tiga

{Maknanya, yang tidak sempat terkatakan itu, sayangnya, masih saja terngiang dalam kabutan sepi renung Nattie.}


Duk!

"Ugh..."

Natalia mengusap dahi, ini sudah yang kedua belas kali, untuk malam ini. Karena dia dan Alfred diharuspaksakan untuk menunggu hingga pagi, di sini.

Di bandara. Benar-benar bermalam dengan segala dera ketidaknyamanan bersama ratusan penumpang lainnya, terhampar luas di depan tujuh jajaran meja loket pembayaran tiket.

Namun Natalia dan Alfred, mereka hanya disisakan satu kursi, lima langkah ke arah kiri dari pintu luar. Mereka ini hanya tidur di luar ruangan yang menyediakan minim kehangatan.

Mereka membiarkan kedinginan udara malam menggigiti kulit, Natalia dan Alfred, bahkan Natalia sama sekali tidak bisa mengeluh atau mengumpat atas sial seperti biasa. Tiada tenaga untuk melakukan.

Natalia melirik arloji, menyatakan pukul dua lebih tiga puluh menit pagi- dini hari, maksudnya. Masih terlalu pagi. Masih ada waktu empat jam sebelum bandara benar-benar buka, dan enam jam lagi sebelum penerbangannya ke suatu tempat.

Natalia menghela napas. Hendak memanggil separuh gejolaknya jika saja dia tidak menolehi kesana kemari demi mencari.

'Kemana Alfred?'

Kanan. Kiri. Depan.

Nihil semua, tidak ada. "Al? Kamu di sini?"

Bahkan daun pintu milik jajar-jajar lima toilet umum milik bandara; berjarak lima belas meter dari bangku kayu putih panjang, pengganti ranjang empuk bagi Natalia, yang baunya sarat akan bau kencing itu pun menganga lebar, lampu kuning menunjuklihatkan kondisinya.

Artinya, Alfred juga tidak ada di sana.

"Al, dimana kamu?"

Dia mengusap wajah, mengumpultemukan kesadarannya yang masih terapung di antara para udara. Mengembalikan para rona.

"Alfred..."

"Aku di sini," suaranya datang menyahut, tolehan Natalia membuat mereka saling bertemu pandang. "Dari warung, membeli kopi."

Natalia memindah arah pandang, mengabaikan Alfred yang penampilannya kusut.

"Aku kira kau hilang, atau malah pulang dan meninggalkanku di sini."

Alfred terkekeh pelan, dia mendekati Natalia demi membawa dua gelas kaca pendek berisi kopi, yang uapnya masih mengepul samar. "Mau? Kubawakan dua ini," tawarnya.

Natalia mengangguk, merampas satu. Meminumnya, menerjang panas yang membakar kerongkongan. Alfred yang lidahnya terbakar suhu ia abaikan, lagi.

Filosofi Kopi dan Gula...

Dimana sebuah kebaikan yang ditutup-tutupi agar tidak kelihatan, namunlah kesalahan 'sang baik' yang dibesar-besarkan seolah agung...

'Masih apa maknanya?'

Natalia belum mengerti. Bisa dia bertanya pada Alfred sekarang?

"Alfred, kamu belum memberitahuku tentang makna dari itu. Kata-katamu tadi- maksudku kemarin pagi, ketika persiapan akhir."

Natalia membuka ucap, mengalamattemukan pandang dengan Alfred, terhenyak. "Memberi... Tahu?"

"Ya," cangkir Natalia letakkan di atas lantai. "Sebuah filosofi, itu belum kamu jelaskan. Terpotong kemarin," kata Natalia, yang mengusap anak rambut, menggeser ke samping.

Alfred terkekeh, yang kedua kali. "Masih mau mendengarnya, ya? Aku kira kau sudah bosan dengan segala kata dalam kalimat atas kecerewetanku," karena Alfred sekarang tertawa pelan penuh getir diri.

"Aku kira kamu mual dan muak karenaku."


finished chapter II.


Hetalia - Axis Powers (c) Himaruya Hidekazu, Japan.

R-14. Romance, Slice of Life. Indonesian (Bahasa Indonesia). AU, OC, OOC, etc.


•INDONESIAN KARA•

...