Yeah..

Let's get it started sajalah!

Ini gaperlu dibaca.

Langsung di-skip juga gamasalah kok... Ini kan cuman pembuka gapentingnya author :)

Oiya... Naruto punyanya Om Masashi


III. The Master-pieces

Mata Sasuke terbuka lebar. Ia belum mendengar siapapun berjalan di koridor untuk memulai hari. Jam di dindingnya masih menunjukkan pukul empat pagi. Dan siapapun yang sudah terbangun, pastinya masih belum rela meninggalkan kamar yang hangat. Mungkin pengecualian untuk Sasuke yang sudah sibuk memutar kembali susunan acara di kepalanya.

Hari ini adalah hari B.

Baiklah, akan kujelaskan sedikit.

Umumnya sebuah rencana akan disebut dengan hari H. Tetapi rencana Sasuke adalah rencana beruntun dan melibatkan lebih dari satu rencana. Jadi rencana-rencananya diberi label A,B,C dan seterusnya –tergantung mood penulis ^^-. Hari A adalah hari kedatangan Sasuke ke kediaman Haruno dan tinggal di dalamnya dan pekerjaan samarannya.

Dan hari B adalah hari yang akan mempertaruhkan nama Ikuta Toma sebagai salah satu pembantu kepercayaan keluarga Haruno. Hari saat Toma menyelamatkan Sakura dari bahaya, atau begitulah kelihatannya.

Nah! Masalahnya sekarang adalah.. Umm.. belum jadi masalah sih. Hanya saja, Sasuke mulai mempertanyakan misinya. Dari dulu dia paling malas menerima misi yang melibatkan berhari-hari sampai berminggu-minggu di dekat target. Karena seperti yang terjadi sekarang, perasaannya pasti akan berubah. Apalagi dia memiliki banyak sekali waktu luang untuk menganalisa ini-itu.

Dan Sakura adalah target pertamanya yang membuatnya berpikir panjang lebar. Bukan hanya karena kenyataan kalau gadis itu tidak perlu dibunuh (karena toh nanti dia pasti mati juga), dan juga hubungan Sakura dengan kakaknya yang membuat Sakura menyandang gelar "Calon Kakak Ipar", tetapi beberapa hari ini cara Sakura menatapnya benar-benar membuatnya tidak tenang.

Apakah Sakura menyadari kemiripannya dengan Itachi? Padahal Sasuke sudah menghilangkan semua ciri khas Sasuke yang begitu ke-Uchiha-an. Hidung palsu pemberian Shizune yang membuat hidungnya kelihatan bengkok, poni rambut yang diikat ke belakang, kontak lens abu-abu terang yang menyempurnakan wajahnya yang pucat, kalau bukan orang yang sangat-sangat dekat, pasti tidak akan mengenali siapa Sasuke sebenarnya.

Dan satu lagi yang membuat Sasuke waspada. Bagaimana mungkin Sakura beberapa kali berhasil mengejutkannya? Setahunya taekwondo tidak mengajarkan apapun tentang jurus 'menghilangkan hawa kehadiran'. Yah, walaupun akhirnya ia memaafkannya karena mengingat Sakura sudah lama memegang gelar sabuk hitamnya.

Mungkin akan jadi masalah kalau Sakura sampai merasakan hawa pembunuh di dekatnya.


Sore itu sinar matahari masih tersisa dan bersinar keemasan di sepanjang jalan turun Sakura Hill*. Seorang pemuda berambut pirang mencuat mengayuh sepeda di sepanjang jalan sambil bersiul riang. Rambutnya yang pirang bersinar keemasan tertimpa cahaya matahari sore. Bingkai kacamatanya yang tebal ikut memantulkan sisa cahaya matahari. Dan kotak gitar yang tergantung di punggungnya seolah ikut menambah tampilan riangnya.

Sepedanya meluncur dengan cukup cepat di turunan jalan dan menghilang dengan cepat ke dalam rimbunnya pepohonan di sebuah hutan kecil. Sejenak burung-burung dan serangga yang meramaikan hutan kecil itu terdiam dan waspada. Tetapi setelah mereka tidak merasakan bahaya apapun, mereka kembali berkicau dengan ramai, kembali ke sarang-sarang mereka.

Perlahan cahaya matahari mulai berubah menjadi oranye dan kemudian menghilang, meninggalkan cahaya bintang-bintang yang redup mulai nampak di langit yang menggelap.

Suara kicauan burung berhenti dan digantikan serangga malam. Pemuda bersepeda itu masih ada di dalam hutan. Dengan tenang duduk bersandar di bawah pohon sambil memeluk kotak gitarnya.

120 menit hingga Hari B berakhir.


"Sakura, bagaimana testmu hari ini?" tanya wanita setengah baya berambut merah di meja makan saat keluarga Haruno makan malam.

"Test yang mana? Yang di rumah sakit atau di kampus?" Sakura berhenti sebentar menusuk buncis di piringnya. Senyumannya terkembang sedikit dan meneruskan, "Baik..baik.. ibu tenang saja. Semua berjalan normal, sesuai dengan rencana," jelas Sakura santai kemudian menusuk sepotong buncis dan mengunyahnya.

"Ya, kau terlalu khawatir, Sayang. Aku justru heran kalau hasil test di rumah sakit akan buruk melihatnya menari-nari di balkonnya tadi sepulang dari kampus,"

"Ayah! Aku tidak menari di balkon!" gerutu Sakura disambut tawa riang ayahnya. Wanita berambut merah di ujung meja hanya tertawa pelan melihat putri dan suaminya mulai berdebat. Keluarga itu cukup jarang bisa makan malam bersama seperti ini, jadi ini adalah salah satu hal yang sangat menyenangkan, ditambah berita tentang kondisi Sakura yang belakangan ini cukup stabil.

"Oh, ya. Bagaimana kabar Itachi? Kapan kau akan mengajaknya ke rumah? Nenek ingin sekali bertemu dengannya. Nenek ingin berterima kasih karena pemuda itu sepertinya meningkatkan daya tahan tubuhmu Sakura," seorang wanita tua berambut kelabu yang digulung menggoda Sakura sambil menyunggingkan senyuman usilnya yang keriput.

"Apanya! Daya tahan Sakura meningkat karena aku berjanji mengajaknya berlibur ke Italia liburan semester nanti!" tolak ayah Sakura tidak terima mendengar ada pria lain yang mampu menaikkan semangat putrinya tercinta.

"Waah.. ayah cemburu?" goda ibu Sakura. Dan ketiga wanita di meja makan itu hanya tertawa dengan perubahan wajah ayah Sakura. Mereka berempat tetap duduk di meja makan setelah selesai makan dan masih mengobrol. Belum ada yang rela meninggalkan meja hingga akhirnya Hidan datang sambil membawa telepon yang diberikannya pada ayah Sakura.

"Ayo nenek! Kuantar sampai ke kamar!" Sakura dengan semangat menghampiri kursi neneknya dan menarik kursinya agar neneknya bisa berdiri dengan mudah.

"Kau sibuk malam ini Sakura?"

"Umm.. Tidak. Aku sudah menyelesaikan pr-ku sepulang sekolah tadi," jawab Sakura dengan senyuman lebar dan neneknya hanya menggeleng-geleng saja. Sakura tidak pernah mau menjelaskan panjang lebar tentang kuliah, tugas, skripsi dan sebagainya kalau mengobrol dengan neneknya. Semuanya sesimpel pr dan sekolah dan mungkin ekstrakurikuler.

"Aku belum mau ke kamar. Ayo temani nenek dulu,"

"Siap! Nenek mau apa malam-malam? Kita main jelangkung lagi?"

"Hush! Jangan menyeret nenek dalam ke dunia gelap!" tolak nenek Sakura sambil berjengit ngeri. Dan Sakura menuntun neneknya sampai di ruang duduk yang menghadap ke halaman belakang.

"Nenek mau di sini saja? Apa tidak dingin? Biar kuambilkan selimut kalau begitu," Sakura bergegas meninggalkan neneknya mencarikan selimut. Ia melihat sosok berkulit pucat melintas dan segera memanggilkanya.

"Toma!"

Sasuke yang seharian ini memasang perhatian penuh pada Sakura langsung berbalik dan menghampiri Sakura, menanyakan apa yang diperlukannya.

"Tolong ambilkan selimut kecil. Aku mau ke dapur," jawab Sakura diiringi senyuman manis. Tanpa menambah informasi apapun, Sakura langsung meninggalkan Sasuke terbengong di koridor sedangkan ia langsung berjalan menuju dapur.

Sasuke segera mencari selimut dan membawanya ke dapur bersamaan dengan Sakura yang membawa nampan dengan dua cangkir mengepul beraroma coklat.

"Oh, itu untuk nenek. Nenek menunggu di ruang duduk di belakang," Sakura menjelaskan melihat wajah bertanya Sasuke. "Ah, sini selimutnya. Kalian baru mau makan malam kan? Maaf mengganggu," lanjut Sakura teringat kalau Sasuke harus makan malam dengan yang lain.

"Tidak apa-apa. Lagipula, Nona kelihatannya repot. Biar kubawakan. Hanya akan terlambat sedikit kok,"

"Wah.. kau belum pernah terlambat makan malam kan? Kotetsu itu makannya banyak sekali lho! Jangan sampai bagianmu ikut dihabiskan saja olehnya," goda Sakura disambut senyuman sopan Sasuke yang diajarkan Neji padanya. Saat itu tiba-tiba suara nyaring memenuhi koridor tempat mereka berjalan.

Pecahan kaca terbang tampak berkilauan tertimpa cahaya lampu kekuningan di koridor saat dengan cepat Sasuke merangkul Sakura yang sudah melemparkan nampannya dan melindungi kepalanya sendiri. Sasuke berusaha menutupi Sakura dari jendela dan membawanya menyingkir dari jendela. Suara kaca pecah terdengar lagi dan selanjutnya yang terdengar adalah erangan Sasuke.

"Toma!"

"Nona! Anda tidak apa-apa?" dua orang pria berpakaian gelap muncul dari ujung koridor dengan panik. Tiba-tiba seluruh halaman tampak terang benderang dan mulai terdengar suara anjing-anjing menggonggong.

"Sakura! Kau terluka?" pria berambut keperakan mencuat yang berhasil memisahkan Sakura dari Sasuke langsung menscan seluruh tubuh Sakura saat melihat percikan berwarna merah di lengan baju Sakura.

"Bukan. Ini Toma. Dia terluka. Tolong dia Kakashi-san!"

Malam yang tenang itupun berakhir dengan ketegangan. Sasuke hanya terluka sedikit. Lengannya hanya terserempet peluru. Kata Kakashi, mereka cukup beruntung karena mereka tidak terluka cukup parah mengingat hampir seluruh kaca pecah berantakan. Dokter pribadi Sakura langsung didatangkan untuk memeriksa kondisi Sakura yang ditakutkan langsung drop karena shock.

Ayah Sakura langsung membatalkan perjalanannya besok pagi, dia tidak mau mendengar kata-kata Sakura yang memintanya agar tidak khawatir dengan keadaannya.

"Bagaimana aku tidak khawatir. Ada yang berusaha menembak putriku!"

"Tidak perlu sepanik itu, toh aku juga bisa setiap saat mati. Tidak akan ada bedanya ayah,"

"Tolong jangan berbicara begitu, Sayang!" ibu Sakura langsung memegang tangan Sakura erat-erat. Mereka tahu putrinya ini tidak akan berumur panjang, tetapi mendengar kata 'mati' keluar dari mulut Sakura, berapa kalipun mereka tidak pernah biasa.

"Besok jangan pergi ke kampus dulu,"

"Ayah! Besok aku ada ujian!"

"Tidak bisakah... ugh.. baiklah. Kakashi akan menemanimu mulai besok," ayah Sakura langsung menyerah. Tidak ada gunanya berdebat dengan Sakura. Malam itu, ia sama sekali tidak bisa tidur dan memilih duduk bersama Hidan yang menerima update dari tim penyelidik. Dan hingga akhirnya jam menunjukkan pukul tiga pagi, mereka tetap tidak mengalami kemajuan apapun. Siapapun yang berusaha menembak Sakura, adalah seorang profesional.


Di kamarnya, Sasuke akhirnya bisa tidur dengan tenang setelah Ayame memberinya antibiotik dan meninggalkannya untuk beristirahat. Obat antibiotik yang ditelannya membantunya tertidur sambil memikirkan keberuntungannya. Lukanya tidak dalam. Dan syukurlah akhirnya dia bisa sedikit lebih tenang sekarang, ditambah bonus besok pagi bisa bangun kesiangan, kalau sedang beruntung, Ayame akan membawakan sarapan ke kamarnya.

Syukurlah mereka memberikan tugas pada Naruto.


Pagi itu Sasuke bangun dengan perasaan tidak enak. Tubuhnya agak demam. Dan dengan malas dia bangun dan berjalan menuju dapur. Di dapur, semua sedang berkumpul. Rupanya semua baru saja selesai sarapan.

"Toma, kau sudah bangun?" sambut Ayame yang langsung menghampiri Sasuke dan menatap wajahnya yang memerah. "Kau memang demam, seperti kata Kakashi-san. Ayo duduklah," Ayame mendudukkan Sasuke ke kursi kosong di sebelah Kotetsu. Semua langsung menatap wajah Sasuke yang agak memerah seolah merasa kasihan padanya.

"Um.. ada apa?" tanya Sasuke setelah meneguk segelas air. Dia tidak pernah terbiasa menerima tatapan berbentuk apapun dari siapapun.

"Toma, boleh aku memelukmu?" tanya Kotetsu tiba-tiba membuat Sasuke berjengit. "Kau menyelamatkan Nona Sakura dan mengorbankan keselamatanmu sendiri demi Nona Sakuraku! Rasanya pelukan tidak akan cukup untuk menyampaikan rasa terimakasihku padamu.. Aduh! Apa-apaan kau Shizuku!" Kotetsu langsung menghilangkan wajah terharunya dan mendelik pada wanita berambut jingga pendek di ujung meja yang barusan melemparnya dengan sendok kayu.

"Nona Sakura bukan cuma Nonamu. Kalau kita yang ada di sana, pasti kita juga akan melakukan hal yang sama. Tetapi, aku bersyukur kau ada di sana Toma. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi,"

"Uh... ya," jawab Sasuke singkat kemudian segera menikmati sarapannya. Yang lain tidak lagi menatapnya sekarang. Tetapi sekarang semua mulai membicarakan tentang pencarian si penembak yang sayangnya tidak bisa mereka dengar perkembangannya karena Hidan sama sekali belum muncul dan membagi berita terbaru.

Tetapi kepala Sasuke mulai sibuk lagi. Siapapun yang menginginkan kematian Sakura, pastilah orang paling egois dan jahat yang pernah ada. Sakura begitu disayangi di rumah ini. Apakah dia memiliki dendam pribadi dengan Sakura.

Oh, tidak! Jangan! Jangan lagi mencari pembelaan untuknya!

Tunggu!

Sebentar!

Sasuke berhenti mengunyah nasinya dan menatap piring berisi sayuran di hadapannya dengan dahi berkerut. Berkonsentrasi. Ia perlahan memutar kejadian semalam di kepalanya. Mereka berjalan melintasi koridor, melewati jendela, kemudian pecahan kaca jendela, suara cangkir dan nampan, suara kaca pecah lagi dan teriakan Sakura kemudian suara orang berdatangan.

Lagi.

Melintasi koridor, jendela, pecahan kaca, cangkir dan nampan.

Dia sadar!


Semua orang terlalu berlebihan. Ayah tidak perlu sampai membatalkan perjalannya ke luar negeri, kontraknya akan berantakan. Seandainya aku bisa memberitahunya ini bukan pertama kalinya ada yang berusaha membunuhku. Haaah.. dia pasti bisa stroke kalau aku memberitahunya.

"Kau baik-baik saja, Sakura?" pria berambut keperakan di belakang kemudi melirik Sakura yang menghela nafas dengan bosan. Sakura hanya ber'hm' sambil tetap menatap keluar dan menempelkan dahinya di kaca.

"Sebenarnya Kakashi-san, sepertinya lain kali kau tidak perlu ikut berada di kelas. Setengah kelas hari ini tidak ada yang mendengarkan dosen gara-gara kau,"

"Kau termasuk yang setengah?"

"Please.." Sakura memutar matanya dan mau-tidak mau tersenyum juga.

"Harus kuakui, aku sebenarnya bersyukur karena insiden ini. Kalau bukan karenanya, hubungan kita tidak akan direstui ayahmu,"

"Kakashi-san, tolonglah berhenti mengigau. Omong-omong, bagaimana dengan Toma?"

"Yah, kata Ayame lukanya tidak dalam. Tetapi dia pasti sedang demam sekarang. Orang biasa, biasanya tubuhnya akan mengalami shock kalau tertembak, tetapi selebihnya penolongmu akan baik-baik saja," jelas Kakashi menatap lurus ke depan. Matanya menegang saat di ujung sana lampu hijau padam dan berganti merah.

"Tolong jangan benci dia. Dia tidak bersalah. Dia hanya melakukan tugasnya," suara Sakura yang serius mengalihkan perhatian Kakashi, "Si Lampu Merah," lanjut Sakura sambil menunjuk lampu merah yang menyala terang sambil menyunggingkan senyuman.

"Yeah," jawab Kakashi mendengus tertawa. Dia adalah kepercayaan ayah Sakura, dan sejak dulu Kakashilah yang selalu ditugaskan menjaga Sakura kalau terjadi sesuatu. Dan hanya dengan Kakashi Sakura bisa bersikap tenang mengingat Kakashi lah yang mengajarkan taekwondo untuk pertama kalinya pada Sakura. Prinsip Sakura adalah, siapapun yang memberimu kekuatan, dialah temanmu.

Berita tentang penembakan yang terjadi pada Sakura sudah tersebar. Bibi Sakura yang tinggal di kota yang sama sudah ada di rumah Sakura dan langsung menyerbu Sakura saat Sakura pulang. Bukan hanya itu, Itachi juga membatalkan semua jadwalnya hari itu dan datang.

Seharusnya Sasuke menyadarinya lebih cepat. Urusan "Calon Kakak Ipar" ini sama sekali tidak bisa dianggap remeh. Dia harus segera membiasakan diri dengan sebuah kenyataan terburuk kalau Itachi sudah melamar Sakura dan menjadikannya calon istri yang berarti Sakura sudah resmi berubah menjadi Uchiha. Dan menyakiti Sakura sama dengan menyakiti kakaknya.

Intinya, kenyataan terburuknya adalah: Itachi=Sakura.

Sore itu, Sasuke sedang membantu tukang-tukang yang mengganti beberapa kaca dengan kaca anti peluru saat melihat mobil Itachi masuk melewati halaman. Saat itu Sasuke belum berpikir tentang kakaknya, barulah otaknya yang jenius itu paham saat pemuda pucat berambut hitam panjang terikat itu turun dari sedan hitamnya dan menatap ke arahnya sebentar. Sejenak Sasuke sempat panik kalau Itachi mengenalinya. Dia benar-benar lupa kalau dia sedang memakai 'topeng'.

Saat Sasuke akhirnya selesai membantu dan bergabung di dapur bersama Ayame dan Shizuku, mereka sedang mengobrol seru tentang pacar-ganteng-Nona-Sakura. Sasuke tidak menghiraukan pembicaraan mereka tentang siapa tahu Itachi itu artis atau model. Melihat rambutnya yang panjang, jarang kan ada yang langsung mengiranya presiden direktur?

"Toma, seharusnya kau istirahat saja. Demammu tidak akan turun kalau kau kelelahan," bujuk Ayame saat membuatkan Sasuke teh disela-sela break gosipnya dengan Shizuku.

"Tidak apa-apa, justru kalau berkeringat, aku akan lebih cepat sembuh kan," tolak Sasuke sambil menyunggingkan senyuman ala Nejinya. Dalam hati, sebenarnya dia kesal juga. Dia tidak menyangka tubuhnya ternyata begini lemah. Jujur saja, selama menjadi seorang bounty killer, belum pernah sekalipun dia terluka saat beraksi, apalagi sampai tertembak. Ini adalah pertama kalinya ia merasakan peluru mengiris kulitnya. Tetapi sebenarnya demamnya ini menguntungkannya juga karena akan aneh kalau orang biasa sepertinya baik-baik saja setelah tertembak.

Sekarang yang membuatnya semakin tidak tenang bukan hanya kenyataan kalau ada kakaknya di rumah ini yang bisa saja memergokinya, tetapi juga Sakura yang (mungkin) menyadari keberadaan Naruto. Sasuke menyadari dengan jelas malam itu keberadaan Naruto karena mereka sudah merencanakannya, rasanya mustahil orang biasa akan menyadari keberadaan Naruto malam itu.

Tetapi apakah Naruto memang kelihatan malam itu? Walaupun dia bodoh, dia tidak ceroboh. Tetapi bagaimana kalau sampai Sakura memberitahu kalau dia melihat seseorang? Hentikan! Belum tentu dia sadar kan? Lagipula kalau memang dia sadar ada orang yang berusaha membunuhnya, bagaimana bisa dia masih tenang bepergian? Bahkan katanya dokter juga tidak melihat ada apapun yang perlu dikuatirkan. Apakah karena sejak awal dia tidak merasakan kalau ada yang berniat membunuhnya? Atau karena sejak awal dia sudah bersiap untuk mati?

Sasuke menghabiskan tehnya dan meninggalkan dapur. Tubuhnya cukup banyak berkeringat. Ia berniat mendinginkan tubuhnya sebentar sebelum mandi, jadi ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Kamarnya terasa sejuk dan sepertinya cukup membantunya berpikir lebih tenang.

Sebotol cairan bening yang diberikan Tsunade padanya untuk disuntikkan pada Sakura tersimpan dengan aman di dalam tasnya. Tersembunyi dengan cukup aman di dalam novel "The Horse and His Boy"-nya. Kecuali ada yang akan menggeledah barang-barangnya dengan sangat teliti, benda itu tidak akan ditemukan.

Cairan itu akan memicu jantung Sakura dan meracuni hatinya. Efeknya sama seperti saat Sakura mengalami kelelahan dan harus dirawat berhari-hari di rumah sakit. Tetapi dengan cairan itu, efeknya akan membuatnya dua kali lipat lebih parah. Setelah serangan itu, akhirnya dokter dengan mudah akan memperkirakan kalau kali ini kondisi Sakura yang memburuk dengan cepat karena shock dan stres mengingat ada yang berusaha membunuhnya.

Akan sesederhana itu.

Dan ini adalah Hari H itu.

Sakura malam ini kemungkinan tidak tidur. Penembakan itu baru terjadi tadi malam. Setidaknya dia masih was-was dan shock hingga mempengaruhi kebiasaannya. Tidak ada kamera di dalam kamar, untuk menjatuhkan Sakura mungkin tidak akan sulit. Walaupun jago taekwondo, tetapi dibandingkan pembunuh profesional yang terlatih di lapangan dan menghadapi musuh jenis apapun, seorang gadis kecil bukan masalah besar. Sasuke hanya perlu meredam keributan sekecil mungkin agar tidak ada yang curiga.

Wajah Itachi tiba-tiba melintas di kepala Sasuke. Dia kelihatan sangat cemas tadi.

Tidak! Tidak! Hentikan! Tetapi bagaimana Nii-san nanti? Ooooooh! Siaaaal! Harusnya memang jangan berikan ini padaku! Sekarang aku akan menjadi orang yang bertanggung jawab karena membuat kakakku sendiri kehilangan lagi orang yang dicintainya! Ini akan membuatku sama buruknya dengan Si Okubo-sialan itu! (ingat cello-ist di chapter II?).

Sasuke mengacak rambutnya dengan frustasi. Dia tidak ingin menyakiti kakaknya, tetapi dia juga tidak ingin menggagalkan misinya. Air dingin mungkin akan membantunya mendinginkan kepalanya yang mulai berasap. Sasuke bangun dan mengambil handuknya dan pakaian ganti kemudian keluar untuk pergi ke kamar mandi.

Saat ia melintasi koridor yang membawanya ke kamar mandi di belakang, ia melihat Ayame dan Shizuku sedang heboh menatap keluar dari jendela di dekat dapur. Sasuke iseng mendatangi mereka dan bertanya dengan cuek, apasih yang membuat mereka heboh.

Saat Sasuke melihat apa yang menyita perhatian dua rekannya itu, rasanya dia langsung ingin berteriak frustasi. Di sisi mobil Itachi, rupanya 'dua kakaknya ' sedang berpelukan. Kemudian Itachi terlihat mencium kening Sakura sebelum masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Sakura sambil melambaikan tangan padanya. Rasanya Sasuke ingin menangis. Haruskah dia melanjutkan misinya?

Tetapi, bagaimana mungkin aku membunuh 'kakakku'? Aku tidak akan pernah bisa menghadapi Nii-san lagi. Aku tidak akan punya muka untuk menemuinya lagi.

Sasuke langsung berbalik menuju tempat yang sejak tadi memang direncanakan untuk ditujunya. Kamar mandi! Dia harus mendinginkan kepalanya. Berpikir dengan kepala dingin. Saat air dingin yang mengucur dari shower mulai membasahi kepalanya dan mendinginkan tubuhnya, Sasuke menghela nafasnya dalam-dalam.

Ingat aturan pertama. Jangan campurkan perasaan pribadi dengan pekerjaan. Aku sudah gagal di aturan kedua, perasaanku padanya sudah berubah dan itu membuatku bimbang. Tetapi aku tidak akan gagal. Tugas tetap tugas. Aku harus bersiap untuk malam ini. Sejak awal aku tahu resikonya, naif sekali kalau kupikir suatu hari aku tidak akan menemui hal ini.

Perempuan bukan cuma Sakura, Nii-san bisa bertemu dengan yang lain. Lagipula toh cepat atau lambat dia pasti tahu kalau Sakura akan mati juga, dia pasti juga sudah bersiap menghadapi yang terburuk tentang Sakura.

Dan Sasuke keluar dari kamar mandi dengan mantap dan tekad bulat. Misi adalah misi. Hanya pecundang yang akan menggagalkan sesuatu yang sudah terencana sempurna seperti ini.

Kau sudah mengucapkan selamat tinggalmu pada Sakura kan, Nii-san.


Sakura merasakan kegelapan di kamarnya terasa menghimpitnya. Bulu kuduknya meremang. Seluruh rumah terasa meneriakkan kesunyian hingga memekakan telinga. Saat itu Sakura tahu, sesuatu akan terjadi. Ini bukan pertama kalinya.

Come.. come.. I've been waiting for you.

Kepala Sakura menyanyikan lagu untuk meramaikan kamarnya yang sunyi dan dilingkupi kegelapan pekat. Siapapun yang masuk ke dalam kamarnya tidak akan bisa melihat apapun, beda dengannya. Sejak tadi ia sudah membiasakan matanya. Lagipula ini kamarnya. Ia menghapal seluruh posisi di dalam kamarnya.

Sakura memasang telinganya saat mendengar suara ringan teredam dari luar kamarnya. Senyumannya mengembang. Dia tidak mengharapkan siapapun akan datang untuk memberikan pertolongan. Kalau berhasil masuk ke dalam rumah, apalagi sampai ke lantai ini tanpa ribut, pasti ia sudah melakukan sesuatu dengan kamera pengawas.

Aku belum pernah sengaja didatangi seperti ini. Kau sengaja datang ke tempatku, hanya dua pilihan. Satu karena kau terlalu bodoh, atau kau terlalu sombong.

Ah. Aku lupa yang ketiga. Kau tidak mengenalku.

Pintu kamar Sakura terbuka perlahan. Sedikit cahaya dari koridor masuk ke dalam kamar dan mulai membuat garis cahaya samar yang menerangi lantai berkarpet dan langsung menghantam dinding kosong. Sosok yang membuka pintu perlahan masuk dan menutup pintu dengan perlahan.

"Sial, kamar ini gelap total. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Tenang, sebentar lagi mataku pasti terbiasa," batin Sasuke berdiri menahan nafas kemudian mulai menarik nafasnya dengan hati-hati. Kegelapan rasanya membuatnya agak kehilangan ketenangannya. Perlahan ia menurunkan tangannya dan menjangkau kantong di paha kanannya.

Tiba-tiba bagaikan tersengat listrik, Sasuke merasakan tangannya yang menjangkau kantong dicengkeram. Secara reflek Sasuke memelintir tangannya dan balik mencengkeram tangan yang mencengkeramnya. Ia langsung berbalik dan merasakan tendangan yang sangat kuat di perutnya.

"Kau mungkin melupakan satu hal. Jangan biarkan targetmu merasakan kedatanganmu. Dan kau membiarkan hawa dinginmu menguar di seluruh rumah. Untukku, sejak kau mengendap-endap di koridor, kau seperti meneriakkan 'Hei Sakura! Aku datang! Aku datang! Aku datang!'," Sasuke mendengar suara nyaring logam bergesek dan dia bisa memastikan, dua buah pedang sudah dilepaskan dari sarungnya. Ia tidak menghiraukan matanya yang masih berkunang-kunang akibat tendangan Sakura tadi dan langsung mencoba berdiri.

Perlahan bayangan Sakura mulai terlihat jelas di hadapannya. Dua menggenggam dua buah kodachi* dan mulai berjalan perlahan ke arah Sasuke.

"S**t!" Sasuke mengutuk. Dia tidak mempersiapkan ini. Dia memang memperkirakan Sakura akan melawan, tetapi tidak dengan pedang melainkan tangan kosong. Dengan taekwondo kebanggannya. Dan sialnya ruangan itu terlalu gelap hingga Sasuke tidak bisa melihat apapun. Tidak bisa mengenali apapun yang bisa dijadikannya senjata.

ooOTOMATOoo


Futnoot:

-Sakura Hill: area perumahan elit, dan disinilah kediaman Haruno.

- Kodachi: samurai pendek. Panjang bilahnya sekitar 30 cm. Posenya... bayangkan Alice (Resident Evil: Afterlife) waktu para klon nyerang markas Umbrella Tokyo berame-rame. Ada Alice yg bawa 2 kodachi. Dan selama film-pun, Alice slalu bawa 2 buah kodachi di punggungnya :) #malahngelantur

Yeah... Yeah...

Pertarungan selanjutnya...

I'll leave it for you guys to imagine :D

Oiya, novel The Horse and His Boy itu, buat yg nggak tau, itu adalah seri ke-3 dari Chronicles of Narnia.

And.. Buat yg mau tau foto Itachi yang ditemu Sasuke di mobil Sakura, please cekidot: bryn-barvon(dot)deviantart(dot)com/art/Itachi-Captured-211373441 (hehe.. gabisa pasang link di sini sih ^^. jadi, ganti aja (dot)-nya pake titik :) Hepi hanting n see ya next time :D