SHERLOCK

CHAPTER 3 : "That Boy"

WARNING : mungkin typo, ooc, tapi kalau gaje si pastinya XDD, garing gila yakin-"

CAST : Sungmin, Kyuhyun, dan masih banyak lagi...

GENRE : Romance, Supernatural, Crime, Tragedy, dan masih banyak lagi...

Author POV

Seminggu yang lalu...

Malam ini begitu sunyi, hanya ada gonggongan anjing yang memenuhi sudut kota Tokyo. Angin juga berhembus sangat kencang dan diikuti dengan turunnya salju yang perlahan lahan memenuhi jalanan. Tentunya keadaan ini membuat siapa saja malas untuk keluar rumah.

Namun, tidak untuk seorang namja satu ini. Di tengah dinginnya malam, dia malah memutuskan untuk pergi. Walaupun di sepanjang jalan giginya terus bergemeretak karena kedinginan dia terus saja berjalan.

Pandangan matanya yang tajam menyapu seluruh objek di depannya dengan tatapan penuh amarah. Ingin rasanya ia melampiaskan kemarahannya kepada semuanya yang ada disini.

Namun, dingin lah yang memaksanya untuk terus berjalan. Berjalan sejauh mungkin ia bisa. Bahkan kalau bisa dia ingin pulang. Dia terlalu lelah untuk terus hidup dalam kebohongan. Kebohongan yang membuatnya tersiksa.

Juga dendam. Hatinya dipenuhi dengan dendam. Dendam keluarga yang belum terbalas hingga bertahun tahun lamanya disimpan. Dendam yang telah membutakan mata hatinya.

Hari harinya sebenarnya sangat menyenangkan. Dia terkenal sebagai siswa yang cerdas di sekolah. Wajahnya pun sangat tampan. Postur tubuhnya tinggi dan tegap. Hidungnya yang mancung dan matanya yang bulat tidak seperti orang Korea kebanyakan. Tidak akan ada perempuan yang berani menolaknya karena ketampanannya.

Tapi sepertinya ketampanan tidak membuatnya mendapatkan seseorang yang disukainya. Dia tahu, orang yang disukainya sejak kecil itu hanya menganggapnya adiknya. Tidak lebih.

Cinta yang bertepuk sebelah tangan, dan dendam keluarga yang membuatnya terus seperti ini. Dihantui oleh rasa sakit yang terus menyayati hatinya sedikit demi sedikit.

Ingin rasanya ia marah. Tapi marah kepada siapa? Haruskah ia menyalahkan orang yang disukainya itu? Atau kepada keluarganya? Ataukah pada angin malam yang berhembus kencang menembus tulang tulangnya? Kepada siapa? Bulat bulatan salju yang jatuh dari langit?

Pikirannya kacau sekarang, mengingat betapa sengsaranya ia. Dia tidak akan pernah bisa melupakan semuanya. Dia bisa melupakannya tapi hanya sedetik, dan sedetik kemudian dia akan ingat kembali.

Bulat bulatan salju semakin lama semakin sering berjatuhan. Angin malampun semakin kencang menerpanya. Akhirnya ia memutuskan untuk berhenti sebentar di sebuah restoran kecil di sudut jalan.

Suasana restoran itu begitu sepi dan lengang. Hanya ada seorang lelaki paruh baya yang sedang mabuk di sudut ruangan. Selebihnya hanya ada waitress yang memakai seragam sailor yang dipenuhi renda di roknya.

Dia lalu memutuskan untuk duduk di dekat jendela yang diatasnya ada pemanas ruangan yang sangat dibutuhkannya saat ini. Seorang waitress pun datang dan menawarinya cokelat panas begitu mengetahui dia begitu pucat karena kedinginan.

Dia hanya menggangguk pelan dan kembali menggosok gosokkan kedua tangannya. Pikirannya kembali melayang kepada masalahnya. "Aigo.." bisiknya pelan.

"Silakan diminum." Tiba tiba seorang waitress datang menyerahkan cokelat panas. Dengan segera ia langsung menyeruput cokelatnya pelan pelan. Hawa panas dari cokelat itu dengan cepat masuk merambat pelan pelan ke dalam tubuhnya. Memberi sedikit kehangatan walaupun belum bisa menghangatkan hatinya yang masih saja membeku.

Hanya dengan sekali tegukan cokelat panas itu langsung habis mengaliri tenggorokannya. Sesaat kemudian tubuhnya kembali kedinginan. Namun, dia tampaknya tidak peduli dan malah beranjak dari tempat duduk dan membayar cokelat panasnya.

Dia segera berjalan keluar dan menyetop taksi yang kebetulan lewat. Taksi yang ia tumpangi kali ini sangat payah. Kursinya sudah cukup reot dengan sedikit lubang di kanan kirinya. Kapas kapas pengisi kursinya dapat dilihat jelas dengan sekali melihat. Di dalamnya juga tidak ada pemanas ruangan. Dia mengumpat pelan dalam hatinya mengetahui di dalam taksi sedingin ini. Dirapatkannya jaket parasit berwarna biru kusam miliknya.

"Kita kemana tuan?" tanya si sopir dengan ramah. "Sakura Apartment." Jawabnya sambil menutupi wajahnya dengan topi. Dengan cepat taksi melaju dengan kencang menembus dinginnya malam.

Perjalanan ini tak terasa begitu menyenangkan. Kaca taksi yang terus terbuka membuatnya semakin kedinginan di dalam. Di cobanya lagi untuk sekian kalinya menutup kaca. Tapi, tetap saja kaca itu terus terbuka dan menimbulkan bunyi "ngik ngik" yang sangat mengganggu telinga.

Dia sudah sangat pasrah, dibiarkannya angin malam masuk melalui kaca mobil. Menembus dinginnya lubang lubang hatinya yang semakin menganga.

Thank you ^^

Review please ^^