Disclaimer : Masashi Kishimoto
Thanks udah read, salam kenal ghwen :)
warning : abal, gaje, typo berserakan dan masih banyak kekurangan. thanks...
Di rumah, Neji lega melihat Sasuke pulang membawa Hinata.
"Kau tidak apa? Apa kau terluka? Kenapa kau kabur dari rumah, Hinata?" Tanya Neji bertubi – tubi.
"Hei, biarkan Hinata ganti baju dan istirahat! Dia bisa sakit, Neji!" Sahut Sasuke kesal.
"Aku tahu!" Balas Neji kesal, Hinata hanya terkikik geli melihat Neji dan Sasuke yang berdebat.
"Neji-nii, pinjamkan Naruto pakaian. Dia juga bisa sakit," Pinta Hinata, sebelum menghilang dari balik pintu kamarnya. Neji hanya melirik Sasuke dengan cemburu.
"Kau dengar kan?" Ejek Sasuke penuh kemenangan.
...
Setelah beres – beres, mereka bertiga pun berkumpul di ruang makan Hyuga.
"Naruto! Kau harus makan yang banyak," Kata Hinata, mengambilkan Sasuke makanan.
"Neji-nii juga," Lanjut Hinata, melihat ekspresi kesal Neji.
...
"Baiklah Hinata, sudah malam. Sebaiknya aku pulang..." Pamit Sasuke.
"Kau tidak mau menunggu sebentar lagi? Sebentar lagi Sakura pasti pulang," Sahut Hinata cemas, dia tidak ingin Sasuke pergi dan jauh darinya.
Sasuke memandang Neji bingung, Neji hanya diam tidak merespon.
"Besok masih ada waktu, aku pasti kesini." Balas Sasuke meyakinkan.
"Kau janji?"
"Hn"
"Baiklah kalau begitu."
"Istirahatlah, mimpi yang indah." Kata Sasuke, mengelus lembut pipi Hinata.
Hinata hanya mengangguk senang. Sementara Neji yang berdiri di belakang Hinata, melotot tajam.
...
Di apartemennya, Sasuke memandang foto kenangannya dengan sendu.
"Maafkan aku Naruto, aku datang terlambat." Lirih Sasuke.
"Sekarang, apa yang harus aku lakuhkan?! Bicaralah padaku Dobe! Jangan diam saja!" Cerca Sasuke kesal.
Flashback :
"Teme! Kenapa kau tidak mengabariku kalau ingin pindah?!" Solot Naruto kesal.
"Maaf Dobe," Sesal Sasuke.
"Kau sudah berjanji, Sasuke! Kau berjanji, akan membantuku memenangkan lomba basket ini!"
"Maaf, kali ini aku tidak bisa menepati janji! Tapi aku janji, suatu saat nanti. Bila kau butuh bantuan, apapun itu. Aku akan membantumu, sekuat jiwa dan ragaku!" Janji Sasuke.
Melihat keseriusan dan rasa bersalah Sasuke, Naruto pun mencoba menerima keputusan Sasuke untuk keluar dari tim basket karena akan pindah ke Suna.
"Hhaha... baiklah jika begitu, aku mengerti dan memaklumi keputusanmu." Sahut Naruto.
"Walau terdengar berlebihan! Tapi ku pegang janjimu, Teme!" Lanjut Naruto, memamerkan tawa mataharinya.
"Ini! Jika kau mencariku dan ingin menagih janjiku. Perlihatkan ini padaku, alamat dan tanda tanganku sebagai bukti janjiku hari ini!" Balas Sasuke, sambil menyerahkan sebuah foto dirinya bersama teman – teman tim basket Naruto.
"Aku mengerti! Kau harus jaga dirimu baik – baik, sampai kita bertemu lagi nanti." Jawab Naruto.
End flashback :
...
Pagi – pagi
"Hinata bangun!" Bentak Sakura yang sudah terlihat rapi.
"Nggg...Sakura? Kenapa kau di sini?" Desis Hinata, mengerjapkan matanya dan memandang Sakura yang berkacak pinggang dan terlihat rapi di samping tempat tidur Hinata.
"Dasar pemalas! Apa kau tidak tahu keh, Ayah sedang dalam perjalanan pulang!" Solot Sakura tidak sabar.
"Benarkah?" Tanya Hinata berbinar, terukir senyum bahagia di wajah manisnya.
"Kau pikir, aku pembohong hah?! Sekarang, Neji sedang perjalanan kesini bersama Ayah. Jadi, aku tidak mau kau membuat masalah!" Kata Sakura penuh penekanan.
"Aku mengerti." Jawab Hinata sambil membereskan tempat tidurnya.
Sebelum hendak pergi, tidak sengaja Sakura melihat sepesang cincin tergeletak di meja Hinata.
"Menyedihkan!" Desis Sakura, memainkan kedua cincin itu.
"Sakura! Kembalikan!" Bentak Hinata tiba – tiba.
Entah kenapa, melihat cincin itu. Hinata merasa darahnya mendidih, hawa dingin menyelimuti tubuhnya.
"Kau, berani membentakku keh? Kau ini menyedihkan! Dia sudah MATI bodoh!" Cerca Sakura, memandang sinis Hinata.
"Aku bilang hentikan!" Teriak Hinata, tiba - tiba menghantam Sakura. Sakura yang terkejut, jatuh menubruk meja rias Hinata.
Di saat yang bersamaan, Neji dan Ayah Hinata yang baru datang. Langsung berlari ke lantai 2 bersama para pelayan ketika mendengar kegaduhan tersebut.
"Hinata? Kau tidak apa?" Tanya Neji panik, melihat Hinata menggigil ketakutan.
Sementara Ayah Hinata, menolong Sakura yang terluka kerena menghantam meja dan tertiban beberapa alat rias Hinata. Para pelayan pun dengan sigap membersihkan tempat yang terlihat kacau dan berantakan itu.
...
Hinata menangis ketakutan di kamar Neji, sementara Neji masih berusaha menenangkan Hinata.
"Ayah, akhir – akhir ini. Hinata sering mengamuk dan kabur. Dia semkin tidak terkendali d-dan... M-menakutkan." Kata Sakura hati – hati, sambil mengobati lukanya.
"Hmm, Ayah tidak tahu lagi. Apa yang harus Ayah lakuhkan Sakura? Ayah merasa gagal mendidik Hinata." Sesal Hiasi.
"Tidak apa ayah, masih ada aku dan Kak Neji di sini." Lirih Sakura, mencoba menghibur sang ayah.
"Sudah lama Ayah memikirkan ini, tetapi ayah tidak pernah tega."
"Dulu ayah berfikir, jika Hinata di rawat di rumah. Dia akan lebih cepat sembuh, tapi kenyataan malah sebaliknya."
"..."
"Bagaimana menurutmu? Apa Ayah jahat, bila mengirim Hinata ke rumah sakit jiwa. Di bawah bimbingan dokter Sizune?" Tanya Hiasi ragu.
"Dokter Sizune terkenal dalam spesialisnya, aku percaya padanya. Jika itu yang terbaik buat Hinata, kenapa tidak ayah ?" Balas Sakura, mencoba meyakinkan Ayahnya.
...
"Apa? Tidak! Hinata tidak gila, kenapa dia harus pergi ke rumah sakit jiwa?" Tolak Neji.
"Ini yang terbaik Neji, lagi pula keputusan Ayah sudah bulat! Jadi, kau tidak boleh menentangnya!"
"Tidak! Sampai kapanpun, aku tidak setuju!" Balas Neji tidak mau kalah.
"Lalu sampai kapan kau mau disini menjaga Hinata hemm? Di Suna proyekmu masih banyak Neji! Lagi pula, dengan mengirim Hinata di bawah bimbingan Sizune. Ayah yakin, Hinata akan segera sembuh!"
"Tapi -"
"Keputusan Ayah sudah bulat! Nanti sore, ikut Ayah mengantar Hinata. Setelah itu, 2 hari setelah semua urusan selesai. Ikut Ayah ke Suna, dan selesaikan semua pekerjaan yang kau tunda!" Potong Hiasi tidak mau mendengar penolakan Neji lagi.
...
'Piipp... piip...' HP Sasuke berbunyi.
'Sasuke?' Terdengar suara dari sebrang.
"Hn"
'tolong aku.'
"Ada apa?" Tanya Sasuke dengan malas.
'Ayah kembali dan terjadi kesalah pahaman, dia ingin mengirim Hinata ke rumah sakit jiwa! Tolong selamatkan Hinata, dia tidak gila Sasuke!" Pinta Neji, tidak tahu lagi harus berbuat apa.
"Kenapa aku? Kenapa kau tidak mencegahnya?" Desis Sasuke kesal.
'Aku sudah berusaha bodoh, tapi aku tidak bisa apa –apa lagi,' Desis Neji kesal dan mematikan panggilannya.
"Sial, apa lagi sekarang?!" Umpat Sasuke kesal. Sejenak Sasuke memandang foto kenangannya.
"Apa sekarang kau menagih janjiku keh?" Tanya Sasuke entah pada siapa.
"Jangan memandangku seperti itu Dobe! Kau terlihat menyebalkan!" Cerca Sasuke kesal.
"..."
"Hinata.." Batin Sasuke menerawang jauh, terukir senyum di wajah pemuda itu setiap kali mengingat Hinata.
"Arrgghhh.. Kau membuatku gila Hinata!" Geram Sasuke menyambar kemejanya dan berlari pergi.
...
"Tidak Ayah, aku tidak mau pergi... hiks, Neji-nii... lepaskan aku Ayah, Sakura tolong aku," Ronta Hinata, ketika para pelayan memaksanya masuk ke dalam mobil.
"Ayah, hentikan! Kasihan Hinata, Ayah! Dia ketakutan!" Bujuk Neji.
"Hentikan Neji, aku tidak mau mendengar apapun lagi!" Tegas Hiasi menulikan telinga.
"Ayaah, aku mohon maafkan aku. Maaf... Sakura tolong aku!" Isak Hinata ketakutan.
"Bersabarlah Hinata, setelah kau sembuh. Aku sendiri yang akan menjemputmu pulang, jangan khawatir Hinata. Disana, kau tidak akan lama." Terang Sakura ramah, mencoba meyakinkan Hinata dan mencoba memperoleh kepercayaan Ayahnya.
"Tidak Sakura, aku tidak sakit... Aku tidak mau pergi.. Lepas! Lepaskan!" Tolak Hinata terus meronta.
"Lepaskan!" Tiba – tiba terdengar suara yang tidak asing di telinga Neji dan Hinata.
"Siapa kau?" Tanya Hiasi terkejut.
"Apa kabar Paman? Aku Sasuke Uchiha." Balas Sasuke.
"Aaa, Sasuke lama tidak jumpa." Sahut Hiasi datar.
"Naruto... Hiks," Isak Hinata memandang penuh harap pada Sasuke.
"Lepaskan dia." Perintah Sasuke, menghampiri Hinata.
Para pelayan pun menurut. Bagai terhipnotis, Sakura yang terpesona pada aura yang di pancarkan Sasuke. Hanya diam membisu dengan senyum yang tetap terpatri di wajah cantiknya.
"Kau tidak apa?" Tanya Sasuke lembut, memeriksa keadaan Hinata. Hinata mengangguk lemah, meminta perlindungan pada Sasuke.
"Wow tidak ku sangka, Uchiha yang terkenal itu sungguh menawan." Pikir Sakura tanpa berkedip memandang Sasuke.
"Emm, Sasuke maaf kan Hinata. Dia tidak tahu, apa yang dia lakuhkan," Kata Ayah Hinata ragu.
"Tidak apa paman, aku sudah tau semua." Ungkap Sasuke.
Ayah Hinata menatap tajam pada Neji, meminta penjelasan padanya.
"Paman, jangan kirim Hinata pergi." Pinta Sasuke.
"Tidak bisa, aku hanya ingin Hinata cepat pulih Sasuke. Apa salah, bila seorang Ayah berharap seperti itu?"
"Hinata tidak sakit. Dia hanya belum bisa menerima." Protes Sasuke tidak trima.
"Tapi tadi pagi dia menyerang kakaknya sendiri, apa itu wajar?" Tanya Hiasi tidak mau kalah.
Sasuke memandang Hinata memastikan, Hinata hanya menunduk dan menggeleng lemah.
"Mungkin hanya salah paham, aku yakin Hinata tidak sengaja." Jawab Sasuke masih bersikeras.
"Lalu bagaimana, jika hal itu terjadi lagi hah? 2 hari lagi, Paman dan Neji akan kembali ke Suna. Lalu, siapa yang akan menjaga Hinata?" Tanya Hiasi mulai kesal dengan sifat keras kepala Sasuke.
"Ada aku, dan aku akan bertanggung jawab. Aku akan menjaga Hinata dan memastikan dia baik – baik saja." Jawab Sasuke enteng.
"Siapa kau, bisa bicara seperti itu keh? Aku memang bersahabat dengan Ayahmu, tetapi kau tetap bukan siapa – siapa. Jadi, kenapa aku harus percaya padamu?" Tolak Hiasi tegas.
"Karena aku mencintai Hinata, dan aku akan melindunginya! Bahkan, aku siap menikah dengannya sekarang juga!" Celetuk Sasuke.
"Apa kau sudah gila keh!" Bentak Neji dan Ayah Hinata bersamaan.
"Hn"
"Sasuke!" Geram Neji.
"Akh, aku merasa sudah gila..." Desis Sakura tidak percaya.
"Kau kira aku akan menyerahkan putri kesayanganku begitu saja keh? Jangan main – main denganku! Aku akan menghabisimu bila berani mempermainkan putriku! Walaupun itu, putra sahabatku sendiri!" Cerca Hiasi.
"Hn, lakuhkan saja," Balas Sasuke menyeringai.
"Kurang ajar kau!" Bentak Hiasi terpancing emosi.
Sasuke segera menggandeng Hinata pergi, berlari dari amukan Hiasi dan Neji. Para pelayan dan Sakura masih membatu tidak percaya.
"Kenapa kalian diam saja! Tangkap mereka!" Teriak Hiasi sambil berlari mengejar Sasuke dan Hinata.
"Hinata, kau baik – baik saja?" Tanya Sasuke sambil berlari beriringan dengan Hinata.
"I-iya.."
"Berlarilah lebih kencang, percaya padaku!" Kata Sasuke menyeringai.
Entah kenapa hal ini membuat jantung Sasuke berdekup kencang, dia merasa bebas dan bahagia. Dia merasa pernah merasakan hal ini, saat pertandingan basket bersama Naruto. Dimana dia, harus memasukan bola di range sebagai penentuan hidup dan mati tim mereka.
"Aku percaya padamu, Naruto." Kata Hinata berlari semakin kencang, dia tertawa. Mendengar ucapan dan tawa Hinata, Sasuke teringat pertandingan terakhirnya bersama Naruto.
'Aku percaya padamu, Sasuke.' Teriak Naruto mantab, memberi kepercayaan diri pada Sasuke.
Setelah melewati berbagai penghalang, Sasuke berhasil membawa Hinata pergi dengan mobilnya.
"Hhaha... Ini menyenangkan sekali." Celetuk Sasuke, mengendarai mobilnya dengan lebih santai.
Hinata hanya tersenyum senang memandang Sasuke tertawa lepas.
"Kau baik – baik saja?" Tanya Sasuke.
"I-iya... aku selalu lebih baik bila melihatmu." Jawab Hinata sambil tertunduk malu.
"Hinata,"
"Y-ya..?"
"Menikahlah denganku.."
"..."
TBC
thanks udah read, jangan lupa kritik dan sarannya ya. apa fic ini layak di konsumsi atau tidak, hehe salam...
