Attack On Chibi
Fanfic SNK
Disclaimer : Lagi rajin. Shingeki no Kyojin punya akang Isayama Hajime. Bukan yang lain.
Warning : Chapter agak serius. Annie jaga imej. Mungkin agak membosankan.
Sekarang saatnya murid-murid TK Shiganshina bermain di luar kelas. Anak-anak berlari dengan riang ke arah taman sekolah yang penuh dengan wahana permainan. Mikasa dengan santai berjalan menuju taman sekolah. Dia tidak seperti bocah-bocah TK lainnya yang berlari-lari antusias. Tidak. Dia harus tetap berjalan anggun. Imejnya nanti rusak kalau lari-lari gitu. Cuih. Beneran kembaran Levi nih bocah.
Mikasa mengeratkan syalnya ketika udara dingin membelai wajahnya. Sekarang memang sudah musim semi, tapi udaranya masih sedikit dingin. Anak berambut kayu hitam itu menyapukan pandangannya ke seluruh sudut taman hingga berhenti ke arah ayunan. Dengan anggun, Mikasa berjalan menuju ayunan yang kebetulan saat itu dua di antaranya sudah dihuni oleh Eren dan Armin. Ingat, cuma kebetulan. Bukan berarti dia mencari-cari Eren tadi ya. Widih, gengsinya selangit.
Ngemeng-ngemeng Levi mana? Bukannya kembar ke mana-mana selalu bersama? Nggak juga sih, masa ke WC juga berdua? Apalagi gendernya beda gitu. Lupakan Levi, mari kita perhatikan Mikasa yang telah mengambil posisi di ayunan sebelah kiri Eren.
"Eren, Armin," sapa Mikasa datar.
"Eh, Mekasya! Leevee-san mana?" tanya Eren dengan senyum termanisnya. Sudut alis Mikasa berkedut. Kayaknya Eren sudah melupakan skandalnya dengan Levi barusan. Mikasa mendecih kesal lalu menggumamkan, "entahlah." Eren hanya memiringkan kepala bingung. Kemudian perhatiannya teralihkan kepada Armin yang mulai membagi pengetahuannya dengan Eren yang matanya berbinar-binar dan sesekali berkomentar heboh. Mikasa tersenyum tipis melihat anak yang lebih muda darinya itu mendengarkan Armin bercerita tanpa berkedip.
Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari arah perosotan. Perhatian tiga bocah di ayunan itu teralih ke arah kegaduhan itu berasal. Beberapa anak SD Shiganshina sebelah memukul si botak−Connie−hingga dia tersungkur ke tanah. Sasha yang tengah memegang kentang rebus menjatuhkannya dan mendesis marah kepada para bulliers kecil itu. Mereka (kecuali gadis pirang berwajah datar) tertawa mengejek sambil menunjuk-nunjuk Connie yang meringis kesakitan di tanah.
Mikasa menyipitkan mata kesal. Menunjuk-nunjuk orang seperti itu tidak sopan. Dasar bocah-bocah yang nggak elegan, pikir Mikasa. Ia pun beranjak dari ayunannya dan berjalan angkuh menuju tiga anak SD itu, tak memedulikan panggilan khawatir Armin.
"Kalian." Anak-anak SD itu menoleh ke arah Mikasa berdiri. "Ini bukan wilayah kalian."
Mereka terdiam sejenak, lalu mulai tertawa lagi (sekali lagi kecuali si gadis pirang). Kali ini telunjuk mereka menunjuk-nunjuk tepat di hidung Mikasa. Perempatan muncul di pelipis gadis lima tahun itu. Berani sekali mereka berlaku tidak sopan padanya.
Anak yang paling tinggi yang pertama kali berhenti tertawa. "Memangnya kau siapa? Suka-suka kami mau main di mana. Nggak ada peraturannya kok anak SD dilarang main di TK ini. Lagian, kami nggak mau mengganggu, kami cuma alumni yang mau nostalgia di sekolah kami yang lama," ujarnya sok.
Mikasa menautkan kedua alisnya mengancam. "Pergilah. Kalian sudah ada wilayah sendiri 'kan? Jangan ganggu kami."
Anak rambut pirang berbadan besar menyeringai mengejek. "Sudah kami bilang 'kan? Kami cuma nostalgiaan kok."
"Tapi kau tadi mendorong Connie sampai jatuh!" Sasha menyerobot.
Gadis rambut pirang yang sedari tadi diam mengangkat alisnya sebelah. "Buktinya?" tanya gadis itu sambil menatap bosan Sasha yang menggeram marah. Lalu mata biru dingin itu mengarah ke Mikasa dan berjalan mendekatinya. Mikasa memasang kuda-kuda, siap menerjangnya namun terpaku ketika syal kesayangannya ditarik dengan paksa oleh si pirang. Gadis itu menginspeksi syal putihnya bosan.
"Hm? Kukira ada yang menarik dengan syal ini karena kamu menggenggamnya terus. Ternyata biasa aja. Membosankan," ujarnya bosan dan menjatuhkan syal putih itu. Mikasa sedikit terbelalak. Dua rekan gadis pirang itu menyeringai lalu menginjak-injak syal kesayangan Mikasa hingga kotor dengan tanah. Saat itu juga topeng datar Mikasa retak. Ia menatap tak percaya adegan di depannya. Syal dari ibunya, syal yang sudah dirajut ibunya sepenuh hati...
Mikasa mengangkat kepalanya. Wajahnya tampak begitu gelap. Adrenalin memenuhi seluruh tubuhnya. Tangannya mengepal sangat kuat hingga memutih. Ketika ia baru saja akan meninju mereka, sebuah sosok menutupi pandangannya.
"Hei!"
Perhatian tiga serangkai itu teralihkan kepada sosok yang tiba-tiba nyelip masuk ke dalam masalah mereka. Nih orang bunuh diri ya, geram Mikasa tapi matanya kemudian membulat horor ketika tahu siapa yang mau menumbalkan dirinya sendiri demi orang lain.
"Eren!"
"Hoo... lihat, gadis ini ditolong oleh ksatrianya," ejek si kekar berambut kuning lalu menaikkan sebelah alisnya. "Hmm... ksatria yang manis ya," ujarnya menyeringai.
Eren menyipitkan mata hijau kebiruannya, berusaha tampak mengancam tapi malah membuat tiga orang di depannya tersenyum licik (bahkan si cewek pirang).
"Hai, manis. Kau mau bermain bersama kami?" si tinggi rambut hitam menatap Eren intens, tapi Eren tidak menunduk malu seperti sebelumnya, ekspresinya malah tampak semakin keruh tiap detiknya.
"Kalian udah ngerusak syal kesayangan Mekasya! Minta maaf!" teriaknya marah.
Mereka tertawa gemas melihat Eren yang marah-marah imut. Anak laki-laki berambut cokelat itu makin menggeram marah.
"Eren! Kamu masuk ke dalam aja! Aku nggak papa kok," bujuk Mikasa khawatir.
"Nggak mau! Aku bakalan tetep di sini sampai mereka minta maaf sama kamu, Mekasya!" balas Eren keras kepala. Mikasa bingung mau ngapain.
Perhatian Eren teralihkan dari Mikasa ketika dagunya dipaksa naik. Bola mata hijau kebiruannya bertemu dengan sepasang mata hitam yang berkilat jahat. Lehernya terasa pegal karena harus mendongak sedemikian rupa untuk menatap wajah si rambut hitam yang tingginya nggak ketulungan. Eren memasang pelototan terbaiknya yang malah cuma dibalas kekehan mengejek.
"Hei, manis. Jangan cemberut begitu dong," ujarnya lalu membelai pipi halus Eren. Ewh. Eren menepis tangannya kasar dan melangkah mundur tapi kedua tangannya malah tertangkap sepasang tangan kekar milik si pirang. Eren meronta namun cengkramannya malah semakin erat. Gadis rambut pirang berjalan mendekat lalu menarik napas tertahan ketika wajah Eren terangkat dan menampakkan matanya yang berkaca-kaca.
Siapapun yang melihat mata Eren dalam mode ini secara langsung akan bertekuk lutut kawan. Gadis itu membuka dan menutup mulut seperti ikan mas koki. Kedua rekan kriminalnya menatapnya heran. Kemudian ia mengalihkan pandangannya. Beraninya anak ini membuat imejku rusak, geram gadis itu lalu ia berbalik, berusaha menghindari tatapan maut Eren, lalu melayangkan tamparan (yang sangat keras) ke pipi kiri anak empat tahun itu hingga terjatuh keras. Suaranya menggema.
Gadis itu terengah-engah lalu mata birunya membulat ketika sadar apa yang telah ia lakukan. Sedangkan Eren, wajahnya tertutup poni. Pipinya yang mulai membengkak ia sentuh dengan tangan kirinya. Mikasa bahkan kehabisan kata-kata saking marahnya. Dengan tergesa-gesa, ia menghampiri Eren yang terduduk di tanah. Keheningan mencekam menyelimuti mereka hingga terdengar suara para penonton yang menarik napas tertahan. Tiga serangkai itu mendongak dan menatap lurus ke arah aura hitam yang menguar dari belakang Eren yang masih terdiam.
"Oi." Suara mengerikan itu mengudara, memberikan sensasi merinding di tengkuk ketiganya. "Apa yang sudah kalian lakukan, hm?" sosok itu berjalan melewati Eren dan berhenti di hadapan ketiga serangkai itu. Aura mencekam terasa makin tebal bagi tiga bulliers itu.
"K-k-k-k-k-kau..." si kekar menunjuk sosok itu dengan telunjuk yang gemetaran.
"Aku apa hah?" sosok yang ternyata seorang Levi Ackerman itu menggeram rendah.
"Hi-hiiiiiee!" si tinggi rambut hitam berteriak ngeri dan berusaha kabur, tapi terlambat, Levi sudah berlari mendahuluinya dan menghadang jalan keluar. Ia menyeringai berbahaya ketika matanya jatuh ke sepasang mata hitam yang bergetar penuh dengan rasa takut. Cih, orang ini tinggi sekali. Levi naik ke sebuah batu besar karena dia benci mendongak.
"A-ampuni aku!"
"Hm... coba kita lihat apa saja yang kau lakukan tadi?" suara Levi kembali ke normal, namun masih terdengar berbahaya. "Kau sudah merusak syal kesayangan adikku, menganggapnya rendah, memukul teman sekelasku, menggoda Eren, dan..." tatapan Levi menggelap. "Kau membelai pipinya tanpa izin."
Anak itu tersentak dan mengaduh ketika Levi meninju pipinya. Tidak sampai di situ, si rambut arang menyepak kedua kaki raksasa itu hingga anak tersebut terjatuh dengan wajahnya tepat di atas lumpur. Belum puas melihat wajah penuh lumpur si bongsor, Levi mencengkram tangannya dan memelintirnya sekeras mungkin. Anak itu mengerang kesakitan.
"Minta maaf," ujarnya dingin.
"Ma-maafkan aku!"
Levi makin mengeraskan pelintirannya. "Maafkan aku Eren, Mikasa, Connie."
"I-iya! Maaf-kan ak-aku Eren, Mikasa, Connie." Setelah itu Levi memukul keras tengkuknya dan dia pingsan. Levi berdiri.
"Hm... siapa lagi ya?" bocah mata biru kelabu itu bertopang dagu. Tatapannya jatuh pada si pirang kekar yang terbelalak melihat rekannya terkapar tak berdaya. Levi menyeringai dan mendekatinya. "Ya, giliranmu kawan besar."
Anak SD itu terpaku di tempatnya. Kesempatan emas bagi Levi yang tentu saja tidak ia sia-siakan. Langsung saja ia meninju perut si pirang yang membuatnya bergerak mundur sambil terbatuk-batuk.
"Itu untuk si botak."
Lalu Levi menendang kepalanya. Ada benda putih yang terlempar keluar dari mulutnya. Dahi si mata biru kelabu mengernyit jijik.
"Itu untuk adikku."
Lalu tanpa ampun, Levi meninju tepat di wajahnya lalu menginjak punggung anak itu. Si bullier bergeliat kesakitan di bawahnya.
"Dan ini karena kau berani menyentuh milikku." Levi menyeringai puas dan mengakhiri siksaannya dengan pukulan telak di tengkuk yang membuat si korban pingsan seketika. Ia mengangkat tubuh yang lebih besar darinya itu seperti mengangkat bantal biasa dan menjatuhkannya di atas tubuh si tinggi di depan gerbang TK. Levi terdiam sejenak.
"Oh, aku lupa membuatnya minta maaf." Tapi akhirnya mengedikkan bahu tak peduli dan menoleh ke arah korbannya yang terakhir. Matanya menyipit tajam.
"Ternyata kau yang disebut-sebut 'Korporal' yang terkenal garang itu ya," gadis pirang itu berbicara dengan tenang, layaknya perbincangan biasa antar kawan lama.
"Annie Leonhart."
Annie mengangkat sebelah alisnya dengan gaya arogan. "Ooh... ternyata Korporal pun tahu namaku ya," ujarnya masih dengan nada bosan yang sama.
Levi menautkan alisnya. "Jangan panggil aku dengan sebutan itu, Leonhart," desisnya mengancam.
"Hm? Kenapa? Semua orang memanggilmu begitu. Bahkan guru-guru TK itu. Hebat juga kau, menjadikan guru sebagai budak."
"Jaga omonganmu."
"Oh! Aku belum pernah melihat anak bermata cantik itu sebelumnya," Annie melirik Eren yang masih saja terdiam dengan Mikasa yang memeluknya erat. "Anak yang manis, tapi itulah yang membuatnya menyebalkan," Annie menatap bosan si rambut cokelat.
Levi mengangkat alis. "Ho? Kau iri ya?"
"A-apa?!" Annie kembali menoleh ke arah Levi secara mendadak dengan mendelik. Levi heran kenapa lehernya masih baik-baik saja. "A-aku nggak iri. Ngapain iri sama anak laki-laki feminim begitu! Payah! Nggak ada bagus-bagusnya! Apaan tuh mata! Punya mata sebesar kelapa aja sombong! Rambutnya itu.. ewh... kayak sarang burung! Dan lagi, aku heran dengan warna kulitnya, dia berkubang di lumpur berapa lama biar bisa seperti it−AKH!"
Levi mencekik Annie dengan satu tangan. Gadis pirang itu megap-megap. Mata birunya membulat horor ketika merasakan kedua kakinya sudah tidak menginjak tanah lagi. Mata Levi sudah gelap oleh amarah.
"Kau terlalu banyak ngomong." Levi memandang dingin mata biru di atasnya yang semakin redup karena kesulitan bernapas. Annie seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tak bisa karena tangan yang mencengkram lehernya mengeratkan genggamannya.
"L-Leevee-san!" tiba-tiba Levi merasakan sepasang tangan mungil memeluk tangannya yang satu lagi. Tubuhnya membeku.
"Leevee-san! Sudah cukup! Jangan cekik dia lama-lama! Dia nggak bisa napas lagi!" ujar si pemilik tangan ketakutan. Levi yang syok melepaskan cengkramannya dan membuat si gadis pirang terjatuh berdebam ke tanah. Bocah rambut arang itu menoleh secara perlahan dan mendapati Eren sedang memeluk tangan kanannya erat-erat dengan puppy eyes andalannya. Cairan merah menetes dari hidungnya. Mata Eren melebar kaget.
"Leevee-san! Hidungmu berdarah!" Eren menggoyang-goyangkan tangan panik melihat darah mengalir dari hidung si mata iblis. "Waaahhh! gimananihgimananihgimanagimanagimaanaa−" Levi membekap mulut Eren.
Setelah Eren kembali tenang, Levi mendesah lega. "Aku nggak papa, Eren. Lihat, darahnya sudah hilang'kan?" Levi menunjuk hidungnya yang sudah bebas dari darah. Eren menatapnya dengan mata bulatnya yang besar, menginspeksi wajah Levi kalau-kalau masih ada darah. Kemudian, anak manis itu tersenyum lebar.
"Syukurlah. Kamu nggak papa."
Kau tahu Eren? Kalau wajahmu kayak gitu terus, darahnya bisa balik lagi loh. Pengennya sih ngomong gitu, tapi Levi nggak mau tuh anak panik lagi.
Setelah mereka terdiam, barulah mereka sadar kalau para khalayak umum yang menonton mereka dalam diam sejak tadi (Levi menggerutu, "bantuin kek tadi.") bersorak girang, merayakan kemenangan mereka melawan anak-anak SD itu. Cuih, dasar figuran. Maunya nonton aja terus teriak-teriak girang kalau tokoh utamanya udah menang.
"Eren!" Armin berlari menghampiri Eren. Napasnya terengah-engah. "Huf! Untung tadi tepat waktu." Armin mengusap peluh di dahi dan tertawa ketika Eren memeluknya erat namun berhenti ketika ia merasakan aura negatif dari yang mulia Levi.
"Aamiinn!" eh, panggilannya kayak doa aja. "Kamu dari mana aja tadi?"
Armin menggaruk kepala. "Eehh... tadi aku nyari-nyari Levi-san. Untung ketemu."
Levi mendengus. "Mana mungkin aku nggak dengar kalau di seluruh sekolah suaramu bergema 'Levi! Levi!' begitu. Setelah ketemu dia berceloteh panjang sambil berlari. Kenapa nggak dirangkum aja sih kejadiannya. Nggak perlu sedetail itu." Armin terkekeh salting.
"Eren," Mikasa tersenyum lembut kepada Eren yang dibalas decakan lidah dari Levi. Eren balas tersenyum hingga pandangannya jatuh ke syal putih (yang udah jadi cokelat) di tangan gadis tersebut. Matanya menyorot sedih.
"Mekasya, syalmu rusak," ucapnya pelan.
"Nggak papa, Eren. Masih bisa diperbaiki kok," balas Mikasa ringan.
"Ta-tapi, nanti kamu kedinginan!"
"Nggak papa, udah biasa."
Eren mengerutkan dahi. Tiga temannya menatapnya bingung. Setelah beberapa menit, Eren mengangguk mantap. Ia melepas syal merahnya dan melilitkannya renggang di leher pucat Mikasa. Ia berusaha merapikannya tapi sia-sia. Eren memonyongkan bibirnya (di sini para fans teriak girang) namun akhirnya tersenyum cerah kepada Mikasa yang terbelalak dengan semburat merah di pipinya.
"Nah! Sekarang hangat 'kan?" ujar Eren ceria.
Mikasa mengangguk. Ia menenggelamkan hidungnya ke dalam syal merah tersebut, diam-diam menghirup dalam-dalam aromanya. Wangi cokelat hangat. "Makasih," ucapnya malu-malu lalu mencium pipi kiri Eren. Levi mendelik.
"Katanya bengkak kalau dicium cepat sembuh," katanya sambil melempar seringai licik ke arah Levi yang mendelik makin tajam.
Eren menghampiri Levi ragu-ragu meninggalkan Mikasa yang masih sibuk menikmati aroma cokelat hangat yang memabukkan di syal merah Eren. Levi mengangkat alis, menyatakan pertanyaan 'ada apa?' tanpa suara. Eren memilin-milin ujung seragam birunya lalu merinding ketika udara dingin melewatinya. Bocah ini sok kuat padahal sendirinya nggak tahan dingin. Levi mendesah lelah lalu menyampirkan syalnya sendiri di leher anak keras kepala itu. Eren menatapnya khawatir.
"Sudahlah, pakai saja. Aku punya cadangan." Nggak, aku nggak punya cadangan.
Eren tersenyum manis. Ia kemudian menarik pelan baju Levi lalu mencium pipinya. Setelah itu, Eren menunduk malu, menyembunyikan semburat merah di wajahnya.
"I-itu seba-gai u-ucapan terima kasih!" Eren kemudian berlari ke dalam sekolah sambil menutupi wajahnya layaknya fangirl yang baru saja ketahuan stalking idolanya. Levi terpaku. Matanya memutih. Mulutnya terbuka. Kedua kakinya terasa seperti tertancap ke dalam tanah dan tak bisa lepas lagi.
Yang mulia Levi yang berjulukan 'Korporal' karena ketangguhannya menaklukkan orang-orang hanya dengan tatapan iblisnya, bocah lima tahun yang terlalu cepat dewasa tapi IQ-nya di atas rata-rata, anak berkharisma luar biasa yang sombongnya pun tak kalah luar biasa yang itu, bisa kalah dengan sebuah ciuman di pipi dari seorang bocah polos berumur empat tahun.
Ah... Levi nyaris terbang ke surga.
Baiklah... ini dia chapter 3! Humornya kurang di sini, tapi saya harap kalian semua masih tetap terhibur. Semoga saja. :)
Oh ya, saya belum bilang kalau di chapter 1 saya salah buat tanggal lahir Eren. Harusnya 30 Maret. Haha... lupa saya. -_-a
(=RnR=)
