Rin (Guest) :hehehe, iya, makasih udah mau Review lagi.. Author juga nyadar kok kalau emang OOC. Jadi sekalian Author bikin OOC, biar kesan nya gak setengah-setengah *Di-Crucio Sevie*

AnindyaCahya : Yuhuuuuu... Makasih Reviewnya.. kira-kira siapa ya? Liat sendiri dehh :) Special thanks buat kamu karena Review kamu membantu saya mendapat berkah(?)

LunaScamander17 : Hai hai hai, makasih atas bantuan ide-nya. Tapi disini umurnya aku ganti menjadi 18 aja gapapa ya (Si Sev juga 13 tahun lebih muda dari umurnya yang sekarang 53) ? Hehe Special thanks juga deh buat kamu udah bantuin bikin ide :)

Cla99 : Halo! Terima kasih :) semoga konflik disini bisa membuat Anda senang :) tapi Tom belum muncul di chapter ini :( maaf ya :'( semoga gak kecewa. :)

Disclaimer : Kan di chapter sebelumnya udah Author kasih tau, masak lupa lagi?!

Rating : Supernatural/Friendship/Family/Hurt/Comfort/Romance/Crime/Angst/Humor *maybe* (Ya Ampuuunnn... ini apa-apaan? Rating sebanyak ini diborong sendiri! Rakus banget Author *Dicrucio*

Summary : Apa yang dirahasiakan oleh Fanny kepada teman-temannya sesaat setelah Profesor Snape datang?

A/N : Semoga lebih baik dari yang chapter sebelumnya. Hahahaha.

-oooOOOOooo-

Gak jelas Pov

Masih disekitar apartemen Robert, kami berjalan-jalan mengitari daerah sekitar apartement yang masih segar tanpa polusi. Severus Snape yang saat itu menyamar menjadi seseorang yang bernama Sebastian. Seve- maksudku, Sebastian memang tidak sepenuhnya mengubah penampilannya. Masih dengan rambut membingkai sampai bahu dan memakai topi untuk menutupi wajahnya tapi dia terlihat seperti seorang muggle dari pada seorang penyihir.

Tetapi ada sesuatu yang membuatnya hanya memandang kearah rumah berwarna putih dengan bunga mawar disekelilingnya dan disana ada beberapa orang, ia berhenti sesaat dan ia sepertinya mengenal salah satu diantara orang-orang itu. Rumah itu tidak terlalu besar, tetapi memiliki kehangatan daripada rumah-rumah disekitarnya.

"Dia, benarkah yang kulihat ini..." ucapnya dengan suara nyaris tak terdengar. Tetapi aku bisa mendengarnya jelas sekali.

"Ada apa prof-maksudku- Sebastian?" tanyaku yang mulai curiga dengan orang disebelahku itu.

Dia hanya diam seribu kata. Seolah tak mendengar apa yang baru saja ku tanyakan. Dan dia masih menatap lekat-lekat wanita. Tetapi tidak mau menyapanya. Mungkin dia masih merasa bersalah dengan masalalunya.

"Anda mengenal Leila Sir?" tanya Robert kepada Sebastian.

"Leila?" tanya Sebastian sambil mengangkat satu alisya yang seakan tak yakin dengan apa yang barusan ia dengar

"iya, namanya Leila Evanska, kau mengenalnya, Sir?" tanya Robert.

"Tidak" jawabnya singkat padat dan jelas. Tetapi dia tahu siapa wanita itu, dia berbohong kepada Robert. Dia mengenalnya, sangat mengenalnya.

"aku akan mencari tentang gadis bernama Leila Evanska itu, tanpa pengetahuan anak-anak muda ini. Aku tak mau mereka mengetahui masalalu ku lebih dalam." batinnya

"Tunggu, dia memang sedikit mirip dengan seseorang dari masalalu Sebastian, tidak sedikit mirip tetapi amat sangat mirip" batinku.

Tetapi aku tak memikirkannya lagi, aku sudah lapar. Dan akan makan siang kali ini juga.

Kami masuk disebuah restauran tak jauh dari rumah berwarna putih penuh kehangatan itu untuk makan siang. Memesan beberapa masakan, Sebastian yang tidak mengerti jenis-jenis makanan Indonesia, hanya asal pesan saja. Yaitu secangkir kopi dan ikan tuna bakar saja, mungkin dia pernah mengenal masakan ini di London ataupun di Hogwarts. Sebelum aku mulai pembicaraan, Fanny sudah memulainya duluan.

"Emm,,Guys, aku punya berita yang mungkin mengejutkan untuk kalian semua" ucap Fanny ragu-ragu.

"berita apa?" Harold mengatakannya sambil menatap mataku tajam.

"aku lupa mematikan DVD ku kemarin, dan orang tuaku juga tidak mengetahuinya karena mereka akan pergi petang itu juga, dan baru kembali tengah malam." Jelas Fanny.

" Aapa? Hanya itu? Itu tidak penting Fan! Kau menipu kami!" sahut Harold sambil melotot tajam.

"hei, tunggu. Aku belum selesai bicara." Bantah Fanny yang tak kalah melototnya.

"begini ceritanya"


*FLASHBACK*

Fanny PoV

"Pah, Papah. Anterin mamah ke Mall yuk, besok mama mau arisan nih, baju mamah sudah jadul semua, dan katanya ada yang baru di Mall. Sekalian kita belikan snack buat Fanny-imut-cute-dan-unyu- kita itu." Ajak ibuku –Ibu Endang- kepada ayahku -Pak Prabu-

"Iya mah, bentar. Papah mau ganti baju dulu. Biar tambah ganteng kayak idola anak kita Fanny-imut-cute-dan-unyu- Heri Poter ituloh." Jawab Ayahku yang medok khas jawa-nya tiba-tiba kumat itu.

"Harry Potter pah, bukan Heri Poter. Iyah deh pah, cepetan yah pah." Sahut ibuku yang sudah tak sabar untuk pergi ke Mall itu.

"Siapa ajah boleh deh, mah" jawab Ayah malas-malasan.

Beberapa menit kemudian

"bagaimana mah? Papah gak kalah gantengkan sama Heri Poter itu?".

"iya, iya pah. Papah emang ganteng kok! Ayo berangkat pah." jawab bu Endang agak kesal karena ke-pede-an ayahku yang mengingatkannya pada seorang Gilderoy Lockhart. (A/N : Ibuku juga suka sama Harry Potter terutama Gilderoy Lockhart yang menurut ibuku ganteng dan cool. *Plakkkks*)

"iya, ayo ma."

Ayah dan Ibuku pun meninggalkan aku di rumah sendiri hanya dengan pembantu kami dan seperti nya mereka akan kembali pada malam hari. Tapi mereka tidak tau apa yang terjadi diruang keluarga.

Diruang Keluarga pukul 21.30

Saat itu aku sepertinya lupa kalau aku tidak mematikan DVD nya dari kemaren. Suasana rumahku yang sepi karena orang tuaku yang baru saja meninggalkan rumah. Dan didalam sini hanya ada anak gadis yang masih berumur 16 tahun sendiri dan hanya dengan seorang pembantu yang entah kemana batang hidungnya itu. Jemari-jemari ku beradu dengan bunyi tik..tik..tik yang ku buat. Bunyi yang berasal dari keyboard-keyboard yang aku tekan satu persatu untuk menyelesaikan beberapa lembar tugas. Dan harus ku kumpulkan minggu depan, karena dua minggu lagi akan ada ujian kenaikan kelas. Huuhh..

#bruuakkk gradak dak dak duaaaakkkk# suara beberapa benda yang terjatuh dan seperti suara ledakan di ruang tengah –yang lampunya tidak dinyalakan itu- memecah keheningan.

Aku yang saat itu sedang asyik mnegetik tugasku dengan laptop baruku dikamar, tersentak kaget dan hampir menjatuhkan laptop keluaran dari perusahaan yang bernama Durian itu (A/N : emang ada perusahaan yang namanya Durian Inc.?) ribuan pertanyaan mulai mengintrogasi kepalaku, dan menyebabkan rasa penasaran muncul tiba-tiba. Dan membuat ku ngeri, sepertinya lebih dari dua orang.

"Apakah itu pencuri?"

"bagaimana kalau mereka punya maksud buruk kepadaku?"

"bagaimana jika aku diapa-apakan?"

Ribuan pertanyaan masih berterbangan,membuatku semakin gugup dan takut. Aku sudah menghubungi ayah dan ibuku termasuk pembantuku melalui hp, tapi nomer mereka tidak aktif dan pembantuku tidak menjawab telpon dariku.

Aku mulai cemas, bagaimana jika pembantuku sudah dihabisi duluan oleh para pencuri itu. Aku pun mengumpulkan sisa keberanian yang kumiliki dan berniat menghampiri sumber suara itu. Aku benar-benar nekat menghampiri sumber suara itu sambil membawa sebuah sapu dan sebuah payung untuk senjata. Aku tak tau apa senjata yang kupakai ini cukup untuk mengalahkan mereka yang jelas aku akan mencoba. Aku berjalan mengendap-ngendap agar tidak menimbulkan suara. Menuruni anak tangga satu persatu menuju ruang keluarga yang menjadi sumber suara itu.

Masih berjalan mengendap-endap, Aku berhasil memergoki orang-orang yang berani memasuki rumahku tanpa ijin itu. Tapi aku tak bisa melihat mereka dengan jelas, aku hanya melihat bayangan siluet. Mungkin penyusup itu masih sibuk dengan urusan mereka dan tidak menyadari kehadiranku disana. Aku masih menarik nafas dan berusaha mengumpulkan kembali keberanianku yang sudah terbang kemana-mana itu.

"Aku tak tau apa aku siap, tapi akan kucoba" batinku

Aku pun melompat dan menyerang salah satu pencuri itu

#Bruak plak plak dukkk bruukkk

Aku sukses mendaratkan sebuah pukulan melalui gagang sapu yang lumayan besar kepada salah seorang penyusup disana sampai penyusup itu pingsan dan aku menggebukinya lagi.

"Tunggu, sepertinya ini perempuan." Batinku.

"Hei, apa yang kau lakukan pada teman kami? Crucio!" tiba-tiba suara dari seorang teman penyusup itu mengagetkanku dan mengucap sebuah mantra kutukan kepadaku dan tepat mengenai perutku. Aku menggeliat ditanah seperti cacing yang diberi garam. Aku masih berusaha bangkit tapi aku tak kuat.

"Jangan lontarkan kutukan apapun bodoh!" Ucap teman yang satunya lagi.

"kalau ketahuan orang lain bisa mati kita!"

"maaf, itu reflek" ucap pria yang meluncurkan cruciatus kepadaku itu tanpa rasa menyesal.

"Ya Tuhan, bantulah aku. Aku tak mau hidupku berakhir disini." Aku tak henti-hentinya berdoa kepada Sang Kuasa agar aku selalu di-lindungi oleh-Nya.

Klik..

Seorang menekan tombol lampu disana

Seketika ruangan itu menjadi terang. Dan Aku bisa melihat dua orang laki-laki yang satu menghampiriku. Dan yang satu masih sibuk dengan urusannya. Dan yang wanita –yang kupukul -tadi- masih pingsan. Nampaknya pukulanku begitu keras.

Aku yang tadi begitu kesakitan karena kutukan Cruciatus pertama yang ku dapatkan tadi, kini langsung histeris senang melihat pria yang ia curigai sebagai penyusup tadi. Dan Aku memeluk pria itu –yang meng-crucio ku-.

"Hey, lepaskan!" ucap pria yang ku peluk itu.

"RUPERT GRINT, DANIEL RADCLIFFE!"

"Siapa itu Rupert Grint dan Daniel Rad siapa tadi? Tanya pria satunya yang memakai kacamata bulatnya.

"Ya Tuhan, kau itu Daniel Radcliffe dan dia Rupert Grint" Ucapku yang seolah tak percaya dengan apa yang dia lihat.

"kami bukan Rupert atau Daniel. Aku Ronald Weasley dan dia Harry Potter. Dan apa yang kau lakukan pada Hermione ku sayang? Tanya Ron.

"Apaahh? Kalian Harry Potter, Ronald Weasley dan Hermione Granger?! Tidak mungkin!" ucapku.

Setelah Profesor Snape, kini kalian yang datang? Oh, Tidak lagi. Kurasa sudah cukup kegilaan ini. Batinku.

"kenapa kau kaget begitu? Dan kenapa kau melukai Hermione ku?"

"Em.. maaf, aku tidak bermaksud melukaimu ataupun Hermione. Aku kira kalian penyusup disini, karena aku mendengar suara ledakan." Ucapku sambil menahan rasa sakit akibat Crucio tadi.

"Maafkan temanku. Dia mengira kau ingin berlaku jahat kepada kami. Kemarilah, kami akan mengobatimu." Ucap Harry.

Hermione sudah bangkit dari pingsannya. Dan melihat Harry yang sedang mengobatinya dengan bahan-bahan yang ada di tas-apa-saja milik Hermione.

"Apa yang kau lakukan Harry?" tanya Hermione.

"kurasa kau tau jika aku sedang mengobati seseorang yang terkena Cruciatus." Sindir Harry kepada Ron

"Apa? Kau memang selalu begitu Ron! Kau bisa tidak sedikit-sedikit tidak Crucio! Kurasa sekarang kau sekarang meniru sihidung pesek botak ijo itu!" bentak Hermione kepada Ron.

"Dia memukulmu sampai pingsan, Dear! Jadi kurasa dia pantas untuk Crucio!" sangkal Ron tanpa dosa.

"apapun alasannya! Sekarang minta maaf atau aku akan meng-crucio mu dengan level lebih tinggi!" ancam Hermione kepada Ron

"baiklah." Ron mengalah.

"Sudah, kau jangan terlalu banyak bergerak ya?! Luka dalammu akan sembuh dalam beberapa jam saja" jelas Harry tenang kepada ku.

"Err, Nona. Maafkan aku. Karena sudah meng-crucio mu tadi." Ucap Ron seraya memasang Puppy-eyes nya.

"Baiklah. Aku tahu kalau tidak sejahat itu." Jawabku santai.

Setelah Aku merasa lebih sehat, Aku menyuruh teman-temanku itu untuk ke kamarku agar tidak ketahuan oleh pembantuku ataupun orang tuaku dan menyuruh mereka tidur disana.

Sesampainya dikamarku yang luas sekali itu –bahkan ada perpustakaan mini didalamnya-, Aku meminta tolong kepada Hermione agar membagi kamar ini menjadi dua ruangan. Satu ruangan untuk Ron dan Harry dan satunya lagi untuk Aku dan Hermione.

"sebaiknya kalian tetap diruangan ini. Apapun yang terjadi. Oke?" pinta ku kepada The Golden Trio itu.

"memangnya kenapa?" tanya Ron penasaran.

"Apa kalian mau orang-orang diluar sana yang kebanyakan hanya Muggle itu tahu jika kalian seorang penyihir? Dan satu lagi, sebaiknya kalian menyamar agar tidak diketahui oleh fans" saranku kepada mereka.

"apa? Aku punya penggemar? Ini menakjubkan guys!" ucap Ron narsis nya kumat.
"aku bisa membayangkan dikelilingi wanita cantik disebelahku-dan... Bukkkk- Hermione memukul kepalanya dengan buku yang diambilnya dari ruang tengah tadi.

"Awww" teriak Ron.

"Dia benar, kita berada di negara yang mayoritas muggle, jadi lebih baik kita mengikuti saran gadis ini." Jawab Hermione sok tau.

"Namaku Fanny Rahma. Panggil saja Fanny." Ucapku sambil memperkenalkan diri.

"Tentu, kau bisa memanggil kami dengan nama depan kami." Jawab Potter itu.

Aku hanya tersenyum.

"Sebaiknya aku istirahat, aku merasa lelah sekali setelah melawan Voldemort kemarin. Selamat malam Guys. Ucap Harry dan langsung memasuki kamar nya dengan Ron."

"Aku juga." Sahut Ron yang membuntuti Harry.

Mereka semua pun tertidur. Kecuali Hermione yang masih sibuk mencari penyebab ia disini. Aku memberitahu perpustakaan kecilku itu dan Hermione langsung semangat mencari informasi keberadaan mereka dan bagaimana kembali ke tahun 1998.

Aku membantu Hermione memilah buku-buku itu. Kami sama-sama kutu buku.

"Kalau boleh tau, dimana kami berada? " tanya Hermione sambil sibuk memilah-milah buku yang jumlahnya mungkin hanya 50-an saja dan beberapa buku itu tentang ilmu hitam atau majalah mistis.

"kau di Indonesia Hermione! Dan kau tahu ini tahun berapa? 2011! Dan bagaimana kalian bisa masuk kesini?" jawabku semangat kepada Hermione.

"Kurasa, saat Harry akan mematahkan tongkat Elder, kami sudah tersedot sebuah lubang hitam. Dan tiba-tiba kami sudah disini. Dan aku pingsan." Jawab Hermione.

"Maafkan aku. Aku memukulmu keras sekali dan aku tak tahu kalau itu kau." Jawabku sambil menghela nafas menyesal.

"Tak usah dipikrkan" jawab Mione singkat.

"Lebih baik kau meneruskan pencarian tentang bagaimana kembali ke Hogwarts itu besok. Orang tuaku akan datang beberapa menit lagi aku takut ketahuan." Pintaku kepada Mione.

"baiklah, kurasa aku butuh istirahat" ucap Hermione kembali ke kamarnya. Aku mengunci pintu rapat-rapat agar ayah dan ibuku tidak tau ada orang lain dikamarku. Apalagi laki-laki.

*End Of Flashback*


Gak jelas PoV

Sebastian benar-benar tercekat kaget mendengar berita itu, tapi ia seolah memansang wajah dingin tak perduli. Walaupun hatinya juga senang jika anak yang dilindunginya mati-matian itu selamat.

"Apa? The Golden Trio itu ada disini? Ucap Syifa tak percaya.

"Ya tentu, mereka dirumahku..

Aku langsung memandang Sebastian dan menanyakannya apakah ia mau menemui orang yang dia lindungi selama belasan tahun itu atau tidak. Tapi dia berkata, dia akan menemuinya tapi tidak hari ini.

"Apakah anda tidak keberatan jika saya mengatakan keberadaan Anda pada mereka Sir?" ucap Fanny.

"Beritahukan saja jika aku masih hidup. Dan berada di kota ini. Tapi jangan beritahu dimana aku tinggal sekarang" sahutnya dingin.

"Bagaimana jika me-Legillimens saya Sir?" tanya Fanny tak yakin.

"Itu urusan mudah." Seringainya tajam


Sementara itu, The Golden Trio...

Hermione memilah-milah buku diperpustakaan pribadi Fanny, sementara Harry sedang memainkan alat musik gitar dikamar Fanny dan Ron memainkan game di laptop baru Fanny. Saat sedang asik memilah milah buku itu, tanpa sengaja ia melihat foto ayah ibu dan fanny disana. Mereka keluarga kecil yang bahagia. Dan mengingatkannya kepada orang tua Hermione, ia tak tahu bagaimana kabar dan keberadaan orang tuanya setelah meng-Obliviate nya. Hermione benar-benar menyesal melakukan itu. Dan ia berharap jika ia dipertemukan dengan orang tuanya lagi. Tapi sepertinya itu tidak mungkin. Mereka tak mungkin mengenali Hermione, dan apalagi ditahun 2011 ini.

Cairan putih bening mengalir dari matanya, Harry menyadari hal itu. Dia menghampiri Mione dan menenangkannya. Ron juga ikut menenangkannya.

"Sudahlah Mione. Jika kau tidak meng-Obliviate mereka dulu, mungkin mereka akan ikut terbunuh. " Harry berusaha menenangkannya.

"Tapi Harry, aku tak tau bagaimana keadaan mereka dan dimana mereka sekarang!" jelas Mione yang tangis nya semakin menjadi-jadi.

"Apa yang dikatakan Harry benar, Dear. Kami akan berusaha membantumu untuk mencari mereka setelah kita kembali ke Hogwarts." Ucap Ron sambil memeluknya.

"Sungguh?" tanya Hermione yang menuntut penjelasan.

"Tentu" jawab Ron tenang.


Back to The Potter Five and Sebastian

Makanan yang kami pesan akhirnya tiba, dan seorang wanita mengantarkannya kepada kami. Sebastian sepertinya kaget dengan kehadiran wanita yang baru saja mengantar makanan untuk mereka Evanska yang baru kami bicarakan beberapa saat lalu. Sebastian memandang wanita itu lekat-lekat tanpa ekspresi dan tanpa berkedip. Wanita –seumuran dengan Sebastian- itu sadar jika ia sedang dipandangi, dan memandang balik Sebastian dengan senyum indah nan manisnya itu. Sebastian hanya tersenyum sedikit, lebih tepatnya menarik sebelah bibir nya sedikit. Aku melihat sebuah kilasan sesaat dimata Sebastian, kilasan kebahagiaan yang seakan bangkit kembali.


Apakah Sebastian Severus Snape jatuh cinta kepada wanita mirip Lily Evans itu? Apakah Leila sudah memiliki pendaamping hidup dan Akankah Leila Evanska membalas cinta Severus?


TBC

A/N : YAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA AAAAAA... Chapter III udah diupdate ini, kali ini lebih panjang hehehe! Gaje banget, OOC, Typo, Kepo(?), dan sangat mengerikaaannnnnnnnnnnnn.. Don't forget to REVIEW yaa...

NO FLAME!