Akashi sang penggombal MAUT bergunting by d'Rythem24
.
.
Kurono no Basuke belong to Fujimaki Tadayoshi
AN: Jreng! jreng! XDDD
Ini saya akhirnya membawa chapter terakhir dari kapten cebol Tukang Gombal /salah, Yahaw! dengan korban terakhir tentunya.
Siapa korban terakhirnya?
Tentu aja kalian yang sudah menanti-nantikannya tau kan?
Yup! si Phantom Kuroko Tetsuya yang kali ini dapet giliran digombali.
Masih alay dan gaje, bahkan berani bertaruh kalau ini lebih ancur dari yang ch. 1 dan 2 XDDD
Warning masih sama kok, tapi chapter ini lebih panjang karena special meski gak pake telor XD dan kali ini harus aku katakan, harap jangan kecewa dengan endingnya ya... :3
.Happy Reading.
Korban Terakhir; Kuroko Tetsuya...
Aomine berjalan lesu, Kise terlihat kacau, Midorima berjalan dengan posisi kacamata yang miring, dan Murasakibara adalah yang paling berbinar dari yang lain. Tau kah kenapa?
Tentu saja, ini semua akibat gombalan maut bergunting dari Akashi Seijuurou-sama. Kyaaa!
"'Kyaa!' dengkulmu!"—teriak Aomine, Kise dan Midorima kompakan.
Midorima membetulkan letak kacamatanya, Kise mencibir dan Aomine bergumam tak jelas.
"Hei, kalian...?" Aomine melirik ketiga teman berwarna-warninya.
"Hmm?" hanya Kise yang menyahut.
"Apakah kalian...juga...kena?" tanya Aomine clueless namun sukses membuat langkah ketiga rekannya itu terhenti.
Kise memejamkan matanya, Murasakibara merona dan kacamata Midorima pecah untuk kedua kalinya. Secara cepat, dikeluarkannya lagi kacamata cadangan dari dalam kantung seragamnya yang setelah itu langsung ia pasang.
"Memangnya kenapa-nanodayo?" tanya Midorima mencoba stay calm. Aomine bergumam lesu.
"Rasanya ini adalah hari terburuk yang pernah aku alami," Aomine curhat, keningnya berdenyut kesal, dan selanjutnya ia menunjuk Murasakibara dengan telak.
"Tapi kenapa kau kelihatan senang begitu, hah?!" teriak Aomine pada rekan tertingginya itu.
"Habisnya, Aka-chin romantis." jawab Murasakibara watados.
Gdubragh!
Aomine, Kise dan Midorima secepat yang mereka bisa berusaha berdiri dari posisi terjungkalnya.
"Sepertinya Murasakibaracchi memiliki otak yang sudah kelewat error-ssu." komentar Kise. Midorima membalas dengan anggukan, sedangkan Aomine tiba-tiba saja menyeret rekan-rekannya itu untuk bersembunyi dibalik pohon yang bahkan ukurannya tak lebih tinggi dari tubuh Murasakibara.
"Aomine, kau in—"
"Lihat disana!" Aomine menyela komentar Midorima seraya menunjuk ke suatu tempat. Mau tak mau membuat Midorima mengikuti arah telunjuknya, begitu juga Kise dan Murasakibara.
Bola mata berbeda warna mereka pun membulat mendapati pemandangan apa yang kini tengah mereka saksikan—
Di dekat Gerbang SMA Teikou, Sang Penggombal Maut Bergunting tengah menodong pemuda bersurai baby blue yang senada dengan warna guntingnya.
—"Huwaaaa!" jerit Kise yang bersiap melancarkan langkah seribu untuk menyelamatkan rekan tersisa(?)nya, tapi keburu ditahan oleh Aomine.
"Tenanglah, Kise." ujar Aomine mendesis.
"Tapi, Kurokocchi—"
"Ssst! Kita lihat, bagaimana reaksi Tetsu," bisik Aomine tepat ke samping telinga Kise, membuat bibirnya tak sengaja mencium daun telinga pemuda berambut kuning ini.
Wajah Kise merona.
"Aominecchi modus!" tuduh Kise sambil melotot. Alis Aomine terangkat.
"Apanya?"
Mata mereka pun saling bertabrakan, lupa bilamana ada hal lebih penting yang harus mereka selidiki.
—Didekat Gerbang...
Manik birunya mengerjap bingung, menatap intens gunting yang tepat berada di depan kedua matanya, dan kemudian gunting ini diambilnya secara cepat.
"Tetsuya, kau—"
"Akashi-kun, terima kasih." sela Kuroko sambil tersenyum. "Kebetulan besok aku akan ada praktek yang menggunakan gunting, jadi, aku rasa gunting ini aku terima. Kau ingin memberikannya untukku, 'kan?" ujar Kuroko bertanya polos.
Akashi gantian mengerjap, speechless. Kuroko memasukan gunting yang didapatnya itu ke dalam tas, menatap kembali Akashi masih sambil tersenyum.
Rasanya saat ini, Akashi ingin menggunting dirinya sendiri.
Todongan gunting menggombalnya pada Kuroko Tetsuya; GAGAL TOTAL alias GATAL! /Karena GaTot sudah terlalu menstrim, kan?/
Akashi menunduk lesu, aura suram langsung menyergapnya tanpa ketuk pintu(?) dulu.
"Oh ya, Akashi-kun?"
"Hhh, apa?" jawab Akashi malas.
"Sebagai ganti dari gunting pemberianmu, bagaimana kalau kita ke Maji Burger. Aku akan mentraktirmu Milk Shake kesukaanku. Mau?" tawar Kuroko berbaik hati. Kontan saja, aura suram Akashi hilang tertelan bumi.
Dia tersenyum, seraya mengangguk. Dan mereka pun mulai berjalan, meninggalkan SMA tempat mereka bersekolah, untuk menuju lokasi mereka selanjutnya.
Kise, Aomine, dan Murasakibara yang melihat pemandangan; "Akashi gagal menggombal" tadi sweatdrop berjamaah di tempatnya. Dan Midorima—
"Hoi, apa yang sebenarnya terjadi? Kacamataku sudah tidak ada lagi!" protesnya yang memang tak mengetahui apa-apa.
—yang kacamatanya pecah lagi untuk ketiga kalinya.
Aomine dan Kise menutup mulut mereka yang tadi menganga, Murasakibara melanjutkan kunyahannya setelah itu.
"Ayo-ssu. Kita ikuti mereka." ajak Kise yang mulai beranjak darisana meninggalkan tiga rekannya.
"Hoi, Kise!" Aomine terlambat mencegahnya.
"Apa sih yang si bodoh itu pikirkan? Kalau sampai kita ketahuan, memangnya dia siap untuk tergunting?" umpat Aomine kesal.
Midorima mengerjap. "Aku tak mengerti situasi kita kali ini, tapi kalau memang kalian mau pergi, turut sertakan aku... Aku mau membeli kacamata baru." cetus Midorima tenang.
Murasakibara dan Aomine saling melempar pandangan, lalu mengangguk.
.
.
.
"Ini Milkshake untukmu, Akashi-kun."
Akashi pun tersadar dari lamunannya, melirik ke arah Milkshake yang tangan kanan Kuroko sodorkan padanya. Akashi tersenyum simpul seraya menerimanya.
"Terima kasih, Tetsuya." ucap Akashi yang langsung menyedot minuman favorit korban gagalnya itu.
'Sekarang, bagaimana aku akan menakhlukannya?' pikir Akashi sambil menatap manik biru indah Kuroko dengan heterochromenya. Tentu saja, tak ada kata gagal dalam kamus seorang Akashi, jadi bila todongan gunting tak berhasil, setidaknya dia harus bisa menggunakan cara lain.
"Ada apa, Akashi-kun?" tanya Kuroko terheran.
Akashi menjetikan jarinya, mendapatkan sebuah ide.
Secara perlahan langkah Akashi ia majukan, mencoba merapatkan diri dengan pemain bayangan di hadapannya. Menyeringai, lalu ia berbisik;
"Tetsuya, Vanilla Milkshake ini sangat manis ya. Tapi, apa kau tau,..." ada jeda. Akashi menatap Kuroko intens lagi. "Wajahmu itu jauh lebih manis daripada Milkshake ini."
Dummm!
Rasanya keempat anggota tim mereka berdua baru saja di hantam bom atom super dahsyat. Ya, jangan lupakan empat warna warni(?) yang saat ini terlihat sedang menguping dan mengintip dari semak-semak. Namun, ada satu hal yang patut di syukuri, Midorima sudah memiliki selusin Kacamata cadangan.
Kuroko mengerjap polos, mendelik kesal lalu menghela nafas pelan.
"Akashi-kun jangan mengada-ada. Apa yang kau ucapkan itu tak masuk akal, mana mungkin aku kelihatan manis? Memangnya kau kira aku gula?" komentar Kuroko yang mulai menyesap Milkshake-nya lagi.
Gdubragh!
Tak hanya mereka berempat, tapi jiwa Akashi pun kali ini ikut terjungkal. Di tambah sebongkah batu raksasa baru saja menimpa tubuh Akashi.
'Kenapa?' batin Akashi miris. Dia berjongkok dipojokan seraya mengocok-ngocok shake dalam genggamannya.
Kuroko hanya bisa mengedikan bahunya, berjalan pelan tanpa mau mengurusi kegalauan kapten timnya itu.
'Kenapa aku gagal?' masih miris.
Oh, dear, Akashi... Aku rela kau gombalin kok. /CEB! Author mati tertusuk gunting Akashi/
.
.
.
END
Baiklah, sampai sini saja gombalan gunting sang Kapten pen—kurang tinggi kita. Maaf teramat sangat jika cerita ini begitu nista, OOC dan bikin sakit mata...
Saya ucapkan terima kasih banyak untuk semua yang sudah mau: membaca, mang-fav, meng-follow, bahkan me-review fanfiksi ini. *bow*
Tanpa kalian, saya bukaanlah apa-apa. /cium /digampar
Hihi... Sampai jumpa di fanfiksi saya yang gaje lain XDDD
Jangan bosan-bosan ya meskipun fanfict saya hampir semuanya membosankan sih... :')
End with love,
d'Rythem24.
