Author's Note : Ya, Chapter 3. maaf ya kalo selama ini banyak mistype terus. Padahal udah dicek, tapi pas udah di-post, baru keliatan ada yang salah. Kurang teliti. Dan karena saya online dari warnet, (sambungan di rumah diputus sama nyokap, gara gara kebanyakan make)*curhat colongan. Jadi ga bisa cepet di edit.
Ada beberapa perubahan mulai chapter ini. Mulai dari digivolve, berubah jadi shinka. Abis nonton children's war game bahasa jepang soalnya :9
Dan kayanya saya juga bukan tipe penulis Angst, jadi agak susah untuk chapter ini dan lebih makan waktu. Emang sih mending jangan maksa kalo ga bisa, tapi yang udah kepikiran ya ini. Jadi ya..mungkin agak jelek dan membingungkan. :(
Yah, sekali lagi maaf :( sangat diusahakan ga terulang lagi.
Dan mau nanya, nama keluarga Taichi sama Hikari itu Yagami atau Kamiya sih?
Shimacrow Holmes : Makasih masukannya :) ngomong ngomong, bash di sini maksudnya literally bash atau ada teknik atau cara penulisan yang namanya bash? kalo ada, maaf saya belum tahu. dan kalo boleh, tolong jelasin biar ga ada yang kaya gitu dua kali. :) kalo literally bash, mungkin agak kejam buat Daisuke ya? tapi nanti dia bakal dapet bagian penting kok, tunggu aja :)
Halcalilove12 : Makasih banyak :D jadi terharu haha :D soal ketawanya itu karena saya ga pernah liat Lilithmon muncul, jadi ga ada hint soal personalitynya. makanya untuk personality, ngambil dari one of the most famous urban legend character in indonesia : Mbak Kunti. makanya ketawanya ikut jadi hihihi.. gitu. :)
Green-Chrystall : Tadinya mikirnya kalo POV-nya diubah ubah malah tambah bikin bingung, jadi stuck sama Hikari. nanti saya mau nyoba bereksperimen dulu pake POV yang beda beda. maksih sarannya :) Terriermon bisa sampe Mega malah, tapi ada waktunya nanti. :) tunggu aja, dia bakal muncul lagi kok :)
Sekar Nasri : Waaah lagi nonton Uruguay vs Afsel ya? :D makasih :)
Shane Prochainezo : Makasih koreksinya sis :) tentu boleh :)
marianne vessalius : Makasih banyak :D dan maaf untuk typonya, diusahain ga keulang lagi. :( kalo sampe ada lagi, saya rela ditimpukin pake duit. bener deh rela.. :9 *ditimpuk bakiak*
Disclaimer : Digimon Bukan (atau belum)*amin Milik Saya
Pulau File (pulau musim gugur) 22/06/2006 17.57
"Takeru-kun, tunggu!" Aku memanggil-manggil Takeru yang terus berlari menyusuri hutan tanpa mendengarku, seakan dia adalah manusia satu-satunya di bumi.
Takeru terus berlari menyusuri hutan yang lumayan lebat ini dengan bantuan D-3 untuk menemukan digimon lainnya. Di tengah jalan, ia mencoba melompati akar pohon besar yang menghalangi jalan, namun tidak berhasil. Kakinya membentur akar itu dan membuatnya jatuh terguling-guling. Ia bangkit dan bersiap berlari lagi, namun aku sudah tak mampu lagi melihatnya seperti itu.
"Takeru-kun! berhenti!" Teriakku. Yang akhirnya dapat membuatnya menoleh ke arahku.
"Takeru-kun, tenang.. jangan paksa dirimu. Mereka pasti baik-baik saja." Aku berjalan mendekati Takeru, berniat menenangkankannya. Takeru terdiam. Saat aku menyentuh lengannya, ia menolak dan menepis tanganku dan melihatku dengan marah.
"Apa katamu, Hikari? Tenang? Di saat Patamon mungkin terbunuh, kau memintaku tenang? Maaf, aku tak bisa." katanya, sambil memalingkan mukanya dariku. Aku terguncang. Ini pertama kalinya Takeru membentakku. Dan aku merasa.. sangat sedih.
Takeru kembali berlari, meninggalkanku sendiri.
~ Chapter 3 : Grim
Aku berlari sendirian menuju rumah Gennai. di tengah hutan yang makin lama makin gelap, aku tidak ingin sendirian. Takeru-kun.. kamu dimana?
Akhirnya aku keluar dari hutan, aku melihat sebuah rumah yang terletak di antara laut yang terbelah, beberapa puluh meter di depanku. "Itu rumah Gennai." kataku yakin. Walaupun sebenarnya kakiku sudah sangat lelah, aku terus berjalan. Aku harus sampai disana.
Rumah Gennai 22/06/2006 18.08
Takeru sampai di rumah Gennai, rumah bergaya jepang kuno yang sebenarnya terletak di bawah laut itu merupakan markas anak anak terpilih apabila mereka berada di Dunia Digital.
Pintu masuk yang berbentuk pintu geser itu terbuka lebar. Takeru masuk, dan melihat Demon yang masih mengenakan jubahnya duduk di atas tatami di ruang tengah. Seakan menunggu Takeru datang.
"Dimana yang lain?" Tanya Takeru.
"..." Demon tidak menjawab. Ia duduk membisu.
"Dimana yang lain! Demon!" Teriak Takeru. Takeru mengepalkan kedua tangannya.
"Mengapa tidak kau cari tahu sendiri dengan Digivicemu?" Jawab Demon, tenang.
"Sinyal mereka berasal tepat dimana kau berada. Apa yang kau lakukan?" tanya Takeru.
Demon bangkit, ia berjalan menuju teras depan rumah, dan melihat ke arah matahari terbenam, diikuti Takeru.
"Sebenarnya... Aku datang untuk menyampaikan sesuatu." Tambahnya.
"Kami akan melancarkan serangan malam ke Kota Malaikat." lanjut Demon sambil melihat matahari yang terbenam.
"Dan dengan bodohnya kau membocorkan itu padaku?" kata Takeru.
"Jadi kau tidak mengerti? Aku memintamu untuk mecoba menghentikan kami! Rencana ini tidak akan menyenangkan apabila berjalan terlalu mudah." Demon berbalik ke arah Takeru.
"Aku akan menghentikanmu dengan mudah." Jawab Takeru. "Sekarang katakan... Dimana yang lain!" Teriaknya.
"Tenang." Demon menjentikkan jarinya. Sebuah portal kegelapan terbuka. Para digimon terlempar keluar dari sana. Mereka terlihat lelah, seakan kekuatan mereka habis di dalam portal kegelapan itu. Begitu pula Patamon yang berada di situ bersama yang lain.
"Takeru.." Patamon yang terbaring memanggilnya.
"Patamon! kau selamat." Takeru terlihat lega. Ia mengangkat dan memeluk Patamon dengan erat. Namun ia menyadari, masih ada satu orang yang menghilang.
"Tunggu... Dimana Gennai?" Tanya Takeru kepada Demon
"Gennai? Orang tua itu? Menurutmu, apa yang kulakukan?" Demon mengangkat tangan kirinya dan membuka genggamannya. Terlihat beberapa helai rambut putih di tangan kirinya. Ia kemudian meniup rambut-rambut yang kemudian terbawa angin itu. "Ucapkan selamat tinggal padanya." tutupnya
"..." Takeru melihat rambut rambut yang diterbangkan dengan tatapan kosong. Rambut yang terbawa angin dan hancur menjadi data. Ia memalingkan wajahnya, melihat Patamon.
"Patamon, bersiaplah untuk digivolve.." Kata Takeru, yang jelas terlihat mengagetkan Patamon.
"Takeru... aku sudah tak punya tenaga.." Kata Patamon dengan tubuhnya yang masih lemah di pelukan Takeru..
"Kau masih mampu Patamon!" Bentak Takeru.
"Tapi..." Patamon terlihat bingung.
Takeru melihatnya dengan kesal, mengapa Patamon mau diam saja saat musuh besarnya yang berencana mengubah dunia ini berada tepat di depannya.
"Tidak ada tapi, ayo bergerak!" Kata Takeru sambil melepaskan Patamon dari pelukannya. Digivicenya bersinar makin terang.
"Patamon shinka... Angemon!"
"Heaven's Knuckle!" Tanpa basa-basi Angemon mengeluarkan laser dari tinjunya, menyerang Demon yang terkena telak tanpa menghindar, namun serangan itu tidak membuatnya bergeming sedikitpun.
"Kau tahu Digimon-mu tidak memiliki tenaga lagi, bahkan untuk melancarkan serangan pun sulit. namun kau memaksanya untuk berubah dan bertarung? Sungguh ironis. Kau menyebut kami iblis, namun kau sendiri ternyata tidak berbeda jauh dengan kami!" kata Demon, yang menunjuk ke arah Takeru.
"Ugh.." Angemon tertunduk lemas, ia bahkan tidak mempunyai tenaga untuk melawan.
Gabumon yang melihat itu, berbisik pada Agumon "Agumon, ini gawat. Kalau begini, aku takut ia terbunuh."
"Iya... aku berharap Taichi segera datang..." Kata Agumon. "Sebelum terjadi sesuatu yang tak diinginkan.."
Pulau File (pulau musim gugur) 22/06/2006 18.20
Aku berjalan dengan kaki yang kelelahan. Tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang menepuk pundakku. Aku menoleh ke belakang. Aku melihat seorang pemuda berambut pirang yang kukenal, bersama temannya, seorang lelaki tinggi berambut biru panjang.
"Kak Yamato, Kak Jo!" Kataku terkejut.
"Tenanglah Hikari, ini kami. Taichi dan yang lainnya pergi untuk membantu Daisuke." Katanya. "Takeru pergi ke rumah Gennai dan meninggalkanmu sendirian? Anak itu.." Yamato menggigit jarinya.
"Takeru.. takut ada sesuatu terjadi pada Patamon, jadi jangan salahkan dia. Lebih baik kita mengejarnya sekarang. Perasaanku tidak enak." Kataku, saat tiba tiba D-Terminal kami menerima pesan dari Taichi.
"Kami segera menyusul, Tapi Koushiro dan Wallace pergi untuk mengantar Mimi pulang. Ia terpukul, Palmon kalah dan berubah kembali menjadi Digitama." Tulisnya. Membuatku kaget.
"Apa?" kataku, kami terlambat. Aku hampir menangis.. semoga Mimi akan baik baik saja.
Yamato terpaku. "Sial..." Katanya. Kemarahan terlihat dari wajahnya.
"Ayo, kita menyusul Takeru ke sana. Kalau benar ada satu dari tujuh dewa kegelapan, dia tidak bisa kita biarkan sendirian, sebelum ada yang bernasib sama seperti Palmon." kata Jo, tenang.
Aku dan Yamato mengangguk. "Hikari, kau bisa berjalan? Perlu kugendong?" Kata Yamato, menawarkan punggungnya.
"Tidak perlu kak, terima kasih. Aku masih bisa berlari." Tolakku sambil tersenyum. Aku tidak ingin menjadi orang yang lemah. Setidaknya, prinsipku aku hanya digendong bila aku sudah benar benar tidak bisa berjalan.
Kami bertiga berlari menuju rumah Gennai, untuk menyelamatkan Takeru.
Rumah Gennai 22/06/2006 18.40
Langit mulai gelap. Angemon yang sudah terlihat babak belur terbang mendekati Demon, ia mengayunkan tongkatnya untuk menyerang. Namun Demon berhasil menangkisnya. Dengan tangan kanannya.
Demon mengangkat tangannya kirinya. "Evil Inferno" tangannya mengeluarkan api dengan temperatur yang sangat tinggi.
"Angemon! Awas!" Kata Takeru. Angemon terbang ke langit, menghidar dari kejaran Evil Inferno. Ia kembali turun dengan kecepatan tinggi dan berada di depan Demon.
"Kali ini kau tak bisa menghindar! Heaven's Knuckle!" Angemon menembakkan sekali lagi Heaven's Knuckle, namun kali ini dari jarak yang sangat dekat sehingga sulit dihindari. Namun Demon berhasil menangkap tangan Angemon tepat sebelum ia berhasil menambakkan Heaven's Knuckle, Demon membanting Angemon yang tertangkap hingga menghantam tanah lalu menginjaknya dengan kaki kanannya agar ia tidak bisa bangkit.
"Agh!" Angemon berusaha mengangkat kaki Demon, namun semakin ia mencoba, injakannya semakin berat.
"Itu takkan berhasil." Demon menguatkan injakannya.
"Angemon..." Kebencian Takeru terhadap Demon semakin menjadi-jadi. Saat tiba-tiba Digivicenya mengeluarkan sinar aneh. Seketika tubuh Angemon diselimuti kegelapan, yang membuat Demon melepaskan injakannya.
"Ini..." Gumam Demon.
"Angemon?" Tanya Takeru. Angemon yang diselimuti kegelapan berdiri. Ia menjatuhkan tongkatnya dan melolong keras seakan dirasuki oleh iblis serigala.
"Aaaaaaaa...oooo!" Angemon berteriak.
Tubuhnya berubah. Rambut panjangnya rontok dan menjadi berwarna putih. Sayap putihnya berubah menjadi merah, Celana biru yang selalu ia kenakan berubah menjadi hitam. Dan duri mencuat dari sepatu bootsnya. ia berubah menjadi iblis mengerikan. Bukan lagi malaikat yang menenangkan.
"Tentomon, dia?" Tanya Agumon.
"Itu Neo Devimon, digimon legenda. Menurut legenda, ia adalah Angemon yang dikutuk menjadi iblis. Kata Tentomon. Ia bergidik ketakutan.
-x-
"Hei, lihat!" Yamato berteriak dan menunjuk ke arah rumah Gennai yang tinggal beberapa meter dari posisi kami. Rumah Gennai runtuh, bangunan ala jepang itu tiba tiba runyuh seketika. Walau tidak ada ledakan yang terlihat.
"Kita harus segera kesana!" Aku mencoba berlari lebih cepat.
Kami sampai di depan reruntuhan rumah Gennai, disana terlihat Takeru yang bermuka pucat, ketakutan. Demon yang berdiri tak bergerak. tubuhnya ditembus oleh cakar seekor digimon yang aneh. Dan tangannya menahan tangan digimon aneh itu agar tidak lepas. Aku melihat Tailmon dan yang lainnya terduduk tidak bertenaga, namun aku tidak melihat Patamon. Apakah kami terlambat?
"Uh.." gumam Demon. "Aku tidak menyangka ia bisa mengejarku dan menyerangku dengan Stun Clawnya yang membekukan gerakanku sehingga aku tidak bisa bergerak dalam posisi seperti ini. Aku harus menunggu sampai efek Stun Claw hilang dan kembali menyerangnya." pikirnya.
"Ayo, kita mendekat diam diam ke arah para Digimon, setelah itu, kita bawa mereka dan Takeru. Lalu kita lari. Selagi masih sempat." Anjur Jo. Aku dan Yamato mengangguk. Diam diam, kami mendekati para digimon.
"Hikari!" Tailmon menyapaku. "Kau datang!"
Yamato dan Joe pun langsung mendatangi Gabumon dan Gomamon. digimon yang lain ikut mendatangi mereka.
"Iya Tailmon, aku disini. Apa yang terjadi?" tanyaku, sambil menidurkan Tailmon di pangkuanku.
"Ceritanya panjang... yang penting, apa kau punya makanan? Aku lapar.. aku harus bertarung.. dan menyelanatkan Patamon." pintanya
"Patamon? Dimana dia?" Tanyaku.
"Monster itu... dia Patamon" Jawab Tailmon, yang menunjuk ke arah Neo Devimon.
"Apa? Bagaimana itu bisa terjadi?" Tanyaku terkejut. Aku melihat ke arah Takeru. Ia terlihat pucat,
"Ceritanya Panjang." Kata Tailmon.
"Baiklah, kau janji padaku kau akan ceritakan padaku nanti." Aku merogoh sakuku, namun aku tak menemukan apapun yang bisa dimakan.
"Tenanglah Hikari." Jo memanggilku. Aku melihat dia membawa tas penuh makanan. "Kau kan tahu, aku selalu membawa persiapan." kata laki laki berkacamata yang mengenakan polo shirt putih itu tersenyum.
Aku pun tersenyum lebar. "Terima kasih kak." kataku. Aku mengambil beberapa roti melon yang ia bawa dan memberikannya pada Tailmon. Digimon yang lain pun terlihat sedang makan dengan lahapnya.
"Yamato, aku sudah siap. Ayo, kita bantu Takeru!" Gabumon berdiri dengan bersemangat, dan menoleh ke arah Yamato.
"Ya!" Laki laki berambut pirang panjang itu tersenyum.
"Gabumon Warp-shinka! Metal Garurumon!"
Takeru melihat cahaya perubahan dari tubuh Gabumon dan menoleh ke arahnya.
"Kakak.." Takeru tersadar.
"Ayo, Metal Garurumon!" Yamato menunjuk ke arah Demon dan Neo Devimon. "Hancurkan mereka berdua bersamaan!"
"Cocytus Brea.." Metal Garurumon bersiap mengeluarkan Cocytus Breath untuk membekukan mereka berdua.
"Ugh.." Demon melihat ke arah Metal Garurumon.
"Kakak! Metal Garurumon! Hentikan!" Teriak Takeru.
"Kita tidak punya pilihan, Takeru, kau pun tahu itu. Saat ini, ini satu satunya cara menyelamatkan Patamon!" Teriak Yamato, mengayunkan tangannya.
"Tapi..." Takeru ragu ragu. Dia tahu dia harus membunuh Neo Devimon sebelum terjadi sesuatu yang buruk, tapi dia tidak bisa.
"Cocytus Breath!" Metal Garurumon menyemburkan semburan dingin dari mulutnya ke arah Demon dan Neo Devimon.
Demon mencoba menggerakkan tangannya lagi, dan berhasil. Ia mengarahkan tangan kirinya ke arah Cocytus Breath. Dan menggunakan tangannya untuk melepaskan tangan Neo Devimon dan melemparnya.
"Evil Inferno!" Demon tepat waktu. Evil Inferno yang keluar dari tangan kirinya beradu dengan Cocytus Breath tepat sebelum semburan dingin itu mencapai tubuhnya dan menahannya.
"Sial!" Yamato mengepalkan tangannya. "Ayo terus, Metal Garurumon!" teriaknya.
Benturan panas dan dingin itu menyebabkan udara sekitar tidak stabil dan meledakkan daerah sekitar, yang kemudian menimbulkan kepulan asap.
"Uhuk.." Aku terbatuk. Kepulan asap yang tebal itu membutakan pandanganku. Saat tiba tiba terdengar suara Demon. Entah darimana.
"Aku tidak bisa berlama-lama disini. Jadi, kita selesaikan suatu saat nanti, anak anak terpilih. Kita pasti bertemu lagi." Katanya. Kepulan asap perlahan menghilang. Begitupun Demon, menghilang tanpa jejak.
"Apakah sudah selesai?" tanya Joe.
"Belum..." Jawab Yamato, yang melihat lurus ke depan. Melihat ke arah seekor digimon iblis liar tak terkendali.
"Aaaaaaa...oooo!" Neo Devimon berteriak sekali lagi. Memecah keheningan.
"Kau siap, Metal Garurumon?" Tanya Yamato. Sambil menoleh ke arah Metal Garurumon.
"Aku siap." Jawabnya.
"Hikari, kita juga!" Kata Tailmon, yang sepertinya sudah segar. "Kita selamatkan Patamon!"
"Ya!" Aku mengangguk setuju. Kami pasti bisa menyelamatkankannya, dengan harapan tidak mengubahnya mejadi digitama dengan tangan kami sendiri.
"Tailmon shinka! Angewomon!"
"Jo, Ayo kita juga!" Ajak Gomamon. "Aku sudah gatal!"
"Iya, iya Gomamon.." Jawab Joe, menghela napas. "Sebenarnya aku tak ingin melakukan ini.." gumamnya.
"Gomamon shinka! Ikakumon!"
"Ikakumon shinka! Zudomon!"
Takeru bertambah pucat melihat Angewomon, Metal Garurumon, dan Zudomon bersiap untuk menghancurkan Neo Devimon. "Aku harus melakukan sesuatu.. tapi apa?" Pikirnya dalam hati. Ia sangat menyesali perbuatannya pada Patamon, namun nasi telah menjadi bubur. Satu satunya hal yang bisa dilakukan untuk mengembalikan Patamon seperti semula adalah mengalahkannya.
"Maju!" Teriak Yamato.
Angewomon, Metal Garurumon, dan Zudomon maju menyerang. Neo Devimon melihat ke arah mereka bertiga.
"Aaaaah..." gumamnya, ia mengangkat tangan, seperti bersiap memangsa ketiganya sekaligus.
Chapter 3 selesai.
Kalau ada kritik, saran , atau flame silakan ya :)
