Chapter 3

Esai Snape


Sepanjang hari itu semua orang memandang Hermione dan Harry dengan terheran, beberapa dengan berbisik-bisik, bahkan salah satu anak kelas empat yang dikenal Hermione bernama Romilda Vane secara terang-terangan membicarakan mereka saat makan siang, "bukankah mereka berteman? Apakah diam-diam si Granger itu menyukai Harry sekarang setelah ia menjadi Sang Terpilih? Dulu krum, sekarang Harry. Dasar centil!" yang membuat Ron dan Harry mendorong kursi mereka untuk menghampiri Romilda, namun Hermione yang berada di antara mereka menarik baju Ron dan Harry untuk memaksa mereka duduk kembali.

"Sudahlah! Apa yang kalian harapkan?" ujar Hermione jengkel.

"Ia bicara ngawur. Kau bahkan tak menghiraukanku, Hermione." gumam Harry kepada piringnya. Kentara sekali ia masih merasa sakit hati karena selama pelajaran Mantra tadi Hermione sama sekali tidak berbicara padanya.

"Semua yang dibicarakan tak ada satu pun yang benar." Kata Ron yang saat ini sudah melahap sepotong daging asap.

Setelah itu yang terdengar hanyalah denting sendok dan piring yang beradu, tak ada satu pun dari mereka yang bersuara, tampaknya mereka terbenam dalam pikiran masing-masing.

Setelah makan siang, Hermione mengucap selamat tinggal kepada kedua sahabatnya dan bergegas menuju kelas Arithmancy. Di depan Aula Besar ia berhenti untuk menoleh ke belakang ke tempat ia duduk tadi, tampak Ron yang sedang memunggunginya dan ia bersumpah sedetik yang lalu melihat Harry menatapnya, namun sekarang Harry telah kembali menyibukkan diri membaca buku milik Pangeran.

Apakah Harry akhirnya menghindarinya? Atau apakah efek Ramuan Cinta itu akhirnya mulai pudar?


"Ron!"

Ron menoleh ke belakang untuk mengetahui siapa yang memanggilnya. Seorang wanita dengan rambut panjang coklatnya yang berkibar seirama dengan langkah kakinya menuju ke arahnya. Ia tak mengenalinya sampai akhirnya wanita itu berdiri tepat di hadapannya. Lavender Brown. Seingatnya penampilan Lavender jauh berbeda dari saat ini. Rambutnya yang dulunya bergelombang, sekarang lurus. Dan yang paling membuat Ron terkesan, bandana merah muda yang biasa dipakai Lavender akhirnya dilepas. Ia terlihat lebih manis.

"Er...a..a..ada apa, Lavender?" tanyanya tergagap. Sial! Kenapa harus tergagap?

Lavender hanya tersenyum manis, Ron senang ia tidak mengikik seperti biasanya.

"Kau lucu sekali, Ron. Aku membuat beberapa perubahan, apa kau menyukainya? Atau malah terlihat aneh untukku?"

"Tidak, tidak sama sekali." jawab Ron kelewat cepat. Ron yakin wajahnya sekarang merah padam.

"Trims. Anyway, good luck untuk latihan pertamamu! Semangat!" Lavender menepuk pelan pundak Ron seraya berjalan menuju meja makan dan duduk di dekat Parvati.

"Kau menyukainya kalau begitu."

Ron tersentak kaget dan mengalihkan pandangannya dari Lavender. Sekarang dilihatnya ekspresi jail Harry di depannya. Ia tersenyum menggoda.

Ditinjunya pundak Harry, "berhenti menggodaku! Dan jangan sampai ada yang tahu!"

"Jadi itu benar? Kau menyukainya?" tanya Harry yang bersusah payah menahan tawa.

"Tidak! Maksudku, belum! Ah sudahlah, aku tak tahu bagaimana perasaanku terhadapnya. Dia beda, dia sudah tidak banyak mengikik, tapi..." Ron memandang tempat Hermione menghilang tadi saat berbelok di depan Aula Besar.

Ia juga tak tahu bagaimana perasaannya terhadap Hermione. Dua tahun lalu saat ia tahu bahwa Krum mengencani Hermione yang diinginkannya hanyalah meninju Krum dan menyuruhnya menjauh dari Hermione. Dan semalam ia masih ingat bagaimana sakitnya melihat orang di depannya ini berusaha mencium Hermione. Namun sampai sekarang ia bahkan tak mengerti siapa Hermione baginya. Apakah sebatas sahabat? Atau Adik? Atau mungkin lebih dari itu?

"Tapi apa?" Harry memecah lamunannya.

"Tak apa-apa. Abaikan saja, Harry. Ayo ke Ruang Rekreasi! Aku harus menyelesaikan esai-biadab-ku untuk Snape."

Harry menutup bukunya dan mengikuti di belakang Ron.


Hermione berlarian sepanjang koridor menuju kelas Pertahanan terhadap Ilmu Hitam, Profesor Victor rupanya memberi Hermione pujian berlebihan di akhir pelajaran mengenai esai yang ditulisnya. Jelas Hermione senang sekali karenanya, namun karena itu pula sekarang ia yakin ia akan terlambat tiba di kelas Snape.

Ia masih terengah-engah ketika sampai di dalam kelas. Seperti dugaannya, anak-anak sudah duduk di tempatnya masing-masing dan mulai mengeluarkan buku serta esainya. Tanpa menoleh kepadanya, Profesor Snape berkata, "potong sepuluh angka dari Gryffindor karena keterlambatan! Dan cepat duduk di tempatmu, Miss Granger!"

Tanpa perlu disuruh dua kali ia langsung menempati tempat duduk kosong di meja sebelah Harry dan Ron. Ia langsung mengeluarkan buku kemudian mencari esainya. Wajahnya langsung panas, ia tidak menemukan tanda-tanda perkamen berisi esai yang telah dikerjakannya sejak akhir pekan lalu di dalam tasnya. Hermione terus merogoh-rogoh tasnya. Kenapa dia bisa setolol ini? Hari ini benar-benar kacau! Tidak biasanya dia pelupa begini!

Harry menoleh padanya dari meja sebelah, rupanya ia merasakan kepanikannya kemudian bertanya sambil berbisik, "ada apa, Hermione?"

"Kurasa aku keliru membawa esai Transfigurasi alih-alih Pertahanan terhadap Ilmu Hitam." jawabnya sambil menggigit-gigit bibirnya cemas.

Terpikir olehnya menggunakan Mantra Panggil. Namun rasanya tak mungkin karena jarak Asrama Gryffindor yang jauh dari kelas itu berarti akan memakan waktu lama, sedangkan Snape sudah berkeliling untuk mengambil esai mereka. Saat Snape tiba di mejanya ia melihat dari sudut matanya Harry memasukkan sesuatu ke dalam tasnya.

"Mana esaimu, Miss Granger?" tanya Snape.

"S..s..saya..."

"Kau apa? Tidak mengerjakannya? Wah, wah.. ini hal baru yang patut dirayakan. Dengan detensi, mungkin?" kata Snape.

"Tidak! Saya bersumpah sudah mengerjakannya, Profesor!"

"Aku tak butuh sumpah, aku butuh bukti. Tak ada bukti fisik bahwa kau mengerjakannya, Granger. Detensi besok pukul tujuh malam di kantorku! Rupanya kau mulai meremehkan kelasku." kata Snape yang sekarang telah berjalan melewatinya untuk mengambil esai di meja Harry dan Ron.

Ia merasa panas di pipinya, kemudian matanya. Ia menahan air mata jatuh. Oh aku tak boleh menangis! Tetapi ini pertama kalinya dia melaksanakan detensi sendirian dan bersama snape pula. Ini tak mungkin terjadi.

Namun sedetik kemudian ia mendengar Snape bertanya di meja sebelahnya,

"Mana punyamu, Potter?"

"Saya rasa saya lupa mengerjakannya, Sir." jawab Harry dengan ringan hingga seluruh kelas sekarang menatap terpana padanya. Termasuk Ron yang sekarang memandang Harry dengan mulut ternganga.

"Ah ya, kau ingin menemaninya detensi, begitu, Potter? Baiklah, aku tak akan menolakmu melakukan detensi dengan senang hati. Akhirnya kau dapat tempat kencan yang bagus, eh-Potter?" Snape menyeringai kemudian berjalan menjauh.

Setelah Snape di luar jangkauan pendengaran barulah Hermione berbisik.

"Harry! Apa yang kau lakukan? Esai itu ada di dalam tasmu, kan?"

Harry hanya mengangkat bahu. "Kau tak pernah detensi sendirian, kan, Hermione? Aku hanya ingin menemanimu."

"Buka halaman 394 dan tutup mulut kalian!" kata-katanya diputus oleh perintah Profesor Snape dari meja guru.

Hermione tahu Harry tidak seharusnya melakukan ini, namun ada percikan kebahagiaan dalam dadanya saat Harry berkata begitu. Ia tak tahu Harry bisa semanis itu.


Ron, Hermione, dan Harry berjalan menyusuri koridor setelah keluar dari kelas Snape yang pengap. Ron memulai topik pembicaraan yang sejak di kelas tadi sudah gatal ingin dibicarakan olehnya.

"Harry! Apa kau gila? Apa yang kau lakukan? Baru semalam kau detensi dengannya dan sekarang kau sengaja ingin detensi atau bagaimana?" tanya Ron yang sekarang berjalan di sebelah Harry dan Hermione.

"Yep, aku sengaja. Hermione tak pernah detensi sendirian dengan Snape, Ron." jawab Harry tenang.

"Yah, meskipun harus kukatakan kau tak perlu melakukan itu, tapi kuakui bahwa tindakanmu barusan manis sekali, Harry." timpa Hermione yang sekarang tersenyum pada Harry melalui Ron.

Ron merasakan sensasi aneh di perutnya saat melihat senyum Hermione yang ditujukan pada Harry. "Kalau aku tahu dari awal, aku juga akan melakukan hal yang sama!"

Ron tak percaya ia mengatakan hal konyol seperti itu. Oh, apa yang dia pikirkan? Idiot!

Hermione tertawa kemudian berkata, "But you didn't, Ron."

Entah mengapa Ron merasa kalah telak. Akhirnya ia mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Latian Quidditch malam ini, eh-Harry?"

"Yep, persiapkan dirimu, ini latihan pertama kita." jawab Harry serius.

"Oh, kuharap tidak banyak anak yang menonton." kata Ron penuh harap.

"Entahlah, Ron. Tapi kurasa jadwal latihan Quidditch Gryffindor sudah menyebar luas, tadi di toilet aku mendengar beberapa cewek Ravenclaw janjian akan menonton latihan kalian." kata Hermione

"Ah tentu saja, Sang Terpilih! Potter Raja Kami, Ia tak membiarkan Snitch lari! Potter Raja Kami!..."

Kedua sahabatnya tertawa di sebelahnya. Ia sengaja mengganti lirik Weasley Raja Kami dan menyanyikannya di sepanjang koridor.

Ia sungguh berharap tak harus terlibat masalah percintaan dengan kedua sahabatnya, sungguh sulit membayangkan kedua sahabatnya yang kini tertawa lebih keras di sebelahnya harus berdiam-diaman dengannya maupun satu sama lain hanya karena masalah cinta. Sungguh sakit. Namun ia sungguh mencemaskan beberapa hal. Apa lagi yang akan dilakukan Harry terhadap Hermione? Baru sehari dan Hermione sudah tersenyum seperti itu pada Harry.

Shit! Ini sungguh rumit!


Author's note (edited)

Trims buat semua yang baca, review kalian amat berarti. Next chapter update tanggal 4 Februari 2016 yaa.