Mrs Kim siFujoshi
Present
~ 17 Again BL ver ~
Genre : Drama dan entahlah,, saya gak mudeng genre ^^
Rated : T
Tahu film ini kan? 17 Again nya Zac Efron?
Jadi ini versi BL nya, kekeeke ^^
.
.
Saya kasih castnya nihh :
Choi Siwon as Mike O'Donnell
Kim Kibum as Scarlett O'Donnell
Cho Kyuhyun as Margaret " Maggie " O'Donnell
Minho as Alex O'Donnell
Lee Donghae as Ned Gold ( Sorry ^^ )
Lee Hyukjae as Jane Masterson ( kepala sekolah SMA )
Kangta as pelatih Murphy
Kim Heechul as Naomi
Zhoumi as Stan ( Pacar Maggie )
Taemin as Nicole ( Pacar Alex )
sudah kelihatankan couple nya capa aja ^^v
well, enjoy reading yaaa ^^
.
.
.
Sedikit senang batin Siwon pagi ini. menjalankan mobilnya 50 km/h ditengah jalanan Seoul yang mulai memadat. Bersiul pelan mengikuti alunan lagu yang mengalun dari radio mobilnya. Menurunkan kaca jendelanya untuk menikmati udara pagi.
Sesampainya dikantor tempatnya bekerja, senyum tipis yang memamerkan dimplenya masih tersungging. Bahkan hingga rapat berlangsung.
" Perusahaan ingin menjelaskan, bahwa dalam situasi tertentu empat jam ereksi bukan hal buruk. Jadi, pastikan informasi yang kalian berikan pada konsumen semenarik mungkin. Kenapa?" CEO Kim menatap satu per satu wajah karyawannya.
" Karena aku tidak ingin obat kita kembali karena masa kadaluwarsanya sudah dekat. Aku tidak ingin ada satu botol pun yang kembali kegudang kita. Mengerti!" lanjutnya.
" Yes sir." Jawab semua karyawan tak terkecuali Siwon.
" Berikutnya, aku akan sebutkan Manejer Sales yang baru." CEO Kim tersenyum mengedarkan pandangannya.
Siwon sudah bersiap. Tersenyum yakin membenahi jas dan dasinya.
" Aku sudah berbisnis selama hampir 2 tahun. Banyak yang bertanya padaku apa yang dibutuhkan untuk menjadi manejer sales."
Siwon masih tersenyum yakin.
" Kepemimpinan."
Siwon tersenyum bangga dengan menjentikan jemarinya.
" Keberanian. Integritas."
Ibu jari Siwon menunjuk dirinya sendiri. Masih dengan senyum yakin dan percaya dirinya.
" Tapi yang paling penting adalah dedikasinya untuk perusahaan ini." CEO Kim menegakan tubuhnya. Tersenyum bangga memandang kearah Siwon.
" Selamat. Siwon." Siwon menggenggam jemari untuk simbol "Yes" nya dan siap berdiri sebelum CEO melanjutkan.
" Siwon, minggir sedikit agar aku bisa beri selamat pada Jesica!"
Ruang rapat pun langsung bergema. Tepuk tangan dan teriakan senang dari karyawan yang sebagian besar wanita tersebut memenuhi ruangan. Bahkan CEO Kim pun tepuk tangan dan bersorak dengan riangnya. Menyisakan Siwon yang masih shock dan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
" keluarlah dan jual pil – pil itu!"
Semua karywan wanita pun keluar ruang rapat. Sambil memberi salam pada CEO Kim. Siwon pun juga ikut beranjak dari kursinya. Tapi bedanya dia menghampiri CEO Kim bukannya menuju pintu keluar. Siwon menatap CEO Kim minta penjelasan.
CEO Kim menatapnya sekilas sebelum kembali sibuk dengan ponselnya.
" Ada apa Siwon-ah?"
" Ku beritahu ada apa. kau bercanda?" kini CEO Kim menatap Siwon setelah meletakan ponselnya.
" Jesica baru 2 bulan disini dan aku sudah 16 tahun. Jumlahku terbesar." Siwon mengatakanya dengan menahan emosi yang sudah sampai ubun-ubun.
" Well. Anggaplah itu sebagai pujian. Kau terlalu berharga untuk dinaikan jabatan." CEO Kim menjawabnya tenang dan menghampiri Siwon.
" Kau..."
" Yeoboseo!" CEO Kim memotong protesan Siwon karena headset ponselnya masih terpasang ditelinga kirinya.
" Ya kawan. Aku punya waktu. Aku tahu. Dengar.. dia rekan kerjaku."
Siwon yang diacuhkan tak bisa lagi menahan emosinya. Diambilnya headset CEO Kim dan meremukannya ditembok samping kepala CEO Kim. CEO Kim menatapnya pucat. Memandang horor punggung Siwon yang mulai menjauh. Keluar dari ruang rapat.
.
.
" Begitu banyak wanita tapi hanya satu yang terpilih. Kalian amat mendukung teman." Suara Jesica terdengar nyaring dengan rasa senang yang amat kentara, ketika pintu lift terbuka dan kesembilan wanita itu masuk.
Memenuhi kotak besi itu. tetap dengan senyum senang wanita – wanita itu.
" Yes. Sicca, kau berhasil." Pekik salah seorang temannya, Tifanny.
" Ohh Thanks Fanny." Jesica membalas tidak kalah lebay nya. Ekspresinya.
Beberapa wanita lagi memasuki lift hingga penuh sesak. Ditambah lagi sorakan mereka untuk Jesica.
" Hei, Sicca."
" Sicca. Chukaeyo."
" Oh, teman – teman. OMG. Gomawo." Jesica tersenyum senang setengah malu – malu singa.
" Oh Oh. Dan hebatnya lagi. Kita akan pergi ke Jeju hari jumat!" pekik Sunny senang.
" Jinjja?"
" Kyaaaa..." teriakan senang khas wanita makin memanaskan telinga dan emosi Siwon yang sejak awal sudah didalam lift.
.
.
SMHS masih sepi siang ini. terang saja jam belum menujukan pukul 1, yang berarti bel pelajaran selesai belum berbunyi.
Mobil Siwon memasuki halaman SMHS. Bermaksud menjemput anak – anaknya. Masih ada 30 menit lagi sebelum bel berbunyi. Dia putuskan untuk melihat – lihat sekolah alumninya. Pertama – tama dia memasuki gedung olahraga. Melihat kembali masalalu nya diapangan basket.
Tidak mau terlarut dalam kenangannya, Siwon melanjutkan menelusuri setiap lorong SMHS. Berjalan pelan hingga berhenti didepan lemari penghargaan. Memandang lekat beberapa piala yang dia turut ambil andil didalamnya.
Mendekati lemari kaca dilorong tersebut. Menatap foto terakhir bersama tim basketnya. Menatap kenangan masalalu. Hingga suara seseorang memanggil namanya.
" Choi Siwon – ssi!"
Siwon pun menoleh kaget. Menatap seorang penjaga tua dengan jenggot putihnya.
" Apa aku mengenalmu?" Dahi Siwon berkerut heran.
" Tidak. Tapi aku mengenalmu." Jawab pak tua itu.
Siwon menatapnya heran. Dengan sebelah alisnya yang terangkat.
" Bintang SMA. Tapi potensimu tak pernah digunakan." Ucap pak tua sambil tersenyum misterius. " Cepat atau lambat kau akan sekolah." Lanjutnya. Makin membuat Siwon heran.
" Berdiri disitu, mengenang masa-masa jaya." Lanjutnya lagi. Siwon menoleh sekilas pada fotonya. Foto tim nya.
" Bertanya – tanya apa yang bisa terjadi." Ucapnya makin misterius. " Menurutku kalian hidup dimasa lalu."
" Tentu aku ingin hidup dimasalalu. Disana lebih baik." Siwon tersenyum. Lagi, menatap foto dirinya.
Pak tua itu mengangguk paham dan tetap dengan senyum misteriusnya.
" Pasti kau mau mengulangnya lagi."
" Benar." Jawab Siwon langsung.
Mendengar jawaban yakin Siwon – meski Siwon tanpa sadar menjawabnya yakin – pak tua itu kembali mengangguk dengan senyum misteriusnya.
Dan bel pun berbunyi nyaring.
Kringgggggg !
" Kau yakin?"
" Ya!" kali ini Siwon melihat pak tua itu dari bayangannya dilemari kaca tempat piala dan foto tim nya.
" Appa?" panggil Kyuhyun – putra pertamanya – bersama ketiga temannya. Kibum, Hyukjae dan Ryeowook.
" Hai Mr. Choi." Sapa para gadis. Dengan senyum cerah remaja mereka.
" Oh. Hai." Balas Siwon. Tak lupa senyum dimplenya.
" Sedang apa kau disini?" Kyuhyun bertanya sedikit ketus. Akibat proses perceraian orangtuanya.
" Hanya bicara ..." Saat Siwon menoleh untuk menunjukan pada Kyuhyun dengan siapa dia bicara, Siwon kaget karena pak tua tadi sudah menghilang. Dia pun salah tingkah menjelaskannya.
" ... Sendirian." Jawabnya.
" Sendiri?" kyuhyun menaikan alisnya. Heran.
" Sudahlah. Aku pulang lebih awal dan kita bisa pergi makan es krim bersama." Tawar Siwon dengan senyuman mautnya.
" Bersama – sama? Kenapa?" Kyuhyun heran dengan tingkah Appa nya.
" Panggil saja adikmu." Tegas Siwon.
.
.
Saphire Blue Cafe
Disinilah mereka sekarang. Siwon, kepala keluarga Choi, Kyuhyun, putra pertamanya yang begitu manis, Minho, putra bungsunya yang terlihat manly meski agak – agak oldschool. Saphire Blue Cafe adalah sebuah cafe khusus untuk anak – anak hingga remaja. Maka tak heran kalau banyak kecil yang berkeliaran. Disamping itu cafe itu juga menyediakan area bermain dan spot – spot khusus untuk keluarganya mengawasi anak – anak mereka.
Siwon, Kyuhyun dan Minho duduk disalah satu meja tak jauh dari area bermain. Meja bundar mereka terlihat penuh dengan 3 mangkuk es krim yang Siwon pesan dan dia tahu betul apa favorit anak – anaknya. Tapi mungkin itu adalah dulu. Beberapa tahun lalu ketika Kyuhyun 2 SD dan Minho taman kanak – kanak.
Dengan ekspresi jijiknya, jemari Kyuhyun mengambi buah ceri diatas es krim vanila kesukaan dan membuangnya.
" Dulu kau suka tempat ini. kita datang kesini untuk persta ulang tahunmu." Kata Siwon. Mengamati sikap Kyuhyun yang tidak semanis dulu.
" Ya. Waktu aku 8 tahun." Kyuhyun menjawabnya ketus. Siwon mengangkat alisnya. Heran dengan sikap dingin putranya.
Kyuhyun mengambil earphonenya. Memakainya pada kedua telinganya. Tangan, kaki, tubuh dan kepalanya bergerak sesuai musik yang ditelinganya. Mulai menikmati es krim vanila, yang bagaimanapun juga adalah makanan kesukaannya.
Beralih pada Minho. Putra bungsu Siwon. asyik memainkan PSP nya tanpa menghiraukan dua orang yang tadi sempaat berdebat. Menatap lekat benda pipih itu dengan ekspresi datar. Menikmati permainan yang dia mainkan.
"Minho-ya, musim bola basket akan datang. Apa kau siap?" Siwon mulai menarik perhatian Minho.
"Ya." Jawab Minho singkat. Tanpa memandang ayahnya.
"Kau sudah melatih lemparan jauh?" Minho melirik Siwon. mengangguk singkat. "Mengoper?" Minho hanya mengangguk lagi. "Drible?" Minho kembali fokus pada PSP nya meski dia masih mengangguk menjawab Ayahnya.
"Baik." Jawab Minho kemudian.
"Baik takkan memberimu beasiswa." Sepertinya Siwon ingin mengalihkan impiannya dulu pada putra bungsunya ini.
"Maksudku, hebat." Minho mengerti. Karena setiap hari, sejak dia mulai bisa berdiri Siwon sudah memberinya bola basket dan mengajarinya macam-macam tentang basket.
"Itu anakku. Ingat! Yang penting bukan ukuran."
"Tapi cara bermain." Minho melanjutkan ucapan Siwon. terlalu hafal dengan kalimat andalan ayahnya. Siwon tersenyum senang. Mengacuhkan senyum miris Minho.
"Ayo tos!" Siwon mengangkat telapak tangan kanannya.
"Kyu-hyung diterima di Seoul University." Minho mengangkat alisnya. Tersenyum jail. Manatap hyungnya. Tidak menanggapi tos-an Siwon.
"Kyu, itu hebat." Tapi Kyuhyun masih asyik dengan earphonenya. "Bisa kecilkan." Pinta Siwon mulai jengkel.
Siwon merah kabel earphone Kyuhyun dimeja. Menulusurinya hingga menemukan ujungnya. Yang ternyata tidak dicolokan dengan barang elektronik manapun. Siwon menatap aneh Kyuhyun. Meski sudah ketahuan, Kyuhyun tetap menggerakan tubuhnya sambil menikmati eskrimnya. Mengacuhkan tatapan aneh Siwon yang sudah siap meledak.
.
.
Dirumah Siwon, ah! mantan rumahnya. Karena dia dan istrinya – Kibum – sudah sepakat bahwa rumah itu akan ditempati Kibum dan kedua putra mereka. Siwon belum mematikan mesin mobilnya, tapi kedua putranya sudah keluar dan bergegas masuk kedalam. Mengacuhkan ayah mereka. Tidak peduli dengan kata-kata sayang Siwon.
"Sampai jumpa anak-anak." Siwon keluar dari mobilnya. Menatap punggung anak-anaknya yang bahkan tidak menoleh sedikitpun.
"Aku sayang kalian. Senang mengobrol dengan kalian."
Siwon masih menatap punggung anak-anaknya hingga pintu rumah ditutup keras, ketika dia mendengar suara berisik mesin pemotong dan suara pohon tumbang dihalaman belakang/samping rumahnya.
Melepas kacamata hitamnya, Siwon mendekati halaman. Membuka pintu sebatas pinggangnya. Melihat istrinya – mantan – memasukan barang-barang yang entah apa saja kedalam mesin pemotong.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Siwon. sadar jika saat ini Kibum memakai penutup telinga. Ditambah lagi suara bising dari mesin pemotong.
Siwon berjalan mendekati Kibum karena Kibum mengacuhkannya. Meneriakan pertanyaan yang sama, "Apa yang kau lakukan?" hingga dia melihat apa yang Kibum masukan kedalam mesin pemotong. Ransel kulit coklat. Tingkat baseball. Peralatan kerja.
"Hei! Itu barang-barangku." Seru Siwon. sedikit naik amarahnya.
Tapi Kibum tetap memasukan sisa barang-barang Siwon di box itu. siwon pun membiarkannya, karena merasa barang-barang itu sudah tidak begitu dia perlukan. Barang-barang pentingnya sudah dia angkut kerumah Donghae beberapa malam lalu. Mata Siwon menjelajah halaman. Terlihat berantakan dengan beberapa pohon yang tumbang ataupun yang rusak.
"Kenapa kau merusak halaman kita?" tanya Siwon heran.
Kibum mematikan mesin pemotong setelah barang terakhir. Melepas kacamata pelindung dan menurunkan penutup telinganya yang disangkutkan pada lehernya.
"Ini halamanku, ingat?" jawab Kibum sinis. Ya. Siwon mengingat kesepakatannya. Kesepakatan yang dia buat dalam keadaan emosi.
"Aku mau mengubahnya menjadi karya seni untuk klienku." Kibum menjelaskan. Melihat tatapan bertanya Siwon.
"Klien apa?"
"Perancang tata letak." Siwon manggut-manggut. Ingat bakat Kibum menata ruangan hingga terlihat seimbang dan nyaman.
"Akan kutunjukan kemampuanku pada semua orang."
"Perceraian kita baru resmi 2 minggu lagi. Kau tidak berhak." Siwon mulai protes. Bagaimanapun juga, hati kecilnya masih mencintai Kibum. Tapi egonya terlalu tinggi.
"Benarkah?" balas Kibum sengit. "Kuhabiskan 18 tahun hidupku untuk mendengar keluhanmu soal hal-hal yang bisa kau lakukan tanpaku. Dan aku tak berhak?" Kibum terus bergerak membereskan kekacuan dihalamannya.
"Aku bekerja keras untuk halaman ini." balas Siwon.
"Oh, benarkah? Seperti tempat barbekyu itu?" Kibum menghempaskan batang pohon yang dipindahnya. Berkacak pinggang didepan Siwon.
Siwon menoleh. Menatap nanar tempat barbekyu yang bahkan belum setengah jadi dan ditinggalkan begitu saja.
"Kau mengerjakannya 1 jam dan selama 2 hari kau mengeluh." Kibum menambahkan.
"Tidak dua hari penuh." Bantah Siwon.
"Atau tempat tidur gantung itu?" lagi-lagi Siwon menatapnya nanar. Bahkan simpulnya terlihat begitu berantakan. Apa Siwon tidak pernah mengikuti kegiatan pramuka?
"Kau berhenti mengerjakannya karena tak ingin mencobanya lagi." Kibum mulai terengah. Entah sejak kapan, bicara dengan Siwon membuatnya lelah.
"Aku melihat dari sudut pandangku. Aku kecewa dengan hidupku." Siwon mulai berargumen.
"Aku tak minta kau menikahiku."
"Tapi aku menikahimu."
Kibum tidak bisa menjawabnya. Bibirnya membuka menutup. Tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk membalas Siwon. hingga akhirnya dia menghela nafas. Menetralkan emosinya.
"Kau tak perlu menolongku lagi, kita takkan saling menahan lagi." Kibum mengambil langkah meninggalkan Siwon.
"Bummie.." Siwon tentu saja mengejarnya.
"Sampai jumpa dipengadilan." Seru Kibum.
"Kibum-ah." teriakan melengking memanggil Kibum.
"Chullie. Kau datang." Kibum setengah berlari menghampiri sahabat baiknya. Memeluknya sekilas. Cium pipi kanan-pipi kiri.
"Tentu saja. Pendamping macam apa aku jika tidak menemanimu diperceraian?"
"Ingat! Yang pertama selalu yang terberat." Nasehat Heechul. Mereka berjalan beriringan masuk kedalam, melewati Siwon.
"Hai, Siwon."
"Hechul."
"Heechul."
"I dont care."
Heechul memutar bola matanya bosan.
"Kita harus siapkan dirimu untuk kembali dipasarkan." Ucap Heechul dengan perumpamaan yang begitu gamblang.
"Yang benar saja." Protes Siwon.
"Ibu tunggal dengan 2 anak remaja dan serbuk kue dijari kuku." Geurut Kibum. Masih bisa didengar Siwon.
"Tenang saja, kau punya bottom anak usia 12." Canda Heechul, yang lagi-lagi agak sedikit gamblang.
"Hebat. Semoga putri kita mendengarnya." Sahut Siwon setengah berteriak. Mereka – HeeBum – menoleh.
Tapi Heechul tidak peduli. Dia kembali melangkah dengan tetap bertanya-tanya memperhatikan penampilan Kibum.
"Kapan terakhir kau luluran?" Siwon masih mengernyit heran. Sepertinya sahabat istrinya – mantan – ini begitu senang dengan perceraiannya.
Kibum masih menatap Siwon dengan ekspresi yang tidak bisa diungkapkan sebelum mengucapkan,"Bye Wonnie." Dan masuk kedalam, menyusul Heechul.
Meninggalkan Siwon dihalaman. Yang mulai dijatuhi beberapa tetesan air dari langit. Hujan. Mengikuti apa yang pernah dilihat didrama, Siwon mendongak menatap langit yang jelas-jelas mulai mendung dan gerimis. Bukannya segera bergegas kemobilnya. -.-"
.
.
Hujan turun dengan derasnya ketika Siwon mengemudikan mobilnya kembali kerumah Donghae. dengan kecepatan 50 km/jam melintasi jalanan Seoul yang mulai licin dan meski hanya beberapa saja kendaraan dijalan raya. Jemari memutar-mutar channel radionya. Mencari sedikit hiburan karena suara hujan yang beradu dengan kap mobilnya mulai membuatnya bosan.
"Kau yakin?" suara merdu Taylor Swift yang bernyanyi "You Belong With Me" digantikan suara seorang pria. Yang kedengarannya familiar ditelinga Siwon.
Siwon menatap radionya heran. Tidak lama. Beberapa detik kemudian Taylor Swift melanjutkan nyanyiannya.
"Astaga!" Suara petir mengagetkan Siwon.
Matanya menjelajah jembatan yang dilaluinya. Tidak sengaja – seperti sudah ditakdirkan – Siwon melihat sesosok tubuh yang berdiri dipembatas jembatan. Siwon meyakinkan penglihatannya ketika kilatan petir menyinari sekitar jalan.
Penasaran dan jiwa penolongnya yang memang tidak pernah luntur, Siwon menghentikan mobilnya dan keluar menghampiri orang dipinggir jembatan.
"Hei. Turun dari situ!" teriak Siwon. mengacuhkan pakaiannya yang mulai basah kuyup, Siwon menyeberang jalan. Mendekati sosok itu.
Mendengar teriakan seseorang, sosok itu menoleh. Yakin kalau itu Siwon, dia tersenyum sambil mengankat sedikit kepalanya. Siwon mengenalnya. Ah, pernah melihat dan berbincang dengan orang itu. tukang kebersihan SMHS dengan jenggot putih. Membuat langkah Siwon terhenti. Tidak jauh dari mobilnya tapi belum sampai tengah jalan.
Ketika sebuah truk besar melintas dan berlalu, sosok itu menghilang. Siwon terkaget dan segera berlari menghampiri tempat dimana sosok tadi berdiri. Menjulurkan kepalanya melihat sunga dibawah jembatan. Arusnya begitu deras.
"Oh tidak. Halo?" Siwon berteriak memanggil. Karena dia tidak tahu namanya.
Siwon menaikan kaki kanannya pada pembatas jembatan, berusaha memperluas jarak pandangnya. Tiba-tiba air sungai dibawahnya membentuk pusaran air. Siwon melihat bayangan seseorang yang sangat dia kenal betul siapa.
"What the F**k!" umpat Siwon. karena yang dia lihat adalah dirinya diusia 17 tahun. Tengah melambaikan tangan padanya.
Entah bodoh atau apa, Siwon balas melambai. Melepaskan pegangannya. Dan ,,,
"Waaaaaaaaa..."
Byur!
_tbc_
*fiuhhhhh
Sudah panjang nih *NyengirWATADOS
Bagaimana? Bagaimana?
.
.
Terimakasih untuk Reader-san yang mendukung story remake-an dari film favorit saya "17 Again"
#deepbow
Terimakasih kritikan dan saran kalian
#deepbow
Maaf buat yang kecewa ini bukan WonKyu *smile
Tapi kalau kalian lihat filmnya dan castnya sudah saya beritahukan diataskan,
Kalian para WKS akan menemukan WonKyu nanti di FF ini *smirk
.
.
Yoshhhh!
Last, saya bagi-bagi kotak review gratis nih *nyengir
