Inside The Ramen

.

.

Disclaimer © Masashi Kishimoto

Inside The Ramen © dheeviefornaruto19

AU, OoC, typos?

.

.

Happy reading!

.

.

Three: Love Makes It Good

Tepat pada jam tujuh pagi, Hinata telah keluar dari kedai dengan sebuah tong sampah kosong di tangannya. Gadis itu menaruhnya di depan kedai seperti yang biasa dilakukannya setiap pagi.

Ia menoleh ke samping dan menemukan sesosok orang di kejauhan, berjalan dengan langkah cepat dan dinamis di antara penduduk desa yang juga sudah sibuk dengan aktivitas masing-masing. Dengan segera ia dapat mengenalinya. Pemuda itu, Naruto, datang lebih lama dari kemarin dan seharusnya Hinata mempunyai emosi untuk siap memarahinya. Tapi entah kenapa rasa itu hilang, seakan menguap.

Naruto berlari tergesa menuju kedai ketika jaraknya makin dekat. Barulah setelah ia mendekat, Hinata dapat melihat kalau pemuda itu tidak lagi mengenakan baju mencolok seperti kemarin, melainkan sebuah kaos biru dengan jins yang rapi. Penampilannya membuatnya sedikit berbeda di mata Hinata.

"Ohayo," sapa Naruto setelah tiba di kedai dan bertemu dengan Hinata. "Maaf, aku terlambat lagi. Kau... tidak marah kan?"

Hinata mengalihkan pandangannya dengan kaku. Sekarang ia benar-benar kehilangan emosinya, plus kehilangan kata-kata untuk diucapkan. Rasanya begitu canggung hanya untuk menjawab pertanyaan Naruto, setelah sebelumnya ia selalu bereaksi dingin terhadap cowok itu. Hinata pun terdiam sejenak sebelum akhirnya menggeleng.

Naruto tersenyum lebar, terlihat lega. "Kakimu bagaimana, masih sakit? Masih bengkak?"

Dan Hinata bereaksi dengan menggerakkan bola matanya, gelisah. "Sudah tidak apa-apa. Terima kasih."

Pemuda itu tersenyum setelah mendengarnya. "Baguslah."

Setelah itu, Naruto langsung mengambil sapu lidi yang selalu disandarkan ke tembok kedai dan mulai menyapu halaman, seperti kemarin. Bedanya, kalau kemarin ia disuruh oleh Hinata, kali ini ia melakukannya atas inisiatifnya sendiri. Selain itu, Naruto juga telah menganggap tugas menyapu ini sebagai tugasnya sejak awal.

Hinata sendiri hanya terdiam memandanginya, tidak tahu harus berbuat apa. Sungguh berbalik dengan keadaan kemarin dimana Hinata-lah yang terus mengintimidasi Naruto. Hinata merasa keadaan berbalik dan mengintimidasinya sekarang.

Tak lama kemudian, terdengar suara ibu Hinata dari dalam. "Hinata, Naruto! Masuklah ke dapur!"

Hinata lega oleh seruan itu, oleh sebab itu ia segera masuk ke dalam kedai. Naruto masih menyapu, tapi dengan gerakan lebih cepat.

"Hari ini aku akan masak, Kaa-san," kata Hinata setibanya di dapur. Dilihatnya sang ibu sedang mengiris bawang merah. Seperti biasa, di atas kompor telah tergeletak sebuah kuali besar untuk memasak kaldu ramen. Di sisinya menyala sebuah penanak nasi otomatis, tanda bahwa nasinya sedang dimasak.

Hinata memang jarang berada di dapur untuk memasak, sebab ia lebih suka jika disuruh bersih-bersih kedai atau membeli bahan-bahan dapur ke minimarket. Alasannya sederhana: Hinata tidak terlalu suka memasak. Dan untunglah hal ini tidak membuat ibunya kerepotan, sebab Hinata cukup bertanggung jawab untuk hal-hal lain di luar tugas okaa-san-nya.

"Tidak usah. Kaa-san akan mengajari Naruto bagaimana memasak ramen."

Hinata terdiam di ambang pintu. Matanya menatap tidak suka. "Kaa-san menolak bantuanku hanya untuk orang asing seperti dia?"

Ibu Hinata menghela napas ketika mendengar ucapan sinis putrinya. "Kaa-san tidak menolak bantuanmu, Hinata. Dan Naruto bukan lagi orang asing, jadi jangan sebut ia begitu," jawab ibunya kemudian.

Hinata bersikap cuek mendengarnya.

"Kau ke kamar saja, belajar seperti yang biasa kau lakukan," lanjut ibunya lagi. Setelah itu ia mengambil sebatang cabai merah besar dan mengirisnya perlahan, kelihatannya tidak ada lagi yang ingin dibicarakan dengan Hinata.

"Baiklah," jawab Hinata. Ia pun keluar dari dapur.

Saat hendak membuka pintu yang menuju ke lorong rumah mereka, seseorang mencegatnya.

"Apa ini punyamu?"

Hinata menoleh dan melihat selembar kertas berwarna jingga di tangan kanan Naruto. Sedikit terkejut, ia pun bertanya,

"Di mana kau menemukannya?"

"Di halaman," jawab Naruto sambil memberikannya pada Hinata. "Pasti jatuh tadi."

Hinata menyimpan kertas itu di dalam saku celananya. Tanpa banyak basa-basi lagi, ia pun melanjutkan lagi langkahnya. Tapi lagi-lagi Naruto menahannya.

"Kau berencana masuk ke Konoha?"

Hinata berhenti dan segera menoleh pada Naruto. "Apa kau membaca brosur ini?"

Naruto mengangkat bahu. "Aku tidak akan tahu kertas apa itu jika aku tidak membacanya, bukan? Jadi, apa itu benar?"

Hinata mengalihkan pandangannya. "Aku rasa itu bukan urusanmu."

Tepat ketika gadis itu berjalan pergi dan menghilang di balik lorong, terdengar suara ibu Hinata yang memanggil Naruto agar segera masuk ke dapur. Pemuda itu segera melupakan ucapan ketus Hinata dan berlari menuju dapur.

.

.

Di dalam kamarnya, nampak Hinata sedang memutar-mutar bolpoin di tangan kanannya. Sebelah tangannya digunakan untuk menopang dagu. Ia sedang melamun rupanya.

Selang beberapa saat kemudian, bola mata gadis itu bergeser menuju meja belajar yang dijadikan tumpuan sikunya sekarang. Di atasnya tergeletak berbagai macam buku pelajaran yang rata-rata terbuka lebar dengan coret-coretan di dalamnya. Tepat di depan matanya, lima buah brosur terhampar jelas, tertulis kalimat "Konoha High School" dengan besar.

Hinata mengambil brosur jingga yang diberikan Naruto padanya tadi. Dibacanya sebentar, kemudian ia menaruh kembali brosur itu ke tempat awal.

"Apa kau berencana masuk ke Konoha?"

Hinata mendesah kala mengingat ucapan Naruto barusan. Sebab kenyataannya memang seperti itu.

Selama setahun tinggal di Fujitari, bukan Hinata namanya jika hanya diam saja tanpa mencari informasi mengenai sekolah menengah atas yang bagus, baik di Fujitari ataupun di kota alias Tokyo. Gadis itu telah menghabiskan waktu banyak untuk mencari tahu dan hasilnya adalah Konoha High School, sekolah elit yang kualitasnya bagus, berada di kota, dan memiliki citra yang baik. Ia mengetahui eksistensi sekolah itu dari keponakan Kurenai yang bernama Konohamaru, sebab ia bersekolah di sana. Untunglah, Konohamaru dengan senang hati membantu Hinata mendapatkan brosur-brosur mengenai penerimaan siswa baru setiap tahunnya.

Tahun ini Hinata akan ikut tes masuk KHS, memperebutkan beasiswa. Persyaratan di setiap brosur itu, dan juga persyaratan tetap setiap tahunnya, hanya satu yang sangat fundamental: nilai tes masuk harus melampaui sekian skor ketentuan minimal yang telah ditetapkan KHS. Namun kenyataannya hal ini tidaklah mudah. Soal-soal dari KHS merupakan soal ujian yang 40% berasal dari dalam Jepang, 60% berasal dari luar negeri. Sehingga, menurut informasi yang didapat oleh Hinata, dengan jumlah soal sebanyak seratus soal dalam enam mata pelajaran yang diujikan nanti, lebih dari separuhnya berbahasa Inggris.

Selama setahun pula, Hinata berjuang mati-matian untuk belajar, apalagi ketika ia tahu kalau kurikulum KHS adalah kurikulum dengan standar tinggi dan sulit. Di tengah-tengah kesibukan membantu ibunya menjual ramen, ia juga harus belajar terus agar pada saat tes masuk tahun ajaran baru nanti, Hinata bisa mendapatkan bangku dengan kuota hanya untuk dua ratus siswa. Dan waktu semakin cepat. Tak terasa sampai juga pada hari pelaksanaan ujian, yakni minggu depan.

Ya, minggu depan.

Hinata memandang kembali buku-buku tebal yang dipinjamnya dari Konohamaru. Cowok itu sudah kelas dua sekarang, jadi cukup banyak buku yang dapat digunakan Hinata untuk belajar. Ia sangat bersyukur karena ada yang bersedia membantu kesulitannya.

Tapi judul-judulnya sangat fantastis. Geografi dan Ilmu Kebumian. Fisika dan Astronomi. Ekonomi dan Bisnis. Psychology for Beginner. Bla bla. Bla bla bla.

Untung saja selama setahun ini ia menggunakan waktu dengan baik untuk belajar. Hinata juga tidak punya catatan buruk selama bersekolah di Osaka dulu. Masuk tiga besar dan rutin mengikuti les privat bahasa Inggris dulu, ternyata cukup banyak membantu dalam memahami pelajaran-pelajaran sulit yang jika ditelaah lagi, rupanya hanya merupakan pengembangan konsep dasar.

Ibunya tidak melarang Hinata untuk masuk ke KHS, tapi beliau juga tidak berharap kalau Hinata akan membuatnya mengeluarkan uang banyak hingga melampaui pendapatan sehari-hari keluarga mereka. Ibunya ingin ia lolos tes masuk dan dapat beasiswa, kalau tidak, ya tidak usah sekolah. Begitu saja. Dan Hinata hanya bisa maklum, mereka sedang kesulitan sekarang dan sebaiknya ia tidak menambah kesulitan itu.

Hinata berjanji, terutama pada ibunya, bahwa ia pasti akan masuk ke KHS. Sebaiknya, harus.

.

.

Menjelang siang, kedai ramen Hinata makin ramai. Jika biasanya yang selalu hilir mudik dari dapur ke meja pelanggan adalah Hinata dan ibunya, sekarang Naruto juga melakukan hal yang sama. Malah sepertinya ia yang paling cepat bekerja, sehingga para pelanggan menjadi senang dengan kinerjanya.

Naruto juga sangat ramah pada pelanggan, akan meminta maaf berkali-kali jika satu batang sumpit saja jatuh ke lantai, bolak-balik mengelap meja yang kotor, mengambil mangkuk ramen yang telah habis beserta bayarannya, dan bahkan sesekali membantu Hinata membawakan pesanan.

Hinata sendiri masih merasa kaku jika berada di dekat pemuda itu. Tapi ia cukup bersyukur karena Naruto terlarut dalam kesibukannya bekerja, jadi ia mungkin tidak menyadari sikap Hinata sedari tadi. Entahlah, Hinata juga tidak ingin memikirkannya.

Sementara itu, ibu Hinata sangat senang dengan hasil kerja Naruto. Pekerjaan yang dulu terasa agak berat karena hanya ditangani oleh dua wanita di kedai, kini menjadi ringan berkat bantuan Naruto. Pria memang lebih dapat diandalkan.

Ketika matahari mulai bergeser sedikit dari singasananya, meninggalkan berkas-berkas cahayanya di langit yang perlahan terlihat ke-jingga-an, di saat itulah kedai mereka mulai berangsur sepi. Tapi hal itu membuat Hinata lega, karena ia benar-benar sangat lelah hari ini dan ingin beristirahat secepatnya.

Gadis itu keluar dari kedai sambil menenteng tong sampah kosong di tangannya. Ketika ia menaruhnya di depan kedai, dilihatnya halaman agak kotor dengan sampah dan dedaunan. Hinata pun meraih sapu lidi dan baru saja akan menggunakannya, ketika sebuah tangan menahan sapu itu.

"Biar aku saja."

Hinata menoleh dan menemukan Naruto telah berdiri di sisinya. Pemuda itu terlihat sama lusuhnya dengan Hinata, namun ia tak pernah menghilangkan senyuman dari wajahnya sehingga Naruto kelihatan lebih segar.

Hinata tidak menjawab dan langsung melepaskan gagang sapu dari genggamannya, membiarkan Naruto mengambil alih pekerjaan Hinata. Naruto pun segera menyapu dengan gerakan cepat. Di belakang pemuda itu, Hinata memandangnya tanpa bicara sepatah kata pun.

"Hinata, apa kau mau bersekolah di Konoha?" tanya Naruto.

Pandangan Hinata langsung teralih, memandangi Naruto yang juga balik memandanginya, sehingga jadinya kegiatan Naruto terhenti untuk sejenak.

Hinata terdiam sebentar, lalu menjawab, "Ya."

Naruto tertawa pelan dan hal itu membuat Hinata heran. Apa ada yang lucu?

"Kau sangat ingin bersekolah. Sangat berbeda denganku, aku paling tidak suka ke sekolah."

Hinata masih memandangi Naruto dengan heran. "Apa itu sesuatu yang menarik?" tanyanya datar.

"Tidak, hanya saja..." Kalimat Naruto terdengar ragu. Dan baru saja Hinata hendak menyela, pemuda itu melanjutkan lagi.

"Tes masuknya minggu depan kan?"

"Ya, lalu kenapa?"

"Tidak, aku hanya mau menemanimu."

Mendengarnya, mata Hinata sedikit membesar. Dia bilang apa?

Naruto sepertinya menyadari kekagetan Hinata. Cowok itu pun cengengesan sambil menggaruk tengkuknya. "Ah, tapi kalau aku juga pergi, Ba-san bagaimana? Nanti ia kerepotan mengurus kedai sendirian."

Hinata mendengus pelan. "Aku tidak perlu ditemani."

"Memangnya kau tahu di mana Konoha High?"

Bola mata Hinata bergeser sedikit kala mendengarnya. "Di brosurnya... ada alamat. Ya, alamat sekolahnya."

"Dan kau pernah ke sana?" tanya Naruto lagi. Pemuda itu telah meletakkan sapu lidinya dan bicara dengan Hinata dari jarak yang cukup jauh.

"Aku belum pernah pergi. Tapi aku pasti dapat menemukannya," jawab Hinata yakin.

Naruto menghela napas pelan. "Ya, mungkin kau akan menemukannya. Tapi apa kau mau menunggu hingga hari ujian tiba? Tidak kan? Kau hanya akan menghabiskan waktumu dengan mencari Konoha High setibanya di kota. Apalagi kau belum pernah ke sana."

Di dalam hatinya, tanpa sadar Hinata mengiyakan ucapan Naruto. Tapi ia berusaha agar air mukanya tidak berubah sedikitpun.

"Nah, mumpung belum begitu sore, bagaimana kalau kita ke kota?"

Dan akhirnya, Hinata benar-benar menoleh dengan ekspresi kaget. "Yang benar?"

Naruto mengangguk sambil tersenyum. "Aku tahu kok sekolahnya di mana. Bagaimana?"

Seulas senyum terukir di bibir Hinata, tapi ketika ia menyadari bahwa ada Naruto di depannya, cepat-cepat gadis itu menghapusnya agar tidak ketahuan sedang senyum-senyum tak jelas. Sementara itu, Naruto malah tersenyum geli melihat kelakuan gadis itu yang begitu manis dan polos di matanya.

"Hmmm... kenapa kau bisa tahu letak sekolahnya? Memangnya kau tinggal di kota?" tebak Hinata spontan.

Dan ketika melihat Naruto mengangguk, Hinata jadi kaget lagi karena ternyata tebakannya benar.

"Aku minta maaf tidak menceritakan yang sebenarnya padamu kemarin. Semakin lama aku merasa tidak ada alasan bagiku untuk terus menyembunyikan hal ini," ujar Naruto serius. "Sekali lagi, maafkan aku."

Melihat wajah serius Naruto, entah kenapa Hinata merasa sesuatu yang aneh menyergapi dadanya. Cepat-cepat ia mengalihkan wajah agar tidak berhadapan lagi dengan Naruto. Lagi-lagi bola matanya bergerak gelisah.

"Kalau begitu... ayo kita pamit pada okaa-san-ku," kata gadis itu kemudian.

.

.

Setelah mendapat izin dari ibu Hinata ditambah beberapa nasehat agar sebaiknya mereka tidak pulang kemalaman nanti, berangkatlah Hinata dan Naruto ke kota dengan menaiki sepeda Konohamaru, yang kebetulan sedang berada di rumah saat mereka meminjamnya.

Dan, Naruto sepertinya tidak berbohong mengenai dirinya yang tinggal di kota. Cowok itu kelihatan sangat familiar dengan berbagai tempat yang mereka lalui di kota, dan bahkan ada beberapa orang yang memanggil pemuda itu ketika melihat mereka. Sebenarnya Hinata sangat penasaran kenapa kemarin Naruto menyembunyikan hal ini. Sedikit banyak, ia pun berspekulasi bahwa Naruto takut kalau Hinata akan memarahinya sebab kemarin Hinata masih dalam keadaan sangat tidak menyukai cowok itu.

Naruto menghentikan laju sepedanya di depan sebuah sekolah bertingkat yang kelihatan elit, walau dilihat dari jauh. Pagar yang membatasinya begitu tinggi dengan aksen bunga-bunga besi yang khas. Di balik pagar tinggi itu, nampaklah jalan lebar menuju KHS dengan taman cantik di kedua sisinya.

Hinata mengikuti Naruto yang nampak hapal dengan kawasan ini, menuju pos penjaga di sisi pagar. Ada dua pria berjaga di sana, mereka memandangi Naruto dan Hinata dengan penuh selidik.

"Konnichiwa! Maaf mengganggu waktu Anda berdua," kata Naruto ramah.

"Konnichiwa. Boleh kami tahu apa tujuan kalian ke sini?"

Hinata memandangi Naruto, sedangkan yang ditatap terlihat sedikit meluntur kepercayaan dirinya. Mereka berdua jelas kaget dengan pertanyaan to the point dari salah satu penjaga itu.

Naruto mencoba mempertahankan sikap tenangnya. "Temanku akan mengikuti tes masuk KHS minggu depan. Kami hanya ingin tahu apakah ada prosedur tambahan lainnya yang dibutuhkan."

Di luar dugaan Hinata, tiba-tiba saja wajah serius kedua penjaga itu berubah menjadi raut ramah. Mereka pun memberitahu Naruto bahwa ia dan Hinata dapat masuk dan menemui para koordinator di lantai dua, ruangan pertemuan. Dan juga, sebelum masuk kartu identitas mereka harus diperiksa.

Setelah urusan dengan penjaga selesai, keduanya pun berjalan masuk ke dalam kawasan KHS sambil menuntun sepeda mereka yang entah kenapa kelihatan sangat imut jika dibandingkan dengan kendaraan-kendaraan lain yang bertaburan di sekeliling KHS, seperti motor, mobil, bus, dan van. Hinata tersenyum geli memikirkannya.

Setelah mereka berdua masuk ke dalam KHS, dari lantai satu mereka langsung meninggalkan lantai dua untuk menuju ke ruang ujian yang ada di lantai tiga dan empat, berdasarkan informasi yang tertera di papan pengumuman. Hinata masih ingat dengan nomor peserta yang diambilnya beberapa waktu lalu dan kini keduanya mencari-cari di setiap ruangan.

Tak butuh waktu lama, Naruto berhasil menemukan meja Hinata.

"Ingat, Ruangan B-11, meja nomor dua dari belakang," kata Naruto pada Hinata, yang dibalas dengan senyuman oleh gadis itu.

Setelah berkeliling sebentar di ruangan ujian lain dan juga memperhatikan orang-orang yang lalu lalang di lantai dua, mereka memutuskan untuk makan dulu sebelum pulang. Maklum, mereka belum makan sejak tadi siang dan sekarang perut keduanya telah bertabuh minta diisi.

Mereka diuntungkan dengan letak kantin di setiap lantai KHS, sehingga tidak perlu repot-repot berjalan dari satu lantai ke lantai lain. Pilihan menunya sangat beragam dan ketika membaca kata 'ramen'...

"Tolong ramennya dua mangkuk," kata Hinata pada pelayan kantin. Naruto terkekeh melihat Hinata yang begitu penasaran.

"Tenang saja, pasti ramen buatan ibumu yang lebih enak," kata pemuda itu.

Dan benar saja. Hinata tersenyum penuh makna ketika menyeruput kuah ramen yang telah dihidangkan di hadapannya.

"Ramen buatan okaa-san memang yang terbaik," ujar Hinata pelan, takut kedengaran si pemilik kantin. Setelah itu ia melahap ramennya.

Naruto mengunyah ramen di mulutnya dengan susah payah sebelum berkata,

"Benar kan? Ramen Ba-san memang enak."

Hinata tersenyum lagi. "Kalau kau membayar, pasti rasanya lebih enak."

Naruto langsung terbatuk-batuk mendengarnya. Hinata hanya tertawa pelan melihat reaksi Naruto.

"Santai saja! Aku tidak serius kok."

Naruto memandang tidak suka. "Bukannya kau sudah memaafkanku?"

"Iya, makanya aku bilang kalau aku tidak serius," jawab Hinata sambil mengaduk ramennya.

Perlahan, raut wajah Naruto yang menegang kembali seperti semula. Keduanya pun memakan ramen mereka dalam diam.

"Kau tahu apa yang membuat ramen ibumu begitu enak?" tanya Naruto tiba-tiba, memecahkan suasana hening yang cukup lama barusan.

Hinata mendongak, menatap balik mata safir Naruto. Ada sesuatu yang memancar dari mata pemuda itu, indah dan menentramkan. Untuk sejenak keduanya saling berpandangan.

"Cinta," jawabnya tulus.

.

.

.

Tbc

.

.

A/N: Sori ya lama update... semoga update-nya tidak mengecewakan.

Sign,

Devi Yulia