Bleach © Tite Kubo

.

.

.

Warning: Bahasa berantakan, OOC, mungkin ada beberapa typo─karena author ga check ulang, bahasa inggris yang mungkin berat(?)

.

.

.

RnR

.

.

.

Kuchiki Rukia tengah membenamkan wajahnya di bantalnya sambil sesekali mendesah berat. "Iblis sialan," umpatnya.

"Argh! Suatu saat akan kubuat iblis itu menyesal!" lanjutnya kesal. Ia tampak sedang tak waras? Lebih tepatnya ia tengah frustasi.

Drrt… Drrt… Drrt…

Mendengar getaran handphonenya ia langsung bangkit dari ranjangnya dan mengambil handphonenya yang ada di dalam tasnya yang tergeletak di atas meja belajar.

'Nomor tak dikenal?'

"Halo?" tanpa harus banyak pikir, Rukia segera mengangkat telepon tersebut.

"Ah! Kau sudah sampai di rumah?" sahut orang tersebut di seberang telepon.

"Siapa ini?" tanya Rukia datar―berpura-pura tidak tahu.

"Eeh? Masa kau tidak mengenali kekasihmu sendiri sih?" gerutu orang yang di seberang telepon tersebut.

"…" Rukia memutuskan untuk tidak menjawab.

"Oiii~"

"Kalau kau meneleponku hanya ingin berbicara nonsense seperti ini, aku akan menutup teleponnya." balas Rukia kesal.

"Hei! Beginikah sikapmu kepada kekasihmu sendiri?"

"Tidak penting, darimana kau tahu nomor ponselku?" tanya Rukia langsung.

"Tidak penting, sedang apa kau?"

"Jangan mengikutiku, jeruk! Jawab pertanyaanku!" emosi Rukia mulai naik.

"Baiklah, baiklah… Dari Inoue Orihime―"

"APA?" Rukia sudah memotong kalimat Ichigo sebelum sempat ia selesaikan.

Sambungan telepon tampak sunyi sebentar. Tampaknya tadi Ichigo menjauhkan ponselnya dari telinganya karena mendengar teriakan Rukia yang tidak bisa di katakan pelan.

"Jangan berteriak-teriak, ini sudah malam. Tidak tahukah kau telingaku hampir tuli karena teriakkanmu tadi?" protes Ichigo.

"Aku tidak peduli. Kenapa Inoue mau memberitahumu nomorku pada mantan brengseknya ini?" tanya Rukia ketus.

"Brengsek? Hey, tak bosankah kau dengan nama panggilanku yang kau berikan kepadaku itu?"

"Jangan mengelak! Jawab aku!" geram Rukia.

"Yeah, aku hanya bertanya kepadanya dan dia memberikan nomormu secara cuma-cuma," jelas Ichigo santai.

"A-APA?"

"Sudah kukatakan 'kan? Jangan teriak-teriak di malam hari begini, midget!"

"Mi-Midget? Aku hanya kurang tinggi, jeruk abnormal!" elak Rukia.

"Akui sajalah, nona midget~ Lagipula aku bukannya abnormal, aku hanya playboy~"

"Kau puas? If that's all, I'll hang up!" balas Rukia malas.

"Yah… Aku hanya ingin memastikan kalau kau sampai di rumah dengan selamat~ Jaa nee, my princess~ Oyasuminasai~ Have a sweet dream~"

"Tadinya aku akan bermimpi indah, tapi karena kau menelepon, mimpiku akan menjadi mimpi buruk!" kesal Rukia. Setelah itu ia langsung memutuskan sambungan teleponnya dengan sang kekasih.

"Argh! Sial!" umpat Rukia seraya melempar handphonenya ke ranjangnya.

.

.

.

XxXxXxXxX

.

.

.

"Kuchiki-saaaan~ Ohayou~" sapa Inoue saat Rukia memasuki ruang kelas 2-3.

"Ohayou," balas Rukia datar―tunggu, bukannya ada hal yang ingin ditanyakannya?

"Inoue, apa maksudmu memberikan nomorku pada si jeruk playboy abnormal sialan itu?" kesal Rukia. Inoue hanya nyengir tanpa dosa―membuat Rukia semakin kesal.

"Aah~ Kemarin ia meneleponku dan bertanya nomormu, awalnya aku ragu, tapi aku lihat ia tak pernah berjuang sesulit ini untuk mendapatkan seorang wanita," kekeh Inoue.

"Tapi itu tak berarti kau harus memberikan nomorku 'kan?" gerutu Rukia sebal.

"Sorry~"

"Nee, bukannya kau benci dengan Kurosaki itu?"

"Eh? Kapan aku berbicara seperti itu?"

"Waktu itu kau bilang menyesal sudah pernah jatuh padanya,"

"Aku memang menyesal, tapi aku tidak membencinya," jawab Inoue dengan senyumnya. "Dan aku mendukungmu dengan Kurosaki-kun~"

"A-Apa?"

"Ohayou, Kurosaki-sama~" sapa seseorang dibelakang Rukia mendadak hingga Rukia terlonjak kaget.

"Kenapa kau kaget? Sebegitu rindunya kah kau padaku?" goda laki-laki itu―yang ternyata Ichigo―sambil terkekeh.

"Aku benci padamu," desis Rukia emosi.

"Tapi aku suka padamu~"

"Diamlah, jeruk busuk!" emosi Rukia mulai memuncak.

"Forget that, mau kencan lagi denganku hari ini?"

"No, thanks!" tolak Rukia ketus.

"Heh? Bagaimana kalau laki-laki itu melihat perilakumu yang begitu dingin ini kepadaku?" Rukia langsung membatu saat Ichigo mengucapkan kata yang menyindir Hisagi.

"Laki-laki itu?" Inoue menyiritkan keningnya. "Siapa itu, Kurosaki-kun?"

"I-Inoue… Aku mau berbicara dengannya dulu… Permisi!" balas Rukia panik sambil menyeret Ichigo keluar kelas. Sedangkan yang di tarik hanya tersenyum-senyum sendiri. Entah apa yang jeruk itu pikirkan saat ini.

.

.

.

XxXxXxXxX

.

.

.

"Oy, Renji! Ichigo dimana?" Tanya Grimmjow seraya merangkul Renji.

"Entahlah…"

"By the way, apa dia sudah mendapatkan Kuchiki Rukia?"

"Kabarnya sih sudah… Tapi aku belum memastikannya," jawab Renji seraya mengangkat kedua bahunya.

"Hebat juga dia…"

"Hey, kabarnya ada anak baru yang akan masuk sekolah ini lho," seru Renji.

"Lalu? Aku tidak tertarik,"

.

.

.

XxXxXxXxX

.

.

.

"Apa sebenarnya maumu, hah?" seru Rukia kesal.

"Apa maksudmu? Aku 'kan tidak berbuat apa-apa," Ichigo membela dirinya sendiri.

"Tch, dengan santainya kau menyinggung laki-laki brengsek itu, kau bilang tidak berbuat apa-apa? Ini sebabnya aku benci laki-laki," gerutu Rukia seraya memalingkan wajahnya dan melipat kedua tangannya di depan dada.

"Baiklah, aku minta maaf, oke?" ucap Ichigo mengalah. Rukia hanya menghela napasnya panjang.

"Inilah sebabnya aku benci dengan laki-laki,"

"Whatever. But you won't hate me, right?" bisik Ichigo di telinga Rukia. Rukia segera mendorong tubuh Ichigo―yang sudah pasti jauh lebih besar dari tubuhnya―menjauh.

"AKU MEMBENCIMU!" teriak Rukia kencang tepat di telinga Ichigo. Untungnya―atau bagi Rukia, sialnya― telinga pemuda itu masih berfungsi dengan baik walaupun berdengung.

"Cewek galak!"

"Playboy!"

"Sok suci!"

"Sok keren!"

"Midget!"

"Midget?" geram Rukia. "Kau tahu? Kau tak pantas menghina anggota tubuhku, bodoh! Karena―" Rukia menunjuk rambut Ichigo―dengan berjinjit tentunya―dengan jari telunjuknya, "―rambut abnormalmu ini juga aneh!"

Ichigo sedikit tersentak dengan penuturan Rukia tadi. Apa katanya?

"Kau tahu? Selain rambut abnormalmu itu, tinggi badanmu sepertinya juga tidak normal. Asal kau tahu, tinggi badanmu seperti tiang lisrik!"

"Aku sangat yakin kalau rambutmu itu di cat. Dasar berandalan!" lanjut Rukia seraya menggelengkan kepalanya.

"Hey, asal kau tahu saja, nona midget, rambutku ini asli dan warna ini adalah warna rambut yang sama dengan ibuku,"

Rukia tertegun. Benarkah itu? Walaupun ia tidak suka dengan warna rambut Ichigo, tapi untuk saat ini ia merasa lebih baik tidak menyinggungnya dulu. Karena, Ichigo terlihat sangat mencintai dan menghormati ibunya.

"Well, anggap saja aku mengakui hal itu. Awas kalau kau berani menyebut nama itu lagi di depan Inoue!" ancam Rukia. "Aku masuk kelas dulu. Sebaiknya―" Rukia yang sudah berada di ambang pintu kelasnya berbalik menghadap Ichigo kembali. "―kau kembali ke kelasmu, Ichigo,"

Ichigo mengangguk pelan. Sekitar beberapa detik Ichigo baru menyadarinya…

APA?

Rukia-nya memanggilnya 'Ichigo'?

Benarkah ini yang pertama kalinya? Atau Ichigo yang tak menyadari kalau Rukia pernah memanggilnya seperti itu? Well, hanya Kami-sama, author dan readers yang menyadari hal itu.

.

.

.

XxXxXxXxX

.

.

.

Bel sudah berbunyi dan semua murid dengan patuhnya masuk ke dalam kelas. Begitu juga dengan Kuchiki Rukia.

"Ohayou, minna,"

"Ohayou, Ukitake-sensei!" seru murid-murid kelas 2-3.

"Naa, saya yakin beberapa anak di sini sudah ada yang mendengar tentang anak baru yang akan masuk hari ini, bukan?"

"Pst, Inoue… Memangnya hari ini ada anak baru?" tanya Rukia dengan berbisik pada Inoue yang duduk di sebelahnya.

"Kau tidak tahu, Kuchiki-san? Hari ini ada anak pindahan dari Hueco Mundo, Jigoku distrct."

Rukia sedikit sweatdrop, 'Darimana Inoue tahu sampai sedetail itu?'

"Nah! Ini dia yang kalian tunggu-tunggu! Silahkan masuk, Kitamura-san,"

Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian Rukia yang sedang focus dengan penjelasan Inoue.

"Ohayou! Ore wa Kitamura Kokuto daa! Yoroshiku, naa!" sapaan pemuda berambut putih itu―Kokuto―terkesan santai. Dan itu membuat para gadis-gadis di kelas 2-3 sukses berteriak histeris melihat ketampanan Kokuto.

Mata Rukia membelalak saat melihat Kokuto. Dan reflek ia memanggil─dengan suara yang cukup keras, "Ko-Kokuto?"

"Rukia? Hisashiburii jaa nee!" sapa Kokuto saat ia melihat dan mendengar panggilan Rukia.

"Kau kenal, Kuchiki-san?" suara Inoue membuat Rukia terkejut. "I-Iya. Kokuto adalah teman lamaku,"

"Oke! Ada yang mau bertanya?" tawar Ukitake-sensei. Para gadis yang merasa mendapat kesempatan untuk mengenal Kokuto lebih jauh pun mulai bersemangat. Hampir seluruh siswi di kelas itu mengangkat tangannya. Dan itu membuat Kokuto agak takut─juga bingung─dengan ke-agresifan para siswi di kelas ini.

"Boleh aku minta nomor handphonemu?"

"Apakah kau masih single?"

"Apa makanan favoritemu?"

"Bolehkah aku mendaftar menjadi pacarmu?"

Kira-kira itulah beberapa pertanyaan dari sekian banyak pertanyaan─yang di ajukan oleh siswi─yang di tujukan pada Kokuto.

"Anoo… Kalau kalian mau bertanya tolong satu-satu… Aku bingung mau menjawab yang mana terlebih dahulu," ucap Kokuto seraya menggaruk kepalanya.

"Sudah. Sesi pertanyaan bisa kalian lanjutkan di waktu istirahat nanti. Sekarang Kitamura-san boleh duduk. Err… Kitamura-san duduk di belakang Kuchiki-san. Kalian sudah saling mengenal 'kan?"

Kokuto hanya tersenyum dan mengangguk. Lalu ia segera berjalan menuju kursi di belakang bangku Rukia.

"Yoroshiku!" bisik Kokuto pelan kepada Rukia setelah ia menempati kursinya. Rukia membalas dengan tersenyum.

"Yoroshiku naa."

-TBC-

Yosh! Apa kabar, minna?

Saya kembali setelah masa UTS yang menyiksa luar-dalam(?) dan batin(?) saya~

Ya, apa deh~ Maaf banget ya… Chapter 3 ini sedikit banget

Saya kena WB sebelum masuk masa UTS, dan saat saya mau lanjutin, ga berasa udah mau UTS aja-_- *alesannya~* wkwk=D

Saya berterima kasih banget sama readers yang setia membaca fic saya ini^^

Di sini saya yakin, bahasanya jadi berantakan… Soalnya WB saya belom hilang sepenuhnya. Ini aja saya paksakan, kalau ga ini fic ga update dan mungkin berakhir discontinued ._.

Aduuh~ saya seneng banget buat yang review… Maaf kalau fic ini ga kerasa feelnya.

Btw, anybody here wants me to change this fic's genre? Just say it and mention why~

Balesan review (yang ga log-in):

Zanpaku-Nee:

Haiii~ x) maaf telat update

Hehe~ nanti soal cewek yang di hamilin dan anaknya Hisagi bakal di jelasin kok. Just wait! #bletak

Mind to review again? xD

kokota:

Hehe! Gimana chapter ini? Makin gajekah? Nah, jangan lupa sama Kokuto yah :p

Mind to review again? X)

Searaki Icchy lg males Log in:

Holaa~ setelah sekian lama saya menunda fic ini, akhirnya update! :p btw, Icchy-Nee aja yang baca jijay, apa lagi saya yang buat… Ngakak sendirian saya tengah malem-_-

Mind to review again?

Anya Hitsugaya:

Maaf ya, dari kesibukan yang padat merayap (baca = sok sibuk) saya baru bisa update~ xD

Mind to review again? ^^

Thanks to:

nenk rukiakate

Riruzawa Hiru15

Lady Beilschmidt

Zanpaku-Nee

Twingwing RuRaKe

Kokota

Searaki Icchy

Anya Hitsugaya

curio cherry

Kyucchi

Cheeky n' Hyuu-su

Nakamura Chiaki

Then, last words,

Arigatou gozaimasu & review please~ x)