++Summary++

"Menjadi isteri dari seorang Hatake Kakashi tak pernah terbayangkan olehnya bahkan dalam mimpi buruknya sekalipun. Perjalanan kisah rumah tangga gadis Yamanaka ini menuntunnya untuk mengungkapkan kisah dibalik masa lalu"

Chapters three: Menikah(?)

.

.

.

.

Kediaman Hyuuga.

Neji masih menatap Hinata perihatin, ia melihat gadis itu tak henti-hentinya berusaha menelepon seseorang. Namun hasilnya selalu nihil.

"Sudahlah, mungkin ia memang tidak apa-apa. Kita akan terlambat ke sekolah jika kau terus seperti itu" ucap Neji akhirnya yang meras kesal karena sikap hinata yang berlebihan menurutnya

"Gomen, tapi aku benar-benar mengkhawatirkannya... kemarin kita tak menemukan Ino-san di manapun dan sampai sekarang dia belum juga menghubungiku. Apa sebaiknya aku menelepon paman Inoichi saja? Tapi jika paman juga tidak tahu tentang hal ini, masalahnya akan semakin rumit lagi"

"Ahh, kau itu... Tapi kita akan terlambat ke sekolah. Kita harus berangkat sekarang. Nanti kita cari dia lagi jika hari ini masih tak ada kabar"

"..."

"Hinata?"

"Ba-baiklah..." dengan itu akhirnya mereka masuk ke dalam mobil untuk berangkat ke sekolah

.

.

.

.

I do not own any Characters of Naruto

All Characters in this fanfiction except Honey are belongs to Masashi Kishimoto, the creator of Naruto.

.

.

.

.

Ino mengerjapkan matanya perlahan, kepalanya terasa berat dan pening.

Tangan?

Gadis pirang itu sedikit menggeser lengan kekar yang memeluknya erat. Ino bangun dan terduduk di sana, kepalanya terasa berputar-putar.

"Di mana ini?"tanyanya, Kemudian melihat ke sekeliling. Ia mengamati ruangan yang terasa asing baginya itu

"Bagus. Setidaknya aku tak berada di tempat yang berbahaya, bahkan mungkin ruangn ini sangat jauh dari kata berbahaya" pikirnya

"Dan lagi... ruangan yang rapi dan juga bersih, terdapat meja dan rak buku. Lalu... seseorang di sampingku dengan setengah telanjang—"

HA—HHAAAAAAAAAHHHHH!?

1 detik

2 detik

3 detik

"KYYAAAAAAA!"

BRUUGHHH

"Kk-kau... sedang apa di sini!?"

"Ng? Ahh Ohayou Ino..." sapanya sambil kembali memejamkan mata

"Si-siapa kau!? Apa yang terjadi hah?!"

"?"

"Jawab!" bentaknya

"Kau tak mengenalku?"

"Eh?"

"Guru sejarah di kelasmu" tukasnya, sambil menguap kemudian bangkit dan duduk di sana menghadap Ino yang berdiri dengan hanya pakaian dalam

"Guru sejarah?" beonya. Ino langsung mengamatinya dengan seksama dan—

"Ka-kakashi sensei!?" tanya Ino tak percaya

"Ya"

"Mas-maskermu!"

"Aku melepasnya" sahutnya enteng

Tunggu. Sakarang itu tidak penting, kenapa kakashi sensei ada di sini denganku dan aku... pakaianku!

"Apa yang sebenarnya terjadi!?"

"Kau tidak ingat? Semalam kau mabuk, dan datang padaku. Dan kemudian kita tidur bersama"

"..."

"Di sini, di apartemenku"

"..."

"Sebenarnya kau yang mengajakku tidur bersama, lalu aku tak tega dan—"

"HENTIKAN!" jeritnya, Ino berjongkok dan menutup kedua telinganya

Tidak. Itu tidak mungkin! Kami berdua tidak mungkin! Ya tuhan... apa yang telah kulakukan?

Kakashi bisa mendengar isak tangis Ino yang perlahan semakin lama semakin kencang

"Aduh, mungkin aku sudah kelewatan" batin Kakashi, namun saat hendak angkat bicara untuk menjelaskan terdengar Ino melanjutkan

"Kau! harus bertanggungjawab!"

Glek

"Jangan pernah ceritakan ini pada siapa-pun! Aku akan membunuh sensei jika berani mencoba memberitahu orang lain!" ancamnya di sela isak tangis

Eh?

"Apa kau mengerti sensei –hiks!?"

"Aku tidak mengerti. Tapi sepertinya ada yang salah, seharusnya..."

"Apa!? Jangan bilang kau mau menikahiku!? Aku tidak mau! huwaaaaaaa" ucapnya, kemudian menangis kencang

"Ahh...?" Kakashi sedikit bingung harus bagaimana, melihat Ino yang tak berhenti menangis

"Sepertinya ada yang salah dengan cerita ini" pikir Kakashi ambigu

.

.

.

.

Kantor kepolisian Pusat Konoha.

Terlihat lelaki yang hampir menginjak kepala empat namun masih tetap tampan dan gagah di usianya itu. Ia Yamanaka Inoichi masih berkutat dengan beberapa dokumen di mejanya, sesekali ia meilirik ponselnya. Seharian kemarin, puteri kesayangannya tak menghubunginya sama sekali.

Cemas. Ia cemas dan tak dapat berkonsentrasi dengan benar jika sudah menyangkut tentang puteri semata wayangnya itu. Pagi kemarin semua masih baik-baik saja, ia masih melihat puterinya itu ceria berangkat ke sekolah seperti biasa. Namun saat ia mendapati tugas dari sang atasan untuk pergi ke luar kota membuatnya was-was karena lagi-lagi ia harus meninggalkan puterinya tersebut untuk waktu yang cukup lama.

Puterinya Yamanaka Ino, memang sudah bukan anak-anak lagi. Puteri kecilnya itu sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Kendati harus waspada dengan segala sesuatu hal yang dapat menyebabkan puterinya dalam bahaya sekecil apapun sudah menjadi resikonya untuk merasakan cemas berlebihan, saat ia tak bisa memantau puterinya tersebut. Ia adalah seorang Komisaris Kepolisian Tokyo. Di luar sana banyak musuhnya yang bisa saja sewaktu-waktu menculik, melukai bahkan membunuh puterinya.

Menitipkannya ke pada teman lama dengan waktu yang tidak singkat bukanlah pilihan yang bijak. Ia juga sungkan meski mereka adalah sahabat yang sangat akrab.

Tidak. Ia harus memikirkan dan menemukan cara bagaimana supaya ia bisa mengemban tugasnya dan meninggalkan sang puteri tanpa rasa was-was. Lagipula hal yang membuatnya terganggu adalah bagaimana jika ia gagal saat menjalankan misi, bagaimana jika ia tidak akan pernah kembali pulang, bagaimana dengan puterinya yang ia tinggal seorang?

Bukan. Bukan sosok pengawal yang akan melindunginya hanya dalam waktu dua atau sampai lima jam. Melainkan seseorang yang menjaga puterinya sebagaimana ia menjaganya selama ini. Seseorang yang bisa ia percayai sepenuh hati, menjaga puterinya selama 24 jam.

Astaga...

Inoichi memijit kepalanya yang mendadak terasa pusing, memikirkan hal seperti ini membuatnya... rasanya ingin cepat-cepat menikahkan puterinya saja. Saat sedang sibuk dangan pemikirannya tersebut sang rekan Shikaku yang melihat Inoichi sedari tadi tak fokus dengan pekerjaannya tersebut angkat biacara

"Ada apa denganmu? Apa kau baik-baik saja Inoichi?" tanyanya

"Eh? Apa? Ah maaf aku sedang tidak fokus"

"Sebenarnya apa yang kau pikirkan?"

"Aku sudah semakin tua, Shikaku" ungkapnya

"Kalau itu aku juga tahu. Aku dan kau memang sudah seharusnya pensiun hahha" ucapnya sambil tertawa

"Bukan itu yang ku maksud"

"Lalu apa? Kenapa kau tiba-tiba mengakhawatirkan dirimu yang menua?"

"Aku sudah tak semuda dulu, aku juga lebih sering meningglkan puteriku sekarang..." ucapnnya menggantung yang membuat shikaku seketika paham kemana arah pembicaraan mereka

"Selama ini aku memang sudah sering meninggalkannya untuk waktu yang tidak sebentar. Tapi kali ini aku berpikir bagaimana jika aku gagal dalam misi dan tak pernah pulang untuknya, aku akan meninggalkan ia sendri. Kepalaku terus memikirkan hal itu. Aku tak bisa terus-terusan mengadalkanku Yamato untuk menjaga puteriku"

"Bagaimana jika kau membiarkan Ino tinggal bersama isteri dan anakku saja. Lagipula putera-puteri kita sudah bersahabat dari kecil. Jika kau tak keberetan kau juga bisa menitipkannya di rumah keluarga Akimichi"

"Tidak. Itu bukan jalan keluar yang tepat. Kau tahu apa yang ku maksud"

"Ya, kau ingin lebih dari sekedar semua hal itu. Aku juga pasti memikirkan hal yang sama jika aku jadi dirimu"

"Itulah sebabnya aku membawa Ino pulang kembali saat dia kutitipkan di rumah rekanku dua minggu yang lalu"

"Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya? "

"Itu yang sedang kupikirkan dari tadi"

"Sebenarnya aku ada ide, tapi ini mungkin akan sedikit terdengar berlebihan dan tidak adil untuk puterimu"

"Apa itu? Apa yang kau maksud?"

"Mengapa kau tidak nikahkan saja Ino"

"Apa?!"

"Yah, kau yang bilang sendiri kau butuh dari sekedar menitipkan puterimu ke pada orang lain 'kan? Selain itu yang kau maksud adalah seseorang yang bisa menjaganya seperti selama ini kau menjaganya, seseorang yang ada dan siap menjaga puterimu selama 24 jam" jelasnya, membuat Inoichi mengangguk-ngangguk mengiyakan pendapat sang rekan

"Kau benar, jika demi kebaikan puteriku, aku tak keberatan jika aku di cap sebagai ayah yang egois" tuturnya mantap namun kemudian ia melanjutkan

"Tapi dengan siapa harus kunikahkan puteriku?"

"Itu kau yang memutuskan. Tapi saranku coba tanya puterimu dahulu, apakah ia sudah memiliki seseorang yang spesial atau semacamnya, kemudian kau bisa putuskan sendiri nanti"

"Baiklah, itu mungkin bisa kulakukan"

"Bagaiman? Apa kau sudah tak terlalu terbebani?"

"Ya, aku sedikit tak—" ucapnnya terhenti, dan ia langsung melihat rekannya yang tersenyum kearahnya

"Aku mengerti, terima kasih sudah menghiburku. Aku akan kembali fokus bekerja" lanjutnya

"Siapa yang menghiburmu? Aku hanya tak tahan melihat wajah galaumu itu" sangkalnya, kemudian kedua sahabat itu tertawa jenaka lalu kembali berfokus dengan pekerjaan masing-masing.

.

.

.

.

.

10:30_Apartemen Kakashi hatake

Kedua mahluk berbeda gender itu kini duduk berhadapan. Si gadis yang sedang menyantap sarapan—sekaligus makan siangnya—dengan garang, tak mengalihkan pandangannya dari pria yang juga sama sedang menyantap sarapaan sekaligus makan siangnya dengan tenang. Gadis itu masih tak percaya. Semua ini memang terlalu sulit untuk dipercaya.

Sosok gurunya yang misterius karena tak pernah menanggalkan cadarnya—emm maskernya selama ini. Ino masih saja tak mengalihkan perhatianya dari pria tersebut. Mana bisa ia tidak apa-apa mendapati hal seperti ini, pikirannya mulai kemana-mana. Bagaimana jika ia ceritakan bahwa ia meliaht wajah Kakashi yang sesungguhnya ke pada teman-teman sekelasnya? Oh, itu akan menjadi bahan gosip yang menggemparkan! Tapi... tidak! Bagaimana jika gosip mengenai ia dan gurunya tersebut juga tersebar?

Tidak. Tentu tidak. Ia takkan membiarkan itu terjadi. Ino menggelengkan kepalanya dengan kasar karena membayangkan hal tersebut. Kakashi yang sedang makan –pun terhenti dan melihat ke arah ino yang kembali menatapnya serius

"Kenapa memandangiku terus? Apa ada yang salah dengan wajahku?" tanyanya, membuat Ino kembali menggeleng namun kemudian ia bertanya

"Apa itu asli?"

"Apa?"

"Tompel di bawah bibir sebelah kirimu"

'Apa?!' batin Kakashi

"..."

"Apa itu bukan tempelan atau semacamnya?" lagi Ino bertanya, membuat Kakashi sedikit berdehem

"Ya, ini sudah ada sejak aku lahir" jawabnya, membuat Ino menggumamkan kata 'Oh'

"Apa kau tidak pergi ke sekolah sensei?" tanyanya lagi

"Mungkin aku akan sedikit terlambat" jawabnya enteng

'CETAK' sudut perempatan di pelipis Ino muncul. Orang ini... itu sih bukan terlambat lagi namanya! Jerit Ino dalam hati

"Bagaimana denganmu? Bukankah kau juga seharusnya sekolah?"

"Ah itu..." Ino melihat dirinya sendiri, yang hanya memakai kemeja kedodoran sang guru yang berbaik hati meminjamkannya

"Sepertinya aku tidak masuk hari ini" lanjutnya dengan wajah masam

"Aku akan tetap memberimu hukuman untuk absen hari ini"

Terserahlah, lagipula aku tak ingin pergi ke sekolah. Timpalnya dalam hati

"Kalau begitu aku pergi dulu" ucap Kakashi sambil bangkit

"Serius? Kau mau pergi ke sekolah? Tapi ini sudah pukul 10 lebih..."

"Sudah kubilang aku hanya telat" jawabnya sambil berlalu ke kamar, lalu kembali lagi dengan menggunakan masker kesayangannya

"Kalau begitu aku pergi dulu" pamitnya, lalu berjalan dan menghilang di balik pintu

"Eh?"

Rasanya ... seperti, aku... (tiba-tiba di atas kepalnya terasa seperti muncul sebuah bayangan)

"Ah sayang, aku pergi kerja dulu... kau jaga rumah baik-baik" ucap Kakashi sambil mengecupnya mesra

"Baiklah sayang, cepat pulang. Aku akan menuggumu di rumah dengan setia mmuuaahhh"

"IIE. Tidak tidak! Apa-apaan barusan! Apa yang kau pikirkan Ino!? Itu tidak mungkin!" teriaknya sambil menggeleng-geleng ganas, ia memukul-mukul dinding kayu di sebelahnya

"Astaga, aku harus segera pulang dan meninggalkan tempat ini" ucapnya mantap. Kemudian melangkah dan hendak berlalu, namun ia melirik sekeliling ruangan yang hampir tak berwujud itu. Parah. Semuanya berantakan sekali. Hampir semua barang-barang di sana pecah akibat ulahnya beberapa jam lalu. Kemudain ia meringis mengingat apa yang telah ia lakukan

*flashback

"Apa maksudmu, ada yang salah dengan cerita ini hah!?"

"Ino tenang dulu—"

"Tenang katamu!? Sensei macam apa yang membawa muridnya kemari ! dasar guru bejad"

BRUUUKKK

DDUAAAGHH

PRRAAANGG

"Ino hentikan, kau menghancurkan apartemenku"

"Apa! Aku tidak peduli! Aku kesal. Sensei! Aku tak akan memaafkanmu"

"Tapi kau lah yang mengajaku—"

"Diam! Pokoknya aku marah dan tak akan memaafkanmu! Aarrgghhhhh... menyebalkan!"

BRUGHHHH

PRAAANNGGG

DUAAAKKKHH

*Flashback end

Ino kembali meringis saat ia mengingatnya, kemudian ia memutar balikan tubuhnya dan meraih sapu di dekat pintu

"Mungkin aku terlalu berlebihan..." gumamnya

.

.

.

.

Mobil mewah itu melaju dengan kecepatan sedang, melewati pertokoan yang berjajar di setiap pinggir jalan. Beberapa waktu lalu sebelum ia meninggalkan sekolah, ia sudah meminta ijin terlebih dahulu. Neji Hyuuga sang kakak angkat itu biasanya tak akan mengijinkan Hinata pergi kemanapun setelah usai sekolah. Namun kali ini gadis Hyuuga itu 'sedikit' memaksanya untuk membiarkan ia mencari Ino sendiri.

Meskipun ia sendiri tak tahu harus mencari kemana. Tapi ia sudah memutuskan untuk memastikan sekali lagi ke kediaman Yamanaka. Baru jika nanti ia masih saja tak mendapat kabar dari gadis pirang itu, ia akan melaporkannya ke pada Yamanaka inochi ayah dari gadis tersebut.

Keadaan Hinata masih sama, ia tak berhenti menghubungi Ino sejak kemarin meski dari sebrang hanya terdengar suara operator yang terus berkata "Nomor yang anda tuju tidak terdaftar" dan itu semakin membuatnya kian cemas akan ke adaan gadis pirang bak barbie itu

Lamunannya terhenti ketika sang sopir berkata di depan kemudi sana

"Kita sudah sampai Oujo-sama" ucapnya

"Ah, arigatou... kau bisa menungguku di mobil saja" titahnya, kemudian ia keluar mobil dan berjalan memasuki pekarangan rumah Ino

"Aku tidak tahu harus mencarinya kemana lagi, tapi tak ada salahnya memastikan kembali" ucapnya pada diri sendiri sebelum menekan bell rumah

TING TONG, TING TONG

Masih belum ada tanda-tanda, tapi Hinata kemudian menarik napas pelan dan kembali menekan bell

TING TONG

CETLEK

"Ah maaf-maaf, aku sedang sedikit sibuk, ada perlu—"

"Ino-san!" teriak Hinata, sambil menghambur ke pelukan Ino

"Hinata?" kagetnya melihat sahabatnya itu tiba-tiba memeluknya

"Ada apa? Tumben pulang sekolah langsung ke rumahku?" tanyanya bingung melihat Hinata terisak

"A-aku mengkhawatirkanmu, kau menghilang begitu saja sejak kemarin. Kau juga tak menghubungiku. Kau bahkan tak ke sekolah hari ini. Ada apa? Apa yang terjadi!?" Ino hampir di buat terperangah demi di dengarnya Hinata bicara sepanjang itu, ditambah isak tangisnya yang belum berhenti

"Hi-Hinata kau..."

"Aku mencari Ino-san dari semalam. Aku benar-benar mencemaskanmu"

"Gomen, masuklah kita bicara di dalam saja" ucapnya sambil memberi gestur agar Hinata masuk. Ino menyuruhnya duduk di sofa, sedangkan ia berjalan ke arah dapur dan mengambil sesuatu dari kulkas. kemudian melepas apronnya, dan berjalan mendekati Hinata yang masih terisak

"Tenangkan dirimu, ini minumlah" ucap Ino sambil menyodorkan minuman dingin

"Ha'i" jawabnya sambil menerima minuman tersebut

"Aku minta maaf, karena tak menghubungimu sebelumnya. Waktu itu aku benar-benar sedang kacau" tuturnya

"Tidak. Aku senang jika kau benar-benar tidak apa-apa"

"Tadi kau bilang kau mencariku kemarin malam?" tanyanya memastikan

"Hm, aku meminta Neji-kun juga untuk membantukku mencari Ino-san"

"Tapi bukankah kemarin malam itu adalah pesta ulang tahun Naruto?"

"Iya, ia juga mengundangku. Tapi tentu saja karena—"

"Gomen, Hinata. Gomenasai. Hontouni gomenasai" Ino menunduk dan terdiam

"Ino-san... i-itu, itu ti-tidak masalah, aku senang akhirnya Ino-san tidak apa-apa"

"Tidak. Maaf karena sikap egoisku ini. Aku bahkan melupakan hal yang penting untuk sahabatku" ucapnya lemah, kemudian ia melanjutkan

"Seharusnya aku—"

"Itu tidak benar, aku hanya melewatkan satu pesta saja. Itu bukan masalah besar, bagiku keselamatanmu adalah hal yang paling penting" ucapnya lembut, membuat Ino tak bisa menahan tangisannya

"Hinata-chan... huwaaaaa" Ino menangis sejadi-jadinya, membuat Hinata panik dan berusaha menangkannya.

"Ini bukan apa-apa dibandingkan dengan apa yang telah kau lakukan untukku. Aku benar-benar tak akan pernah melupakan kejadian 'waktu itu'. Kau adalah sahabat yang terbaik yang pernah kumiliki" ucapnya dalam hati. Kemudian tersenyum melihat Ino yang berderai air mata dan merengek meminta maaf berulang-ulang. Hinata tertawa melihat tingkah lucu Ino

"Hei! Jangan menertawakanku!" ucapnya desela isak tangis, membuat Hinata langsung terdiam dan menunduk meminta maaf.

"Tidak! Jangan meminta maaf padaku" kemudian Ino kembali melanjutkan tangisannya yang sedikit terdengar berlebihan. Hinata hanya tersenyum lega melihat Ino baik-baik saja.—setidaknya itu yang ia lihat, namun kenyataannya... musim semi ini meniggalkan luka juga untuk gadis pirang itu.

Bagaimana di musim mendatang nanti? Tentu semuanya tidak akan berakhir sama. Meski ia mendapat luka lain di hatinya, namun ia tetap akan menanti musim panas. Seperti katanya "I feel the summer in the spring" kisah cinta gadis Yamanaka ini belum berakhir. Bahkan ini adalah awal. Awal dari sebuah pertunjukan.

To be continued...