A Simply Touch III
pairing: taekook/vkook. taehyung/v x jungkook
disc: based on Japanese manga by Moegi Yuu. original work by Xiahtic4Cassie (check out hers on her profile: Xiahtic4Cassie!), my version is like a re-cycle with different characters(?)
warn: male slash. AU. boyxboy. psst, don't expect too much lol.
[!] full of sensitive issues, but don't take so seriously. a bit of panic attack. have any spiritual/mental issues? please just skip this chapter.
notes: knock knock(?) i'm back khuhuhu~
gara2 mv tawuran hormon(?), aku jd punya ide /rada/ gila(?) pokoknya yg penasaran(?) mau baca, tunggu yah aku segera menyiapkannya(?) /winks winks/
udah, no komen buat mv baru itu yaa please dont make me chattering about that damned mv like seriously i'm so done with the ending lmao bye
makasih buat yang udah baca+ngasih komentar support dll, I LOVE YOU GUYS! /insert hearts here/ /draws a heart shape/
here's an update, enjoy~!
ps: tidak di-proof read, khuhuhu sorry for any typos /bows/
.
.
.
.
.
.
.
.
.
A Simply Touch
.
.
.
.
.
III
.
.
.
.
.
.
Sesosok pemuda bersurai hitam tengah melaju di sepanjang jalan dengan sepeda merah kesayangannya. Sapuan angin menembus kulitnya, beruntung ia memakai sweater tebal, mengirim kehangatan ke seluruh tubuhnya dengan sempurna hingga pemuda itu tak perlu takut akan menggigil kedinginan. Namun tetap, ia menambah laju sepedanya agar tak terjangkau dinginnya malam yang hampir menjelang.
Di sepanjang jalan, ia beberapa kali berpapasan dengan orang-orang yang dikenalinya; mulai dari seorang ahjumma yang tinggal di sebelah kediamannya–baru saja keluar rumah untuk mengajak anjingnya jalan sore, seorang mahasiswa tingkat akhir yang selalu terlihat gloomy dan dark akibat tekanan tugas akhirnya, lalu ada seorang ibu rumah tangga muda beserta malaikat kecil lelakinya yang tinggal berhadapan dengannya hendak menjemput sang kepala keluarga–sepertinya hari ini mereka akan merayakan sesuatu, terlihat dari cara berpakaian ibu dan anak itu, pikir pemuda ini.
Jungkook, pemuda yang tersebut di atas, berkali-kali melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya dan menghela nafas lega, "Oke, aku pulang sebelum jam malam," gumamnya saat mendapati waktu baru menunjukkan pukul 05.40 p.m dari jam tangannya.
Ia berbelok ke arah kiri begitu sampai pada perempatan menuju kediamannya. Beberapa kali tersenyum maupun menundukkan kepala–memberi salam pada orang-orang yang dikenalnya di sepanjang jalan. Cengiran-gigi-kelincinya terus terpancar, bahkan membuat gerombolan gadis muda yang dilewatinya sempat menjerit begitu melihat cengiran khasnya.
But Jungkook didn't give them any shits.
Perlahan bibirnya mengatup dan melengkung, pikirannya masih terpahat pada kejadian tadi pagi. Ketika dirinya tidak melihat pantulan Taehyung di cermin. Somehow it makes him shiver. Ia mendesis perlahan lalu menggigit bibir bawahnya sembari membelokkan sepedanya sekali lagi menuju gang rumahnya.
Ia memastikan dirinya sendiri bahwa ia salah lihat. Otaknya memproses kejadian pagi tadi, ia berusaha mengingat dirinya mengetahui dengan jelas bahwa Taehyung tidak transparan. Ia dapat melihatnya, ia dapat melihat tubuh Taehyung. Sangat jelas dari ujung rambutnya hingga ujung kakinya.
"..Taehyung memiliki kaki,"
Jungkook kembali memutar ingatannya di mana ia juga dapat melihat Taehyung berpijak, berdiri, berjalan dengan kedua kakinya. Ia kembali menghela nafas selagi terus meyakinkan bahwa Taehyung bukanlah hantu.
Sebab hantu tidak memiliki kaki, bukan? Setidaknya itulah yang pernah ia baca di dalam manhwa dan manga.
"Aku pasti salah lihat," ia terus meyakinkan dirinya, "Lagipula pagi tadi 'kan aku memang masih setengah tertidur. Mungkin saja aku mengigau." lanjutnya seakan-akan menolak kenyataan bahwa Taehyung benar-benar sesosok hantu.
Suara decit sepeda mengantarkannya kembali pada kenyataan. Dirinya telah sampai di depan kediamannya. Pagar berwarna hitam, dengan hiasan tanaman hijau yang berjejer rapi di balik tembok pagar, yep, ini benar-benar rumahnya.
Jam tangannya menunjukkan pukul 05.55 p.m.
Perlahan Jungkook menggiring sepedanya memasukki halaman rumah dan memarkirkannya di depan pintu garasi. Ia menepuk-nepuk lutut serta belly-nya untuk menghilangkan kejang di otot akibat mengendarai sepeda terlebih dahulu, sebelum ia masuk ke dalam rumah.
Ketika dirinya hendak melangkahkan kaki, terdengar sayup-sayup senandung kecil yang berasal dari beranda samping rumahnya. Jungkook bergerak menuju sumber suara, dan mengintip dari balik dinding.
Nampak sosok Taehyung sedang duduk mengenakan sweater abu dan denim hitam favoritnya, bersenandung dengan suaranya baritone khasnya dan memandang luas ke arah tumbuhan hijau di sekeliling taman. Pemandangan ini nampak begitu damai bagi Jungkook; tanpa sadar ia termangu–mulutnya terbuka membentuk huruf 'o', matanya membesar dan nampak berkilau, peluh membanjiri telapak tangannya.
Taehyung looks really fucking good-looking, beautiful, breathtaking, and–Jungkook can't breathe.
Taehyung terkesan sedang menunggu seseorang dan itu membuat cubitan serta hantaman dalam perut Jungkook, sebab siapa lagi yang ditunggu olehnya kalau bukan Jungkook? Jungkook harus menahan mati-matian rona merah yang entah mengapa selalu ia dapatkan saat berurusan dengan hal-hal yang menyangkut dengan Taehyung–Kim Taehyung–fucking Taehyung.
Jam di tangannya menunjukkan pukul 06.00 p.m tepat, dan bertepatan dengan itu, Jungkook merasakan dirinya bergidik; sesuatu seperti menyelimutinya, dan sesuatu itu terasa dingin serta tidak nyaman. Pancaran sinar matahari perlahan memudar dan segera digantikan oleh kegelapan malam membuat Jungkook semakin gelisah.
.
.
Waktu senja sering disebut sebagai 'hour of disasters' ketika 'makhluk jahat' muncul.
.
.
Jungkook teringat dengan ucapan Taehyung–diam-diam ia mengumpatnya karena kata-kata itu sungguh membuatnya tidak nyaman–dan sontak merasa takut. Ia bersumpah jika ada yang bertanya mengapa bulu kuduknya berdiri, ia akan segera meninju wajah orang yang sudah menakut-nakutinya–
–namun tidak, Jungkook tidak meninju wajah orang itu melainkan.. Berlari dan memeluknya.
"Whoa!" Taehyung tersentak begitu mendapati sosok Jungkook sudah menikuk di dalam dekapannya. Pemuda raven itu memeluk dirinya dengan sangat erat, melingkarkan tangannya ke atas pinggangnya dan memendam kepalanya di atas dada bidangnya.
It's not like 'his' usual Jungkook, but Taehyung enjoys it anyway.
Taehyung perlahan membalas perlakuan Jungkook padanya. Ia mengusap-usap punggung pemuda itu dan mengulaskan senyumannya–meskipun Jungkook tak bisa melihatnya. "Welcome home, Kookie," ujarnya dengan nada suara rendah miliknya–uhm, sepertinya kali ini terdengar lebih rendah dari biasanya.
"Ada apa denganmu? Why did you seem such in a rush?" tanyanya dengan lembut begitu Jungkook melonggarkan pelukannya dan menatap dalam kedua maniknya. Jungkook hanya ingin melihat kedua manik indah milik Taehyung; tak ada alasan lain.
Bibirnya bergetar perlahan, ia memeluk kembali tubuh lelaki yang lebih tua darinya. Mengeratkan pelukannya semakin erat dan semakin erat, if it even possible, seolah-olah takut akan kehilangan sosok yang tengah dipeluknya. Ia merasa takut Taehyung akan menghilang dari hadapannya secara tiba-tiba.
'..I can touch him, he's really warm and–I can fucking touch him!' batin Jungkook berulang kali.
Merasa ada yang aneh dengan sikap Jungkook, Taehyung yang membiarkannya kembali bertanya, tak lupa sembari memberikan elusan pada surai Jungkook untuk menenangkan pemuda itu, "Apa sesuatu terjadi, Kook?"
Jungkook sedikit bergidik begitu mendengar suara deep dari Taehyung, namun ia tidak menjawab pertanyaan pemuda bersurai cokelat itu, melainkan mengeratkan pelukannya layaknya anak kecil yang tak mau kehilangan benda kesayangannya.
Taehyung, completely clueless, tersenyum hangat dan akhirnya balas memeluk Jungkook. Ia meletakkan dagunya di atas perpotongan leher Jungkook dan menghirup aromanya secara diam-diam, "Ah, benar-benar, kau ini menyusahkan, Kook-ah." Jungkook dapat merasakan bahwa bibir Taehyung bisa dengan mudah menguasai lehernya namun–again, he don't give any shits, just the way Taehyung hugging him like this drove him insanely he can't think straight.
Senja terlewat dengan kedua insan itu yang memeluk tubuh masing-masing dalam keadaan diam.
.
.
Kalau begitu.. Mengapa Taehyung tidak memiliki bayangan di cermin?
.
.
.
.
.
.
Keesokan pagi, Jungkook terbangun dengan rambut yang acak-acakan; just like every morning is. Ia menguap lebar sembari mengusak surainya, dan terkadang menyisirnya dengan jemarinya.
Kedua matanya mengerjap-ngerjap, nampak masih dalam alam tidurnya. Namun beberapa detik kemudian ia bergegas menyibakkan selimut dan beranjak dari futonnya begitu melihat sebuah tasbih dan seikat dupa yang tergeletak di atas meja belajarnya. Tasbih ia dapatkan semalam setelah mencari-cari di dalam laci di ruang sembahyang, beserta dupa yang ia ambil di sekeliling altar.
Tekadnya sudah bulat, ia akan membantu Taehyung kembali ke tempat seharusnya ia berada.
Jangan salahkan Jungkook, anak itu memang masih berpikiran sempit.
Setelah beberapa menit dihabiskan untuk merapikan dirinya, Jungkook termangu sesaat sembari duduk bersila dan menatap kedua benda keramat itu yang ia jajarkan di atas lantai kamarnya.
"Yang kutahu hantu atau arwah itu masih ada di dunia ini karena mereka memiliki persoalan yang belum sempat terselesaikan," ujarnya, "Apa Taehyung masih berada di sini karena aku yang tidak bisa diandalkan?"
Jungkook mengerutkan kening tanda berpikir kerasnya. Ia berpikiran bahwa persoalan Taehyung tersebut adalah mengenai dirinya yang belum bisa mengurus dirinya sendiri sehingga Taehyung tetap harus tinggal bersamanya.
Niat maupun tekadnya memang sudah bulat bahwa ia akan mengirim Taehyung kembali ke dunianya, namun mendadak ia merasakan sesuatu menahan hatinya.
"..tapi.."
Pikirannya mendadak memutar balik pada kejadian di mana dirinya menghabiskan waktu bersama dengan Taehyung. Bagaimana Taehyung terlihat antusias pada waktu itu. Taehyung selalu tertawa dengan apapun yang dilakukan Jungkook yang nampak bodoh dan lucu. Jungkook yang sempat menendang kaki Taehyung untuk membuat pemuda itu berhenti menertawakannya. Dan bagaimana kedua pemuda itu mengakhiri hari dengan tawa merekah di wajah mereka.
"..jika Taehyung pergi aku akan sendirian lagi.."
.
.
.
"Tidak, tidak, aku tidak bisa menyusahkannya lebih dari ini hanya karena perasaan sedihku," gumam Jungkook sembari menggelengkan kepala, meyakinkan atas keputusannya, tanpa mengalihkan tatapannya pada kedua benda keramat yang sudah dipandanginya selama hampir belasan menit.
Maniknya menatap kedua benda itu bergantian, "Apa benda-benda ini memang bisa membantu Taehyung istirahat dengan tenang?" gumamnya dengan kening yang dikerutkan. "Uh, aku coba saja. T-tapi, apa ini cukup? Aku bahkan tak tahu satupun sutra Buddha.." lanjutnya dan tanpa sadar mengerucutkan bibirnya karena ia merasa bodoh saat ini.
"Aku bahkan bolos kuliah hari ini.. Jika Taehyung tahu, aku pasti dimarahi," Jungkook menggigit bibir bawahnya dan mengacak pelan surainya.
Ia mengambil nafas dan membuangnya segera, kemudian meraih dua benda itu dan beranjak keluar kamarnya untuk mencari keberadaan Taehyung. Begitu ia menutup pintu kamar, dadanya bergerak naik turun dalam tempo yang tidak biasa, begitupun dengan nafasnya yang sedikit memburu.
Mungkin ini akan jadi yang terakhir.
.
.
Jungkook mengendap-endap perlahan menyusuri lorong rumahnya. Mencari di mana Taehyung berada, kedua tangannya memegang tasbih dan dupa. Berkali-kali menenggak saliva dengan berat dan dada yang berdebar-debar.
Sejenak ketika ia sampai di beranda samping rumahnya yang pintunya tertutup setengah, ia terhenyak begitu melihat kaos hitam dan denim milik Taehyung yang tergeletak sembarang di atas lantai. Jungkook mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, "E-eeh? Baju Taehyung? Mengapa bisa ada di tempat seperti ini..?" gumamnya.
Ia berjongkok untuk memungut pakaian Taehyung satu per satu yang tersebar, "Apa jemurannya terbang sampai ke sini?" tak mencurigai apapun, Jungkook terus memungut dan hendak mengembalikan pakaian itu ke tempat seharusnya.
Ia kembali berdiri, "Memangnya hantu bisa memakai dan melepas baju?" gumamnya dengan ekspresi polos dan terlihat lugu dan bodoh.
Telinganya mendengar suara cipratan air yang berasal dari taman samping. Jungkook membulatkan kedua matanya. Dan saat ia menengokkan kepala–
"GYAA!"
Nampak seekor gagak hitam besar.
.
.
.
.
.
.
.
.
tbc
uwahahahah apa ini(?) /dor/
don't freak out yaa, this aint going to be like you guys have thought(?)
yap ternyata chapternya lebih dari yang kuperkirakan ugh bahkan ini baru sampai ujung chapter 1-nya si Ele lho :"D /dor
sekali lagi terima kasih yang sebesar-besarnya buat kalian semua yang udah mau meluangkan waktu membaca cerita yang tak bisa dibilang sebagai cerita(?) ini /deep bowing/ i'm freaking loveeeeee you guysssss sobs you guys are awesomely rock!
btw kira2 ada yang tahu tentang 'dere dere' gitu ngga?(?) macam tsundere, yandere, dll(?)
yep, buat project(?) berikutnya karena ini aku pengen banget buat yang lebih agak ekstrim(?) aku bakal buat cerita yang mengandung dere dere itu khuhuhu~ just wait yaa if you want and dont mind ;) aku janji bakal naruh segenap hati dalam ceritaku itu(?) lmao
buat cerita yang lain ugh, i'm really sorry, kayanya bakalan apdet telat /bows/ sesuatu menghalang, but dont worry, im not gonna dump those stories /heart shapes/ will update as soon as possible~!
critics/comments are warm welcomed, but please do not bash chara and or pairing, thx!
okedeh aku gamau bacot banyak, sampai ketemu lagiii seeyah!
psst, follow me on twitter: sugarnim ㅋㅋㅋ /shamelessly promoting/ /yang parkjams udah aku ganti khuhuhu/
kindly do me the 3 big favors, favs/follow/review ;3 any critics/comments are warm welcomed & appreciated ;))
thank you ;3
