Disclaimer : All Character belong to Masashi Kishimoto

Story by me terinspirasi dari 'Kdrama Big'. Beta reader MySister.

Tittle : Soulmate

Genre : Supernatural, Angst, Family, Romance.

Rate : T

Pairing : NaruSaku, MenmaHina.

Warning : AU, OOC, gaje, abal, ancur, minim deskriptif, typo(s), dll.

.

.

Summarry: Sejak kecil ia sangat menyukai buku bergambar itu. Buku dongeng berjudul 'Miracle' karya Uzumaki Kushina. Hidup di panti asuhan miskin yang kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah membuatnya berharap akan adanya suatu keajaiban. Namun apakah 'keajaiban' itu benar-benar ada?

.

Chapter 3 : Vacation

.

.

"You're my precious other half. I'm waiting for you and I want to see you! Comeback please!"—Menma Namikaze—

oooOOSoulmateOOooo

.

.

.

Liburan musim panas adalah hari yang paling dinanti-nantikan oleh Sakura. Ia ingin sekali berlibur ke pantai dan Sakura sangat senang saat membaca salah satu pengumuman di madding. Rupanya sekolah mereka mengadakan acara liburan bersama. Kebetulan acara tersebut khusus untuk kelas tiga. Tempat tujuannya adalah ke Okinawa. Mereka akan menginap selama satu minggu, dan tiga hari lagi mereka akan segera berangkat.

"Apa kau mau ikut?" tanya Ino yang saat ini tengah berdiri disampingnya.

"Ya, aku ingin sekali ikut. Sudah lama sekali aku tidak pergi ke pantai. Terakhir kali kesana, itu liburan musim panas tiga tahun yang lalu bersama teman-teman panti." cerita Sakura seraya memandang poster pantai Okinawa.

"Pantai yang ini ada disebelah mana, ya? Batu karangnya besar sekali, dan pemandangannya sangat indah! Aku pernah beberapa kali ke pantai Okinawa, tapi sekalipun aku tidak pernah menemukan tempat ini. Tampaknya di sana sepi pengunjung, tidak seramai pantai-pantai yang sering aku kunjungi."

Ino menyentuh kaca bening yang di dalamnya tertempel salah satu poster yang memperlihatkan pemandangan pantai dengan dua buah batu karang raksasa yang menurut Ino, bentuknya sangat artistik.

"Aku pernah melihat pantai yang itu di dalam mimpiku. Tak kusangka pantai yang kulihat di dalam mimpi benar-benar ada dan tempatnya di Okinawa. Menurutmu panitia akan membawa kita ke pantai itu atau tidak?"

"Kalau menurutku, mereka akan membawa kita ke tempat-tempat wisata yang paling terkenal di Okinawa. Disekitar pantai yang biasa dikunjungi para tourist banyak terdapat hotel bintang lima."

"Jadi kalau kita mau ke pantai yang itu, kita harus pergi sendiri?"

"Ya, tapi apa benar kalau kau pernah bermimpi tentang pantai yang itu?"

"Ya. Dalam mimpiku aku adalah seorang puteri yang terdampar di pantai tersebut. Aku sangat ketakutan karena disana tidak ada seorang pun. Benar-benar sepi. Aku hampir saja putus asa, tetapi pada saat matahari hampir terbenam aku bertemu dengan seorang pangeran tampan. Tiba-tiba saja ia muncul dari bawah laut dan menyelamatkanku." cerita Sakura sambil tersenyum.

"Huh, fantasy sekali! Jadi apakah pangeran itu adalah seorang duyung?"

"Dia putera dewa Poseidon."

"Ya ampun! Mimpimu bisa dijadikan dorama fantasy tuh!"

"Hahaha, saat aku memimpikan hal itu, usiaku masih 11 tahun, tapi di dalam mimpi usiaku sudah 17 tahun. Percaya atau tidak, beberapa bulan setelah aku memimpikannya, aku benar-benar bertemu dengan pangeranku itu."

"Putera dewa Poseidon? Maksudmu Percy Jackson?" canda Ino.

"Bukan, orang itu adalah cinta pertamaku." Jawab Sakura dengan wajah memerah.

"Menma-kun kah?"

'Bukan. Dia adalah Naruto.'

"Iya."

"Uwaahh! Mimpimu keren sekali, Sakura! Aku jadi iri, aku belum pernah bermimpi seindah itu."

"Kurasa itu karena saat aku masih kecil, aku memiliki imajinasi yang hebat."

"Hahaha. Jadi apa Menma-kun juga akan ikut ke Okinawa?"

"Aku tidak yakin. Orang tuanya benar-benar son complex."

"Hah? Tau darimana?"

"Aku kan bekerja di rumah mereka, Ino!"

"Eh? Jadi kau tinggal satu atap dengan Menma-kun?"

"Ssttt, jangan keras-keras! Nanti ada yang curi dengar. Aku tidak mau menjadi bahan gosip di sekolah, apalagi Menma-kun dan Sasuke-kun sangat populer di sekolah ini. Bisa-bisa aku dibully penggemar mereka setiap hari."

"Tidak akan, kita berangkat terlalu pagi, yang lainnya mungkin baru akan datang setengah jam lagi."

"Apa boleh buat, hari ini kita kan ada jadwal piket. Tapi Ino, siapa tahu panitia madding sudah pada datang, buktinya penguman ini sudah ditempel."

"Meski begitu, saat ini mereka pasti sedang sibuk di ruangannya. Pendaftarannya kan dibuka hari ini."

"Benar juga."

Setelah mereka puas melihat poster Okinawa Beach sekaligus membaca pengumumannya. Mereka pun lekas pergi menuju kelas mereka. Saat mereka masih berjalan menyusuri koridor sekolah, Ino kembali bertanya pada Sakura,

"Oh ya, Sakura! Kau belum memilih kegiatan ekskul, kan? Mau bergabung dalam klub apa?"

"Menma-kun ikut ekskul apa?"

"Basket."

"Ah, sayang sekali. Aku tidak bisa bermain basket. Kalau kau, Ino?"

"Sejak kelas satu aku bergabung dalam klub kesehatan, soalnya saat masa orientasi aku sudah tertarik untuk menjadi asisten Yugao-sensei."

"Dia dokter sekolah ini?"

"Ya, setiap hari dia bertugas di ruang kesehatan."

"Kalau begitu aku juga. Aku akan bergabung dalam club kesehatan."

"Yup, kalau kau ingin lebih dekat dengan Menma-kun... sebaiknya kau bergabung dengan kami."

"Maksudmu apa? Kau bilang dia ikut club basket?"

"Memang, tapi sejak kelas satu Menma-kun cukup sering membolos di ruang kesehatan."

"Eh? Membolos?"

"Iya, imej Menma-kun disekolah ini adalah 'Anak yang suka membolos di ruang kesehatan'. Selain Menma-kun, ada Shikamaru, Chouji, Gaara-san, Matsuri-chan, Erika-chan, dan masih banyak lagi. Biasanya Shikamaru dan Gaara-san membolos di ruang kesehatan untuk tidur. Katanya Gaara-san insomnia, makanya ia suka mengantuk di siang hari. Kalau Shikamaru sih pagi-pagi pun suka mengantuk dia. Aku heran, apa setiap malam dia tidak pernah tidur?"

"Mungkin setiap malam, dia bermain shogi bersama ayahnya sampai lupa waktu."

"Hahaha, mungkin kau benar. Waktu kelas satu, aku sekelas dengan Matsuri-chan dan teman-temannya. Biasanya mereka suka memakai make up untuk membuat wajah mereka terlihat pucat. Mereka berhasil menipu para guru dengan berpura-pura sakit, padahal sebenarnya mereka hanya ingin membolos."

"Apa Yugao-sensei tidak pernah menghukum mereka dan hanya membiarkannya?"

"Ha'i. Kata sensei, biasanya mereka membolos pada saat jam pelajaran yang tidak mereka sukai atau jika mereka tidak menyukai gurunya. Jadi menurutnya percuma saja jika ia memaksa mereka untuk tetap bertahan di dalam kelas. Mereka tidak akan bisa fokus dengan mata pelajaran yang diajarkan. Lagipula yang rugi kan mereka, bukan dia."

"Benar juga, tapi aku tidak percaya kalau Menma-kun adalah salah satu dari anak-anak itu!"

"Lihat saja nanti! Menma-kun benar-benar pandai memakai make up seperti itu bahkan ia terlihat sakit beneran."

'Baka! Padahal Menma-kun memang sakit beneran. Kau masih harus banyak belajar, Ino!'

Sementara Sakura masih berpikir demikian, mereka berdua sudah tiba di depan kelas. Ino pun segera membuka pintu. Pintu kelas mereka sudah tidak terkunci. Sudah pasti semua pintu ruangan telah dibuka oleh penjaga sekolah yang biasanya sudah tiba di sekolah pagi-pagi buta.

"Kita sudah sampai, waktunya bersih-bersih! Tapi kenapa yang lain belum pada datang? Menyebalkan sekali!"

"Shikamaru-san dan yang lainnya mungkin lupa. Apa boleh buat, kita berdua saja, Ino!"

"Huh, yang benar saja! Enak sekali mereka!"

Saat Ino masih mengeluh sambil melap kaca-kaca jendela, terdengar suara langkah kaki mendekat. Saat orang itu memasuki kelas, Sakura langsung tersenyum kepadanya.

"Hinata, kau sudah datang?" sapa Sakura.

"Ya. Ma-maaf a-apa aku te-terlambat?"

"Kemana saja kau? Kalau hanya aku dan Sakura yang mengerjakan, kapan selesainya? Dasar tuan puteri!" sinis Ino sambil berkacak pinggang.

"Ino, jangan begitu! Yang penting Hinata kan sudah datang!" tegur Sakura yang kemudian mengambil sapu untuk dirinya sendiri dan juga untuk Hinata.

"Maaf, tadi aku memetik bunga dulu di taman." jawabnya sambil memperlihatkan beberapa tangkai bunga yang ia bawa pada Ino.

"Ayo kita menyapu lantai!" Sakura tersenyum seraya menyerahkan salah satu sapu pada Hinata.

"Sakura-san, biar aku saja yang menyapu, lagipula aku bukan tuan puteri. Kau kerjakan yang lain saja!" kata Hinata yang akhirnya bisa berbicara tanpa terbata-bata. Ia sedikit tersinggung dengan ucapan Ino. Ia pun menyerahkan bunga yang baru saja dipetiknya pada Sakura.

Sakura mengangguk, lalu beralih ke meja guru untuk membersihkan debu dan mengganti taplak meja. Tak lupa ia juga mengisi vas bunga di atas meja dengan bunga yang baru saja dipetik Hinata dari taman. Setelah itu dia menata buku absensi lalu mengisi spidol dengan tinta.

Tidak lama setelah pekerjaan mereka selesai, teman-teman sekelas mereka mulai berdatangan. Kelas yang tadinya sunyi pun menjadi ramai seperti biasa.

"Oii, kau sudah melihat madding?"

"Ya, tentu saja. Anak-anak banyak yang berkerumun disana. Liburan musim panas ke Okinawa! Kalian mau ikut?"

"Tentu saja. Aku bahkan sudah mendaftar. Aku tak akan melewatkan ini, apalagi kita akan menginap selama satu minggu dan di hari ketiga, panitia akan menyewa kapal pesiar untuk kita."

"Hihihi, pasti akan menjadi liburan yang sangat menyenangkan. Sepulang sekolah nanti aku akan membeli bikini yang bagus!"

"Huh, dasar wanita! Mereka semua berisik sekali!" komentar Shikamaru yang baru saja datang bersama Chouji.

"Hey, kalian berdua! Kenapa kalian tidak ikut membantu tadi?" protes Ino.

"Mendokusai na. Aku lupa kalau hari ini ada jadwal piket!"

"Aku minta maaf Ino, tadi aku bangun kesiangan," sambung Chouji.

"Kalian berdua mau ikut liburan tidak?" tanya Sakura.

"Tentu saja. Iya kan, Shikamaru?"

"Ya."

"Shikamaru-kun, kau kan ketua kelas kami. Kami belum mendaftar, bisakah kami—"

"Ya, aku baru saja akan menyampaikan pengumuman. Bagi kalian yang belum mendaftar, kalian boleh mendaftar kepadaku, nanti akan aku sampaikan kepada panitia. Dan kalian boleh menyetor biaya perjalanannya pada Ino."

"Eh? Jangan seenaknya, ya!"

"Siapa yang seenaknya? Kau ini kan bendaharaku!"

'Padahal Ino menyukai Sasuke-kun tapi yang kulihat dia malah lebih akrab dengan Shikamaru-san. Lucu sekali, hihihi.'

"Soal uang, bisa tidak kami bayar besok? Hari ini kami tidak membawa uang lebih!"

"Boleh saja, dan yang mau bayar sekarang, bisa serahkan uangnya kepadaku!" kata Ino yang segera mengeluarkan buku catatannya.

Sakura memperhatikan Ino. Ino terlihat sibuk sekali. Sakura ingin sekali pergi bersama Naruto, tapi apakah Kushina-san akan mengijinkan Menma pergi.

"Sakura-chan, kau mau ikut?"

"Kyaa! Kau mengagetkanku!" kata Sakura sambil mengelus dadanya.

"Kenapa kaget begitu? Memangnya apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Naruto yang kemudian duduk disebelah Sakura.

"Aku ingin kau ikut bersamaku tapi aku tidak yakin Kushina-san akan mengijinkanmu."

"Aku berani bertaruh, dia tidak akan diberi izin!" sambung Sasuke.

"Jangan bicara begitu! Aku kan bisa membujuk orang tuaku!"

"Dengan cara apa kau akan membujuk mereka? Bukankah liburannya selama satu minggu? Bagaimana dengan kemoterapimu?"

"Jadwal kemoterapiku kan di minggu berikutnya."

"Ya, dan itu berarti, sehari setelah liburan di Okinawa selesai!"

"Aku bisa pulang lebih awal."

"Yah, terserah kaulah!"

Hinata memperhatikan Sakura yang sedang mengobrol dengan Sasuke dan juga Menma. Lagi-lagi ia merasa cemburu. Ia ingin sekali menanyakan pada Menma soal liburan itu, tapi seperti biasanya ia tidak mempunyai keberanian. Namun kali ini ia benar-benar penasaran dengan jawaban Menma. Ia pun mengumpulkan keberaniannya, lalu berdiri dari kursinya, dan berjalan menghampiri mereka.

"Ano... Menma-kun, a-apa kau a-akan i-ikut ke Okinawa?"

"Aku? Tidak tahu! Bagaimana denganmu, Hinata-chan?"

"Aku a-akan ikut ta-tapi a-aku ingin ka-kau juga pergi be-bersama kami!"

"Soal itu, akan kuberitahu kau nanti!" jawab Naruto sambil tersenyum. Saat itu juga, wajah Hinata langsung memerah seperti kepiting rebus.

"Ba-bagaimana de-dengan kalian Sasuke-kun, Sakura-san?"

"Aku dan Ino sudah sepakat. Kami akan ikut."

"Kalau kau ikut, tentu saja aku juga akan ikut, Hinata!" jawab Sasuke. Hinata pun tersenyum kepada mereka.

oooOOSoulmateOOooo

.

.

"Wow, menu makan siang hari ini seafood! Sekolah ini benar-benar sekolah elit!" seru Sakura pada saat jam istirahat.

"Di Okinawa nanti, kita bisa lebih banyak makan seafood. Ngomong-ngomong aku tahu restoran sashimi yang paling enak disana. Nanti kita kesana, yuk!" ajak Ino sambil menyumpit udang, lalu memakannya.

"Boleh." kata Sakura. Ia pun mulai mencici makanannya.

"Uwaah! Kepitingnya enak sekali!" lanjut Sakura.

"Boleh kami duduk disini?" tanya seseorang. Wajah Ino langsung memerah karena ternyata yang berbicara barusan adalah Sasuke.

"Ten-tentu saja, Sasuke-kun, Menma-kun..." kata Ino, dan Ino semakin blushing karena Sasuke memilih duduk di depannya. Saat itu juga jantungnya berdebar kencang.

"Ini kepitingnya untukmu, Sakura-chan!" sambung Naruto yang sudah duduk disamping Sakura.

"Tentu saja. Sudah seharusnya kepiting ini untukku!" tegas Sakura.

"Wah, umaaii! Bibi kantin pandai sekali memasak!"

"Tumis ini banyak sekali campuran bahannya, bahkan ada kerang segala—" kata Sasuke yang tiba-tiba saja menggantung kalimatnya.

"Ada apa Sasuke-kun?" tanya Ino yang merasa heran karena tiba-tiba saja Sasuke terlihat tegang.

"Apa aku baru saja menyebut kerang?"

"Ya."

"Ha? Apa kau sudah memakan itu?" tanya Sasuke pada Naruto dengan mata melotot.

"Baru saja aku memakannya. Memangnya kenapa?"

"Bukankah kau alergi kerang?"

'Bicara apa sih dia? Jelas-jelas aku alergi kepiting, makanya kepitingnya kuberikan pada Sakura-chan.' Pikir Naruto. Tiba saja ia merasa tubuhnya gatal-gatal.

'Astaga! Aku memang alergi kepiting, tapi ini kan tubuh Menma.'

"Kyaaa! Gataall!" teriaknya sembari menggaruk-garuk bagian tubuhnya yang gatal.

"Baka! Kenapa kau bisa lupa dengan alergimu sendiri?"

"Wajar saja, kan? Aku ini amnesia, tahu!"

"Ya ampun, ayo kita ke ruang kesehatan!" kata Sakura yang langsung menyeret Naruto dari kantin.

"Bukannya kau sedang makan?"

"Aku sudah kenyang! Yang terpenting kau harus cepat minum obat alergi! Kulitmu sudah merah-merah, tuh!"

.

.

"Sensei?" tanya Sakura tetapi tidak ada seorang pun yang menyahut.

"Mungkin sensei sedang ke toilet. Aduh gatal sekali! Sakura-chan, kenapa kau sampai tidak tahu kalau Menma alergi kerang?"

"Yang kupikirkan tadi adalah kau, dan yang kuingat kau itu alergi kepiting! Duduklah dulu di ranjang sana, akan kucarikan obatnya!" kata Sakura yang langsung mencari obat alergi diantara bermacam-macam obat lainnya.

Naruto masih menggaruk-garuk lengannya. Kulitnya sudah penuh dengan bintik-bintik merah. Dan dia tidak tahan dengan rasa gatal yang malah semakin menjadi.

"Sakura-chan, sudah ketemu belum?"

"Belum. Tahan sebentar kenapa?!"

"Kyaaa! Gatal sekali nih, Sakura-chan! Cepatlah!" teriak Naruto yang langsung membuka blazer, dasi, dan kemejanya.

"Ya ampun! Kenapa kau buka baju?" teriak Sakura. Tubuh Menma benar-benar sudah penuh dengan bintik-bintik merah.

"Sudah kubilang kalau rasanya semakin gatal!"

"Ini dia! Akhirnya aku temukan!"

Sakura menghampiri Naruto, tapi Naruto masih sibuk menggaruk-garuk punggungnya.

"Eh? Apa yang kau lakukan?" Sakura kembali berteriak saat Naruto melepas celananya dan hampir melepas boxernya.

"ASTAGA! Apa yang kalian lakukan? Ini ruang kesehatan bukan tempat untuk berbuat mesum!" teriak seseorang yang baru saja datang.

'Apa wanita cantik itu Yugao-sensei yang diceritakan Ino?'

"Sensei, anda salah paham. Kami tidak melakukan itu. Menma-kun tidak sengaja memakan kerang, padahal ia alergi kerang."

"Lalu kenapa kau naked begitu, Menma?"

"Soalnya ini gatal sekali sensei!"

"Cepat pakai bajumu sekarang juga!" teriak Yugao-sensei sambil melotot. Naruto menelan ludah dan kembali mengenakan celana dan kemejanya.

"Ini... cepat diminum! Kau akan merasa lebih baik!" kata Sakura sambil menyodorkan dua buah pil dan sebotol air mineral yang tersedia di atas meja samping ranjang.

Naruto pun segera meminum obat alergi tersebut. Dan ia langsung menunduk malu saat Yugao-sensei memandangnya dengan wajah galak.

"Bisa-bisanya kau membuka pakaianmu di depan seorang gadis!"

'Padahal Sakura-chan kan sudah sering melihat tubuhku, kenapa sensei pake protes segala?!'

"Maaf sensei, habis rasanya gatal sekali."

"Sensei, apa tidak ada obat alergi yang dalam bentuk cairan?"

"Maksudmu yang untuk disuntikkan?"

"Ya, soalnya saya tidak bisa menemukannya tadi."

"Kalau yang itu sudah habis. Aku baru saja mau membeli yang baru, sekalian membeli obat-obatan yang lain juga. Ah ya, apa kau mau membolos?"

"Maksud sensei?"

"Aku mau pergi ke apotek sebentar. Selagi aku pergi aku ingin memintamu menggantikanku."

"...tapi sensei, kalau nanti ada yang sakit bagaimana?"

"Ya, kau hanya perlu tanyakan apa keluhannya... paling juga mereka cuma sakit perut, demam atau semacamnya, tapi kalau salah satu diantara mereka ada orang yang memiliki penyakit tertentu... tolong berikan dia surat izin pulang yang sudah ditandatangani olehku agar dia bisa segera pergi ke dokter atau rumah sakit!"

"Saya kan tidak tahu orang-orang itu, sensei! Bagaimana kalau ada yang berbohong agar bisa membolos sekolah?"

"Biarkan saja, lagipula yang rugi itu mereka bukan kita."

"Baik, kalau begitu akan saya bantu... lagipula saya memang berencana akan ikut klub kesehatan."

"Benarkah? Arigatou dan selamat datang, Sakura! Setelah aku kembali nanti akan kuberikan formulir pendaftarannya."

Sakura tersenyum dan mengangguk. Setelah itu Yugao-sensei pun segera mengambil tasnya dan ke luar ruangan. Sakura menghela nafas dan melirik Naruto.

"Nee, maukah kau menemaniku membolos?"

"Tentu saja, lagipula aku memang berencana istirahat disini sampai alergi Menma membaik."

"Aku tak menyangka kalian berdua sama-sama alergi seafood biarpun jenis makanannya berbeda." kata Sakura. Tidak lama setelah itu bel pertanda waktu istirahat selesai pun berbunyi.

"Yeah, aku juga tidak mengerti."

"Kalian berdua seperti kembar identik saja!"

"Hah? Aku kan bukan Nerro, Sakura-chan!"

"Ya, aku tahu... tapi bagaimana kalau seandainya, kau itu memang Nerro?"

"Aku Naruto! Sudahlah Sakura-chan, jangan bicara yang tidak-tidak! Aku tidak mungkin Nerro!"

"Oke, kita lupakan saja! Aku juga tidak percaya kalau kau Nerro! Sesuatu yang kebetulan seperti itu hanya ada dalam dorama-dorama atau cerita fiksi. Itulah yang aku percayai. Dan terus terang, sedikitpun aku tidak berharap kau adalah dia karena aku tidak ingin kau berkorban untuk Menma."

"Meskipun aku bukan Nerro... kalau Menma membutuhkan salah satu organku dan organku cocok dengannya, aku akan tetap melakukannya! Bukankah sebagai sesama manusia, kita harus saling tolong menolong? Lagipula Menma itu pernah menyelamatkan nyawaku, Sakura-chan!" ujar Naruto sambil tersenyum. Sakura langsung melongo karenanya.

"Apa? Kau memang baka!"

"Nee, Sakura-chan! Aku ingin berlibur bersamamu, jadi aku akan meminta izin Minato-san sekarang juga!" kata Naruto yang langsung merogoh ponsel dari saku blazernya dan mulai menelpon.

"Moshi-moshi, otou-san!"

'Aku khawatir dia tidak akan diberi izin seperti yang dikatakan Sasuke-kun.'

"Menma, bukankah ini jam belajar? Kenapa menelponku?"

"Yah, aku sedang di ruang kesehatan sekarang."

"Apa? Apa kau baik-baik saja?"

"Daijoubu. Ini bukan karena penyakitku, tapi karena tadi aku tidak sengaja makan kerang. Gomen, tou-san. Aku lupa kalau aku alergi kerang, tapi aku sudah meminum obat alergi. Jadi tou-san jangan khawatir!"

"Baguslah kalau begitu. Lalu apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan, Menma?"

"Umm, anak-anak kelas tiga berencana akan liburan ke Okinawa. Boleh tidak aku ikut?"

'Ya ampun, yang minta izin kan bukan aku... tapi kenapa malah aku yang deg-degan! Jangan-jangan Minato-san benar-benar tidak akan mengijinkannya pergi?!'

"Okinawa? Berapa lama?"

"Hanya satu minggu."

"Menma, bukankah jadwal kemoterapimu minggu depan?"

"Aku bisa pulang lebih awal. Aku juga berjanji akan baik-baik saja, tou-san!"

"Aku mengerti, kau pasti merasa bosan karena sejak kau masih kecil kami selalu mengkekangmu kan?! Kau boleh pergi, tapi kau harus mengajak Sakura juga! Mengerti?"

"Doushite?"

"Sampaikan pada Sakura-chan, tolong jaga anakku!"

"Eh?"

Sakura merasa heran karena tiba-tiba saja Naruto terlihat blushing.

'Kenapa dengan dia?'

"Arigatou ne, tou-san! Tapi bagaimana dengan, kaa-san?"

"Biar aku yang berbicara padanya!"

"ARIGATOU!"

Sakura memandang Naruto dengan ekspresi menyelidik. Setelah Naruto menutup ponselnya, ia pun langsung memberondong Naruto dengan berbagai pertanyaan.

"Kenapa kau terlihat senang begitu? Apakah kau dapat izin? Lalu kenapa ditengah percakapanmu dengan Minato-san tadi kau tiba-tiba blushing, hah? Jangan bilang, dia mau menjodohkanmu dengan Hinata! Jadi kau akan selingkuh dariku?"

"Hahaha, bicara apa kau, Sakura-chan? Aku tidak akan pernah selingkuh darimu! Ini janjiku seumur hidup!" tegas Naruto. Saat itu juga Sakura langsung blushing.

"Lalu kenapa tadi wajahmu memerah?"

"Tidak akan kuberitahu!"

"NARUTO!"

"Ssstt, jangan keras-keras memanggil nama asliku! Yang lebih penting Sakura-chan, Minato-san mengijinkanku untuk ikut berlibur... Kita akan bersenang-senang bersama!"

"Benarkah?"

"Yup."

"Kyaaa! Aku senang sekali! Ini akan menjadi liburan yang paling menyenangkan! Tapi aku tetap penasaran apa yang membuatmu blushing. Cepat beritahu aku!"

"Baiklah. Minato-san bilang, sampaikan pada Sakura-chan, tolong jaga anakku!"

"Minato-san bilang begitu?" tanya Sakura dengan wajah memerah.

"Dia memang bukan ayahku dan aku juga bukan Menma, tapi entah kenapa aku sangat bahagia mendengarnya mempercayakanku kepadamu, Sakura-chan!"

"Tak apa! Lagipula sekarang ini kau adalah Menma-kun. Itu berarti dia adalah ayahmu, Naruto!"

"Ya, kau benar. Sekarang aku adalah Namikaze Menma."

.

.

Minato tersenyum setelah percakapannya dengan Menma di telepon tadi. Dari nada suaranya, Menma terlihat sangat senang karena ia mengijinkannya untuk berlibur ke Okinawa. Rasanya ia ingin sekali melihat ekspresi Menma secara langsung. Sudah lama sekali ia tidak mendengar suara tawa Menma dan juga melihat ekspresi gembira Menma. Ia berharap sesuatu yang buruk tidak akan terjadi saat liburan nanti.

"Ya ampun, aku lupa bertanya kapan ia berangkat?! Yah, aku tanyakan nanti saja!"

Tiba-tiba saja teleponnya berdering. Ia pun segera mengangkat telepon itu.

"Minato-sama, Yamato-san ingin berbicara dengan anda. Ia bilang kalian sudah membuat janji."

"Yah, itu benar. Persilakan dia masuk!"

"Ha'i, Minato-sama!"

Minato kembali menutup gagang telepon. Tidak lama kemudian sosok yang dibicarakan muncul dan membungkuk kepadanya.

"Duduklah, Yamato!"

"Arigatou, Minato-sama."

"Bagaimana? Apa kau sudah menemukan keberadaan anakku?"

"Saya tidak yakin ini putera anda... tapi saya rasa anda bisa memastikannya nanti!" kata Yamato seraya menyerahkan sebuah amplop cokelat kepada Minato.

Minato langsung merobek ujung amplop tersebut dan mengeluarkan isinya. Beberapa lembar foto, dari mulai foto balita, dan anak-anak. Foto-foto tersebut adalah foto seseorang yang sangat mirip dengannya dan juga Menma.

"Ini? Darimana kau mendapatkannya?"

"Dari panti asuhan Himawari. Masih ada foto yang lain, Minato-sama. Anda harus melihatnya juga karena ini adalah foto terbarunya." Jelas Yamato.

Minato pun segera melihat foto selanjutnya. Foto seorang remaja yang tengah terbaring di ranjang rumah sakit dalam kondisi tidak sadarkan diri. Ekspresi wajahnya pun berubah panik.

"Ke-kenapa dia ada di rumah sakit?"

"Kecelakaan. Kami sudah menyelidikinya. Ia mengalami mati otak dan saat ini dalam kondisi koma. Dan yang paling membuat saya terkejut, kecelakaan tersebut terjadi dalam waktu yang bersamaan dengan kecelakaan yang Menma-sama alami."

"Apa?"

"Ya, orang yang terlibat dalam insiden tersebut hanya mereka bedua, Minato-sama."

"Yamato, antar aku ke rumah sakit tempat ia dirawat sekarang juga!"

"Baik, Minato-sama!"

.

.

Minato dan Yamato memasuki sebuah ruangan serba putih. Di dalamnya seseorang tengah berbaring dalam kondisi tak sadarkan diri dengan berbagai macam alat kedokteran tertempel di tubuhnya. Dengan langkah kaki yang terasa berat karena perasaannya yang mulai kacau, Minato pun mendekati sosok itu. Sosok yang sangat mirip dengannya dan juga Menma.

"Anda bilang Nerro-sama memiliki tanda lahir dikedua pipinya, bukan? Ini tanda lahir yang sama dengan tanda lahirnya!" ujar Yamato sambil menyentuh wajah Naruto.

Tanpa sedikitpun keraguan, Minato segera mencabut beberapa helai rambutnya dan juga beberapa helai rambut Naruto, lalu memasukannya kedalam kantong plastik berukuran kecil.

"Yamato, berikan pada dokter untuk melakukan test DNA! Dan tolong rahasiakan keberadaannya dari istriku untuk sementara waktu!"

"Saya mengerti, Minato-sama!" tegas Yamato yang segera meninggalkan ruangan.

Saat itu juga air mata Minato berjatuhan. Ia tidak bisa lagi menahan perasaannya yang kacau. Ia memang masih membutuhkan bukti yang kuat, tetapi meski begitu hatinya sudah merasa yakin kalau sosok di hadapannya adalah puteranya yang selama ini ia cari. Tentu ia bahagia, tetapi pada saat yang bersamaan ia juga merasa sedih, karena saat ini sosok yang ia yakini sebagai Nerro sedang berada diantara hidup dan mati.

"Nerro akhirnya ayah menemukanmu, tetapi kenapa ayah harus menemukanmu dalam kondisi seperti ini?"

oooOOSoulmateOOooo

.

.

Sakura memasuki kamar Menma sambil tersenyum. Naruto yang baru saja selesai merapikan tempat tidur merasa heran karena Sakura tiba-tiba memasuki kamarnya sambil membawa sebuah koper kecil.

"Nee, Naruto! Aku mau packing barang-barangmu!"

"Apa tidak merepotkan, Sakura-chan?"

"Tidak! Aku justru harus memastikan semua keperluanmu disana sudah masuk ke dalam tas atau belum? Termasuk obat Menma!"

"Padahal berangkatnya kan besok, tapi pagi-pagi begini kau sudah mau packing! Kenapa tidak nanti malam saja, Sakura-chan?"

"Lebih cepat lebih baik!"

"Oke, aku serahkan semuanya padamu. Aku mau menghirup udara segar. Kalau kau mencariku, datang saja ke balkon."

"Oke!"

Setibanya di balkon, Naruto melihat Kushina sedang sibuk menyiram bunga-bunga dalam pot. Tiba-tiba saja ia dikagetkan oleh suara burung beo.

"Ohaiyo, Ru-chan! Ohaiyo!"

'Siapa Ru-chan?' tanya Naruto dalam hati.

"Genki?"

Naruto memandang sekeliling dan menemukan sebuah sangkar kayu. Di dalam sangkar tersebut seekor burung beo tengah bertengger sembari menatapnya dan mengibas-ngibaskan kedua sayapnya.

"Doushite, Ru-chan? Doushite?"

"Okaa-san, ohaiyo!" sapa Naruto. Kushina yang tadinya masih sibuk menyiram bunga pun menoleh dan tersenyum.

"Menma. Ohaiyo."

"Ohaiyo, Ru-chan! Ohaiyo! Genki?"

"Ano sa, siapa itu Ru-chan?" tanyanya pada Kushina.

"Ruu-chan itu nama burung ini."

"Kedengarannya dia seperti mengucapkan kata Ru-chan."

"Entahlah. Burung cerewet ini tidak pernah jelas mengucapkan kata-kata. Tapi kalau memang tadi dia mengatakan Ru-chan... berarti yang dia maksud adalah Nerro."

"Nerro? Apa hubungannya Ru-chan dengan Nerro?"

"Ya ampun, apa amnesiamu separah itu sampai-sampai kau tidak ingat nama Jepang adikmu sendiri?"

"Gomen, aku benar-benar lupa."

"Nama Jepang Nerro adalah Naru!"

'Ha? Namanya mirip sekali dengan namaku?'

"Doushite Ru-chan? Doushite?"

Naruto menghampiri burung beo tersebut dan tersenyum kepadanya.

"Ruu-chan, aku Menma bukan Naru!"

"Ru-chan Ma-chan janai!"

"Kau ini bicara apa? Dasar burung peniru! Jelas-jelas dia adalah Menma! Kenapa kau malah bilang kalau dia bukan Menma?" tanya Kushina tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari tanaman-tanaman yang tengah ia siram.

"Ru-chan Ma-chan janai!"

"Kawaii ne! Tapi Ruu-chan, kalau aku bukan Menma, aku tidak mungkin sakit!"

Saat itu juga Kushina menghentikan aktivitasnya dan terdiam. Lalu beberapa detik kemudian air matanya menetes. Kushina menyeka air mata di pipinya dan kembali fokus menyiram tanaman.

"Ru-chan Ma-chan janai!"

"Kau keras kepala sekali ya, Ruu-chan?"

"Aitakute, Ru-chan. Daisuki."

Naruto jadi semakin bingung dengan perkataan burung beo itu. Ia pun mendekati Kushina yang masih sibuk menyiram tanaman bunga dalam pot.

"Kaa-san tidak menyuruh tukang kebun untuk menyiram bunga-bunga ini?"

"Menyiram dan merawat semua tanaman yang ada di taman memang sudah menjadi bagian dari tugasnya, tapi kalau tanaman-tanaman yang di balkon, kaa-san lebih suka menyiramnya sendiri."

"Ru-chan comeback, onegai!"

Naruto kembali menoleh pada burung beo itu. Ia benar-benar penasaran, kenapa sejak tadi burung itu memanggilnya Ru-chan.

"Etto, kaa-san! Burung itu... apa tou-san yang membelinya?"

Kushina menghentikan aktivitasnya, kemudian berdiri dan tersenyum pada Naruto.

"Biar kaa-san ingatkan! Burung itu kau sendiri yang membelinya, Menma!"

"Aku?"

"Ya. Satu tahun yang lalu, aku memintamu menemaniku ke pet shop. Saat itu kaa-san ingin membeli kucing russian blue. Waktu itu burung itu masih kecil. Kau bilang dia terlihat murung dan kesepian. Lalu penjaga pet shop cerita, kalau burung itu baru saja kehilangan induknya. Induknya mati karena terinfeksi penyakit."

"Kasihan sekali."

"Ya, saat itulah kau meminta izin kepadaku untuk membeli dan membesarkannya. Kau juga berjanji akan merawatnya dengan baik."

"Oh, begitu. Aku benar-benar tidak ingat. Lalu apa aku juga yang mengajarinya berbicara?"

"Setelah burung itu menjadi milikmu, kau memberinya nama Ruu-chan. Kau tidak mengajarinya berbicara, tapi aku sering melihatmu curhat tentang Nerro kepadanya. Jadi kurasa dia menirumu."

"Meniruku?"

"Ya. Kau sering menyapanya dengan... Ohaiyo, Ruu-chan!"

"Ohaiyo, Ru-chan! Ohaiyo!" lagi-lagi perkataan Kushina disela oleh burung beo tersebut.

"Lalu kenapa dia bilang aku ini bukan Menma?"

"Ru-chan Ma-chan janai."

"Kau pernah bercerita kepadanya... kau bilang, kau memiliki saudara kembar. Nama saudara kembarmu adalah Naru."

Kushina mulai bercerita banyak hal soal curhatan Menma pada Ruu-chan—si burung beo—yang sejak tadi terus berceloteh.

"Jadi aku benar-benar sering curhat pada Ruu-chan?" tanya Naruto pula.

Tiba-tiba saja sosok Kushina yang saat ini berdiri di hadapannya, berubah menjadi sosok Menma. Ia tak mengerti ini adalah halusinasi atau apa. Ia yakin sekali, saat ini jiwanya masih terjebak dalam tubuh Menma, begitupula sebaliknya. Lantas kenapa saat ini ia seperti sedang berhadapan langsung dengan Menma. Ia yakin pasti ada yang salah dengan matanya.

"Kami memang kembar identik tapi Naru bukan aku dan aku juga bukan Naru. Kami sangat berbeda. Naru sangat energik sedangkan aku... sejak kecil aku gampang sakit. Tapi meski begitu, Naru adalah setengah dari diriku. Dia sangat berharga bagiku. He is my precious other half."

"Ru-chan Ma-chan janai.'

'Ada apa ini, kenapa tiba-tiba aku merasa sedih dan ingin menangis? Lagi-lagi disini terasa sakit!' pikir Naruto sambil mencengkram dadanya.

Sosok Kushina saat ini masih terlihat seperti sosok Menma di matanya. Bahkan ia bisa melihat ekspresi sedih di wajah Menma dengan sangat jelas.

"Sayangnya Naru sudah tidak disini. Dia menghilang dan tidak pernah kembali. Naru-chan, kembalilah aku mohon!"

"Ru-chan comeback, onegai!"

Ruu-chan si burung beo kembali meniru perkataan Menma. Naruto tidak mengerti kenapa hatinya semakin terasa sakit. Kini bayangan Menma yang tengah memelas sedih yang terlihat olehnya. Namun ia terus berusaha menahan air matanya.

"Naru-chan kenapa? Kenapa kau pergi dan meninggalkanku? Kenapa? Padahal aku ingin bertemu denganmu lagi. Aku sangat menyayangimu!"

"Doushite Ru-chan? Doushite?"

'Hentikan, burung cerewet!'

"Aitakute, Ru-chan. Daisuki."

"Dimana pun kau berada... apa kau baik-baik saja?"

"Genki?"

Tepat setelah si burung beo bertanya demikian, sosok Menma menghilang dan kembali berubah menjadi sosok Kushina. Kushina mendekatinya dan langsung memeluknya. Isakan tangis mulai terdengar dari mulut Kushina. Awalnya Naruto merasa ragu, namun akhirnya ia membalas pelukkan Kushina seraya memejamkan kedua matanya. Seperti biasa pelukkan Kushina benar-benar terasa hangat. Terasa begitu nyaman dan membuat perasaannya menjadi lebih tenang.

'Seperti inikah rasanya pelukkan seorang ibu?'

Ia masih tidak mengerti dengan rasa sakit yang tiba-tiba saja muncul di hatinya. Namun ia masih harus berperan sebagai Menma di depan semuanya.

Beberapa menit kemudian Kushina melepas pelukkannya. Ia menghapus air mata di pipinya dan kembali tersenyum.

"Menma, apa kau sudah sangat membutuhkan Nerro?"

"Tentu saja. Dia adalah setengah dari diriku."

"Kalau kami berhasil menemukannya, apa kau mau menerima salah satu organ ginjalnya?"

"Ginjalnya? Apa maksudmu, kaa-san?"

"Astaga, tampaknya kau juga sudah lupa kalau satu bulan yang lalu kau mengalami komplikasi ginjal akibat efek obat kemotherapy?! Tapi syukurlah, kalau kau masih belum merasa sakit, itu berarti gagal ginjalmu itu masih belum parah. Kita masih bisa menunggu Nerro."

'Apa? Jadi Menma mengalami komplikasi ginjal? Kenapa Sakura-chan tidak mengetahuinya?'

"Menma?"

'Benar juga, dalam agenda Menma, ia tidak menceritakan soal ini. Sakura-chan juga masih belum bisa menemukan hasil medical check up Menma yang terbaru."

"Menma! Kenapa kau tiba-tiba melamun begitu? Kau baik-baik saja?"

"Doushite, Ru-chan? Doushite?"

"Nande monai."

"Kau belum menjawab pertanyaan, kaa-san. Kalau kami menemukan Nerro, kau bersedia menerima ginjalnya, kan?"

"Aku akan menerimanya hanya jika Nerro bersedia menjadi donorku tanpa paksaan siapapun!"

Kushina tersenyum. Menurutnya ini kesempatan yang bagus. Sepertinya Menma lupa, kalau dirinya selalu mengatakan 'tidak' setiap kali ia membahas soal Nerro yang sudah dapat dipastikan, bisa menjadi pendonor yang baik untuk Menma.

"Tanpa dibujuk oleh kami pun, Nerro pasti akan dengan sukarela memberikan apapun yang kau butuhkan. Kau tahu kenapa?"

"Iie."

"Nerro itu, ia seperti malaikat yang jatuh dari langit. Ia baik hati dan rela mengorbankan dirinya sendiri untukmu. Sama seperti waktu itu..."

.

Flashback—

'Prang!'

Kushina kaget saat mendengar sesuatu yang pecah. Ia pun bergegas menghampiri sumber suara. Mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka, ia melihat Menma kecil tampak kebingungan dan ketakutan. Naru yang tadinya tertidur di sofa langsung terbangun, lalu menghampiri sosok Menma yang saat ini sibuk membersihkan pecahan guci.

"Nii-chan? Doushite?"

"Aku tidak sengaja menyenggol guci kesayangan kaa-chan hingga pecah. Naru-chan, apa yang harus aku lakukan? Kaa-chan pasti akan marah dan menghukumku!"

"Tidak akan. Nii-chan, diam saja. Tidak usah mengatakan apapun."

"...tapi..."

"Aku akan bilang, kalau akulah yang tidak sengaja memecahkannya."

"Naru-chan nanti kau yang kena marah dan di hukum."

"Daijoubu."

Kushina tak menyangka, Naru mengatakan hal itu sambil tersenyum. Padahal Naru adalah anak yang cengeng, tapi kali ini anak itu malah mau menanggung resiko dari kesalahan yang tidak dilakukannya hanya demi Menma. Ia pun pura-pura baru mengetahui apa yang telah terjadi dan menghampiri kedua puteranya.

"Apaan-apaan ini? Kenapa berantakan begini? Astaga, bukankah itu guci kesanyangan kaa-chan? Katakan, siapa yang melakukan ini!"

Kushina melirik Menma, saat itu juga Menma langsung salah tingkah, lalu menunduk menatap lantai. Ia kemudian menoleh pada Naru dan anak itu langsung membungkukkan badannya.

"Gomen ne, kaa-chan. Aku... aku tidak sengaja memecahkannya."

"Apa kau lari-larian di dalam rumah lagi? Naru-chan, haruskah kaa-chan menghukummu?"

"Kaa-chan, jangan hukum Naru-chan, onegai!" tegas Menma yang sepertinya sudah berhasil menghilangkan rasa takutnya.

"...tapi dia sudah memecahkan guci kesayanganku, Menma-chan! Guci itu dari Jerman dan harganya sangat mahal. Itu adalah buatan tangan salah satu seniman gerabah paling terkenal di dunia."

"Naru-chan bohong! Akulah yang memecahkannya!"

"Oh, jadi kau ingin menutupi kesalahan kembaranmu dan melindunginya?" kata Kushina yang sebenarnya adalah sindiran untuk Naru.

"Kaa-chan, percayalah padaku! Akulah yang memecahkannya!"

"Tidak. Nii-chan yang bohong. Aku. Akulah yang melakukannya."

Kushina tidak tahan lagi melihat tingkah kedua puteranya yang menurutnya sangat imut. Ia pun tertawa lalu memeluk kedua puteranya. Menma dan Naru terlihat heran dan saling pandang.

"Kenapa kaa-chan malah ketawa? Kaa-chan tidak marah?" tanya Naru.

"Tidak. Kaa-chan tidak akan marah, karena sang pelaku sudah berani berkata jujur. Jadi kaa-chan tidak akan menghukummu ataupun menghukum kakakmu. Justru kaa-chan sangat berterimakasih. Berkat kalian berdua, kaa-chan mendapatkan inspirasi untuk menulis sebuah buku fiksi.

"Inspirasi?"

"Buku fiksi?"

"Ya. Miracle. Tokoh utamanya adalah Malvin dan Nerro. Dua orang malaikat kecil yang selalu saling tolong-menolong."

"Hah? Itu kan nama internasional kami!" kata Menma dan Naru serentak.

"Ya ampun, kalian sangat imut! Kompak sekali! Ayo kita makan siang!" kata Kushina yang kemudian menggandeng kedua puteranya menuju ruang makan.

Flashback End—

.

.

"Akhirnya selesai juga! Packing barang-barangku nanti malam saja deh! Hari ini aku harus mengunjingi Menma-kun. Aku belum memberitahunya soal liburan ini." Kata Sakura yang kemudian menyobek selembar kertas, lalu menuliskan sebuah pesan untuk Naruto.

Setelah meletakkan kertas tersebut di atas meja lampu. Sakura pun segera berangkat menuju tempat tujuan. Ia memutuskan untuk sarapan di cafetaria rumah sakit saja. Kurang dari satu jam, taxi yang ia tumpangi akhirnya sampai di rumah sakit. Ia ke cafetaria sebentar untuk sarapan, setelah itu ia pun bergegas menuju bangsal, tempat dimana tubuh Naruto masih terbaring.

Sakura menghampiri tubuh Naruto dan duduk di kursi tempat biasa ia duduk. Sakura mengerutkan kening. Kursi yang ia duduki terasa agak panas, seakan-akan kursi tersebut sudah lama diduduki oleh seseorang.

"Siapa yang datang kesini sebelum aku? Ah benar juga, mungkin tadi salah satu suster baru saja datang untuk membersihkan tubuh Naruto."

Sakura mengalihkan pandangannya ke atas meja. Vas bunga yang selama ini ia isi dengan bunga lily, sudah diisi oleh bunga mawar putih. Sakura mengambil satu tangkai bunga, memperhatikannya dengan teliti, lalu mencium wanginya.

"Bunganya masih segar. Apa teman-teman sudah datang kesini? Tidak mungkin! Ini masih pagi dan biasanya pagi-pagi begini mereka sangat sibuk karena toko baru saja buka. Mungkinkah bos Iruka baru saja datang untuk menjenguk?"

Kini Sakura mengalihkan pandangannya pada sofa lalu mendekati sofa tersebut. Ada yang berbeda. Sofa itu juga masih terasa hangat, seolah seseorang telah menggunakannya untuk tidur dan aromanya... ia yakin ia pernah mencium aroma tubuh seperti ini sebelumnya.

'Mungkinkah semalam bos Iruka menginap di sini?'

"Menma-kun, aku datang untuk memberitahumu sesuatu sekaligus meminta maaf. Gomen, kami tidak bisa menjengukmu untuk sementara. Aku dan Naruto akan berlibur ke Okinawa selama lima hari. Sebenarnya liburannya selama satu minggu, tapi kami berencana untuk pulang lebih awal karena minggu depan Naruto harus menggantikanmu kemoterapi." cerita Sakura yang kemudian mengenggam sebelah tangan Naruto.

"Nee, Menma-kun! Bagaimana rasanya kemoterapi? Apakah menyakitkan?"

"..."

"Setiap pagi aku selalu datang ke kamarmu, dan setiap hari aku merasa cemas. Disekitar tempat tidurmu, aku sering menemukan helai rambutmu yang rontok. Jumlahnya cukup banyak. Menma-kun, biasanya setelah kemo, apa rambutmu semakin banyak yang rontok?"

"..."

"Kurasa jawabannya 'ya'. Ada banyak sekali hal yang ingin aku tanyakan kepadamu. Jadi, cepatlah sadar, Menma-kun!"

oooOOSoulmateOOooo

.

.

"Sakura-chan, kau sudah siap? Ayo kita berangkat! Waktu berkumpul tinggal 30 menit lagi! Kita harus segera sampai di sekolah!" kata Naruto sambil sesekali mengetuk pintu kamar Sakura.

"Iya, sebentar!" teriak Sakura.

Tidak lama kemudian, Sakura keluar dari kamar. Dan seperti biasa Naruto tersenyum kepadanya, namun detik itu juga Sakura terkejut. Naruto mengubah style rambut Menma. Style rambut yang sama dengan style rambut Naruto.

"Kau memotong rambut, Menma-kun! Nande?"

"Rambutnya rontok, jadi kupikir akan lebih baik jika aku memotongnya lebih pendek. Bagaimana menurutmu? Sekarang Menma mirip sekali denganku, kan?"

"Yeah, kalian sangat mirip... seperti saudara kembar. Kemarin aku menjenguk Menma-kun. Kau tahu, sekarang rambutmu sudah agak panjang?!"

"Benarkah?"

"Ya, aku sudah mengukurnya. Rambutmu lebih panjang dua centimeter."

"Ha? Apa dirumah sakit tak ada seorang pun yang memotong rambutku?"

"Tentu saja tidak ada. Aku juga tidak akan pernah memotong rambutmu."

"Ha? Nande?"

"Kupikir kalau rambutmu dibiarkan memanjang, aku akan menatanya hingga style rambutmu mirip Glen Baskerville. Kau pasti akan jauh lebih keren!"

"Aku lebih suka style rambut Oz Vessarius. Kalau kita menikah dan punya anak, mungkin anak laki-laki kita akan mirip dengannya. Oz memiliki rambut pirang. Selain itu, ia memiliki mata emerald yang sama denganmu, Sakura-chan. Sangat indah." Dipuji seperti itu, Sakura pun langsung blushing.

'...tapi Naruto! Aku lebih suka kalau... anak perempuan kita mirip denganku, sedangkan anak laki-laki kita mirip denganmu.' kata Sakura dalam hati.

"Bagaimana menurutmu, Sakura-chan?"

"Kita akan terlambat kalau mengobrol terus. Ayo kita berangkat!" ajaknya seraya menyeret Naruto.

"Kau sangat imut saat blushing begitu, Sakura-chan."

"Urusai!"

Melihat Sakura yang cemberut, Naruto malah tertawa. Entah sejak kapan menggoda Sakura menjadi kegiatan yang menyenangkan baginya.

.

.

.

Okinawa merupakan salah satu wilayah terkenal di Jepang yang memiliki potensi wisata bahari yang luar biasa. Okinawa terletak paling jauh di wilayah selatan Jepang, merupakan pulau dengan keindahan alam yang mengagumkan, terdiri dari teluk, pantai putih, tebing, terutama koral serta keanekaragaman hewan laut. Okinawa yang dikelilingi pemandangan eksotis perairan serta pemandangan alamnya yang indah sering menjadi tempat wisata yang menarik. Okinawa identik dengan keindahan koral dan lautnya, terdapat petualangan aquarium bawah laut bagi wisatawan yang ingin menyaksikan pesona bawah laut secara langsung.

Hari pertama mereka di Okinawa, rombongan kelas tiga yang dipimpin oleh Asuma-sensei, mengunjungi tempat wisata bawah laut. Wisata bawah laut ini tidak menggunakan pilar satu pun pada dinding kaca aquarium untuk menahan/menyangga volume air, namun menggunakan temuan canggih buatan Jepang yakni panel akrilic setebal 60cm, transparan dan dapat melihat tembus dengan jelas.

Sakura dan yang lainnya terkagum-kagum menyaksikan pesona bawah laut. Mereka memasuki area bawah laut yang menurun ke bawah dalam beberapa tingkat. Mereka semua bisa menyaksikan perbedaan mulai dari perairan dangkal yang kaya akan koral, perairan ikan tropis dan menuju kedalaman laut dimana para predator besar tinggal dengan sensasi yang berbeda. Mereka bisa melihat dengan jelas melalui kaca akrilic setinggi 8.2 meter, panjang 22.5 meter tersebut di tiap-tiap tangki air. Pemandangan bawah laut tersebut dapat dinikmati, bahkan sengaja disiapkan restoran bawah laut sehingga para wisatawan bisa menikmati makanannya serasa ditemani para ikan.

Segala macam species ikan ada disini, mulai dari ikan pari, hiu, sampai ikan paus. Bahkan ada area khusus yang menyediakan tempat supaya para wisatawan bisa memegang hewan-hewan seperti bintang laut, timun laut, dan sebagainya dengan tangan kosong.

"Wow, ikan pari-nya besar sekali ya?" komentar Sakura dengan pandangan kagum.

"Aku sering mendengar bahwa pemandangan bawah laut sangat indah. Tak kusangka aku bisa melihatnya secara langsung seperti ini."

"Ya, aku juga senang kau diijinkan ikut oleh Minato-san dan Kushina-san." sambung Sasuke.

"Err, sebenarnya kaa-san tidak mengijinkanku. Entah apa yang dikatakan tou-san hingga aku bisa ikut pergi bersama kalian?"

"Begitu rupanya. Sudah kuduga. Oh ya, mengenai hotel, kita berdua satu kamar dengan Shikamaru dan juga Chouji. Apa kau tidak masalah dengan itu?"

"Tak masalah. Justru lebih banyak orang lebih menyenangkan."

"Bagaimana denganku, Sasuke-kun? Apa kau tahu, aku satu kamar dengan siapa?"

"Kau satu kamar denganku, Sakura. Sayangnya kita juga harus satu kamar dengan Hinata. Menyebalkan sekali!" jawab Ino dengan wajah kesal.

"Itu pasti rencana Kami-sama agar kalian bisa berbaikan dan berteman lagi seperti dulu." Ujar Sakura sambil tersenyum.

"Aku tidak sudi berbaikan dengannya!" tegas Ino sambil melipat kedua tangan di depan dada.

"Kenapa dengan gadis itu?" bisik Sasuke.

"Entahlah. Mungkin Ino dan Hinata-chan memperebutkanmu."

"Bicara apa kau, dobe? Jelas-jelas Hinata itu menyukaimu!"

"Kalau begitu berarti Ino menyukaimu, sedangkan kau menyukai Hinata-chan. Itulah sebabnya Ino memusuhi Hinata."

"Urusai! Jangan berbicara seolah-olah aku ini adalah penyebab permusuhan mereka!"

"Itu hanya satu kemungkinan dari sekian banyak kemungkinan. Jadi tidak usah marah padaku!"

Sasuke tidak berniat melanjutkan percakapan tersebut. Ia pun hanya diam saja sambil memfokuskan pandangannya pada pemandangan ikan-ikan yang terus berenang kesana-kemari.

.

.

Sakura menggelengkan kepalanya. Saking kesalnya Ino pada Hinata, malam ini ia terpaksa tidur di tengah-tengah, dengan Ino disamping kiri ranjang dan Hinata disamping kanan ranjang. Jam sudah menunjukkan pukul 22.46. Baik Ino maupun Hinata, keduanya sudah tertidur pulas, sedangkan dirinya masih belum bisa tidur sama sekali. Ia jadi kesal sendiri. Akhirnya ia memutuskan untuk jalan-jalan sebentar.

Sakura sudah berada di luar hotel. Jarak hotel tersebut dengan pantai tidak terlalu jauh. Hari ini ia belum memiliki kesempatan untuk berenang karena sejak tadi siang pantai sangatlah ramai. Melihat suasana pantai yang sepi, ia jadi ingin sekali berenang. Sakura pun melangkahkan kakinya menuju air. Dinginnya air laut mulai terasa di kakinya. Ia terus berjalan hingga air laut mencapai pinggangnya.

Waktu sudah menunjukan pukul 22.55. Sasuke, Chouji, dan Shikamaru, sudah tertidur pulas, namun Naruto masih terjaga. Ia jadi kesal sendiri karena tidak bisa tidur. Ia pun memutuskan untuk jalan-jalan sebentar. Ia mengenakan mantel lalu mengeluarkan Canon EOS dari tasnya. Menurutnya Menma pasti akan senang jika ia memperlihatkan foto-foto dan rekaman video wisata Okinawa saat Menma siuman nanti. Itulah sebabnya ia memutuskan untuk membawa kamera. Hari memang sudah malam, tapi biasanya malam-malam begini ikan-ikan badut akan muncul ke permukaan. Jadi ia rasa masih ada hal menarik yang bisa ia rekam.

Setibanya di tepi pantai, Naruto membelalakkan matanya karena kaget. Ia melihat Sakura terus berjalan ke arah laut seperti ingin bunuh diri. Namun menurutnya tidak ada alasan untuk Sakura bunuh diri. Mungkin Sakura hanya ingin berenang, tetapi tetap saja ia merasa cemas. Akhirnya ia memutuskan untuk mengamati Sakura dengan seksama. Ia pun mengaktifkan fitur zoom dan mengarahkannya pada Sakura.

Sakura tersenyum melihat ikan-ikan badut yang berenang kesana-kemari. Warna mereka yang mencolok sekaligus air laut yang tampak jernih dan transparan, membuatnya bisa mengamati aktivitas-aktivitas ikan-ikan badut tersebut dengan sangat jelas. Ada juga ikan-ikan hias lainnya.

"Wah, Nemo dan yang lainnya! Bolehkah aku berenang bersama kalian?" ujarnya.

Saat ini jaraknya dengan Sakura cukup jauh, sekitar beberapa meter. Namun dari lensa kamera, Naruto bisa melihat sosok Sakura dengan jelas. Sakura tersenyum dengan cantik. Rambut panjangnya yang sewarna bunga Sakura terlihat jauh lebih indah karena tertiup angin. Selang beberapa menit kemudian, ia melihat Sakura membuka baju tidurnya. Tidak hanya itu, Sakura juga melepas pakaian dalamnya dan membiarkan pakaian tersebut terbawa arus.

Naruto mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia tidak percaya dengan penglihatannya. Sakura mulai berenang tanpa sehelai benang pun. Ia yakin saat ini wajahnya pasti memerah total. Tidak hanya itu, ia juga langsung nosebleed. Ia dan Sakura memang sudah berencana akan bertunangan dan menikah, tetapi rasanya ini tidak pantas. Saat ini baik ia dan Sakura masih berusia 17 tahun. Naruto pun menggelengkan kepalanya keras-keras, dan mematikan kamera tersebut.

'Ampuni aku Kami-sama, aku benar-benar tidak sengaja melihatnya!' teriaknya dalam hati.

Setelah puas berenang bersama ikan-ikan, Sakura pun segera ke luar dari dalam air. Sakura terdiam sekian detik, dan setelahnya ia berteriak histeris.

"Astaga! Apa yang aku lakukan? Aku membiarkan pakaianku hanyut! Tidak! Semua ini gara Nemo dan teman-temannya. Kenapa mereka membuatku lupa diri?!"

"Baka! Sekarang apa yang harus aku lakukan? Jika ada yang melihatku seperti ini, mereka pasti akan menganggapku wanita jalang!"

"BAKA! BAKA!"

Sakura benar-benar frustasi. Kecantikan ikan-ikan bawah laut benar-benar membuatnya terjebak dalam masalah besar. Saat ia semakin kebingungan, ia mendengar teriakan seseorang.

"Oii, Sakura-chan? Apa kau butuh bantuan?"

Sakura menoleh ke arah sumber suara. Reflek ia menutupi bagian dadanya dengan kedua tangan dan lekas membalikkan badannya. Setidaknya bagian bawah tubuhnya tidak terlihat karena tertutupi air laut tetapi tetap saja ia merasa sangat malu. Ia yakin saat ini wajahnya pasti merah total.

"Aku kesana, ya!"

Setelah berteriak demikian, Naruto pun menghampiri Sakura secepatnya. Sebelum masuk ke dalam air, ia melepas mantelnya untuk diberikan kepada Sakura. Sakura masih memunggunginya meskipun jaraknya dengan gadis itu sudah semakin dekat.

"Jangan khawatir. Mantelku bisa menutupi tubuhmu hingga betis." Kata Naruto seraya menyampirkan mantel tebal tersebut pada bahu Sakura.

"Aku tidak akan lihat! Pakailah dengan benar!" kata Naruto yang lekas berbalik membelakangi Sakura.

"A-aku su-sudah se-selesai. A-arigatou."

"Kau tahu, apa yang sudah kau lakukan? Untung saja disekitar sini tidak ada orang lain selain aku!"

Sakura jadi menyesal. Ia tidak pernah melihat Naruto semarah ini kepadanya. Tampaknya Naruto benar-benar marah. Hal itu terbukti dari tatapan matanya yang tajam, dan juga nada suaranya yang tinggi sekaligus tegas.

"Gomennasai!"

"Jangan ulangi lagi!"

"Ha'i. Ano... apa tadi kau melihatku?" tanya Sakura dengan wajah merah.

Naruto menelan ludah. Kejadian tadi kembali terbayang dalam benaknya. Detik itu juga ia merasakan sesuatu yang cair mengalir dari hidungnya. Pada detik berikutnya, ia langsung merinding. Di sampingnya sosok Sakura sudah dikelilingi aura gelap. Sakura terlihat sangat marah, bahkan gadis itu sudah mengepalkan tangannya.

"Jadi kau melihatnya, ya?"

"Stop, Sakura-chan! Ingat, ini bukan tubuhku!"

"AKU TIDAK PEDULI! SHANNAROU!"

'DUAGH!'

Naruto langsung terpental beberapa meter akibat kekuatan monster Sakura. Ia pun tepar dan wajahnya langsung babak belur.

"Ittaaiii! Kau jahat sekali, Sakura-chan! Padahal ini bukan tubuhku!"

"Masa bodoh!"

.

.

_TBC_

.

.

A/n: Yosh! Gomen, minna-san! Saya baru bisa update fict ini sekarang! Saya banyak tugas sekolah dan pulang sore tiap hari dikarenakan ada pelajaran tambahan. Maklum UN sudah di depan mata, makanya tiap hari pemantapan melulu. Chapter kali ini wordsnya sengaja saya perpanjang dikarenakan udah lama ga update. Dan untuk readers yang nungguin 'Konoha Academy', saya masih belum bisa bikin lanjutannya, jadi mohon bersabar, ya?! Saya juga mohon maaf karena ga bisa balas review kalian *nggak sempat*, mungkin lain kali, hehehe. ^^

Oh ya, soal Ruu-chan si burung beo, saya terinspirasi dari manga 'Another' dan untuk adegan Sakura berenang malam-malam tadi, saya terinspirasi dari Kdrama 'Marry him if you dare'. Maaf ya kalau feelnya kurang dan membosankan, maklum kali ini beta readernya ga bisa bantuin ngedit. Yup, Minna-san, mind to review? Review please and No Flame. Arigatou. ^^