-A Story About You-
.
.
Original Chara: Tite Kubo
Story: Ayra el Irista
.
.
.
WARNING:
OOC, AU, GAJE, TYPO(S), Abal, Kacau, Membosankan, Bahasa ngawur, Tanpa Pemeriksaan Ulang dan Dan seterus nya dan seterusnya...
Rated : M (for safe)
Pairing: Ada banyak (Almost all charas in Watch in Time XD)
(^_^)
.
.
.
Chapter III
~Ulquiorra's Side Story~
Suara Tangisan
Apa yang paling ku benci?
Melihat wanita menangis.
Kenapa?
Karena itu membuatku muak.
Mereka mahluk lemah yang hanya bisa merengek dan meneteskan air mata. Tak bisa mengangkat pedang untuk membela diri—atau bahkan memukul lawannya. Mahluk seperti itu hanya merepotkan. Tak bisa diandalkan dan menyusahkan.
Tapi ku akui—tangisanmu yang paling menakutkan bagiku.
.
.
.
Hueco Mundo tengah berada di cuaca yang sangat buruk. Bukan berarti cuaca di kerajaan ini akan berubah. Tidak. Setiap hari hanya matahari yang bersinar sangat terik dan bulan di malam hari. Tapi hari ini suhu yang melanda benar-benar panas. Seolah bisa memunculkan api di daun yang kering dan melalap sadis.
Keringat seperti tak habis mengucur layaknya perasan baju. Membuat jubah kerajaan basah dan mengharuskan mandi. Untuk ke tiga kalinya, aku sudah mengguyur tubuh untuk mencari kesegaran.
Angin bertiup kering. Khas daerah gurun. Membawa serta butiran-butiran debu untuk hinggap di dinding istana. Mengharuskan pelayan kebersihan untuk bekerja lebih keras besok karena badai pasir sepertinya akan datang.
Menarik nafas, ku tutup laporan dan memberikannya kembali pada Aaroniero, Sang Panglima Kerajaan. Bangkit dari kursi beledu biru gelap dan melewatinya yang membungkuk. Mendorong pintu dari dinding tebal hingga terbuka separuh.
"Siapkan laporan penaklukan daerah utara dan serahkan pada raja besok." perintahku tanpa menoleh dan langsung keluar saat Aaroniero mengatakan 'baik'.
Langit biru sedang sangat cerah. Diatasku. Menggumpal awan putih yang bergerak pelan. Sementara di kejauhan—awan kelabu mulai datang merayap. Bukan pertanda hujan. Tidak—Hueco Mundo tak pernah di turuni hujan. Itu hanya fenomena yang biasa di sini. Dan kami tidak mengharapkan tetesan itu jatuh karena tidak kekurangan sama sekali.
Bagaimana caranya? Itu urusanku.
Istana Hueco Mundo tidak indah. Hanya sebuah puri berwarna abu dengan bendera kerajaan berkibar di puncak menara. Tak ada tumbuhan hidup, kolam dari batu pualam atau taman labirin yang hijau. Ayah angkatku—Aizen Sousuke, memberikan wewenang untuk mengubah istana sesuai keinginanku. Tapi pucat dan sepi itu adalah suasana yang paling memuaskan.
Istana barat adalah tempatku tinggal. Dimana segalanya bernuansa gelap. Jendela besar yang tertutup kaca buram; dinding kosong tanpa lukisan; dan penerangan yang sangat minim. Meski ayah sering meminta untuk berhati-hati karena gelap, mata cemerlang sehijau emerald ini bisa melihat dengan baik. Dan pendengaran tajamku—aku bisa mendengar apa saja meski berada sangat jauh seperti seekor kelelawar.
Kebisingan sering kali mengganggu. Dan biasanya cukup ku abaikan dan berkonsentrasi pada satu hal. Suara-suara yang saling bertumpuk, tawa atau teriakan—aku bisa menolaknya. Tapi hanya satu—yang tak bisa ku tolak
"Hik…hik…hik…"
Suara tangisan.
Milik siapa?
Langkah berhenti begitu saja. Mata menatap kosong. Pada anak tangga yang berkelok curam. Panjang seperti tubuh ular yang melilit batang pohon. Sempit dan lembab. Layaknya dimensi kosong yang hampa. Tak ada hunian selain suara berdengung yang—menyebalkan.
"Lepaskan…lepaskan aku…"
Percakapan mulai terputar. Seolah semua terjadi di depan mata. Keceriaan tawa sumbang yang menjijikan. Menggerakan kembali kaki yang sempat menjedakan diri.
"Lihat, dia cantik sekali."
"Tubuhnya—sungguh menggiurkan."
"Jangan sentuh!"
Perempuan—itu kenapa aku sangat membenci mereka. Suaranya melengking dan juga seperti kucing. Mengeong manja saat di tatap namun mencakar begitu di sentuh. Naïf sekali.
"Ah—Pangeran Ulquiorra."
Stark langsung membungkuk begitu melihatku datang. Berdiri di atas tangga dengan wajah malas. Menatap tiga lelaki dan satu perempuan berambut orange panjang yang bersedekap dengan gemetar. Seperti kucing yang tercebur di selokan. Terlihat kumal.
"Kami tak sengaja menangkap Putri Karakura di perbatasan gurun." jelasnya tanpa diminta.
Karakura?
Ah—jadi wanita itu adalah Putri Bodoh dari Karakura.
"Dia tersesat dan tertangkap oleh prajurit yang sedang patroli tanpa pengawalan."
Jadi benar—dia sangat bodoh. Tidak—dia lebih dari sekedar bodoh. Seorang putri pergi seorang diri tanpa pengawal? Kurasa otaknya tidak bekerja.
"Lepaskan! Lepaskan!"
Gadis itu meronta. Menarik-narik tangannya yang terseret Yammy untuk masuk ke dalam balai pertemuan. Menggigit bibirnya yang sudah mengeluarkan darah untuk menahan isakan sementara Nnoitra mengusap-usap tangan dengan seringai lebar.
Tontonan itu membosankan. Tidak penting dan tidak menarik Tapi entah kenapa—suaranya terus menggesek ngilu. Menjengkelkan. "Apa yang mereka lakukan?"
Stark mengerjap kemudian berdehem. "Ah—itu—kurasa mereka ingin mempermalukannya."
Memang mahluk rendah. Memakan satu gadis dengan tiga orang. Seperti itulah kalian.
"Tidak—tolong—"
Tangan Putri Karakura terikat di sebuah meja di tengah balai. Keduanya—terjerat tambang kasar yang membuat pergelangan tangan terluka. Terus menggeliat untuk melepaskan diri dengan wajah panik. Teriakan melengking yang akhirnya memaki. Hingga membuat Nnoitra dan Yammy semakin terbahak. Mengumpulkan mata dengan sinar tidak sabar. Menanti kelanjutan yang akan terjadi seperti menonton pertunjukan murahan.
"Stark—" Udara di sekitarku terasa pengap. Gerah sekali—tanpa sebab. Apakah cuaca semakin buruk? "Apa gadis itu cantik?"
"Eh?"
Stark nampak terkejut. Sekali lagi mengerjap dan mengamati perempuan yang setengah badannya kini sudah terlentang. Menendang-nendang saat Yammy menyentuh gaunnya.
"Ya—" bisik Stark menelan ludah lalu menunduk untuk menjawab. "dia cantik."
Tia Harribel sedang bersedekap di dinding gerbang saat matanya tiba-tiba membelalak. Melerai tangan dan berdiri tegak dengan terkejut. Melihat seorang bermahkota muncul di tengah-tengah Yammy dan Nnoitra yang membuat semuanya berjengit.
"Eh—eh—"
"Pa—Pangeran Ulquiorra—"
Putri Karakura yang bodoh itu terpaku. Melihatku seperti hollow pelahap jiwa. Matanya yang abu menatap di antara cemas dan takut. Sementara aku tak mengerti—pada diriku yang melesat kemari.
Bukannya tadi aku mau pergi?
"Pangeran Ulquiorra."
Semua membungkuk—memberi hormat.
Tapi iris yang tak bisa di atur ini justru terus melekat di wajahnya; rambutnya yang berantakan; bibir kecil yang merah karena darah; juga dada sesaknya yang naik turun di balik gaun putih.
Dia cantik? Mungkin sedikit.
Tanganku berhenti di atas meja—tanpa diminta. Mengurungnya yang terkesiap dan menahan nafas. Mengamati ketegangan yang perlahan merebak dan menggiurkan untuk dipecahkan.
Kucing ini berbulu halus. Berbau caramel yang wangi. Tidak menggeram saat di sentuh. Atau mencakar saat mengamuk.
Dia—
"Ukhh—"
mengerang saat kupingnya yang merah terjilat. Rasanya juga manis. Seperti permen. Mungkin dia jenis yang berbeda.
"Kenapa kau tidak berteriak seperti tadi?" tanyaku merobek gaun paksa dan ia memekik. Menggeleng keras saat dadanya tidak tertutupi lagi. Membuat suara tertahan di sekeliling yang pasti terkejut. Tapi aku terlalu kikir untuk membagi dengan yang lain. "Keluarkan suaramu." Tubuhku bergerak mendekat. Hingga ia tertutupi dengan sempurna dan—terisak.
Lagi-lagi.
Kepalaku terasa berdenyut. Seolah mahkota berlian ini dibuat dari paku besi berkarat. Menusuk dan menyebar racun. Memutar isi otak seperti roda bergerigi tajam.
"Ja—ngan—"
Ini mengerikan. Suaranya seperti rayuan. Antara meresahkan dan nyaman. Menjatuhkan pengendalian diri ke jurang paling dasar. Berpindah ke tekanan panas yang menguap seolah meledak jika tidak dikeluarkan.
"Nghh—hhh—" lenguhnya saat leher mulai terjamah.
Dan itu—merdu. Menghentak tangan untuk meremas dadanya yang kencang. Menanamkan desahan dalam ketika puncak dada bertemu dengan mulutku yang penuh. Menggigit pelan dan miliknya ini—sempurna.
"Ahh—henti—hh—"
Semakin kencang ia berteriak, maka aku bertindak semakin gila. Ini ancaman. Dia membunuhku. Semua kontrol pada tubuh brengsek yang tak mau bergerak sesuai perintah ini—justru dia mengambil alih.
"Kalian—" Aku menggeram seraya menatap tajam. Melewati dagu putih Putri Karakura yang menengadah kuat. "ingin melihat ini sampai selesai?"
Tarikan nafas yang tercekat terdengar jelas—bagiku. Mata membesar berserakan. Terkubur dalam ketakutan pekat. Merubah hawa panas yang bisa memanggang hidup-hidup datang memenuhi ruangan.
"Ma—maaf, Pangeran."
Meski terkejut, Yammy menunduk dan mundur. Diikuti Nnoitra yang berwajah masam dan Syazel dengan tatapan kecewa. Memupuskan harapannya untuk bisa meneliti seorang Shinigami.
"Semua keluar!" teriak Stark. Memboyong seluruh penghuni di balai pertemuan pergi dan dia berjalan paling belakang.
"Stark."
Ia berjengit. Berhenti dan berbalik tanpa menatap. Terus menunduk hormat padaku— pewaris tunggal tahta Hueco Mundo.
"Kau benar." Lidahku menyapuh naik dari tulang belikat hingga ke dagu. Mengeluarkan lagi sengguk ketakutan yang—Demi Penguasa Tertinggi. Rasanya sungguh mencabik dada. "Dia cantik."
Gadis itu terkejut. Degub jantungnya yang tak beritme seperti musik bernada rusak. Berisik. Tapi semua seakan sirna saat rona merah memenuhi pipinya yang putih. Mengganti semua simfoni menjadi terlantun halus. Mengagumkan—caranya menjadi satu-satunya suara yang bisa ku dengar.
"Saya permisi, Pangeran."
Aku mungkin—sakit. Tiba-tiba merasa dingin dan menggigil. Menos Grande sekalipun tak mampu membuatku ketakutan. Tapi dia—pembunuh licik. Bahkan kini detak jantung—berdegub tak tahu aturan. Menyesakan sekali.
Kutarik diri menjauh dan berteriak kencang. Seperti sekarat. Melotot ngeri. "Pengawal!" Dia mengerjap. Gadis itu—membubuhkan wajah polos menggemaskan ke mataku yang—perih.
Brengsek!
"Pengawaaaaal!"
Pintu terbuka dan muncul dua prajurit berlari tergopoh-gopoh. Membuatku mengumpat sendiri dan melepas jubah. Melemparnya dengan tatapan tajam ke tubuh wanita yang masih terikat di atas meja. Keanehan yang gila. Ini gila!
Bahkan aku tidak mau tubuhnya terlihat oleh lelaki lain.
"Bawa dia." Aku terengah. Antara emosi dan juga rasa menggigit yang mencengkram hati. Menyedot tenaga hingga nyaris habis. "Kembalikan dia ke Karakura."
"Eh?"
"Pastikan dia sampai disana dengan selamat." ancamku bermata nyalang dan segera keluar. Ber-shunpo cepat dan bergelayut di dinding kamar begitu tiba. Terasa seperti es. Menyengat. Sesuatu yang biasanya ku sukai, namun sekarang tidak menenangkan.
Rasanya berbeda—kehalusan dan suhu yang terkecap tak sama. Ini berbeda dengan yang tadi.
"Brengsek!"
Aku menjulurkan tangan meraih sudut meja dengan dahi berkerut pucat. Di cuaca sepanas Hueco Mundo, aku mengeluarkan keringat dingin. Aku pasti sakit. Benar-benar sakit.
"Kucing sialan." Nafasku terbelah-belah. Terjatuh dan akhirnya bersandar di kaki meja. Menarik satu kaki dan menumpu tangan. Tersengal berat. Menatap ubin mengkilap yang mengingatkan kembali pada mata abu yang mengelurakan cairan asin. Memutar wajah mempesona itu berulang-ulang. Yang berawal dari sebuah—
Suara.
"Aku—sangat membenci suaramu."
Bisikanku tertelan di deru jantung yang memukul kencang.
.
.
.
Hoopla…..akhirnya chapter 3 update juga. XD
Jadi, sekarang minna-minna sudah tahu apa penyebab Ichigo murka dan menyerang Hueco Mundo?
Silakan tebak apa yang terjadi dengan Ulquiorradi chap ini (^_^) #smirk
Orihime disini ngga banyak dialog #ya iyalah kan ini Ulquiorra's side story (_ _)"
Tapi sejujurnya, author cukup menyukai karakter Orihime yang ceroboh, polos, agak telmi (mwahaha…peace), dan juga pemalu. Menurut author dia adalah wanita banget. XD #hahahak
Mungkin kebanyakan lelaki akan suka dengan tipe seperti ini…#mulai ngelantur
Hanya orang baik yang mengatakan perbuatan Ulquiorra adalah sebuah tindak penyelamatan. Di chap 5 (kalo ngga salah), Orihime mengatakan jika Ulquiorra tidak bermaksud mempermalukannya, tapi justru menolong. Lihat, betapa polos dan positifnya pemikiran dia itu #hahahak…dia menggemaskan sekali bukan.
Terima kasih yang sudah menyempatkan baca dan meninggalkan review XD. Arigatouu minnaaa…
Dan ini balasan review yang ngga log in XD….arigatouuuuuu:
Fuuchi: Aaaakhhh….Fuuchi-saaaaan #peluk-peluk-peluk
Hontou ni arigatou sudah mereview XD…#pegang tangan trus goyang-goyang
Nee…gyaaaa….terima kasih karena sudah suka XD !
Author juga seneng kalo Fuuchi-san suka….#buahahaha
Emm…author biasanya ngundang pawang ujan biar jatohnya deres #gyahaha
Tapi ini lumayan lama kok…idenya sudah ada…tapi tiga fic ternyata bukanlah ide yang bagus (_ _)"
Karena jadi tertunda-tunda…haha…gomen…
Itu adalah PR buatmu Fuuchi-san….rasakan! Jd sering cek ffn! Hahaha #muka bengis dengan latar belakang ombak gede
Karena di cerita banyak yang ngga detail, jadi dibuat side story. Soalnya pairing Ichiruki dan akan terfokus kesana. Jadi chara yang lain ngga kebagian. Hahaha….ini murni belas kasihan author yang sangat baik :P
Yeayyy…sekali lagi terima kasih karena sudah review dan semoga suka chap yang ini (meskipun UlquiHime). Happy reading dan ja nee Fuuchi-saaaan (,)/
Wakamiya hikaru: Hiiikaaruuuuu-saaaaan….selamat datang di chap tiga! XD #hug
Terima kasih karena sudah suka dan ah, benarkah Hikaru-san suka UlquiHime? Semoga chap yang ini sesuai deh….#heheheee
Meskipun mungkin agak ngga nyambung, tapi tolong disambung-sambungin aja….hahaha
Sekali lagi terima kasih banyak karena sudah mereview dan happy reading then. Ja neeee Hikaru-saaan (^_^)/
Oke this is the end of chapter 3.
See you soon on chapter 4 and babayyyy….
/(^_^)/
