Dari sebuah film yang menjadi kesukaan mereka, para pria ini mencoba meniru adegannya untuk sekedar menggoda dan sebagai ajang pendekatan yang cukup sukses.
Disclaimer : Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi
Warning : M for mature scene, AU, Parody, typo, OOC, & OC.
Inspired by Harry Potter and The Order of the Phoenix (2007)
Character x Reader
…
"Arigatou, Oneechan." Anak-anak itu tersenyum padamu. Wajah ceria mereka membuatmu semakin menghangat. Kau begitu menyukai anak-anak, dan kali ini kau sudah membuat acara yang begitu besar di rumah sederhanamu tepat ketika hari ulang tahunmu. Kau tidak mengatakan pada mereka bahwa hari ini adalah hari ulang tahunmu, tapi kau begitu senang menghabiskan waktu seharian ini bersama anak-anak dari panti asuhan milik mendiang ibumu.
Setelah melepaskan kepergian anak-anak itu pulang kau memandangi gambar-gambar yang telah kalian lukis dengan senyum yang tak lepas dari wajahmu. Setelah kau menyempurnakan gambar mereka dengan cat khusus, kau pun membersihkan dirimu dan mengenakan gaun putih tanpa lengan yang selalu kau gunakan saat tidur dan juga saat menggoda priamu.
"Tadaima," suara berat dan terdengar letih itu membuatmu menolehkan kepala ke arah lorong tempat biasa pria itu muncul, tanpa membuatmu beranjak dari sofa nyamanmu.
"Daiki," katamu sambil memberikan senyuman terbaikmu.
Ia membelalakan matanya melihat kekacauan yang ada di depannya.
"Ada apa ini?" serunya sambil memandangmu meminta penjelasan.
Kau memandang pria bernama Aomine Daiki itu dengan senyum meminta maaf. "Duduklah! Akan kubuatkan kau teh."
Daiki menghela napas sambil melonggarkan dasinya dengan setengah gusar melihat kekacauan di rumahmu. Terlihat beberapa kaleng cat dan juga piring-piring yang tadinya terisi penuh dengan makanan kini kosong dan hanya tersisa beberapa remah makanan. Tak lupa juga lukisan khas anak-anak yang dirapikan olehmu menghiasi dinding yang awalnya berwarna putih itu.
"Ini." Katamu sambil menyodorkan secangkir teh padanya. Kau mulai mengambil piring-piring sisa makanan dan menumpuknya menjadi satu.
"Uhuk!"
Kau mendongak kaget mendengar suara Daiki yang sepertinya tersedak minum teh. "Daiki, kau tak apa?"
Daiki berdeham sambil berusaha mengalihkan pandangannya darimu. "Aku ingin mandi." Katanya masih mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Oh." Gumammu pelan. Entah kenapa, kau tiba-tiba merasa kecewa melihat sikapnya yang menjadi dingin seperti ini. Kau angkat bahu dan melanjutkan pekerjaanmu sampai selesai lalu kembali ke kamarmu.
Baru saja kau membuka pintu, kau kembali menutupnya dan keluar. Kau mengernyit heran dan memastikan bahwa yang tadi kau masuki adalah benar-benar kamarmu.
"Kenapa tidak masuk?" suara Daiki membuatmu terlonjak.
"Daiki, kau membuatku terkejut."
Pria berkulit gelap itu menggosok rambutnya yang basah dengan handuk. Ia hanya mengenakan celana yang tadi dipakainya tanpa atasan. Membuatmu dapat melihat betapa kekar dan sehat tubuhnya yang dipakainya latihan dan sesekali bermain basket di akhir pekan dengan rekan-rekannya dulu saat sekolah.
Tak berapa lama mengagumi dirinya, kau mengernyit heran memandang pria itu. Bukankah pria itu mandi sejam yang lalu? Tapi, kenapa pria itu seolah-olah baru saja mandi sekarang?
"Kau yang membuatku seperti ini." Katanya. Kau terkejut begitu menyadari telah mengutarakan apa yang kau pikirkan tadi dalam kata-kata. Ia menyeringai. "Aku harus meredakannya sebelum aku mengacaukannya."
Melihat seringaian itu membuat wajahmu memanas tiba-tiba. Kau mengalihkan pandanganmu dan mendapati sebuah hiasan mistletoe di atas pintu. "Siapa yang memasangnya di sana? Bukankah sekarang tidak sedang ada perayaan Natal?"
"Aku yang memasangnya." Jawabnya masih dengan seringaiannya.
"Lalu?"
"Seseorang yang berdiri di bawah mistletoe boleh mencium seseorang yang disukainya."
Kau mengerjapkan matamu tak mengerti. Kau jelas tahu itu sejak kau menonton film ke-lima dari Harry Potter saga, di mana Harry mencium Cho di bawah mistletoe. Dan, kau yang memasang wajah bingung kini memandang Daiki dengan pandangan kosong dan hanya mengucapkan 'oh'. Namun, belum sempat kau menarik napas untuk bertanya, dia telah menekanmu ke pintu dan menciummu dengan ganas. Ciumannya yang begitu dalam padamu membuatmu sesak dan lemas di saat yang bersamaan, sehingga kau berusaha menyimpan tenagamu dan mengambil ancang-ancang.
Kau mendorong pria itu sekuat tenaga sampai ia melepaskan ciumannya dan memandangmu yang terengah-engah. Tak lama kemudian, ia mendorong pintu di belakangmu dan juga dirimu ke dalam kamar dan menutupnya. Kau lagi-lagi memandang hiasan mistletoe yang berada di setiap dinding kamarmu. Ia menciummu lagi, kali ini lebih lembut dari yang tadi.
"Aku pencium yang baikkan dari pada bocah remaja berkacamata itu?" bisiknya.
Kau membulatkan matamu tak percaya. Daiki melakukan ini hanya agar suasananya mirip scene kesukaanmu pada film yang begitu kau tonton membuatmu terkikik geli. Kau bahkan tidak tahu bahwa Daiki mengetahui itu.
"Ah," kau terpekik kecil begitu pria itu menurunkan salah satu tali tipis gaunmu, mengecupi dadamu dan memberikan tanda bahwa kau miliknya. "Daiki-" suaramu tercekat ditenggorokan saat ia menghisap puncaknya dan memanjakannya dengan lidahnya.
Kau menggeliat tak nyaman saat dinding kamarmu yang dingin menyentuh punggungmu yang mulai berkeringat lagi, sedangkan pria itu membenarkan tali gaun tadi dan melakukan hal yang sama pada tali satunya dan juga dadanya. Kau hanya bisa mendesah sambil menjeritkan namanya saat kau merasa tidak tahan akan sentuhannya pada tubuhmu.
"Saat kau membungkuk tadi," bisiknya disela-sela menggoda dadamu dengan tangan dan lidahnya. "bagian ini menggodaku."
Daiki menyeringai melihat ekspresimu yang kini memandang horror ke arahnya, namun sedetik kemudian kau lagi-lagi memandangnya dengan mata sayu dan penuh damba seakan-akan kau memberikannya izin untuk melakukan apa pun terhadapmu. Membuatnya semakin bersemangat menggoda bagian lain tubuhmu dan melihat respon yang kau tunjukkan.
"Aku suka, bagian ini." Bisiknya sambil menangkup dadamu yang satunya, yang masih terbalut gaun tidurmu. "Tidak terlalu besar dan aku akan dengan senang hati melihatnya semakin membesar karena permainanku."
"Aomine Keiji!" pekikmu dengan wajah merah. Kau begitu malu mendengar kata-katanya yang begitu menggodamu dan membuat bagian bawahmu terasa basah dan… oh, tunggu! Apa itu yang menggelitik di bagian bawahmu? Ugh…
Pria yang berprofesi sebagai Opsir Polisi itu memperlebar seringainya dan memainkan milikmu dengan jarinya. Kau menyerah pasrah dalam sentuhannya dan mendesah saat kedua jari itu menekanmu dengan kuat lalu menariknya keluar, dan menghujam lagi.
"Daiki!" jeritmu saat kau hampir merasakan pelepasanmu. Tapi, Daiki tak mengizinkannya dan menarik jarinya keluar dan membuat kau merasakan kekosongan dalam dirimu. Kau membuka matamu yang berkabut dan memandangnya dengan lemas. Ia menangkap tubuhmu yang oleng dan terus menahannya agar tetap menempel ke dinding kamarmu.
"Apa sentuhanku begitu menyenangkan?" tanyanya masih menyeringai.
Kau memandangnya dengan tubuh gemetaran dan lemah. Kau menginginkannya. Sangat. Tapi, kau begitu malu mengakuinya. "Daiki," katamu dengan lemah.
Tanpa mengatakan apa-apa, pria itu melepaskan celananya dan menyatukan dirinya dengan dirimu perlahan. Ia menarik kedua kakimu agar melingkar di pinggangnya sambil memandang dan memastikan bahwa kau nyaman dan tidak menyakitimu. Setelah kau terlihat nyaman, barulah ia mulai menekan ke dalam dirimu tanpa henti. Kau memejamkan matamu dan menjeritkan namanya disela-sela desahan, tanpa kau sadari panggilanmu membuatnya semakin bersemangat untuk membuatmu lemas dalam dekapannya.
Daiki terus saja bergerak di dalammu dan membuatmu semakin kewalahan. Kau mencengkeram bahu pria itu dan menjerit begitu kau rasakan cairanmu akan keluar. Namun, Daiki menghentikan gerakannya, membuatmu seakan ingin menangisi pelepasanmu yang lagi-lagi tak tersalurkan.
"Daiki," bisikmu dengan gemetar dan lemas. Tanpa mengeluarkan miliknya dari dalam milikmu, ia memandangmu dengan senyum tulusnya dan mengusap rambutmu. "Selamat ulang tahun."
Matamu yang sejak tadi berkaca-kaca, kini mengair turun di pipimu. Sambil menarik napas kau memaksakan diri tersenyum. Kau yakin Daiki memiliki alasan tersendiri mengapa melakukan ini padamu.
"Maafkan aku untuk semua kekuranganku sebagai suamimu." Katanya sambil memandang dengan pandangan serius. "Dan, di hari ulang tahunmu ini, aku ingin mengatakan bahwa… aku sudah siap untuk menjadi seorang ayah."
Kau memandang Daiki dengan setengah tak percaya. Selama dua tahun pernikahan kalian, ini adalah hari yang kau nanti-nantikan kedatangannya. Hari di mana Daiki bersedia untuk memiliki anak darimu.
"Hei, kenapa kau menangis?" katanya terkejut melihatmu yang mulai terisak dengan keras. "Kau tidak ingin memiliki anak dariku?"
Kau memukul dadanya dengan keras. "Tentu saja bodoh!" serumu dengan setengah kesal, namun senyum bahagia melengkung di bibirmu. "Ini adalah hari yang kunantikan sejak kau melamarku."
"Maaf membuatmu menungguku."
Kau menggeleng dalam dekapannya. "Tak apa." katanya. "Asal denganmu, semua akan baik-baik saja."
Daiki tersenyum, dengan perlahan ia melepaskan miliknya dari cengkeraman hangat milikmu dan membawamu dengan perlahan ke tempat tidur milik kalian. Kau begitu menikmati saat ia mulai melepaskan gaun tidurmu dan melakukannya perlahan-lahan dan berulang sepanjang malam. Membuatmu begitu kecanduan akan sensasi cairan miliknya yang terus mengalir dan memenuhi milikmu.
"Terima kasih Daiki." Lirihmu sebelum jatuh tertidur saat dini hari tiba.
Daiki tersenyum sambil mengecup puncak kepalamu dan membisikkan kata cintanya disela kantuk yang menyerangmu.
Owari
Thanks for read, follow, and review (sherrysakura99-san, yume-nyaa-san, Silvia-KI chan, Reiki sa reta-san, Misaki Younna-san, Kaito Akahime-san, Lucia Michaelis-san, gothicgirl. angel-san, michelle. hadiwijaya-san, eun88-san, IshiYumi-san, reina-tsu27-san, giovina. fr-san, NKN0624-san, Arisa Hamada-san, Sabila Foster-san, Kumada Chiyu-san, dan Kisasa Kaguya-san).
Perolehan request:
Kise = 2
Aomine = 5
Himuro = 1
Midorima = 2
Kagami = 3
Yak, yang mau ngebata saya silahkan. Hiks… saya bikin si Aho OOC kayaknya. Maafin saya yaaa? Hiks… #nangis
Omodettou gozaimasu, untuk para penggemar Aomine yang menunggu update-an bagiannya. Semoga kalian menikmati bacaan ber-rating ekstrim yang saya buat. Sekali lagi, terima kasih. J
