Katekyo Hitman Reborn © Amano Akira

Title :Unforgetable Memory

Genre :Angst/Romance

Pairing :GFem!27, Primo&Decimo GuardianxFem!27

Rated :K

Chapter 3, Giappon

"Eh, apa yang anda katakan Tsuna-dono?" sudah beberapa hari bersama dengan guardian Vongola Primo, Tsuna tampak semakin dekat dengan mereka dan merekapun senang bersama dengannya dan bergantian untuk menemaninya selama yang lainnya sedang sibuk dengan misi dan pekerjaan mereka.

"Kau tidak merindukan Jepang Ugetsu-san?" Tsuna menatap kearah Ugetsu yang mendorong kursi rodanya dan sedang berjalan-jalan di hutan kecil yang mengelilingi markas Vongola itu. Ugetsu tampak terdiam sejenak sebelum tersenyum kembali.

"Ketika aku memastikan sudah menetapkan pendirianku untuk tetap disini, aku sudah melepaskan semua keputusan pada Giotto-dono…"

"Jadi—kalau Giotto-san tidak membicarakan masalah Jepang, kau tidak akan memikirkannya?" Tsuna menghentikan roda yang berputar di kursi rodanya dan menatap kearah Ugetsu yang menggeleng pelan.

"Apakah menurut Tsuna-dono aku yang sudah tinggal di Jepang selama belasan tahun akan melupakan tempat itu?"

"Kalau begitu cukup katakan saja bukan? Kukira Giotto-san akan memperbolehkanmu untuk kembali ke Jepang," Ugetsu tampak berjalan dan duduk di sebuah kursi yang ada di tepi danau setelah menghentikan kursi roda milik Tsuna di sebelahnya.

"Karena kebaikan Giotto-dono itulah yang membuatku tidak enak untuk berbicara dengannya," Ugetsu menghela nafas dan menatap kearah danau yang ada di depannya, "aku tidak bisa menerima kebaikan yang terlalu berlebihan. Bagaimanapun aku adalah guardian Vongola, dan sudah seharusnya aku melindungi Giotto-dono yang merupakan pemimpin Vongola…"

"Kau tahu Ugetsu-san—aku memiliki seorang teman yang sangat mirip denganmu," Tsuna membayangkan sosok Yamamoto yang selalu tersenyum dan juga tidak mengatakan apapun masalahnya kepada Tsuna, "ia selalu tampak ceria dan juga tidak memiliki masalah. Tetapi, di dalam hatinya, ia selalu memendam apapun masalahnya karena ia tidak mau menyusahkan kami yang lainnya…"

"Apakah—yang anda maksud adalah keluarga anda?"

"Begitulah, aku sangat menyayangi mereka—walaupun mereka bukan keluarga kandungku," Tsuna tampak tersenyum, Ugetsu bisa merasakan bahwa dibalik senyumannya yang lembut itu adalah kesedihan yang tersirat di wajahnya, "aku ingin bertemu dengan mereka, tetapi entahlah—apakah aku akan bisa bertemu dengan mereka atau tidak…"

"Kami akan melakukan apapun jika itu bisa membantu kau tahu Tsunayuki-dono…"

"Tidak—aku tahu sebenarnya tidak ada yang bisa kulakukan," menghela nafas dan menyenderkan kepalanya di kursi roda itu, "maaf sudah membuatmu malah menghawatirkanku…"

"Tsuna kau darimana, Lampo-sama mencarimu!" Tsuna dan juga Ugetsu tampak baru saja kembali dari jalan pagi mereka saat Lampo menghampiri saat mereka sampai di mansion. Sifat Lampo yang sama seperti Lambo, membuat Tsuna gampang untuk dekat dengannya, dan itu sedikit mengejutkan guardian lainnya karena Lampo bukanlah orang yang mau dekat dengan orang lain.

"Maaf Lampo—Ugetsu-san mengajakku untuk berkeliling hutan pagi ini," Tsuna tersenyum dan menggerakkan kursi rodanya menuju kearah Lampo.

"Ceritakan lagi semua hal tentang Jepang, aku merasa kalau negara itu sangat menarik—" Lampo, yang membuat semuanya terkejut adalah membantu Tsuna untuk mendorong kursi rodanya dan tampak bersiap untuk mendengarkan cerita yang akan diceritakan oleh Tsuna.

"Eh Jepang?" Ugetsu tampak sedikit terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Lampo.

"Ah, kau ingin ikut Ugetsu-san? Aku menceritakan apa yang kulihat di Jepang sebelum berakhir disini," Tsuna tersenyum dan menatap kearah Ugetsu. Ugetsu sendiri terdiam dan semburat merah tampak samar terlihat diwajahnya.

"Tentu saja—"

"Lampo-sama membawa kue cokelat untuk hari ini!"

…Future Time…

Berada di Namichuu karena reuni yang digelar oleh sekolah itu, Yamamoto, Gokudera, Hibari, Ryouhei, dan juga Chrome tampak berada di gedung yang masih berdiri tegap itu. Bersama dengan beberapa temannya yang tampak sebagian besar menjadi mahasiswa ataupun pengusaha muda.

"Kudengar kau bekerja di sebuah perusahaan besar Gokudera-kun," salah satu perempuan yang merupakan mantan teman sekelasnya tampak mencoba mendekati sang Storm Guardian. Tentu saja 6 tahun berlalu membuat kharismanya lebih tampak, dan beberapa fansnya tampak mencoba menarik perhatiannya.

"Begitulah, dan menjauhlah dariku perempuan—" meminum minuman yang ada di tangannya, sifat dingin Gokudera pada perempuan tetap tidak berubah.

"Yamamoto-kun, aku menonton pertandingan base ballmu beberapa minggu yang lalu! Home Runmu sangat hebat," sementara Yamamoto, yang keadaannya tidak kalah popular dibandingkan dengan Gokudera tampak hanya membalasnya dengan tawa renyah seperti biasa.

"Begitulah—"

"Chrome-chan, kau memanjangkan rambutmu? Kau jadi tampak lebih manis—" beberapa siswa tampak mencoba untuk mendekati Chrome sebelum pada akhirnya tiba-tiba mereka ketakutan sendiri dan usut punya usut ternyata Mukuro juga ikut untuk melindungi Chrome dari mata pria-pria itu.

Sementara Hibari, penampilannya yang semakin menawan sebenarnya sudah cukup untuk membuat beberapa siswi tampak mencoba untuk mendekatinya. Tetapi, mereka masih tidak ingin digigit sampai mati oleh sang Karnivor dan memilih untuk mencuri-curi pandang dalam jarak yang cukup aman.

Ryouhei tampak bercerita mengenai tinju pada mantan anggota klub tinju dan juga beberapa siswa yang merupakan anggota klub tinju angkatan saat itu (beberapa siswa menjadi panitia untuk Reuni hari itu).

"Apakah semua orang sudah berkumpul—" suara sang guru tampak terdengar, dan semua siswa dan siswi segera menoleh untuk menemukan sang guru yang paling tampan se-Namichuu itu berdiri setelah 5 tahun yang lalu berhenti dari sekolah itu.

"Dino-sensei!" beberapa siswi tampak terpesona dengan penampilan Dino yang semakin menawan dan tampak cocok dengan jas Armani yang tentu saja semua orang tahu cukup mahal. Dan melihat beberapa anak buah Dino yang juga masuk, sudah cukup untuk menyimpulkan bahwa mantan guru bahasa Inggris ini adalah orang yang kaya.

"Sebenarnya aku diberikan perintah untuk menghadiri reuni kalian malam ini, dan untuk malam ini, anggap aku bukan sebagai seorang guru!"

"Masih memikirkan soal sosok perempuan itu?" Gokudera yang tampak berada di atap Namimori tampak memegang sebuah bir kaleng dan memutuskan untuk tidak mengikuti kembali acara yang sudah berlangsung sejak 1 jam yang lalu itu. Menoleh untuk menemukan sosok Yamamoto yang juga menyusulnya, hanya menghela nafas dan tidak mengatakan apapun.

"Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini—" Gokudera menaruh tangannya di depan dada dan meremas kemeja putih yang digunakannya. Tatapannya saat itu tampak sakit dan juga sedih, "—rasanya, sosok itu… hal yang aku lupakan itu benar-benar penting. Tetapi, aku juga tidak tahu kenapa aku bisa melupakan hal itu…"

"Rasanya benar-benar menyebalkan—" menyandar pada pembatas dan tubuhnya semakin turun hingga ia terduduk diatas atap itu dan memeluk lututnya. Yamamoto hanya bisa terdiam melihat Gokudera yang selama ini pemarah dan anti akan tangisan itu kini tampak begitu lemah, "—katakan, apakah ada seseorang yang bisa menjelaskan apa dan siapa yang aku lupakan…?"

Yamamoto hanya menghela nafas dan menatap kearah depan, memegang pembatas di atap itu.

"Kalau memang penting—suatu saat past akan mengingatnya," Gokudera menoleh dan menemukan Yamamoto yang menepuk kepalanya pelan dan tersenyum lembut, "kau tahu—akupun akhir-akhir ini juga merasa ada sesuatu yang kurang. Dan aku terus mencari tahu… meskipun perasaan didalam diriku sama sepertimu. Tetapi, aku merasa kalau bersedih bukanlah hal yang cocok untuk ini semua…"

"Tch—ternyata fikiranmu semakin dewasa selama 5 tahun ini ya?" Gokudera berdecak kesal dan berdiri untuk keluar dari tempat itu, "kau ingin kembali ke markas?"

"Tidak, aku akan disini saja dulu—" Yamamoto tersenyum dan masih melihat kearah depannya. Gokudera mengangkat sebelah alisnya, bingung dengan sikap Yamamoto sebelum akhirnya menghela nafas dan mengangkat bahunya.

"Sepertinya ingatan mereka terlalu kuat—" salah satu penjaga Vindice yang memiliki rambut keriting panjang yang hampir setiap saat bersama dengan Bermuda tampak berbicara dengan Vendice Arcobaleno itu, "—apa yang harus kita lakukan…"

"Kalau sampai nama itu terucap—yang bisa kita lakukan hanyalah mengirim mereka semua ke masa dimana Tsunayuki Sawada berada saat ini, dengan cara yang sama," menurunkan topinya, menatap kearah pemandangan kota malam saat itu, "dan kita harus bergerak cepat…"

'…kan…'

Yamamoto tampak masih berada di atas atap itu, melewati pembatas atap sambil menghela nafas dan menutup matanya. Suara yang terdengar asing di telinganya itu memang terkadang mengingatkannya kalau ada seseorang yang sangat berharga—yang ia lupakan.

Tetapi, seberapa kerasnya ia berfikir, selalu saja tidak menemukan sosok yang ia lupakan itu. Selalu jalan buntu yang ada di fikirannya. Menyenderkan kepalanya di pembatas yang ada di belakangnya, mencoba untuk menenangkan fikirannya.

"Rasanya dulu aku pernah berada disini—mencoba untuk bunuh diri," Yamamoto tertawa sendiri mengingat apa yang terjadi 5 tahun yang lalu. Ia pernah mencoba untuk bunuh diri hanya karena tidak bisa menjadi lebih hebat dalam base ball, "tetapi—bagaimana aku bsia sadar kalau hal itu salah ya?"

'Bukan seperti itu yang kumaksud!'

Suara itu semakin jelas terdengar di telinganya. Memegangi kepalanya yang berdengung hebat, hampir saja ia terjatuh dari lantai 2 itu jika ia tidak berpegangan dengan pembatas yang ada dibelakangnya. Bayangan dari Tsuna tampak semakin jelas, saat ia mencoba untuk melompat dan saat Tsuna yang mencoba meraihnya dan hampir saja mereka tewas kalau tidak dengan bantuan Reborn saat itu.

"Tsu…na…?"

'Bagaimana mungkin aku melupakannya—' menghela nafas dan tersenyum sedih, mencoba untuk mengingat kembali sosok bossnya yang selalu ada disaat ia membutuhkan. Dan tentu saja memori saat Tsuna tewas didepan matanya sendiri beberapa hari yang lalu.

'Bodohnya aku bisa melupakan saat dimana—aku menyukai Tsuna untuk pertama kalinya…'

Menoleh untuk kembali memanjat dan memberitahu Gokudera maupun yang lainnya tentang keadaan Tsuna, "Aku harus memberitahu—"

BANG!

Yamamoto tampak membatu, saat ia menyadari bahwa dibelakangnya tampak bayangan kedua Vendice yang membawa sebuah pistol dan menembaknya tepat dibagian dada. Keseimbangannya langsung goyah saat itu, sakit di dadanya membuat kesadarannya semakin pudar dan pada akhirnya keseimbangannya menghilang membuatnya terjatuh dari lantai 3 gedung sekolah itu.

"YAMAMOTO!"

Gokudera yang sedang berjalan dan akan keluar dari lingkungan sekolah itu menghela nafas, masih mencoba untuk mengingat sosok Tsuna yang tidak pernah bisa ia ingat. Menyalakan rokok, bergumam tidak jelas sebelum menghembuskan rokok itu dan menoleh kearah atas dimana Yamamoto berada di posisi yang sangat berbahaya.

"Apa yang sebenarnya si bodoh itu lakukan—" tampak bingung dan juga terkejut melihat posisi Yamamoto, akan menghampirinya saat tiba-tiba terdengar suara tembakan dari arah Yamamoto. Mata Gokudera terbelalak saat melihat sosok Yamamoto yang limbung dan terjatuh bebas dari atas menuju ke bawah dengan kepala terlebih dahulu, "YAMAMOTO!"

"Apa yang—" mengeluarkan system C.A.I dan dengan segera membentuk Bone Loop yang langsung menangkap Yamamoto. Membawanya turun perlahan agar tidak terluka parah, dan menatap keadaan Yamamoto, "—oi Yamamoto!"

"G—Gokudera-kun…" nafasnya tampak terengah-engah, mencoba untuk menghentikan darah yang mengalir dari dadanya itu. Mencengkram kemeja putih yang dipakai oleh Gokudera, ia tahu ada yang salah saat ini. Dan tidak boleh Yamamoto mengatakan nama Tsuna didepan Gokudera, atau ia mungkin akan berakhir sama dengannya, "—Vendice.."

"Ada apa dengan mereka?"

"Memori tentangnya—langit… kita…" tersenyum tipis, sebelum kesadarannya langsung menghilang untuk selama-lamanya dan matanya tertutup rapat. Gokudera yang melihat itu tampak tidak percaya, matanya terbelalak saat merasakan tidak adanya denyut nadi dari Yamamoto.

"Langit? Oi—Yamamoto, apa yang kau maksud!" tubuh Gokudera tampak bergetar saat melihat darah yang mengalir di tangannya dan juga pakaiannya yang kotor oleh darah Yamamoto. Dan sama seperti kasus Tsuna, tubuh Yamamoto perlahan menghilang—bersamaan dengan hujan yang turun saat itu dan membasahi tubuh Gokudera begitu saja.

"Sial—sebenarnya apa yang terjadi," hujan tampak membasahi wajah Gokudera, menyamarkan air mata yang keluar saat itu dari mata emeraldnya. Ia tidak bisa melakukan apapun, tidak bisa bergerak sama sekali—tetapi, perlahan ingatan tentang Yamamoto menghilang sama seperti saat Tsuna tewas karena peluru yang sama.

"Hahi, Gokudera-kun—apa yang kau lakukan disana?" Haru yang tampak melewati taman itu berhenti dan memayungi Gokudera. Saat berbalik menoleh kearah Haru, Haru bisa melihat air mata yang turun di wajah Gokudera, "eh, Gokudera-kun?"

"Tch—jangan melihat bakka-ona!"

"Tetapi kenapa kau menangis?"

"Aku tidak menangis!"

"Baiklah—tetapi, aku tidak tahu kenapa aku menangis," memalingkan wajahnya, tidak menatap kearah Haru yang ada di belakangnya, "rasanya, ada sesuatu yang menyedihkan tetapi aku tidak bisa mengingatnya…"

"Yamamoto?"

Seakan bisa merasakan apa yang terjadi pada Yamamoto, Tsuna yang sedang bersama dengan Ugetsu dan juga Lampo tampak menghentikan kegiatannya.

"Ada apa Tsunayuki-dono?"

"Tidak—" menggelengkan kepalanya dan menghela nafas. Intuisinya mengatakan kalau ada sesuatu yang terjadi padaYamamoto, tetapi ia tidak akan mungkin bisa melakukan apapun saat ini—karena masa mereka sudah berbeda, dan keadaan kakinya yang seperti ini, "—ah, kalian berdua bisa meninggalkanku kok, masih banyak laporan yang menggunung di ruangan kalian bukan? Aku sudah membereskannya agar mudah untuk dikerjakan…"

"Eh—baiklah…" menggaruk dagunya dengan telunjuk, Ugetsu tampak tertawa datar sementara Lampo tampak cemberut walaupun pada akhirnya menuruti apa yang dikatakan oleh Tsuna. Saat Ugetsu dan juga Lampo pergi, Tsuna mencoba untuk bergerak dan berjalan-jalan disekitar mansion hingga melewati dapur saat semua pelayan sedang mempersiapkan makan malam.

"Apakah aku bisa membantu?" Tsuna mencoba untuk membuka pintu yang sudah terbuka sedikit dan tersenyum sambil berjalan mendekat.

"E—eh, nona tetapi anda tamu primo dan juga yang lainnya, tidak sopan jika—"

"Tidak apa-apa, lagipula aku ingin memasakkan sesuatu untuk mereka," Tsuna tertawa dan berhenti didepan para pelayan itu, "aku membutuhkan bantuan kalian…"

"Giotto-san," mengetuk pintu ruangan Giotto, Tsuna mencoba untuk memanggil semua orang untuk makan malam meskipun para pelayan mengatakan agar mereka saja yang melakukannya—tentu saja Tsuna memaksa.

Jeda panjang yang sepi sebelum suara yang mempersilahkannya masuk terdengar dari sana.

"Ah Tsunayuki, ada apa?"

"Sudah saatnya makam malam, tidakkah sebaiknya kau istirahat terlebih dahulu?" Tsuna menggerakkan kursi rodanya untuk mendekati Giotto yang sedang bergelut dengan laporan miliknya. Ia jadi ingat saat masih dalam pengawasan Vongola Nono, ia juga menghadapi semua laporan yang menggunung di ruangannya.

"Mungkin—" merenggangkan tangannya dan mencoba untuk relaks sejenak, "—aku sudah melihat tumpukan laporan ini sejak kemarin. Mereka seakan bisa bertambah sendiri dan selalu saja aku kalah cepat menghabisinya…"

Tsuna tampak tertawa mendengarnya, iapun juga memikirkan hal itu saat melihat tumpukan laporan yang ada di depannya.

"Aku memasakkan sesuatu untuk kalian hari ini, yah tidak semewah yang dibuat oleh pelayan disini tetapi kuharap kau mau mencobanya," tertawa pelan sambil menatap Giotto yang tersenyum kearahnya. Berdiri dan menghampiri Tsuna untuk mendorong kursi roda yang diduduki oleh Tsuna, "A—ah aku bisa melakukannya sendiri Giotto-san…"

"Tidak apa-apa, kita jemput guardian lainnya?"

"Tentu—baru saja aku akan melakukannya!" tersenyum dan menatap Giotto yang sudah memerah wajahnya karena melihat wajah Tsuna, pada akhirnya mereka beranjak ke ruangan pertama—G.

"G, keluarlah dari ruanganmu atau aku akan menendangmu paksa," Tsuna tampak bersweatdrop ria mendengar Giotto—siapa yang sangka Giotto bisa mengatakan hal yang kasar seperti itu, "atau aku harus menyebutkan nama lengkapmu?"

Cukup menunggu beberapa saat tanpa ada jawaban, sebelum pintu tampak terbuka dan menunjukkan pemuda berambut merah itu tampak lelah dan rambutnya yang acak-acakan serta matanya yang tampak lelah.

"Berani kau sebutkan nama sialan itu, aku akan keluar dari Vongola sekarang juga," Giotto dan Tsuna tampak tertawa mendengarnya, tahu kalau apa yang dikatakan oleh G tidak akan mungkin ia lakukan apapun alasannya, "hm? Lalu ada apa—tumben kalian berdua mendatangiku?"

"Tentu saja memanggilmu untuk makan malam…"

"Aku akan menyusul setelah pekerjaan ini selesai," menunjuk kearah tumpukan laporan yang ada di belakangnya, "ah, terima kasih sudah membereskannya Tsuna, aku lebih mudah untuk mencari dokumen itu…" Tsuna hanya mengangguk dan tersenyum—ia tidak mungkin mengatakan kalau ia mempelajari cara penyusunan seperti itu dari Gokudera bukan?

"Kalau kau sibuk baiklah," Tsuna tersenyum, walaupun tampak sedikit kekecewaan muncul di wajahnya, "sayang sekali, padahal ini pertama kalinya aku membuatkan kalian makanan semenjak aku kemari bukan?"

"G…" melihat wajah sang boss yang melancarkan deathglare—G hanya bisa berjawdrop ria dan menghela nafas panjang, "baiklah—makan sejenak tidak akan menyakitkan bukan?"

"Kau tidak perlu memaksakan dirimu G-san," tertawa kecil saat melihat ekspresi G sebelum akhirnya mereka beranjak ke kamar selanjutnya—Ugetsu.

"Makan malam? Tumben sekali kau mau menjemput ke kamar Giotto, Tsuna, G?" Ugetsu yang tidak cukup susah untuk disuruh keluar, tetapi wajahnya tampak tidak kalah kacau dari Giotto dan juga G.

"Aku yakin kalau kau pasti menyukainya—" Tsuna tersenyum manis kearah Ugetsu, membuat ketiga pria yang ada di sekitarnya itu terdiam dengan wajah yang memerah—sementara Tsuna hanya bisa bingung dengan tanda Tanya besar diatas kepalanya.

"Lampo tidak perlu dibilang, ia sudah berada di ruang makan saat ini—seperti biasa…"

"Ya, lagipula selesai aku menatap meja makan aku melihat Lampo dan ia membantuku saat aku meminta bantuannya," lagi-lagi semua orang disana terdiam dan menatap Tsuna dengan tatapan tidak percaya. Yang benar saja, Lampo si pemalas itu mau disuruh untuk membereskan meja makan, "Knuckle-san juga saat aku bertemu dengannya di lorong menuju ke ruangan Giotto-san mengatakan kalau ia akan menyusul setelah berdoa di gereja…"

"Berarti hanya tinggal Alaude—" G menatap kearah Giotto.

"Dan juga Daemon…"

Hening sejenak sebelum ketiga pria itu menatap Tsuna dengan tatapan ragu.

"Ada apa?" Tsuna tampak tersenyum seolah tidak tahu apa bahayanya jika mencoba untuk mendekati kedua orang guardian paling berbahaya itu. Tetapi, mengenal dengan baik selama 3 tahun dua guardian yang memiliki sifat hampir sama dengan mereka—tidak akan membuat ia dengan mudah menjadi takut akan mereka berdua.

"Sebaiknya kau tunggu saja di ruang makan Tsuna, kami bertiga akan mengurus kedua orang itu…"

"Eh—tetapi aku juga ingin ikut, tenang saja aku bisa menjaga diri kok!" Tsuna mencoba menahan kursi rodanya saat G mencoba untuk mendorong kursi roda itu menjauh dari arah seharusnya mereka tempuh untuk menuju ke ruangan Alaude dan juga Daemon.

"Benar?"

"Tentu—"

'Lagipula aku bisa menghentikannya kalau mereka akan menyerangku, minimal memberikan waktu untukku bisa kabur…'

"Hn…" mereka sudah sampai didalam ruangan Alaude setelah beberapa kali mengetuk dan pada akhirnya mendapatkan jawaban dari sang Cloud Guardian yang tampak lelah walaupun pakaiannya tampak cukup rapi untuk orang yang kelelahan, "cepat selesaikan dan pergi—atau kuborgol kalian karena mengganggu pekerjaanku…"

Tsuna tampak menatap pekerjaan yang dimaksud, lebih banyak daripada milik Giotto, G, dan juga Ugetsu karena memang Alaude memiliki pekerjaan dari CEDEF juga pastinya.

"Aku ingin mengajakmu makan malam," menoleh kearah laporan yang ada di belakang Alaude, ia hanya bisa tersenyum gugup, "tetapi kau tampak sangat sibuk, aku tidak akan memaksamu…"

"Bantu aku untuk mengerjakan semua tugas ini—dan aku akan memikirkannya…" baik Giotto, G, maupun Ugetsu tampak terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Alaude. Hei, mereka tidak pernah bisa untuk membujuk Alaude untuk melakukan sesuatu, dan dengan mudahnya Tsuna bisa membujuknya?

"Eh, tentu saja—tetapi apakah tidak apa-apa aku membaca semua laporan milikmu?" yah, walaupun Tsuna sudah pernah membaca laporan itu (dan dipaksa oleh Reborn) tetapi tetap saja ia tidak mungkin seenaknya membaca semua laporan yang ada di tempat Alaude bahkan—

"Kau sudah merapihkan laporan itu, kau pasti mengerti isi laporan itu," Alaude memberikan deathglare sambil menunjuk kearah tumpukan rapi yang ada di atas mejanya. Tsuna hanya bersweatdrop ria, benar juga apa yang dikatakan oleh Alaude.

"Kau percaya begitu saja untukku membaca semua laporan itu?"

"Kalau sampai kau membocorkannya, aku akan langsung menghabisimu walaupun kau adalah seorang perempuan," menyilangkan kedua tangannya didepan dada, Tsuna tampak ber 'Hieee' ria mendengar ancaman dari Alaude itu.

"Ba—baiklah, aku akan membantumu Alaude-san…"

"Hn—pergilah duluan, aku tidak suka bergerombol…" dengan segera menutup pintu kamar dan meninggalkan Tsuna, Giotto, G, dan juga Ugetsu yang tampak terdiam sebelum saling menatap dan terderngar tawa kecil.

"Tidak menyangka Tsuna-dono bisa membujuk Alaude-dono," Ugetsu tampak tertawa karena melihat reaksi dari Alaude tadi. G dan juga Giotto yang awalnya terdiam tampak tertawa juga dan pada akhirnya mendorong kursi roda Tsuna menuju ke ruangan terakhir—ruangan Spade.

"Apakah hanya perasaanku—atau jalan ditempat Spade-san semakin gelap saja?" Tsuna, Giotto, dan juga G tampak menatap sekeliling, saat lorong menuju kamar Spade tampak sepi dan juga gelap. Giotto dan juga G serta Ugetsu tampak hanya mengangguk dan masih terus melangkah menuju ke kamar Spade.

PRANG!

Suara kaca yang pecah dari samping mereka tampak terdengar dan beberapa orang langsung mengepung Tsuna dan juga yang lainnya. Baru saja mencoba untuk menghindar, tiba-tiba seseorang menembak kearah Tsuna dan hampir saja mengenainya saat Giotto tampak mencoba untuk melindunginya hingga tertembak di bagian dadanya.

"G—Giotto-san!"

"Giotto!" G yang mencoba untuk menghampiri Giotto tampak ikut tertembak dibagian kepala hingga tewas seketika. Tsuna yang melihat semua itu tampak shock dan mencoba untuk bergerak dan melawan mereka, tetapi tiba-tiba seseorang mendorongnya hingga jatuh dan saat menoleh ia melihat Ugetsu yang tampak tertebas hingga pedang menebus perutnya.

"Tsuna-dono, kau tidak apa-apa bukan?"

"U—Ugetsu-san…"

Shock—Tsuna tampak seakan melihat bayangan dari orang-orang yang ia kenal, Gokudera dan juga Yamamoto yang tewas. Tubuhnya bergetar meskipun ia tahu apa yang ada di depannya itu tidak nyata—

"T—tidak, Spade-san hentikan ilusimu kumohon!" suaranya tampak bergetar dan wajahnya tampak memucat. Air mata yang tampak ia tahan itu meluncur dan membasahi wajahnya dengan cepat, "Y—Yamamoto… Gokudera-kun…"

"Nfufufu—hebat kau bisa menebak kalau itu adalah ilusi Tsunayuki Sawada," semua pemandangan itu tampak menghilang dan berganti kamar Spade dengan Giotto, G, dan juga Ugetsu yang mencoba untuk menyadarkan Tsuna.

"Tsunayuki, kau tidak apa-apa—" Giotto menepuk pelan pipi Tsuna dan mencoba untuk menyadarkannya yang wajahnya sudah basah karena air mata, "—Spade, kau sudah keterlaluan!"

"Nfufufu—tetapi ia sudah sadar dari ilusiku, dia dengan mudahnya bisa menyadari kalau itu ilusi…"

"Eh—" Giotto baru saja akan menoleh lagi ketika Tsuna menggerakkan kursi rodanya dan menuju ke dekat Spade. Dengan segera mengangkat tangannya dan menampar pipi Spade dengan sangat keras.

"Jangan—lakukan itu lagi…" Tsuna tampak sangat kesal dan juga marah, membuat semua yang ada di kamar itu tampak terkejut, karena beberapa minggu bersama dengan Tsuna mereka tidak pernah melihat perempuan ini marah sedikitpun.

"Nfufufu—sepertinya aku terlalu berlebihan eh?"

"Fikirkan sendiri—" menghela nafas dan berbalik, Tsuna sudah terlalu takut bahkan tubuhnya masih bergetar mengingat tentang ilusi yang ditampilkan oleh Spade tadi.

"Aku akan menyusul untuk makan malam~" Spade seakan bisa membaca fikiran dan tahu apa maksud Tsuna menuju ke kamarnya tampak tersenyum, sementara Tsuna tampak terdiam sebelum keluar dari kamar itu.

"Ma—maaf aku menamparnya seperti itu Giotto-san," Tsuna yang tampak sudah cukup tenang hanya tertunduk malu menyadari apa yang ia lakukan tadi. Giotto tampak tersenyum dan menepuk kepala Tsuna.

"Tidak apa-apa, sepertinya ia juga sudah menakutimu terlalu berlebihan—"

"Akhirnya, aku ingin melihat makanan apa yang anda masak Tsuna-do—" Ugetsu membuka pintu ruang makan untuk menunjukkan ruang makan yang penuh dengan makanan Jepang yang bisa ia buat dengan bahan yang ada di dapur saat itu.

"Apa ini?"

"Lampo-sama sudah bosan menunggu Tsuna, ayo cepat aku ingin mencoba masakan Jepang yang sering kau ceritakan itu," Lampo tampak duduk bersama dengan Knuckle yang tersenyum melihat kelakuan dari Lampo.

"Baiklah-baiklah—"

"Eh bukankah semua pelayan tidak ada yang bisa membuatkan masakan seperti ini Tsuna-dono?" Ugetsu tampak sedikit terkejut melihat semua yang ada di depannya. Di Italia, ia hanya bisa membuat teh hijau dan juga beberapa makanan sederhana yang bisa ia buat. Bagaimanapun ia tidak pernah memasak dan tidak pernah bisa.

"Hm? Tentu saja aku yang membuatnya, walaupun tidak semua masakan bisa aku buat karena bahannya tidak ada—" mencoba untuk melihat dan menghitung beberapa makanan yang ada di atas meja.

"Kenapa anda sampai melakukan hal seperti ini?"

Tsuna berfikir sejenak sebelum mengibaskan tangannya di depan tubuhnya, mengisyaratkan Ugetsu untuk mendekat kearahnya. Ugetsu segera berjalan dan Tsuna menarik kimono Ugetsu sedikit untuk membisikkannya sesuatu.

"Karena kau tidak bisa ke Jepang, aku akan membawakan Jepang padamu—" Ugetsu tampak sedikit terkejut sambil menatap Tsuna yang tersenyum kearahnya, "—aku juga merindukan Jepang kau tahu?"

"Terima kasih, Tsunayuki-dono…"

"Apakah harus menggunakan benda ini?" G tampak kesal karena ia tidak bisa menggunakan 'benda' yang dimaksud adalah sumpit dan membuat beberapa lauk di piringnya menggelinding jatuh. Lampo tampak lebih bingung bagaimana cara untuk makan nasi menggunakan dua buah sumpit itu. Alaude yang tampaknya juga tidak bisa memberikan tatapan tajam kearah piring yang nasinya berceceran, begitu juga dengan yang lainnya—tentu saja selain Tsuna dan juga Ugetsu.

"Apakah orang Jepang memang memakan nasi sedikit-sedikit seperti ini," Giotto yang seakan memiliki tanda Tanya besar di atas kepalanya tampak mencoba untuk menyumpit nasi yang ada di depannya itu meskipun beberapa kali jatuh.

"Tidak juga, kau sependapat denganku bukan Ugetsu-san?" Tsuna tampak tenang-tenang saja memakan nasi dan juga omurice yang ada di depannya.

"Begitulah Tsunayuki-dono, dan masakanmu cukup enak—dan beberapa masakan ini memang seperti masakan Jepang tetapi aku tidak tahu namanya," Tsuna tampak gugup dan bersweatdrop ria—mengingat makanan itu memang baru dan sepertinya belum ada di masa ini, "tetapi tetap saja, ini sudah cukup untuk membuatku mengingat negara asal kita itu…"

Giotto tampak tersenyum saat melihat Ugetsu tampak senang dengan apa yang dilakukan oleh Tsuna. Ugetsu sudah lama tidak tampak sebahagia itu, dan Giotto sangat bersyukur Tsuna bisa melakukan itu dan membuatnya bahagia.

"Benda ini benar-benar menyebalkan, benda yang tidak bisa bergerak seperti ini saja susah untuk ditangkap!"

"Tetapi beberapa orang ada yang bisa menangkap lalat dengan sumpit itu loh," Tsuna tampak tersenyum dan menatap kearah G. semua orang tampak terdiam dan menatap kearah Tsuna.

"Yang benar?" tentu saja yang berteriak adalah semua yang ada di sana selain Alaude dan juga Spade yang tampak sudah cukup bersabar untuk tidak mematahkan sumpit itu.

"Nfufufu—semoga saja Elena yang ada di Jepang tidak akan kesusahan untuk makan hanya karena benda bodoh ini…"

"Cukup—bawakan aku sendok atau aku akan menghukummu," Alaude melancarkan deathglare kearah pelayan yang ada di sana dan dengan segera pelayan itu pergi dan mengambilkan apa yang diperintahkan oleh Alaude.

"Baiklah—sudah kuputuskan!" Giotto berbicara dengan nada yang cukup tinggi dan volume yang keras membuat semuanya berhenti dan menatap Giotto, "kita akan ke Jepang minggu depan!"

"EEEH!"

…In Japan…

Seorang perempuan berambut krem panjang dan bergelombang itu tampak berjalan seperti orang asing di negeri Jepang itu. Saat ia sedang berada di sebuah hutan kecil yang berada di dalam sebuah mansion tempatnya berada selama di Jepang.

Saat ia berada disana sendirian—melihat sosok pemuda yang terjatuh tidak sadarkan diri dan itu membuatnya terkejut dan dengan segera ia berjalan kearah pemuda itu perlahan.

"Ada apa Lady Elena?"

"Panggilkan seseorang untuk membantuku, sepertinya pemuda ini terluka—" mendengar hal itu, pelayan yang menemani sang kekasih Daemon itu tampak mengangguk dan segera memanggil seseorang untuk membantunya. Elena yang tampak membungkuk dan mencoba melihat wajah pemuda itu tampak terkejut melihatnya.

Cahaya matahari yang tampak masuk dari sela jendela kamar itu cukup untuk membuat sosok pemuda itu terbangun. Menoleh kekiri dan kekanan untuk menemukan dirinya yang berada di sebuah tempat yang asing baginya, dan baru saja akan bangkit saat Elena baru saja akan masuk kedalam kamar saat itu.

"Ah, kau sudah sadar?"

Pemuda itu tampak terkejut melihat sosok yang ada di depannya. Ia tahu siapa perempuan ini—walaupun perempuan ini pasti tidak mengetahui apapun tentang dia, ia pernah melihat sekali perempuan ini saat pertarungan dengan Shimon Famiglia.

"Ini dimana?"

"Jepang—aku menemukanmu pingsan dan membawamu kemari," Elena duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur itu, "kau mirip dengan seorang temanku, makanya aku membawamu kemari…"

"A—ahahaha, sepertinya aku tahu siapa yang anda maksud," pemuda itu tampak gugup tetapi berusaha untuk menyembunyikannya dengan tawanya.

"Lalu, siapa namamu?"

"Namaku Yamamoto—Yamamoto Takeshi, salam kenal!"

…To be Continue…

Sumpah tambah ga jelas =)) dan yap, me mutusin buat kirim satu per satu guardian ke masa primo karena ingat tentang Tsuna. Pertama Yamamoto~ dan kenapa ga Gokudera? Karena me malah rencananya bikin Goku di akhir-akhir aja =D

Dan siapa sangka yang nemuin Yamamoto adalah Elena? Mansion itu sebenernya mansion Vongola yang ada di Jepang~

Dan masalah mereka yang ga bisa pake sumpit—anggap aja mereka walaupun di Jepang, karena ini settingnya Vongola baru kebentuk, jadi selalu di mansion dan tetep ga pernah pake sumpit =))

Kuri —Eh, alurnya kecepetan kah? O_O

Rose —Pastinya XD #eh

King of Tuna —mana bisa diganti gendernya -_-

Authorjelek —Pasti dong~ G. itu tipikal seme yang malah diukein sama Ugetsu #lah! Kalau Goku emang dari sononya Uke~ #ea

Mamitsu27 —tenang aja, mungkin ntar bisa jalan lagi kok =)) dan OTF sudah lanjut dari kemarin XD

The Moon Dew —belum kepikiran bisa apa ga '3' *ditendang yang baca*

Aligepyon —karena entah kenapa me males ganti namanya ==" dan iya, makasih perbaikannya ='D me lupa kalau Cuma Goku yang pake –kun :p OTF sudah apdet dari kemarin XD

Makasih buat yang Review~ Ditunggu lagi ya Reviewnya~ #banyakmau