Title: Why I Hate U? Why U hate Me? (Chapter 3)
Disclaimer : Semua cast di FF ini adalah milik Tuhan yang maha kuasa dan diri mereka masing-masing serta keluarga mereka, author hanya meminjam nama mereka untuk kesenangan semata. Sedangkan cerita ini milik author sepenuhnya.
Pairing : Jo Twins
Cast: Jo Twins, Minwoo, Donghyun, dan ,Kai.
Rating : T
Genre : hurt/Romance
Warning : Boys Love, Alur tidak diperhitungkan, abal, gaje, typo(s), dari penulis yang masih terbilang baru dan gak tahu tata cara menulis yang baik. Jadi bagi readers harap maklum. Lebih baik sediakan kantong plastik jika membaca FF ini karena akan mengakibatkan mual, muntah, sakit kepala, dan komplikasi lainnya.
Summary : Cho Kwangmin, namja miskin yang selalu di benci oleh Jo Youngmin seorang namja kaya karena wajahnya yang mirip. Akankah Youngmin berhenti membenci Kwangmin atau malah sebaliknya?
Don't Like Don't Read.
Bagi yang masih ingin membacanya saya ucapkan 'HAPPY READING'
Kwangmin POV
Jam weker disebelah tempat tidurku berbunyi, kulihat jarum jam yang menunjukkan pukul 7.30. Gawat aku terlambat, ah bagaimana ini aku belum bersiap-siap. Segera ku ambil handuk yang ada dibelakang pintu kamarku dan berlari menuju kekamar mandi.
Setelah selesai mandi aku langsung memakai seragamku, semoga saja aku tidak terlambat. Semua sudah siap, tidak lupa aku membawa laporanku dan Youngmin agar kami tidak mendapat nilai E. Aku segera berangkat kesekolah, kuputuskan untuk berlari saja. Jika menunggu bis mungkin akan memakan waktu yang lama. Tidak lama aku berlari aku melihat sebuah mobil berhenti tepat di sampingku, aku menghentikan langkahku. Pintu mobil itu terbuka, kulihat seorang namja yang sangat aku kenal. Youngmin, dia menjemputku.
"Ya! Namja pabbo, cepat naik ke mobilku." Teriak Youngmin padaku. Aku hanya menurut saja padanya dan masuk kedalam mobilnya.
"Youngmin-ssi maafkan aku, aku mengerjakan laporan ini sampai jam 3 pagi dan aku terlambat bangun." Ucapku sambil mengatur napas yang tersengal-sengal akibat berlari tadi.
"ah kau ini banyak alasan. Sudah tahu terlambat, kenapa kau tidak naik bis hah?" ucap Youngmin dengan nada marah kepadaku.
"aku hanya ingin meminimalisir pengeluaranku, kau tahu kan aku tidak mempunyai banyak uang, jadi aku menghemat. Untuk Studi Tour kemarin saja aku meminjam pada temanku." Aku memberikan alasan kepadanya.
"sebegitu miskinnyakah kau?." Tanyanya padaku sambil tersenyum sinis kepadaku, apa dia tidak tahu kalau aku memang miskin, untuk sekolah saja aku harus bekerja keras.
"Appaku hanya seorang buruh Youngmin-ssi, gajinya hanya cukup untuk makan 1 bulan dan separuh biaya sekolahku dan untuk separuhnya lagi aku harus bekerja paruh waktu, haa kenapa aku jadi curhat seperti ini padamu, maaf Youngmin-ssi" ucapku lagi. Kutahan agar aku tidak terlihat sedih.
"ya sudah, dasar merepotkan saja." Ucapnya sambil membuang muka kearah samping sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya.
.
.
.
.
Youngmin POV
Aku dan supir ku pergi menjemput Kwangmin. Kutelusuri jalan yang biasa dilewati olehnya. Dimana namja pabbo itu, ah itu dia aku melihat namja pabbo itu berlari.
"Ya! Namja pabbo, cepat naik ke mobilku." Kubuka pintu mobilku saat supirku sudah menghentikan mobilku tepat disamping Kwangmin.
"Youngmin-ssi maafkan aku, aku mengerjakan laporan ini sampai jam 3 pagi dan aku terlambat bangun." Kata Kwangmin yang menaiki mobilku. Kwangmin terengah-engah menahan nafasnya mungkin karena berlari agar tidak terlambat.
"ah kau ini banyak alasan. Sudah tahu terlambat, kenapa kau tidak naik bis hah?" ucapku kesal. Dia ini membuatku ingin menghajarnya.
"aku hanya ingin meminimalisir pengeluaranku, kau tahu kan aku tidak mempunyai banyak uang, jadi aku menghemat. Untuk Studi Tour kemarin saja aku meminjam pada temanku." Ucap Kwangmin menundukkan kepalanya. Nampak raut kesedihan di wajah Kwangmin.
"sebegitu miskinnyakah kau." Tanyaku sambil menunjukkan senyum sinisnya pada Kwangmin.
"Appaku hanya seorang buruh Youngmin-ssi, gajinya hanya cukup untuk makan 1 bulan dan separuh biaya sekolahku dan untuk separuhnya lagi aku harus bekerja paruh waktu, haa kenapa aku jadi curhat seperti ini padamu, maaf Youngmin-ssi" ucap Kwangmin menahan kesedihan, aku agak terkejut. Kenapa rasanya aku begitu sakit mendengar ucapannya barusan.
"ya sudah, dasar merepotkan saja." Kupalingkan wajahku agar aku tidak terlihat bersedih mendengar ucapannya tadi. tidak kusangka dia memang sangat miskin.
.
.
.
.
Author POV
Sesampainya mereka di sekolah, Kim sonsaengnim yang terkenal killer sudah menunggu di depan gerbang sekolah. Siap dengan penggaris besar ditangannya.
"Ya! Kalian berdua, kenapa terlambat, tumben sekali kalian terlambat. Kalian berdua tahu kan hukuman bagi siswa yang terlambat" Kim sonsaengnim tersenyum kepada Kwangmin dan Youngmin saat mereka memasuki gerbang sekolah.
"maaf Kim Sonsaengnim, tadi aku kesiangan dan Youngmin, dia tidak bersalah jadi aku mohon jangan hukum dia." Kwangmin berusaha memberikan alasan agar Youngmin tidak dihukum oleh Kim Sonsaengnim.
"kau dengar sendirikan Kim Sonsaengnim, aku tidak bersalah. Jika kau mau menghukum, hukum saja namja pabbo ini." ucap Youngmin menepuk pundak Kim sonsaengnim dan kemudian pergi meninggalkan Kwangmin yang masih menundukkan kepala.
"Ya! Kau,, aishhh dia itu selalu seenaknya sendiri. Kau Cho Kwangmin, sekarang bersihkan semua koridor di sekolah ini. jangan lupa koridor yang ada di belakang ruang seni itu kau bersihkan juga." Perintah Kim sonsaengnim pada Kwangmin. betapa terkejutnya hati Kwangmin mendengan hukuman yang akan dia jalani.
"semuanya Kim sonsaengnim." Tanya Kwangmin ragu-ragu.
"ne semuanya, Wae, kau keberatan dengan hukuman itu." Ucap Kim sonsaengnim dengan wmata melotot membuat Kwangmin takut.
"ti-tidak Kim sonsaengnim." Kwangmin menundukkan kepalanya.
"ya sudah sekarang kerjakan semuanya!." Teriak Kim sonsaengnim pada Kwangmin membuat Kwangmin berlari mengambil peralatan kebersihan.
Sementara di kelas Youngmin hanya duduk terdiam dibangkunya. Melihat Youngmin diam seperti itu, Minwoo mendekati Youngmin.
"hey youngmin-ah, kau kenapa? Tidak biasanya kau diam seperti ini?" tanya Minwoo sambil mendudukkan dirinya di kursi sebelah Youngmin.
"ah kau Minwoo-ah, aku baik-baik saja. Kau sudah mengumpulkan laporan Studi Tour kemaren?" tanya Youngmin pada Minwoo. Posisinya tetap tak berubah.
"belum, eh kau melihat Kwangmin tidak." Tanya Minwoo pada Youngmin, karena sedari tadi dia belum melihat Kwangmin.
"dia. Eh Minwoo-ah aku pergi dulu ne." Youngmin pergi beranjak dari tempat duduknya meninggalkan kelas.
"hey kau mau kemana? Hah dia selalu saja seperti itu." Gumam Minwoo kesal melihat tingkah sepupunya.
.
.
.
.
Youngmin POV
Tiba-tiba aku teringat namja Pabbo itu, aku putuskan untuk mencarinya. Bisa gawat kalau dia bertemu dengan Sehun, Luhan dan Kai. Tiga namja perusuh yang sering berada di koridor belakang ruang seni. Kalau Namja pabbo itu bertemu dengan mereka, bisa-bisa dia dihajar oleh Tiga Namja perusuh itu. Walaupun mereka Namja perusuh tapi mereka takut kepadaku. Tapi Kwangmin, aku bisa pastikan Kwangmin akan jadi bulan-bulanan tiga namja perusuh itu.
Ah, dimana sih dia. Aku sudah berkeliling mencarinya, tapi dia tetap juga tidak ketemu. Jangan-jangan dia sudah berada di koridor di belakang ruang kesenian. Sebaiknya aku kesana.
.
.
.
.
Kwangmin POV
Lelah sekali membersihkan semua koridor disekolah ini, sekarang tempat terakhir yang harus aku bersihkan. Koridor yang ada dibelakang ruang kesenian, itu adalah tempat terakhir yang harus aku bersihkan. Dengan santai aku menuju ke koridor yang ada di belakang ruang kesenian. Tapi ternyata di sana ada Sehun, Luhan dan Kai, Tiga namja perusuh yang di segani di sekolah ini. Aku takut mereka akan menghajarku nanti, sebaiknya aku meminta izin pada mereka untuk membersihkan koridor ini.
"permisi Luhan-ssi, Sehun-ssi, Kai-ssi, aku ingin membersihkan koridor ini." ucapku ragu-ragu meminta izin pada mereka.
"kau ingin membersihkan koridor ini ya." Ucap Luhan dengan gayanya yang dingin.
"kau tahu aku dan teman-temanku sedang apa hah!"Luhan kembali berbicara dengan nada tinggi yang membuatku sedikit ah mungkin sangat takut.
"ti-tidak Luhan-ssi, aku tidak tahu Luhan-ssi, mianhae" kataku gugup ketika Luhan dan teman-temannya mendekatiku. Tanganku menjadi lemas karena ketakutan, Seketika alat-alat kebersihan yang ada ditanganku terjatuh.
"Guys, kemari."ucap Luhan memanggil teman-temannya, membuatku ingin lari dari tempat itu.
"Hey lihat ini, Cho Kwangmin. dia sedang membersihkan koridor sekolah. Guys ayo kita beri pelajaran pada dia" ucap Sehun yang sudah mendekatiku hendak meninjuku.
"tunggu, kau, mau apa kau, kau ingin menghajarnya?" suara seorang namja menghentikan tangan Sehun yang ingin meninjuku, dia Jo Youngmin. Dia menyelamatkan aku.
"jawab aku bodoh, kalau kau ingin menghajarnya hadapi dulu aku." Ucap Youngmin lagi pada ketiga Namja perusuh yang sekarang terdiam tak berkutik dihadapan Youngmin.
"ti-tidak Youngmin-ssi, k-kami tidak ingin menghajarnya," Kai berbicara dengan gugup, lucu sekali tampang mereka.
"kalian tahu, hanya aku yang boleh menghajar namja Pabbo ini, kalian mengerti." Ucap Youngmin lagi. Aku hanya terdiam melihat semua itu.
"Ne, Youngmin-ssi" ucap tiga namja perusuh itu seraya pergi meninggalkan aku dan Youngmin.
"Youngmin-ssi, gomawo"ucapku sambil membungkukkan tubuhku.
"cih, kau pikir aku mau menolongmu. Dengar ya, aku hanya tidak ingin orang yang aku benci dihajar oleh orang lain, biar aku sendiri yang akan menghajar orang itu. Mengerti kau pabbo."ucapnya sambil berjalan meninggalkan aku.
"eh tunggu Youngmin-ssi, saengil Chukka hamnida." Ucapku menahan langkah kakinya.
"mwo," ucapnya kaget,
"ne, aku melihat di profilmu kau ulang tahun kan hari ini, jadi selamat ulang tahun." Ucapku mengacungkan tangan tanda memberikan selamat padanya.
"heh Pabbo, aku berulang tahun besok." Ujarnya sambil menatapku sinis.
"oh, berarti aku orang pertama yang memberikanmu selamat Youngmin-ssi, siapa tahu besok aku lupa. Hehehe" ucapku sambil pergi melanjutkan pekerjaanku membersihkan koridor itu.
.
.
.
.
Youngmin POV
Aku sudah berhasil membuat Tiga namja perusuh itu pergi, untung Namja Pabbo itu belum sempat diapa-apakan oleh mereka. Dia tersenyum dan mendekatiku.
"Youngmin-ssi, gomawo"ucapnya sambil membungkukkan tubuhnya.
"cih, kau pikir aku mau menolongmu. Dengar ya, aku hanya tidak ingin orang yang aku benci dihajar oleh orang lain, biar aku sendiri yang akan menghajar orang itu. Mengerti kau pabbo."ucapku sambil berjalan meninggalkannya.
"eh tunggu Youngmin-ssi, saengil Chukka hamnida." Ujarnya menahan langkah kakiku.
"mwo," ucapku kaget, ulang tahunku kan besok, dasar namja pabbo.
"ne, aku melihat di profilmu kau ulang tahun kan hari ini, jadi selamat ulang tahun." Ucapnya mengacungkan tangan tanda memberikan selamat padaku.
"heh Pabbo, aku berulang tahun besok." Ujarku sambil menatapnya sinis.
"oh, berarti aku orang pertama yang memberikanmu selamat Youngmin-ssi, siapa tahu besok aku lupa. Hehehe" dia beranjak pergi melanjutkan pekerjaannya yang tertunda gara-gara Tiga namja perusuh itu. Aku kemudian pergi meninggalkan namja pabbo itu dan menuju ke kelas.
Mengingat ucapan Kwangmin tadi, ulang tahunku. Ya, besok memang hari ulang tahunku, tapi kenapa aku malah bersedih seperti ini. ah, apakah Appa dan Umma akan datang saat ulang tahunku besok. Aku harap mereka tidak melupakan hari itu.
'Ayolah Jo Donghae, Jo Eunhyuk, aku masih anak kalian kan' Haa aku menggumam tidak jelas.
.
.
.
.
Author POV
Hari sudah semakin sore, Kwangmin pergi ke cafe seperti biasa. Dengan sedikit berlari berharap agar manager Kang tidak memarahinya hari ini. Cafe terlihat ramai, namja yang berusia sedikit lebih tua menyambutnya dengan senyum khasnya. Seperti seorang hyung bagi Kwangmin, Donghyun, selalu bersikap baik kepadanya.
"Kwangmin-ah, tolong antarkan jus capuccino ice ini ke meja no 15."perintah Donghyun pada Kwangmin.
"baik hyung." Kwangmin dengan cepat mengambil gelas berisi capuccino ice yang ada di dekatnya.
Dia berjalan cepat, tanpa sengaja dia menabrak seseorang sehingga Capuccino ice itu mengotori namja yang tadi dia tabrak dan gelas yang ada ditangan Kwangmin terjatuh hingga pecah dilantai Cafe. Semua pengunjung kaget mendengar gelas yang pecah tersebut. Kwangmin cemas melihat hal itu tapi hal yang membuat dia lebih terkejut adalah Namja yang baru dia tabrak.
"Ya! Kau, pakai matamu. Bajuku jadi kotor." Ucap namja itu membersihkan bajunya yang kotor.
"ah mianhae Youngmin-ssi." Ujar Kwangmin pada namja yang diketahui bernama Youngmin itu.
"kau ini selalu membuatku kesal, Jeongmin-ah kemari kau." Teriak youngmin memanggil Jeongmin. Jeongmin yang merasa namanya dipanggil mendekati Youngmin.
"Ne, Youngmin-ah ada apa?" tanya Jeongmin pada Youngmin.
"lihat kelakuan karyawanmu ini, aku ingin kau memecatnya sekarang juga." Ucap Youngmin dengan nada marah.
"Mwo!" ucap Kwangmin dan Jeongmin bersamaan, mereka kaget mendengar ucapan Youngmin barusan.
"aku mohon Youngmin-ssi, jeongmin-ssi jangan pecat aku, hanya ini satu-satunya pekerjaanku." Kwangmin berlutut memohon pada Jeongmin dan Youngmin.
"cepat pecat namja pabbo ini atau kau tahu akibatnya Jeongmin-ah."ujar Youngmin yang kemudian pergi meninggalkan Kwangmin dan Jeongmin.
"maafkan aku Kwangmin-ssi, aku harus memecatmu. Tapi tenang saja, kau bisa pergi ke restorant china yang ada diujung jalan ini, itu juga restorant keluargaku. Katakan pada manager Park, bahwa aku yang menyuruhmu kesitu." Ujar Jeongmin sambil memegang pundak Kwangmin.
"gomawo Jeongmin-ssi. Aku akan pergi kesana." Kwangmin tersenyum dan meninggalkan Jeongmin menuju ke ruang ganti di cafe itu. Dilihatnya Donghyun yang ada di sana.
"donghyun hyung, aku ingin pamit." Ucap Kwangmin sambil membereskan barang-barangnya.
"mwo, kau mau kemana?" Donghyun kaget mendengar ucapan Namja yang ada di hadapannya itu.
"aku di pecat dari sini. Tapi aku akan ke restorant china yang ada di ujung jalan sana, Jeongmin bilang itu juga milik keluarganya." Kwangmin tersenyum pada Donghyun.
"hah, jadi kau akan bekerja di sana, aku tidak mempunyai teman lagi kalau begitu." Donghyun memperlihatkan wajah sedihnya.
"kau tenang saja Hyung, kita akan sering bertemu, dan masalah uangmu itu. Nanti akan kukembalikan setelah aku gajian." Kwangmin masih membereskan barang-barangnya.
"ah itu, kau tidak perlu mengembalikannya, aku memberikannya untukmu." Ujar donghyun tersenyum pada Kwangmin.
"tapi hyung"
"sudahlah, anggap saja hadiah dariku." Donghyun memegang pundak Kwangmin dan kembali tersenyum padanya.
"gomawo hyung aku pasti akan sangat merindukanmu. Gomawo sudah menjadi hyungku selama ini" Kwangmin memeluk Donghyun sambil menangis.
"hey sudahlah, jangan cengeng begitu, kau itu Namja kuat. Jangan menangis" donghyun melepaskan pelukan Kwangmin.
Kwangmin kembali tersenyum, setelah semua barangnya selesai dia beresi. Kwangmin beranjak meninggalkan cafe dengan perasaan yang entah dia sendiripun bingung untuk menjelaskannya. Mulai hari ini dia akan menjalani kehidupan baru, dia harus kembali beradaptasi dengan pekerjaan barunya nanti.
.
.
.
.
Youngmin POV
Hari ini benar-benar sial, kenapa Namja pabbo itu selalu membuatku sial. Tadi sebelum berangkat kesekolah, dia terlambat dan aku harus menjemputnya. Juga waktu dia membersihkan koridor, aku harus menyelamatkannya dari Tiga namja perusuh itu. Dan terakhir waktu di cafe milik Jeongmin, dia menabrakku. Dan bajuku motor akibat minuman yang ada ditangannya. Aku suruh saja Jeongmin memecat Namja pabbo itu. Eh tapi nanti dia bekerja dimana, nanti bisa-bisa dia berhenti sekolah. Ah untuk apa memikirkan dia.
Kulihat rumahku masih sepi, aku berjalan menuju ruang tamu, tidak ada siapa-siapa. Apa Appa dan Eomma belum pulang? Kuputuskan untuk melihat kekamar mereka. Kuketuk pintu kamar itu berkali-kali, tapi tetap tidak ada jawaban. Akhirnya ku putuskan untuk membukannya. Tidak kutemukan orang yang aku harapkan, kamar itu masih kosong. Berarti mereka memang belum kembali dari jepang. Bukankah besok ulang tahunku, kenapa mereka belum kembali? Apa mereka lupa hal itu?
Aku menangis, berjalan gontai menuju ke dapur. Kulihat Park ahjuma disana sedang menyiapkan makanan untukku. Aku masih menangis ketika sudah berada di hadapannya.
"ahjuma hiks ahjuma hiks" tangisku tak bisa kutahan lagi.
"tuan, kenapa kau menangis."tanya ahjuma padaku, Park ahjuma menghentikan kegiatannya.
"ahjuma hiks, kenapa mereka melupakanku ahjuma." Tubuhku melemas dan terduduk dilantai. Park ahjuma memelukku.
"Tuan katakan pada ahjuma apa yang terjadi?"
"ahjuma hiks, Appa dan Eomma, apa aku bukan anak mereka?" aku masih menangis dipelukan park ahjuma.
"Tuan jangan berkata seperti itu, tidak baik." Ahjuma menenangkanku.
"kenapa mereka melupakanku, besok ulang tahunku ahjuma, tapi mereka belum juga kembali dari jepang. Apa bisnis lebih penting daripada aku?" ucapku masih dengan keadaan menangis dipelukan Park ahjuma.
Park ahjuma hanya ikut menangis, tidak mampu berkata apa-apa. Aku memang hebat di sekolah, semua takut padaku. Tapi untuk kebahagiaan, aku jauh tertinggal. Aku jarang mendapatkan kebahagiaan seperti yang kuinginkan. Mungkin jika aku sudah mati baru Appa dan Eomma akan menyadari pentingnya aku bagi mereka. Hingga saat ini aku masih menangis.
'Appa, Eomma, aku merindukan kalian.'
TBC
Waaahh FF apa ini.. berantakan banget chapter ini.
RnR please
Buat masukan author...
Buat yang udah reveiw, gomawo...
