Terima kasih yang telah mereview...Dhitta sangat senang membaca review dari para readers sekalian...

Sebagai rasa terima kasih, dhitta suguhkan chapter 3 yang menjadi last chapter dari fic Nameless Memory..

Semoga tak mengecewakan..

Enjoy it...

Summary : Last chapter! Aku mencintainya. Tapi ia tak mencintaiku. Lalu kenapa ia menghamiliku? Konflik rumah tangga yang dijalani Sakura sebagai istri yang tak diinginkan "Aku bodoh Sasuke-kun...karena itu aku tak pernah ingin meminta cerai darimu..."

Disclaimer : Masashi Kishimoto


Nameless Memory

Chapter 3 : Kenangan Yang Tak dikenal

Senyum cerah terkembang dibibirmu. Kulihat kau begitu bahagia. Akhir-akhir ini aku sering melihatmu bersenandung kecil dan terkadang tertawa. Kupikir kau gila, karena tak biasanya kau seperti itu. Selama menjalani kehidupan rumah tangga yang pahit ini, aku belum pernah sekalipun membuatmu tersenyum semanis ini.

Selalu saja air mata yang kau suguhkan padaku. Membuatku muak. Tapi kini, kulihat kau begitu bahagia dan senang dengannya. Ya...dengannya, dengan pria lain.

Aku menatap frustasi dirimu dari balik kaca mobil milikku. Kau tak sendiri. Ada Daichi, seorang anak perempuan berambut perak dan sosok pria yang duduk berseberangan denganmu. Kau terlihat menikmati potongan-potongan es krim dikedai itu sambil bercengkrama dengannya. Kalian terlihat seperti keluarga. Keluarga utuh yang terdiri dari ayah, ibu dan kedua anaknya.

Hatiku terasa panas. Kenapa aku ini? Seharusnya tidak boleh seperti ini kan?

Aku tak memiliki perasaan apa-apa padamu. Aku tak peduli sedikitpun padamu. Tapi kenapa setiap kali melihatmu berdekatan dengan pria lain membuatku kesal?

Apa kau selingkuh? Ini sudah yang ketiga kalinya aku melihatmu bersama dengannya.

Kau tersenyum, tak ada rasa takut sedikitpun saat bersamanya. Sedangkan bersamaku? Kau selalu menunjukan rasa takutmu. Kau selalu menangis. Kau bahagia dengannya dan merana denganku. Kalau tahu begitu, kenapa kau tak meminta cerai padaku? Kenapa kau terus bertahan dengan rumah tangga yang berlandaskan sandiwara ini?

Kulihat juga Daichi menerima pria itu dengan baik. Ia tak sedikitpun menunjukan rasa takutnya seperti saat berhadapan denganku. Apa ini sosok ayah yang ia inginkan? Dan aku bukanlah sosok itu. Aku bukan sosok ayah yang ia inginkan. Membuatku marah.

Apa aku hanya bisa menyakitimu? Aku ingin menyentuhmu Sakura. Tapi aku takut, aku takut kau menolaknya. Entah kenapa aku selalu merasa puas setelah memukulmu, menamparmu, menendangmu atau yang lainnya.

Apa aku ini seorang psikopat? Psikopat yang menunjukan rasa sayangnya dengan kekerasan? Psikopat yang menunjukan rasa cintanya dengan hinaan?

Aku payah! Kenapa mendadak jadi lemah begini? Mau bagaimana pun aku tetap tak akan pernah mencintaimu. Aku takkan mencintai Sakura. Karena kami bersama pun karena kesalahan. Dan itu takkan berubah.

000000000000000000

"Bunda, besok boleh main sama Sora-chan lagi?" Tanya seorang anak laki-laki berambut hitam indah pada sosok Bundanya. Sang bunda tersenyum dan mendekatkan dirinya pada sang anak. Merangkul anak laki-laki itu dan menatap mata beriris hitam itu hangat.

"Sayang, besok kan hari libur. Biarkan Sora-chan dan Paman Kakashi istirahat sayang!"

"Yaah..." Anak laki-laki bernama lengkap Uchiha Daichi itu mengeluh mendengar penjelasan Bundanya, Sakura. Ia menundukan wajahnya dan sesekali tangan mungilnya mengaduk-ngaduk es krim vanilla yang ada dihadapannya.

"Daichi-kun tak usah sedih, nanti kita main lagi! Iya kan yah?" Ayah sang gadis hanya tersenyum menanggapi putrinya yang berniat menghibur teman kecilnya yang bersedih.

"Daichi kesepian..." Ungkap Daichi. Sakura hanya tersenyum hambar menanggapi pengakuan putranya itu. Memang benar, setiap hari Daichi hanya bisa bermain sendirian dikamar dengan Hula. Hula berbentuk seperti anak laki-laki. Matanya terbuat dari kancing baju, sedangkan mulutnya hanya terbuat dari untaian benang. Hula adalah boneka yang dibuat Sakura saat usia Daichi empat bulan. Hula dibuat sebagai tanda terima kasih Sakura pada Daichi yang telah menyelamatkannya dari maut saat Sasuke mencekiknya waktu itu.

"Daichi, bagaimana kalau paman traktir vanilla milkshake? Nanti Daichi bawa pulang milkshake-nya buat menemani Daichi dirumah nanti?" Tawar Kakashi lembut. Cara seperti adalah cara paling ampuh yang sering ia gunakan pada Sora yang sedang merajuk.

"Kakashi-kun, tak perlu..-"

"Tidak apa-apa Sakura tenang saja!"

"Ayo Sora temani Daichi!" Sora tersenyum dan langsung menggandeng tangan Daichi.

Sakura sebenarnya tidak enak pada Kakashi. Sudah tiga hari ini Kakashi selalu mentraktirnya dan Daichi makan es krim. Sakura bukanlah perempuan murahan yang begitu saja menerima ajakan pria yang baru dikenalnya, apalagi ia telah memiliki suami. Yah...walaupun kita semua tahu ia tak bahagia hidup dengan suaminya, tapi tetap saja ia tak boleh sembarangan menerima ajakan pria lain.

Tapi apa daya. Ia kasihan melihat Daichi. Ia ingin putranya itu bahagia. Dan mungkin kebahagian Daichi ada pada sosok Kakashi. Selama ini Daichi tak penah sedikitpun mendapat perhatian Sasuke. Setiap hari ia hanya bermain dirumah. Sasuke tak memperbolehkan Daichi bermain dengan anak tetangga. Walaupun setiap hari Sakura menemani putranya bermain, tapi tetap saja itu tak begitu membuat Daichi senang. Disaat banyak anak seusianya memiliki banyak mainan, Daichi hanya memiliki satu boneka butut yang sudah banyak lubangnya.

"Ada yang mengganggumu Sakura?" Tanya Kakashi lembut.

"Tidak ada, hanya saja aku merasa kau terlalu baik padaku dan aku rasa ini sudah berlebihan!" Tegas Sakura.

"Soal itu tidak apa-apa! Kasihan Daichi dan Sora. Mereka berdua sama-sama kesepian! Dirumah Sora selalu murung dan protes karena aku pulang malam terus. Lagipula kulihat Daichi juga begitu!" Kakashi menenangkan. Tapi justru ini semakin membuat Sakura takut. Bukan takut pada Kakashi yang akan berbuat macam-macam karena ia yakin Kakashi adalah pria baik. Tapi ia takut pada perasaannya. Ia takut perasaannya pada Kakashi berubah dan pada akhirnya ia akan melupakan Sasuke.

"Hei...apa itu?" Tanya Kakashi mengejutkan Sakura. Tangan kekarnya bergerak menuju kearah leher Sakura. Disingkirkannya beberapa helai rambut Sakura yang menutupi sesuatu dilehernya.

Refleks Sakura langsung menepis tangan Kakashi dan memegang lehernya. Dirasakannya wajahnya memanas sekarang.

"Hm...tak kusangka suamimu agresif juga ya?" Goda Kakashi. Sakura hanya tersenyum salah tingkah sambil menutupi ruam kebiruan dilehernya. Ruam atau bisa disebut memar yang sama sekali bukan berasal dari kissmark Sasuke. Melainkan berasal dari cekikan Sasuke dua hari yang lalu.

Kenapa Sasuke mencekiknya? Biasa lah, Sasuke sedang kalah taruhan. Dan Sakura lah yang jadi sasarannya.

"Sakura, sepertinya Daichi butuh teman! Berikanlah ia adik. Lain kali diskusikan masalah ini pada suamimu ya!" Lagi-lagi Sakura hanya tersenyum menanggapi godaan Kakashi. Andai saja Kakashi tahu apa yang sebenarnya terjadi dirumah tangganya. Mungkin sekarang ia takkan bisa bicara seperti itu lagi.

Karena bagaimanapun perasaan Sasuke pada dirinya takkan berubah. Kenyataannya adalah suaminya sendiri tak mencintai dirinya.

0000000000000000

Jam sudah menunjukan pukul satu siang. Waktu dua jam rasanya cukup bagi Sakura dan Daichi untuk berjalan-jalan. Sakura menolak ajakan Kakashi untuk mengantarnya dan Daichi sampai rumah. Ia lebih memilih berjalan kaki dibanding harus merepotkan Kakashi.

"Bunda ayo cepat! Hula pasti sudah menunggu Daichi dirumah!" Pekik Daichi keras sambil menarik-narik lengan Sakura untuk segera membuka pagar rumahnya yang setinggi dua meter itu.

"Iya ini juga Bunda sedang buk-" Kata-kata Sakura terhenti manakala menyadari gembok rumahnya telah terbuka. Itu pertanda bahwa telah ada orang yang masuk kerumah ini sebelum Sakura.

Hanya ada dua kemungkinan, antara ada maling yang membobol rumahnya atau...

"Ya..Tuhan!" Ia segera mendorong pintu pagar itu dan seketika mata emeraldnya terbuka lebar. Kakinya mendadak lemas.

Yang membuatnya lemas adalah bukan karena melihat ada seorang maling yang sedang membobol rumahnya. Melainkan lebih buruk, ia melihat suadah ada mobil sedang hitam milik suaminya yang terparkir digarasi rumah. Sasuke sudah pulang bekerja.

"Ayah sudah pulang Bunda!" Seru Daichi semangat dan segera menerobos pintu kayu rumahnya. Namun dengan sigap Sakura meraih tubuh mungil putranya yang terbalut seragam taman kanak-kanak itu dan langsung menggenggam tangannya.

"Tetaplah bersama bunda nak.." Lirih Sakura bergumam ditelinga putranya. Disaat banyak istri senang mendapati suaminya pulang cepat, Sakura justru takut. Ia takut, tak biasanya Sasuke pulang cepat. Terakhir Sasuke pernah pulang cepat karena ayah dan ibu mertuanya datang.

Sakura sedikit bernapas lega. Karena mungkin saja sekarang ayah dan ibu mertuanya sedang berkunjung. Ya..semoga saja begitu.

"Aku pulang..." Ucap Sakura lirih. Ia mulai berjalan memasuki ruang tamu. Kosong. Tak ada siapapun. Padahal disinilah tempat favorit sang ayah mertua saat berkunjung. Sakura menahan napas dan mulai mempersiapkan mentalnya untuk hal terburuk.

Sepertinya Tuhan belum mau menyudahi penderitaan wanita berambut pink ini. Karena benar saja, ketika ia melangkah menuju ruang keluarga terlihat disana berdiri Sasuke yang sedang menatapnya tajam.

"Sa..sa..Sasuke-kun aku pulang.." Ucap Sakura gemetaran. Takut yang teramat sangat melanda dirinya. Apa yang akan Sasuke lakukan jika mendapati dirinya pulang terlambat? Mau beralasan pun pasti sulit karena Sasuke tahu betul kapan seharusnya Daichi pulang sekolah.

PLAK...

"BUNDA!" Satu tamparan keras mendarat dipipi kanan Sakura. Membuat wanita kurus ini jatuh terlempar. Cairan asin berbau anyir mengalir dari sudut bibir dan kepalanya.

"Bunda!" Daichi langsung menghampiri bundanya. Namun terlambat tangan kasar sang ayah telah menghambatnya.

"Ayah lepaskan Daichi!" Berontak Daichi. Tapi apa daya tenaga tubuh bocah empat tahun takkan sebanding dengan kekuatan ayahnya. Daichi masih menjerit-jerit minta dilepaskan, dan suara jeritan itu menyadarkan Sakura.

"Lepaskan tanganmu Sasuke-kun..kumo..hon.." Sakura menggelayuti kaki suaminya. Memohon agar Daichi dilepaskan. Tapi dengan mudahnya tubuh Sakura kembali terlempar. Dan Daichi pun telah terkunci dikamarnya.

"BUNDA!"

"DAICHI!" Pekik bunda dan putranya tak berdaya. Sang ayah hanya menyeringai puas dan mendekati tubuh tak berdaya istrinya.

"Menikmati acara jalan-jalanmu itu, wanita jalang?" Desis Sasuke. Sakura hanya bisa membelalakan matanya saat menyadari ternyata alasan marahnya Sasuke bukan karena keterlambatannya pulang. Melainkan mengenai Kakashi.

"Kau..salah pa..ham Sasu..akh!" Dirasakan kepalanya sakit saat Sasuke mulai menjambak rambut merah mudanya. Membuat wajahnya mendongak paksa. Air mata sudah deras mengalir dari pelupuk matanya.

"Salah paham? Hah salah paham? Apa aku tak salah dengar hah?"

PLAK...

Untuk yang kesekian kalinya tubuh mungil Sakura kembali terlempar. Sasuke belum puas dengan itu, ia kembali menghampiri tubuh tak berdaya Sakura. Ia jambak lagi rambut merah muda Sakura dan menyeret wanita malang itu keruang keluarga.

Bugh...Bugh...PLAK..

Sasuke kembali memukuli, menampar dan menendang tubuh Sakura tanpa ampun. Sakura hanya meringkuk melindungi kepalanya dari serangan bertubi-tubi Sasuke. Sekilas ia dapat melihat ada perasaan kecewa dan marah yang amat sangat tergambar dimata suaminya, itu jarang sekali ia lihat. Pasalnya setiap kali Sasuke menyiksanya, yang tergambar jelas dimata onyx suaminya adalah tatapan jijik dan kebencian.

Kesadaran Sakura pun perlahan mulai menipis. Darahnya sudah mulai berceceran dilantai. Sekilas telinganya mendengar makian Sasuke yang menuduhnya.

"BERANINYA KAU BERBUAT LANCANG SEPERTI ITU!"

"SIAPA LAKI-LAKI ITU? KAU SELINGKUH HAH?"

Kenapa? Kenapa harus seperti ini? Kenapa Sasuke marah jika dirinya bersama pria lain? Sasuke tak pernah mencintainya kan?

"Kenapa? Ke...kenapa...kau..ukh..marah padaku?" Tanya Sakura tebata. Ia merintih kesakitan. Sasuke berhenti dari aksinya dan menatap tubuh Sakura yang meringkuk kesakitan.

"Kenapa? Kau tanya kenapa? Apa yang kau lakukan dibelakangku jalang?" Desis Sasuke ditelinga Sakura.

"Kau...sendiri..ap..apa? Kau..hanya bisa..menyiksaku...kau juga seling...selingkuh kan?" Ucap Sakura dengan sisa tenaganya.

PLAK...

Cairan merah mengalir lagi pelipis Sakura akibat tamparan Sasuke.

"Berani kau bilang seperti itu? Kau yang telah membuatku terikat dalam pernikahan bodoh ini jalang! Kau yang telah membuatku menderita! Kau yang membuatku harus menerima status ini..."

"LALU KENAPA KAU MENGHAMILIKU?" Jerit Sakura frustasi. Ini sudah cukup. Semua penderitaannya, semua penyiksaan ini. Sudah cukup.

"Aku takkan...takkan menjadi istrimu jika kau..tak...mem..buatku hamil!"

"Kau bilang menderita? AKU JAUH LEBIH MENDERITA! AKU TAKKAN MENANGGUNG SEMUA INI JIKA KAU TAK MENGHAMILIKU!" Sasuke terdiam. Ia mundur beberapa langkah. Sakura hanya menangis meraung-raung. Menangisi hidupnya, menangisi keadaannya dan menangisi sakit yang mendera tubuh serta hatinya. Sesekali ia memuntahkan darah dari mulutnya. Tenggorokannya terasa perih akibat berteriak.

"Kenapa? Ke..kenapa...kena..ukh...ukh...kenapa harus aku yang menanggungnya?" Tanya Sakura. Sasuke masih terdiam tak menjawab.

"Kenapa tak...kau..buat saja Ino mengandung anakmu? Dengan ...i...tu kau..akan sena..senang kan? Tap..tapi kenapa harus ak..aku?" Tanyanya frustasi. Benar apa katanya, kenapa Sakura harus menanggung semuanya. Sasuke menjatuhkannya kelubang penderitaan karena penolakan Ino. Semua bermula dari kesalahannya. Jika saja ia berbesar hati menerima keputusan Ino dan tak bersikap bodoh, semua takkan terjadi. Ia takkan terlibat semua ini. Ia tak akan memupuk dosa dengan menganiyaya istri yang seharusnya ia lindungi. Sakura pun juga takkan terlilit penderitaan tanpa ujung seperti ini. Dan yang paling penting, putra mereka Uchiha Daichi takkan ikut menanggung penderitaan diusia yang begitu dini.

"Hentikan!" Desis Sasuke. Dicengkeram kepalanya erat. Pertanyaan-pertanyaan Sakura mengiang-ngiang ditelinganya.

"Ak..aku ikhlas..aku..pasrah..Sasuke-kun..mati ditanganmu pun..aku rela jika..bisa menghentikan..penderitaan..i..ini.."

Brak...

Tiba-tiba sosok mungil Daichi terlihat dari pintu. Entah apa yang terjadi, tapi mungkin Daichi menggunakan kunci cadangan yang pernah Sakura titipkan padanya. Tapi disaat seperti ini kehadiran Daichi justru tidak menguntungkan Sakura. Bagaimanapun keselamatan putranya pasti akan terancam.

"AYAH JAHAT! Ayah jahat! Daichi benci ayah!" Jerit Daichi seraya melayangkan pukulan-pukulan tak berarti di kaki ayahnya. Sang ayah Sasuke sama sekali tak merespon pukulan putranya. Ia masih saja mencengkeram kepalanya seperti orang sakit.

Dengan sisa tenaganya Sakura menarik tubuh Daichi kepelukannya. Ia segera memaksa Daichi untuk menunduk dihadapan ayahnya. Air mata kembali tumpah bercampur dengan darah yang mengalir. Bercampur menghasilkan warna kontras yang menyedihkan.

"Minta maaf pada ayah...nak!" Paksa Sakura. Disaat seperti ini, ia masih ingin menunjukan bahwa ia bukanlah istri tak berguna, bodoh, atau yang lainnya. Ia ingin menunjukan bahwa selama ini ia mendidik Daichi untuk bisa menghargai dan menyayangi ayahnya. Bagaimanapun keadaannya.

"Tapi Bunda..."

"Hormati ayah seperti yang bunda ajarkan sayang! Ayo lakukan!" Pekik Sakura putus asa. Diachi hanya menuruti kata-kata Sakura dan menunduk meminta maaf pada Sasuke. Pipi ranum Daichi yang semula putih, berubah warna menjadi merah akibat darah bundanya.

"Bunda...berdarah..." Bulir-bulir bening mengalir dari mata onyx Daichi.

"Tak...ukh...apa nak.."

Sakura tersenyum damai dan mengelus kepala Daichi lembut dan perlahan dengan sisa tenaganya ia peluk putra semata wayangnya yang sedang menangis. Sakit dikepala Sasuke semakin menjadi. Ia tak sanggup melihat Sakura. Melihat darah yang mengalir serta memar yang terpahat di tubuh kurus istrinya itu. Jujur akan lebih baik jika saat ini juga Sakura pergi dari hadapannya, mengadu pada kakaknya dan meminta cerai.

Kenapa? Kenapa justru Sakura menatap matanya dengan tatapan seperti itu. Kilau emeraldnya mengatakan bahwa ia sangat mencintai suaminya. Apa yang telah ia lakukan? Ia telah menuduh orang yang tak pernah disayanginya itu berselingkuh. Padahal apa kenyataannya? Sakura seperti itu mungkin karena tak mendapatkan haknya sebagai seorang istri. Yaitu kebahagian dengan suaminya. Sehingga apa salahnya ia mencari kebahagian itu diluar?

Dan kenapa ia marah? Padahal hampir seminggu sekali ia mencari kehangatan dengan wanita-wanita murahan yang menngobral dirinya di bar atau diskotik.

Ia jauh lebih jalang dibandingkan Sakura. Sakura berhak mendapat kebahagiannya. Meskipun dengan laki-laki lain. Tapi yang ia rasakan apa? Sakit. Hatinya berdecit ketika melihat istrinya akrab dengan pria berambut perak itu. Apa ini yang dirasakan Sakura ketika ia bermain dengan wanita lain?

'Kau hanya bisa menyakiti istrimu...'

"ARGH...!" Teriaknya menggila dan keluar dari rumah. Sakura hanya menatap nanar punggung suaminya. Perlahan rasa sakit menyeruak ditubuhnya. Bermula dari kaki dan berujung pada sakit di kepalanya. Kesadarannya mulai berkurang. Apa ia akan mati setelah dianiyaya suaminya?

Ditatapnya helaian rambut merah mudanya yang panjangnya sepunggung itu. Rambutnya tak lagi merah muda, melainkan sudah berubah warna menjadi merah dibeberapa bagian. Disentuhnya sudut bibirnya. Sakit, kulit bibirnya pecah dan mengeluarkan cairan anyir.

Perlahan tapi pasti rasa sakit itu kembali menyerang sampai pada akhirnya ia terjatuh dalam pusaran hitam yang membawanya terus jatuh dan jatuh kedalamnya.

"BUNDA!"

0000000000000000000

Tetes demi tetes cairan infus mengalir melewati selang bening untuk menyuplai kebutuhan nutrisi bagi si pemakai. Jarum tipis menancap dalam di tangan mungil milik Sakura. Tubuh lemah tak berdaya miliknya terbaring diatas ranjang rumah sakit. Sebagian tubuhnya, yaitu lengan kiri, pergelangan kaki kanan, lutut kaki kiri, serta kepala terlilit kain kasa putih dengan sedikit darah bercampur cairan antiseptik yang merembes.

Semua telah hadir. Menunggu kesadarannya kembali. Semua hanya diam. Bergelut dalam pikiran masing-masing. Semua menunggu dokter keluar dan membawa kabar yang entah itu baik atau buruk.

"Bunda.." Tangis putra Uchiha sambil memeluk tubuh sang nenek. Nenek Chiyo hanya berusaha menenangkan cucunya itu.

"Kau...apa yang kau lakukan pada adikku..?" Desis Sasori murka. Ia tarik kerah baju suami adiknya itu.

BUGH...

Satu pukulan telak mengenai wajah bungsu Uchiha hingga terlempar ke lantai rumah sakit yang dingin. Sang ibu, Mikoto Uchiha hanya bisa menangis di pundak Fugaku. Malu. Sebagai seorang ibu ia malu memiliki putra berkelakukan layaknya binatang itu.

Diluar, dihadapannya dan keluarga besar Uchiha, Sasuke selalu menunjukan sikap baik dan menyayangi istri dan anaknya. Tapi didalam, Sasuke berubah buas sampai akhirnya mampu melukai menantunya itu hingga dirawat di rumah sakit.

"KAU KEPARAT! Apa yang sudah kau lakukan pada adikku?" Amuk Sasori. Berkali-kali ia layangkan pukulan dan tendangan keras ke tubuh kekar Sasuke.

Sasuke? Hanya meringkuk tak melawan. Tubuh dan hatinya terasa beku. Hanya ada satu rasa yang mampu ia rasakan sekarang. Menyesal.

"Ayah!" Pekik Daichi yang langsung melompat dari gendongan neneknya. Menghampiri ayahnya, melindunginya, memeluk kepala ayahnya dengan satu tangan mungilnya. Sedangkan tangan yang lainnya bergerak mencegah serangan dari pamannya.

"Kenapa? KENAPA KAU MELINDUNGINYA DAICHI?"

"Sasori cukup!" Cegah Itachi. Tak tega rasanya melihat adiknya diperlakukan seperti ini.

"Kau...bisa berkata seperti itu karena kau keluarganya! Apanya yang Uchiha? Dasar sampah!" Umpat Sasori. Yang lain hanya terdiam. Fugaku sendiri tak mampu membela putranya. Ia justru malu memiliki seorang putra yang munafik seperti Sasuke. Nama Uchiha tercoreng dengan kejadian ini.

"Ayah...Daichi takut.." Gumam Daichi dipelukan sang ayah. Sasuke hanya mengelus kepala anaknya lembut. Begitu banyak beban yang ditanggung Daichi dan semua itu karenanya.

Ceklek...

Pintu ruang rawat inap Sakura terbuka. Tampak seorang dokter wanita berparas cantik berambut pirang keluar dari dalamnya. Senyum terkembang dari bibirnya manakala melihat tampang cemas dari semua orang yang ada disini.

"Nyonya Sakura baik-baik saja. Keadaannya telah stabil, kami telah berhasil menghentikan pendarahan dikepalanya, mengobati luka ditubuhnya, dan memberikan obat. Sebentar lagi beliau akan sadar..Mungkin Nyonya Sakura akan mengalami rawat inap selama tiga atau empat hari.." Jelasnya. Nampak Nenek Chiyo menghela napas lega. Begitupula dengan yang lainnya.

Mata indah sang dokter tertuju pada Sasuke yang masih dalam posisinya duduk dilantai dengan sejumlah luka diwajahnya.

"Maaf bukan saya bermaksud ikut campur, tapi selesaikan masalah keluarga ini diluar. Saya khawatir dengan kondisi kejiwaan Nyoya Sakura saat ini." Sasori hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan dokter dihadapannya.

"Apa Sakura sudah boleh dilihat keadaannya dok?" Mikoto angkat bicara. Wanita berambut hitam pekat ini sekilas menatap kearah putra bungsunya. Dalam hati ia berfikir, belum terlambat rasanya menyelamatkan rumah tangga Sasuke, asalkan putranya itu mau berubah.

"Sudah, tapi mungkin satu persatu menjenguknya. Baik saya permisi dahulu!" Pamit si dokter langsung meninggalkan semuanya. Sasori menatap sinis kearah Sasuke dan langsung menggendong Daichi masuk ke kamar Sakura, meninggalkan yang lainnya.

Perasaan bersalah, menyesal dan takut bercampur aduk dibatin Sasuke. Merasa bersalah telah menjerumuskan orang yang tak bersalah seperti Sakura kelubang penderitaan. Menyesal karena telah menganiyaya istri yang sebenarnya amat sangat ia sayangi. Walau ia masih menyangkal perasaan itu. Apa mungkin keutuhan rumah tangganya akan tetap terjaga? Itulah yang ia takutkan jika pada akhirnya rumah tangganya berakhir di meja hijau.

Ia tekuk kakinya, lalu menenggelamkan wajah tampannya diantara kedua lututnya. Perlahan terdengar suara isak tangis dari bibirnya.

~0~

Malam itu kau mabuk

Kau menyakitinya...merebut semua yang ia punya...

Kesuciannya.

Kau hanya menatapnya jijik ketika ia menangisi semua perbuatanmu.

Kau pergi meninggalkannya. Bertingkah seperti pengecut.

~0~

Disaat ia meminta tanggung jawab atas apa yang kau perbuat...

Apa yang kau lakukan?

"Aku hamil Sasuke-kun, aku minta tanggung jawabmu!"

"Gugurkan!"

~0~

Disaat banyak pasangan bahagia bisa tidur bersama, apa yang kau perbuat pada istrimu?

"Izinkan aku tidur disini Sasuke-kun..."

"Jijik aku tidur denganmu!"

~0~

Disaat kau melihat wajah lelahnya yang tertidur...

Kau tak membelai rambutnya, mengecupnya dan mengucapkan selamat pagi ketika ia terbangun..

Tapi apa yang kau lakukan?

Kau jambak rambutnya, kau jatuhkan tubuhnya kelantai yang dingin tak berperasaan...

"Dasar malas! Tidur saja yang kau bisa!"

~0~

Disaat kau pulang, ia selalu menyambutmu..

Memberikan senyum terbaiknya sambil mengucapkan kata 'selamat datang'

Tapi apa balasanmu?

"Berhenti tersenyum! Benci aku melihatnya.."

~0~

Ketika ia menelponmu, memberitahumu bahwa putramu telah lahir kedunia...

Kau tak mengucapkan kata syukurlah atau berterima kasih pada istrimu...

Apa yang kau ucapkan?

"Dasar istri merepotkan!"

~0~

Putramu telah lahir kedunia dan itu semua berkat usaha istrimu..

Putramu begitu tampan dan mirip denganmu..

Tapi apa yang kau katakan ketika kau melihat kemiripan itu?

"Kenapa harus mirip denganku? Memuakan!"

~0~

Setiap hari yang kau keluarkan hanya cacian dan makian...

Tapi ia hanya tersenyum sambil menundukan kepala...

Begitu pula ketika kau merangkul mesra tubuhnya, mengeluarkan kata manis ketika berhadapan dengan keluarga besarmu..

Tapi ia tetap tersenyum sambil menundukan kepala...

Tapi tahukah kau sesungguhnya hatinya menangis dan merana?

~0~

Dan puncaknya, ketika kau melihat istrimu bersama pria lain..

Apa yang kau lakukan?

Kau marah, kau memukulnya, menyakitinya.

Padahal tahukah kau bahwa rasa cemburumu itu belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa cemburunya padamu?

Kau tak tahu apa rasanya jika mengetahui suaminya

Pulang larut malam, mabuk, dan bermain perempuan..

Ketika ia tanya alasanmu kenapa kau seperti itu, apa yang kau jawab?

"Aku bersama perempuan malam ini, dan itu sangat menyenangkan.."

~0~

Kini ketika ia terbaring tak berdaya dirumah sakit

Kau tak bisa berbuat apa-apa

Hanya duduk meringkuk dan menangis..

Kau bodoh Uchiha...Kau bodoh

00000000000000

Sasori menatap miris tubuh kurus adiknya yang terbaring diatas ranjang. Tubuhnya terlihat semakin kurus dikarenakan pakaian rumah sakit yang longgar. Dielusnya kening Sakura perlahan. Setitik air mata jatuh ketika melihat lilitan perban dikepalaSakura.

Pria berusia dua puluh delapan tahun ini menangis. Tak pernah ia bayangkan adik kecilnya yang selalu tersenyum dan ceria akan menderita seperti ini. Tak seharusnya ia percayakan adiknya kepada orang macam Sasuke. Ia merasa gagal mengurus adik angkatnya. Ia gagal melindungi adiknya dari penderitaan.

Perlahan kelopak mata Sakura bergerak. Sedikit demi sedikit perlahan tapi pasti Sakura dapat melihat sosok Sasori dan putranya.

"Bunda!" Daichi langsung menghambur kepelukan bundanya. Wanita berambut pink itu tersenyum manis mengetahui putranya baik-baik saja. Tak henti-hentinya ia gumamkan kata syukurlah dan terus saja menciumi pipi Daichi.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Sasori yang telah mengontrol emosinya. Mata emerald Sakura beralih memandang wajah kakak angkatnya yang terlihat cemas.

"Ya kak..terima..kasih!" Gumam Sakura pelan. Rasa perih melanda sudut bibirnya yang pecah akibat pukulan Sasuke yang terlampau keras.

"Kak.."

"Ya...ada apa?"

"Mana Sasuke kak?" Ingin rasanya Sasori menghajar Sasuke itu sampai tewas. Sebegitu besarnya pengaruh Sasuke pada adiknya sehingga membuat Sakura tetap mencari Sasuke, meskipun telah diperlakukan seperti ini?

"Kau akan bercerai dengannya! Kakak akan urus masalah ini sampai tuntas!" Tegas Sasori. Sakura langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Tidak kak! Aku tak ingin berpisah dengan Sasuke!"

"Tapi ia sudah menyakitimu sedemikian rupa Sakura! Sadarlah Sasuke bukan suami yang baik untukmu dan Daichi!"

"Tapi kak...Sasuke adalah suamiku kak, ia adalah ayah dari putraku kak! Aku mohon jangan pisahkan kami..." Pinta Sakura memohon. Sasori hanya tertegun mendengar permintaan adiknya. Sudah disakiti seperti ini Sakura tetap tak ingin berpisah dari Sasuke.

"Kau bodoh Sakura! Sasuke telah menyakitimu!"

"Aku memang bodoh kak! Karena itu aku bertahan dengan Sasuke, karena aku bodoh sehingga aku tak mengadu pada kakak tentang rumah tanggaku. Karena aku bodoh kak, aku tak ingin berpisah dari Sasuke kak...ak..aku bodoh karena itu aku mencintainya kak!" Air mata kembali keluar dari mata emerald Sakura. Daichi hanya bisa mempererat pelukannya pada Sakura, berharap dapat menenangkan bundanya.

Sasori menundukan kepalanya. Adiknya telah dewasa. Ia pasti bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.

"Baiklah maafkan kakak, Sakura!" Ucap Sasori sambil mengecup kening sang adik dan memberikan pelukan kasih sayang pada adiknya yang masih setengah terbaring (ranjang rumah sakit kan agak naik dibagian kepala)

Diluar, tak ada percakapan berarti diantara Nenek Chiyo, Fugaku, Mikoto dan Sasuke. Semua terdiam terkecuali saat melihat Sasori keluar dari kamar Sakura.

Pandangan mata Sasuke langsung tertuju pada Sasori, begitu juga sebaliknya.

"Masuklah!" Perintah pria berambut merah itu sinis pada Sasuke. Sasuke hanya menatap Sasori heran. Setelah menghajarnya, Sasori malah menyuruh dirinya masuk kedalam.

"Sakura yang menginginkannya!" Tegas Sasori lagi. Sasuke hanya mengangukan kepalanya dan memasuki kamar Sakura.

00000000000000

Sakura masih memejamkan matanya ketika Sasuke telah duduk disamping ranjang rumah sakit tempatnya berbaring. Sasuke hanya menatap nanar keadaan istrinya. Banyak luka lebam di wajahnya. Begitu juga dengan lilitan perban dikepala Sakura. Ujung bibirnya pecah dan bengkak.

Hatinya semakin terasa teriris manakala menyadari bahwa penyebab istrinya menjadi seperti ini adalah dirinya sendiri.

"Ayah..." Gumam Daichi menyadari keberadaan ayahnya bangkit dari posisinya yang semula dipeluk Sakura. Sasuke tersenyum lalu mengelus kepala putranya lembut. Hatinya terasa sejuk manakala melihat senyum Daichi. Betapa bahagianya ia mengetahui ternyata putranya sama sekali tak membenci dirinya. Ini semua berkat istrinya yang mendidik Daichi untuk tetap menyayangi dan menghormati ayahnya bagaimanapun keadaannya.

Daichi kembali menyusup kepelukan Sakura. Perlahan bocah laki-laki itu tertidur dipelukan sang bunda. Hampir setengah jam berlalu, Sasuke masih tetap memandang wajah tertidur Sakura.

"Sakura..." Panggil Sasuke dengan suara panggilannya dapat membuat Sakura membuka mata emeraldnya.

Harapan Sasuke terkabul, perlahan Sakura membuka matanya. Memunculkan cahaya emeraldnya yang selama ini luput dari pandangan Sasuke.

"Sas..Sasuke-kun..." Gumam Sakura. Walau perih, ia mencoba untuk tersenyum. Ia masih seperti yang dulu. Tetap tersenyum ketika menatap Sasuke.

Sasuke merasa dirinya adalah orang terbodoh diseluruh dunia, yang mampu menyakiti dan menyia-nyiakan Sakura. Sakura begitu cantik, sorot matanya lembut. Walaupun pucat, pipi Sakura tetap terlihat ranum dan bulat.

Sakura memang tidak seperti Ino. Gadis yang disukai Sasuke. Tapi apa mungkin Ino akan bertahan dengan dirinya seperti Sakura. Sakura memang tak memiliki tubuh sebagus Ino juga tak secantik Ino, Tapi Sakura memiliki ketegaran dan keteguhan hati. Dan itulah yang menyakinkan Sasuke bahwa kini ia telah jatuh cinta pada Sakura. Terlambat? Sangat terlambat.

"Kau terluka..." Gumam Sakura setelah menyadari ada lebam dan darah yang mengalir di pelipis Sasuke. Sasuke hanya tersenyum tulus menanggapi kekhawatiran istrinya.

"Hanya luka kecil dan itu tak sebanding denganmu Sakura..."

"Kau baik-baik saja...?" Tanya Sasuke basa-basi. Ia tak tahu harus mulai dari mana. Ini pertama kalinya ia berbincang dengan istrinya.

"Baik...selalu baik Sasuke-kun. Hanya saja terasa sakit disini.." Lirih Sakura berkata seraya menunjuk dadanya. Hatinya sakit.

"Apa itu karena diriku?" Sakura menggeleng lemah sebagai jawaban dari pertanyaan Sasuke. Tangan lemahnya yang semula ia gunakan untuk mendekap tubuh putranya kini terulur kearah Sasuke. Tangan lemah itu menyusuri lembutnya wajah Sasuke. Dari alisnya yang hitam, beralih ke hidung mancung serta pipi tirus milik Sasuke. Sasuke menikmati sentuhan tangan kurus istrinya. Ia pejamkan keduamata onyx-nya.

"Hatiku sakit karena menyadari kenyataan diriku, Sasuke-kun.." Ujar Sakura pelan ketika jemarinya bergerak menyusuri bibir tipis Sasuke. Menyusuri lekuk bibir sempurna milik suaminya yang belum pernah ia rasakan. Kedua mata onyx Sasuke terbuka.

"Kenyataan..?"

"Ya...kenyataan bahwa aku mencintaimu..." Setetes air mata kembali mengalir dipipi Sasuke ketika mendengar penuturan istrinya. Digenggamnya erat jemari Sakura yang menyentuh wajahnya.

"Aku bodoh Sasuke-kun...karena itu aku bertahan..."

"Aku bodoh Sasuke-kun...karena itu aku tak pernah ingin meminta cerai darimu..."

"Aku bodoh Sasuke-kun...karena itu aku selalu berharap kau akan berubah dan membalas cintaku.."

Sasuke tak menanggapi semua perkataan Sakura, ia hanya mendekatkan wajahnya kewajah Sakura. Sakura memejamkan matanya saat mulai merasakan deru napas Sasuke menerpa wajahnya. Perlahan dengan lembut Sasuke menempelkan bibirnya ke bibir istrinya. Menekannya lembut. Menyesap rasa manis disana.

Ciuman itu tak lantas berakhir setelah Sasuke menarik wajahnya. Melainkan terus berlanjut manakala Sakura dengan putus asa terus menarik kepala Sasuke untuk selalu memanjakan dirinya.

Ia takut, Sasuke akan pergi meninggalkannya. Ia hanya ingin bersama suaminya selamanya. Merasakan nikmatnya cinta dan kasih sayang yang tak ia dapatkan setelah hampir lima tahun bersama.

"Kau menginginkannya?" Tanya Sasuke mencoba menenangkan istrinya.

"Maaf..."

"Jangan katakan kau bodoh, sayang...Yang bodoh adalah aku, suamimu! Katakan bahwa kau bertahan karena kau mencintaiku...kau mengerti?" Bisik Sasuke lembut. Sakura mengangguk dalam isak tangisnya.

"Aku mencintaimu Sakura. Aku menyadari itu setelah aku merasakan takutnya ditinggal olehmu. Aku hanya ingin kau tetap berada disisiku. Maafkan aku..." Ujar Sasuke penuh penyesalan. Pada akhirnya semua berakhir pada pengakuan Sasuke. Sakura tersenyum sambil mempererat pelukan pada suaminya.

"Kau mau memaafkanku? Aku akan memperbaiki semuanya sayang...Kita jalani kehidupan ini bersama, aku kau dan Daichi..."

"Aku mencintaimu, karena itu aku memaafkanmu..." Bisik Sakura lembut ditelinga suaminya. Sasuke tersenyum dan menangkup wajah istrinya yang terlihat sangat mungil jika dibandingkan dengan telapak tangannya.

"Terima kasih...Sakura...Aku janji akan selalu mencintaimu Sakuraku...terima kasih..."

000000000000000000

"Ayah!" Seru seorang bocah laki-laki tampan yang mengenakan seragam taman kanak-kanaknya setelah menyadari sosok sang ayah yang berdiri menunggunya didepan kelas.

Sang ayah langsung merentangkan tangannya bersiap menangkap putranya yang menghambur kepelukannya.

"Hai Jagoan! Kau tak nakal selama sekolah kan?" Tanya sang ayah seraya mengacak rambut hitam emo anaknya.

"Tidak ayah! Daichi kan anak baik!" Jawab sang anak, Uchiha Daichi riang.

"Daichi-kun...!" Tiba-tiba saja ada suara seorang gadis kecil yang memanggil Daichi. Ayah Daichi, Uchiha Sasuke hanya menyipitkan matanya saat melihat sosok gadis kecil yang memanggil putranya.

"Sora-chan!" Balas Daichi. Gadis cilik berambut perak itu tersenyum. Matanya kini beralih pada sosok pria dibelakang Daichi.

"Sora-chan, ini ayahku! Ayah ini Sora-chan!" Sora hanya bisa tercengang melihat dua sosok dihadapannya. Sasuke hanya tertawa kecil saat mendengar Sora menggumamkan kata mirip.

"Uchiha Sasuke, salam kenal Sora!" Ucap Sasuke ringan mengawali perkenalannya dengan Sora. Dalam hati sejujurnya Sasuke telah mengenal gadis cilik ini. Karena Sora adalah sosok yang ia lihat beberapa minggu yang lalu dikedai es krim.

"Salam kenal Paman Sasuke!" Sora membungkukan badannya.

"Daichi-kun apa hari ini kita akan main lagi?" Tanya Sora pada Daichi sambil memegang tangan mungil sahabatnya.

"Sora jangan mengganggu Daichi dan ayahnya, sayang!" Tiba-tiba saja muncul pria jangkung berambut perak tampan mendekati Sora.

"Anda..." Gumam Sasuke saat melihat sosok didepannya.

"Hatake Kakashi! Aku ayah dari Sora! Anda pasti suami Uchiha Sakura! Uchiha Sasuke!" Kakashi mengulurkan tangannya berniat berjabat tangan dengan Sasuke.

"Ah...ya! Sakura, dia istriku!" Ucap Sasuke seraya menjabat tangan Kakashi. Jadi ini laki-laki yang telah membuatnya cemburu dulu.

"Daichi, ayah rasa tak ada salahnya mengajak Sora dan ayahnya makan es krim!" Seketika mata onyx Daichi langsung berbinar setelah mendengar apa yang ayahnya katakan.

"Tidak usah, Sasuke-san! Nanti merepotkanmu!" Tolak Kakashi merasa tidak enak.

"Tak apa! Lagipula istriku memang sudah ada disana. Kami memang berniat makan es krim disana! Sora pasti ingin kan?" Tawar Sasuke lembut pada Sora. Sangat diluar dugaan seorang Uchiha bersikap lembut, tapi Sasuke telah bertekad untuk merubah sikap yang semula dingin dan angkuh menjadi ramah.

"I...iya...paman!" Jawab Sora malu-malu. Gadis berambut perak warisan ayahnya itu menarik-narik lengan kemeja biru panjang Kakashi.

Kakashi tersenyum lembut dan menerima ajakan suami dari sahabatnya itu. Dikedai es krim, terlihat seorang wanita muda cantik berpakaian terusan hijau pastel tanpa lengan sedang menunggu disalah satu kursi. Rambut merah muda sepunggung miliknya yang hari ini digerai nampak sedikit berkibar terkena angin musim semi.

Tak begitu lama, mata emerald sang wanita sedikit melebar manakala menyadari ada dua sosok pria yang masuk ke kedai es krim itu. Kedua pria itu amat sangat dikenalnya, begitu pula dengan sosok anak laki-laki dan perempuan.

Senyum perlahan terukir dibibir sang wanita ketika keempat sosok itu menghampirinya.

"Lama menunggu?" Tanya Sasuke pada istrinya seraya mengecup kening istrinya mesra. Membuat Kakashi terkekeh geli melihat kemesraan pasangan suami istri didepannya.

"Hm tidak!"

"Bunda!" Pekik Daichi sambil menghambur kepelukan sang bunda. Sakura tersenyum ketika melihat tubuh mungil Sora ikut serta memeluk dirinya.

"Apa kabar Nyonya Uchiha?" Goda Kakashi seperti biasanya. Dan pertanyaan itu langsung dijawab Sakura dengan tinju kecil dibahu sahabatnya itu.

Derai tawa mulai terdengar dikedai es krim yang tak jauh dari sekolah Daichi dan Sora. Tawa kebahagian yang akan selalu mengiringi perjalan mereka.


~0~

Kisah hidup yang penuh dengan penderitaan akan berakhir pada kebahagiaan...

Kalian percaya karma?

Dulu, aku mempercayainya. Tapi tidak untuk sekarang...

Waktu dan keadaan membuatku berfikir bahwa setiap orang memiliki takdir

Takdir hidup yang telah digariskan Tuhan pada setiap makhluk

Mungkin ini telah menjadi takdir bagiku untuk merasakan penderitaan dalam rumah tangga

Namun, penderitaan itu membuatku tegar dan mampu bertahan...

Hingga akhirnya kebahagian telah kuraih...

Kini tinggal masa depan bahagia yang menantiku...

Bersama suami dan putraku...

Kenangan pahit telah kutinggalkan

Telah kukubur bersama sakitnya hati yang mendera batinku...

Sehingga menjadi kenangan yang tak dikenal...

Nameless Memory

~The End~


Jiah..! Akhirnya tamat juga...aku bahagia *nyanyi-nyanyi gaje*

Gimana? Gaje ya readers? Huhuhu...dhitta ga bisa bikin lebih bagus dari ini...

Endingnya gantung ya?

Hmm...maafkan ya readers jadi gaje begini...

Jika diperkenankan dhitta ingin membuat fic SasuSaku lagi ah...*ditimpuk*

Heheh...selama membuat fic ini dhitta ditemani oleh lagu Nameless Memory dari Heo Young Saeng sama lagu lama Xing yang Yoohak...

Awalnya dhitta bingung nentuin ending, tapi akhirnya berhubung dhitta ga mau chara seganteng Kakashi Cuma jadi figuran...jadinya dhitta buat akhirnya Sasu mengenal baik Kakashi. Hehehe...Fic ini kuhadiahkan sebagai hadiah ulang tahun untuk sahabatku yang sangat kusayangi! *sebenarnya udah telah sih, soalnya ultah udah dari berbulan-bulan yang lalu!*ditimpuk yang bersangkutan*

Akhirnya dhitta ucapkan terima kasih untuk para readers yang telah bersedia membaca dan mereview fic ini. Fic ini takkan selesai tanpa dukungan readers yang mereview juga dukungan dari orang-orang terdekat dhitta!

Terima kasih dhitta ucapkan pada:

Fusae 'LeeBumYeHyun' Deguchi

Hikari Uchiha Hatake

Je-Jess

Olive meow

chrysothemis A

swidHya cHaN nHak d'Fours

Rirsle-coe males login

MissUchiwa

dhidi-chan

MozzaMozzi

Mila mitsuhiko

popoChi moChi

Ran Uchiha

lluph naruly

Bukan Shiho Miyano

Sudah dibaca, direview ya...Terima kasih...