Preview:
"hei, jungkook. Kalau tidak salah, kamu pernah bilang kalau kamu punya bukti bahwa aku adalah istrimu. Bolehkah aku melihat bukti itu?"
Jungkook melihat Jimin lalu tersenyum tipis, "tunggu, akan kuambilkan."
"ini.." jungkook menyerahkan bukti itu kepada Jimin. Jimin membelalakkan matanya melihat bukti tersebut
"ini... bagaimana bisa?"
.
.
.
.
.
"kenapa?" jungkook bertanya kepada Jimin, karena Jimin terlihat begitu kaget dengan bukti yang ia berikan.
"ini.. ini foto pernikahan 'kita'?" Jimin menatap Jungkook meminta kepastian
"ya, kau tampak begitu cantik dan mempesona saat itu. Walaupun awalnya kau tidak mau menggunakan gaun yang sudah kubeli, tapi pada akhirnya kau mau juga memakainya." Jungkook tersenyum begitu lembut melihat foto pernikahannya tersebut. Kenangan manis akan kehidupannya dengan istrinya (bisa kita bilang Jimin sekarang?) begitu bahagia, sebelum semua kejadian itu terjadi.
"jungkook-ah, kalau kamu tidak keberatan. Bisakah kamu menceritakan padaku, bagaimana caramu ehmm... me-meninggal?" Jungkook menoleh dan menatap Jimin saat Jimin menanyakan hal itu. Hal yang selama ini ingin ia lupakan.
"a-ah, kalau tidak mau juga tidak masalah. Jimin tidak akan memaksa Jungkook buat cerita." Jimin jadi gugup sekarang. Melihat tatapan mata Jungkook yang sarat akan sakit.
Jungkook tersenyum kecil, "tidak, Chim. Aku akan cerita... kamu hanya mau tau bagaimana caraku matikan?"
"u'um" jimin mengangguk.
"pada saat itu kita sedang pergi entah kemana aku lupa. Yang jelas tempat itu cukup sepi. Kita berjalan dan akan menyeberang, hanya saja waktu itu entah bagaimana kamu melepaskan genggaman tanganku dan menyeberang begitu saja padahal lampu masih merah. Ada mobil sejenis mobil jeep melaju dengan cepat kearahmu. Aku berasa menggapai tanganmu tapi kamu tetap berjalan." Jungkook mengambil napas dalam saat akan melanjutkan ceritanya dan Jimin tetap fokus dengan cerita Jungkook
"saat aku akan menarikmu, tanganmu tidak bisa lagi aku pegang. Kau terlihat semu, sangat semu. Seperti bayangan, memudar perdetiknya. Aku terjungkal dan akhirnya... aku mati." Jungkook melanjutkan ceritanya.
"maksudmu? Jimin memudar, seperti menghilang?" Jimin bingung sekarang, bagaimana bisa tubuh seseorang itu memudar. Sangat tidak masuk akal.
"ya, kau memudar. Sebenarnya dalam semua kasus kematian kita. Aku, taehyung, hoseok, seokjin, namjoon, dan yoongi memiliki satu point yang sama yaitu dirimu yang memudar." Jelas Jungkook
"jadi Jimin ini semu. Lalu, Jimin bisa memudar begitu saja. Apa Jimin juga bisa memudar sekarang?" Jimin bertanya pada Jungkook
"tidak, kamu tidak bisa memudar."
"tunggu, kalau seumpama Jimin ini semu. Bagaimana bisa orang lain bahkan kalian menikah denganku? Tidak semua orang bisa melihatku kan? Dan – dan difoto itu 'Jimin' benar-benar terlihat nyata" Jimin bertanya.
"aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi aku ingat benar bahwa orang lain bisa melihatmu. Tapi setelah kejadian itu entah bagaimana caranya, orang-orang berlagak seperti tidak mengenal dirimu. Bahkan foto-foto yang pernah kita ambil, semuanya tidak ada dirimu didalamnya. Jangan tanyakan bagaimana aku bisa tau, karena aku sudah mencari tau semuanya sewaktu kamu belum datang." Jungkook menjelaskan dengan panjang lebar
"lalu bagaimana dengan foto ini?" jimin menunjukkan foto pernikahan mereka pada Jungkook.
"kalau ini pengecualian Jimin. Ingat bahwa foto ini sudah ada digenggamanku saat aku sudah sampai disini. Foto ini seperti pengingat, karena hanya foto ini yang masih ada keberadaan dirimu didalamnya." Jungkook menjawab pertanyaan Jimin dengan cukup memuaskan, setidaknya untuk Jimin.
Jimin bisa menarik kesimpulan dari cerita yang telah Jungkook ceritakan kepadanya
'jadi aku ini semu di kehidupan mereka. Artinya aku hanya ada satu di dunia paralel. Tunggu... kenapa aku jadi bingung?' batin Jimin
"Jungkook, bisa kamu jelaskan mengenai kehidupan di dunia paralel?" jimin bertanya kepada Jungkook
"hmm, bukannya sudah dijelaskan sama Namjoon? Dunia paralel adalah dunia yang sejajar dengan dunia yang lain. Di setiap dunia paralel selalu ada aku dan kamu hanya saja hubungan kita berbeda. Misalnya di dunia ini aku kenal denganmu, tapi bisa jadi di dunia yang lain di waktu yang sama, kita berdua tidak saling kenal. Jika kamu mau bertanya mengenai kasusmu, itu berbeda. Dirimu yang asli hanya hidup di satu dunia. Tidak di dunia yang kami tempati." Jungkook menjawab pertanyaan Jimin
"berarti kamu dan lainnya ada didunia yang dulu aku tempati?" tanya Jimin
"kemungkinan iya." Jungkook menjawab pertanyaan Jimin yang entah keberapa kalinya.
"oh, paham paham." Jimin mengangguk-anggukkan kepalanya tanda bahwa ia sudah paham dengan keadaan mereka.
-YO_JMIN-
Ini sudah 3 jam semenjak yang lainnya pergi membelikan Jimin baju dan mereka masih belum kembali. Jimin dan Jungkook menghabiskan waktu mereka dengan mengobrol, mencoba untuk mengakrabkan diri.
Jungkook membelai rambut hitam Jimin yang tertidur dipangkuannya. Ya, Jimin tertidur kira-kira 30 menit yang lalu. Belaian yang Jungkook berikan membuat Jimin semakin tenggelam dalam tidurnya dan terjun ke dunia mimpi. Jungkook tersenyum melihat Jimin yang tidur dengan tenangnya. Wajahnya yang damai, mengingatkannya dengan 'istrinya' dulu. Kebiasaan yang sama seperti yang sering ia lakukan dengan istrinya di dunianya dulu. Istrinya selalu tertidur di pangkuan Jungkook dan Jungkook pasti akan membelai kepala istrinya sampai istrinya benar-benar terlelap.
Jungkook memandangi wajah Jimin, dan sesekali tertawa saat melihata bibir Jimin bergerak. Jungkook menyentuh hidung Jimin yang kecil, 'eoh, bahkan bagian terkecil dari dirimu sama persis dengannya, chim.' Batin Jungkook. Jungkook merindukannya. Ya, jungkook merindukan istrinya tapi ia tahu bahwa istrinya adalah pria yang ada dipangkuannya sekarang. Hanya saja, dia masih belum bisa menerima dan memahami bahwa dia adalah istri mereka.
'kami hanya bisa menunggumu, chim. Menunggumu untuk memahami dan menerima bahwa kami adalah suamimu. Dan kuharap bila suatu saat kau sudah bisa menerima kami, kau tidak akan meminta kami untuk memilih. Karena apapun yang terjadi, tidak ada satupun dari kami yang akan sanggup untuk melepasmu. Meskipun kami harus merasakan kematian untuk yang kedua kalinya.' Batin Jungkook.
"saranghae, chim. Jeongmal saranghae." CHU~
Jungkook mengecup pelan dahi Jimin, cukup lama sehingga membuat Jimin menggeliat dalam tidurnya dan tanpa sadar mengalungkan tangannya ke pinggan Jungkook dan menenggelamkan wajahnya ke perut Jungkook. Mencari kehangatan lebih dari tubuh Jungkook.
"kkkkk~" jungkook terkikik, dengan perlahan ia coba untuk memindahkan tubuh Jimin. Sangat pelan, ia tidak mau membangunkan tidur Jimin yang begitu tenang. Jimin yang merasakan kehangatan yang ia miliki tiba-tiba hilangpun menggerang. Tangannya bergoyang mencari-cari sumber kehangatannya yang hilang tersebut. Hingga akhirnya tangannya menyentuh tangan Jungkook. Ia menarik tangan Jungkook mendekat kepipinya. Jungkook yang melihat itupun tersenyum, ia memutuskan untuk tidur juga. Jungkook tidur tepat disamping kanan Jimin. Jimin membalikkan tubuhnya menghadap Jungkook saat merasakan kasur yang ia tepati berderik. Jungkook menggapi tubuh Jimin lalu memluknya dan Jimin menenggelamkan wajahnya di dada Jungkook yang bidang. Tak berapa lama, mereka sudah tertidur dan tidak ada yang tahu bahwa untuk pertama kalinya, mereka tertidur dengan senyum menghiasi wajah mereka.
-YO_JMIN-
Pintu rumah terbuka dan masuklah 5 pria dengan membawa kantong belanjaan yang berisikan pakaian lengkap, peralatan mandi dan bahan makanan untuk satu bulan kedepan.
"woo~ kenapa sepi sekali?" Hoseok yang pertama kali masuk ke dalam rumah langsung berkomentar.
"hmm-hmm ya, rumah ini memang sepi. Dimana mereka?" Yoongi tidak heran kalau rumah ini sepi, hanya saja ia heran, karena tidak ada tanda-tanda orang beraktivitas disini.
"coba cek kamar Jungkook. Biasanya anak itu bermain game." Seokjin menimpali Yoongi dengan memberikan saran
"biar aku saja yang cek." Hoseok mengajukan dirinya untuk mengecek kamar Jungkook.
Hoseok berjalan menuju kamar Jungkook dan saat ia membuka kamar Jungkook, ia dapat melihat ada gundukan selimut yang cukup besar di atas kasur Jungkook. Memang pada dasarnya Hoseok itu mudah penasaran, ia mendekati gundukan tersebut dan menyibak selimut tersebut dengan perlahan dan ia dapat melihat Jungkook yang tertidur dengan memeluk Jimin. Ada rasa cemburu menghinggapi hati Hoseok, tapi ia cukup tau diri untuk paham bahwa Jungkook juga merupakan suami dari Jimin. Menghembuskan nafasnya pelan, Hoseokpun keluar dari kamar menuju ke dapur.
Hoseok dapat melihat Seokjin membereskan barang-barang belanjaan mereka. Seokjin yang sadar akan kehadiran Hoseokpun bertanya, "bagaimana? Kau sudah bertemu dengan mereka?"
"sudah, mereka tidur di kamar Jungkook. Berpelukkan." Jawab Hoseok
"oh, tidur." Sahut Seokjin. "HUH?!" Seokjin tiba-tiba tersentak dan langsung menghadap kearah Hoseok
"berpelukan? B-E-R-P-E-L-U-K-K-A-N?" Seokjin membeo
"iya berpelukan. Kalau tidak percaya, lihat saja dikamar Jungkook. Berharaplah bahwa nanti malam Jungkook tidak mimpi basah karena Jimin tidur disampingnya siang ini." Kata Hoseok
"ya! " Seokjin melemparkan paprika ke arah Hoseok dan Hoseok dengan sigap menangkap paprika tersebut.
"sudah, cepat bantu aku." Seokjin menyuruh Hoseok untuk membantunya membereskan belanjaan mereka.
Namjoon dan Taehyun berada di kamar Jimin. Menata baju-baju Jimin yang baru di dalam lemari. Jangan tanyakan apa yang Yoongi lakukan, karena ia sudah tidur.
"aku capek sekali, jangan ada yang ganggu. Aku mau tidur." Katanya
Waktu terus berlalu dan tanpa sadar mereka telah pergi kekamarnya masing-masing dan terlelap. Ini memang masih siang, tapi tidak salahkan kalau mereka tidur. Mereka sudah lelah mencari pakaian untuk Jimin, belum lagi Hoseok dan Taehyung yang berdebat mengenai baju apa yang Jimin sukai nanti. Sangat tidak penting.
-YO_JMIN-
Jimin adalah orang yang pertama kali bangun sore itu, ia merasakan ada sesuatu melingkari pingganya. Ia melihat kearah pinggangnya dan menemukan sebuah tangan melingkari pinggangnya. Jimin mendongak, melihat siapa pemilik tangan tersebut.
"Jungkook?" Jimin mengedipkan matanya. Ia lupa bagaimana bisa ia ketiduran, yang ia ingat hanyalah ia dan Jungkook sedang bercakap-cakap.
Jimin berusaha menyingkirkan tangan Jungkook dari pinggangnya tapi justru membuat Jungkook semakin mengeratkan pelukannya. Jujur saja, Jimin merasa nyaman berada dipelukan Jungkook. Hanya saja, badannya sudah pegal karena terus tidur. Dia butuh peregangan, akhirnya ia memutuskan untuk membangunkan Jungkook.
"jungkook? Jungkook? Ireona~~ jungkook-ah." Jimin menepuk-nepuk pipi Jungkook. Tidak ada pergerakan sama sekali, Jimin mulai cemberut.
"Jungkook? Jungkookie~~~ kookie... ireona~" jimin membangunkan Jungkook lagi, kini pukulannya agak keras. Jungkook melenguh, "eungh, hyung" suara serak khas orang baru bangun tidur terdengar di telinga Jimin. Senyum Jimin merekah begitu saja mendengar adanya respon dari Jungkook.
"jungkook jungkook jungkook... bangun!" jimin menggoyang-goyangkan tubuh Jungkook sehingga membuat Jungkook mau tidak mau membuka matanya.
"lepaskan pelukanmu~ Jimin mau bangun dan ini sudah jam 6. Jimin mau mandi." Jimin meminta Jungkook untuk melepaskan pelukannya. Jungkookpun melepaskan pelukannya dengan berat hati. Sudah lama ia tidak emeluk istrinya dan sekarang dia harus melepaskan pelukannya.
"yang lain sudah datang belum ya? Kok masih sepi?" Jimin celingukkan sendiri saat ia keluar dari kamar.
"mungkin mereka sudah pulang. Lihat, sepatu yang mereka gunakan sudah kembali ke rak." Jungkook yang juga bangun karena Jimin menunjuk ke arah sepatu-sepatu yang tersusun rapi di rak.
"hooo~ mereka pasti ada di kamar. Ya sudah, aku mandi dulu ya." Jimin naik ke kamarnya, mengambil hnaduk lalu mandi. Sebelumnya, Jimin celingukan sendiri mencari-cari pakaian yang sudah mereka belikan sampai ia menemukan post-it dengan tulisan yang mengatakan bahwa bajunya sudah ditata di dalam lemari. Jimin sedikit berdehem membacanya, ada perasaan sungkan dihatinya melihat barang yang seharusnya ia bereskan sendiri, sudah dibereskan oleh orang lain.
Jimin mengambil kaos putih polos, celana santai selutut dan juga pakaian dalamnya lalu berjalan ke kamar mandi untuk mandi. Sambil mandi, Jimin memutuskan akan memasak sesuatu untuk mereka sebagai tanda terima kasih karena sudah dibelikan baju.
Setelah 15 menit Jimin mandi dan memakai baju, Jimin segera pergi ke dapur. Melihat-lihat, apakah ada sesuatu yang bisa dimasak dan ia terkejut saat melihat kulkas terisis penuh.
'ooo, mereka belanja bulanan. Pantas saja agak lama perginya.' Batin Jimin
Jimin mengambil beberapa sayuran dan daging. Ada banyak macam daging disana, ada daging sapi, babi, dan ayam. Jimin jadi bingung mau pakai daging yang mana. Jadi ia memutuskan untuk memakai daging ayam. Jimin mencuci sayuran lalu memotong-motong sayuran sesuia dengan ukuran yang pas untuk sekali makan begitupula dengan daging. Menggoreng ayam setengah matang sambil membuat kuah untuk supnya. Mencampurkan gochujang, bawang putih dan bubuk cabai. Saat ia akan memasukkan ayam setengah matang ke dalam panci, seseorang memeluknya dari belakang. Jimin yang terkejut hampir saja menjatuhkan piring berisikan ayam tersbut.
"omo!"
"apa yang kau lakukan eoh, minnie?"
Jimin menolehkan kepalanya ke belakang dan menemukan Hoseok memeluknya dari belakang
"ah, hyung! Kau membuatku kaget. Untung saja ayamnya tidak jatuh."
"ahahaha, maaf. Jadi, sekarang jelaskan padaku kenapa kamu memasak?" tanya Hoseok
"eoh? Ah~ ini sebagai ucapan terimakasihku untuk kalian karena sudah membelikan baju untukku. Lemari dikamarku jadi penuh sekarang." Jawab Jimin
"hmmm... kau tidak perlu berterima kasih. Apapun yang kau butuhkan, pasti akan kami berikan. Selama itu untuk yang terbaik bagimu." Hoseok menimpali perkataan Jimin sambil membenamkan wajahnya ke ceruk leher Jimin.
"ungh~~ hyung, geli." Jimin merasa geli dibagian lehernya, karena lehernya cukup sensitif terhadap sentuhan.
"geli?" hoseok bukannya berhenti membenamkan kepalanya, ia justru semakin gencar menyentuh leher Jimin yang putih itu.
"hyung hyung... Jimin masih memasak. Nanti kalau gosong gimana?" jimin mencoba menghindar dari sentuhan yang diberikan Hoseok walaupun jauh di dalam hatinya ia menyukai sentuhan yang diberikan Hoseok. Entahlah, ia hanya merasa merindukan sentuhan ini. Ia seperti pernah merasakan sentuhan ini sebelumnya, tapi tetap saja ia masih memasak dan ia tidak mau mengambil konsekuensi untuk mengulang masakannya dari awal karena gosong.
"apa aku mengganggu acara kalian?" tiba-tiba satu suara menginterupsi kegiatan mereka. Maksudnya, kegiatan Hoseok mengganggu Jimin yang sedang memasak.
"Namjoon hyung~~ Heseok hyung mengganggu Jimin memasak." Jimin mengandu pada Namjoon
"hhhh~ Hoseok. Segera mandi dan bangunkan yang lain. Di rumah ini ada 3 kamar mandi dan du diantaranya masih kosong. Jangan ganggu Jimin, memasak?" Namjoon sedikit heran dengan Jimin yang memasak, Hoseok yang menangkap nada heran di perkataan Namjoonpun menjelaskan bahwa Jimin ingin berterimaksih karena kita sudah membelikan dia baju dan Namjoon hanya mengangguk saja.
"sudah sana cepat mandi, ini sudah malam." Perintah Namjoon ke Hoseok.
"Namjoon hyung, sini~" jimin memanggil Namjoon untuk menghampirinya.
"ada apa?" tanya Namjoon
"cobalah, apa ada yang kurang?" Jimin memberikan sendok berisikan kuah dari sup yang ia buat.
Namjoon mecobanya dan mencoba mengecap rasa dari sup buatan Jimin.
"tidak, kurasa ini sudah pas. Kamu hanya kurang menambahkan daun bawang." Namjoon memberikan saran pada Jimin
"daun bawang? Kelihatannya memang kurang daun bawang ya. Baiklah, biar Jimin ambil dulu daun bawangnya."
"ani, biar aku ambilkan. Kamu aduk saja supnya."
Namjoon mengambil daun bawang di kulkas, mencucinya lalu memotongnya kecil-kecil untuk dimasukkan ke dalam sup.
"ini, sudah kupotongkan." Kata Namjoon sambil menyodorkan daun bawangnya
"woo, makasih hyungie~~" jimin menerima daun bawang yang sudah dipotong itu.
Jimin memasukkan daun bawang dan sup itupun selesai. Jimin memindahkan sup itu kewadah yang lebih besar dan Jimin kesulitan mengangkat panci dari atas kompor, karena memang tubuhnya pendek. Namjoon yang melihat hal itu terkikik, lalu menggeser Jimin menjauhi panci. Namjoon mengangkat panci tersebut dengan mudah. Tidak seperti Jimin yang kesusahan mengangkatnya. Jimin jadi sedikit iri melihatnya.
"tidak perlu cemburut karena tinggi badanmu, min. Kau sangat manis dengan tinggi badanmu yang pendek." Ujar Namjoon
"ya hyung! Jimin tidak pendek, hanya belum tinggi!" Jimin jadi merutuki tingginya sekarang.
"sudahlah, cepat siapkan piring. Mereka sebentar lagi akan datang." Pinta Namjoon.
Jimin mengangguk meng-iyakan ucapan Namjoon dan segera menyiapkan piring, sumpit, sendok dan gelas untuk mereka semua.
.
.
.
Sekarang meja makan sudah dipenuhi oleh manusia-manusia kelaparan. Mereka makan dengan lahap. Mereka ridak menyangka bahwa Jimin bisa memasak, padahal istri mereka dulu tidak bisa memasak. 'ternyata Jimin dan dia tidak sepenuhnya sama' batin mereka
"hyungdeul, taehyungie, kookie. Jimin mau membicarakan sesuatu." Jimin tiba-tibe berkata sesuatu
"mau bicara apa, Jimin-ah?" tanya Jin
"Jimin kan masih baru disini dan Jimin masih belum tau apa-apa. Bukan sepenuhnya tidak tau, hanya saja Jimin merasa kalau Jimin cuman tau sedikit tentang kalian. Jadi bisakah nanti kalian berkumpul di ruang keluarga. Jimin mau bertanya sesuatu. Tapi kalau kalian tidak mau juga tidak masalah, Jimin tidak memaksa. Mungkin lain kali bisa." Jimin nyerocos sendiri sekarang
"tidak masalah, setelah makan dan membereskan dapur. Kita akan berkumpul di ruang tamu." Jawab Taehyung
"sungguh?"
Mereka mengangguk dan meneruskan untuk mengunyah makanan dimulutnya.
"hehe, gomawo~~" jimin tersenyum hingga matanya membentuk eyesmiles yang indah. Tidak ada yang bisa mnegalihkan pandangan mereka dari senyuman Jimin.
'manis sekali~ aku jadi ingin memakannya.'-Jungkook
'hey hey, jika aku terkena diabetes. Tersangka utamanya adalah kau, Jimin.'-Taehyung
'aku merindukan senyuman itu...'-Seokjin
'senyuman itu tetap sama, tidak, sekarang lebih indah.'-Namjoon
'tak bisakah ia berhenti tersenyum. Aku tidak tahan melihatnya, dia sangat polos.'-Yoongi
'bagaimana bisa senyumannya begitu indah. Lihat matanya, lihat bibirnya. kau sangat manis. minnie'-Hoseok
"hyung? HYUNG!" jimin memanggil mereka yang entah kenapa jadi bengong menatapi dirinya.
Jimin menyenggol tangan Seokjin yang duduk disebelahnya dan Seokjin langsung tersadar dan berdehem.
"lanjutkan makan kalian!" Seokjin yang salah tingkah karena katahuan menatapi Jimin sampai bengongpun memberikan titah bagi yang lainnya untuk melanjutkan makan mereka. Di sisi lain, Jimin ingin tertawa melihat reaksi mereka. Kelihatannya, Jimin memang berperan besar dalam kehidupan mereka dulu atau mungkin hingga sekarang.
.
.
.
.
.
.
.
TBC/END?
Hai semua! Maafkan baru update sekarang. Huks
Pendek lagi~~ aku berusaha membuatnya agak panjang tapi jadinya cmn 2k aja wordnya
Ini baru update soalnya UAS baru selesai
Dichap ini aku kasih banyak moment lho! Ada kookmin, rapmin, jihope. Eh cmn 3 sih
Yang lainnya menyusul~~~~
Semoga update yang setelah ini bakal cepat.
Jadi sekarang sudah terkuak, bagaiman Jimin dikehidupan mereka, dan bagaimana Jungkook meninggal.
Jangan lupa review ya, kritik dan saran akan sangat membantu.
Kalo ga mau review lewat FFN bisa lewat instagram lho
Ig= funny_kpopjjang DM aja okee~~~
