(3) Bertemu Si Mesum

*

"Apa yang kita lakukan di sini?"

"Memandang bintang tentu saja."

Gadis bermata cokelat itu tertawa mengejek. "Oh ya, memandang bintang yang bahkan tengah bersembunyi," ejeknya sinis.

Pemuda yang memiliki rambut bergelombang hitam itu membalikkan tubuhnya di atas rumput menjadi posisi miring yang menghadap gadis di sampingnya dengan senyum menawan, tangan menopang kepalanya agar lebih tinggi dari tubuhnya. Dia menatap mata cokelat itu lembut dan menggoda,

"Bintangnya tidak bersembunyi, itu ada di matamu."

Gadis itu tertawa malu-malu. Dia mengulurkan tangannya dan melilitkannya di sekitar leher pemuda itu dengan erat, menariknya ke bawah dan mematuk bibirnya sekilas sebelum pemuda itu kembali mundur, masih dengan senyum menawan di wajahnya yang tampan.

"Kau benar-benar sesuatu. Sudah berapa gadis yang kau goda dengan hal 'bintang ada di matamu', hm?" tanyanya dengan sebelah alis terangkat tinggi.

Pemuda itu kembali merebahkan tubuhnya di samping gadis itu dan mata hitamnya memandang langit hitam berkabut di atasnya. "Aku tidak melancarkan godaan yang sama setiap hari, tahu," jawabnya dengan cengiran lebar.

Gadis bermata cokelat memukul bahunya geram saat berkata sok, "Kau harusnya mencontoh James, dia pada akhirnya menjadi setia setelah mendapatkan gadis yang diincarnya."

"Lily saja yang tidak tahu sudah berapa banyak gadis yang ditidurinya," cibir pemuda itu.

Si gadis tiba-tiba duduk dengan ekspresi tercengangnya. "Kau serius?" dia melongo syok, "kupikir dia hanya bermain-main sampai Lily akhirnya jadi pacarnya."

Pemuda itu tertawa mengejek. "Kau seharusnya tahu kalau perkataanku bohong, gadis kecil. Tidak, dia tentu saja tak pernah memasukkan miliknya ke orang lain. Merlin, dia bahkan tak berani karena dia selalu menginginkan Lily," dia bergidik ngeri, "well, tapi dia memang bermain-main. Kau tahu, ciuman-ciuman kecil," dia mengembangkan senyumnya, "remasan-remasan kecil dan tusukan kecil."

Gadis bermata cokelat itu menautkan alisnya bingung saat bertanya, "Tusukan kecil?"

Pemuda itu duduk dan wajahnya mendekat ke wajah sang gadis sambil berseru panik, "Oh Merlin, apa kau benar-benar tak tahu?"

Gadis itu menggeleng polos. Tapi matanya segera melebar saat si pemuda yang wajahnya telah mendekat kini semakin mendekat dan bibirnya telah menempel di miliknya. Pemuda itu meletakkan lengannya di berakang kepalanya untuk membaringkannya di rumput dengan lembut dan perlahan sambil terus melumat miliknya.

Ketika tangan si pemuda mencari kancing kemeja yang dikenakannya untuk dibuka, ia berhenti melakukannya karena mendengar suara sesuatu yang jatuh di atas tanah seolah benda atau apapun itu jatuh dari ketinggian berkilo meter.

Sang pemuda langsung menegakkan dirinya dan memandang berkeliling dengan waspada, nata hitamnya menyipit agar mampu melihat di kegelapan malam. Ia bahkan tak berani mengucapkan Lumos pada tongkatnya karena takut itu adalah guru atau Filch si penjaga sekolah sialan.

"Ada siapa?" tanya si gadis gugup sambil merapikan rambut hitam berantakannya dan merapikan kemejanya yang keluar dari tempatnya.

"Prongs, apakah itu kau? Kau menyamar menjadi Minnie lagi?" suara pemuda itu menggelegar di kegelapan dan sedikit menggema membuat beberapa hewan malam menjadi terdiam.

Tak ada jawaban. Mata hitamnya kembali berkelana, berputar, sampai ia menemukan sesuatu bergerak tak jauh dari tempatnya. Dia mengangkat alisnya yang cukup tebal, bertanya-tanya jika itu James jelas sangat tidak mungkin orang sepertinya bisa jatuh dari sapu terbang atau kehilangan pijakan dari Menara Astronomi. Jelas itu bukan salah satu dari ketiga sahabatnya.

Dia berpaling menghadap gadis malamnya dan memerintah lembut, "Kau tunggu di sini, aku akan ke sana sebentar," sambil menunjuk tempat di mana seseorang itu masih menggeliat.

"Aku ikut," pinta gadis itu.

"Tidak, jika itu temanku kau akan dalam masalah selama berhari-hari, Maya," dia memberitahu buru-buru karena telah tak sabar.

"Tapi... Sirius—"

Perkataannya terpotong karena ia menciumnya sekilas dan mulai berdiri. Dia sedikit berlari menuju tempat yang dimaksudnya. Ternyata itu memang seseorang. Tapi bukan salah satu dari ketiga sahabat sialannya atau salah satu dari profesor dan Slytherin berlendi. Itu seorang gadis. Gadis yang memiliki rambut cokelat yang menyebar dan bergelombang berantakan. Sangat kentara kalau rambut itu tak pernah di rawat. Punggungnya yang menhadapnya dan rambutnya yang menutupi wajahnya membuatnya tak bisa melihatnya secara jelas. Tapi yang ia tahu, gadis itu mengenakan jubah merah dari Gryffindor. Asramanya.

Mungkin dia salah satu dari penggemarku, pikirnya sambil menyunggingkan seringai licik.

Dia berjongkok perlahan tepat di depan wajahnya dan ia menyibak rambut semak itu dari wajahnya. Well, dia belum pernah melihat wajahnya gadis itu. Wajahnya tidak familiar. Dia menduga mungkin gadis itu adalah murid pindahan yang sering mengurung diri di kamar atau di perpustakaan dan di tempat-tempat yang jarang ia kunjungi. Tapi sekali lagi, jika gadis itu adalah Gryffindor seharusnya—

"Sirius!" suara gadis malamnya mengusiknya.

Dia menolehkan kepalanya dan memberi senyum simpul padanya sambil memberi isyarat agar bersabar sedikit lagi. Gadis Ravenclaw yang menyebalkan, dengusnya. Ia lalu menepuk-nepuk pipi gadis tanpa nama berulang-ulang sampai ia mendengar suara erangan dan mata gadis tanpa nama terbuka. Mata cokelat. Sekali lagi ia menjumpai mata cokelat. Bukankah dunia ini dipenuhi dengan mata cokelat?

Setiap kali ia mengincar gadis, ia selalu menjumpai setiap mata gadis itu sama. Cokelat. Hazel. Menatapnya penuh pemujaan. Dan cokelat. Dan itu membuatnya bosan. Padahal tadi ia berpikir bahwa mungkin ia bisa berkencan dengan gadis tanpa nama itu, namun pikirannya segera ia tepis saat ia tahu matanya adalah cokelat. Tak bisakah ia bertemu dengan mata hijau, hitam, atau merah, atau apapun selain cokelat?

Gadis tanpa nama menegakkan dirinya dengan tangan yang bertumpu pada tanah untuk membantunya duduk. Mata cokelatnya sedang mengamatinya dari atas sampai ke bawah berulang kali dengan kerutan samar di keningnya.

Well, dia cantik jika saja bukan cokelat. Mata hitamnya terarah pada bagian dada gadis itu dan matanya melebar syok sambil memekik,

"Kau bukan ketua murid! Ketua murid adalah Lily dan James! Dasar kau makhluk tanpa nama yang mencuri lencana milik Lily!"

*

Hermione tak tahu apa yang terjadi. Saat kegelapan menyapanya, ia hanya tahu bahwa ia seperti diterbangkan seakan ia adalah sebuah kertas atau kapas dan semacamnya yang begitu ringan. Angin entah dari mana menampar pipinya dan dia tiba-tiba merasa ada sesuatu yang keras di bawahnya yang ia pikir ia telah kembali ke lantai di ruang rekreasi sang Ketua. Tapi ketika ia mencoba menajamkan pendengarannya, yang ia tangkap hanyalah suara hewan malam dan suara langkah kaki.

Langkah kaki?

Well, mungkin itu Malfoy atau Mcgonagall yang akhirnya telah menemukannya. Dia tak akan lagi menggunakan Time Turner konyol, ia bersumpah.

Dia merasakan sebuah tangan menyingkirkan rambutnya dan menampar-nampar pipinya dengan perlahan membuatnya berani membuka mata. Bukankah Malfoy tak ingin menyentuh Lumpur? Itulah yang membuatnya membuka mata. Tapi saat ia menatap siapa yang membangunkannya dan berada di mana ia sekarang, ia segera bangkit duduk sambil menumpukan kedua tangannya di tanah.

Tanah?

Pantas saja ia mencium bau tanah dan rumput basah dan mendengar suara binatang malam. Ia berada di luar kastil. Bagaimana dia bisa berada di luar?

Perhatiannya segera terfokus kembali pada orang yang telah membangunkannya. Seorang pemuda. Rambut sepanjang leher berwarna hitam dan bukannya pirang, bergelombang bukannya lurus, kulit cokelat bukannya pucat, mata hitam dan bukan abu-abu. Dia jelas bukan Malfoy. Apalagi jubahnya. Itu Gryffindor.

Keningnya berkerut. Dia seperti pernah melihatnya, tapi entah di mana. Wajahnya agak familiar. Rambut hitam, wajah tampan yang agak sombong, bibir tipis berwarna merah dan agak... bengkak?

Dan pikirannya hancur saat pemuda itu memekik syok, "Kau bukan Ketua Murid! Ketua Murid adalah Lily dan James! Dasar kau makhluk tanpa nama yang mencuri lencana milik Lily!"

Mata cokelatnya melebar terutama saat pemuda itu dengan paksa mengambil lencana ketua murid-nya dari dadanya langsung. Hermione refleks menampar pemuda yang kurang ajar itu dan bergegas berdiri.

"Berani-beraninya kau menyentuhku? Dasar laki-laki mesum! Aku bahkan tidak mengenalmu dan kau bilang lencana ini milik Lily? Jelas-jelas Ketua Murid-nya adalah aku dan Malfoy!"

Sambil mengusap pipinya yang ia yakini terasa panas itu, ia bangkit dan tertawa mencibir, "Kau mimpi apa, gadis? Kau jangan berhalusinasi. Malfoy sudah keluar dari Hogwarts, lulus tahun lalu, Ketua Murid sekarang adalah James Potter dan Lily Evans! Kembalikan lencana milik Lily sekarang juga!"

"Apa-apaan—"

James Potter dan Lily Evans? Potter dan Evans? Mereka... matanya melebar dan menatap pemuda mesum di depannya dengan syok. Tidak mungkin, dia menggeleng sambil berjalan mundur tanpa melepaskan pandangannya. Dengan sadar ia meraba lehernya, dan rantai dari Time Turner masih di sana, tanpa bandulnya.

TANPA BANDULNYA?!

Dia menarik rantai dan menatap kalung itu dengan mata lebar ketakutan dan panik. Time Turner tidak bisa membawa orang lebih dari puluhan tahun, itu hanya bisa beberapa jam saja. Tapi ini... dia... tidak, tidak, dia jelas sedang berhalusinasi. Ini jelas tak nyata. Itu jelas bukan Sirius Black muda yang ia panggil mesum. Dan James Potter bukan James Potter ayah Harry serta bukan Lily Evans milik Harry. Itu jelas hanya halusinasinya saja yang merajai otaknya, melumpuhkan pemikirannya dan kenyataan.

Nah, itu mungkin saja Malfoy yang menyamar menjadi Sirius Black muda, ia beralasan. Malfoy melakukannya karena ingin balas dendam dengannya. Ya, itu mungkin saja. Jadi, untuk apa dia panik sekarang? Karena Time Turner tidak bisa membawa orang ke puluhan tahun belakang. Itu tak bisa.

Tapi bagaimana jika Time Turner rusak dan menyebabkan kerusakan fungsinya? Hermione menggigit bibir bawahnya panik. Matanya kembali terangkat dan menatap pemuda mesum yang ikut melangkah untuk mendekatinya.

"SIRIUS!" suara melengking dari seorang gadis membuatnya dan pemuda mesum itu menoleh.

Gadis itu memanggilnya Sirius. Sirius. SIRIUS? Berapa orang di dunia ini yang memiliki nama Sirius? Oh tidak, Hermione menggeleng panik. Dia melihat pemuda mesum itu menatapnya sejenak penuh perhitungan dan seringai aneh sebelum menghampiri gadis berambut hitam di tanah itu. Hermione menganggap ini sebagai akhirnya ia bisa pergi dan menjernihkan pikirannya.

Dia berlari sambil memegang rantai Time Turner yang bandulnya telah menghilang tak tahu di mana sampai ia berhenti di depan pintu utama kastil yang menuju Aula Depan. Pintu kayu besar itu tertutup, seharusnya ia sudah menduga hal itu. Jadi sekarang, bagaimana caranya ia masuk dan menemui Dumbledore, meminta bantuannya, menceritakan semua halusinasi anehnya ini, dan kembali ke asalnya. Peraturan dari menggunakan Time Turner adalah, tak boleh sampai terlihat, jangan berbicara dengan orang lain dan dia telah melanggar keduanya. Apakah jika ia kembali ke asalnya ia akan dihukum dan dimasukkan ke Azkaban? Atau dikecup Dementor? Hermione bergidik membayangkannya.

"Hei gadis tanpa nama!" Hermione menoleh dan mendapati pemuda mes—Sirius, tengah merangkul gadisnya dan berjalan ke arahnya dengan seringai yang tersungging angkuh. "Apa kau butuh bantuan untuk memanjat?"

Dia menaikkan alisnya. "Memanjat?!" pekiknya tak mengerti.

"Sirius, kau harus bicara yang masuk akal," gadis dalam pelukannya memukul dadanya manja.

Sirius mematuk bibir si gadis untuk mendiamkannya dan mata hitamnya kembali menatapnya dengan angkuh. "Jika kau butuh bantuan, aku bisa membantumu masuk kastil tanpa ketahuan Filch dan kucingnya, gadis pencuri lencana," dia menawarkan dengan suara angkuhnya.

"Dengar, aku tidak mencuri lencana siapapun," geramnya sambil melangkah tegas menuju Sirius, "dan aku tidak butuh bantuanmu."

Sirius telah berdiri di hadapannya. Seringai masih tersungging lebar dan itu mengganggu wajah tampannya. Tunggu... tampan? Dia itu mesum! Sangat mesum. Apakah kau tidak ingat, Hermione, kalau Sirius adalah playboy di jamannya? Baik, dia mengingatnya sangat jelas dan Sirius menggunakan ketampanannya dengan salah. Salah besar. Terutama James. Baiklah, kedua anak itu menggunakan ketampanan dan kepintaran mereka dengan cara yang salah. Salah besar!

"Gadis pencuri lencana tanpa nama yang baru kulihat di sekitar sini, jika kau tak membutuhkan bantuanku, aku akan pergi bersama pacarku," katanya seraya melangkah melewatinya dengan sombong.

Hermione menggertakkan giginya. Mengepalkan kedua tangannya dan dia berbalik untuk menatap kepergian pasangan itu. Kalau dia tidak menerima bantuan si mesum, dia tidak akan bisa masuk dan meminta bantuan Dumbledore. Tapi kalau dia menerima tawarannya, seringai itu akan menjadi semakin lebar dan angkuh dan itu sangat memuakkannya. Hermione menggigir bibirnya keras sampai ia bisa merasakan rasa logam yang menempel di lidahnya. Menarik napas dalam-dalam, dia harus memilih. Oh Merlin, dia harus menerimanya dan harus menemui Dumbledore secepat mungkin. Itu harus!

Jadi, dia melangkah dengan cepat sampai berjalan persis di belakangnya. Karena tak ingin mengganggu pasangan menjijikkan, dia hanya mengikuti mereka sampai si mesum kembali bicara dengan angkuh,

"Oh, jadi gadis pencuri lencana tanpa nama, kau akan mengikutiku dan akan mencuri pacarku atau mencuri aku juga?"

"Ha, ha, ha," Hermione tertawa hambar, "bawa aku menemui Dumbledore!"

"Apa, kau ingin mencuri barang-barang Dumbledore juga?"

"Sirius!" pacar si mesum memperingatkan sambil mencubit bahunya.

"Omong-omong, itu juga bukan urusanmu," desisnya sebal sambil mengulurkan kedua tangannya ingin mencekiknya dari belakang.

Jadi, berakhirlah obrolan kecil mereka karean si mesum sibuk dengan pacarnya, entah itu tertawa cekikikan menertawakan bintang yang hilang atau hewan yang bersuara dan rambut masing-masing, lalu menempatkan ciuman-ciuman kecil membuat Hermione ingin muntah karena menjadi hantu di sana seolah mereka melupakan kehadirannya. Itu benar-benar menyedihkan.

Mereka berjalan menuju lapangan Quidditch yang sepi pada malam itu. Itu mungkin tengah malam, tapi kembali ke asalnya saat sebelum Hermione menghilang, saat itu masih jam sembilan malam, jadi mungkin itu juga sama. Tapi entahlah, kadang perbedaan waktu dan jaman bisa terjadi juga.

Hermione memikirkan Ron yang sekarang entah sudah mengetahui kabar menghilangnya dia atau belum, atau orangtuanya, bagaimana cara mereka menghadapi kenyataan saat tahu dirinya hilang. Hilang bukan karena diculik tapi karena Time Turner bodoh dan Malfoy idiot. Sekarang dia ingin membunuh Malfoy, jika dia tidak mengganggunya, meremukkan Time Turner-nya mungkin hal ini tak akan terjadi, bukan? Dia akan tetap berbaring di kamarnya sebagai Ketua Murid, bertukar surat dengan pacarnya dan sahabatnya serta orangtuanya, hidupnya akan bahagia setelah perang. Tapi apa ini? Dia terjebak. Kembali terjebak dalam hal yang menyedihkan dan kacau.

Ternyata mereka melewati bagian rumah kaca, Hermione mencatat dan mengingatnya jika ia akan menyusup ke luar nanti suatu saat, dan tiba-tiba pasangan itu berhenti membuatnya yang tengah melihat rumah kaca dan tanaman-tanamannya menabrak punggung si mesum.

"Apa?" tanyanya kasar sambil menggosok dahinya yang terbentur tulang punggungnya.

Si mesum berbalik, masih dengan seringai menyebalkan, dan berbicara sok lembut, "Aku masih punya urusan dengan pacarku, jadi kuharap kau tak perlu bantuanku lagi untuk mengantarmu ke kantir Kepala Sekolah karena aku yakin kau sudah tahu letaknya, benar?"

Oh ya, urusan si mesum yang akan berbuat mesum dengan pacarnya. Hermione memutar mata jengkel dan berjalan melewati mereka begitu saja sampai ia mendengar Sirius berteriak riang,

"Sama-sama!"

Hermione memutar matanya, menolehkan kepalanya ke belakang dan menjulurkan lidahnya sebal ke arahnya. Dia tak akan berterima kasih pada Sirius versi mesum ini. Tak akan. Bahkan ia tak ingin bertemu dengannya lagi. Es ia benar-benar tak tahu bahwa Sirius muda adalah mesum. Mesum, mesum, dan mesum!

*

"Tapi bagaimana kau bisa datang ke sini?" Mcgonagall bertanya khawatir padanya.

Hermione duduk gelisah di sofa di ruang tamu kepala sekolah menghadap Dumbledore dan Mcgonagall. Ia menceritakan kejadian mengenai hancurnya benda itu dan bagaimana ia akhirnya terdampar di sini dan meminta bantuan dari mereka. Dumbledore sendiri tengah meneliti rantai dari Time Turner, memeriksa kalau-kalau bandulnya terselip di salah satu lubang rantai. Hermione mendengus dengan pikiran itu. Mana mumgkin jam pasir yang sebesar itu bisa menyekip di lubang rantai yang sangat kecil?

"Saya juga tidak tahu, profesor, saat saya membuka mata saya sudah berada di tahun yang berbeda," jawabnya sejelas mungkin.

Dumbledore mendongak dari rantai dan bertanya ingin tahu, "Bagaimana kau bisa tahu kalau ini bukanlah tahunmu, Miss?"

"Err, saya bertemu si mes—maksud saya Sirius Black, Sir, dan sekarang dia sedang berada di rumah kaca bersama pacarnya," dia tak mampu menyembunyikan kekesalannya pada mesum itu.

"Jadi kau mengenal Sirius Black?" tanya Mcgonagall penasaran.

"Ya, dia adalah... ya, saya tak boleh mengatakannya, pokoknya saya mengenalnya. Jadi, apakah kalian bisa membantu saya kembali ke tahun saya yang sesungguhnya?" tanyanya tergesa-gesa, "karena jujur saja, saya telah menyalahi dua aturan yang berlaku, profesor."

Mcgonagall yang duduk di sampingnya mendesah keras. "Kami tahu, tapi kami tak bisa seenaknya meminjam Time Turner dari Kementrian. Kami harus menandatangi banyak data dan memberikan alasan yang logis kenapa kami membutuhkannya. Jika kami mengatakan ada yang terdampar di sini, di waktu ini, berkat Time Turner, bisa-bisa Kementrian akan mengintrogasimu dan menanyakan macam-macam," katanya dengan nada yang khawatir.

"Tapi mungkin aku akan mencoba memperbaikinya saja dan membuat jam pasir lain agar bisa mengembalikanmu," kata Dumbledore dengan suara yang jauh karena mata biru cerahnya terus tertancap pada rantai. "Dan untuk sementara mungkin kau akan tinggal di sini sebagai murid baru."

Mata Hermione melebar selebar piring, secara harfiah, dan dia hampir tersesak ludahnya sendiri. "Tapi, Profesor, itu tak boleh—"

"Apa kau punya saran lain, Miss?" Mcgonagall menyela, hal yang tak pernah ia lakukan selama ia mengenalnya dulu (atau di masa depan).

Hermione terdiam.

"Di sini aku lihat kau adalah Ketua Murid Perempuan, tapi di sekolah ini, Ketua Murid Perempuan kami adalah Lily Evans, dan artinya lencanamu akan kami ambil dan kau hanyalah murid biasa di sini," jelas Mcgonagall dengan tegas.

"Dan apakah saya akan tetap di Gryffindor?" tanyanya penuh harap.

"Oh tidak, tidak," Dumbledore mengulurkan tangannya dan segera, Topi Seleksi usang yang berada di puncak rak buku terbang menuju tangannya, "topi ini akan menyeleksimu."

"Tak bisakah saya di Gryffindor saja?" rengeknya penuh harap.

"Tidak, kau akan menyamar sebagai murid baru, Miss—"

"Granger, saya Hermione Granger," dia tanpa sadar menyela sang kepala sekolah.

"Yah, sayang sekali kau tak bisa menggunakan nama belakangmu," desah Mcgonagall.

Hermione mengerang. Salah satu hal yang paling dibencinya; Meninggalkan identitas aslinya untuk hal yang menyedihkan seperti pernikahan atau hal yang sedang dijalaninya ini!

Mcgonagall telah meletakkan topi seleksi di atas kepalanya dan dalam hatinya ia berharap si topi akan menempatkannya di asrama aslinya. Dia benar-benar berharap akan hal itu.

"Sayang sekali aku tak bisa menempatkanmu di sana, sayang," suara itu memenuhi kepalanya, suara dari topi seleksi.

Hatinya mencelos. Tak bisakah dia di Gryffindor saja?"

"Ravenclaw!" teriak si topi tanpa memedulikan keinginannya.

Setelah topi itu pergi dari kepalanya, dia memelototi topi iti dengan tajam. Ia bersumpah ia tak akan memakai topi itu lagi! Ia tak ingin memakainya dan ia ingin membunuh topi itu! Ravenclaw. Merlin, RAVENCLAW?!

"Jadi, jubahmu bukan berwarna merah, Miss Granger," kata Mcgonagall seraya mengayunkan tongkatnya dan merubah jubahnya yang berwarna merah menjadi biru.

Hermione menatap jubahnya dengan horor. Hidup barunya benar-benar menyedihkan.

"Tapi memang lebih baik kau menggunakan nama aslimu saja," kata Dumbledore membuatnya melupakan masalah asrama dan jubah, "dan malam ini kau bisa tidur di kantorku sampai esok pagi saat aku mengenalkanmu sebagai murid baru di depan seluruh anak."

Dan hati Hermione kembali tenggelam bersama darahnya yang mendidih. ]