So, I Married the Anti-fan

Remake novel by Kim Eun Jeong

Main cast : Park Chanyeol & Byun Baekhyun

Other cast :Xi Luhan,Oh Sehun (dan yang lain menyusul)

Genre : Romance,Comedy

Rate : T

Warning : GS for uke,typo(s),remake,Don't like? Don't read!,no bash

Summary :

Aku tinggal dengan idola paling terkenal ... Aku adalah antifan-nya/CHANBAEK/Remake


Chapter 2

Club Anti-fan Resmi Pertama, Byun Baekhyun

-Bagaikan air dan minyak, bagaimanapun juga tidak akan pernah bersatu

"gigit! Ayo terus! Bagus! Patahkan lehernya! Cepat tarik!"

Baekhyun menonton kembali film zombie zaman dahulu, Night of the Living Dead, seorang diri di sebuah kamar kecil dan suram di lantai bawah. Ia menjerit-jerit sambil memegang layar komputer seolah baru melihat film itu untuk pertama kalinya. Seandainya ia tidak mengigit sepotong roti baguette, mungkin ia sudah mengigit lidahnya sendiri.

Begitu film selesai, hatinya terasa resah kembali. Ia sudah mengisi baterai ponselnya penuh-penuh, dengan harapan ia akan sibuk menerima telepon seharian. Namun, nyatanya, satu-satunya pesan yang masuk ke ponselnya hanya pesan dari atasan di perusahaannya dulu. Isinya 'Jangan macam-macam! Percuma'. Huh, mengirimkan email itu kepada atasannya adalah salah besar. Baekhyun tidak patah semangat, ia lalu menelpon perusahaan majalah lain dan memberitahu mengenai peristiwa malam itu. Namun, semua menganggapnya orang gila yang iseng menelpon. Saat itu ia sadar bahwa Chanyeol bukanlah orang sembarangan. Ia pasti orang yang berpengaruh besar sampai bisa diperlakukan seperti itu. Tidak mudah membujuk orang-orang majalah itu untuk memercayai keburukan Chanyeol. Oleh karena itu, kini saatnya melancarkan rencana ketiga.

Ketika Baekhyun turun dari taksi, di depan kantor manajemen Chanyeol terlihat kerumunan fans perempuan, rata-rata pelajar yang heboh menunggu Chanyeol dengan penuh semangat.

"oppa! Ayolah keluar! Kita sudah menunggu disini dari subuh tadi"

"kita tahu oppa ada didalam. Kami mau melihat wajah tampan oppa sebentar saja"

"oppa~ aku Seolhyun. Masih ingat kan? Oppa sudah terima hadiah dariku kan?"

Sebenarnya dimana sih 'oppa' itu bersembunyi? Fans-fans ini, mereka pikir laki-laki itu ingat nama mereka? Atau bahkan mendengar suara mereka? Laki-laki kurang ajar seperti itu? Cih!

Di depan kantor itu berkumpul sekitar 100-an fans yang melambai-lambaikan tangan dan berteriak-teriak penuh semangat dengan wajah ber-make up tebal. Baekhyun mengeratkan pegangan kertas yang dia bawa dan berusaha menerobos kerumunan fans itu. Hal itu ternyata tidak mudah. Para fans itu berdiri berhimpitan seolah membuat tembok penghalang dan tatapan mereka seolah mengatakan "minggir, ini tempatku!". Baekhyun akhirnya mengalah dan mundur keluar dari kerumunan. Apa boleh buat? Baekhyun berdiri dibelakang kerumunan fans itu, membuka kertas yang dia bawa, menempelkan pada papan dan mendirikannya. Kertas itu bertuliskan:

ENYALAH KAU SI MAKHLUK BERMUKA DUA, CHANYEOL!

BISANYA MENYAKITI WANITA, KAU PIKIR KAU INI MALAIKAT? KONYOL SEKALI!

BERANI-BERANI NYA MENGHANCURKAN PEKERJAAN ORANG LAIN HANYA KARENA TAKUT AIBNYA TERSEBAR, SUNGGUH EGOIS DAN KETERLALUAN!

MENTANG-MENTANG TERKENAL, LALU KAU BISA BERTINDAK SEENAKNYA?

Lalu, kertas yang dipegang Baekhyun yang bertuliskan 'AKU MELIHAT TINDAK KEKERASAN YANG TELAH KAU PERBUAT'. Sekarang tugasnya adalah berteriak sekeras-kerasnya. Saat Baekhyun hendak memulai aksinya, orang-orang yang lewat menatapnya dengan pandangan aneh sehingga tiba-tiba saja nyali ciut seketika untuk aksinya, padahal tadi dia sudah sarapan tetapi kini lehernya terasa tercekik seolah tidak dapat bersuara. Namun dia tidak bisa diam begitu saja. Baekhyun mengangkat papan yang dipegangnya sambil perlahan mulai membuka mulutnya.

"JANGAN PERCAYA CHANYEOL! SI MUKA DUA! YANG PURA-PURA BAIK TAPI SEBENARNYA SUKA BERTINDAK KASAR!"

Baekhyun berusaha sekuat tenaga untuk mengeraskan volume suaranya sambil tetap memperhatikan sekelilingnya. Namun, suaranya tidak cukup kuat untuk menyayingi suara teriakan fans-fans fanatik Chanyeol di tempat itu. Menurut mereka, Chanyeol berada di dalam gedung itu dan akan keluar dari tempat parkir.

"Kalau itu benar, berarti Chanyeol seharusnya bisa melihat apa yang aku lakukan" Baekhyun berbicara pada dirinya sendiri sambil menatap gedung itu. Tiba-tiba...

"apa-apaan orang ini?" seru seorang pelajar perempuan yang baru datang sambil menyedot minumannya. Dia menyernyit aneh dan memandang Baekhyun dari atas ke bawah. Pelajar perempuan itu berjalan menghampiri dengan tangan kanan di saku jaket seragam sekolah yang melekat ketat di badannya. Pelajar itu membaca kertas-kertas yang ditulis Baekhyun satu per satu dan semakin lama wajahnya semakin kesal. Baekhyun jadi teringat proses perubahan monster Hulk saat melihat pelajar perempuan itu.

"yak! Apa-apaan ini? Kau sudah gila ya? Berani-beraninya kau berbohong disini?"

Pelajar itu sangat marah dan membanting minumannya. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Baekhyun. Fans-fans lain yang mendengar suara pelajar perempuan itu kini ikut memandang ke arah Baekhyun. Baekhyun merasa seolah sedang dikepung dalam jarak 1meter oleh zombie yang biasa dia lihat di film. Di film, pemeran utama biasanya akan mengeluarkan senjata dan menembak para zombie-zombie itu dalam keadaan seperti ini. Namun, Baekhyun yang saat ini dilanda rasa panik tidak tahu harus berbuat apa. selama 0,1 detik, ia tidak tahu apakah dia harus melarikan diri secepat kilat, berpura-pura tidak tahu, atau tetap di tempat itu. Namun dia tidak ingin mundur begitu saja. Segala usahanya akan sia-sia. Baekhyun menarik napas panjang dan mengerutkan dahi, dia menaikkan volume suaranya dan berteriak lantang

"JANGAN PERCAYA PADA CHANYEOL YANG TELAH MENIPU DAN MERAYU PARA REMAJA!"

Baekhyun sendiri terkejut dengan ucapannya barusan. Awalnya bukan ini yang ingin dia katakan, tapi melihat fans-fans fanatik Chanyeol yang kebanyakan remaja itu, kata-kata itu terucap begitu saja dari mulutnya.

"apa kau bilang? Apa maksudmu 'para remaja' itu kami?"

Baekhyun merasa gentar juga mendengar perkataan remaja tersebut. Namun karena situasinya sudah terlanjur seperti ini, Baekhyun memberanikan diri menjawab mereka dengan lantang

"geurae! Kalian ini sudah seperti orang gila. Kalian tahu tidak Chanyeol itu orang seperti apa? dia itu manusia yang bisanya hanya menyakiti anak-anak polos seperti kalian. Dia bisa memecat orang tidak dia sukai seenaknya. Coba lihat, kenapa kalian malah ada di sini dan memuja laki-laki itu ketika seharusnya kalian berada di sekolah? Bagaimana kalau orangtua kalian tahu?"

Jantung Baekhyun berdetak kencang. Rasanya dia ingin segera kabur dari tempat itu. Namun ia kembali meyankinkan diri bahwa ia harus kuat. Tetapi...

"maaf saja, tapi aku tidak mempunyai orang tua. Kau menghinaku karena hal ini!" seorang pelajar berkata sambil maju keluar dari kerumunan dengan geram.

"mwo?" Baekhyun terperanjat. Dia teringat pengalaman saat menulis artikel dulu, meskipun tidak semua orang menyadari, tetapi pemilihan kata dan gaya bicara sangat penting. Ia lantas menyesali perkataanya. Dia tidak menyangka perkataannya akan menyerang dirinya kembali.

"yak! Pokoknya, aku punya urusan sendiri dengan Chanyeol dan kalian tidak perlu ikut campur! Chanyeol pembohong! Pembohong!" Baekhyun mengeraskan suaranya tanpa memerdulikan pandangan para remaja itu dan mengangkat papannya tinggi-tinggi.

"justru kau ini yang pembohong! Jangan mencemarkan nama baik Chanyeol oppa!"

Tiba-tiba fans-fans itu mulai menginjak-injak dan menghancurkan kertas-kertas yang dibawa Baekhyun.

"yak! Yak! Apa-apaan kalian ini!?" Baekhyun sangat terkejut dan berusaha melawan para fans gila itu. Namun apa daya, jumlah mereka ada sekitar 100-an orang dan semuanya adalah remaja yang dalam masa pertumbuhan. Mereka setiap hari minum susu dan makan daging sehingga memiliki tenaga yang luar biasa. Mustahil baginya untuk mengalahkan mereka. Sementara dirinya, tadi pagi dia hanya sarapan semangkuk ramyeon dan telur tanpa nasi.


~So,I Married the Anti-fan~


Chanyeol baru saja keluar dari ruangan Direktur Kim Young Min. Beliau adalah direktur perusahaan manajemennya, SM Entertainment. Seperti biasa, Chanyeol baru saja bertengkar hebat dengan direkturnya itu.

"kau masih tidak mau menuruti perkataanku? Kau sama sekali tidak merasa bersalah pada reporter wanita yang dipecat itu?"

Pertanyaan tajam direkturnya terngiang kembali. Chanyeol terdiam. Chanyeol memang merasa dirinya tidak adil karena meminta perusahaan majalah tempat reporter itu bekerja untuk memecat reporter itu, hanya karena khawatir nama Luhan tercemar di mata orang lain. Namun dia tak menyangka bahwa direktur majalah itu akan semudah itu memecat karyawan tanpa menanyakan alasannya terlebih dahulu. Chanyeol merasa ada yang tidak beres dengan direkturnya yang kini mulai menggunakan masalah ini untuk mengendalikan dirinya. Dan yang membuat Chanyeol semakin kesal adalah orang-orang di sekitarnya kini menganggap bahwa dirinyalah yang tidak beres dan bermasalah. Mungkin itu sebabnya dia sangat marah kepada direkturnya saat itu. Ditambah lagi pertanyaan-pertanyaan Sehun yang ingin ikut campur mengenai masalahnya dengan Luhan malam itu.

"lalu, apa yang harus saya lakukan sekarang? Anda ingin saya mengadakan fan sign sambil buka baju di bawah sana?" Chanyeol mendongakkan kepala dengan angkuh dan berkata tanpa pikir panjang kepada atasannya. Youngmin menatap Chanyeol dengan senyuman sinis sambil mendengus pelan

"hmm, boleh juga semangatmu. Tapi, apa gunanya kalau hanya ditunjukkan di hadapanku saja?"

"anda mau lihat? Anda tahukan seberapa banyak fansku? Anda yakin ada yang bisa mengantikanku?"

Tiba-tiba terlintas di benaknya, apa yang akan terjadi seandainya dia benar-benar menunjukkan sikap angkah dan tidak sopan ini dihadapan publik. Mungkin sepuluh detik saja dia bersikap seperti itu bisa menjadi tayangan berita berdurasi satu jam yang diputar di seluruh penjuru negeri.

"kau tidak perlu mengkhawatirkan diriku. Pikirkan saja iklan-iklanmu. Kalau ada masalah, kau sendiri juga yang harus menanggung akibatnya. Bagiku, kau ini hanya model iklan, tokoh drama, dan poster film"

Chanyeol berusaha untuk tidak menggeram marah mendengar sindiran pedas Youngmin

"kalau anda menganggap saya hanya sebatas 'barang', lebih baik tidak usah panggil tidak perlu memanggil nama saya lagi, sebut saja dengan nomor. Saya lebih senang dipanggil dengan nomor daripada dipanggil nama oleh anda. Entah kenapa, panggilan nama seperti tidak ada artinya" kata Chanyeol lalu meninggalkan ruangan sambil membanting pintu. Begitu keluar ruangan, dia mendengar suara hantaman keras dari dalam ruangan. Chanyeol menyeringai pelan. Meski begitu, ia kasihan juga pada direkturnya yang tidak menyadari kesalahannya sendiri.

"ada apa?" Jongdae muncul di hadapan Chanyeol dengan wajah khawatir

"nothing" Chanyeol mendengus sambil tertawa pelan

"really nothing?" Jongdae yang tadi juga mendengar suara hantaman keras dari dalam ruangan direktur melirik ke dalam ruangan dengan hati-hati. Tiba-tiba...

"ADA PERKELAHIAN!"

Terdengar suara teriakan panik yang mengejutkan seisi kantor. Semua karyawan segera mengerubungi jendela dan melihat ke luar halaman kantor. Terkejut mendengar hal itu, Chanyeol dan Jongdae berpandangan sejenak lalu ikut menghambur ke arah jendela. Mereka mendongak ke luar dari atas kepala-kepala karyawan lain yang telah memenuhi jendela dan melihat ke luar. Para pelajar tengah berkelahi sengit.

"anak-anak sekolah itu berkelahi dengan sesama mereka sendiri?"

"yang berdiri di tengah itu.. sepertinya dia bukan anak sekolah" sahut seorang karyawan sambil menunjuk Baekhyun yang berdiri di tengah kerumunan. Sementara itu, karyawan di sebelahnya malah sibuk menghitung jumlah anak sekolah yang sedang berkelahi itu.

"kenapa kalian malah diam saja? Cepat hentikan mereka sebelum terjadi sesuatu!"

Jongdae terkejut dan segera berlari untuk menghentikan mereka. Chanyeol hanya menatap Jongdae yang tergesa-gesa berlari keluar dan kembali melihat ke luar jendela

"kertas apa itu yang dia bawa? Poster? Iklan?"

"entahlah, yang pasti anak-anak sekolah terlihat marah terhadap perempuan itu"

"syukurlah bukan perkelahian antar fans. Tapi, apa ini akan masuk berita?"

"mudah-mudahan tidak, itu Jongdae hyung sedang melerai mereka"

Chanyeol mundur dari jendela tanpa begitu memperhatikan komentar para karyawan itu. Pasti orang-orang akan menyalahkan dirinya lagi atas perkelahian itu. Meskipun dia tidak tahu apa dan mengapa perkelahian itu terjadi, tetapi membayangkannya bahwa nanti dia harus menunduk dan meminta maaf sekali lagi atas kejadian itu membuat dadanya sesak. Dia memang bisa saja memberhentikan seseorang dari pekerjaannya demi kelangsungan kariernya, tetapi kadang dia merasa was-was dan terancam juga oleh seseorang di luar sana yang tidak dia kenal. Kariernya sebagai selebriti yang bisa bertahan lama bila beruntung, atau bisa hancur dalam sekejap ini membuat hatinya tidak tenang.


~So,I Married the Anti-fan~


Kyungsoo mengobati memar di wajah Baekhyun sambil berdecak heran dan putus asa

"aku baru tahu sekarang. Jadi, semua gara-gara Chanyeol? Kau seharusnya tidak melihat ke 'pohon'nya, tetapi lihat juga 'gunung raksasa' yang berdiri dibelakangnya. Masih untung kau hanya memar"

"AUWWW, sakittt"

"tahan!"

Kyungsoo kemudian memegang Baekhyun semakin erat agar tidak bergerak-gerak. Baekhyun terlihat kacau dengan bekas luka cakar dan pukul anak-anak sekolah tadi. Bajunya bahkan sudah sobek disana-sini.

"aku akan pergi ke kantor itu lagi. Aku lupa kalau para fans selalu ramai di depan kantornya. Aku harus menyusun rencana kembali!" Baekhyun berucap dengan tekad kuat

"bagaimana? Kau mau menelpon ke rumah anak-anak itu, memberitahu orangtua mereka 'tolong jangan biarkan anak anda ke kantor Chanyeol' begitu? Lagi pula, memangnya ada orang yang mau mendengarmu? Mereka akan menganggap kau gila dan ujung-ujungnya kau sendiri yang sakit hati. Lebih baik kau cari pekerjaan baru dan kembali ke rumahmu saja" Kyungsoo menempelkan plester di luka terakhir Baekhyun dengan kasar

"AAA-AAKHHH,pelan-pelan!" Baekhyun menjerit kesakitan

"aku mau belanja di internet shoppong sebelum tidur. Kau tidur duluan saja"

Kyungsoo kemudian melemparkan bantal dan selimut pada Baekhyun. Baekhyun berbaring di lantai kamar dengan perasaan campur aduk. Kalau bukan karena masalah ini, dia pasti baru saja menyelesaikan artikel dan membaca majalah baru dengan santai. Namun kenyataan bahwa saat ini dia sedang terluka dan menumpang hidup di kamar orang lain membuatnya dilanda rasa sedih dan sakit hati yang luar biasa. Dan semua ini gara-gara Chanyeol sialan itu. Dasar brengsek!

"Baekhyun, kantornya Chanyeol itu ada di daerah Bang Bae ya?" Kyungsoo bertanya sambil tetap menatap serius layar komputernya

"memangnya kenapa? Kau mau ikut ke sana juga?"

Sesaat Baekhyun merasa sangat bersyukut memiliki teman seperti Kyungsoo dan langsung terduduk dari tidurnya

"bukan begitu, lihat! Ini kau bukan?" Kyungsoo menatap Baekhkyun dengan ekspresi tidak enak. Baekhyun bergerak mendekat ke arah layar komputer.

Di internet muncul berita berjudul 'Perkelahian Terjadi di Depan Kantor Manajemen Chanyeol'. Di situ juga terpampang sebuah foto berukuran besar, foto kerumunan pelajar perempuan yang sedang mengerumuni seorang perempuan yang memegang papan kertas besar, yang terlihat seperti Baekhyun.

"apa-apaan ini?"

Baekhyun yang panik merebut mouse dari tangan Kyungsoo menggerakkan kursor scrollbar, dan membaca artikel dibawah foto tersebut. Dalam artikel itu dikatakan bahwa kejadian ini dilaporkan oleh seorang pejalan kaki yang kebetulan lewat di tempat kejadian sambil mengutip kalimat-kalimat yang ditulis Baekhyun. Dia juga menambahkan bahwa terjadi perkelahian antara para pelajar perempuan dengan seorang wanita. Ada beberapa foto dalam artikel itu dan ada foto yang memuat wajah Baekhyun dengan jelas.

"kenapa berita ini muncul?"

Baekhyun mengecek waktu berita ini dipublikasikan dan ternyata sudah tiga jam yang lalu. Sepertinya ada yang menyaksikan kejadian itu dan langsung menyebarkannya di internet. Tiba-tiba Baekhyun merasa sangat ketakutan. Apakah tidak apa-apa aku berbuat seperti itu? Tetapi aku juga tidak ingin berita ini tenggelam begitu saja pikir Baekhyun. Baekhyun menimbang-nimbang apakah berita ini bisa membantunya atau malah menyusahkannya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Baekhyun terkejut dan dengan perasaan sedikit takut dia menjawab panggilan di ponsel nya itu.

"halo?"

"ini Byun Baekhyun?" suara penelpon itu terdengar senang karena teleponnya dijawab

"ya. Ini siapa?"

"saya wartawan dari koran K Sport. Anda adalah orang yang ada dalam perkelahian itu, kan?"

Baekhyun sesaat hanya terdiam menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Bagaimana mereka bisa tahu nomor ponselnya hanya dengan selembar foto? Batin Baekhyun yang merasa seluruh bulu kuduknya meremang karena takjub

"tulisan yang dikutip dari papan-papan itu, apa benar itu tulisan anda?" wartawan itu langsung bertanya seolah ingin memastikan sesuatu

"iya.." Baekhyun menjawab dengan suara bergetar

"kalau begitu, sepertinya anda pernah terlibat suatu masalah dengan Chanyeol. Bisakah anda menceritakannya kepada kami masalah apa yang terjadi antara anda dan Chanyeol?"

Mendengar pertanyaan itu, Baekhyun kemudian yakin berita ini dapat menolongnya.

"ahh, masalah itu.. sulit untuk dibicarakan melalui telepon. Lagi pula, saya tidak tahu apakah anda benar-benar wartawan koran K Sport atau bukan. Saya hanya ingin mengatakan bahwa pernyataan saya di papan itu adalah benar"

Tiga jam yang lalu, Baekhyun berada di dalam kepungan fans-fans fanatik gilanya Chanyeol seorang diri. Namun sekarang, dia dapat merasakan dirinya mulai naikke permukaan secara perlahan. Baekhyun bangga pada dirinya sendiri yang mampu menjawab pertanyaan tersebut dengan formal dan tetap sopan, layaknya wartawan profesional. Ia menggenggam ponselnya sambil membetulkan plester luka yang hampir lepas di wajahnya.


~So,I Married the Antifan~


Jongdae membaca berita di layar komputernya sambil menyergitkan dahi. Sementara itu, Chanyeol duduk terpaku di sofa dengan wajah serius.

"harusnya kita mencaritahu tentang perempuan itu ketika perkelahian itu terjadi" Jongdae berkata dengan lesu

"direktur berkata dia tidak akan bersabar lagi bila masalahnya semakin besar, meskipun itu menyangkut kau"

Katika Jongdae datang ke kantor, Youngmin sedang melihat foto perkelahian itu di internet. Dia marah besar karena foto itu. Namun, Chanyeol malah sibuk memikirkan hal lain. Sehun menelponnya begitu melihat berita itu dan menanyakan apakah wanita yang dibuatnya menangis adalah Luhan. Sehun mengajukan pertanyaan secara bertubi-tubi mengenai apa yang terjadi malam itu dan Chanyeol tidak bisa mengelak lagi. Dia tidak ingin beralasan apapun. Dia tidak ingin membayangkan bagaimana Sehun yang mempunyai pikiran sempit itu menerima dan menanggapi kejadian ini, serta bagaimana dia memperlakukan Luhan nantinya. Chanyeol menutup telepon dengan perasaan kalut. Dia tidak bisa tidur karena mengkhawatirkan Luhan.

"rasanya aku ingin langsung menghapus berita-berita itu dengan penghapus"

Jongdae bangkit dari duduknya dengan geram dan menuju ke depan komputer kembali. Wajah Chanyeol yang tadinya muram hanya tersenyum kecil.

"kau pikir bisa segampang itu?"

Chanyeol berdiri dari duduknya sambil mengibaskan tangan seolah ingin menghilangkan segala kekhawatiran pada dirinya.


~So,I Married the Anti-fan~


Kini Baekhyun tahu bagaimana wartawan itu bisa mendapatkan nomor teleponnya, ternyata wartawan itu adalah teman Joonmyeon. Mereka sedang berada di kafe ketika berita itu muncul. Joonmyeon pun mengatakan bahwa dia mengenal wanita di foto tersebut.

"dia ingin tahu nomor ponselmu, makanya kuberitahu. Dia sudah menelponmu? Kau juga akan wawancara dengan majalah kitta? Kalau iya, nanti kufoto yang cantik"

Joonmyeon menelpon Baekhyun terlebih dahulu dan langsung berbicara panjang lebar tanpa memberi kesempatan Baekhyun untuk berbicara. Dia sudah gila ya? Apa dia lupa aku baru saja dipecat dari majalah itu? Batin Baekhyun. Yah, mungkin dia memang tidak terlalu peduli padaku.

"boleh saja, kalau kau sudah pindah kerja ke majalah lain" sahut Baekhyun dengan sinis. Joonmyeon terkejut mendengar jawaban itu.

"apa? kau minta aku pindah ke majalah lain? Memang separah itu ya masalahnya? Bisa menghancurkan perusahaan ini?"

Baekhyun tidak tahu entah apa yang ada di dalam pikiran si perfeksionis ini

"belakangan ini kau baca berita tentang kekerasan di perusahaan tidak?"

"oh ya? Apa ada cerita seperti itu? Sepertinya menarik"

Mereka berdua asyik bercerita sampai lupa waktu

"besok aku akan bertemu dengan wartawan itu. Kau ikut datang saja, sekalian mendengar ceritaku"

"oh ya? Ahh.. aku tidak bisa. Ada artikel yang harus kuselesaikan. Lain kali saja kita bertemu lagi"

"baiklah"

Begitu menutup telepon, Baekhyun merentangkan tangannya dengan santai. Kini semua tinggal masalah waktu.


~So,I Married the Anti-fan~


Mereka janji bertemu pukul 10 pagi. Baekhyun menentukan tempat pertemuan mereka, yaitu di sebuah kafe yang terkenal akan menu brunch-nya. Wartawan itu muncul dengan mengenakan setelan biru tua dan kemeja putih tanpa dasi.

"saya tidak sempat sarapan, apalagi kalau ada wawancara pagi, paling hanya makan sedikit saja. Anda sudah sarapan?"

Entah kenapa, Baekhyun kembali teringat sewaktu dia menjadi wartawan dulu. Wartawan itu berbicara dengan santai dan ditemani oleh seorang fotografer.

"sedikit. Anda ingin pesan sesuatu?" Baekhyun menyodorkan menu kepada wartawan itu

"ada menu yang selalu saya pesan di sini. Kalau anda?" wartawan itu menolak menu yang disodorkan dan tersenyum memandang Baekhyun

"black coffee"

Wartawan itu berkata dengan sangat santai, sampai-sampai Baekhyun hampir saja menjawab sambil tersenyum ramah. Namun sekarang bukan saatnya dia bersikap seperti itu. Sekarang dia sedang berada di posisi korban yang sedih dan diperlakukan dengan tidak adil.

"wartawan memang biasa minum black coffee 6 sampai 7 gelas sehari bukan? Kebiasaan yang cukup mengerikan ya?"

Baekhyun hanya menanggapi pertanyaan tersebut dengan mengedikkan bahu. Tidak lama kemudian, pelayan datang menghampiri mereka.

"saya brunch platter. Bisa kan?" wartawan itu berkata dengan ramah sambil menatap pelayan tersebut

"ah, sebenarnya waktu menu brunch di kafe kami belum..."

"tidak apa-apa, saya bisa menunggu. Untuk minumannya, saya pesan lemonade ya" wartawan itu memotong ucapan pelayan tersebut sambil tersenyum ringan. Pelayan itu pun hanya balas tersenyum dan berkata "ahh, baiklah"

"menu yang sama untuk teman saya dan satu black coffee untuk wanita ini" wartawan itu memesankan makanan untuk mereka semua dengan sangat lihai. Yang jelas, laki-laki ini tahu cara memperlakukan wanita, jauh lebih baik daripada Joonmyeon.

"ah iya, nama saya Kris Wu"

Wartawan berambut blonde itu memberikan kartu namanya kepada Baekhyun dengan sopan. Baekhyun menerima kartu nama itu dengan kedua tangannya dan secara otomatis membuka tasnya, hendak mengambil sesuatu, tapi dia tersadar, kini dia tidak punya kartu nama lagi.

"tidak apa-apa, saya sudah tahu nama dan nomor telepon anda" wartawan itu berkata dengan senyumanan tampannya, seolah membaca kepanikan di wajah Baekhyun

"baiklah, sambil menunggu makanan datang, kalau boeh tahu, apa yang dikatakan perusahaan anda saat memberhentikan anda?" tanya Kris sambil menyilangkan kaki. Dia kemudian membuka agenda dan membuka tutup pulpennya. Sebelum mulai wawancara, seorang wartawan biasanya akan basa-basi sebentar dan membicarakan hal pribadi lainnya untuk mencairkan suasana. Namun, basa-basi yang dilakukan wartawan ini hanya sebatas black coffee dan brunch platter yang dia pesan tadi.

"ahhh, wawancara anda kilat sekali ya?"

Baekhyun baru saja sedikit merasa santai dan menyeruput black coffee yang baru dihidangkan oleh pelayan di kafe itu. Wartawan itu menggaruk-garuk tengkuk

"ahh, iya. Terlalu cepat ya? Entah apa anda sudah mendengar hal ini dari Joonmyeon atau belum, tapi saya lebih suka seperti ini, anda keberatan?"

"oh, tidak juga. Saya juga tidak terlalu suka basa-basi"

Baekhyun menunduk sejenak. Rasanya aneh dan kaku berada di pihak yang diwawancara setelah biasanya dia yang mewawancarai orang lain. Dia tidak tahan untuk tidak ikut mengajukan pertanyaan.

"anda tahu Sehun, kan?"

Wartawan itu mengangguk menanggapi pertanyaan Baekhyun. Baekhyun dapat melihat kamera itu sedang fokus kepadanya dan lesanya bergerak-gerak pelan.

"saya yakin anda tahu. Sehun membuka sebuah club beberapa waktu lalu dan saya juga pergi ke sana untuk meliput. Saya bertemu Chanyeol di sana dan melakukan sedikit kesalahan"

"kesalahan?"

"ne. Hmm.. bisa dibilang cukup serius juga. Saya sedang terburu-buru dan tanpa sengaja mengotori sepatunya. Dan mobilnya juga"

Baekhyun mengakui bahwa dia memang melakukan kesalahan yang benar-benar 'kotor'. Baekhyun memeragakan gerakan 'orang muntah' di hadapan wartawan itu. Wartawan itu sedikit terkejut dan kemudian memasang ekspresi 'ohh' dan mengangguk-anggukkan kepala. Dia mengerti. Syukurlah. Baekhyun tidak perlu mengatakannya secara langsung.

"hanya sedikit"

Ini agak berbeda dengan kenyataannya. Baekhyun berkata 'sedikit' sambil menunjukkan jarak 1cm antara jempol dan jari telunjuknya, padahal mungkin seharusnya bisa sampai 30cm. Namun, sebagai korban, bukti muntahannya tidak apa-apa berbohong sedikit dalam hal ini.

"Chanyeol benar-benar marah saat itu. Padahal saya sudah ribuan kali meminta maaf dan seharusnya dia bisa memaafkan dan tidak mempermasalahkan hal ini. Saya baru pertama kali melihatnya semarah itu. Yah, intinya, saya memang melakukan sedikit kesalahan, tapi kita lewatkan saja bagian ini. Yang lebih mengejutkan lagi adalah Chanyeol memperlakukan seorang gadis dengan sangat kasar di acara itu"

Jantung Baekhyun berdetak cepat karena dia bicara sekaligus tanpa henti. Baekhyun menarik napas sejenak dan menyeruput kopinya kembali. Kris menatap Baekhyun dan kertas memonya bergantian sambil mencatat semua perkataan Baekhyun.

"Chanyeol selama ini terkenal dengan sifatnya yang baik hati, lembut, dan tidak pernah menyakiti atau merugikan orang lain bukan? Namun, Chanyeol yang saya lihat langsung adalah Chanyeol yang bersikap dingin, tega membuat seorang gadis menangis, dan mendorongnya dengan kasar sampai terjatuh, tanpa mengedipkan matanya sedikit pun. Benar-benar tidak bisa dipercaya. Meskipun mungkin ada salah paham di antara mereka, tapi itulah kenyataan yang saya saksikan langsung"

Baekhyun menggeleng-gelengkan kepala seolah masih tidak percaya dengan sikap Chanyeol

"apa anda tahu siapa gadis itu?" Kris menatap Baekhyun dengan penuh curiga

"tidak. Tapi wajahnya terlihat lugu, dan kelihatannya masih muda"

Saat itu, terdengar suara 'cekrek', suara shutter kamera milik fotografer yang sedang mengambil foto Baekhyun. Baekhyun terkejut, namun suara itu terus terdengar dan fotografer itu tentu mengambil foto Baekhyun. Sesaat Baekhyun merasa dirinya bagaikan orang terkenal yang selalu dibidik kamera. Baekhyun menarik napas sambil menutup dan membuka matanya perlahan.

"jadi intinya, saya menyaksikan kejadian tersebut dan Chanyeol mengetahui hal ini, sehingga dia membuat saya diberhentikan dari pekerjaan saya di sebuah perusahaan majalah"

Baekhyun menggerekkan bahu dengan lesu dan memejamkan matanya, seolah dia adalah korban yang benar-benar dirugikan akibat kejadian ini.

"tapi, bagaimana Chanyeol bisa tahu perusahaan tempat anda bekerja dan memecat anda?" Kris bertanya dengan bingung. Dasar orang ini batin Baekhyun sambil menghembuskan napas panjang

"tamu yang hadir di pesta pembukaan Club saat itu sepertiganya adalah selebriti, sepertiganya lagi adalah teman dan kerabat Sehun, dan sepertiganya sisanya adalah para wartawan yang diundang. Sehun tentu tahu wartawan dari perusahaan apa saja yang dia undang, dan Joonmyeon bahkan sempat menyebut-nyebut nama saya. Apa susahnya mencaritahu perusahaan tempat saya bekerja?"

Mendengar jawaban Baekhyun yang berapi-api, Kris tersenyum kecil dan mengangguk-angguk setuju

"yang pasti, Chanyeol mempunyai perangai buruk dan tentu saja dia ingin menyingkirkan saya yang melihat perangainya itu. Mau bagaimanapun, kenyataan ini harus diberitahukan ke masyarakat. Kita harus memberitahu sifat Chanyeol yang sebenarnya ke seluruh dunia"

Brak!

Tanpa sadar, Baekhyun mengepalkan tangannya dengan geram dan menggebrak meja

"wow..woww"

Kris yang terkejut hanya tertawa sambil menenangkan Baekhyun dengan kedua tangannya. Baekhyun baru menyadari bahwa dia hampir berdiri dari tempat duduknya karena terlalu berapi-api. Dia segera mengubah ekpresi dan duduk kembali sambil menenangkan dirinya. Pelayan yang saat itu datang sambil makanan mereka juga terkejut lalu meletakkan brunch platter di depan wartawan dan fotografer itu.

"jadi, anda dipecat dari perusahaan gara-gara Chanyeol?" tanya Kris sekali lagi. Baekhyun terdiam sesaat, seolah ada yang mengganjal di lehernya. Itu bukan pertanyaan yang salah juga bukan? Dia pun merasa tidak perlu mengatakan pada Kris bahwa dia dipecat karena kemampuannya kurang dan tidak ada semangat bekerja. Kris pun tidak menanyakan hal itu. Pokoknya, ini semua gara-gara Chanyeol.

"memangnya ada alasan lain?" Baekhyun balik bertanya sambil mengedikkan bahu perlahan.

"selama ini, apa anda pernah membenci Chanyeol?" tanya wartawan itu sembari mengambil makanan di piringnya dengan wartawan.

"tidak. Saya memang bukan penggemarnya, tapi tidak sampai benci juga.."

"tapi karena perbuatannya, sekarang anda malah menjadi anti-fannya? Bukankah itu kelompok yang membenci seseorang dan hanya mengkritik sisi-sisi negatifnya saja?"

"intinya, anda tidak menyukai Chanyeol dan ingin menyebarkan sifat-sifat busuknya ke masyarakat kan?" tanya Kris sambil menyuapkan makanan ke mulutnya dan menatap Baekhyun

"ya, bisa dikatakan begitu juga. Saya bukannya ingin mencemarkan nama Chanyeol karena masalah pekerjaan. Tapi kalau anti-fan itu adalah orang yang mengetahui sifat asli seseorang, mengkritiknya, dan berusaha melepaskan 'topeng' yang selama ini menutupi sifat aslinya itu, maka bisa dikatakan juga bahwa saya ini adalah anti-fannya. Namun yang pasti, saya adalah korban dari perbuatannya. Saya tidak peduli dan tidak ingin membahas sifat-sifat jeleknya. Saya tidak terima diperlakukan tidak adil seperti ini. Dia takut aibnya terbongkar dan membuat saya dipecat dari perusahaan untuk membungkam saya. Saya ingin pekerjan saya dikembalikan"

Baekhyun puas mendengar kata 'sifat busuk' yang digunakan oleh Kris

"kalau bisa, tolong pakai istilah 'sifat busuk' untuk artikelnya nanti ya" Baekhyun berkata sambil menunjuk memo yang ditulis Kris

"ahh, baiklah" Kris tersenyum ragu sambil mengagguk perlahan

"rupanya, Chanyeol telah membuat orang yang tadinya biasa-biasa saja menjadi anti-fannya karena takut aibnya tersebar"

"benar, bodoh sekali bukan? Orang melakukan kesalahan sedikit saja, langsung marah besar seperti itu. Manusia macam apa dia itu?!" baekhyun menggerak-gerakkan tangannya

"anda rupanya berani mengatakan secara terang-terangan kalau anda anti-fannya. Anda tidak takut? Biasanya anti-fan bergerak secara diam-diam. Bila terang-terangan seperti ini, anda bisa saja diserang oleh para fans Chanyeol yang sangat banyak itu. Lagi pula, sepertinya tidak banyak orang yang mau memercayai cerita anda"

"tapi, saya harus tetap melakukan apa yang harus saya lakukan. Untuk meraih tujuan saya"

"menurut anda, tujuan anda ini akan tercapai?"

"maksudnya?"

"pekerjaan anda"

"oh, tentu saja. Harus. Mentang-mentang perusahaan mau membuat dokumenter tentang dia, bukan berarti perusahaan itu menuruti segala permintaan artis itu dan mempermainkan mata pencaharian orang lain seenaknya. Saya harus meluruskan hal ini" Baekhyun berkata dengan wajah tulus dan mengangkat cangkir kopinya dengan anggun

"anda yakin bisa melakukan hal itu? Bukankah tadi anda berkata bahwa anda tidak peduli pada Chanyeol? Entah bagaimana faktanya, pokoknya anda merasa nama baik anda dicemarkan"

Baekhyun hampir saja menyemburkan kopi yang sedang dia minum ke wajah Kris. 'entah bagaimana faktanya?' dia sebenarnya agak terganggu dengan perkataan itu, namun bukan saatnya memikirkan hal sepele seperti itu.

"menurut anda, perusahaan majalah anda mau menerima wartawan yang menulis berita secara subjektif? Seandainya anda kembali bekerja pun, anda yakin bisa bertahan di perusahaan tersebut? Anda terlanjur dikenal sebagai wartawan yang tidak bisa jaga rahasia"

Saat itu Baekhyun menyadari bahwa dia terlalu terbawa emosi dalam menghadapi masalah ini. Wartawan yang mewawancari dirinya pun tidak sepenuhnya memercayai ceritanya. Oh. My. God! Ya Tuhan! Apa yang telah kulakukan?


~So,I Married the Anti-fan~


Perkataan Kris tepat mengenai sasaran. Artikel yang ditulis Kris berjudul "Chanyeol, Benarkah Semua Ini Kesalahannya?" menghiasi halaman utama koran, lengkap dengan foto wajah Baekhyun. Meskipun demikian, tetap tidak ada telepon atau pesan satu pun dari perusahaan majalahnya dulu. Baekhyun berjalan dengan langkah gontai pagi itu sambil melipat koran K Sport dan mengigit kimbab yang baru dia beli di sebuah minimarket. Baekhyun rasanya ingin menangis membaca isi artikel itu, "Baekhyun yang mengatakan bahwa Chanyeol adalah artis bersifat busuk, Baekhyun bahkan tidak dapat mengendalikan amarahnya di tengah wawancara" keterlaluan sekali wartawan tonggos itu, memangnya kapan dia tidak bisa mengendalikan amarahnya? Hanya karena menggebrak meja sekali, dia sebut "tidak bisa mengendalikan amarah"? Baekhyun merasa kesal terhadap wartawan yang mendengarkan permintaannya dan menuliskan kata "sifat busuk" di artikel itu. Wartawan itu menulis artikel dari isi wawancara mereka secara berlebihan. Akibatnya, nasib pekerjaannya kini semakin tidak pasti dan dia akan dicaci-maki oleh fans-fans gila Chanyeol, sementara wartawan itu mungkin bisa hidup panjang sampai 1000 tahun. Saat itu, sekali lagi Baekhyun merasakan betapa besar dan menyeramkan kekuatannya para fans gila Chanyeol. Dia tidak menyangka hidupnya akan susah seperti ini akibat 'mengganggu' fans-fans itu. Kimbab yang dia makan tiba-tiba terasa hambar. Tadinya dia percaya bahwa wartawan itu dapat membantunya mendapatkan pekerjaannya kembali. Namun ternyata, Baekhyun hanya sekedar "bahan berita" baginya. Di akhirnya artikelnya, Kris sekilas menyinggung bahwa pria yang dilihat oleh Baekhyun bisa saja bukan Chanyeol. Baekhyun bingung, sebenarnya wartawan itu berpihak kepada siapa, sih?

"kau seharusnya pelan-pelan melakukan negosiasi dengannya. Kau ini kebiasaan, terlalu terburu-buru. Sudah senang-senang mau diwawancara, akhirnya malah kacau begini. Satu halaman koran lagi. Mau dibingkai saja? Atau mau dijadikan kliping?" Kyungsoo yang duduk disebelahnya menyindirnya dengan 'pedas'

"yakk! kau mau membuatku tambah kesal ya? Hebat juga kau ini, sindiranmu itu terasa hingga ketulang kau tahu!" Baekhyun yang membenamkan kepalanya di dalam bantal menatap Kyungsoo dengan tatapan membunuh.

"sudahlah, kau cepat pergi dari sini. Sebentar lagi aku akan tinggal bersama Jongin di sini"

"MWO? Kau gila?" Baekhyun terkejut bukan main dan bangun dari baring nya

"wae? Kami ingin mencoba hidup bersama sebelum menikah. Lagi pula, sekarang kan sedang trend, memangnya tidak boleh?"

"dasar yeoja gila! Kau ini kebanyakan nonton drama ya? Itu kelihatannya saja keren di drama, coba saja kau jalani langsung. Tidak puas menginap di rumahnya, sekarang mau tinggal bersama? Bagaimana kalau orangtua kalian tahu?"

"kau pikir aku masih anak kecil? Aku sudah dewasa. Kau tidak usah ikut campur, urus saja hidupmu sendiri. Kami memang sudah berencana akan tinggal bersama tapi tertunda gara-gara kau. Kontrak kamarku ini hampir habis, jadi kau siap-siap saja cari tempat tinggal baru, atau pulang ke kampung halamanmu, atau memohon-mohon pekerjaan kepada Chanyeol!"

Dasar! Padahal kelakuan masih seperti anak kecil. Baekhyun merasa sangat terpukul. Dia seolah menyaksikan langit runtuh di hadapannya.


~So,I Married the Anti-fan~


Malam semakin larut. Chanyeol sedang melihat berita di internet dengan berat hati ketika tiba-tiba ponselnya berbunyi. Di layar monitornya, muncul berita berjudu "Kasus Perkelahian di Depan Kantor Manajemen SM Tidak Ada Hubungannya dengan Chanyeol", tercantum nama direktur perusahaannya dan foto perkelahian tersebut. Chanyeol melihat nama 'Kris Wu' tertera di layar ponselnya, Chanyeol menjawabnya dengan berat hati

"takutnya nanti terlihat terlalu dibuat-buat kalau menelpon dulu sebelum menulis artikel" Kris berkata sambil tertawa.

Chanyeol hanya tersenyum pahit. Dia membaca artikel yang ditulis Kris dan artikel dari pihak direkturnya, entah kenapa hatinya terasa pedih dan pahit.

"direktur kami sudah menelponmu?"

"tidak. Tadinya kupikir pihak perusahaanmu akan mengatakan sesuatu, ternyata tidak. Akhirnya kuterbitkan saja artikel itu. Kebetulan sekali ya artikelnya seperti berbalas-balasan begini" Kris tertawa kaku

Pasti direkturnya itu juga bersyukur dengan kejadian ini, pikirnya. Meskipun Kris dianggap berada di pihak Baekhyun dan menulis artikel yang bersumber langsung dari Baekhyun, direktur itu pasti merasa artikelnya masih lebih kuat dan hebat.

"pokoknya, terima kasih karena tidak menulis hal yang buruk. Nanti aku traktir"

Begitu menutup telepon, Chanyeol merebahkan badannya di sofa dan menaikkan kakinya ke atas meja. Dia memandang alarm kebakaran di langit-langit rumahnya dengan tatapan kosong. Dia tersenyum pahit, mengingat masa-masa ketika masih SHS dulu, ketika dia pertama bertemu dengan direkturnya.

Saat itu Youngmin masih muda. Chanyeol sedang berjalan keluar dari gerbang sekolahnya ketika Luhan menatapnya tajam dan membuatnya panik. Dia bertanya-tanya dalam hati, apakah appanya yang sama sekali belum pernah dia jumpai juga akan menatapnya seperti itu? Dengan wajah bingung, dia berdiri di samping pilar gerbang sekolahnya. Dia membuka mulutnya dan berkata 'A..', hampir saja dia memanggil 'appa' pada pria itu. Namun setelah dipikir-pikir lagi, untung saja pria itu bukan appanya. Pria itu mengulurkan kartu namanya pada Chanyeol dan tersenyum dengan gaya yang terlihat angkuh.

"saya dari perusahaan SM Entertainment. Dengar-dengar kau populer disini? Aku datang karena mendengar kabar itu dan ternyata penampilanmu boleh juga"

Meskipun Chanyeol tidak paham apakah pujian terhadap dirinya itu ditujukan sebagai 'orang' atau 'barang', dia tetap merasa senang. Apalagi pujian itu terucap dari direktur perusahaan manajemen artis. Mendengar tentang besarnya uang yang akan dihasilkan bila menjadi selebriti dan mengingat situasinya saat itu yang baru saja kembali dari Alaska serta hidup dalam kesulitan ekonomi, Chanyeol tergoda dan terlintas di benaknya "inilah saatnya, akhirnya mimpi menjadi kenyataan". Timbul keyakinan bahwa keesokan harinya, dia akan bangun dengan namanya terpampang besar di media massa dan mendapat spotlight luar biasa sebagai seorang selebriti pendatang baru.

Ibu Chanyeol sangat terkejut dan pingsan karena serangan jantung ketika mendengar Chanyeol akan pergi Seoul bersama Youngmin. Meskipun ibunya dirawat di rumah sakit dan melarangnya menjadi selebriti bila masih ingin diakui sebagai anak kandungnya, Chanyeol tidak menghiraukan hal itu dan pergi mengikuti Youngmin ke Seoul. Saat itu, Chanyeol yakin bahwa tidak ada orangtua yang rela kehilangan anaknya. Hati ibunya yang sedingin salju Alaska pasti akan melunak dan ibunya akan memahami serta memaafkannya. Namun, kenyataannya tidak demikian. Entah apakah ibunya ingin memberi pelajaran pada anak kurang ajar, ibunya pergi dan menghilang. Sepertinya dia merasa dikhianati oleh anaknya sendiri yang dia besarkan di negeri seberang, yang tidak bisa memahami perasaannya. Siapa suruh membesarkannya di negeri es seperti Alaska? Sejak kecil, dia tidak pernah tinggal di Korea dan dia sangat ingin pindah ke Korea. Apalagi di Alaska, dia juga terlalu sering berada di dalam rumah. Chanyeol yang dulu menyalahkan ibunya atas berbagai hal kini merasa bersalah dan bertanggung jawab terhadap ibunya yang mungkin kini hidup seorang diri entah dimana. Dia bahkan tidak tahu apakah ibunya masih hidup atau tidak. Dia telah mengirim orang ke Alaska untuk mencari ibunya, tetapi nihil. Padahal dulu, dia bersikeras untuk menjadi selebriti karena ingin memberikan kehidupan layak dan mewah pada ibunya yang selalu hidup miskin, baik di Alaska maupun di Korea. Namun sayangnya, keinginannya itu tidak tercapai. Dia hanya berdoa dan berharap ibunya hidup bahagia di suatu tempat. Dulu, Chanyeol lah yang paling mengerti ibunya, ratu es yang berhati dingin, sama sekali tidak bisa menerima sesuatu yang tidak dia sukai. Mengkhianati ibunya yang seperti itu sama saja meracuninya. Chanyeol secara perlahan menekan hatinya yang sakit. Hatinya terasa sakit dan pedih, seolah dihujam keping-keping beracun. Dia sangat menyesal telah memperlakukan ibunya seperti itu.

Dia selalu berjanji akan menjaga orang yang dia sayanginya dengan sebaik-baiknya, tetapi kenyataan bahwa dia tidak dapat menjaga Luhan dengan baik membuatnya pedih. Trauma. Rasa putus asa karena gagal menjaga wanita itu membuatnya semakin ingin menjaga wanita itu, dan membuatnya terjebak dalam sisi gelap hasratnya sendiri. Dia tidak peduli bila dirinya tidak bahagia. Baginya, kebahagiaan adalah ketika dia berhasil melindungi apa yang ingin dia lindungi. Oleh karena itu, dia terpaksa mengorbankan reporter wanita itu dan sedikit reputasinya. Dia tidak peduli. Selama ada direkturnya yang masih selalu menjaganya, dia yakin tidak akan mendapat kesulitan besar. Karena baginya direkturnya, dia masih dianggap "produk kelas atas".


~So,I Married the Anti-fan~


Baekhyun membolak-balik koran mencari artikel dari pihak Chanyeol yang 'membalas' artikel wawancaranya. Raut mukanya lama-lama semakin muram.

"sudah kuduga. Kurang ajar!" Baekhyun meremas-remas koran tersebut dan menggigitnya dengan geram. Setelah artikelnya muncul di halaman koran itu, tidak ada tanggapan sama sekali dari pihak Chanyeol.

"Chanyeol dan komplotannya itu keterlaluan sekali. Membuatku seperti orang bodoh!" Baekhyun merobek-robek koran itu dan mengempaskannya ke lantai

"jangan mengotori kamar ini. Dan jangan lupa, sudah H-5 sebelum kau pergi dari sini" Kyungsoo berkata dengan menakutkan sambil berdiri dari duduknya. Baekhyun segera mengumpulkan sampah koran yang tadi dia tebarkan di lantai.

"benar aku harus pergi dari sini? Padahal aku suka tempat ini, cahaya mataharinya juga bagus" Baekhyun mulai merayu sambil membersihkan lantai

"oh ya? Kalau begitu, kau yang bayar deposit rumah ini ya. Aku ke kantor dulu" Kyungsoo yang berkata blak-blakan itu mengenakan sepatunya dan pergi meninggalkan rumah. Begitu dia pergi, Baekhyun merebahkan badannya di lantai. Sial sekali nasibnya. Hidupnya hancur gara-gara tidak sengaja "mengganggu" seorang selebriti. Baekhyun yang berguling-gulingan di lantai kemudian bangun dan duduk di depan komputer. Begitu dia melihat berita tentang selebriti di internet, tada~! Ternyata sudah banyak komentar negatif mengenai dirinya.

- Berusaha menyelamatkan diri dengan menjatuhkan Chanyeol rupanya

- Byun Baekhyun? Siapa ya? Ah, yeoja sakit jiwa itu?

- Memangnya kau pikir Chanyeol akan memaafkanmu?

- Sedih karena dimaki-maki orang? Terima saja, ini akibat ulahmu sendiri

Berbagai makian dan komentar negatif menhujam dan melukai hati Baekhyun. Dia rasanya ingin mati. Kadang ada yang mendukungnya dengan menulis "bisa sana kan Chanyeol berbuat seperti itu", namun komentar itu pun diserang balik dengan komentar negatif lainnya, seperti "kau Byun Baekhyun ya?", "memang kau temannya?", "jangan sembarangan mengejek Chanyeol seperti itu". Meskipun demikian, dia terus mencari komentar yang mendukungnya dan ada beberapa yang menarik perhatiannya.

- Byun Baekhyun, kau ini benar-benar wartawan sejati. Berkat kau, kita jadi lebih waspada dengan selebriti lainnya.

- Memang. Inilah resiko menjadi anti-fan. Tapi, kita tidak boleh setengah-setengah kan?

- Tunjukkan bahwa anti itu menyakitkan. Pada dasarnya, bertarung seorang diri itu memang berat, tapi kami selalu mendukungmu.

Dia tidak tahu apakah itu pujian atau makian. Dia malu dengan dirinya sendiri yang menyedihkan. Entah apa yang ada di otaknya ketika melakukan hal ini. Dia berbaring lemas di lantai seperti balon yang sudah menyusut. Air mata mengalir menuruni wajah cantiknya.


~So,I Married the Anti-fan~


Chanyeol baru saja keluar dari ruang sauna ketika Jongdae menyodorkan koran K Sport kepadanya.

"jadi bagaimana? Mau tetap pura-pura tidak tahu?"

Chanyeol melangkah ke ruang tamu sambil mengeringkan rambut dan melihat koran yang penuh dengan cerita dirinya dan reporter wanita itu. Dia tertawa pelan. Chanyeol kemudian mengembalikan koran itu kepada Jongdae.

"bukankah lebih baik dibiarkan saja? Jadi, orang-orang pun tidak tahu kejadian sebenarnya kan?" Di depan beranda, Chanyeol duduk santai di kursi malasnya. Dia tidak terlihat menyesal.

"demi dirimu sendiri, maksudku. Berita ini bisa menjatuhkan citramu sendiri kan?" Jongdae lalu duduk di sebelah Chanyeol

"aku minta maaf, selama ini hyung selalu berusaha keras menjaga citraku" Chanyeol menatap pemandangan kota Seoul di kejauhan dan tersenyum lirih.

"kau kan juga manusia. Aku juga tidak mau bekerja dengan orang yang seperti mannequin" Jongdae menepuk pundak Chanyeol sambil bangkit dari duduknya

"jika kita mengembalikan pekerjaan reporter itu, apakah keadaan bisa kembali seperti semula?" Chanyeol menoleh kepada Jongdae yang berdiri membelakanginya

"apa kita coba saja? Ingin tahu bagaimana hasilnya nanti?" Jongdae tersenyum ringan dan menekan nada 'do' di piano yang berada dihadapannya.


~So,I Married the Anti-fan~


Sore itu, Chanyeol dan Jongdae mendatangi ruang direktur mereka. Chanyeol memainkan game dengan lihai di sebelah Jongdae yang sibuk mengamati jadwal kegiatan mereka. Youngmin mengamati kedua orang itu selama beberapa saat dan akhirnya berdiri dari duduknya dan berkata

"sebaiknya kita melakukan wawancara. Komentar-komentar negatif tentang reporter itu lebih banyak dari yang kita bayangkan. Namanya pun ramai dibicarakan di internet. Bahkan sampai ada yang bertanya 'siapa sebenarnya waniga yang dilihat reporter itu?', 'mana mungkin ada asap tanpa api?'. Menurutku, sebaiknya pihak kita perlu menjelaskan dan meluruskan hal ini" Youngmin berkata dengan penuh khawatir sementara Chanyeol tetap asyik bermain game

"sepertinya masalah in tidak bisa dibiarkan begitu saja" begitu Jongdae menutup jadwal kegiatannya dan berkata pada Chanyeol, barulah Chanyeol mematikan game nya dengan malas.

"memang, di mana-mana tiada asap tanpa api. Tapi yang bisa merendam asap itu kan kantor ini juga" Chanyeol berkata seenaknya. Youngmin menghela napas.

"satu jam lagi orang dari TV Y akan datang. Jelaskan saja dengan sederhana. Sambil bercanda, maksudku. Seolah bukan masalah besar" Youngmin berkata dengan dengan wajah tidak puas

"tenang saja. Ini kan memang bukan masalah besar" Chanyeol menyahut dengan santai

"lalu, kalau mereka bertanya 'kenapa kau sampai memecat reporter itu dari kantornya'?" sindir Youngmin. Chanyeol hanya terdiam.

"beliau hanya khawatir. Cepat ganti baju sana" Jongdae berkata sambil menepuk pundak Chanyeol. Chanyeol yang tadinya ingin berkata sesuatu akhirnya mengurungkan niatnya dan pergi meninggalkan ruangan direktur.

Satu jam kemudian, Chanyeol yang menggunakan baju kasual santai duduk berhadapan dengan wartawan dari stasiun TV Y. Reporter itu tersenyum manis dan memberikan microphone berhiaskan bunga kepada Chanyeol.

"saya sengaja memasang hiasan bunga itu, karena sepertinya microphone yang terlalu polos tidak sesuai dengan Chanyeol. Bagaimana?"

Reporter itu tertawa senang dan Chanyeol langsung memasang senyum mautnya sambil berkata "anda bisa saja. Saya hampir tidak mau wawancara kalau tidak ada bunganya. Hahaha"

Chanyeol tertawa dengan santai, membuat suasana lebih rileks, agak berbeda dengan suasana yang diinginkan oleh direkturnya tadi. Jongdae mengamati gerak-gerik Chanyeol sambil melipat kedua tangannya.

"saat ini, muncul rumor bahwa anda telah membuat menangis dan menyakiti seorang gadis. Bisakah anda jelaskan tentang hal ini?"

Mendengar pertanyaan itu, Chanyeol memasang wajah serius, seolah berpikir sejenak. Kemudian dia berkata, "pertama-tama, saya ingin minta maaf karena Sehun hyung ikut dibawa-bawa dalam masalah ini. Saya sendiri juga tidak tahu mengenai masalah ini. Mungkin reporter wanita itu salah lihat karena banyak sekali tamu yang hadir saat itu" Chanyeol menjawab dengan tenang

"begitu rupanya. Lalu, bagaimana pendapat anda mengenai reporter itu yang kini menjadi anti-fan anda?"

Chanyeol mendengarkan pertanyaan reporter itu dengan tenang dan berkata, "sepertinya reporter itu masih salah paham dan marah kepada saya. Tapi saya juga sadar bahwa bila ada fans yang menyukai saya, tentu juga ada orang yang tidak menyukai saya. Saya tidak bisa berbuat apa-apa mengenai hal ini. Tapi, saya menganggap anti-fan seperti fans saya sendiri yang ikut memperhatikan saya. Saya menganggap kehadiran mereka sangat penting dalam karier saya di dunia hiburan ini, yang selalu mengingatkan saya untuk tidak bertindak arogan. Menurut saya, selebriti yang dapat menjaga anti-fannyalah yang merupakan selebriti sejati. Terima kasih." Chanyeol membungkuk mengucapkan salam dan mengakhiri wawancara.

"terima kasih Chanyeol-ssi, boleh saya minta tanda tangan anda?" reporter itu mengeluarkan kertas dan Chanyeol menerimanya secara sopan dengan kedua tangannya.

"tentu saja"

"terima kasih"

Reporter itu mengucapkan salam dan membungkukkan badan. Chanyeol pun kembali mengucapkan salam sambil menyerahkan kertas yang telah ditandatangannya.

"good job"

Jongdae menepuk punggung Chanyeol. Chanyeol mengangkat sebelah bibirnya dan pergi meninggalkan ruangan.


~So,I Married the Anti-fan~


"keterlaluan. Benar-benar keterlaluan!"

Baekhyun menonton televisi sambil meremas-remas bantal. Chanyeol baru saja tersenyum dan berkata bahwa dia juga akan menjaga seluruh anti-fannya.

"AISHH! JINJJA, INI GILA!"

Baekhyun yang emosi itu berbaring di lantai dan berguling-guling untuk melampiaskan kemarahannya

"begaimana ya cara balas dendam pada laki-laki itu?"

Dia tiba-tiba terduduk sambil mengigit-gigit bibir cherrynya. Matanya terlihat berapi-api dan sekilas dia terlihat seperti orang yang sedang kerasukan. Tiba-tiba ponselnya berbunyi

"YAK! DASAR ANAK INI! Itu kau kan yang dibicarakan di berita barusan?"

Baekhyun terkejut mendengar suara ibunya yang langsung berteriak-teriak begitu telepon diangkat

"yak eomma! Bisakah kau tidak berteriak seperti itu? Aku bisa tuli"

Suara ibunya yang nyaring dan tajam seolah menusuk telinganya dan membuatnya berjengit.

"ibu tahu dari mana?"

Padahal dia pikir ibunya tidak akan melihat berita di TV atau koran.

"dari koran yang mau eomma pakai untuk alas memotong sayur di rumah. Di fotonya sekilas terlihat seperti wajahmu, sewaktu eomma baca ternyata benar ada namamu. Apa yang kau perbuat eoh? Sudah dipecat dari kantor, bukannya pulang ke rumah dan membantu orangtua mu ini, malah memaki-maki anak orang, memang ada gunanya? Memangnya kau pantas menjelek-jelekkan orang lain? Mau cari popularitas? Bisanya hanya mempermalukan keluarga, cepat pulang! Banyak yang harus kau kerjakan disini"

Baekhyun merasa tekanan darahnya naik mendadak sampai ke ubun-ubun dan melesat ke udara. Dia mengacak rambutnya hingga berantakan saking marahnya.

"tidak, aku tidak akan pulang. Sudah terlanjur, aku harus menyelesaikan masalah ini. Eomma jangan lihat koran itu lagi, sobek saja, oke?"

Dia segera menutup teleponnya dan melemperkannya ke kasur. Padahal dirinya dulu hanyalah seorang reporter yang polos. Dia agak menyesal karena kurang semangat dalam bekerja, tetapi bila ada yang mengkritiknya, dia juga bisa saja bekerja dengan sangat rajin. Akan tetapi, gara-gara muntah di club dan melihat hal yang seharusnya tidak dia lihat, kini wajahnya tersebar sebagai 'tersangka' di seluruh penjuru negeri. Gambar olok-oloknya tersebar di internet. Sekarang dia tidak bisa keluar rumah, ke minimarket untuk membeli ramyeon pun sulit. Hatinya terasa sangat pedih.


~So,I Married the Anti-fan~


"sekarang H-4"

Perkataan Kyungsoo sebelum pergi meninggalkan rumah membuat Baekhyun terpukul. Kini dia tidak bisa mundur lagi. Baekhyun duduk dengan yakin di depan komputernya. Mau menjaga anti-fan? Baiklah. Kemampuanku memang tidak banyak, tetapi aku berani menulis artikel. Aku mempertaruhkan segalanya dan akan kutunjukkan balas dendam yang sesungguhnya padamu, agar kau tahu bagaimana rasanya dipecat dari pekerjaan yang dipertahankan mati-matian. Pedihnya difitnah satu negeri sebagai pembohong. Pahitnya kenyataan seorang reporter yang harus berubah menjadi seorang petani kampung.

Kepada Chanyeol yang telah membuatku menjadi anti-fan sejatinya,

Aku sama sekali tidak antipati padamu. Kau sendiri yang membuatku menjadi anti-fanmu. Kau takut dengan kenyataan? Aku tahu semuanya. Aku tahu kau bukanlah inti dalam masalah ini. Kau mengira senyumanmu dapat menyembunyikan segala rahasiamu dan kau mencemoohku dengan mulut manismu itu.

Oke. Aku sekarang sudah benar-benar menjadi your anti-fan. Kalau kau menantangku dengan memanfaatkan fans-fansmu sebagai senjata, geurae. Aku terima. Sebagai anti-fanmu, bagaimana kau akan menjagaku? Apa yang akan kau lakukan?

Tulisan itu memang singkat, namun begitu dia menuliskannya di kolom komentar pada situs drama yang dibintangi Chanyeol, tulisannya itu langsung menarik perhatian netizen dalam waktu singkat. Bahkan, sampai muncul berita di internet yang berjudul "Tantangan Sang Anti-fan"

Artikel itu berisi, "Anti-fan itu mengutarakan tantangannya. Kita lihat apa yang terjadi pada perempuan itu" ada juga artikel yang berjudul "Perempuan yang Berada di Tengah Fakta dan Kebohongan". Dunia informasi ini memang sangat luar biasa. Beberapa saat kemudian, ponsel Baekhyun berdering. Sebuah tawaran wawancara sebagai wakil dari anti-fan. Dia yang tadinya sibuk memikirkan kamar yang dalam empat hari ini harus dia tinggalkan, terkejut dengan tawaran tersebut. Seolah menjadi ketua kelompok anti-fan seluruh negeri, rasanya dia membutuhkan seorang wakil ketua juga.

Tiba-tiba ponselnya berdering kembali. Dari Kris Wu si reporter berambut blonde. Matanya terbelalak terkejut.

"beritanya masih terlalu subjektif. Kita harus bersabar sedikit lagi"

"apa urusanmu?" Baekhyun membalasnya dengan tajam

"saya juga tidak menyangka kita akan berurusan kembali. Aku hanya ingin mengucapkan salam saja. Sampai bertemu lagi"

Baekhyun langsung menutup teleponnya tanpa memperdulikan perkataan wartawan itu. Dengan amarah yang hampir memuncak, dia menekan nomor ponsel Joonmyeon.

"kau tidak tahu? Dia itu wartawan bawahannya Chanyeol" Joonmyeon berkata dengan bingung kepada Baekhyun yang marah-marah

"apa kau bilang?" Baekhyun mendengus tidak percaya

"yak, Baekhyun, kau diam sajalah sekarang. Pasti nanti ada pekerjaan baru untukmu. Nanti aku akan bantu kau mencarinya"

Joonmyeon melanjutkan dengan pahit, "harusnya kau jangan main-main dengannya"

Baekhyun tidak bisa menahan emosinya dan langsung menutup telepon. Joonmyeon menyuruhnya diam saja, sudah terlambat. 'diam sajalah', 'kau ini cuma Baekhyun' ... baiklah. Meskipun situasi ini ibarat jalan berbara api baginya, tetapi bila apinya mati, maka tidaklah lebih dari jalan biasa. Tunggu sebentar lagi. Siapa tahu nasibnya berubah? Selama ini dia selalu dilempari lumpur oleh orang-orang disekitarnya. Baekhyun menangkupkan tangan dan berdoa, memohon agar semuanya baik-baik saja. Amin.

TBC

7k+ word o-o. Akhirnyaaa~~ update juga chp 2

Huuuhh makin panjang ceritanya, ngetik nya juga agak lama, hehe. sorry baru bisa nge-update, soalnya 1minggu kemarin sibuk remedial XD. Ini aku ngetik nya ngebut banget, dari kemarin pagi sampai malam ini. Aku langsung update dan lanjut ngetik chp 3 yang makin panjang~~ smoga kalian ga bosen ya ;) ahh ya, maaf ya kalau banyak typo

Big thanks:

Devrina, ChanHunBaek, nindyapatricia, Guest(1), Firda473, Guest(2), icecream30, vanezianessa, phantom.d'esprit, leewufan, babypark94, VampireDPS, Guest(3), byunbacot, Guest(4), dumbeakchan, Ervyanaca, EniKim,

Maaf ya kalau ada yang ngk kesebut, itu dari yg prolog sama chp 1.

Oh yaa, Aku mau ngelurusin(?) review dari kalian

Q : ini bukan REMAKE tapi MENYALIN GANTI CAST

A : lebih baik kamu coba cari ARTI remake dulu deh, dan dldr, oke?

Q : aku kira ini film yang Chanyeol peranin thor

A : ahh, ini emang film yang diperanin Chanyeol kok

Last, review,fav,foll,oke? thankss *peluk atuatu*

x.o.x.o

Hyewon