Title: Darmawisata

Disclaimer: J.K Rowling

Pairing: DracoxHarryxDraco (Aku suka Drarry dan Harco, hahaha #ketawa bejat) and other couple

Warning: YAOI! BL! GAYNESS! OOC! LGBT! YURI(?)

Sinopsis:

Kegiatan Darmawisata di Hogwarts! Teman baru, petualangan baru, bahkan cintapun bisa tumbuh disini/ "Aku normal, aku menyukai gadis, aku normal!" / "Baru tahu aku, tuan muda Malfoy seorang pencuri buah." / Tangan Harry ditarik paksa, dan kini dirinya terbaring dikasur, dibawah tindihan Draco Malfoy / Wah... wah... gerakanmu cepat juga, Draco /

.

..

Darmawisata

Dyn Whitleford

..

.


Kegiatan Hari Kelima


"Yei, jalan-jalan," Cho berseru riang sambil menyantap sarapannya.

"Makannya pelan-pelan saja, Cho. Lihat sausnya jadi belepotan dimulutmu."

Tasia mengelap sekitar bibir Cho dengan sabar.

Perasaan Harry saja, atau Cho memang sengaja bersikap kekanakan agar Tasia mengurusnya ya?

Hari ini mereka akan mengunjungi tempat-tempat wisata yang berada di Tayan Island. Selain tempat wisata yang indah, pulau ini juga kaya akan makhluk magisnya, itulah yang membuat Harry bersemangat pada hari ini.

Tempat pertama yang akan mereka kunjungi adalah Air terjun. Mereka diizinkan untuk bermain air selama disini. Tanpa ragu, Harry berlari bersama anak-anak Gryffindor lain dan menceburkan diri bermain air. Draco hanya menatap dengan malas.

'Sekali Gryffindor, tetaplah Gryffindor.'

"Kau tidak mandi, Malfoy?" Tasia bertanya heran, belakangan ini kan, dimana ada Harry disitu ada Draco.

Draco mengedikkan bahunya dengan malas, membuat Tasia ikut mengedikkan bahu dan melihat Cho yang asik bercengkrama dengan teman-teman Ravenclaw-nya disekitar air terjun.

"Harry!" Tasia mendadak berteriak, diikuti teriakan gadis-gadis disekitar air terjun.

Draco langsung berlari menuju tempat Harry, yang ternyata terjatuh dari tebing yang cukup tinggi menuju sungai yang merupakan aliran air terjun. Teman-teman Harry yang lain hendak menolong Harry -yang belum juga muncul ke permukaan, namun mereka kalah cepat dengan Draco yang sudah lebih dahulu menyelam dan menolong Harry yang tidak sadarkan diri.

"UHUK!" Draco terbatuk saat kepalanya muncul di permukaan sambil mengangkat tubuh Harry yang pingsan.

Murid yang lain segera menolong Draco untuk menarik tubuh Harry ke permukaan sekaligus membantu menarik Draco.

"Kau tidak apa-apa Malfoy?" Tasia membantu Draco untuk duduk, dan menepuk-nepuk punggung pemuda itu.

"Potter?"

Tanpa memperdulikan keadaannya sendiri, Draco berusaha bangun dan berjalan dengan langkah limbung. Namun mendadak kepalanya merasakan pusing yang teramat sangat dan pandangannya menjadi gelap, saat itulah kesadaran Draco Malfoy hilang.

"Bahkan saat darmawisatapun kau tidak berhenti terkena masalah Potter..." keluh McGonagall.

Harry hanya bisa tertawa garing menanggapi komentar Proffessor yang juga merupakan kepala asrama Gryffindornya.

"Usahakan jangan terlalu banyak berjalan Potter, dan sekalipun kau harus berjalan selalu gunakan tongkat penyanggamu. Ramuan memang sudah diberikan tapi tidak akan efektif jika kau tidak mengistirahatkan kakimu."

"Baik Proffessor."

"Kau yakin bisa ke kamar sendiri?" tanya McGonagall khawatir.

"Tentu Proffesor, saya malah lebih mengkhawatirkan keadaan Malfoy sekarang."

Proffesor itu mengangguk dan membiarkan Harry kembali ke kamarnya.

Harry dan Draco pulang diantar oleh Hagrid, kaki kanan Harry terkilir saat ia ingin melompat dari tebing, dan Draco yang menyelamatkannya sekarang malah terkena demam. Jadilah mereka berdua dibebaskan dari kegiatan hari ini.

Dibantu dengan tongkat penyangga, Harry berjalan tertatih menuju kamarnya, setelah sebelumnya singgah kedapur untuk meminta peri rumah memasak dan mengantarkan makanan untuk mereka berdua. Untungnya kamar mereka dilantai satu, ia tidak perlu susah payah untuk menaiki tangga.

Sesampai dikamar, Harry segera mengecek kondisi Draco, panas pemuda itu masih tinggi. Sayang sekali dikastil ini tidak ada kamar perawatan seperti di Hogwarts, karena itu mau tidak mau murid yang sakit atau cidera akan dirawat dikamar masing-masing.

"Wingardium Leviosa," seru Harry. Ia melayangkan baskom yang telah ia isi air sebelumnya beserta handuk kecil, dan mengompres dahi draco. Selang beberapa puluh menit, ia akhirnya bisa bernafas lega karena nafas pemuda itu menjadi teratur dan panasnya menurun.

Perlahan mata Draco terbuka, sekali lagi Harry menghela nafas lega.

"Potter?" Draco tampak linglung seingatnya tadi ia sedang menolong anak Gryffindor ini di air terjun.

"Kau menjadi demam setelah menolongku Draco, dan sekarang kita ada dikamar. Professor McGonagall membebaskan kita hari ini dari kegiatan hari ini. Oh ya, minum dulu ramuan ini."

Harry membantu Draco meminum ramuannya. Terlihat sekali dari bicara dan bahasa tubuhnya bahwa Harry benar-benar menyesal membuat Draco menjadi demam seperti ini. Mungkin tidur dilantai selama Darmawisata ini membuat daya tahan tubuh Draco menjadi rentan.

"Jangan memanggilku dengan nama depan," seru Draco sambil mengelus kepala Harry. Tak tega juga ia membuat Harry jadi merasa bersalah begini.

"Kenapa?" Harry menatap lurus kedua iris mata Draco, "kenapa aku tidak boleh memanggilmu dengan nama depan?"

"Kau sendiri, bukan tidak mau aku memanggilmu depan nama depan?" kilah Draco yang berusaha mengalihkan pandangannya kearah lain.

Harry mendekatkan tubuhnya ke Draco, sedikit tidak terima Draco mengalihkan tatapan darinya.

"Aku tidak keberatan kau memanggilku dengan nama depanku."

Mata Draco serasa berputar cepat, 'wajah Potter terlalu dekat!' pikirnya panik.

"Bohong. Kau sendiri yang menolak kemarinkan."

Harry cemberut lucu. Ia menaiki tubuh Malfoy yang setengah duduk dan berniat untuk mengalihkan tatapan Malfoy hanya kepada dirinya. Namun kaki kanannya kembali sakit, alhasil ia kehilangan pondasi dan membuatnya mendekap sempurna tubuh sang Slytherin.

"Aduh..."

"Kau tak apa?" Draco yang khawatir akhirnya menatap Harry. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding samping ranjang, dan membetulkan posisi Harry agar duduk dipangkuannya, bukannya menindihnya dengan kaki terkilir begini.

"Tubuhmu ringan sekali, apa kau tidak makan?" tanya Draco serius, ia sedang demam dan bahkan masih mampu mengangkat tubuh Harry yang menindihnya.

"Aku makan kok," jawab Harry sambil memainkan ujung piyama Draco. "Hm... aku bukannya menolak, hanya agak malu saja."

Harry menunduk dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya.

Draco tidak yakin, apa yang menggerakan tubuhnya saat ini, ia mengangkat dagu Harry agar bertatapan dengannya. Sepersekian detik, dikecupnya dahi Harry Potter.

Harry tercengang, begitu juga Draco -Ia yakin demam sudah membuat sel otaknya rusak.

"Maaf sudah membuatmu sakit..." seru Harry lirih.

Sementara Draco yang baru saja menyadari apa yang telah dilakukannya pada Harry, kembali panik. Sudahlah memangku, memeluk dan sekarang mengecup. Ini bisa disebut pelecehan seksualkan? Yang lebih parah, ia melecehkan pemuda bukan seorang gadis! Dan pemuda itu berasal dari asrama yang dibencinya semenjak tahun pertama di Hogwarts. Kurang lengkap apa lagi coba!

"Dracoo..." Harry menarik pipi Draco agar kembali ke dunia nyata.

"Hei! berani sekali kau berbuat begitu pada pangeran Slytherin, pitak," seru Draco tidak terima.

Harry tersenyum geli, "Ini baru Draco yang kukenal."

Harry bersangga pada kedua bahu Draco, kemudian mengecup bibir pemuda yang lebih tinggi darinya ini. Setelahnya, wajahnyapun memerah sendiri. Ia berusaha turun dari pangkuan Draco dengan susah payah, karena kaki kanannya yang masih belum sembuh total, meski sudah meminum ramuan tadi.

"Hei."

Pergerakan Harry terhenti karena pergelangan tangannya digengam Draco.

"Kau kira bisa kabur begitu saja, rambut semak?"

Tangan Harry ditarik paksa, dan kini dirinya terbaring dikasur, dibawah tindihan Draco Malfoy.

"Pitak, sambut semak, namaku Harry. Apa kau tidak bisa mengeja nama orang dengan benar Malfoy?"

Draco tertawa begitupula Harry.

Suasana kecanggungan mendadak memenuhi kamar ada satupun dari mereka yang berani membuka suara.

Harry menggaruk pipinya dengan canggung, Draco sendiri menatap kearah lain, kemanapun selain menatap mata Harry.

"Harry bagaimana keadaan-" Ron yang masuk kamar tanpa permisi membeku menatap mereka berdua yang bertindihan.

"Wah... wah... gerakanmu cepat juga, Draco," siul Theo yang menyusul dibelakang Ron dan langsung –tanpa izin yang empunya- memeluk pinggang Ron.

Ron dengan sengaja menginjak kaki Theo –yang langsung gegulingan dilantai kamar.

"Bagaimana jalan-jalannya?" Harry yang sudah duduk dilantai menanyai tamu-tamu tidak diundang yang berkunjung ke kamar mereka. Cepat sekali gerak pemuda ini, bukannya tadi kakinya terkilir?

"Menyenangkan," sahut Ron dengan senyum sumbringah di bibirnya. "Aku bisa bersama anak-anak Gryffindor dan menjauh dari si aneh satu ini," sambungnya dengan kerlingan tajam pada Theo.

"Nah, sekarang giliranku yang bertanya padamu Harry. Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Ron sambil mengerling pada Harry yang tersenyum salah tingkah dan Draco yang masih terbaring dengan ekspresi tak perduli.

Hermione yang datang belakangan –dan langsung membuatkan teh- menyajikan teh hangat buatannya, "Memang apa yang mereka lakukan?"

"Thanks, tehnya Granger," seru Blaise sambil menyeruput tehnya.

"Sama-sama," jawab gadis itu sambil tersenyum manis.

"Sejak kapan kalian akrab?" pertanyaan Harry mewakili pertanyaan dari benak yang lain.

Hermione hanya tersenyum menjawabnya.

"Jadi..." entah sejak kapan Ron Weasley bisa beraura seram, ah ya, mungkin sejak setim dengan Theo. "Apa yang sedang kalian lakukan?" Penekanan disetiap kata, seram ih...

Harry menghela nafas panjang, dan menceritakan kronologis kejadian, dan sedikit –oke banyak- kebohongan dibagian terakhir kenapa mereka bertindihan. Ron sepertinya tidak puas dan ingin bertanya lagi, tapi untungnya Cho dan Tasia datang berkunjung dan menyelamatkan Harry Potter dari pertanyaan sahabatnya yang mengaku Homo Phobia dan anti Slytherin –tentu saja Harry tidak percaya.

Hampir tengah malam saat semua tamu mereka pergi.

Harry menguap, ia dengan masih tertatih, merapikan sisa kekacuan yang ditinggalkan teman-temannya. Kemudian mengambil bantal dan selimutnya dan melemparkannya begitu saja ke lantai.

"Hei..."

Harry melirik Draco yang rupanya belum tertidur. Draco menggeser tubuhnya agak ke pinggir, kemudian menepuk-nepuk sisi kosong disebelahnya.

Harry menaikkan sebelah alisnya, keheranan.

"Tidurlah disini..."

Kerutan didahi Harry semakin terlihat jelas, "kau yakin? Kurasa kasur itu tidak akan muat untuk kita berdua."

Perasaan bukan itu deh masalahnya.

Draco mengangguk yakin, Harry mengangkat bahunya, dengan langkah –yang tidak ia sangka- ringan ia melangkah menuju kasur bawah dan membaringkan diri disisi Draco.

Draco dengan sengaja memeluk Harry dan mulai memejamkan mata.

"Hei."

Suara Harry membuat Draco membuka paksa matanya yang sangat mengantuk, karena ramuan yang beberapa saat lalu diminumnya.

"Kau memelukku."

"Trus kenapa?" sepertinya Malfoy muda itu tidak perduli.

"Kau memelukku Malfoy. Aku baru tahu kau tertarik dengan laki-laki," tanya Harry penasaran.

Draco mengangkat bahunya, kemudian menguap lebar, "Aku tidak bisa tidur malam kalau tidak memeluk sesuatu dan tidak ada bantal guling disini-" menguap sekali lagi dan mulai memejamkan mata, "aku tidak tertarik dengan laki-laki kecuali dengan dirimu," ia kemudian tertidur.

Harry Potter seakan mendapat pencerahan batin, 'itu sebabnya ia selalu memelukku, karena ia tidak bisa tidur kalau tidak memeluk sesuatu.'

Harry menghela nafas lega dan mulai memejamkan mata juga...

'Eh!' dan matanya terbuka lagi karena teringat sesuatu.

"Kecuali denganku?" Dahi Harry berkerut-kerut-kerut-kerut, serius, ia bisa cepat tua kalau begitu terus.

"Ah, pasti salah dengar..." serunya dengan suara yang melemah kemudian tertidur didekapan Draco.


Bersambung...


Hai reader...

Sesuai janji Dyn, Dyn update hari Senin Tanggl 16-05-2016.

Semoga chapter lebih baik dari chapter-chapter sebelumnya ya...

Chapter 3 ini hanya fokus ke kegiatan hari ke-5, dan rencananya chapter depan akan jadi "The Last Chapter" untuk ff Darmawisata.

Update Chapter 4 nanti hari Senin Tanggal 23-05-2016 ya... ditungguin... ehehehhe...

Terima kasih banyak untuk reviewer, favoriter dan follower yang sudah mengikuti ff Darmawisata. Dyn berharap para reader yang lain bisa mengikuti mereka, karena kebahagian dari author adalah saat karyanya di baca dan direview banyak orang.

Selamat membaca Chapter 3, semuanya...

Salam hangat, Dyn.

PS: Untuk yang ingin review-nya dibalas, sign in ya saat review, maka akan Dyn balas via PM.