Yak! Dan Am-pun come back.

Maafkan atas ke- Erroran am yang super akut ini, Minna!

Langsung aja,

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : AU, OOC, TYPO(s) SELALU NYEMPIL, Dan selanjutnya tergantung reader-san.

Aam Tempe-Author Error-mempersembahkan-ceileeh-

.

.

SasuHina, T semi M, Romace, General.

.

.

.

Eliminasi

.

.

.

Sial! Kenapa pelajaran Matematika mendadak menjadi begitu sulit? Arrg! Oke, mana mungkin seorang jenius sepertinya dikalahkan oleh satu soal matematika. Itu rasanya terlalu… ironis. Bahkan kemarin si Uchiha ini bisa memecahkan soal matematika yang lebih sulit dari ini. Yeah! Ia tahu hari ini dan kemarin pasti tidak akan sama. Dan lagi, siapa orang yang membuat soal matematika ini? Atau lebih tepatnya, siapa manusia yang akan bertanggung jawab atas semua petaka ini? Bahkan di kelas, hanya dirinyalah yang belum menyimpan lembar jawaban di meja guru. Sasuke tidak habis pikir, ia- menjadi-tolol. Benar-benar tolol dan konyol. Tangannya mengetuk meja. dan mukanya menjadi begitu lucu saat ia nampak tidak sabaran. Kemana rumus Eliminasi itu pergi?

.

.

.

"Kau payah," Sasuke ingat kata-kata itu adalah kata-katanya yang ditujukan untuk seorang gadis, sore kemarin.

Namanya Hinata Hyuuga. Ia –Hinata- meletakan buku setinggi kelingkingnya. Lalu melihat siapa pemilik suara berat yang mengganggunya belajar. Matanya hitam, rambutnya yang menutupi sedikit sudut onyx, Ah! Ternyata si sok keren Sasuke. Sejak kapan si jenius elit ini mau mengunjungi perpustakaan sumpek yang selalu dicelanya dengan kalimat yang tidak sepantasnya? Dan kenapa dia belum pulang?

Hinata menatap kesal Sasuke. Ini sudah ke-empat atau mungkin ke-lima kalinya Sasuke membuat Hinata mengerang Frustasi.

"Apa kau sedang merasa gemas padaku, Hyuuga? Baru tahu aku ini tampan, eh?" pemuda itu menarik kursi disebelah Hinata, ia duduk dengan santainya. Kemudian matanya melihat kumpulan huruf di sampul buku Hinata.

"Matematika? Kau pasti sangat dungu. Beberapa kali aku ke sini dan kau masih membaca buku yang sama?" sang Uchiha menggeleng pelan kepalanya, bersikap seolah ia prihatin.

"aku baru tahu ada manusia yang cara kerja otaknya selamban siput yang berjalan." Lanjutnya. Hinata menaikan satu alisnya. Hei! Sombong sekali pemuda ini.

"benarkan…dungu?" Sasuke menyeringai ketika Hinata memejamkan matanya sambil menghela nafas panjang dan berat. Sangat berat. Sementara pemuda di sebelahnya mengosok-gosok hidung.

"Mungkin aku bisa mengajarimu, nona dungu,"

Hinata memutar bola matanya. lalu menatap Sasuke jengah.

"Kau tidak punya etika?" mata Hinata membawa banyak peringatan jika Sasuke peduli. Tapi nyatanya Sasuke tidak mau memperdulikan ancaman lemah yang ada pada sorot mata Hinata.

"Beraninya kau masuk perpustakaan ini dalam frekuensi rutin hanya untuk menghambatku mendapat nilai A+ pada mata pelajaranku, Tuan SOK JENIUS!" Ini adalah sebuah kemajuan pesat bagi Hinata. Dia berbicara sengan suara mengintimidasi pada Sasuke Uchiha? Ya! Prestasi!

"Oh, begitu?" dan Sasuke menanggapi kemurkaan Hinata dengan sangat santai.

Apa-apaan ini? Dia pikir pelajaran matematika itu mudah? Hell! tentu saja. Dia Sasuke Uchiha. Adik dari Itachi senpai yang Jenius. Dan diapun jenius. Hanya Hinata yang lamban. Dan Hinata sedikit malu dengan kata-katanya barusan.

"Tak perlu sungkan, tanyakanlah apa yang sulit bagi otak tumpulmu." Ejeknya lagi. Aisssh! Ada apa dengan di pantat unggas ini? Kenapa dia sangat antusias sekali membuat Hinata kesal. Apakah diam-diam dia telah menjadikan Hinata sebagai pelepas bosannya saat ia menanti jemputan datang? Jangan sampai!

Sasuke meraih tangan Hinata. Tangannya hangat dan pucat. Dasar sakit jiwa! Awalnya saja memaki-maki dan lihat kelakuan tidak menyenangkan apa yang ia lakukan saat ini? Mencari kesempatan. Hinata menatap jijik tangan itu.

"Singkirkan!"

"Hn?"

"Tangan itu."

"Tanganmu-lah yang seharusnya menyingkir, Nona."

Dan Hinata segera menarik lengannya. Melapnya dengan tisu basah yang harum.

Andai para fans Sasuke tahu betapa congkaknya pria yang meraka puja ini. Sasuke menarik buku tebal Hinata. Membuka halaman 278. Materi yang dipelajarinya minggu-minggu ini.

"Beberapa dari soal matematika ini bisa dipecahkan dengan dua cara," Sasuke menatap Hinata yang mulai menyimak. Ia lalu tersenyum simpul.

"walaupun begitu, kau akan mendapat jawaban yang sama pada akhirnya. Tapi entahlah untuk manusia sejenismu," Sasuke terdiam, lalu bilang,

"Aku benar- benar ragu" dan kemudian menyeringai. 'Hih! Dia memulainya lagi.'' batin Hinata.

"Aku ini tidak sebodoh itu, pak." Hinata mencibir.

"Ya, ya, ya. Berdo'a saja agar kepandaianku bisa sedikit berpindah padamu, nak."

Hinata menghela nafas lagi. Ia berusaha menulikan telinganya dari kata-kata Sasuke selanjutnya.

"Ya, aku menantinya." Hinata memandang Sasuke yang kembali menjelaskan beberapa soal serta penyelesaiannya.

"… Satu nilai X atau Y harus setidaknya memiliki nilai yang sama dengan nilai X atau Y yang lainnya. Hei! Kau mendengarkanku kan?" Sasuke mendesis. Jadi selama 20 menit ia menjelaskan, Hinata tidak sungguh-sungguh menyimaknya? Atau…

"Lagi-lagi kau lebih menyenangi wajahku. Kapan kau akan pintar kalau begitu?"

Muka Hinata memerah. Apa pria ini pernah menjadi pemenang award sebagai best annoying boy?

"Kau terlalu besar kepala, Sasuke."

"Otakmu-lah yang terlalu kecil,"

Okey! Sasuke memang pintar dan sepertinya apa yang sering ia bilang memang benar. Kecuali tentang ke-err tampanannya yang di atas rata-rata. Bahkan wajahnya lebih tampan dan berkharisma di banding Kakashi sensei. yaah! Sasuke memang tampan. Ia pantas mendapatkan pujian itu. Tapi bagi Hinata, kecongkakannya telah membungkus ketampanan Sasuke menjadi kutukan. Pria terkutuk ber-IQ tinggi. Cocok sekali gelar terhormat ini bila disematkan di belakang namanya. Tanpa sadar Hinata Tersenyum. Dan Sasuke mengkerutkan keningnya karena kelakuan Hinata.

"Baiklah. Kau sudah bisa tersenyum. Artinya kau sudah paham, bukan begitu?" Hinata diam.

"Jadi, saatnya si baik hati diberi imbalan!" Sasuke bilang. Mata Hinata terbelalak. Imbalan katanya?

" Bukankah seekor anjingpun tahu caranya berterimakasih?"

"Kau membandingkanku dengan hewan yang seharusnya jadi perbandinganmu?" Hinata bertanya. Sasuke menampilkan senyum menyebalkan. Ia mendekatkan kepalanya ke arah muka Hinata.

''Hm, menurutmu?" dan Sasuke menjilat cuping telinga hinata. Hinata terkesiap dengan benda hangat yang membasahi telinganya. Repleks ia menoleh.

"kau barusan memanggilku anjing kan? arrr, gog!"

Hinata mematung. Pemuda di hadapannya ini… iblis.

"Seharusnya kau tahu betapa membahayakannya aku. Terlebih saat kau berani memainkan kata-kataku. Dan kau menyebutku… anjing? Anjing yang manis Maksudmu?"

Hinata bisa merasakan tubuhnya yamg menggigil.

"Aku rasa kau lumayan tahu apa kebiasaaam seekor anjing saat ia tertarik pada sesuatu," sekarang Hinata menjadi kaku. Sasuke mendekatkan jaraknya. Terutama kepalanya keleher Hinata.

"Ermm, vanilla," gunam Sasuke. Tubuh Hinata mengejang saat lidah Sasuke menelusuri leher jenjangnya

"Menjilat, nona. Anjing paling suka menjilat." Seharusnya Hinata tidak mengulur waktu untuk mendorong tubuh Sasuke. Tapi saat ini ia tidak bisa bergerak. sungguh!

"He-hentikan. Ata-"

"Atau kau akan ketagihan. Ah, aku mengerti Hyuuga Hinata" Sasuke terkekeh. Ia berdiri lalu bilang,

"Aku tak menyangka rasa seorang idiot bisa se-nikmat ini" Hinata memerah. Sasuke berbalik lalu melangkah.

"Tunggu tuan Uchiha," suara ini? Haha, Hinata memanggilnya. Sasuke berhenti melangkah.

" Nilai X harus sama dengan Nilai X lainnya kan?"

Sasuke mendengar derap langkah Hinata. Sasuke menaikkan kedua alisnya tinggi lalu berbalik, betapa terkejutnya Sasuke, saat ia melihat dengan jelas, Hinata berjinjit dan tangannya menarik kasar kepala Sasuke. kemudian tubuhnya serasa seperti tumpukan jelly ketika lidah Hinata meninggalkan saliva yang membentuk lengkung dari telinga kanan, menyentuh bibir dan berhenti ditelinga kiri.

"Ah, kau yang mengajariku ini, ingat? " bisik Hinata. Sasuke mengutuk dirinya yang menjadi lemah.

"Dengarkan aku sebaik mungkin, Sasuke terkutuk ber-IQ tinggi. Kau akan lupa bagaimana rumus-rumus itu bekerja. Dan kepandaianmu akan berpindah padaku."

.

.

.

"Sasuke aku harus pulang." Iruka Sensei menggeram

Sasuke menatap gusar ambang pintu yang menampilkan Hinata Hyuuga.

"Kembalikan kepandaianku, DUNGU!" teriaknya

Hinata tersenyum,

"NO."

.

.

.

KENAPA HINATA JADI BERASA HORROR?

Ahahaha, gomen. Am jadi membuat pairing tercinta am gaje.

Apa am masih harus mengupdate fic "Our Episode" ini?

July

2011

Tthanks for reading! Ripiu?