapainya dengan malas benda tersebut dan mencoba mematikan bunyi kebisingan tersebut. Jam 5 sore, waktunya membuat makan malam. Ia bangkit dari singgasana dan beralih ke dapur. Dipakainya apron hello kitty-nya berwarna merah.

"Kau sedang apa, Hyung?"

"Eoh? Junsu-ya! Aku membuat makan malam untuk kita. Ini makan malam terakhir kita di sini bukan?" jawab Jaejoong santai. Junsu menyikut perutnya, "heish! Aku dan Yoochun tidak akan lama. Lagipula apa kau benar-benar ingin tidak bertemu dengan kami lagi?" tanya Junsu sensitif.

"Haha. Entahlah, sepertinya aku bosan bertemu dengan kalian setiap hari."

"Ya!" teriak junsu

"Haha. Aku hanya bercanda. Aku pasti akan merindukan pertengkaran kalian yang sepertinya anak kecil"

"Heish! Kau selalu saja seperti itu. Tapi tenang saja, kau tidak akan sendirian besok. Saudara Yoochun akan datang besok. Dia akan tinggal bersamamu di rumah ini. Jadi kau tidak perlu takut sendirian." Beber Junsu sambil memakai apron lumba-lumba miliknya. Jaejoong mengambil sayuran di lemari pendingin, "iya, aku sudah diberitahu Yoochun. Ehm- kau tahu namanya?"

Junsu membantu Jaejoong membawakan sayuran dan bahan-bahan yang akan digunakan untuk memasak dari lemari pendingin, dan menghiraukan pertanyaan yang dilontarkan Jaejoong. Jaejoong menatap ke arah Junsu, "Ya! Kau mendengarku tidak?" tanya Jaejoong sedikit berteriak. Junsu yang mengacuhkannya mulai sadar dan mengerjapkan matanya berulang kali. "Apa? Aku salah mengambil bahan? Kau ingin memasak apa?" Jaejoong yang mendengarnya hanya bisa menggeleng kepala dan berkacak pinggang. Poor Jae~.

"Aku bertanya, kau tahu nama saudaranya Yoochun?" tanya Jaejoong sekali lagi

"Ah, ternyata itu. Aku lupa tapi marga Yoochun dengannya berbeda. Ah sebentar aku ingat lagi. Kalau tidak salah nama belakangnya Ho. Ehm~ Ehm~ Ho"

Jaejoong mengeryit, "apa itu sebuah nama? Ehm~ Ehm~ Ho?"

"Bukan itu maksudku. Seungho? Dongho? Ehm-"

"Junho?"

"Hey! Itu nama kembaranku. Entahlah aku lupa. Sudah lama aku tidak bertemu dengan dia. Aku saja lupa dengan wajahnya."

"Apa yang kau ingat selain Yoochun, eoh?"

Junsu merona. Oh lihatlah betapa imutnya dia saat ini, " ya! Aku juga bisa mengingatmu. Hahaha."

"Alasan saja," cibir Jaejoong dan melanjutkan masaknya.

Jaejoong berpikir. Siapa nama dia sebenarnya? Bagaimana wajahnya? Apa mirip dengan Yoochun?

Deg deg deg!

Jantung Jaejoong berdetak kencang. Perasaan apa ini? Tuhan tenangkan hati ini, batin Jaejoong

"Kau melamun, Hyung?" Junsu menegur Jaejoong yang sedari tadi memandang kosong sayuran yang sedang ia cuci. Jaejoong yang merasa terpanggil dan segera membuyarkan lamunannya,"ah! Tidak. Aku sedang mencuci piring. Ah maksudku mencuci sayuran," Jaejoong mengelak dan melanjutkan pekerjaannya. Ada apa denganku?

_0_

Maaf jika kalian menunggu lama karya ini, haha. Terimakasih kepada Vans Voldamin, 5351, dan dahsyatnyaff. Oke silahkan kalian review cerita ini dan komentar apa saja yang kurang dari cerita. Mungkin kalian bisa membantuku mencari inspirasi cerita ini. Aku sedang mengerjakan project ff tentang cerita segitiga antara seorang wanita, Changmin, dan Leo Vixx. Dan dimungkinkan kalian juga bisa membantuku bagaimana cerita itu berjalan. Thank u and see you later~