Gadis bersurai kuning saat ini sedang termenung, apa yang akan dia lakukan? Hinata temannya, sekarang berada dalam bahaya.

"Eve." Suara baritone mengejutkannya. Kemudian gadis itu berbalik, terlihatlah lelaki berambut hitam keputih-putihan. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya lembut.

"Ruki-Kun.. Ummm.. Ano.. Ti-tidak." Gadis itu menggeleng.

"M Neko-Chan." Tiba-tiba satu lelaki lagi datang, bukan hanya satu tetapi tiga. Sekarang mereka menjadi empat, mereka semua adalah Mukami bersaudara.

"Kalian.." kata gadis itu sedikit kaget.

"Apa kabar Ternak?" kata lelaki berambut orange keputihan.

"Yuuma-Kun.. A-apa y-yang k-kau lakukan? Ugh.. I-ittai." Yui nama gadis itu merasa kesakitan, saat taring lelaki bernama Yuuma itu mulai menusuk kulitnya.

"Aku merindukanmu." Bisiknya.

"Apa yang kalian lakukan?" teriak suara lembut, mengganggu aksi Yuuma yang sedang menghisap darah Yui.

"Cih.. Kuso.." katanya sedikit membentak.

"Siapa kalian?" tanya gadis bersurai indigo tersebut.

"Hinata pergi!" teriak Yui kencang menyuruh Hinata pergi dari sana.

"Mereka siapa?" tanya Hinata masih penasaran.

"Cih.. Kau mau aku menghisap mu juga." Tiba-tiba lelaki bersurai hijau menghampiri Hinata.

Hinata mulai ketakutan, apa mereka Vampire juga? Pikirnya. Masih berkecamuk dengan pikirannya, tiba tiba Hinata menjerit saat lengannya tergores pisau oleh lelaki bersurai hijau tersebut. "A-apa y-yang k-kau lakukan?" katanya meringis.

"Menghisap darahmu juga." Bisiknya di telinga Hinata kemudian menjilat darah yang berada di pisau yang menggores Hinata. "Manis." lanjutnya. Darah di tangan Hinata mengalir.

"Mendokusai." tiba tiba suara baritone mengejutkan mereka. "Mengganggu tidur ku saja." Lanjutnya dingin.

"Apa yang kalian lakukan?" satu lagi lelaki berkacamata berkomentar.

"Cih... Bangsawan.." Yuuma emosi.

"Dia milik kami, jangan kalian ganggu." Kata lelaki memakai topi menunjuk Hinata yang menatap mereka polos, tiba tiba hadir di antara mereka.

"Serakah.." lelaki bersurai hitam keputihan ikut berkomentar, kemudian pergi meninggalkan mereka dan di susul ketiga lelaki tersebut.

Akhirnya semua Mukami meninggalkan Hinata, Yui dan tiga lelaki yang baru hadir tadi.

"Kau..!" Lelaki berkacamata itu menunjuk Hinata, Hinata saat itu masih melamun tersentak tiba-tiba. "Ikut aku!" perintahnya.

Hinata memandang polos lelaki tersebut, kemudian mulai mengikuti langkah laki-laki tersebut.

"Tunggu!" Teriak Yui. Hinata dan lelaki berkacamata berhenti. "Apa yang akan kau lakukan kepada Hinata? Reiji Kun." Tanya Yui khawatir.

"Bukan urusanmu." Katanya dingin, kemudian melanjutkan langkahnya.

"Hinata.."

"Tidak apa-apa Yui, aku akan baik-baik saja." Potong Hinata meyakinkan.

Yui menangguk pasrah. "Maafkan aku Hinata." Gumamnya lirih.

.

.

Saat ini Hinata dan lelaki bernama Reiji itu sedang berada di ruangan kesehatan "A-apa yang kau lakukan?" tanya Hinata sedikit berteriak saat lengannya di pegang oleh Reiji lelaki berkaca mata tersebut.

"Aku sudah perintahkan, jangan kemana-mana!" katanya dingin. Kemudian membalut luka di lengan gadis bermata lavender tersebut.

Hinata yang melihat lengannya yang sedang di balut, sedikit myenyesal karena mencurigai apa yang akan di lakukan oleh lelaki tersebut. "Umm.. Ano.. A-aku sedikit.."

"Setelah ini, akan ku beri kau hukuman." Potongnya, kemudian beranjak pergi dari sana.

Hinata menatap polos kepergian lelaki itu, kemudian beralih menatap lengannya yang telah terbalut rapi.

"Kau sudah selesai." Hinata tersentak, tiba-tiba suara baritone mengagetkannya. Hinata menoleh ke arah sumber suara.

"S-sakamaki San." Kata Hinata takut.

"Jangan takut.. Aku hanya ingin berbaring disini." Lelaki itu mulai memejamkan matanya.

"S-sakamaki San,, a-apa kau selalu tidur dimana pun?" tanya Hinata polos. Lelaki yang tadinya memejamkan matanya, langsung membuka matanya kemudian menatap tajam gadis pemilik mata bulan tersebut. Hinata yang merasa dirinya di tatap tersebut, langsung menundukkan kepalanya. Rona merah menghiasi wajahnya. "G-gomen." Merutuki perbuatannya.

Shu.. Lelaki itu beranjak dari tempatnya, kemudian berjalan mendekati Hinata. Di tatapnya gadis polos tersebut, "Cantik." Gumamnya pelan. Hinata mengangkat kepalanya, di tatapnya lelaki yang mempunyai warna biru safir itu. Perlahan tapi pasti, Shu mendekati wajah merah Hinata. Wajah Hinata sudah sepenuhnya merah sampai ke telinganya, matanya tertutup rapat. Tidak berani menatap lelaki, pemilik bermata biru tersebut.

Bibir Shu menempel di bibir Hinata, kemudian dia mulai melumat bibir mungil Hinata. Sedikit tersentak, saat dia merasakan getaran di hatinya. Perasaan apa ini? Pikirnya. Shu mulai tidak sabar, kenapa Hinata belum juga membalas lumatannya? Shu menekankan tengkuk Hinata, supaya memperdalam ciuman mereka. Kemudian Shu menggigit bibir mungil Hinata, Hinata sedikit menjerit dan membuka mulutnya. Shu memasukkan lidahnya, mengabsen setiap barisan di gigi Hinata. Hinata sudah terbawa suasana, gadis itu sedikit mendesah karena dia mulai menikmati ciuman yang di berikan Shu. Lelaki itu menyeringai, di tengah ciuman mereka. Hingga akhirnya ciuman mereka terlepas, mereka berdua memerlukan pasokan udara.

Hinata menatap kecewa kepada Shu, sedangkan lelaki itu mengangkat sudut bibirnya. "Apa kau menyukainya?" tanyanya dengan seringaian. Hinata yang mendengar itu, kemudian menundukkan wajahnya. "Kau milikku." Shu menenggelamkan kepalanya di bagian leher Hinata. Saat itu juga taringnya menembus kulit mulus Hinata.

"Ugh.. I-ittai." Hinata meringis, saat benda tajam itu menusuk kulit mulus pada lehernya. "A-apa yang kau lakukan S-sakamaki San?" tanya Hinata merintih.

"Panggil nama ku Shu,, Hinata.!" Perintah Shu, kemudian menjilat tetesan darah di bagian leher Hinata.

Hinata hanya diam, menatap sendu kepada lelaki yang merebut ciuman pertamanya. Sedangakan yang di tatap, hanya memasang ekspresi datarnya.

.

.

"Sakura.." gadis cantik berambut merah mudah tersebut menoleh kearah sumber suara yang memanggil namanya.

"Bagaimana?" tanya gadis itu cemas.

"Belum ada kabar." Kata lelaki bersurai kuning.

"Hinata kau kemana?" gumamnya.

.

.

Yui sekarang berada di kelas bersama lelaki bersurai merah bermata hijau. "Dia kemana?" gumam Yui pelan.

Lelaki tersebut mengalihkan pandangannya ke arah gadis yang sedang menatap kearah jendela, "Siapa?" tanyanya dingin.

Gadis itu tersentak saat suara tersebut, mengagetkannya. "Ummm... Etto.. Hinata, dia dibawah Reiji-Kun kemana?" tanyanya pelan.

"Cih.. Ternyata." Katanya malas, kemudian beranjak dari tempat duduknya.

"Ayato-Kun.. Mau kemana?" Yui pun mengikuti lelaki itu.

Saat keluar dari kelas, Yui melihat sesosok gadis bersurai indigo berjalan menunduk. "Hinata." Panggilnya. Merasa terpanggil Hinata mengangkat wajahnya, air matanya berlinang membajiri wajah cantiknya. "Kau kenapa Hinata?" Tanya Yui cemas. Bukannya menjawab, Hinata malah menubruk tubuh sahabatnya dengan pelukan dan mulai terisak. "Hinata." Gumam Yui kemudian membalas pelukan sahabatnya.

Ayato hanya diam melihat dua gadis itu, di ikuti lelaki bersurai kuning. Shu. "Apa yang kau lakukan kepadanya Shu?" tanya Ayato.

"Cih.. Bukan urusanmu." Kemudian berjalan mendekati dua gadis yang sedang berpelukan. "Ikut aku!" ajaknya kepada gadis indigo tersebut.

"Tunggu Shu-San, mau kau bawa kemana Hinata?" tanya Yui yang berniat melindungi sahabatnya.

"Bukan urusanmu." Jawabnya dingin, kemudian kembali menarik lengan Hinata.

Saat Yui ingin mengejar mereka, tiba-tiba lengannya di tahan seseorang.

"Ayato-Kun, aku akan..."

"Jangan terlalu ikut campur, Cichinasi." Katanya, kemudian menarik pelan tangan Yui.

"Ta.. Tapi.."

Lelaki itu mendelik ke arah Yui, saat itu juga Yui diam dan menuruti Ayato.

.

.

"Apa yang kau lakukan?" Hinata menarik tangannya yang ditarik oleh lelaki bersurai kuning tersebut. "Sakamaki San... Hentikan!" teriaknya.

Lelaki tersebut menabrakkan badan Hinata ke dinding, "Panggil aku Shu!" bentaknya. Hinata tersentak kemudian menunduk, air matanya mulai mengalir. Shu yang melihat itu, kemudian mengangkat wajah Hinata. Di ciumnya mata gadis itu "Kau milikku.." kemudian mencium lembut bibir gadis tersebut.

.

.

"Neji.. Ini sudah larut, sebaiknya kita lanjutkan besok." Kata lelaki berambut raven memberi saran.

"Hn." Katanya pasrah. "Besok kita lanjutkan pencariannya." Lanjutnya.

"Baiklah." lelaki itu menjawab.

'Hinata.. Kamu dimana?' tanya lelaki bernama Neji dalam hati.

.

.

Pagi menjelang tidak mengusik kenyenyakan dua gadis cantik yang tertidur pulas. Hinata dan Yui masih asyik di dunia mimpi mereka, suara gemercik air pun tidak juga bisa membangunkan mereka. Tiba-tiba salah satu di antara mereka membuka matanya. Mata bulan itu perlahan melihat sekeliling, ini bukan seperti kamar yang selama ini di tempatinya. Ini dimana? Pikirnya. Hinata baru ingat sekarang, kalau dia tidak pulang lebih tepatnya tidak bisa pulang. Pasti kakaknya sekarang mengkhawatirkannya, pikirnya. Hinata juga merindukan sosok lelaki yang selama ini selalu melindunginya, Neji.

"Hinata." Panggil suara lembut membuyarkan lamunannya. "Kau tidak apa apa Hinata? Apa yang dilakukan Shu San kepadamu?" tanya gadis itu khawatir.

Seakan dapat teguran dari Tuhan, Hinata baru tersadar. Semalam Hinata ditarik lengannya oleh lelaki bersurai kuning tersebut, kemudian dia... Hinata menggeleng, dia tidak ingin mengingat kejadian semalam.

"Hinata." Panggil gadis itu lagi.

"Aku ingin memberi kabar kepada Neji Nii." Katanya kemudian beranjak dari tempat tidurnya.

"Hinata." Gumam gadis itu pelan.

.

.

"Apa belum ada kabar darinya, Neji?" tanya lelaki raven bermata kelam.

"Belum Sas.. Kita harus melanjutkan pencarian lagi hari ini." Ajaknya dan langsung dapat respon dari lelaki raven itu.

"Hinata." Suara itu begitu lirih.

.

.

Hinata mengedarkan pandangannya, mencari dimana letak telepon di rumah ini. Apa rumah sebesar ini tidak mempunyai telepon? Hinata tidak habis pikir.

"Apa yang kau cari Hyuuga San?" suara baritone mengejutkan Hinata.

"Ummm... Ano.. D-dimana letak teleponnya?" tanya Hinata sedikit gugup.

"Urusai..!" bentak lelaki berbeda warna mata itu, lelaki itu juga memukul dinding didekatnya.

Hinata benar benar kaget, lelaki yang di ketahui Hinata bernama Subaru itu begitu kasar. "G-gomen." Katanya gugup.

"Kau tidak akan bisa keluar dari sini!" ancamnya tajam, kemudian pergi meninggalkan Hinata yang terdiam.

"Neji Nii.." isak tangis Hinata pecah, saat itu juga Hinata terduduk. Dia sekarang merasa benar-benar menyesal, tangannya beralih ke lehernya. Lehernya yang tadinya mulus sekarang sudah ada bekas gigitan. Apa dia juga akan seperti mereka? Lagi-lagi Hinata menggeleng.

Tanpa diketahui Hinata, ada seorang lelaki menatapnya lembut. Ingin sekali dia merengkuh tubuh mungil Hinata, sejak dia mencium bibir gadis itu juga menghirup wangi tubuh khas lavender. Dia merasakan, apa itu perasaan cinta? Benar,, dia mencintai gadis bermata bulan tersebut. "Kau milikku Hinata, hanya milikku." Katanya lirih kemudian pergi.

Tbc

Maaf banyak typo

nggak bisa bales satu-satu..

yang review makasih banyak ya:)

yang baca juga

saranghae 3