Disclaimer

…Masashi Kishimoto-sensei …

Pairing(s)

… SasuNaru …

Genre

… General, Romance (maybe), etc …

Rated

… T …

Warning

… OOC, AU, Shonen-ai, Aneh, Gaje, Miss Typho, etc …

Don't like, Don't Read

Don't like, Don't Read

Don't like, Don't Read

Summary

Dari hari ke hari keadaan Naruto semakin memburuk dan mencemaskan. Tiap malam dia selalu mengerang kesakitan. Ia merasa tak lama lagi waktunya habis. Ya, waktunya tidak lama lagi akan habis. Hanya beberapa hari lagi.


~ SPECIAL THANKS TO ~

. Michiru No Akasuna .

. Rinyaow love FFN .

. Aurorafyfy .

. Tori-chan Nadeshiko .

. Fi suki-suki.

. Fuj02 .

. aT-taN .


:: THE LAST OF MY LIFE ::

~ Chapter 3 ~


"Memangnya Naruto sakit apa?" tanya Gaara yang benar-benar khawatir

"Naruto mengidap... Kanker Paru-paru yang sekarang sudah sangat parah." jawab Kabuto lesu

"APAAAA!" teriak Gaara sangat terkejut

"Kabuto-san. Yang benar saja. Kau berbohongkan?" tanya Gaara sambil menenangkan dirinya

"Hah! Gaara.." panggil Kabuto sambil menghela nafas, "Aku serius!" tambahnya dengan nada-nada serius

"Ja-Jadi itu SE-Ri-US?" tanya Gaara meyakinkan

"Ya!" jawab Kabuto lebih meyakinkan

Sesaat, terlihat wajah Gaara yang menunjukkan perasaan sedih, terkejut, kecewa dan prihatin yang bercampur menjadi satu. Gaara benar-benar kecewa pada Naruto, karena ia menyembunyikan penyakitnya sejak lama darinya dan teman-teman lainnya. Tapi di lain pihak juga, Gaara sedih dan prihatin pada keadaan Naruto, yang sudah dianggapnya sebagai saudaranya sendiri. Karena Naruto, kini Gaara mempunyai banyak teman dan ia tidak takut lagi dengan kegelapan yang dulu meyelimutinya. Kegelapan yang membuatnya jahat dan dingin pada setiap orang, termasuk kakak-kakak nya. Dan hanya Naruto seoranglah yang bisa mengerti perasaannya. Ya.. Hanya Narutolah yang mengerti akan keadaan dirinya.

… OoO …

GAARA's POV

Aku benar-benar syok dengan apa yang dikatakan Kabuto-san. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang Naruto perbuat. Dia menyembunyikan penyakitnya dalam beberapa tahun ini, lalu membohongi kami. Sahabatnya sendiri. Aku benar-benar tidak percaya. Sangat tidak percaya.

Kini, aku tengah berjalan di koridor Rumah Sakit. Tentu saja tujuanku itu ruangan dimana Naruto di rawat. Ada yang ingin ku tanyakan padanya.

Beberapa menit kemudian, sampailah aku di ruangan itu. Ku buka pintu itu, pelan. Takut-takut Naruto belum bangun dari pingsannya.

'sreeett'

Setelah ku buka pintu itu, alangkah terkejutnya aku melihat sosok itu. Dia, Naruto. Sedang terduduk di atas ranjang itu. Matanya yang berwarna biru cerah, kini menjadi biru kelam. Mata itu menyiratkan kesakitan dan kekosongan yang mendalam.

Ku berjalan mendekatinya dengan perlahan. Tapi sepertinya, ia tidak menyadari kehadiranku. Ku tepuk bahunya untuk menyadarkannya dan memanggil namanya lembut.

"Naruto.."

GAARA's END POV

… OoO …

NARUTO's POV

'Ngggggg..' erangku pelan sambil memegang dadaku yang terasa sangat sakit. Ku lihat sekelilingku, hanya warna putih yang mendominasi ruangan ini dan tercium bau obat-obatan yang tidak asing lagi bagiku. Seketika aku berfikir bahwa aku sekarang ada di tempat yang sudah kuanggap rumah kedua ku, yaitu Rumah Sakit. Ya, Rumah Sakit adalah rumahku yang kedua. Mungkin, aku akan mengakhiri hidupku di rumah keduaku ini. Tapi entahlah, hanya Kami-sama lah yang tahu akan semua itu.

Setelah kesadaranku pulih kembali, aku mencoba untuk memposisikan diri menjadi setengah duduk. Kurasakan seluruh tubuhku sakit, dan dadaku sakit. Bukan hanya itu, tiap kali aku mengingat-ingat kejadian yang lalu, kepalaku selalu merasa sakit dan pusing.

Aku tau, umurku tidak akan panjang. Dan aku tau, aku sudah membohongi teman-teman ku dan orang-orang di dekatku tentang penyakitku ini. Mungkin sekarang, orang-orang yang mengetahui penyakitku akan bertambah. Shikamaru dan Kiba sudah mengetahui keadaanku, dan sekarang Gaara. Sahabat sekaligus orang yang telah ku anggap saudara. Dia adalah orang yang paling mengerti diriku. Maka dengan itu, aku tidak mau membuatnya khawatir dengan keadaan ku. Aku.. Aku.. Aku tidak mau membuat semua orang sedih dengan kepergian ku. Tapi.. Tapi aku terpaksa. Terpaksa melakukannya. Ya, waktuku tinggal 2 hari lagi untuk bersama teman-temanku selama tubuhku masih bisa aku kendalikan.

Lalu, apakah teman-temanku akan membenciku karena hal ini? Apakah mereka akan menjauh dariku? Kalau iya, apakah aku akan bertahan dengan semua kebencian itu?

Kami-sama, tolonglah aku. Mudahkan aku menjalani cobaan yang engkau berikan.

'sreettt'

Sekilas, ku dengar ada suara pintu dibuka dan suara seseorang mendekatiku. Tapi aku tidak peduli dengan semua itu. Lebih baik begini, berdiam di kesendirian seperti halnya dulu. Kesepian dan dikucili.

Tapi tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahuku dan ia pun memanggil namaku dengan lembut. Ku lihat wajah orang yang menepukku dan ternyata itu adalah Gaara. Sahabatku.

"Naruto.." panggil Gaara lembut

"Ga-Gaara?" jawabku heran dan gugup

"Kau sudah sadar ya? Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Gaara sambil duduk di dekat ranjangku

"Ya, sudah agak membaik." jawabku lirih, "Ano Gaara.."

"Ya?"

Seketika, ku ihat wajah Gaara. Dia mencoba untuk tersenyum dan bersikap seperti biasanya. Aku tau, dia berbohong. Aku juga tau, kalau Gaara sudah mengetahui penyakitku ini. Tapi, karena tingkahnya lah aku merasa bersalah dengan apa yang aku perbuat. Apakah aku harus bicara jujur padanya?

"Umm.. Terimakasih sudah membawaku kesini. Kalau tidak ada kau, mungkin aku akan terkapar sendirian di jalan. Hahahaha.." kataku sambil mencoba tertawa, walaupun hambar

"..." tapi tidak ada jawaban dari Gaara. Sepertinya dia marah atau kecewa karena aku belum jujur padanya.

"Gaara, gomen!" ucapku lirih

"Atas apa?" tanya Gaara sambil tersenyum -paksa-

"Gomen! Gomen! Gomen!" ucapku dengan suara yang mulai serak dan tanpa ku sadari, air mataku mengalir. Ya, mengalir. Aku menangis.

"Na-Naruto? Kau kenapa? Kenapa menangis? Apakah ada yang sakit?" tanya Gaara yang sepertinya khawatir pada keadaanku

"Aku.. Aku.. hiks.. hiks.. Gomen sudah membohongi mu selama ini. Gomen!" kataku setengah berteriak

"..." Tak ada jawaban sama sekali dari mulut Gaara. Karena sikapnya, tangisku semakin menjadi-jadi. Dan tanpa ku sadari Gaara memelukku lembut dan tulus. Akupun membalas pelukkannya. Tak lama kemudian kami melepas pelukan lembut itu. Ku tatap wajah Gaara dengan seksama. Dia, dia tersenyum tulus padaku. Tidak ada paksaan dalam senyumnya itu. Aku senang dia sekarang sudah tidak tersenyum dengan senyum bohongannya.

Tak lama kemudian, Gaara membuka mulutnya.

"Naruto, aku sudah tau tentang keadaanmu dan masalahmu. Aku juga sudah tau, bahwa selama ini kau membohongi kami berempat dan teman-teman lainnya," wajah Gaara tampak menyiratkan kekecewaan yang begitu dalam

"A-Aku.." ucapku gelagapan dan tiba-tiba dipotong Gaara

"Aku juga tau, kau berbuat semua itu karena tidak ingin membuat semuanya khawatir dan mengasihani mu. Tapi perbuatanmu itu salah. Salah besar. Mungkin aku masih bisa menerima semua itu. Tapi bagaimana dengan Kiba, Shikamaru, Neji dan.. Sasuke? Sahabatmu sendiri. Apakah mereka akan menerima semua ini?" tanya Gaara

Di tanya seperti itu, aku pun dibuat bingung olehnya. Aku terdiam sejenak dan mencoba mengeluarkan beberapa kata atau kalimat dari mulutku ini.

"Kiba dan Shikamaru sudah tau hal ini," ucapku lirih

"Lalu Neji dan Sasuke belum tau? Kalau mereka belum tau, biar aku yang memberitahu mereka." kata Gaara sembari mengambil handphone-nya

"Tunggu Gaara!" cegahku, "Aku mohon jangan beritahu mereka berdua. Terutama Sasuke, kumohon!" tambahku

"Baiklah, tapi aku tidak janji. Oke!"

"Te-Terimakasih!" hatiku kini menjadi sedikit lega dengan apa yang dikatakan Gaara, tapi tetap saja aku takut. Takut bahwa semuanya akan tahu akan rahasia ku.

"Gaara, apakah aku boleh pulang sekarang?" tanya ku sedikit takut

"Memangnya kau sudah baikan? Lebih baik, mulai hari ini kau dirawat saja disini. Kata Kabuto-san, penyakitmu semakin parah. Dan akan lebih baik kau..." jawab Gaara sembari menasehatiku, tapi cepat-cepat ku putong perkataannya

"Gaara! Kumohon! Untuk sekarang, aku tidak mau dulu dirawat. Ada suatu urusan yang harus ku lakukan. Aku mohon! Selain itu, aku tidak mau melihat Tousan dan Kaasan khawatir." ujar ku panjang lebar

"Baiklah kalau itu mau mu. Tapi, tunggu sebentar. Akan kutanyakan pada Kabuto-san dulu. Semoga saja diijinkan."

"Trimakasih.."

END OF NARUTO's POV

… OoO …

Sudah 30 menit Naruto menunggu Gaara di ruangan dimana dia berada. Naruto cemas, kalau-kalau ia tidak di ijinkan untuk pulang. Tapi tak lama kemudian, Gaara dan Kabuto datang. Ada rasa lega di hati Naruto, karena Gaara dan Kabuto telah datang.

"Naruto, apakah benar kau ingin segera pulang?" tanya Kabuto pada Naruto yang tengah duduk diranjangnya.

"Ya, Kabuto-san!" jawab Naruto mantap

"Hmm, baiklah kalau itu mau mu. Jaga baik-baik keadaan mu. Jangan sampai keadaanmu bertambah parah. Salam untuk kedua orang tuamu ya, Naruto." ujar Kabuto sambil tersenyum

"Baik! Terimakasih, Kabuto-san!" Naruto pun membalasnya dengan senyuman khasnya

"Kabuto-san, aku pergi dulu. Jaa.." pamit Gaara, diikuti oleh Naruto

"Jaa.."

… OoO …

Setelah Naruto dan Gaara berpamitan dengan Kabuto, mereka bergegas pulang. Karena hari mulai gelap, mereka memutuskan untuk pulang menggunakan taksi. Di mobil itu terasa sangat hening dan sepi, diantara mereka berdua tidak ada yang mau memulai pembicaraan sedikitpun. Tidak lama kemudian, Naruto memecahkan keheningan dengan mengucapkan beberapa kata.

"Gaara, Terimakasih ya!" ucap Naruto senang

"Sudahlah! Jangan dibahas lagi hal itu. Lebih baik sekarang pikirkan alasan yang tepat untuk nanti di rumah. Bukankah kau tidak mau membuat orang tuamu khawatir?" ujar Gaara sedikit lelah

"Hmm, iya sih. Tapi setidaknya aku harus berterimakasih padamu. Bukan, bukan padamu saja aku harus berterimakasih. Tapi juga pada Kiba dan Shikamaru yang membantuku saat tadi di sekolah. Ya, aku harus berterimakasih pada mereka!"

"Hmm. Naruto, sudah sampai nih. Lebih baik kau cepat turun." kata Gaara sambil menepuk bahu Naruto

"Ah, ya! Terimakasih lagi ya, Gaara. Karena kau sudah mengantarku. Jaa.." pamit Naruto

"Ya, jaga keadaanmu baik-baik." balas Gaara sedikit berteriak

"Ya!" jawab Naruto

Tak lama kemudian, Gaara segera pulang ke rumahnya. Dan tidak disangka-sangka, Gaara berpapasan dengan Sasuke yang sepertinya baru pulang dari sekolah. Akan tetapi keberuntungan memihak Gaara, Sasuke tidak menyadari bahwa orang yang ada dalam taksi itu Gaara. Kalau Sasuke tau Naruto pulang malam karena bersamanya, bisa mati dia dihajar Sasuke. Sungguh malang kau Gaara. *author dihajar masal*

… OoO …

NARUTO's POV

Kini, aku berada tepat di depan pintu rumahku. Aku mencoba mempersiapkan diri untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kelak Tousan dan Kaasan lontarkan. Akan tetapi aku tidak sanggup bila melihat ayah dan ibu menangis kembali hanya karna aku. Anak mereka yang tak lama lagi meninggalkan mereka.

Kudorong pintu rumahku yang sepertinya tidak terkunci itu, lalu ku tutup pintu itu pelan-pelan. Tapi memang aku ini ceroboh, setelah menutup pintu aku pun terjatuh. Terjatuh karena kepalaku kembali terasa sakit, sangat sakit. Karena terdengar suara gaduh, Tousan dan Kaasan berlari kearah dimana suara itu berasal. Dan alangkah terkejutnya mereka saat menemukan ku terduduk di lantai rumah kami yang dingin.

"NARUTO!" teriak Kaasan ku, Kushina

"A-Aku pulang! Hehehehe.." ucapku polos sambil tertawa bodoh

"Naruto!" teriak Kushina lagi dan ia pun langsung memeluk ku erat. Sangat erat, sampai-sampai aku merasa sesak dibuatnya

"Se-Sesak.. Kaa..san!" kataku terbata-bata

"Ah, Gomen Naru-chan!" Kushina meminta maaf padaku, tapi pelukannya tidak lepas dari ku. Hanya saja dia sedikit merenggangkan pelukannya.

"Naruto, kamu kemana saja sih? Sampai-sampai pulang jam 7 malam. Apa kau tidak bosan-bosannya membuta Tousan dan Kaasan mu khawatir?" tanya Tousan ku, Minato

"Gomen ne Tousan, Kaasan. Aku tadi habis jalan-jalan sama temanku." kata ku terpaksa berbohong

"Kalau begitu, jangan kau ulangi lagi ya! Kaasan benar-benar takut terjadi apa-apa denganmu." ucap Kushina sangat khawatir, dia pun melepaskan pelukannya

"Sekali lagi Gomen!"

"Sudahlah. Lebih baik kau mandi dulu, terus nanti kita makan bersama. Ayo Naruto!" perintah Tousan sambil menampakkan senyumnya yang mirip sekali dengan ku

"Yosh! Aku mandi dulu ya!" pamitku sampil berlari kearah kamarku yang berada tepat di lantai 2

"Dasar!" keluh Kaasan

Tidak sampai 5 menit aku sampai ke kamarku, aku dengan segera mengambil pakaian ku dan bergegas untuk mandi.

Di dalam kamar mandi, aku membasuh tubuhku dengan air shower. Kini rasa dingin menyelimutiku, padahal air shower yang ku pakai ini adalah air hangat. Memang sudah tak aneh lagi kalau aku merasakan semua itu, tapi tetap saja aku menjadi sedih dengan keadaanku yang sekarang. Rapuh. Ya, rapuh dan aku hanya tinggal menunggu saja.

Tak banyak waktu yang ku habiskan untuk mandi, ku pakai baju kesayangan ku lalu ku basuh rambutku yang basah ini. Ku baringkan sebentar tubuhku diatas kasur ku, lalu ku tutup mataku dengan handuk yang tadi kupakai untuk membasuh rambutku dan mencoba untuk rileks.

Beberapa saat kemudian, kudengar ada suara sesuatu yang diketuk. Aku terbangun dari acara tidur-tiduran ku dan langsung mencari sumber suara itu. Alhasil, suara itu berasal dari jendela kamarku. Tanpa pikir panjang, aku pun membuka jendela itu dan alangkah terkejutnya aku saat melihat sosok di balik jendela itu. Sasuke Uchiha?

"Sasuke?" panggil ku heran

"Hai, Naru-koi!" balas Sasuke sambil melompat ke dalam kamarku

"Ke-Kenapa kamu bisa berada di sana? Selain itu, kenapa masuk ke kamarku lewat jendela?" tanyaku sangat terkejut

"Bukankah dulu kau juga begitu?" tanya Sasuke balik, ehem.. tepatnya menggoda

"Iya, tapi kan waktu itu aku masih kecil. Jadi wajar kan!" jawab Naruto sedikit malu dengan kenangan masa lalunya

"Hahaha.. Kau imut deh kalau malu-malu gitu. Hmm, kamar mu sekarang berbeda ya!" ucap Sasuke sambil mengamati kamarku. Karena kamarku diamati seperti itu, aku pun jadi kesal sendiri. Tanpa sadar, aku mengembungkan pipiku yang berwarna tan ini. Tapi yang membuatku kesal lagi, Sasuke malah tertawa melihatku seperti ini. Memang dia tidak berubah dari dulu, tetap menyebalkan. Dasar Teme!

"Huh!"

"Naru-koi jangan marah donk! Aku kan cuma bercanda. Hehehe.. Eh, tumben baru mandi. Abis dari mana?"

"Ka-Kau juga sama kan, baru mandi?" tanya ku balik, tentu saja dengan wajah yang sedikit memerah karena dipanggil Naru-koi. Sepengetahuan ku kan, embel-embel itu biasanya dikasihkan pada istrinya atau suaminya. Aku kan.. hmm.. -blush-

"Huftt.. Aku baru pulang dari sekolah. Biasa, rapat OSIS. Tapi untungnya semua sudah selesai." jawab Sasuke sambil menahan tawa.

"Apanya yang lucu, HAH?"

"Ti-Tidak! Hahahhahaha.." tawa Sasuke pun akhirnya meledak, sampai-sampai membuat ku naik pitam. Tapi semua itu berakhir dengan panggilan seseorang, tepatnya Kaasan ku.

"NARU-CHAN! WAKTUNYA MAKAN!" teriak ibu ku dari arah lantai bawah

"YA!" jawabku singkat

"Eh, Teme! Sudah makan belum? Mau ikut makan gak?" tawarku

"Ah, tidak usah. Eh, aku pulang dulu ya. Jaa.." pamit Sasuke sambil mencoba melompat ke jendela kamarnya, tapi sebelumnya ada sesuatu yang hangat yang menyentuh bibirku. Kubulatkan mataku dan kulihat Sasuke mencium bibirku lembut, dan itu terasa sangat.. hangat. Hanya dalam beberapa detik ciuman lembut ini berlangsung, Sasuke pun melepasnya dan langsung melompat ke jendela kamarnya. Tanpa sadar, wajahku memerah dan hatiku merasa... senang. 'Argghhh! Apa yang kupikirkan!' gerutuku dalam hati. Kututup kaca jendelaku dan tirainya, tapi sesekali kucoba untuk mengintip ekspresi Sasuke dibalik tirai jendelaku. Kulihat dia tersenyum senang dan wajahnya terlihat sangat merah.

Ku tutup tirai jendelaku dan aku pun segera berjalan ke ruang makan, tentu saja dengan wajah yang sangat memerah.

NARUTO's END POV

… OoO …

"Naru-chan! Jangan lupa makan obatnya." kata Kushina mengingatkan anaknya

"Ya!" jawab Naruto sedikit malas, ia pun langsung bergegas pergi ke kamarnya untuk mengambil obat. Tapi baru saja mau menaiki tangga, Naruto tiba-tiba jatuh.

'BRUKKK'

"Aduhhhh!" keluh Naruto kesakitan

"NARU-CHAN! Apa kau baik-baik saja?" tanya Kushina yang tiba-tiba datang bersama Minato

"Ya, aku baik-baik saja. Aku hanya ceroboh saja Kaasan, Tousan. Tidak usah khawatir, ok!" jawab Naruto polos dengan menampakkan senyuman khasnya

"Benar tidak apa-apa?" kali ini giliran Minato yang bertanya

"Benar!" jawab Naruto mantap, dan ia pun mencoba untuk berdiri dan bersikap baik-baik saja. Dia, Naruto.. tidak ingin membuat orang tuanya khawatir dan menangis karnanya. Yang Naruto inginkan hanya satu, melihat orang tuanya tersenyum tulus kepadanya tanpa beban apapun.

"Kalau begitu cepat ke kamar, lalu istirahat yang cukup dan jangan lupa makan obatnya." perintah Minato sembari meninggalkan Naruto, tentu saja diikuti Kushina dibelakangnya

"Ok!"

Setelah itu, Naruto mencoba berjalan menaiki tangga dengan keadaan yang seperti biasanya. Walaupun begitu, Naruto berjalan seperti itu menggunakan seluruh kekuatan yang dimilikinya. Dalam hatinya ia terus menggerutu dan memarahi dirinya sendiri, 'Sial! Kenapa harus saat ada Kaasan dan Tousan sih? Ayolah tubuhku, sebentar lagi. Sebentar lagi, kumohon!'. Tak lama kemudian Naruto pun sampai dikamarnya dan langsung menghempaskan diri ke kasurnya. Kini nafasnya memburu dan banyak keringat yang mengalir dari dahinya. Dengan sesegera Naruto mengambil obat dari laci dekat tempat tidurnya, dan meminumnya. Setidaknya usahanya ini dapat membantu, walaupun hanya sedikit.

Beberapa menit kemudian, Naruto berusaha berdiri dengan tujuan mematikan lampu kamarnya. Setelah lampu kamar padam, Naruto kembali menghempaskan tubuhnya ke tempat tidurnya dan berusaha kembali untuk tidur. Tak lama kemudian, ia pun akhirnya tertidur dengan pulas.

… OoO …

Di lain tempat, Minato terlihat sedang menelepon seseorang dengan ditemani Kushina. Ekspresi mereka kini sangatlat terlihat sedih, sampai-sampai Kushina menangis dipelukan Minato.

"Kaasan, apakah Naruto akan baik-baik saja?" tanya Minato dengan wajah sedih

"Entahlah. Kalau sudah menampakkan ciri-ciri itu, berarti virus itu sudah mulai menyebar keseluruh tubuhnya." jawab Tsunade dari sebrang telepon dengan suara lirih

"A-Apakah perlahan-lahan Naruto akan lumpuh?" kini giliran Kushina yang bertanya

"..." tapi tidak ada jawaban dari Tsunade. Sepertinya ia bingung mencari kata-kata yang tepat untuk diucapkan pada anaknnya itu.

"Kaasan?" panggil Kushina dengan suara parau

"..." Tsunade masih tetap tidak menjawab

"Apakah itu artinya iya?" tebak Minato pada Tsunade

"Maaf, tapi itu benar." jawab Tsunade

"Hiks.. Hiks.. Hiks.. Mi..nato, Naruto.. Naruto.." ucap Kushina sambil menangis

"Sudahlah, jangan menangis. Mungkin ini yang terbaik untuk keluarga kita." hibur Minato pada Kushina

"Kushina, jangan menangis lagi ya! Nanti pagi aku akan ke Konoha, mungkin sampai keesokan harinya. Jadi kau jangan menangis ya!" kata Tsunade dengan suara lembut

"Te-Terimakasih, Kaasan! Hiks.. Hiks.. Hiks.." jawab Kushina masih dengan wajah sendu

"Kushina, ayolah! Berhentilah menangis. Aku tidak mau mendengarkan mu menangis terus. Kaasan mohon!" pinta Tsunade dengan suara yang benar-benar lembut dan dalam setiap katanya terpancarkan kepedulian yang sangat besar

"Kushina, jangan buat Kaasan khawatir donk. Kasihankan Kaasannya," bela Minato

"Benar apa yang dikatakan Minato. Masa kau mau buat aku khawatir sih? Mana Kushina yang selalu ceria dan tegar?" canda Tsunade

"A-Aku sudah tidak me-menangis lagi kok! Kaasan salah dengar kali, iya kan Minato?" bohong Kushina pada Tsunade, dan Minato pun hanya bisa tersenyum maklum melihat tingkah istrinya itu

"Hahahaha.. Iya!" balas Minato sambil tertawa kecil

"Fyuh! Kalau begitu cepatlah kalian tidur. Jangan sampai kalian pun ikut sakit. Ok! Jaa.." pamit Tsunade

"Jaa.. Kaasan!" balas Minato dan Kushina berbarengan

… OoO …

Tengah malam kini telah datang, dan pada jam seginilah banyak orang yang sudah terlelap dalam mimpinya. Tapi tidak untuk Namikaze Naruto. Kini ia sedang mengerang kesakitan dan terlihat sangat mengkhawatirkan. Ia terjatuh dari tempat tidurnya sambil memegang dadanya erat. Yang dirasakannya sekarang adalah kesakitan pada seluruh tubunya dan pada dadanya.

"Arrggggghhhh... SAKIT!"

Karena hal itu, tentu saja membuat orang-orang yang berada dirumahnya terkejut setengah mati. Tak lama kemudian, seseorang membuka pintu kamar Naruto dengan kasar yang ternyata adalah Minato dan Kushina.

"NARUTOOO!" teriak Kushina histeris

"Naruto! Apa kau baik-baik saja? Mana yang sakit?" tanya Kushina tidak tenang

"Sa.. Sakit!"

"Kushina, tenanglah! Lebih baik Naruto dibaringkan dulu diatas tempat tidurnya. Kasihan dia kedinginan." kata Minato menenangkan. Kushina mengangguk, menandakan bahwa ia setuju dengan pendapat suaminya. Tanpa basa basi, Minato akhirnya berhasil mengankat Naruto ke tempat tidurnya.

"Minato! Apa yang harus kita lakukan? Sepertinya keadaan Naruto semakin parah." tanya Kushina bingung

"Hmm, terpaksa kita menggunakan 'itu' lagi."

"'itu'? Maksudmu?" tanya Kushina meyakinkan

"Ya, obat penenang itu. Kita terpaksa menggunakannya, kalau tidak. Keadaan Naruto akan lebih parah dari ini." jawab Minato mantap, "Kushina, kau tunggu disini. Jaga Naruto sampai aku mau datang mengambil obat itu!" tambahnya

"Ya!"

Beberapa menit kemudian, Minato datang dengan membawa obat itu. Obat itu berbentuk sebuah cairan yang harus disuntikan. Tentu saja Minato tidak lupa untuk membawa suntikkannya.

"Kaasan, Tousan! Sakitt.." ucap Naruto menahan sakit

"Tunggu sebentar ya Naru, tahanlah sebentar lagi." hibur Kushina

Tak lama kemudian Naruto berhenti mengerang kesakitan dan kini ia tertidur kembali dengan pulas. Itu karena Minato telah berhasil menyuntikan obat penenang ke Naruto. Setelah yakin akan keadaan Naruto, Minato dan Kushina segera keluar dari kamar Naruto dan bergegas untuk kembali ke kamar mereka.

… OoO …

Pagi kembali datang dengan ditandainya suara kicauan burung dan sinar matahari yang indah. Pagi ini juga merupakan hari kedua Naruto kembali menjalani kehidupan sekolahnya. Awalnya Naruto dilarang untuk kembali bersekolah, tapi karena Naruto memaksa, pada akhirnya ia di ijinkan dengan syarat bilamana terjadi apa-apa dengannya, Naruto harus menghubungi Kushina dan Minato.

Kini Naruto sedang dalam perjalanan menuju sekolah bersama Sasuke. Selama perjalanan, tidak ada diantara mereka berdua yang mau membuka mulutnya. Karena sebal, Sasuke pun membuka mulutnya.

"Eh, Dobe! Apa tadi malam kau mendengar ada suara erangan kesakitan seseorang?"

'GLEKKK' tiba-tiba Naruto membeku di tempat dan keringat pun mengalir dari dahinya

"Naruto? Kenapa kau diam?" tanya Sasuke heran

"Ummm, ano.. Tidak apa-apa kok. Hehehe.." jawabnya gugup, 'Waduh! Itu kan suara eranganku. Gimana ini?' gerutu Naruto dalam hati

"Oh. Lalu, apakah kau mendengarnya?" tanya Sasuke lagi

"Te-Tentu saja tidak Teme! Mungkin kamu bermimpi." jawabku benar-benar gugup tambah bingung

"Hn. Gitu ya." balasnya santai. Setelah itu kami pun melanjutkan perjalanan menuju sekolah. Beberapa saat kemudian, kami bertemu dengan teman-teman sekaligus sahabat kami. Siapa lagi kalau bukan Gaara, Neji, Kiba dan Shikamaru.

"Hai Naruto!" sapa Kiba dengan suara cemprengnya

"Hai!" balas Naruto

"Eh, sini deh!" ajak Kiba sambil menarik tangan Naruto

"A-Ada apa Kiba?" tanya Naruto bingung. Karena Shikamaru dan Gaara penasaran dengan tingkah Kiba, mereka pun mengikuti Kiba dan meninggalkan Neji bersama Sasuke. Sasuke dan Neji saling melirik satu sama lain tanda tak mengerti.

"Eh, kenapa kalian berdua juga kesini?" tanya Kiba sewot

"Biarin. Eh, Kiba. Kenapa kau menarik Naruto?" tanya Gaara balik

"Hmm, emangnya gak boleh?" jawab Kiba ketus

"Sudah-sudah. Pasti kita punya tujuan yang sama kan." lerai Shikamaru

"A-Ada apa sih? Aku gak ngerti!" tanya Naruto bingung

"Eh, Naruto. Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja? Apakah masih sakit?" tanya Gaara panjang lebar

"Gaara, kau sudah tau ya?" tanya Kiba pada Gaara dan hanya mendapatkan anggukan kecil dari orang yang dimaksud

"Aku baik-baik saja kok. Walaupun tadi malam penyakitku kambuh lagi. Hahaha.. Tapi tidak apa-apa kok. Tenang saja!" jawab Naruto sambil tersenyum seperti biasannya

"Kalau begitu, jaga dirimu baik-baik. Oke!" kata Shikamaru memperingati

Kiba, Gaara dan Shikamaru sekarang merasa sedikit lega dengan ucapan Naruto. Walaupun dalam hati mereka, mereka khawatir setengah mati dengan keadaan Naruto. Tak lama kemudian, mereka pun melanjutkan perjalannan ke sekolah bersama-sama. Ada perasaan perasaan dalam hati Sasuke, tapi kalau dipikir-pikir olehnya. Mungkin mereka membicarakan sesuatu yang tidak penting.

… OoO …

Hari ini kehidupan sekolah Naruto berjalan dengan sempurna. Tidak ada acara kambuh-kambuhan, dan hubungannya dengan teman-temannya membaik. Begitu pula dengan Sasuke, pacarnya. Tiap istirahat, pasti mereka berdua pergi keatap sekolah. Tentu saja untuk pacaran.

Waktu pun terus berjalan, dan tak terasa sekarang adalah saatnya murid-murid pulang.

Saat akan pulang, Naruto disuruh Sasuke untuk menunggunya di depan sekolah karena dirinya harus pergi ke ruang OSIS untuk mengambil berkas-berkas yang akan diselesaikannya nanti dirumah.

Kini Naruto berada di tempat ganti sepatu, dimana saat ini ia telah selesai mengganti sepatunya. Saat akan melangkah keluar, tanpa Naruto sadari. Tiba-tiba ia terjatuh dan untungnya seseorang menangkapnya sehingga ia tidak jatuh.

Naruto sangat bersyukur karena ia tidak jatuh, tapi sekarang yang menjadi masalah. Siapa orang yang menolongnya?

Dilihatnya wajah orang yang telah menolongnya dengan gerakan patah-patah, dan ternyata orang yang menolongnya itu adalah Neji Hyuuga.

"Neji?" panggil Naruto terkejut


To Be Continued …


Balasan Review:

Michiru Namikaze:

A-Aku gak apa-apa in Naru-chan qoq. I-Iya kan, Naru-chan? *liat ke arah Naru-chan, Naru-chan ilang entah kemana* Naru-chan~ -muka melas-

Rinyaow love FFN:
So pasti dunk! Orang May-chan sendiri yang bikin bawaannya sedih mulu. huhuhu.. (T.T)

Aurorafyfy:

Gak tau! Masih bingung nentuin akhir ceritanya. huhuhu.. (T.T) Tapi kayaknya gak bakal dulu END deh. Paling-paling chapter 6 atau 5 atau 4 udah END. Tapi, aku harap SAD ENDING. Biar semua orang pada nangis gitu! hohohoho.. ^o^ -plakplakplak- *dihajar Aurorafyfy*

Tori-chan Nadeshiko:

Tori-chan kan udah tau. May-chan itu paling males yang namanya ngetik, walo pun ide udah ada. huhuhu.. T.T

Fi suki-suki:

Fi-chan! May-chan bingung nih mau bkin 'Sad Ending' atau 'Happy Ending'. Soalnya udah terlanjur, huhuhu.. (T.T) Tapi liat aja deh entar. hehehe..

Fuj02:

Gomen kalo masih ada Typho. Soalnya waktu ngetik ada Aniki ku di rumah (Dia lagi pulkam gtu lho), jadi gak bisa ngetik bebas. May-chan kan gak mau para Aniki maupun Tousan and Kaasan tau kedok May-chan. hehehe..

aT-taN:

Iya Kanker. Emangnya napa? -muka tanpa dosa- Nangis ya? Kasian. May-chan panggilin aT-chan aja ya! hehehe..


Kyaaaaa~

Bentar lagi 'THE END' nih!

Asyik~

Asyik~

Asyik~ *ditimpuk readers*

Maen timpuk aja nie readers, May-chan kan belum selese ngomongnya. Huh!

Maksud May-chan bilang 'asyik' itu, tugas bikin fict berkurang gto.

Ngerti? *readers: OOHH! ^o^*

Molongo!

Udah ah, acara bercanda and kiddingnya -?- *copy-paste nih. Hehehehe..*

Gomen ya kalo ABAL, GAJE, ANEH, dLL!

Gomen ne! .

Selain itu, Gomen kalo kualitasnya jadi turun. Gak tau kenapa akhir-akhir ini Q jadi males ngetik and suasana hati tidak sedang menguntungkan. Sekali lagi, Gomen ya! ^^

Oh ya!

Mungkin ada yang bingung dengan penyakit Naruto. Biar ku jelaskan ya!

Naruto itu memang mengidap kanker paru-paru, tapi dia juga mengidap penyakit lainnya.

Penyakit yang lainnya itu semacam virus yang berbahaya yang bisa menimbulkan kerja tubuh mengurang, daya ingat mengurang secara bertahap dan lainnya. Dan bila virus itu sudah menyebar ke seluruh tubuh dengan sempurna, tubuh si korban akan mengalami kelumpuhan. Tapi May-chan gak tau nama virusnya.

Ini juga May-chan tiba-tiba inget sama temen (lebih tepatnya SAHABAT) May-chan yang sakit. Gak beda jauh sih. Cuma dia gak ngidap kanker paru-paru. Sudah 1 tahun kurang dia gak sekolah, dari kelas 1 semester 2 pertengahan dia tiba-tiba sakit. Sakitnya sih Cuma demam, nah lama kelamaan jadi tipes. And parahnya sampai-sampai dia masuk rumah sakit. Duh, kasian deh pokoknya.

Kebetulan sekarang kelas 2 dia sekelas lagi sama aku, tapi sayangnya. Dia harus cuti selama 9 atau 10 bulanan. Keadaannya parah banget, sampai-sampai dia sedikit lupa sama temen-temennya. Bukan sama temen-temennya saja, sama pelajaran yang dia pelajari selama seklah aja dia lupa. Huhuhuhu.. T.T

Sedih banget dah! Padahal dia itu udah pintar, cerdas, jenius, baik dan tidak sombong lagi. Dia juga merupakan sahabatku yang mengerti aku. Begitu pun sebaliknya. Kami selalu membagi kisah sedih maupu senang kami. Hiks.. Hiks..

Eh, kok malah jadi curhat ya? Hmm..

Tak apalah, hehehhe..

May-chan minta doanya ya supaya dia cepet-cepet sembuh, and gak harus cuti segitu lamanya. AMIN..

Hehehehe..

Segitu aja deh dari May-chan.

Jaa..


Thanks for Reading! ^.^

And don't forget REVIEW!

Ok!

REVIEW PLEASE …