Waktu berlalu begitu cepat, ini sudah nyaris 6 bulan Jongin pergi dan tidak pernah pulang lagi ke rumah.
Semuanya masih mencari, baik keluarga ibu dan juga ayahnya. Satu yang membuat Yifan terasa hampa, adalah saat melihat Chanyeol terus membungkam meskipun Yifan kerap kali mengajaknya untuk bicara.
Kyungsoo bilang, Yifan harus berhenti untuk meminta kakaknya berbicara. Karena meski dipaksa sekalipun, Chanyeol itu akan keras kepala dan tetap pada pendiriannya. Jelas Kyungsoo tahu, karena ia sendiri pun juga begitu.
"Bagaimana kabar terakhir keponakanmu, Soo" tanya Kim Yuri, pada putra bungsunya itu.
Dia bahkan sudah tidak mengharapkan suaminya lagi.
Kim Kangin terlalu sibuk berbisnis, hingga nyaris tak lagi ingat jika sudah memiliki keluarga (bahkan juga cucu).
Kyungsoo ingin jujur.
Namun lidahnya terasa kelu, seorang dokter seperti dirinya itu memang jarang sekali berbicara. Apalagi sifatnya yang introvert membuat banyak orang kesulitan untuk mengobrol dengannya. Mungkin hanya Chanyeol. Ya, hanya kakak nya saja yang bisa membuatnya tertawa dan memaki bar-bar saat ABG dulu.
"Tuan Wu sedang mengusahakannya, Bu. Ibu tenang saja, Jongin pasti ketemu" Ujar Kyungsoo, berusaha meyakinkan ibunya.
Yuri menggigit bibir bawahnya.
Harap-harap cemas menanti kabar kepulangan cucu semata wayangnya itu. Dia memang tak pernah bertemu dengan Jongin, tapi Kyungsoo pernah. Putranya bilang, keponakannya itu sangat manis dan begitu polos. Mirip Chanyeol saat remaja dulu.
Siapa sangka?
Jika Kyungsoo masih terus mengunjungi kakak sulungnya, meskipun Chanyeol sudah terusir dari rumah itu. Bahkan yang pertama kali tahu Chanyeol kehilangan buah hatinya saja adalah Kyungsoo. Bukannya benci pada orangtua, namun Chanyeol masih terlalu takut pada orangtuanya itu.
"dia pasti pulang" Kyungsoo selalu optimis.
.
.
.
.
"kau tenang saja, Junmyeon-ssi. Aku tidak akan pernah meminta Yifan untuk bertanggung jawab pada kami. Aku hanya mau ia membantu ku mencari putraku, dan mungkin saja jika ia juga menganggap Jongin adalah putranya" Kata Chanyeol.
Junmyeon sebelumnya meminta Chanyeol untuk menemuinya di sebuah cafe dimana pertama kali mereka bertemu.
Untuk pertama kalinya Chanyeol memutuskan pergi seorang diri tanpa ditemani Paman Kang dan juga Kyungsoo, adiknya yang dokter itu.
"Aku mencintainya, aku tak mau kehilangannya. Sungguh, aku tidak mau kehilangan suamiku" kedua matanya berkaca-kaca.
Sejak kehadiran Chanyeol, serta fakta Yifan sudah memiliki seorang putra dari namja itu. Sedikit banyak membuat Junmyeon khawatir jika nantinya ia tersisihkan. Fakta lainnya yang masih berputar-putar di kepalanya adalah Yifan yang mungkin saja masih memendam rasa cintanya pada Chanyeol.
"Aku tidak sejahat itu untuk merebutnya" kata Chanyeol. "lagipula tanpa Yifan, aku bisa mengurus putraku sendiri. Aku hanya ingin dia membantu ku mencari putranya. Jika nantinya dia ingin bertanggung jawab itu keputusannya. Dan aku tidak akan pernah melarangnya"
Junmyeon tercengang mendengarnya. Yifan sudah mengatakan keinginannya untuk membantu Chanyeol merawat Jongin. Yifan mengakui jika ia merasa sangat bersalah jika untuk kedua kalinya ia kehilangan kesempatan mengasuh putranya bersama Chanyeol.
"kau jangan merasa tersisih, aku bahkan sudah melupakan masa lalu kami. Yang ku mau hanya Jongin, putraku kembali"
"dia pasti akan lebih memilih kalian dibandingkan aku" Junmyeon berkata lirih. "Aku divonis tidak bisa punya anak lagi sejak keguguran, dan sebagai seorang pewaris laki-laki Yifan pasti menginginkan seorang anak. Aku tahu itu, dan hanya kau yang bisa memberikannya anak, bukan diriku"
Chanyeol tertawa kecut, "Picik sekali jika kau berpikir demikian. Tanpa kau sadari kau telah mengatakan jika nantinya kita adalah rival"
Sialnya Junmyeon memang sedang merasa tersisihkan. Dan rasanya memang menyakitkan, apalagi jika setiap hari mendengar keluh kesah Yifan tentang putranya yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
"dia mencintai mu"
Chanyeol membulatkan kedua matanya.
"dia selalu memikirkan cara untuk kembali padamu. Hanya itu yang ia pikirkan. Apa aku namja picik? Jika nantinya ketakutanku akan terjadi, apa aku masih bisa dikatakan picik?"
"jika kau takut, kau bisa memaksanya untuk berhenti memikirkan kami. Soal Jongin, aku bisa meminta bantuan pada yang lain"
Wu Junmyeon tersentak, tidak, Chanyeol tidak boleh memaksa mereka untuk berhenti memikirkan Jongin. Meskipun belum pernah bertemu dengan namja itu, entah mengapa Junmyeon merasakan kasih sayang yang cukup besar pada putra tirinya itu.
...
Jongin's POV
Ia sudah memasukan segala hal yang nantinya ku butuhkan saat di Seoul nanti. Wajah tampannya terlihat lelah, ini sudah 6 bulan lamanya aku bersama Tuan Oh. Dia masih sama, wajah angkuhnya, dan juga senyum tipis yan penuh wibawa.
"aku akan pergi" aku berkata, berbohong. Karena sebenarnya aku tidak pernah mau pergi dari rumah ini. Rumah yang telah menampung ku selama Tuan Oh membawa ku ke North Carolina. Kau tidak akan pernah percaya, jika namja dewasa ini benar-benar membawa ku pergi jauh dari desa kelahiranku, di Busan.
"Ya, kau akan pergi" dia menimpali. Nadanya terdengar serak bercampur sendu. Aku akan pergi, dengan paman Luhan dan bibi Jessica yang mengantar ku. Sementara Tuan Oh akan menetap di sini dalam jangka waktu yang lama.
Mustahil jika aku mengatakan tidak menginginkan hal ini. 6 bulan lamanya aku menunggu, sampai hari dimana seseorang yang mengaku sebagai paman ku menghubungi paman Luhan untuk segera membawa ku pulang.
"apa Tuan akan benar-benar melupakan aku?" Tanyaku. Aku tidak mau jika ia benar-benar melupakan semua hal yang sering kami lakukan di sini. Bahkan jika ia memaksa ku pun aku tetap tidak mau.
"bersiaplah, Luhan hyung akan segera tiba ke sini" acuhnya.
"jawab, Tuan Oh!" pintaku, mulai memaksa.
"kau hanya anak-anak, kau bahkan tidak tahu jika apa yang ku lakukan padamu ini adalah kejahatan" Tuan Oh melenggangkan kedua kakinya keluar dari kamar ini.
"TIDAK!" seruku, menahan pergelangan tangannya.
"kau tidak bisa melakukan ini padaku!" aku ingin menamparnya, namun di satu sisi aku juga ingin memeluknya, mengecup bibirnya, kemudian memintanya untuk tidak melupakan kebersamaan kami selama 6 bulan terakhir.
"Jongin" Tuan Oh berkata—Untuk terakhir kali dari ribuan kalinya ia memanggil namaku. Namun baru kali ini matanya menatap sendu padaku.
"Please"
Aku mulai merasakannya..
Degup jantung dan perasaan berdesir saat pertama kali ia memperlakukan ku dengan sangat lembut.
"kau tidak harus melakukan ini jika kau tidak mau" aku berusaha mengatakannya.
Ia menyentuh wajah ku. Membungkam bibir ku dengan bibir tipis nan dinginnya. Aku melenguh dalam ciuman ini, tidak ada nafsu, mungkin Tuan Oh mencoba untuk mengatakan sesuatu lewat ciuman itu. Tapi mungkin ia benar, aku masih terlalu kecil untuk mengerti hal-hal berbau dewasa yang tidak sepantasnya aku rasakan.
"jantung ku berdegup" aku berusaha menatap mata sempitnya yang tajam menatap dalam mataku.
"Aku juga" Sehun berkata, seraya mengusap lembut pipiku. "tetaplah jadi anak manisku, Jongin"
Aku mengangguk.
Seharusnya ia bisa menahan ku, meminta ku untuk tinggal lebih lama lagi meskipun orang rumah memaksa nya untuk mengembalikan aku pada mereka.
Aku mulai panik.
Bagaimana bisa aku meninggalkan Tuan Oh yang jutek, judes, labil, sombong, dingin, angkuh, dan menyebalkan ini? Dia bahkan terlihat murung selama 2 hari ini, sejak Paman Luhan memaksanya untuk memulangkan aku pada keluargaku.
Siapa yang akan merawatnya?
Siapa yang akan mengecup bibirnya saat ia sedang bad mood?
"jangan menatap ku seperti itu, Jongin! Kau hanya akan membuat ku susah"
Aku menggeleng..
"Tuan Oh" Ku peluk erat tubuh tegapnya itu. Ku rasakan pelukan balasan dari kedua tangan kokohnya itu di pinggangku.
"sampaikan maafku pada orangtuamu" bisiknya.
"aku akan menyampaikannya dan memohon pada mereka untuk tidak menghukum mu"
Tuan Oh terkekeh pelan.
"jika nantinya kau pulang, kau punya orang tua yang lengkap. Percayalah! Ayahmu tampan, aku pernah melihatnya"
Aku memukul dada bidangnya pelan.
Bagi ku, namja tampan pertama yang pernah ku lihat adalah dirinya. Terlepas dengan apa yang telah dia perbuat padaku saat pertama kali kami bersinggungan.
.
.
.
.
Aku pulang..
Akhirnya aku pulang ke Korea, bertemu lagi dengan ibuku yang amat sangat aku sayangi. Di bandara mereka sengaja menanti kepulanganku, ada ibu, dan beberapa orang dewasa yang tidak pernah ku lihat sebelumnya.
Ibu bilang ibu merindukan ku, dengan air mata haru yang terus membasahi pipi tirusnya. Inikah ibuku? Pikirku. Ada rasa bersalah saat tahu betapa kurusnya ia.
Apa selama ini ibu selalu memikirkan aku? Hingga lupa untuk memberi makan cacing-cacing di perutnya yang kelaparan itu? Bagaimana bisa aku sempat tidak mau pulang ke rumah, begitu melihat betapa hancurnya hati ibu ku ini membuat ku merasa berterimakasih pada Tuan Oh karena ia memperbolehkan Paman Luhan mengembalikan aku padanya.
"Jongin" Ibu memanggil namaku.
Aku memeluk erat tubuh jangkungnya. Matanya yang bulat dan kekanakannya itu selalu bisa membuat ku merasa tenang, dan juga dekapan hangatnya membuat ku selalu terlindungi.
"Ibu, aku rindu" aku merengek. Aku memang hanya anak kecil, benar kata Tuan Oh.
Kemudian namja lainnya mendekati kami. Ia menyentuh bahuku dan menatap ku dengan senyum haru. Wajahnya tampan, rambutnya yang pirang, serta perawakannya yang tidak seperti orang Asia kebanyakan.
"Putraku" katanya, ia membawa ku ke dalam dekapan hangatnya.
Dia ayah ku, pikirku.
Benar kata Tuan Oh, ayah ku sangat tampan. Bahkan nyaris dari apa yang pernah aku bayangkan.
...
'dia ayahmu' ibu bilang begitu.
Kemudian ibu mulai memperkenalkan satu persatu dari mereka. Mulai dari paman Kyungsoo, Nenek, dan juga kakek, serta seseorang bernama Junmyeon, yang kata ibu adalah istri dari ayahku.
Aku tak mau banyak bertanya, karena ku pikir aku sudah mengerti dengan kondisi keluarga ku. Fakta miris yang membuat ku merasa payah adalah kenyataan dimana aku tahu jika ayah dan ibu tidak pernah mengesahkan pernikahan mereka.
Mungkin ini yang membuat ibu hidup seorang diri. Hanya bersama ku saja selama di Busan. Tapi yang membuat ku bungkam hari ini bukan karena hal itu. Ku rasa akan sangat brengsek jika aku memusuhi ibu ku sendiri sementara aku jarang mengingatnya saat sedang bersama Tuan Oh.
"ini..Ini terlalu berlebihan"
"Tidak, ini tidak berlebihan. Kau adalah putraku, apapun akan ku lakukan untuk mu" Ayah berkata.
Tak perlu ku katakan betapa sangat bahagianya mengetahui sosok figure ayah yang sangat menyayangi ku. Ibu tidak pernah membelikan hadiah mewah seperti ini, bukannya membandingkan, sebuah mobil itu tidak ku perlukan saat di Busan. Ibu hanya pegawai honorer, rasanya sangat jahat jika aku memaksa ibu membeli hadiah mahal untuk ku.
"Ayah tak perlu melakukannya, tapi aku suka hadiah ini"
kemudian ayah memeluk ku canggung.
Well, aku paham. Karena sesungguhnya ayah juga masih belum percaya jika dia seorang ayah sekarang. Ibu bilang di pernikahan ayah dan paman Junmyeon, keduanya belum dikaruniai anak. Jadi ibu tidak mau egois untuk melarang ayah ku yang juga ingin mengasuh ku.
"Kenapa? Memangnya kau tidak mau ayah membelikanmu mobil?"
"aku tidak bisa mengemudi, yah" jawabku. Ayah tertawa, dia bilang dia akan mengajari ku mengemudi mobil.
...
"Apa kau sudah siap bercerita?" Seorang Psikolog bertanya pada ku.
Aku tidak tahu mengapa paman Junmyeon dan ayah ku membawa ku kemari.
"Siap untuk apa?" tanya ku.
Tiga orang dewasa ini saling bertatapan. Ayah maju mendekati ku, "ibu mu bilang kau jadi jarang bicara, kami takut penculikan ini membuat mu trauma" kata ayah. Aku mulai tidak suka, bukan hanya sekali dua kali mereka bertanya siapa yang menculik ku.
Aku tidak akan menjawabnya.
Ku pikir itu tidak perlu, karena aku sudah kembali pada mereka. Ibu juga sudah tidak pernah menanyakan hal ini lagi, ku pikir ayah sama, tapi ternyata tidak. Aku benci sekali jika dipaksa seperti ini.
"sungguh, Jongin.. Ayah hanya ingin tahu siapa yang telah menculik mu"
"untuk apa?" tanya ku, menatap tajam ke arah mereka. "Apa ayah akan memenjarakannya? Ayah tak perlu melakukannya, aku selamat, dan tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi"
"Jongin, kami hanya ingin kau baik-baik saja, nak" paman Junmyeon berkata lembut.
"NO! I don't want this bullsht" Aku nyaris memekik keras.
Well, bahasa inggris ku sudah agak lebih baik karena Tuan Oh selalu mengajak ku untuk berbicara dalam bahasa inggris selama aku berada di North Carolina.
.
.
.
.
Aku tak lagi bersekolah di sekolah formal setelah kejadian 6 bulan lalu. Mungkin orangtua ku terlalu takut jika harus kehilangan diri ku lagi. Terutama ibuku, yang sempat drop saat mengetahui aku diculik oleh orang asing saat pulang sekolah.
Semasa di sekolah formal, aku memiliki dua orang teman yang ku tinggalkan di Busan sana. Aku merindukan teman ku, ibu bilang kita tidak akan kembali lagi ke Busan karena mulai sekarang disinilah rumah ku.
"sebenarnya aku tidak apa-apa jika pergi ke sekolah sendiri"
Ibu menoleh, "ibu tidak akan membiarkan mu pergi sendirian lagi, tidak lagi, sayang"
Aku yakin, ibu pasti mengira si penculik masih berkeliaran bebas di Busan.
"Jika itu mau ibu aku akan melakukannya" Aku memeluk manja pinggang ibu.
"Apa Yifan masih terus bertanya pada mu?"
Aku mengangguk.
"lalu kau jawab apa?"
Aku ber'hm' pelan. Ibu sama keponya seperti ayah. Kalau sedang berdua saja, kami menyebut ayah ku dengan hanya menggunakan namanya saja. Tidak sopan ya?
"aku bilang aku tidak mau membicarakan ini lagi. Kalau mereka masih nekad bertanya, aku akan mogok bicara" ancam ku.
Ibu tertawa mendengarnya.
"Jongin"
"hm?"
Aku menoleh, ibu terlihat bimbang.
Apa yang terjadi padanya? Bahkan kedua mata dengan tatapan childish itu sedikit bergerak ke kanan dan ke kiri.
"apa kau suka dengan suasana keluarga baru mu? Maksud ibu, keluarga ayah mu?"
"Apa ibu cemburu? Dengan ayah dan istrinya? Apa ibu mencintai ayah?" aku balik bertanya.
Ibu ini tipe yang bicara lain di mulut lain pula di hati.
"mengapa pertanyaan mu itu dewasa sekali sih? Sejak kau kembali kau jadi berubah banyak dari terakhir yang ibu tahu"
"ibu, setiap orang itu pasti berubah seiring waktu berjalan"
"duh, dewasanya anak ibu" mencubit gemas kedua pipiku.
.
.
.
.
TBC
A/N :
Well..thx untuk review nya minna-san..
Maaf kalo ada yang kecewa sama pairing-nya. Sorry, Krisho n Kristao Shippers, Or Chanbaek shippers.. i have to disappoint you..maaf aku benar-benar minta maaf. Karena nyatanya Aku lebih suka Krisyeol dibanding shipper lainnya. Bagi kamu-kamu yang gabisa bayangin gimana Ukenya Chanyeol. Aku minta maaf bgt, sebenarnya aku kurang suka uke yang menye. Jangan sampe ada misscom diantara kita lho ya, readers.
Oh, ada lagi..
'kenapa pilih Hunkai? Gak takut di-bashing sama HH shipers?' Gak, ya..puji Tuhan banget selama nyaris seminggu aku nulis beluman ada bashing. Apalagi aku sempat liat ff yang judulnya sama dengan pairing HH. ku pikir, ngapain takut? Aku kan udah nulis HK Ver. Jadi kalo ada yg ngebash ya aku cuekin aja. Kalo masih tetap nekad baca ya itu mah hak mereka. Lol, aku gak mau ngabisin wkt buat berdebat sama org-org bodoh yang gak ngerti WARNING
'Typo masih bertebaran' maaf senior..aku gabisa sesempurna penulis best seller, jadi maklumin aja. Nanti aku betulin lagi cara penulisanku. Thx bgt atas perhatiannya:*
'ini sebenarnya konteks ceritanya apa sih? Fantasy atau apa?' Menurut lo apa? *Peace. Kayaknya juga byk ya Judul dan tema cerita yang gak selaras sama konteks ceritanya. Aku sering nemuin itu. Bahkan gak Cuma di FF, di Novel pun juga banyak. (Psst, kebetulan aku pecinta novel Fantasy). Sebuah cerita gak akan seru ya kalo gak ada cinta-cintaannya.
'kenapa Chanyeol ninggalin Kris? Atau Kris yang gak tau kalo Chanyeol hamil, selama ini dia kemana aja" Well, aku Cuma mau fokus ke Sehun dan Jongin dulu. Soal Krisyeol nya itu kan Cuma masa lalu *lol. Kalo dibaca dan diperhatiin baik-baik pasti kalian tahu kenapa alasan keduanya gak bersama, dan kris yg sama sekali gatau kalo Chanyeol itu hamil.
'Kenapa Luhan ngasih tau Kyungsoo kalo Hun nyulik nini?' ada something di sini, Luhan kan diam2 mengawasi org-org disekitar Jongin. Termasuk Kyungsoo yang masih sering mencari tahu keberadaan Jongin. Jadi karena Luhan sebenarnya gak tega sama keluarga Jongin, akhirnya Luhan ngasih tau Kyungsoo kalo Jongin itu ada di tempat yang aman. Kyungsoo percaya, karena Luhan ngasih buktinya sendiri ke Kyungsoo. Terlebih memang ada something diantara mereka *Lol
.
.
.
Review?
