Hi all readers ^^, Fubba lagi bersemangat jadi updatenya agak cepet. Mumpung lagi bebas tugas juga nih (padahal besok ada ulangan Matematika XS). Yah, langsung aja yah.. Selamat membaca, hope you like it ^^. Oh ya, jangan lupa review ya minna~
Chapter 3: Promise
Disclaimer: Pandora Hearts © Jun Mochizuki
Can't stop..
My heartbeat are getting faster..
Don't you mention it?
My beloved one..
Di ruangan ukuran sedang yang beralaskan karpet merah tua itu terlihat dua insan yang terdiam. Yang satu berambut brunette panjang, sedang duduk di atas karpet dan memasang wajah kesal. Marah. Ya, Alice sedang dongkol luar biasa pada Gil. 'Dasar wakame atama, kubalas kau nanti!' pikirnya sambil memukul kursi di sampingnya. Ia ingin sekali menjejali Gil dengan kucing, namun niatnya itu diurungkan karena ia dicegah – untungnya – oleh Sharon.
Yang satu, si pemilik iris emerald tokoh utama pria kita – Oz Vessalius – hanya terdiam di kursinya sambil berulang kali berkata dalam hati "Tidak terjadi apa-apa, aku baik-baik saja.". Ia murung sejak pagi gara-gara adiknya tahu Alice bertindak aneh – menciumnya tiba-tiba.
Kedua tokoh kita ini terdiam lumayan lama – sudah 2 jam – sejak sarapan berakhir. Eida dan Sharon berbincang-bincang di kamar yang disediakan Sharon, ia berencana menginap 3 hari di kediaman Rainsworth. Gil pergi ke Sabrie untuk suatu tugas, Break juga sibuk membantu (merepotkan) Liam dengan kasus baru di Pandora. Berarti pasangan chain-manservant ini tinggal berdua saja, karena kebetulan juga anggota Pandora yang lain tidak menginterogasi mereka soal ingatan Alice hari ini.
"Hei Oz, apa kau nggak suka perbuatanku kemarin?" tiba-tiba saja Alice membuka percakapan, sambil tetap memasang ekspresi datar.
Yang ditanya kaget dan spontan menjawab, "A-ah, nggak kok, kita kan sudah pernah melakukannya dulu waktu di Abyss. Hehehehe.." Oz berusaha menyembunyikan wajah paniknya.
Alice hanya diam. Oz makin salah tingkah. Ia menunggu jawaban dengan H2C (Harap-harap Cemas). Tak lama kemudian..
"Aku cuma nggak suka kau dekat-dekat si pelayan Nightray itu. Aku juga nggak suka tuannya." jawab Alice.
"Kenapa, Alice? Aku kan cuma mengajaknya bersenang-senang. Pesta kemarin kan untuk semua orang." Sambung Oz tanpa memperhatikan Alice yang sudah memasang muka masam sejak menjawab pertanyaannya tadi.
JDUAGGH!
"S-s-sakit, Alice!" keluh Oz sambil memegangi dadanya yang baru saja terkena tendangan sang chain. Ia terbatuk-batuk, dan waspada terhadap serangan selanjutnya.
Alice tidak mempedulikan kalimat protes Oz. Ia marah sekali karena manservant-nya itu tidak mengerti perasaannya. Ia membentak Oz dengan suara geram.
"Oz, apa janjimu padaku? Kau janji akan melindungiku, berada di sampingku. Apalagi kau adalah manservant-ku, jadi kau harusnya menurutiku, nggak pergi begitu saja demi cewek lain!" sekali lagi Alice mencoba menendang Oz, namun Oz berkelit sehingga kaki Alice mengenai kursi yang sedetik kemudian patah menjadi 2 bagian. Bayangkan kalau tendangan itu tadi mengenai Oz. Serangan kedua ini benar-benar mewakili kekesalan Alice. Oz cuma bisa melongo menyaksikan fenomena tersebut. Apa yang membuat Alice yang biasanya (kelihatan) polos itu jadi semarah ini? Ia biasa melihat Alice bertengkar dengan Gil, namun tidak pernah separah ini. Uh-oh~
"Alice, tenanglah sebentar. Akan kujelaskan." Oz berusaha mendinginkan situasi namun langsung disambut serangan ketiga. Kena telak. Kali ini tamparan. Cap tangan merah membekas di pipi kiri tokoh malang ini.
Alice kelihatan kesakitan juga sesudah menampar Oz barusan. Nampaknya ia berlebihan menggunakan energinya. Sejurus kemudian ia memandang Oz dengan pandangan bergetar. Menangis? Sungguh tidak biasanya!
"Aku tahu kau menghilang saat festival di Leveiyu gara-gara cewek itu! Apa maksudmu meninggalkanku sendiri bersama si wakame atama?" akhirnya air mata gadis manis itu tak terbendung lagi. Kali ini ia benar-benar emosi. Ia pun heran sendiri kenapa ia jadi seperti ini. Bukan, Alice yang biasanya bukan Alice yang cengeng begini. Mengapa ia jadi menangis seperti anak kecil yang permennya direbut?
"A-alice.. Maafkan aku. Aku tak mengira kau kecewa seperti ini. Aku janji tak akan mengulanginya." Oz merengkuh tubuh gadis polos yang sedang emosi itu dan mendekapnya erat. Isakan masih jelas terdengar di seluruh penjuru ruangan. Beberapa saat kemudian Oz melakukan hal yang belum pernah ia lakukan di hadapan Alice. Ia mengecup kening Alice dan tersenyum penuh arti. Ia tak ingin lagi membuat gadis di depannya itu megeluarkan air mata.
"Jangan kau kira kau kumaafkan begitu saja! Aku akan membunuhmu kalau kau begitu lagi." Alice sewot walaupun masih terisak. Ia juga sedikit blushing karena perlakuan Oz tadi. Pemilik iris violet ini tak menyangka ia jadi merasa begitu nyaman saat dipeluk Oz seperti itu, Ia seakan tak ingin melepasnya.
"Nii-san, Alice-chan, ada apa?" Eida berlari menuju kamar Oz. Kamarnya memang tak jauh dari kamar kakaknya sehingga teriakan Alice tadi terdengar amat jelas. Ia mengintip sedikit dari celah pintu dan kaget melihat Alice masih terisak-isak dalam pelukan kakaknya. Lalu Sharon pun menyusul di belakangnya.
"Alice, ada apa lagi?" tanya Sharon setengah kaget juga melihat pemandangan di depannya.
"Ssshht.. Nanti saja ya, tolong tinggalkan kami sendirian. Kami baik-baik saja kok" pinta Oz sambil tersenyum. Tentu saja Sharon tak percaya begitu saja melihat bekas tamparan dipipi Oz. Tapi Sharon memilih diam dan mengajak Eida yang masih heran kembali ke kamar Eida.
-nn-
"Ahahaha, kau ternyata bisa menangis juga ya, Alice-kun." Break menanggapi cerita Oz dengan nada mengejek. Sharon memukulnya sekali dengan harisen andalannya dan Break ber-aduh-aduh ria, dengan ekspresi senang. Sementara Eida, dengan pandangan simpati membatin "Manis sekali mereka."
"Diam kau, badut!" Alice sebenarnya malu karena ketahuan menangis tapi ia tetap jengkel karena perkataan Break.
Oz tertawa kecil sambil menatap Alice. Ia sudah kembali ke mood semula. Ia akan berusaha menepati janjinya pada gadis brunette di sampingnya itu. Ia sayang sekali padanya. Ia tak akan membiarkan gadis itu menangis lagi, apalagi karena perbuatannya sendiri.
Gil belum pulang dari tugas, jadi ia belum mendengar cerita ini. Mungkin Gil akan mengomel jika mendengarnya. Oz bahkan berniat menyembunyikannya, namun karena semua sudah tahu iapun tak bisa berbohong. Sharon atau Break pasti akan membocorkannya.
"Permisi.." terdengar suara tanpa pancaran ekspresi dari arah pintu. Bisa langsung dikenali bahwa gadis pemilik suara itu adalah Echo. Ia masuk dan bertanya apakah Gil ada di situ pada Sharon. Setelah mendapat jawaban bahwa orang yang dituju sedang pergi, ia pamit dan pulang ke kediaman Nightray.
"Kenapa Echo-chan mencari Gil? Apa ada masalah di keluarga Nightray dan Gil disuruh pulang?"Oz bertanya-tanya dalam hati, dan tak berhasil menemukan kepastian.
-oo-
Suatu sore 3 hari kemudian, Oz dan Gil berbelanja ke Leveiyu. Tiba-tiba sekelebat bayangan terlihat oleh Oz. Ia langsung berlari mencari sumber bayangan tersebut, yang diyakini adalah Echo. Ia mengejar gadis berambut pendek itu hingga ke suatu jembatan.
"Echo-chan, aku ingin berbicara denganmu!" Oz menyatakan maksudnya sambil tetap berlari mengejar Echo yang kelihatannya bertambah lincah dari terakhir kali mereka bertemu.
"Ada apa, Oz Vessalius?" Echo akhirnya berhenti.
"Fuhh.. Capek juga mengejarmu. Begini, aku minta maaf telah mengajakmu berpesta. Selain itu juga karena telah melamarmu sembarangan. Aku berjanji tak akan melakukannya lagi." Oz menjawab dengan sedikit terengah-engah.
"Mengapa Tuan Oz minta maaf? Apa pasangan tuan Oz marah?" pertanyaan Echo langsung membuat Oz salah tingkah.
"E-eeh, bukan. Aku hanya takut kau dimarahi. Aku juga sempat berpikir kau mencari Gil untuk menyuruhnya pulang ke kediaman Nightray."
"Mengapa Echo harus menyuruh tuan Gilbert pulang?" Echo balas bertanya.
"Ya mungkin karena aku menahanmu waktu itu. Lalu Vincent marah padaku dan menyuruh Gil pulang." Oz menjelaskan dengan ekspresi bingung.
"Tuan Vincent tidak tahu hal itu. Dan Echo tidak menyalahkan tuan Oz."
"Oohhh.. Syukurlah.. Lalu kenapa kau mencari Gil?"
"Karena Echo mau membawakan topeng dari tuan Vincent. Sudah Echo berikan kemarin."
"Hah? Topeng?" Oz garuk-garuk kepala.
"Echo tidak tahu pasti untuk apa topeng aneh itu. Yang pasti itu hadiah dari tuan Vincent untuk ulang tahun tuan Gilbert." Jawab Echo.
"Wah, adik yang perhatian ya.." gumam Oz.
"Echo harus kembali, tuan Oz. Permisi." Gadis itu melesat pergi dari hadapan Oz.
Oz kembali ke Gil yang sudah bingung mencarinya kemana-mana. Lalu ia pulang ke kediaman Rainsworth dengan wajah puas. Sesosok gadis memperhatikannya dari kejauhan. Echo belum pulang, ia mengamati Oz dari atap sebuah gedung.
"Janta, apa yang harus aku lakukan? Aku merasa nyaman di dekatnya.." gumam Echo pada sebuah boneka beruang coklat.
~'''~
Akhirnya chapter 3 terselesaikan. Lumayan ngebut juga, gara-gara sedang banyak ide. Mau tahu kelanjutan kisah Alice x Oz x Echo? Sampai jumpa di chapter depan dan jangan lupa review yaa ^^
