Tittle : My Brother My Enemy!
Author : Anggi
Genre : Brothership, Drama
Rating : K+
Length : 3/?
Warning : TYPOS, JUDUL YANG MUNGKIN GAK NYAMBUNG SAMA ALUR CERITANYA -_- AUTHOR AMATIRAN.
Desclaimer : semua cast yang ada disini adalah milik Tuhan, Orang tuanya dan agensi yang menaungi mereka. Ide cerita dari renireniLUBIS tapi semua ini ASLI saya yang ketik sendiri ^^
Note: kemarin kemarin saya sempet ngeliat review yang nanyain ini ff yaoi atau straight. Sebenernya kalo ff ini ga ngelantur sih straight. Cuma mungkin gara gara saya yang seorang fujoshi & terbiasa nulis ff yaoi jadi ff straight pun terkesan kaya yaoi-_-. Saya juga mohon maaf karena mungkin chap yang kemarin terlalu pendek. Saya gamau kasih alasan soalnya takut dibilang tukang ngeles. Sengaja saya update kilat karena permintaan dari reni dan menebus rasa bersalah saya karena chapter sebelumnya yang pendek. Oke tanpa banyak bacot, cekidot.
.
Preview chap 2
Kibum mengejar Kyuhyun terus sampai kerumah. Sampai dirumah Kyuhyun langsung berlari ke kamarnya dan menguncinya rapat rapat.
"Kyuhyun! Buka! Dengarkan penjelasanku dulu" Kibum mendorong dorong pintu kamar Kyuhyun dengan paksa. Tetapi percuma saja karena sudah Kyuhyun kunci.
Kyuhyun hanya diam. Saat saat Victoria menyatakan perasaannya pada Kibum masih terngiang di otaknya.
Chapter 3.
Kyuhyun masih diam tak bergeming di posisinya. Dalam hati ia masih sakit hati pada Victoria karena alasannya belakangan ini berubah adalah Kibum, kakaknya. Memangnya ia kurang apa? Bahkan ia berfikir ia jauh lebih keren dan tampan dari Kibum, tapi kenyataanya Victoria malah menyukai kakaknya. Ia juga tidak habis pikir pada Kibum. Mungkin saja jika ia tidak datang di taman itu Kibum pasti sudah menerima pernyataan cinta dari Victoria itu. Mengingat Victoria adalah gadis cantik dan model terkenal. Pasti setiap lelakipun akan menyukainya.
Merasa terganggu oleh Kibum yang masih setia berteriak teriak diluar kamarnya akhirnya Kyuhyun pun menjawab teriakan Kibum.
"Jika kau masih mau berteriak di depan kamarku silahkan saja! Percuma! Aku juga tidak akan mendengarkan penjelasanmu itu!" teriak Kyuhyun tak kalah keras dari teriakan Kibum. Segera saja ia memasang headset hpnya lalu menyetel sebuah lagu dengan nada tinggi.
Sementara diluar kamar Kyuhyun, Kibum masih terus berteriak teriak dan menggedor gedor pintu kamar Kyuhyun. Biarpun Kyuhyun adalah adik yang menyebalkan. Sebagai kakak, Kibum sangat menyayanginya. Ia tidak mungkin akan menghancurkan kedekatan adiknya dengan Victoria. Kibum memang tidak tertarik pada yeoja manapun semenjak ia putus dengan kekasihnya saat perpisahan sekolah menengah atas. Wanita beruntung mantan kekasih Kibum itu bernama Jia. Ia berpacaran dengan Kibum sejak masuk SMA. Dan mereka harus berpisah karena Jia harus pindah ke Jepang dan kuliah disana. Kibum memang menyanggupi hubungan jarak jauh yang akan mereka tempuh nanti jika Jia sudah pergi ke Jepang. Tetapi Jia tidak menyetujuinya. Jia takut jika Kibum menemukan yeoja yang menarik hatinya di universitas, Kibum akan sulit mendekatinya karena terhalang oleh hubungannya dengan Jia. Maka dari itu Jia memutuskan hubungannya dengan Kibum. Kibum sampai saat ini masih sering menghubungi Jia begitu pula sebaliknya.
20 menit sudah Kibum terus berteriak teriak di depan kamar Kyuhyun. Merasa tidak ada jawaban dari Kyuhyun akhirnya Kibum pun pergi ke kamarnya. Beruntunglah saat itu ayah dan ibunya belum pulang. Sehingga tidak ada yang terganggu oleh teriakan Kibum. Para pembantu tidak akan mungkin membentak Kibum karena berteriak teriak.
.
.
Keesokan harinya, Kyuhyun masih terlihat murung. Ia yang biasanya sarapan dengan heboh oleh suara pertemuan antara sendok, pisau dan piring itu kini makan dengan tidak berselera. PSP kesayangannya pun ia biarkan tergeletak di meja belajar kamarnya. Leeteuk yang merasa perubahan pada anaknya pun kemudian bertanya.
"Kyuhyun-ah kau tidak apa apa? Kau sakit?" tanya Leeteuk sambil mulai memotong telur mata sapi yang ada dipiringnya.
Kyuhyun hanya menggeleng lemas. Ia juga tidak menatap wajah ayahnya, melainkan menatap makanan yang ada di piringnya. Kibum yang menyadari keadaan adiknya hari ini pun hanya bisa merasa bersalah. Baru kali ini ia melihat Kyuhyun begitu mencintai seseorang. Karena biasanya Kyuhyun hanya main main saja.
.
Hari ini juga Kyuhyun tidak membawa mobil yang biasa ia bawa ke kampusnya. Dia juga tidak mau membawa motor sport pengganti mobil yang biasa Kibum bawa. Kibum sempat menawarkan diri untuk mengantar Kyuhyun. Tapi Kyuhyun hanya dia saja, tidak menolak maupun mengiyakan ajakan Kibum. Bayaran yang mahal untuk seorang Cho Kibum karena menemani Victoria jalan jalan.
"Umma, appa aku berangkat dulu ne. Aku ingin naik bus hari ini" pamit Kyuhyun dingin. Kemudian ia membungkukan badannya lalu pergi.
"Kibum apa kau tahu kenapa adikmu menjadi berubah seperti itu?" tanya Sora pada Kibum. Kibum yang mendengarnya hanya menggidikan bahu pura pura tidak tahu pada ummanya. Sementara Sora yang mendengarnya hanya menghela nafas panjang.
.
.
Jam menunjukan pukul 13.00 KST, itu berarti waktunya kelas Kyuhyun untuk pulang. Hari ini Victoria tidak masuk kuliah. Kyuhyun tahu, tapi ia tidak ambil pusing atau menanyakan alasan kenapa ia tidak masuk. Yang jelas, hari ini ia tidak mau mendengar kata kata apapun yang menyangkut dengan Victoria. Emosinya akan langsung tersulut jika ada yang menanyakan Victoria padanya.
Kyuhyun tengah berjalan keluar dari gerbang kampusnya. Ia lalu menunggu bus didekat kampusnya dengan malas. Tiba tiba tanpa Kyuhyun sadari, seorang tangan kekar membekap mulutnya dengan sapu tangan. Kyuhyun sempat memberontak sesat sebelum kemudian ia pingsang dan dibawa pergi oleh sebuah mobil sedan sederhana itu. Jelas saja Kyuhyun dengan mudahnya pingsan karena sapu tangan tersebut sudah disemprotkan obat bius.
.
.
"Kerja bagus anak anak. Kau berhasil menculik anak bungsu dari Cho Leeteuk yang bernama Cho Kyuhyun ini. Ini untuk kalian" seorang lelaki berperawakan tinggi dan berhidung mancung melemparkan 2 amplop uang tebal kepada 2 anak buahnya.
"Terimakasih bos. Lalu kita apakan anak ini?" tanya anak buah dari seorang majikannya yang ia panggil bos.
"Sekap saja dia. Tali yang kuat dan bekap mulutnya. Anak ini adalah tipikal anak yang keras kepala dan cerdik. Pastikan ia tidak akan bisa lepas" kata lelaki itu dengan nada memerintah yang langsung dijawab dengan anggukan anak buahnya tersebut.
Kyuhyun tidak memberontak. Jelas saja karena ia sedang pingsan. Ia lalu dibawa ke sebuah ruang kosong. Kemudian 2 penculik tersebut mendudukan Kyuhyun di kursi dan merantai kakinya pada kursi supaya tidak lepas. Tetapi tangannya hanya diikat kuat oleh tambang saja. Mulut Kyuhyun lalu dibekap oleh selotip hitam. Setelah merasa aman kedua penculik itu keluar dari ruang kosong tersebut dan berjaga di ruangan sebelahnya. Sementara si bos, sudah lama pergi.
.
.
*in Leeteuk house*
Jam sudah menunjukan pukul 21.30 KST tapi Kyuhyun belum juga pulang. Kibum yang mengetahui hal ini hanya bisa mondar mandir di ruang tv menunggu Kyuhyun pulang. Jika Kyuhyun sampai, ia akan segera memarahi Kyuhyun. Kyuhyun boleh marah padanya tetapi jangan sampai membuat seisi rumah khawatir seperti ini. Senakal nakalnya Kyuhyun dan sesuka sukanya Kyuhyun berbohong kalau pulang malam, ia pasti akan mengabari bahwa ia pulang telat hari ini.
Kibum sudah menelponi satu persatu teman dekat Kyuhyun. Mulai dari Sungmin, Henry hingga Victoria yang tidak masuk kuliah pun ia hubungi. Takut takut Kyuhyun berkunjung ke rumah Victoria.
Kibum masih setia mondar mandir di ruang tvnya. Sementara Leeteuk dan Sora tengah duduk dengan cemas di ruang tamu. Ruang tv dan ruang tamu dirumah keluarga Cho memang bersebelahan dan tidak ada sekat apapun yang menghalanginya. Tiba tiba saja telpon rumah yang berada di ruang tv berdering. Otomatis Kibum yang mengangkatnya, karena Kibumlah yang jaraknya paling dekat dengan telpon rumah itu.
"Halo! Pasti benarkan ini nomor rumah keluarga Cho Leeteuk? Hahahaha! Kalian pasti sedang cemas menunggu anak bungsu kalian pulang. Ups, tapi maaf mungkin anak bungsu kalian malam ini dan sampai beberapa minggu kedepan tidak akan pulang untuk menjadi jaminan. Kalau kalian tidak bodoh kalian pasti akan dengan mudahnya mengenali siapa aku. Hahahahaha! Selamat bercemas cemas!"
Tuttttt...
Telpon itu diputuskan oleh orang disebrang sana. Kibum mulai memutar otaknya. Sepertinya ia pernah mendengar suara ini. Dan bingo! Kibum mengingat siapa pemilik suara ini.
*flashback*
"Jadi bagaimana Cho Leeteuk? Apa kau tertarik membeli pabrik tuaku?" tawar lelaki yang berumur 1 tahun lebih tua dari Leeteuk itu. Ia juga sama sama pebisnis seperti Leeteuk. Tetapi baru baru ini usaha karetnya sedang dalam masa masa kritis akan mengalami gulung tikar. Tak mau itu terjadi akhirnya ia menjual pabrik tuanya yang berlokasi di daerah Gangnam.
"Hmmm bagaimana ya Hangeng-ssi. Aku mohon maaf sebelumnya. Tetapi sepertinya aku tidak tertarik membelinya. Selagi pabrik itu memang harus mengalami renovasi yang cukup 'wah' aku dengar juga tempatnya memang tidak membawa hoki. Pabrik itu kan sebelumnya sudah dibuat macam macam. Pertama super market, kedua restoran dan saat dibeli olehmu bangunan itu di jadikan pabrik, tetapi kondisinya masih seperti itu. Sepi dan juga lembab" tolak Leeteuk dengan halus. Hangeng yang merasa pabrik tuanya dihina kemudian marah.
"Jika kau tidak mau membelinya katakan saja. Tidak usah memberi alasan yang tidak logis seperti itu!" emosi Hangeng mulai naik. "Daripada kau terus menjelekan pabrikku lebih baik aku permisi." Hangeng terlihat ikhlas tidak ikhlas berpamitan pada Leeteuk.
Kibum tidak sengaja mendengar percakapan ayah dan rekan kerja ayahnya dari lantai atas. Ia memperhatikan bagaimana cara lelaki bernama Hangeng itu menawarkan pabrik tuanya. Mungkin benar apa yang dikatakan ayahnya tentang pabrik tua itu. Jika memang pabrik tua itu membawa keuntungan, tidak mungkin Hangeng akan menjualnya dan mengalami kebangkrutan. Sedikit atau banyak perusahaan Hangeng pasti akan mendapatkan bantuan saham dari hasil pabrik yang ia miliki itu, kalau memang pabrik itu benar benar membawa hoki.
Leeteuk menghela nafasnya panjang lalu segera beranjak pergi ke ruang kerjanya.
*flashback off*
Leeteuk membuyarkan lamunan Kibum tentang Hangeng. Ia merasa aneh pada anaknya yang sesudah menerima telpon langsung melamunkan ntah apa.
"Telpon dari siapa, Kibum-ah?"
"Dari penculik Kyuhyun" jawab Kibum masih memikir mikir ulang tentang dugaannya pada Hangeng.
"Mwo? Kyuhyun diculik? Jangan bercanda Kibum-ah! Itu sungguh tidak lucu!" Sora, umma dari Kyuhyun dan Kibum membentaknya. Ia lalu memeluk Leeteuk tidak percaya.
"Aku berani bersumpah tadi ia bicara bahwa Kyuhyun tidak akan pulang malam ini sampai minggu minggu selanjutnya karena akan digunakan untuk bahan jaminan." Jelas Kibum yang tidak terima disentak oleh ummanya. Tapi bukan Kibum namanya yang meski sedang marah sekalipun tidak akan menaikkan volume suaranya maupun bermain tangan.
Sora masih terus menangis dipelukan Leeteuk dan kemudian menangis histeris saat mendengar penjelasan Kibum.
"Yeobo, bagaimana ini? Anak kita diculik hiks hiks hiks" Sora memeluk Leeteuk sambil meremas remas baju Leeteuk. Kibum lalu menyusul mereka duduk di sofa ruang tamu.
"Tenang sayang. Besok kita akan hubungi polisi untuk segera menemukan Kyuhyun. Kita harus yakin bahwa Kyuhyun tidak akan disakiti. Teruslah berdoa" ucap Leeteuk sambil mengelus sayang punggung Sora yang masih sesenggukan.
"Appa. Aku rasa aku tahu siapa penculiknya" Kibum akhirnya mulai membuka suara.
"Siapa?" tanya Leeteuk kaget dengan respon anaknya yang begitu cepat. Maklum lah IQ Kibum saja melebihi rata rata.
"Appa ingat rekan bisnis appa yang bernama Hangeng itu? Aku rasa dialah pelakunya. Karena dia sepertinya masih menyimpan dendam pada appa yang tidak mau membeli pabrik tuanya. Jika appa tidak membelinya itu tandanya appa tidak menolong perusahaannya dari kebangkrutan kan? Maka dari itu ia menculik Kyuhyun dan menggunakannya sebagai jaminan. Kemungkinan besar maksud dari jaminannya itu adalah ia ingin berinvestasi sedikit dengan appa yang investasinya itu bisa jadi lebih menguntungkan pihaknya dibandingkan appa. Aku yakin seyakin yakinnya bahwa Kyuhyun kini tengah disekap digudang tuanya itu." Kibum menjelaskan pendapatnya panjang lebar kepada kedua orang tuanya.
Leeteuk dan Sora kini hanya menatap anak sulungnya itu tidak percaya. Kibum bisa berfikir sejauh itu. Bahkan Leeteuk sendiri yang notabene lebih mengenal Hangeng tidak terpikir sampai kesitu.
"Besok aku akan menjemputnya ke pabrik tua itu. Aku tidak akan masuk kuliah" tambah Kibum
Sementara Leeteuk yang mendengarnya hanya menggelengkan kepalanya.
"Tidak usah. Kau masuk kuliah saja, Kibum. Yang ia inginkan adalah uang appa. Dan appa akan memberikannya. Berapapun" kata Leeteuk dengan mantap. Memang semua orang tua pasti akan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan Leeteuk demi anaknya. Apapun pasti akan orang tua lakukan selama mereka bisa.
"Jangan appa. Jika appa kesana dan membawa uang yang dibutuhkan olehnya, aku takut akan terjadi hal hal yang tidak diinginkan lebih dari ini. Appa juga tahu sendirikan kalau dia dendam pada appa? Lebih baik aku saja yang pergi kesana" Kibum tetap bersikeras pada keputusannya. Ia sangat menyayangi keluarganya. Walaupun selama ini Kyuhyun selalu kurang ajar padanya, tetapi ia sangat menyayanginya. Ia takut kalau adik satu satunya itu terluka.
Sebenarnya Sora dan Leeteuk tidak mengizinkan Kibum. Tetapi Kibum tetap saja bersikeras ingin menyelamatkan Kyuhyun. Sora sebenarnya sudah tidak sabar ingin Kibum segera membawa Kyuhyun pulang. Tetapi Sora juga tidak boleh egois, Kibum juga sama anaknya. Bagaimana jika Kibum menyelamatkan Kyuhyun sekarang dan kemudian ia terluka? Akhirnya Sora dan Leeteuk pun harus segera bersabar menunggu besok.
Akan kah Kibum berhasil menyelamatkan Kyuhyun dari penculikan Hangeng? Kita liat saja kelanjutannya di chapter berikutnya.
.
.
.
TBC
Hah akhirnya chapter 3 pun selesai. Gimana pendapatnya? Makin ngaco, kependekan atau gimana? Author minta reviewnya lagi yaaaa. Dimohon dengan sangat. Makasih juga untuk yang masih setia mantengin ff author ini *deep bow*
Note : saya mohon maaf buat ff saya yang "Im Sorry, Kyungsoo" itu memang oneshoot. Cuma terakhirnya typo yang harusnya 'END' menjadi 'TBC' sejauh ini saya belum kepikiran bikin sequel untuk ff tersebut. Saya masih fokus mikirin ending ff ini yang takutnya makin absurd-_-
Oke sekian dari saya dan jangan lupa reviewnya ya! No siders & no bash. Thanks^^
