Vanguard (c) Bushiroad - Akira Itou.

Fanfic by Ratu Galau hereee~


"Kalian sebenernya niat bantuin apa gimana?"

Tokura Misaki menatap para pria terduga kurang waras di hadapannya. Ada Miwa, Morikawa, Izaki, Shingo dan Kamui—Ishida Naoki nggak ikutan, belum kuat hati katanya. Niat awal mau rapat penentuan konsep acara nikahan. Buat bantu-bantu kedua mempelai biar kerjaan mereka lebih ringan, katanya. Tapi belum lima menit ngomongin konsep acara, pembicaraan sudah beralih topik jadi semacam taruhan; Kai bakalan pake daleman yang motif macan tutul apa Pikachu di malam pertamanya.

Dan Morikawa tampak yakin jawaban yang benar adalah Pikachu. "Kalau bukan Pikachu, pasti Hamtaro!"

Edan.

Misaki pening. Emang penting, banget ya, bahas daleman orang?

Kondisi Card Capital malam ini begitu sepi, tak ada pelanggan. Hanya tawa membahana dari meja mereka yang terdengar, seolah ada pesta miras di sini.

"Sori, Neechan, kebawa suasana~" ucap Miwa, berusaha meredam tawanya ketika membayangkan bagaimana wajah Aichi saat mendapati suaminya berpakaian dalam motif berbi. "Balik ke topik. Menurutku lebih bagus kalau tempat upacaranya serba putih, dengan sedikit warna pink—"

"Bukannya mereka menikah di gereja kota, ya, nanti?" Kamui menginterupsi.

"He? Nggak tau," Miwa menggaruk pipinya. "Mereka berdua juga nggak ngasih tahu konsepnya gimana ..."

"Ya udah, kita rancang sendiri aja konsepnya," sahut Izaki. "Tapi tempatnya ...?"

"Kalau gitu di gedung Foo Fighter, aja, gimana?"

Sebuah suara berhasil membuat para remaja itu celingukan mencari asalnya. Bola mata mereka mengereling, berkeliling mencari si sumber suara. Bukan apa-apa, ini malam hari, musim panas pula, takutnya ada makhluk halus berdarah-darah yang ikutan rapat, lalu tertawa ngikik dengan manisnya. Kan atut

"Gedung Foo Fighter lagi sepi kalau Bulan Oktober."

"Ngapain loe di situu?" Morikawa terlonjak kaget ketika mendapati Suzugamori Ren tengah anteng di bawah kolong meja yang sedari tadi mereka kelilingi. Sejak kapan dia di situ, ngomong-ngomong?

Ren beringsut keluar dari kolong meja, tersenyum dan menyapa teman-temannya satu-persatu. Wajah mereka masih melongo. Masih gagal paham bagaimana bisa seorang Suzugamori Ren berada di sana tanpa disadari siapapun. "Lama nggak ketemu, Misakyuu~"

Lama-lama panggilan dari Ren makin aneh aja.

"Misaki!" seru Misaki mengoreksi. "Panggil Misaki."

"Cih, galak amat, sih. Masih untung Misakyuu, bukan Michukkie kayak boneka horor-psikopat itu," dan semua makin gagal paham ketika Asaka ikut keluar dari kolong meja—ajaib banget, emang.

"BENTAR, INI MEJA BUKAN PORTAL KE DUNIA MANA GITU KAYAK DI SINETRON NARNIA ITU, KAN?" seru Kamui gagal paham, lalu ikut melongok ramai-ramai ke bawah meja, siapa tau ada Om Tetsu juga lagi jongkok di sana. Syukurlah, kosong. Tak ada apa-apa di bawah sana. Entah mengapa Card Capital malam ini menjadi begitu mistis.

"Mereka menikah bulan Oktober, kan?" lanjut Ren yang kini telah duduk di antara para remaja sok sibuk itu. "Kita bisa ubah bagian dalam gedung Foo Fighter jadi mirip gereja, mengundang pastur ke sana, jadi setelah janji suci terucap dan upacara pernikahan usai, kita bisa langsung pesta tanpa membuang banyak waktu."

"Woooh! Usulmu hebat!" Morikawa mengangguk kagum. Yang lain langsung ikutan sibuk, menentukan dekorasi atau jenis bahan jas yang akan dikenakan kedua mempelai, belum lagi Shingo ngotot kalau Aichi wajib pakai wedding veil dan buket bunga.

"Nanti acara lempar buketnya tolong diatur biar Emi-san yang dapat!" suara Kamui.

"Heh! Apaan itu lempar buket aja pake ada KKN!"

"Pas acara pengucapan sumpah, aku yang duduk di depan, ya," Shingo mengangkat handycam barunya. "Biar terekam dengan jelas, terus adegan ciuman sumpahnya gue jejelin ke Naoki. Biar dia move on."

"Sadiiis!" sahut Morikawa. "Usuul! Ultra Rare ikutan nyawer pake bikini, ya?"

"Tunggu, Morikawa, perasaan ini acara nikahan, bukan acara maksiat!"

"Perlu ngundang Alpaca buat jadi saksi, nggak?"

"Ngapaiiiin?"

Seluruhnya aktif menyampaikan konsep upacara. Misaki sibuk menulisi satu-persatu usul teman-temannya. Buku catatan mungil itu sebentar lagi penuh. Card Capital semakin riuh membicarakan susunan acara pernikahan nan megah, ala era Victoria kalo bisa, makanan ala Perancis jika mumpuni, jas putih dan dekorasi mawar memenuhi ruangan, serta souvenir blink-blink untuk dibawa pulang.

Kucing kesayangan Shin Nitta hanya menguap lebar, sembari mengeong pelan. "Meong, Meong, Miaw," artinya mungkin kurang-lebih begini; "Ini yang mau kondangan siapa, sih, sebenernya?"

"Kurang baik apa kita sebagai sahabat? Kai sama Aichi pasti nangis terharu karena dedikasi kita."

"Bener! Hahahahaha!"

Kayaknya hanya sang kucing yang ingat bahwa yang paling berhak menentukan konsep upacara pernikahan adalah kedua mempelainya.

Sementara itu ...

Aichi mengipasi wajahnya. Walau malam semakin larut, tapi udara justru semakin panas. Setelan T-shirt putih dan celana jins selututnya tak begitu membantu. Ia terkejut ketika tangan Kai Toshiki menggenggam lembut jemarinya, menarik tubuh mungilnya perlahan hingga posisi mereka berbalik, Kai yang ada di bagian luar, dekat dengan badan jalan.

Aichi hanya memandang calon suaminya sesaat, sebelum berpaling menyembunyikan semburat merah muda di pipinya. Jemari mereka perlahan bertaut sempurna, hingga langkah mereka menjadi sejajar.

Angin malam mencipta gemerisik dedaunan, membisiki telinga berselingan dengan suara jangkrik. Langkah keduanya terhenti. Di sini, belasan tahun lalu, mereka pertama kali bertemu. Keduanya masih ingat, saat Kai menyapa Aichi yang tengah berjalan tertunduk.

Dari tempat itu, semuanya bermula.

"Musim semi belasan tahun lalu, kita bertemu di sini," ucap Aichi pelan.

"Dan waktu itu kamu ngacangin aku," sambung Kai, disahut oleh suara tawa Aichi.

"Maaf," katanya. "Waktu itu mana aku tau kalau orang yang aku kacangin itu bakalan jadi calon suamiku."

Kai menepuk pelan kepala Aichi. Telapak tangannya mengusap lembut menyusuri lekuk pipi Aichi, membawa wajah manis itu mendongak padanya. "Musim gugur tahun ini kita juga bakalan lewat sini."

Ah manis. Siapa sangka anak-anak SD yang kebetulan bertemu di tempat ini justru akan kembali belasan tahun kemudian, melewati tempat yang sama untuk menikah.

"Aw!" seru Aichi ketika Kai dengan begitu usil mencubit hidungnya. Aichi tertawa. Bahagia.

"Kamu ngomong begitu, jangan-jangan sengaja memilih kuil dekat sini supaya besok kita menikah lewat sini, ya?"

"Tauk," Kai mengangkat bahu.

"Oh, oke, deh," dan Aichi menyerah dengan sifat sok tsundere itu. "Berarti pernikahan secara tradisional, kan?"

Kai mengangguk pelan. "Lebih ribet, yang pasti."

"Eh, kalau lebih ribet kenapa kamu milih yang tradisional?"

Mereka melangkah lagi. Kai bahkan sama sekali tak menjawab pertanyaan Aichi. Dia hanya mengendikkan bahu, disambut oleh desahan lelah dari Aichi. Tangan mereka kembali menggenggam, langkah seirama ringan menyusuri trotoar menuju kediaman Sendou.

Biasanya yang ribet-ribet itu terkenang lebih lama, kan, ya?


To be Kontinyuuuh~


.

.

Jadi sebenernya saya bingung Aichi pas nikah nanti bakalan pake kimono putih atau Hakama sama kaya Kai 8"D entah kenapa headcanon saya kalo mereka nikahannya tradisional, bukan modern ala gereja gitu 8""D/

Sampe jumpa Sabtu depaaan xDD