My Rival is My Love? WTH?!
Genre : Romence, drama
Rated : Hmm.. T+ (?)
Pairing : SasufemNaru, ...xfemNaru, Sasux...
Warning : EYD ancur bin amburadul, Typo(s), Gender-bender, FemNaru!
Sasuke kehilangan Naruto, ahh semua ini salah Kiba, jika saja anak anjing itu tak membahas hal itu, semua ini tak akan terjadi, "Shika kau lihat Naruto?" Tanya Sasuke saat melihat sahabatnya itu tengah berjalan bersama Temari,
"Kau membuatnya marah lagi, benar?" Tak ada jawaban karena memang tak penting untuk dijawab, dia ini bertanya kenapa malah balik tanya?!
"Dia tadi berlari menuju taman belakang, kebetulan tadi kami makan disana dan melihat Naru," jawab Temari,
Tanpa berterima kasih Sasuke langsung melesat menuju taman belakang. Namun terlambat, Naruto sudah pergi dari sekolah dengan cara memanjat tembok, entah bagaimana caranya.
"Kuso!" Sasuke menendang batu yang ada disana.
Disisi lain, Naruto berlari tak tahu mau kemana, kediaman Namikaze? Mustahil sudah pasti tak ada orang, ke rumah Hinata? Mustahil karena Hinata sedang sekolah, ahh bagaimana ke panti tempat yang dulu Iruka-san tinggal? Dia masih ingat, saat itu umurnya kalau tak salah 7 tahun, dia dibawa orangtuanya untuk melihat panti, dan mengadopsi satu anak yaitu Iruka-san agar dia selalu ada yang menemani. Jika diingat-ingat saat itu Iruka-san harus pergi dari panti karena dia sudah lulus SMA, lalu ayahnya mengajak Iruka-san tinggal bersama, saat itu dia senang sekali. Tunggu, jika Ayahnya mengadopsi Iruka-san untuk menemaninya kenapa malah sekarang Iruka-san dibawa ke Inggris? Ahh pasti semua gara-gara Ibunya, dia yakin itu, Menyebalkan.
"Naru? Ahh benar? Kau puteri dari Tuan Minato,"
"Konichiwa Ayame-san," sapa Naruto, ternyata sudah sampai di depan panti, tak terasa juga.
"Tak sekolah? Kau bolos Naru?" Tanya Ayame, Naruto hanya tersenyum kaku.
"Ehehe aku pulang duluan," jawab Naruto.
Ayame menggelengkan kepalanya, "Kau itu. Ayo masuklah, kau sudah jarang main kesini, anak-anak pasti senang melihatmu," ajak Ayame diikuti Naruto.
Sasuke akhirnya pulang ke apartemennya, awalnya dia akan kabur seperti yang dilakukan Naruto menaiki tembok, namun tertangkap oleh Guru yang sedang berkeliling, terpaksa dia mengikuti pelajaran sampai akhir, tas Naruto yang ditinggalpun dia bawa sekarang.
"Tadaima..."
Sasuke sudah menduga, Naruto pasti pergi kesuatu tempat, dia akan menunggu kepulangan gadis itu, hmm... mungkin untuk meminta maaf? Tapi dia rasa dia tak melakukan kesalahan apapun.
"Bekalnya masih bagus," gumam Sasuke melihat isi kotak bekal, tadi Kiba memberikannya, katanya Naruto yang menjatuhkan bekal ini.
'Untuk teme, lihat bento buatanku khusus untukmu, ini sebagai rasa terimakasih karena telah merawatku, Arigatou'
Bahkan ada catatan didalamnya, Sasuke tersenyum kecil, mengambil potongan telur yang disana, "Enak,"
Jika saja tadi Naruto tak mendengar percakapannya, mungkin mereka tadi siang makan bersama diatap.
"Hah..." Sasuke menghela nafas,
Sasuke melirik jam dinding, sudah jam 9 malam dan Naruto belum pulang, "Ck, dia benar-benar marah," ujar Sasuke mulai merasa khawatir.
Dia menyambar handphonenya dan mencari kontak temannya, "Moshi-moshi, Shika coba tanyakan pada Temari apa Naruto bersamanya?"
'Tidak, Temari sedang bersamaku.'
Sasuke menutup teleponnya, mencari kontak lain lagi, "Kiba tanyakan pada Hinata apa Naruto bersamanya?
'Memangnya aku ini apanya Hinata sampai harus menghubunginya?'
"Semua salahmu karena bermulut ember bodoh. Cepat tanyakan aku tunggu," Sasuke menutup panggilannya kasar, masih kesal juga pada si pecinta anjing itu,
'Hinata bilang dia tak bertemu Naruto setelah jam istirahat.'
Sasuke mengela nafas melihat email dari Kiba,
dia kemudian mengambil jaketnya, dia akan mencari Naruto, "Lebih baik jalan kaki saja, cuaca juga cerah," gumam Sasuke menyimpan kembali kunci motornya,
Sasuke berjalan menuju taman, biasanya seorang gadis jika sedih pasti ketempat yang seperti ini bukan? Ahh tapi Naruto bukan gadis kebanyakan, gadis itu lebih memilih berlatih karate daripada belanja, jarang sekali bermakeup, saat gadis remaja seumurannya direpotkan dengan diet, Naruto dengan tenangnya makan ramen bahkan bisa habis 5 mangkok, Naruto memang berbeda, dia gadis limited edition.
Tik. Tik. Crash.
Sasuke mendecak kesal, bodohnya dia percaya ramalan cuaca, cerah darimana? yang ada sekarang hujan deras dan dia harus berteduh di halte yang tak jauh darisana.
Drrt. Drrt.
'Teme aku pulang agak larut ya, anak-anak panti tidak mau aku pulang, aku akan menunggu mereka tidur dan pulang, maaf ya.'
'Kenapa baru bilang sekarang dobe?! Aku khawatir bodoh!' batin Sasuke kesal,
'Hn.' Itu balasan yang dikirim Sasuke.
"Hujan seperti ini pasti akan lama, lebih baik aku langsung pulang saja." gumam Sasuke berlari menuju apartemennya yang cukup jauh.
"Aduh maaf ya Naru menyusahkanmu, sampai harus pulang larut seperti ini," ujar Ayame tak enak,
"Tak apa Ayame-san, aku pulang dulu." pamit Naruto.
'Sudah jam setengah 10 malam, anak-anak itu tidurnya larut sekali,' Naruto menghela nafas, untung saja hujannya sudah reda.
"Tadaima..." tak ada jawaban, mungkin Sasuke sudah tidur pikir Naruto.
"Oh Sasuke, kau belum tidur," sapa Naruto melihat Sasuke tengah menonton televisi.
"Hn." Sasuke mematikan televisi dan langsung masuk kamar untuk tidur, meninggalkan Naruto yang bingung. Kenapa Sasuke terlihat marah? Dia yang harusnya marah disini bukan?
Pagi harinya Naruto sudah menyiapkan sarapan, namun sudah jam 7 pagi Sasuke belum keluar dari kamar, mungkinkah Sasuke ketiduran? Sepertinya dia harus membangunkan Sasuke jika tak mau terlambat.
"Teme, kau sudah bangun? Ini sudah jam 7 pagi, kau bisa terlambat," Naruto mengetuk pintu Sasuke namun tak ada jawaban, jangan-jangan sudah berangkat lebih dulu? Tapi kunci motornya masih tergeletak diatas meja,
"Teme, bangunlah. Ehh pintunya terbuka?" gumam Naruto mendorong pintu mencoba masuk.
"Ya Tuhan teme kau baik-baik saja?" Naruto menghampiri Sasuke yang tertidur atau mungkin pingsan dekat kasur.
"Badannya panas, kau sakit Sasuke," ujar Naruto saat memegang dahi Sasuke, dia perlahan membawa Naruto ke ranjang Sasuke.
Setelah menidurkan Sasuke Naruto menuju dapur mengambil air yang dicampur es batu untuk dikompreskan pada Sasuke.
"Harusnya kau coba berteriak memanggilku, kau itu sakit, lihat suhumu 38° Celcius." ujar Naruto saat melihat termometer ditangannya,
"Dingin..." gumam Sasuke,
Naruto dengan telaten mengopres dahi Sasuke, pemuda itu sepertinya benar-benar tak berdaya saat sakit,
"Hmm, aku akan buatkan bubur, kau tenang saja aku tak akan sekolah aku takut demammu tambah parah," Ujar Naruto meninggalkan Sasuke, dia mengirim email pada Shikamaru bahwa Sasuke sakit dan dia harus menjaganya.
"Iya Bibi. Sasuke sakit, tapi tenang saja aku akan panggilkan Dokter keluargaku,"
'Maaf merepotkanmu Naru. Dia tidak suka Dokter, jadi kau beri saja obat penurun panas ya, dan temani dia, saat sakit dia sedikit manja, kadang juga mengigau. Dia juga jarang sekali makan-makanan sehat, hanya minum jus tomat, anak itu keras kepala. Bibi titip Sasu ya Naru.'
"Ha'i, sudah dulu ya Bi, aku mau membuat bubur dulu,"
Naruto menutup teleponnya, mengabari jika Sasuke sakit pada Ibunya si teme,
"Teme bangun dulu ya, kau harus makan." Naruto membantu Sasuke agar bisa duduk.
"Ayo buka mulutmu, Aaaa..." tanpa protes Saauke membuka mulutnya memakan bubur buatan Naruto.
"Setelah selesai kau minum obat dan istirahat, jangan sampai suhu tubuhmu kembali naik,"
"Maaf," gumam Sasuke,
"Kenapa harus minta maaf? kau tak memiliki kesalahan apapun teme," ujar Naruto,
"Tapi karena aku, kencanmu..."
"Sudahlah jangan dibahas lagi, aku juga bersalah karena sudah berbohong,"
Dia memang sudah tak marah lagi, serius. Karena dia juga berbohong saat itu, dia berbohong akan latihan namun malah kencan.
"Nah ini obatmu, cepat minum jika butuh apa-apa panggil saja, kita ini tinggal bersama harus menjaga satu sama lain."
Sasuke menurut saja, perlukah dia bersyukur? karena sakit Naruto sangat baik padanya,
Siangnya Kiba dan Shikamaru datang berkunjung, bermaksud melihat keadaan Sasuke,
"Sasuke baru saja tidur, kalian mau minum apa?"
"Kami bisa mengambilnya sendiri. Apa kau tahu kenapa Sasuke bisa sakit?" Tanya Shikamaru, Naruto menggeleng.
"Ingat bukan kemarin malam hujan? sepertinya saat mencarimu Sasuke kehujanan."
"Mencariku?" beo Naruto.
"Ya, dia bahkan menyuruhku menanyakan pada Hinata tentang keberadaanmu," ujar Kiba.
"Meski Sasuke terlihat tak peduli dia orang yang baik Naru, dan saat kau kencan dia mengikutimu karena khawatir, kau berbohong padanya," Naruto mengangguk mendengar perkataan Shikamaru, dia juga bersalah.
"Aku tahu aku juga salah, dan sekarang karena kemarahanku yang sesaat Sasuke sakit," ujar Naruto penuh penyesalan,
Shikamaru tersenyum, Sasuke harus berterima kasih padanya, lihat dia membuat Sasuke terlihat seperti pemuda baik hati, hmm apa ya yang akan dia minta pada Sasuke? Mungkin meminta 2 buah tiket Disney land untuk kencannya bersama Temari, ahh jangan lupa juga minta Sasuke membayar semua biaya kencannya, sepertinya itu bukan ide yang buruk.
"Oii Shika bukankah kita mau pulang?" ajak Kiba,
"Oh kau benar. Naru kami akan pulang, tolong rawat Sasuke ya," Shikamaru dan Kiba keluar dari apartemen Sasuke.
Naruto membuka sedikit pintu Sasuke, dia masih tidur, wajah Sasuke terlihat begitu polos, sangat lucu, membuatnya terkikik.
"Hiks... hiks..." Naruto melongo, Sasuke menangis? Si teme yang menyebalkan itu?! Dia pasti bermimpi, dia menggeleng lebih baik dia beres-beres, dapur sudah pasti berantakan karena tadi dia belum sempat beres-beres, dia terlalu khawatir meninggalkan Sasuke, tapi sekarang Sasuke sedang tidur jadi dia akan menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya.
"Masak apa ya untuk makan malam nanti? sup tomatkah? Ahh pudding juga, tapi dia tak suka manis, hmm bagaimana kalau pudding ekstra tomat? Apa ya..." gumam Naruto sambil tetap mencuci peralatan dapur memilih menu yang akan dia buat
Teng. Tong.
Suara bel, mungkinkah Shikamaru dan Kiba kembali lagi karena ada yang tertinggal?
"Geh... Hinata dan Temari-senpai?" ujar Naruto melihat dari lubang dipintu.
"Eh Hinata, Senpai. Masuklah, ada apa ini tanpa pemberitahuan," sambut Naruto mempersilahkan Mereka masuk,
"Kau tak sekolah, kami khawatir terlebih saat Kiba-kun semalam bertanya keberadaanmu, dan aku dengar dari Temari-senpai kau sepertinya bertengkar dengan Sasuke.l, meski sudah biasan, namun menurut Senpai pertengkaran kalian munvkin cukup hebat sampai kau kabur," Jelas Hinata setelah ketiganya duduk.
"Ehehe gomen, gomen. Aku baik-baik saja, mau minum apa?" Tanya Naruto,
"Hah dasar, tak usah. Kami disini hanya ingin melihat kondisimu, aku mengira lukamu sakit lagi," ujar Temari.
"Lukaku sudah sembuh kok, tak perlu khawatir,"
"Lalu kenapa kemarin kau pulang lebih dulu, atau bisa aku bilang kabur? Apa yang Sasuke katakan sampai kau bisa marah seperti itu?" Tanya Hinata mengintrogasi, wajahnya terlihat sangat penasaran.
"Kau ingat waktu itu kita double date bukan? Ternyata Sasuke mengikutiku dan dia juga yang mengagalkan kencanku, jadi aku marah. Tapi Sasuke tak bersalah sepenuhnya karena aku juga berbohong padanya," jawab Naruto,
Hinata dan Temari mengerenyitkan dahi, makin tak mengerti, "Naru, kenapa kau berbohong pada Sasuke? Ahh lebih tepatnya apa maksudmi berkata seolah kau berbicara dengan Sasuke tentang aktiftiasmu? Itu aneh Naru, maksudku kau dan Sasuke rival tak mungkin berbicara seolah teman, mustahil, mutahil." Ujar Temari,
Naruto keringat dingin, dia salah ucap lagi!
Prang.
Ketiganya terkejut, terlebih Naruto yang langsung berlari menuju kamar Sasuke, khawtir.
"Ya ampun, sudah aku bilang jika butuh sesuatu panggil aku saja. Kita tinggal bersama, setidaknya kita saling menjaga." Naruto menghampiri Sasuke yang mencoba meraih gelas namun malah terjatuh,
"Na-naru..." suara Hinata dari arah belakang, Oh tamat sudah riwayatnya,
"Bisakah kalian tunggu diruang tamu, aku akan menjelaskannya nanti," pinta Naruto setengah memelas.
"Kau mau minum? Aku akan mengambilkan setelah membereskan pecahan ini. Kumohon Sasuke jika butuh sesuatu kau bisa memanggilku, jangan keras kepala," ujar Naruto sambil membereskan pecahan gelas, dan membawa gelas baru untuk minum Sasuke.
"Aku mau menjelaskan pada keduanya,"
"Maaf,"
Naruto tersenyum, dan menutup pintu kamar Sasuke.
"Tidak bisa dipercaya, kalian tinggal bersama hampir 1 bulan?! Apa yang sebenarnya orangtuamu fikirkan Naru?! Sasuke itu seorang pria," ujar Temari berkacak pinggang setelah mendengarkan penjelasan Naruto, sedangkan Naruto hanya duduk sambil menunduk mendengarkan ceramah kedua sahabatnya.
"Aku juga mengatakan hal yang sama pada Ibu. Tapi dia tak dengar, dia malah dengan entengnya jika Sasuke kehilangan kendali dan menyerangku tinggal dinikahkan saja," cicit Naruto,
Temari menepuk jidatnya, apa yang difikirkan Bibi Kushina sebenarnya?! Kenapa Naruto tak dikirim ke apartemennya, bagaimanapun dia itu masih terikat keluarga dengan Naruto, lebih tepatnya sepupu.
"Kau akan tinggal bersamaku atau Temari-senpai," putus Hinata tegas, gadia pemalu nan pendiam itu berubah karakter jika berhubungan dengan sahabatnya.
"Ta-tapi Sasuke sakit karena ulahku, aku juga percaya Sasuke tak akan macam-macam. Selama ini kami memang bertengkar tapi aku tahu Sasuke baik, meski menyebalkan, dia juga mengkhawatirkanku,"
Keduanya cengo mendengar penuturan Naruto. Mereka tak salah dengarkan? Kenapa Naruto sangat peduli pada pemuda minim ekspresi itu?! Dan tak tahukah Naruto bahwa Sasuke itu menyukainya?! Kenapa gadis itu polos sekali?!
"Naru, kau yakin? Aku bisa telepon Bibi jika kau mau tinggal bersamaku," tanya Temari.
"Tentu, lagipula jika tak ada aku Sasuke terkadang tak makan dengan benar, Bibi Mikoto juga menitipkan Sasuke padaku, kami saling menjaga satu sama lain. Dia juga yang selama ini merawatku saat aku sakit,"
Oke Temari semakin pusing sekarang. Apa-apaan senyum Naruto itu?! Yang dia tahu Naruto itu menyukai Neji dan hanya menatap Neji. Kenapa sekarang rasanya Naruto lebih perhatian pada Sasuke?!
"Naru..."
"Ya?"
"Tidak, tidak apa-apa," ujar Temari, tak mungkinkan Naruto jatuh cinta pada Sasuke? Tapi itu mungkin saja, dan gadis itu tak menyadarinya, karena yang Kita bicarakan disini adalah Naruto, lalu mau dikemanakan Neji?
"Kami akan pulang ini sudah sore, namun jika kau berubah fikiran kau bisa ke tempatku," pamit Temari.
"Atau ke tempatku, Ayah juga pasti akan senang," tawar Hinata.
"Ya. Terima kasih atas tawarannya, hati-hati dan tolong rahasiakan hal ini dari yang lain, yang tahu hal ini hanya kalian, Shika dan Kiba."
Temari dan Hinatapun pamit, keluar dari apartemen miliki Sasuke.
"Ahh... aku belum membuat makan malam,"
"Aku buatkan sup tomat, dan ini pudding, setelah makan minum obat dan istirahat lagi," ujar Naruto membawa nampan dia duduk disamping Sasuke untuk menyuapi pemuda itu.
"Kau akan tinggal bersama Temari? Maaf aku mendengarkan pembicaraan kalian, suara Temari tadi cukup keras,"
"Aku tak akan tinggal bersama senpai, dan juga Sasuke hari ini kau banyak sekali meminta maaf," Naruto terkikik geli.
"Biar aku makan sendiri, kau belum makan juga bukan? Makanlah, aku sudah baikan,"
"Baiklah, kau tahu Sasuke, jika seperti ini kau terlihat manis," Naruto menyimpan nampannya dipangkuan Sasuke dan mencubit kedua pipi Sasuke seolah gemas, tak sadar tindakannya membuat Sasuke salah tingkah,
"Sudah pergilah," usir Sasuke.
"Ha'i Ha'i. Panggil aku jika butuh sesuatu,"
"Sasuke waktunya makan obat, tuhkan kau itu jangan sok kuat, lihat bahkan menyimpan nampan saja susah," Naruto membantu Sasuke menyimpan nampan,
"Sasuke, kau harus banyak istirahat, demammu naik lagi," Naruto memperlihatkan termometernya pada Sasuke,
"Minum obatnya dan aku akan mengambil kompres,"
Sasuke menatap Naruto yang tidur dikursi samping tempat tidurnya, dia sepertinya kelelahan, menemaninya sampai dia tidur. Kenapa gadis itu selalu saja membuatnya terpesona karena kebaikan dan kepolosannya? Sasuke bangun, dan menggendong Naruto menuju kamar gadis itu. Berkat ketelatenan Naruto demamnya sudah turun.
"Selamat malam dan Terima kasih dobe," bisik Sasuke dan mengecup dahi Naruto singkat sebelum akhirnya meninggalkan kamar gadis itu.
TBC
