.

.

.

.

.

Sorry, udah lama gak update ^^... mau nerusin, bener-bener pengen nerusin tapi g' punya waktu soalnya ujian mau lulus, sampai lupa plotnya...ah, udah ah, kok malah curhat!

OK, makasiiiihhhhhhh banget buat temen-temen yang bersedia review, g' nyangka ada yg suka*o*!ampe' cengingisan sendiri bacanya. Well, selamat membaca!

.

.

Let Me With You ch 3

"Aishiteru..."

Sakura mengejapkan matanya tak percaya.

Hening.

Angin malam membelai lembut pipinya yang perlahan berubah warna sebagaimana warna rambutnya, tak bisa mendinginkan telinganya yang mulai memanas barang sedikit saja, mungkin efek dari sake yang diminumnya juga. Astaga, berapa banyak yang telah diteguknya?

"Apa?" respon gadis itu setelah beberapa saat.

"Bangun dan kuantar kau pulang," sahut Kakashi sembari berdiri kembali. Pria itu menundukkan kepalanya menatap kunoichi di bawahnya yang masih tenggelam dalam efek terkejutnya. "Ada apa?" tanyanya santai seolah-olah ia baru saja bertanya mengapa ia memakai masker pada dirinya sendiri.

Sakura segera bangkit dengan agak limbung. Pria Hatake itu segera menahan lengannya agar berdiri dengan benar, tetapi gadis itu menarik tubuhnya dengan agak gugup. "Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri, aku-"

"Kau yakin?" sela Kakashi yang langsung mendapat anggukan Sakura. "Baguslah kalau begitu, kebetulan aku ada urusan dengan Iruka. Baiklah selamat malam!" katanya seraya mengangkat tangannya seperti biasa, salam perpisahan.

Gadis Haruno itu menahan lengan Kakashi yang satunya. "Tunggu." Sakura menarik tangannya kembali. Tadi pria itu bahkan mengikutinya sampai sejauh ini, tapi mengapa tiba-tiba ia seperti tidak peduli?. "Apa kau serius mengucapkan hal tadi?" tanyanya ragu-ragu, lalu menggigit bibir bawahnya, gugup.

Kakashi menelengkan kepalanya, berpikir sejenak. "Apa yang kau pikirkan?" tanyanya kemudian.

Sakura menarik-narik ujung pakaiannya berusaha mengabaikan perasaannya yang mulai gugup. "Sensei, bisakah kau menjawab pertanyaanku tanpa bertanya balik padaku?" tanyanya kesal. Selalu saja, setiap kali mereka berdua saja ketika Sakura bertanya pada pria itu, Kakashi seringkali justru mengembalikan pertanyaannya, seakan-akan Sakura tidak pernah diperbolehkan mengetahui apa yang ingin ia ketahui tentang senseinya itu. Hanya beberapa kali saja Kakashi mau menjawab langsung pertanyaannya, itupun jika pria itu sedang terdesak atau sedang tidak mau mengeluarkan uangnya saat mereka pergi misi.

Agak aneh saat Sakura mulai mengetahui jika seorang Jounin elit seperti senseinya adalah seorang pria yang pelit, saat pertama kali ia tahu yaitu saat tim 7 sedang merayakan kesuksesan misi pertama mereka, beberapa hari setelah semua anggota Tim merasa sehat. Kakashi dengan tidak berdosa menyuruh Sasuke yang mentraktir mereka! Jelas saja pria itu langsung mendapat Death Glare dari Uchiha bungsu. Sakura lebih tidak mengerti mengapa pria itu begitu sayangnya dengan uangnya saat Yamato menjadi kapten dalam tim Kakashi, dari pria berambut coklat itu, ia tahu kalau Kakashi adalah kapten dalam kelompok ANBU. Jelas-jelas kalau pria berambut silver itu kaya! Karena pertama, ia menjadi Jounin sejak berumur 7 tahun, jika dihitung-hitung, dalam sebulan ia bisa mengambil beberapa misi kelas S, pasti uang yang diterimanya bisa membeli sebuah apartemen mewah dalam dua bulan atau membangun sebuah onsen dalam jangka waktu empat bulan. Akan tetapi, pria tinggi itu hanya membeli sebuah apartemen kecil dekat pasar.

Kedua, pria itu menjabat beberapa tahun sebagai kapten ANBU sebelum menjadi gurunya dalam tim 7. Tidak perlu ditanyakan lagi apakah gajinya tinggi, semua shinobi di Konoha juga tahu kalau gaji seorang kapten ANBU dalam tiga tahun mampu menjadi uang pensiun seumur hidup. Dan terakhir, Kakashi bisa saja menggunakan warisan dari keluarganya yang kaya untuk menghidupinya tanpa perlu mengambil misi kelas S yang notabene mendapat imbalan yang tinggi. Pernah sekali ia menanyakan mengapa senseinya sering mengambil misi berbahaya dan mengumpulkan banyak uang sekalipun uangnya sudah banyak. Dan mengapa tidak pria itu gunakan untuk mencari wanita dan menikahinya?

Kakashi yang saat itu membaca buku kesayangannya hanya mengatakan kalau mencari uang sebanyak mungkin dan menggunakannya sesedikit mungkin itu bagus. Semua orang juga tahu kalau harus lebih besar tiang dari pasak, namun yang dilakukan pria itu sudah berlebihan, entah mengapa Sakura merasa... semakin ia mencoba mengerti Kakashi, semakin Sakura menjadi penasaran akan seperti apa pria itu sesungguhnya, mungkin karena mereka sudah lama bersama dalam satu tim, dan mungkin karena Kakashi adalah salah seorang teman yang dia percayai sepenuh hatinya diantara sedikit orang yang dia percaya, Sakura tidak akan membiarkan dirinya hanya mengetahui 'luarnya' saja sementara ia bisa lebih mengenal siapakah seorang Kakashi yang sebenarnya.

"Sebaiknya kau segera pulang. Kau terlihat sangat lelah, Sakura," ujar Kakashi mengalihkan arah pembicaraan.

Sakura hanya diam dan menatap jalanan utama dari gang tempatnya berdiri.

"Kau tidak berpikir jika yang aku katakan tadi adalah sungguh-sungguh, kan?" tanya Kakashi lagi sebelum pria itu terkekeh yang langsung mendapat pandangan aneh dari gadis di hadapannya.

"Kau hanya..."

"Jadi, sekarang pulanglah dan jangan pernah mabuk tanpa ada aku-" pria itu menampilkan eyes smilenya.

Tanpa ada aku? Sakura mengerutkan dahinya, bagaimana mungkin setiap kali ia ingin minum, ia harus memberitahu pria itu?

"...Naruto atau Sai," lanjut Kakashi. "Sangat berbahaya jika gadis sepertimu mabuk sendirian," katanya menjawab pertanyaan dalam otak Sakura.

'Memangnya aku berharap apa? Dia akan mengatakan bahwa aku TIDAK BOLEH minum tanpa ada dia? Dia akan mengatakan alasan lain? Apa karena aku masih gadis jadi kau tidak ingin aku terlibat dengan pria seperti tadi? tapi, darimana dia tahu kalau aku masih gadis? Ah, Sakura! Pikiranmu benar-benar kotor!' Sakura mendengus. "Kau membuatku berpikir kalau sensei itu ibuku, kau sangat overprotektif padaku. Aku bukan gadis dua belas tahun yang mengatakan 'baiklah' setiap kali kau menyuruhku."

Kakashi mengangkat bahu. "Aku bukan wanita."

"Aku tahu!"

"Baiklah, aku harus segera pergi. Selamat malam!"

"Tapi-" Kakashi menghilang bersama dengan suara 'POOFF' dan asap yang mengepul. "...aku belum selesai bicara!" Sakura memijat keningnya yang mulai terasa pening, sepertinya ia benar-benar harus segera menuju tempat tidurnya. Gadis itu berjalan terhuyung-huyung keluar dari gang, ia mulai menyesal karena menolak tawaran Kakashi untuk mengantarnya pulang. "Tapi, seharusnya dia tidak langsung menyetujui saat aku mengatakan tidak," gumamnya kesal.

.

.

.

"Baguslah kalau kau tidak terlambat seperti biasanya," kata Tsunade duduk di ruang rapat rahasia bersama Sizune, Yamato, Gai, Ibiki serta Iruka.

"Sepertinya semua sudah berkumpul," sahut Kakashi memperhatikan sekelilingnya.

"Apa yang ingin Anda bicarakan dengan kami, Hokage-sama?" tanya Iruka.

"Ehem. Apa kalian sudah tahu kalau jutsu yang sedang aku gunakan tidak akan bertahan lama?" tanyanya yang membuat semua undangannya mengangguk. "Aku ingin segera ada penggantiku, tidak mungkin jika Naruto menjadi hokage secepat ini, dia masih belum cukup dewasa dan mampu, walaupun dari sisi kekuatan aku yakin dia sudah melebihi apa yang diharapkan, tetapi harus ada hokage sementara sebelum dia menjadi hokage sebenarnya. Dan, kau, Kakashi, mengapa kau tidak menerima tugas ini? Bisakah kau menjelaskan padaku?"

Kakashi hanya diam dan tidak berniat sedikitpun untuk menjawab.

"Kau tahu, kan mungkin dalam satu minggu ini aku akan kalian berikan batu nisan? Jurus kakekku ini seperti Edo tensei, aku hanya diberi kesempatan sedikit waktu saja."

"Kak Tsunade..." Sizune menahan airmatanya.

"Bagaimana kalau saya yang memaksanya untuk menjawab, Hokage-sama?" tanya Ibiki.

"Jika Kakashi masih belum bisa menjawab-"

"Uchiha," Kakashi menyela. "Aku melihatnya saat aku melewati kediaman klan Uchiha beberapa waktu yang lalu."

"Kau melihatnya dan tidak mengatakan padaku?" ujar Tsunade marah.

"Apa kalian berbincang?" tanya Gai. "Bagaimanapun juga dia muridmu beberapa tahun lalu, kan?"

"Ya." Kakashi menghela napas. "Dia berharap dia bisa melanjutkan apa yang Itachi lakukan untuk desa ini."

"Apa kau berencana menjadikan Sasuke menggantikanmu untuk menerima tugas ini?" tanya Sizune to the point. "Dia sudah menjadi missing-nin beberapa tahun."

"Dia sudah berubah dan menolong kita saat perang beberapa tahun silam. Kalau tidak ada dia, mungkin para hokage tidak akan pernah membantu kita," kilah Kakashi. "Dari sisi manapun, mengabaikan kalau dia pernah menjadi buronan, Sasuke menurut Hokage ketiga pantas menjadi pemimpin desa ini, aku memikirkannya bukan hanya setahun dua tahun, aku mulai memikirkan hal ini sejak Hokage ketiga mengatakannya saat ujian chunin delapan tahun silam. Jadi kupikir-"

"Kau atau mungkin Naruto juga aku akan menyetujuinya jika dia akan menjadi Hokage tiga tahun kedepan. Tapi, bagaimana dengan yang lain? Penduduk sipil dan shinobi dari Konoha maupun luar desa pasti tidak sedikit yang mempertanyakan hal ini, Kakashi. Apa kau juga memikirkannya?!" sahut Tsunade.

"Tentu saja. Bukan hanya para penduduk sipil, tapi aku juga memikirkan bagaimana perasaan Naruto saat dia belum sepenuhnya siap menjadi hokage justru Sasuke yang menggantikannya meskipun hanya sementara. Ini sebagai balas budi klan Uchiha terhadap desa ini, membangun kembali desa dari awal, itu yang aku pikirkan," jelas Hatake Kakashi dengan tenang. "Aku tahu tidak hanya klan Uchiha saja yang rela menghabiskan harta dan nyawa mereka, tetapi apa yang telah dilakukan Uchiha Shisui dan Uchiha Itachi melebihi apa yang telah aku lakukan. Ada yang lebih pantas melakukan hal ini."

Semua yang ada di ruangan remang-remang itu hanya terdiam, masing-masing memikirkan alasan yang telah diungkapkan Kakashi. Memang benar, orang sejenius Kakashi tak akan menolak tugas apapun tanpa memikirkannya matang-matang.

.

.

.

Kakashi mendudukkan diri di tepi tempat tidurnya, dia sudah mandi dan berganti pakaian dan handuk kecil masih bertengger di bahunya, ia kembali menghela napas. Mereka semua seharusnya sudah tahu apa yang harus mereka lakukan setelah mendengar pengakuannya. Sasuke... mengingat pemuda yang kini berubah drastis menjadi orang yang tak berambisi lagi membuat Kakashi melihatnya aneh. Membingungkan, jika melihat dari sudut pandangnya dan sudut pandang orang lain terhadap pemuda itu. Ia tidak seburuk yang mereka pikirkan, Sasuke bisa menjadi harapan masa depan meskipun terlihat tidak meyakinkan seperti halnya Naruto. Mereka berdua sama-sama pantas menjadi pemimpin tetapi tidak memberikan kesan yakin dalam hal berbeda, Naruto karena sifat kekanakannya, dan Sasuke karena masa lalu kelamnya.

Mengingat mereka membuatnya turut serta mengingat anggota timnya yang lain. Sakuralah yang sebenarnya membuatnya begitu tertekan, entah bagaimana ia lebih sering bersifat overprotektif saat bersama dengan gadis itu, dan parahnya baru ia ketahui saat gadis itu mengatakannya beberapa jam yang lalu. Memang ia sangat memikirkan bagaimana Naruto dan Sasuke, tetapi apa yang dilakukannya selama ini justru lebih kepada Sakura. Saat ia memikirkan cara bagaimana membuat Naruto sedikit bersabar untuk membawa Sasuke pulang, ia justru duduk di kursi taman dan menyadari ada seorang gadis dua belas tahun yang menangis di dadanya. Saat ia memikirkan cara bagaimana menjelaskan pada Sasuke untuk mengerti bagaimana keadaan Naruto, ia justru membawa pergi Sakura menjauh dari kedua temannya.

Kakashi merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Ia yakin ini hanya perasaan peduli saja terhadap gadis itu, sebagai guru, senior, juga temannya. Karena sebagai orang yang sudah lama mengenalnya, tentunya pria itu akan lebih peduli. Ya, tentu saja seperti itu. Kakashi melepaskan handuknya dan mulai memejamkan mata.

.

.

.

Sakura mengerjapkan matanya, terusik dengan bunyi alarm yang berada di mejanya. Gadis itu mengerang dan mencoba meraih-raih jam beker meskipun matanya masih terpejam, kemudian mematikannya. Dia terdiam sebentar, mencoba menambah tidurnya yang lumayan nyenyak tadi malam, lalu menguap dan mengusap-usap matanya, mencoba membuka matanya yang silau dengan cahaya mentari pagi yang menembus jendela kamarnya.

Sejenak Sakura hanya menatap langit biru dan pohon oak yang tumbuh disamping apartemennya. Bayangan peristiwa tadi malam kembali terlintas di pikirannya tiba-tiba dan membuatnya mendengus malas. Ia kembali mengingat saat pria itu muncul pertama kali di kelasnya sewaktu dia masih di akademi. Sebenarnya, itu bukan pertama kali Sakura melihat Kakashi. Dia pertama kali melihatnya saat ia sedang berada di pasar bersama ibunya.

Waktu itu Kakashi baru saja menangkap preman-preman kemudian berjalan santai melewati pasar dengan gayanya, kedua tangan berada di belakang kepala. Saat itu mungkin Kakashi tidak menyadari jika ia berjalan melewati Sakura yang melihatnya dengan terpesona. Saat berikutnya ia melihatnya yaitu saat hokage ketiga mengirim secara paksa menggunakan jutsu pemindah karena Kakashi yang tidak mau menjadi guru, kemudian membuat pria itu masuk ke dalam kelasnya dan membuat tertawa murid satu kelas. Saat itu Kakashi mengatakan bahwa 'aku benci pada kalian, aku benci anak-anak' dengan dingin, yang membuat suasana kelas menjadi hening.

Dan mungkin karena takdir, ia kembali dipertemukan dengan Kakashi yang kemudian diketahuinya menjadi senseinya dalam tim 7. Saat pertama kali ia mengenal pria itu dengan latihan pertama mereka, Sakura berpikir jika Kakashi sungguh-sungguh membenci mereka, melihat bagaimana cara pria itu menghukum Naruto hanya karena gagal latihan. Tapi, entah bagaimana, lama-lama ia mengerti cara Kakashi mengajarkan sesuatu dengan cara lain yang membuat kekompakan tim.

Kakashi dengan caranya sendiri, membuat mereka bisa memiliki ikatan yang dalam dalam waktu singkat, berbeda dengan tim yang lain. Ikatan yang membuat mereka saling mengerti seperti yang Naruto katakan saat Sai mempertanyakan kemauan mereka mencari Sasuke yang notabene pergi dengan kemauannya sendiri. Sebuah ikatan seperti layaknya keluarga yang harmonis mekipun beberapa waktu kemudian sebuah masalah datang menyerang dan menikam mereka hingga membuat luka yang sangat dalam. Tetapi Kakashi, dia tetap berusaha terlihat tegar, entah apa yang ada dalam pikiran pria itu, yang Sakura dan Naruto lihat, Kakashi-lah yang menguatkan mereka di saat mereka berada pada level paling bawah dalam hidup. Pria itu tidak segan-segan berangkat ikut mencari Sasuke meskipun ia baru pulang dari misi berhari-hari ataupun berminggu-minggu hanya untuk membuat Sakura merasa lebih baik dan mau mengikuti sarannya untuk berlatih ilmu pengobatan. Ia tahu itu dilakukan demi membuat Sakura mencari kesibukan lain yang membuatnya bangkit dan sedikit melupakan kepergian Sasuke dan ternyata berhasil.

Saat Naruto kembali dari latihannya bersama Jiraya, gadis itu tahu ternyata tidak hanya pemuda Jincuriki itu saja yang berubah, ternyata rasa sakitnya akan kepergian Sasuke sudah banyak berkurang. Saat timnya kembali dipertemukan, meskipun tanpa Sasuke, Sakura menyadari ternyata hanya Kakashilah yang tidak berubah. Pria yang kelemahannya hanya terdapat pada buku karangan Jiraya itu, tidak pernah merubah dirinya menjadi diri Kakashi yang lain, dan itu yang Sakura suka dari senseinya itu. Dari Kakashilah ia pertama kali ia belajar jutsu pengobatan, tetapi anehnya pria itu sangat membenci rumah sakit. Dan sekalipun ia membenci rumah sakit, hampir setengah hidupnya ia berada di rumah sakit karena luka-lukanya setelah misi, dan saat ia bisa melarikan diri, Kakashi akan pergi dari rumah sakit meskipun lukanya belum sembuh betul.

Tanpa gadis itu sadari, sebuah senyuman terkembang di bibirnya. Mengingat Kakashi membuat kantuknya menghilang. Pria itu memang selalu memberikan efek lain baginya, ada ataupun tidak esensinya. Sakura bangkit dari tempat tidurnya, hari ini ia akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Tsunade dan pergi ke toko serba ada untuk membeli peralatan mandi dan persediaan bahan makanannya yang mulai habis.

Sakura menatap khawatir Tsunade yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan tidak berdaya, kerutan-kerutan di wajahnya menandakan jika wanita itu sudah tidak mampu mengeluarkan jutsu apapun. Melihat gurunya seperti ini, membuat hatinya pilu. Bagaimana bisa ia kehilangan wanita kedua paling berjasa dalam hidupnya setelah ibunya itu untuk kedua kali? Saat perang berakhir, untung saja edo tensei Hashirama, kakek gurunya itu membuatnya bisa menjalani kehidupan kedua, dan kini kehidupan kedua hokage kelima itu hampir berakhir.

Sakura bangkit dari tempat duduknya dan mencium kening Tsunade sebelum mengayunkan kakinya pergi dari ruangan tersebut. Ia sedikit terkejut saat Kakashi sudah berdiri di belakangnya saat ia berbalik, mengapa ia sampai tidak bisa merasakan kehadiran pria itu?

Kakashi berjalan mendekat ke arah dipan Tsunade. "Tunggulah sebentar, aku ingin bicara sesuatu padamu," ujarnya menatap Sakura.

"Baiklah, aku tunggu diluar," sahut Sakura yang dibalas anggukan pria itu. Gadis itu berjalan keluar ruangan dan menunggu beberapa menit sebelum Kakashi mengajaknya pergi. "Kemana kita akan pergi?"

"Ke tempat yang biasa aku kunjungi saat lapar. Jujur saja, aku belum sarapan," ujarnya sambil menampilkan senyum khasnya. Kakashi mungkin tidak memperlihatkan seluruh bagian wajahnya untuk menampilkan emosinya, hanya matanya, satu matanya saja sudah cukup menggambarkan bagaimana emosinya, berbeda dengan Sai yang bahkan perlu berusaha keras menampilkan emosi di wajahnya.

"Jadi, kau mau mentraktirku?" tanya Sakura.

Kakashi mengangkat bahunya. "Entahlah, nanti kita lihat saja," ujarnya sama sekali tidak memberi jawaban.

"Jawaban itu 'Ya' atau 'Tidak', sensei. Lagipula, ini sudah lewat jam makan siang, ini sudah sore, uangmu kan banyak, kau jarang sekali mentraktirku makan. Aku tidak mengerti, mengapa wanita yang tadi malam begitu menyukai pria pelit sepertimu!" ujar Sakura sambil bersungut-sungut.

Kakashi terkekeh. "Jadi kau tidak menyukaiku?" godanya.

"Maksudmu?"

"Menurutmu aku seperti itu? bisakah kau jelaskan baik dan buruknya diriku?"

Sakura berpikir sejenak. "Buruknya, sensei itu pelit, tidak terbuka, tidak mau kurawat di rumah sakit, selalu membawa buku porno kemanapun kau pergi, lalu... kau tidak pernah memperlihatkan wajahmu padaku. Kalau baiknya, Kakashi sensei itu sangat perhatian pada murid-muridnya, kaya, tinggi, emm.. keren, misterius, dan yang terpenting, selalu ada saat aku sedang down."

"Itu! Kita sudah sampai," ujar Kakashi sebelum masuk ke dalam sebuah restoran. Pria itu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan dan memilih tempat yang di dekat jendela dan terpisah dari meja lainnya dengan sebuah tembok rendah.

Sakura mengikutinya dan duduk di seberang pria itu. "Apa kau sering kemari?" tanyanya pada Kakashi yang memanggil pelayan.

"Kadang-kadang. Saat pulang dari misi berminggu-minggu, aku akan kemari untuk makan malam."

Seorang wanita muda menghampiri meja mereka. "Selamat datang, kalian mau pesan apa?" tanyanya.

"Aku pesan sushi dan sebotol sake obat. Kau pesan apa, Saku-chan?" tanyanya pada Sakura.

"Aku pesan bakso sayur saja." Sakura melemparkan pandangannya ke luar jendela saat pelayan itu pergi. Dia bisa melihat taman bunga menyatu bersama beberapa bangunan di sekitar restoran itu, jarak antar bangunan sangat jauh, sehingga terlihat seperti daerah yang sangat sepi. "Apa kita ada di pinggiran desa?"

"Iya, sudah sangat terlihat kalau di daerah ini sepi kecuali restoran ini," sahutnya.

Pelayan tadi kembali lagi dengan cepat, membawa serta pesanan mereka.

"Arighato," ujar Kakashi dan Sakura bersamaan.

"Kalian pasangan yang kompak, ya?" ujar pelayan tadi sembari tersenyum dan pergi ke tamu yang baru datang.

Sakura dan Kakashi hanya menatap satu sama lain sambil tersenyum canggung. Pasangan? Apakah mereka terlihat seperti sepasang kekasih?

"Selamat makan!"

"Oh, ya sensei. Katanya tadi kau ingin membicarakan sesuatu denganku? Apa itu?" tanyanya.

"Kita akan pergi misi, kelas S, di negara salju dan kita akan pergi besok pagi," jawab Kakashi langsung ke pokok.

"Tapi, mengapa mendadak sekali?"

"Kita menjadi Jounin untuk menghadapi misi-misi mendadak seperti ini, Sakura," jelas Kakashi santai.

"Bukan, maksudku, keadaan Tsunade shisou masih..."

"Dia menugaskanku beberapa hari yang lalu, dan menyuruhku memberitahumu sekarang. Aku rasa dia sudah merencanakan ini jauh-jauh hari, jadi kurasa ini bukan misi mendadak," sela Kakashi sebelum menenggak segelas sake.

Sakura merebut cangkir Kakashi dan menuangkan sake untuk dirinya sendiri. "Katamu aku boleh minum saat ada sensei bersamaku." Gadis itu menegak beberapa gelas sake dan mulai merona kepanasan.

"Kau menghabiskan sakeku!" ujar Kakashi dengan nada tidak enak.

"Sensei kan bisa pesan lagi."

"Tapi, disini mahal."

"Ah, kau pelit sekali. Uangmu kan banyak sekali, Kakashi sensei, hahaha..."

"Bisakah kau tidak mabuk lagi? Kau sepertinya sudah mabuk."

Sakura menggeleng. "Tidak, aku tidak mabuk. Itu hanya pura-pura. Apa hanya itu yang ingin sensei katakan?"

"Kau tahu kalau aku sangat peduli padamu?" tanya Kakashi yang dijawab anggukan Sakura.

"Ya, tentu saja. Begitu juga aku."

"Bagus."

"Mengapa kau tanyakan itu padaku, sensei? Seperti kau akan pergi jauh saja."

"Sakura?"

Gadis itu terdiam. Suara itu...

Sakura menatap Kakashi meminta penjelasan yang hanya dibalas dengan senyuman matanya. Gadis itu mengalihkan pandangan menatap orang yang memanggilnya. Napasnya tertahan.

"Sasuke?"

Pemuda itu tersenyum. Senyum yang sangat dirindukan Sakura jauh dalam dasar hatinya. "Tapi, mengapa?"

"Maafkan aku," sahut Sasuke. "Aku...merindukanmu."

Sakura bangkit dan keluar, berlari menjauhi tempat itu.

"SAKURA! KAU MAU KEMANA?"

.

.

.

Kakashi duduk di kursi yang sama dengan gadis itu namun di tempat yang agak jauh dari Sakura. Gadis itu mengalihkan pandangan ke arah lain, hujan di matanya masih mengalir. "Mengapa tidak mengatakan dari awal?" tanyanya dingin.

Kakashi menyandarkan punggungnya. "Maafkan aku, kukira kau akan senang. Bertahun-tahun lalu kau juga duduk disini memintaku untuk membawanya kembali, tapi aku bingung mengapa sekarang kau marah padaku saat-"

"Aku bukan orang yang sama seperti beberapa tahun lalu!" potong Sakura.

Hening.

"Bisakah aku sendiri?"

"Kau memintaku untuk pergi?" tanya Kakashi menoleh ke arah Sakura.

"Apa itu kurang jelas?"

Kakashi menghela napas dan berdiri. "Kau tahu, aku menyayangimu." Pria itu baru akan pergi sebelum Sakura memeluk pinggangnya dan menangis di perutnya.

"Kau pembohong!" gumam Sakura.

Kakashi mengusap rambut Sakura."Lihat, kau masih gadis kecil itu."

Sasuke memperhatikan mereka dari kejauhan dengan wajah kaku. "Apa aku sudah terlambat?

"Tapi, bukankah tidak ada sesuatu yang terlambat?" dia tersenyum, menyeringai. "Kita lihat saja nanti."

TBC..

Mohon reviewnya!