A/N: 3rd chapter of DraLu. R & R, Flame silahkan.
xOxOxO
Suasana Hotspot Cafe serta-merta berubah menjadi gaduh. Para penyihir yang sedang asyik menghabiskan liburan akhir pekan, berusaha menolong Lucius yang tadi ambruk ke lantai.
Narcissa tak kuasa menahan perasaan shocknya, menangis tersedu-sedu. Sementara Draco yang merasa berasalah, sedang sibuk berdebat dengan sekretaris rumah sakit St. Mungo. Dalam hati ia menyesalkan pelayanan di rumah sakit itu yang gak profesional. Mana ada coba, rumah sakit yang ambulance-nya katanya lagi kehabisan bensin?
Ckckck..
Di sudut lain dari pemandangan diatas, Luna terdiam membeku ditengah-tengah kerumunan massa yang mengelilingi tubuh Lucius. Hatinya terasa hancur, sudah cukup bentuk penolakan yang ia terima selama ini dari anggota keluarga Malfoy atas dirinya. Mungkin benar apa yang dikatakan Pansy Parkinson beberapa hari sebelum liburan sekolah dimulai.
"Pungguk takkan pernah bisa menggapai bulan!" tukas Pansy pada malam itu, tepat setelah kelas ramuan usai.
Tubuh Luna gemetar, mungkin karena dinginnya udara pada malam itu. Tak ada gunanya lagi sekarang, batin Luna. Lebih baik aku mundur daripada kehadiranku disini hanya menyakiti banyak pihak, gumamnya sedih.
Luna menyelinap pelan-pelan, menjauhi kerumunan itu. Draco tak melihatnya, tentu saja. Ia sedang sibuk mengurus ayahnya yang penyakit jantungnya tiba-tiba saja kambuh. Luna bergerak menjauh. setelah merasa aman dari pandangan mata orang banyak, Luna berlari sekuat tenaga. Berlari menjauhi cintanya, Draco.
Diagon Alley Shopping center sudah mulai sepi, mungkin karena malam sudah mulai larut.
Luna berjalan menyusuri lorong-lorong gelap Diagon Alley. ia tak peduli kalau-kalau ia bertemu dengan penyihir hitam yang mencoba menyakitinya, mungkin. Ataukah dengan segerombolan Death Eaters Tak Berwajah. Toh, apa bedanya lagi sekarang? dia baru saja disakiti oleh seorang Death Eaters!
Luna merasa tak perlu ber-Apparate ke rumahnya saat itu juga. Ia ingin menenangkan kembali pikirannya, menata hatinya dulu. Ia tak ingin ayahnya melihat dirinya dalam kondisi berantakan seperti saat ini.
Dengan gusar Luna merogoh tas-nya. mencari suatu benda. Ketika ketemu, benda itu lantas ia buang begitu saja, butiran-butiranya berserakan dimana-mana.
Luna menatap benda itu, tatapannya sayu dan tak bergairah.
"Aku sudah tak butuh kau. Aku sudah cukup puas menjadi diriku sendiri apa adanya, Luna si Loony tunes. Luna si badut.." sahut Luna lirih. Luna berbalik dan menjauhi tempat itu. langkahnya gontai, ia tak tahu hukuman apa yang akan diterimanya kalau ayahnya tahu ia telah membuang obatnya.
Xenophilius Lovegood terlihat gusar, tubuhnya mondar-mandir kian kemari seperti setrikaan. Ia sedang berada di depan pintu kamar Luna. Sejenak ia ragu, ketuk atau enggak, yaa? batinnya. Tapi ia mengurungkan niatnya. Xeno takut mengganggu tidur Luna, apalagi anaknya itu terlihat murung saat pulang dari kencannya semalam.
**flashback beberapa jam lalu:
Xenophilius Lovegood memasang matanya kuat-kuat agar tetap terjaga. Berbatang-batang lidi dan jepitan sudah ia siagakan untuk mengganjal kelopak matanya agar tidak jatuh dan tertutup. Pokoknya, pertandingan akbar malam ini tak boleh ia lewatkan begitu saja. Persija VS PSM. Tangannya memegang rokok SEMPURNA. Sementara itu, tatapannya tak beralih dari layar televisinya. sesekali ia menyeruput kopi tubruk dari cangkir yang ia taruh di gagang kursi.
Tiba-tiba, Luna nyelonong masuk tanpa tedeng aling-aling. Xeno, yang saat itu sudah nyaris saja tertidur, langsung gelagapan saking kagetnya. Tak biasanya Luna bersikap seperti itu. Setahunya, anaknya itu selalu mengucapkan salam kalau hendak masuk rumah.
"Eeh, Luna. Udah pulang, nak? Gimana tadi kencan kamu, sayang?" tanya Xeno, sok care.
Luna terdiam lama sebelum akhirnya berkata, "Sukses kok, daddy. Daddy gimana, sukses gak begadangnya?" ujar Luna pelan.
Xeno terkekeh, "Almost, honey. Daritadi belum ada yang cetak gol, nih. payah deh.. Daddy jadi penasaran, siapa kira-kira pemenangnya nanti. daddy mau buatkan rubrik khusus di Quibbler kita" ujar Xeno.
Luna manggut-manggut, "Ooh, bagus deh, Daddy. Oh iya, ntar kalau mau bikin rubrik sport, liput aja tim Thomas-Ubernya Indonesia, pemainnya keren-keren, loh. Remaja-remaja dunia sihir pasti suka, deh" usul Luna asal.
Xeno mengangkat kedua jempolnya, "Sip deh, sayang. Oh ya, kamu gak ngantuk nih? gimana kabarnya Draco? denger-denger, dia punya mobil baru, yaa?" tanya Xeno seolah tanpa dosa, udah gitu pake masang tampang sok imut lagi!
(Luna ngerti banget sama ekspresi bokapnya yang satu ini, doi pengen banget punya mantu borju, makanya doi baekin Draco).
Luna menelan ludah. dia udah kadung ilfeel ma tuh anak. "Gak tau lah, dad. Gak usah nanya-nanya tentang dia lagi, yaa? Please.." ujar Luna memohon.
Xeno mengerjapkan mata, tak percaya dengan perkataan anaknya barusan, "Loh, memangnya kenapa dia? Kamu sakit, yaa lun?" nada suaranya mulai berubah khawatir.
Ekspresi Luna mengeras, "Enggak apa-apa kok, Dad. Luna cuma masuk angin aja" ujarnya dingin sambil berbalik menuju kamarnya.
"Daddy kerokin, mau?"
**End Flashback
Jadi, begitulah. dan sampai jam segini Luna belum juga keluar kamar. Padahal Xeno tahu persis, Luna selalu bangun tepat pukul lima pagi untuk menunaikan shalat subuh. Akhirnya, Xeno gemas juga. Dengan ragu-ragu, ia memberanikan diri mengetuk pintu kamar Luna.
Toktoktok! Tidak ada jawaban.
Toktoktok! Masih tetap tidak ada tanggapan.
Xeno gemas, ia mencoba mengetuk sekali lagi.
Toktoktok!
Tiba-tiba, sebuah kepala menyembul keluar, "Ada apa, daddy?"
Bukannya ngejawab, Xeno malah berteriak-teriak histeris. Ckckck, ada apakah gerangan?
Luna berusaha menenangkan Daddy-nya, "Daddy, daddy! Tenang, ini aku, Luna! Anakmu, ingat? Daddy kenapa, sih?" tanya Luna khawatir. Tiba-tiba Xeno terdiam, lantas mengucek-ngucek mata, "Ini Luna, kan? Bukan hantu?" tanyanya polos.
Luna terkekeh, "Astaga, Daddy! Luna kirain ada apa! Enggak, ini beneran Luna, kok! Luna tuh lagi pake masker. Ih, Daddy ndeso banget, deh!" ujar Luna, berusaha menahan tawa. Kalau tawanya pecah, bisa-bisa masker yang digunakannya retak.
Xeno mengerjap-ngerjapkan matanya, tangannya meraba-raba tubuh Luna, "Ooh, iya, bener" gumamnya lirih.
Luna tersenyum, "Lagian, Daddy, sih. Ngapain pake ngetok-ngetok kamar Luna segala?"
Xeno menghembuskan napas lega, "Daddy tuh khawatir sama kamu, nak. Soalnya kamu pulang-pulang langsung merengut, gimana sih? Kamu lagi gak ada masalah, kan, sama Draco?"
Luna menggeleng setengah hati, "iya, gak apa-apa kok, dad"
Xeno manggut-manggut, "Oh, bagus deh kalau begitu. Tadi malem waktu kamu sudah tidur, doi nelpon kemari, nanyain kabar kamu.. perhatian banget, ya?"
Luna mangkel, tapi tetap berusaha tersenyum, "Iya, daddy."
Xeno mengangguk, "Ya sudah kalau begitu" ujarnya pelan. Ia berjalan menjauhi kamar Luna dan kembali ke kamarnya, berusaha untuk tidur. Gara-gara begadang semaleman nonton bola, doi jadi insomnia dan akhirnya sakit kepala.
Tidak terasa, liburan sekolah usai sudah dan besok senin Luna sudah harus masuk ke sekolah lagi. Maka dari itu, siang ini Xeno bela-belain gak ngantor cuma buat nganter Luna ke stasiun King Cross. Setelah acara peluk-cium dan berpelukan bentar dengan sang Daddy, Luna melambaikan tangan ke arah Ginny yang juga melihatnya dari kejauhan. Ia pun berlari menyusul Harry, Ron, Hermione, dan Ginny yang terlihat sedang asyik bergosip di salah satu kompartemen kereta. Luna bergabung dan mereka pun duduk berdesak-desakan.
Tak lama kemudian, Hogwarts Express pun perlahan-lahan bergerak menjauhi peron 9 3/4.
"Eh, bagaimana liburanmu?" tanya Luna riang. Bertemu dengan sahabat-sahabatnya memang dapat membuatnya melupakan sejenak masalah yang sedang menderanya.
Ginny membalas dengan tak kalah riangnya, "Seru banget! Aku diajakin ke Disneyland sama mom n dad. Habis, dad kan baru dapet bonus gede dari kantornya" ujarnya dengan semangat.
Luna mengerjap, "Wow, Disneyland? Keren banget tuh! Duh, aku juga jadi pengen kesana. Tapi Daddy sih, gak sempet terus!" keluh Luna.
Ginny terkekeh, "Iya nih, pokoknya disana tuh seru banget! Ron aja sampe ketagihan maen. Liat tuh, mukanya jadi tambah mirip Mickey!" tunjuk Ginny pada Ron. Luna memperhatikan wajah Ron sejenak, lalu manggut-manggut heran. Tambah mirip bloonnya kali, ya? kata Luna dalam hati.
Ginny bertanya lagi, "Loh, bukannya waktu itu kamu pernah bilang sama aku kalo kamu juga habis pergi ke Disneyland, yaa?"
Luna mendengus, "Huh, Disneyland apaan! Tau-tau waktu itu di plangnya malah tertulis 'TRANS STUDIO'. Disitu mbak-mbak nya bilang kalo gedung itu noh, sama hebohnya sama Disneyland, nyatanya pas aku masuk, ternyata biasa aja, malah kayaknya masih bagusan Ancol, lagi" ujar Luna sedkit kesal bercampur kecewa.
Ginny melongo, "Loh, Ancol itu dimana, sih? Kok kayaknya baru denger deh aku.."
Luna megibaskan tangan, "Forget it.."
Luna memandang pemandangan di luar jendela. Hogwarts Express melaju cepat diantara perbukutan, pegunungan, dan sungai. betul-betul panorama alam yang indah. Tiba-tiba Hermione, yang baru saja kembali dari membeli jajanan, masuk dengan grasa-grusu, terlihat kesal sekali.
Harry merendahkan The Quibblers yang dibelinya dari Luna tadi, "Hei. Ada apa, non?"
Hermione mendengus kesal, "Siapa lagi sih, kalau bukan Malfoy? Dia itu satu-satunya yang dapat merusak moodku! Senang sekali dia rupanya, terus menerus menghinaku dengan sebutan mudblood!" ujar Hermione, pipinya merah tanda hatinya benar-benar marah.
Saraf sadar Luna yang mendengar nama Draco disebut langsung bereaksi.
Ia menoleh kearah Hermione yang duduk di dekat pintu. Dan tepat pada saat itu, Goyle, Crabbe, dan tentu saja, Draco melintas di depan kompartemen mereka. Draco menoleh, dan sesaat tatapan matanya dan Luna beradu.
xOxOxO
A/N: Gimana reader? Humornya dapet gak? :D
