Keinginan..., sesuatu yang ada didalam diri manusia, tanpa keinginan, manusia tidak akan hidup, rasa hampa yang berada di jiwanya tidak akan memberikan kemajuan. Keinginan tersebut dimulai dari interaksi, tanpa adanya interaksi antar sesama hanya memperlebar jarak yang dibutuhkan untuk tercapai. Dan interaksi tersebut didapat dengan adanya persahabatan.
Tetapi, Bagaimana jika keinginan tersebut, hanyalah untuk merusak ikatan persahabatan?
Mahou Shoujo Lyrical Nanoha A's Another story : Mirai to ai no kiseki, hajimarimasu...
Story 2 : Keinginan dan Persahabatan
Pagi mulai tiba, terlihat cahaya matahari yang mulai terbit. Tak disangka, sudah terlewat malam menyedihkan itu. senyuman datang dari semua orang disitu. padahal mereka mengetahui kejadian pahit beberapa jam yang lalu.
Semuanya tersenyum, tak terkecuali Signum, semua tersenyum menyapa Tuan mereka. Apakah kata-kataku yang membuat mereka sadar?
Tetapi..., aku sangat mengetahui, Apa itu senyum ceria dan senyum untuk menyembunyikan kesedihan. Mereka tersenyum bukan karena senang, tetapi agar membuat tuan mereka tidak khawatir. Rein yang mengetahui kejadian kemarin kembali Ceria, entah bagaimana lagi, jika tidak Gerald memanipulasi ingatan Hayate dan Rein tentang kejadian tersebut.
Bagi Gerald itu mudah, selama kejadian itu tidak berlangsung lama dan langsung di hapuskan, maka bisa diatur. Ingatan itu bisa dimanipulasi seperti mimpi. Para Wolkenritter awalnya agak ragu dengan hal tersebut, tetapi mereka setuju dengan keyakinanku. Jika Hayate tetap mempermasalahkan hal ini. Maka masalah ini tidak akan selesai. Biarlah aku dan para Ksatria yang mengatur masalah kami. Tetapi, entah kenapa..., mereka membenci Gerald tetapi tidak membenci ku, dan juga Signum menghentikan perbuatannya saat aku kembali mengambil alih tubuhku.
Apakah karena itu juga, ingatan ku terhadang? Apakah karena aku tidak mau mengingat masa lalu itu, aku tidak bisa mengingatnya? Atau ada seseorang yang tidak ingin ingatanku kembali? Rasanya aku mengerti, mereka yang tidak menginginkan sesuatu yang diketahui, pasti menghalalkan segala cara agar itu tidak diketahui, walaupun jika harus membunuhnya. Aku sangat mengerti bagaimana perasaan mereka yang ingin membuatku tidak khawatir. Apakah aku akan mengurungkan niatku untuk mencari kembali keberadaanku?
Tersangka pertama yang ku perhatikan adalah Gerald, dia yang selama ini berada di tubuhku pasti mengerti satu atau dua hal yang sesuai dengan terblokirnya ingatanku. Tetapi apa tujuannya?
Aku berpikir lagi. mungkin bisa saja, aku membuat diriku seperti terlahir kembali, dan tinggal mengabdi pada Hayate. Tetapi apakah harus berakhir seperti ini?
Pertanyaan-pertanyaan melayang di kepalaku, selalu ada pertanyaan baru. Oleh karena itu aku mengurungkan diriku ini untuk mencari solusi. Tetapi bukan berarti aku menelantarkan diriku sebagai seorang ksatria pelindung Hayate, aku sangat berterima kasih atas pertolongannya dan juga aku menghormati sekali para ksatria wolkenritter, walaupun mereka sepertinya membenciku dengan perbuatanku, walaupun aku pernah berkata kasar kepada mereka, tetapi rasa hormatku ini tidak akan pernah pudar.
Ting-tong
Suara bel depan rumah berbunyi. Ada 4 orang gadis yang sepertinya menunggu Hayate untuk berangkat sekolah. 2 orang diantaranya adalah Fate dan Nanoha. Ada 2 anak perempuan yang sebaya dengan diriku yang juga ikut mengajak Hayate untuk berangkat sekolah.
"Selamat pagi"
Mereka mengucapkan selamat pagi untuk kami ber-7, dan Hayate mempersilahkan mereka masuk dahulu. Nanoha memperkenalkan diriku kepada Arisa dan Suzuka dan juga memperkenalkan mereka berdua kepadaku.
Mereka berdua sangat cantik. Tetapi, bagiku... mistress Hayate lebih indah, dia sudah baik hati menolongku.
Hayate meminta mereka menunggu, sekalian sarapan bersama. Melihat Hayate yang ceria membuatku tersenyum tenang.
"Galeth..., Mengapa kau tersenyum ke Hayate?" Vita mengamatiku yang tersenyum dari tadi. Senior Vita yang terkadang menjengkelkan juga, tetapi rasa jengkel itu tidaklah buruk.
"Ah ya..., aku memang sangat bersyukur sekali sama nona Hayate" Jawabanku sepertinya tidak memberikan pengertian terhadap Vita.
"Aneh..!" Dan Vita menanggapiku dengan simpel dan mengesalkan.
Tetapi dari kejauhan aku melihat dia tersenyum. Mungkin dia sebenarnya mengerti maksudku. Aku merasakan hubungan kami semakin dekat dengan adanya kejadian ini. Mungkin rasanya sangat aneh, aku mempunyai perasaan kuat terhadap Hayate dan para Wolkenritter. Tetapi tidak kuketahui, perasaan apa ini?
Tetapi, aku mempunyai rasa penasaran yang lebih besar pada Galeth, yang pertama adalah dia adalah satu-satunya petunjukku, seolah jawabanku hanya bisa didapat dari dia. Tetapi aku tidak tahu, Apakah aku harus tetap mencari jati diriku? Aku sangat takut, ingatan hanyalah sesuatu yang pahit jika menyakitkan. Masalahnya adalah..., aku harus maju. Dengan melihat belakang, maka aku mungkin akan mendapatkan solusi dari masalah yang akan datang.
Akhirnya aku berusaha menggapai Gerald. Aku berkonsentrasi penuh untuk mencapai wilayah itu. Aku sampai di ruang putih itu, ruang yang hampa, hanya ada aku dan Gerald seorang diri. Jika Gerald tidak bisa memberikan jawaban atas keberadaan diriku, maka setidaknya aku harus mendapatkan jawaban dari keberadaan dirinya.
"Gerald, kau mungkin tidak dapat menjawab pertanyaan atas jati diriku, tetapi-" Aku langsung menanyakan pokok inti dari masalah tersebut.
"-Kau ingin menanyakan sesuatu yang berhubungan diriku bukan?" Gerald sepertinya paham dengan maksudku. Aku menganguk, menganggap bahwa itulah yang kucari.
"Sebelum itu..., Bagaimana tanggapanmu tentang ruangan ini?" Gerald menanyakan tanggapanku.
"Putih, aneh." aku hanya bisa menjawab asal-asalan.
"Memang, ruangan ini sangat aneh, tidak ada sama sekali barang maupun sesuatu hal yang tampak hidup, tetapi apa kau tahu apa ruangan ini?"
Aku mungkin mengetahui tetapi tidak pasti, karena kemungkinan tempat ini mungkin berhubungan dengan hilangnya ingatanku.
"Apakah ini di dalam pikiranku?"
Gerald tertawa ringan.
"HAHAHA, ini adalah pikiranmu, kau pasti berpikir bahwa ruangan ini benar-benar kosong karena tidak ada sesuatu di dalam ingatanmu" Gerald menanyakan sesuatu, aku merasakan sedikit jengkel pada Gerald.
"Terus apa maksudmu?, aku gak mengerti" aku dengan kesal menanyakan maksudnya.
"Kalau begitu, jika ruangan ini tidak ada sama sekali, Apakah ada yang membuatmu nampak ganjil?"
Ya memang aneh, aku akhirnya akan menanyakannya.
"Apakah karena dirimu ada di sini?"
Gerald tertawa lagi
"HAHAHA, oke-oke, memang adanya aku memang aneh, itu juga termasuk, tetapi bukan itu maksudku!"
Gerald meminta jawaban lain dari pertanyaannya.
Aku tidak tahu, karena hal yang ganjil dari ruangan ini hanyalah keberadaan dia, dan aku memang bertujuan ke sini untuk menanyakan tentang keberadaan dia, aku lumayan kesal.
"Apa lagi? Aku tidak tahu" aku akhirnya menyerah
"Kalau begitu aku beri petunjuk, Apakah ada pintu, jendela, atau celah yang bisa di buka di ruangan ini?" Gerald memberikan petunjuk.
Tidak ada, aku tidak melihat adanya pintu, jendela, maupun celah yang ada di sekitar sini.
"Tidak. Tidak ada sama sekali!" aku hanya bisa bilang tidak
"Kalau begitu, darimana kita bisa tahu ini adalah putih?" sepertinya Gerald memulai menanyakan apa yang dia maksud. Tetapi aku masih belum mengerti.
"Aku sangat tidak mengerti maksudmu?, mungkin saja memang ini putih karena tidak ada apa-apa, lagi pula memang begitu kan." aku hanya bisa menebak.
"Kalau begitu, bagaimana kalau begini, jika kau memasuki suatu ruangan yang kosong, dan kau tutup semua celah, pintu dan yang berhubungan dengan dunia luar, apa yang terjadi?" Gerald memberikanku suatu contoh peristiwa.
"Aku mungkin akan sesak nafas, karena tidak ada udara yang mengalir" aku hanya bisa menjawab sesuai logika.
"Kau ini..., kalau begitu yang kau rasakan apa lagi...?" Gerald sepertinya mulai kesal. Dan kami berdua sama-sama kesal. Buat apa dia memberikan pertanyaan, meminta tanggapan dan lain-lain, jika dia bisa memberikan langsung jawabannya. Bagaimana lagi? aku mau bertanya, malah dia tanya balik dan maksa aku untuk berpikir.
"Kalau memang terjadi, aku mungkin akan merasakan apa namanya sendirian" aku akhirnya menjawab berdasarkan mental yang dirasakan.
"Betul, kau akan merasakan apa yang di sebut dengan sendiri. Tetapi kau melupakan sesuatu hal. Karena tidak ada sumber cahaya yang masuk, maka ruangan itu akan terasa gelap bukan?" Gerald akhirnya menjawabnya
"Ya..., mungkin bisa gelap, tetapi apa hubungannya...? Jangan-jangan-?" aku sepertinya mengerti maksud Gerald.
"Akhirnya kau mengerti, jika gelap, maka yang kau lihat adalah hitam, tetapi mengapa ruangan ini putih padahal tidak ada sumber cahaya yang datang, dan jika kau lihat, Apa yang aneh dari bayangan kita?"
Aku melihat bayangan Gerald tetapi tidak melihat bayanganku. Sungguh aneh, padahal aku juga bisa dibilang benda, jika ada cahaya, maka akan ada bayangan. Kecuali...!
"Kau akhirnya mengerti lagi, sebenarnya ruangan ini kosong, tanpa ada cahaya sedikitpun, tetapi kau datang dan tidak menyadari bahwa kau lah sumber cahaya ruangan ini" Gerald menjelaskan datangnya cahaya ini.
Aku tersenyum, dia ingin menjelaskan bahwa diriku adalah sumber penerangan dari apa yang aku tidak ketahui, aku akhirnya mendapatkan jawabanku, aku hanya harus menyinari jalanku ke depan. Jika kalau kegelapan adalah keputusasaan, maka namaku yang akan memberikan cahaya harapan yang baru, seperti yang diinginkan oleh nona Hayate.
Semangat ku mulai bangkit, dengan cahaya semangat diriku, aku akhirnya bisa mengembalikan senyuman pada diriku. Tetapi...
"Kau sepertinya memahami masalah yang sebenarnya?" Gerald dengan cepat menyadari kekhawatiranku.
Memang benar, aku akhirnya bisa menemukan jalan cahayaku, tetapi aku masih belum bisa menemukan jalan yang bisa membuka hati Signum. Bukan hanya Signum, para Ksatria lainnya juga sepertinya sangat tertutup, yang hanya bisa kulakukan hanya bisa berpegang teguh pada diriku.
"Bagaimana, kau ingin tetap mendengarkan kisahku?"
Aku tidak mau mencari jawaban dari diriku, karena pada akhirnya aku tidak akan menemukan solusinya.
"Sepertinya tidak, memang aku sangat ingin sekali mencari kebenaran dari masa lalu, tetapi aku sangat yakin aku tidak akan mendapatkan jawaban dari masalah ini, mungkin akan menambahkan masalah pada diriku."
Gerald tersenyum, dia sudah tahu tujuanku sekarang.
"Kalau begitu apakah ada yang ingin kau perlukan disini?" Gerald sepertinya mengerti ada rasa keingintahuanku di sini dan bertanya lagi.
Entah kenapa dia selalu mengetahui apa yang ada di pikiranku. Atau memang karena dia sudah berada di alam bawah sadarku, sehingga dia tahu apa yang kuinginkan dan kurasakan?
"Kalau kau berpikir bahwa aku mengetahui apa yang kaupikirkan, itu salah, kau dan aku berbeda. Aku juga belum tentu tahu apa yang ada di keinginanmu. Oleh karena itu lebih baik kau menanyakan padaku. Apa yang kau inginkan?"
Memang masih misteri untuk mencari jawaban dari yang dia lakukan, tapi masih termasuk logika jika dia mengatakan dapat mengetahui apa yang kupikirkan dari raut wajahku. Gerald masih ingin menjawab pertanyaan yang ingin kusampaikan.
Tapi aku sangat ingin menanyakan ini sebelum penasaran itu
"Sebelum itu..., Apakah Device pendant itu, Stardust. Benar-benar tidak bisa kupakai?"
Aku sangat ingin sekali mencoba memakai Device itu.
"Kau mungkin bisa memakainya, tetapi tidak seperti diriku, kau tidak bisa memakai semua potensial yang ada di Stardust." Gerald menjelaskan tentang potensial.
"Maksudnya dengan potensial?" Apakah aku tidak punya bakat untuk menjadi penyihir seperti mereka?
"Kau sebenarnya bisa memakai, tetapi hanya sebatas, meminjam kekuatan dari Stardust. Selebihnya, kau hanya bisa membangkitkan kekuatanmu. Dan janganlah kau berpikir jika kau tidak berbakat, karena aku tahu bahwa manusia mempunyai kelebihannya masing-masing."
Gerald membaca pikiranku lagi, sepertinya dia sangat berbakat sekali jika bisa membaca hati orang, seandainya aku bisa membaca hati dan pikiran orang, mungkin aku bisa mengerti perasaan, keinginan, dan kejujuran mereka tanpa harus melukai hati mereka saat mengungkapkannya dengan jujur.
"Kau tahu Galeth!, mungkin kau berpikir jika mempunyai bakat mengetahui pikiran seseorang adalah sesuatu yang mengagumkan. Tetapi jika bisa begitu, maka yang kau harus tahu, manusia tidak bisa berevolusi, mereka tidak akan berubah!"
Ucapan Gerald membuatku pusing. Filosofinya mulai keluar lagi.
"Maksudmu?" Gerald membalikkan badannya
"Memang, mungkin akan sangat indah saat kita mengetahui pikiran satu sama lain, tetapi apakah kau pernah berpikir, memahami satu sama lain tidak cukup untuk mengubah diri kita?"
Memang, jika seandainya kita mengerti perasaan mereka, belum tentu kita mendapatkan jawabannya atas masalah dan penderitaan yang mereka hadapi, bahkan mungkin hanya dibilang sok tahu, padahal kita tahu bahwa kita pun bisa mendapatkan masalah demikian karena kita adalah makhluk yang sama.
"Karena pada dasarnya, masalah akan memiliki sebab dan akibat, dan sebab juga bagian dari akibat yang ditimbulkan masalah sebelumnya, jika kau hanya memikirkan masalah itu datang darimana, tidak akan pernah selesai, yang perlu kita tinjau adalah akibatnya, bagaimana meminimalisir atau menghilangkan akibatnya saat masalah itu terjadi. Bagaikan dendam, tidak akan pernah terhapuskan jika kita tidak menghilangkan." Gerald melanjutkan percakapannya panjang lebar
"Tetapi, apakah dengan begitu, mengerti satu sama lain tidak akan memberikan hasil?" Aku merasa sangat tidak enak
"Aku tidak pernah bilang begitu, karena dengan mengerti satu sama lain, maka tidak akan terjadinya konflik, justru sangat diperlukan jika harus mengerti satu sama lain, tetapi jika hanya itu saja belum cukup." Gerald melanjutkan lagi.
"Terus maksudmu dengan tidak akan berubah maksudnya apa?" Apakah tidak mungkin berubah dengan mengetahui pikiran satu sama lain.
"Kita beri suatu contoh, jika seandainya suatu kelemahan kita diketahui, Bagaimana cara mengubahnya?"
"Tentu aku akan mencari cara agar kelemahanku tertutupi"
"Tetapi pada akhirnya, caramu akan tetap diketahui seseorang, dan orang itu akan mencari cara untuk tetap bisa mengunggulimu" Licik juga, tetapi memang benar.
"Tapi bukankah itu juga sebaliknya, yang mengungguli juga akan terbaca cara berpikirannya, dan bisa maju juga"
"Itulah masalahnya, saat mereka saling mengetahui kelebihan dan kelemahan satu sama lain, mereka akhirnya tidak ingin berubah, karena pada akhirnya pikiran mereka sudah dicuri, istilahnya, percuma ingin berubah, pada akhirnya dia tidak akan menjadi lebih baik. Bagaikan melihat cermin. Kau bisa melihatmu dengan melihat orang yang ada didepanmu."
Aku sempat berpikir demikian, manusia pada instingnya ingin menjadi yang lebih baik, tetapi masalahnya adalah jika bisa mengerti satu sama lain, maka mereka tidak akan ingin berubah lagi karena pada akhirnya mereka akan saling mengerti kelebihan dan kelemahan masing-masing, tetapi bukankah itu bagus, saling mengerti kelebihan dan kelemahan masing-masing.
"Sayangnya itulah dunia, tempat ini tidak bisa di rubah dengan hanya mengerti satu sama lain. Pada akhirnya mereka yang tidak mengerti hanya terus berambisi untuk menguasai dunia ini."
Dunia itu kejam, apakah dengan diriku ini bisa mengubah dunia. Ah..., sudah tinggi sekali pikiranku sampai mengubah dunia segala. Padahal aku melewati dunia ini selama diingatanku adalah masa yang menyenangkan, walaupun ada yang jelek juga, karena ingatan diriku yang mungkin mereka benci.
"Oleh karena itu, kau harus berubah." Gerald memberiku tujuan
"Berubah?, dengan tidak memahami satu sama lain?" Keinginan Gerald seolah memberikan dampak negatif atas pemahamanku
"Tidak, justru sebaliknya, kau harus berubah dengan memahami satu sama lain, buktikan pada dunia ini, bahwa semua hal tidak bisa dibicarakan hanya dengan logika saja." Gerald melanjutkan maksudnya
Aku akhirnya mengerti. Segala hal yang ada di dunia ini belum tentu berlogika, terkadang kita akan bertemu hal yang tidak logis tetapi ada dan itu nyata.
Tetapi orang selalu memandang bahwa logikalah yang paling masuk akal untuk dijadikan kenyataan, oleh karena itu, dengan berubahnya diriku ini akan memberikan bukti bahwa kita bisa berubah dari hal yang tidak logika.
Banyak orang yang di sana, meminta hal yang harus berlogika, padahal mereka sendiri melakukan hal yang tidak logika, dengan kata lain, melogikan hal yang tidak logika. Jadi, aku harus bisa menidaklogikakan hal yang sudah logika. Ribet juga ternyata.
Dunia ini perlu dirubah, dan perjalananku mungkin masih sangat panjang. Tetapi... Logika kah?, Apakah dunia ini dipenuhi dengan logika?, padahal bukannya kenyataan tidak sesuai dengan logika, lalu apa maksud Gerald menyuruhku membalikkan logika, bukankah memang pada dasarnya mengetahui satu sama lain itu benar, dan sangat penting.
Mereka yang tidak mengerti hanya merasakan apa yang disebut kebencian, tak pernah tahu apa maksud dari teman mereka, menyendiri, tidak pernah bersosialisasi, dan mati pun tidak ada yang peduli. Tetapi jika disebut sebagai bagian dari penghalang evolusi bukankah terlalu berlebihan. Bukannya mengerti satu sama lain juga termasuk dalam evolusi sendiri, dari tidak tahu apa-apa menjadi pengetahuan dengan bersosial. Lalu mengapa dia berpikir demikian?
"Gerald, mungkin kata-katamu benar dengan manusia tidak akan berevolusi, tetapi bukankah mengerti satu sama lain juga termasuk dari evolusi itu sendiri." Aku menanyakan maksud Gerald lagi.
"Tahu apa kamu tentang hal seperti itu, aku sudah membicarakan bahwa itu hanyalah logika. Bukannya aku bilang sesuatu yang tidak pantas untuk dilakukan" Gerald membalas dengan sedikit kasar.
"Tetapi mengetahui satu sama lain juga termasuk berevolusi dan berlogika, mengapa kau menganggap itu bukanlah logika, Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu?" Tiba-tiba dia berubah sikap. Ada apa dengannya?
"Apakah kau pikir kalau aku mengerti perasaan mereka, dan mereka mengerti perasaan kita? Apakah mereka akan peduli? Apakah begitu?, TIDAK..., manusia selalu punya Ego, tidak ada yang peduli dengan orang lain selama dirinya puas, dan itu berlaku pula dengan diriku, aku tidak akan pernah mempercayai hal seperti itu lagi, biarkan hatiku kosong, karena pada akhirnya hanya bisa diisi dengan kepahitan."
Melihat kekasaran Gerald, aku jadi mengerti, dia sangat membenci hal ini. Apakah pengkhianatan yang terlibat dari masa lalunya?
"Gerald, setidaknya kau mengisi kekosongan di hatimu dengan berteman, setidaknya itu tidak membuatmu sendirian." Aku menyarankan dia untuk berteman lagi mulai dari awal, mungkin dengan begitu, kesalahan dia terhadap para ksatria akan terhapuskan.
"-teman...kah? Kau tahu Galeth, justru permasalahan yang kualami justru berasal dari yang disebut teman!" Gerald menolak saranku dan menghilang tetapi keberadaannya masih ada dan aku masih merasakannya. Tetapi mengetahui dirinya sangat membenci apa yang kukatakan membuatku pasrah saja. Sebenarnya inilah yang selalu kupikirkan. Mengapa dia bersikeras untuk tidak mengikuti apa yang diinginkannya? Tong kosong nyaring bunyinya.
Akhirnya, aku berusaha kembali ke kenyataan. Dunia putih hanyalah tempat untuk mencurahkan diri, tetapi tidak ada artinya jika tempat itu hanya bertemu dia sendirian.
Aku tersenyum dengan kecerian dari 5 orang gadis yang sedang senda gurau. Mereka sangat akrab. Jika aku perempuan, mungkin aku bisa juga bersenda gurau dengan yang lainnya, tetapi aku Laki-laki, juga seorang pengawal, menjaga wibawa juga termasuk prinsipku. Mungkin bisa dibilang, aku tidak pantas merasakan kesenangan yang mereka alami, mungkin itulah yang dialami Gerald, faktor status membuat dirinya menjauhi orang lain. Tetapi aku berbeda, aku bisa merasakan kesenangan mereka selama mereka senang.
Tiba-tiba ada yang menarik tanganku, Nanoha menarik tanganku dan mengajak ngobrol juga memperkenalkan diriku kepada Arisa dan Suzuka agar lebih kenal lagi, Hayate mulai menjelaskan tentang keadaanku yang di buat-buat. Dan juga ksatria ke-5 Hayate, tetapi aku agak malu juga walaupun aku yang memintanya.
"Tetapi Hayate..., Bukankah kau menganggap ksatriamu adalah anggota keluargamu?" Fate bertanya.
"Yup, semuanya anggota keluargaku, bahkan Galeth pun sudah kuanggap Adikku sendiri."
Aku sangat tersentuh dengan tanggapannya saat dia menjelaskan itu ke yang lainnya. Pertemanan yang kurasakan menjadi kekeluargaan yang sangat mengagumkan. Tetapi Adik...
"Adik..., tunggu sebentar umur kita memang tidak beda jauh, tetapi..." aku berhenti, sesuatu ada yang menghalang omonganku menjadi berhenti.
"Tetapi...? tidak ada tapi-tapi-an, aku adalah kepala keluarga ini jadi kau harus menurut." Hayate langsung memotong disaat aku berhenti berpendapat dengan sombong sedikit.
"Iya...kakak" aku sedikit kesal, tetapi yang kurasakan adalah penasaran, apa yang membuat ku berhenti bicara tadi.
"Aku adalah diriku yang sudah tidak ada kaitannya dengan masa lalu." Maka aku harus bisa menempatkan diriku di masa depan dan memulai hidup baru. Jadi mungkin kalau aku dianggap adik bagi Hayate jadi tidak masalah.
Mereka tertawa cekikikan saat aku hanya patuh saja, tetapi aku tetap senang. Anggap saja bahwa candaan ini bisa membuat damai, karena aku menyadari para ksatria lainnya tersenyum senang.
Mereka berlima berangkat, memang berjalan kaki menuju sekolah sepertinya menyenangkan, tetapi Hayate, Fate, Arisa dan Suzuka ada piket pagi, jadinya mereka menuju tempat pemberhentian Angkutan Umum. Aku hanya bisa mengantar mereka sampai di tempat pemberhentian, ya karena aku tidak punya uang, ya dikarenakan aku memang tidak disuruh Hayate untuk menemaninya setiap saat, jadi dia tidak memberiku biaya untuk kendaraan umum, karena yang memegang biaya adalah Shamal untuk sementara. Dan juga mereka telah membelikanku baju..., aku tidak ingin merepotkan mereka lagi.
Tetapi tempatnya ramai, melewati tempat yang berdesakan cukup sulit, aku berusaha memberi jalan untuk mereka agar dapat tempat. Tetapi keegoisan orang dewasa hanya memberikan tempat di angkutan umum penuh. Tempat yang tersisa hanya bisa dipakai untuk 4 orang.
Nanoha memaksa yang lain untuk berangkat duluan, karena dia tidak ada piket pagi, tetapi mereka tidak terima saran dari Nanoha, perdebatan dimulai. Fate agak sedih karena Nanoha tidak bisa ikut menaiki Bus.
Tetapi Bus tidak bisa menunggu lama, akhirnya Nanoha langsung meninggalkan mereka di dalam Bus. Hayate akhirnya meminta tolong padaku untuk menjaga Nanoha sampai ke Sekolah. Aku tidak bisa menolak, lebih tepatnya tidak mau menolak. Perintah Nona Hayate adalah pasti. Walaupun sebenarnya Awkward, berjalan berduaan sama gadis. Dan tunggu, mengapa bisa berbeda hari piket untuk Nanoha?
"Sebenarnya aku ada piket juga hari ini. Tetapi guru memintaku untuk membantu bawa barang kemarin, sehingga jatah piket hari ini diganti tugas kemarin."
Aku mengerti keadaannya.
"Sebenarnya, aku juga tetap ingin melakukan piket. Sambil mengobrol dan bercengkrama. Itulah yang kutunggu. Tetapi, dengan melihat kondisi tadi, mau bagaimana lagi?"
Nanoha agak kecewa dengan kejadian tadi. Mungkin sebaiknya aku tidak membuat hal yang buruk selama perjalanan.
Bus berangkat meninggalkan kami berdua sendirian di Halte bus, dengan terpaksa kami berdua melanjutkan perjalanan ke Sekolah jalan kaki. Awkward sekali, harus berjalan sekitar 5 km ke Sekolah. Dan perjalanan hanya dilakukan secara diam diri, harus ada yang memulai percakapan agar bisa mencairkan suasana.
"Nanoha-"
"Galeth-kun..."
Kami memanggil satu sama lain secara bersamaan. Dan tertawa kecil
"Hihihi, Kau duluan Nanoha-san." Aku mempersilahkan Nanoha untuk membuka obrolan terlebih dahulu."
"Galeth-kun, kalau boleh tanya, bagaimana pertemuan pertamamu sama Hayate?" Kalau orang awam mungkin berpikir kalau pertanyaan ini romantis. Tapi sepertinya Nanoha tidak menanyakan tentang aku suka atau bagaimana. Atau ada opsi lain, kemungkinan aku yang gak sadar kalau pertanyaan ini sebenarnya romantis. Walaupun begitu, aku hanya menghormati dan mengagumi Hayate karena sudah menolong nyawaku.
"Aku kurang tahu, tapi sepertinya saat itu aku pingsan dan saat aku sadar, kak Hayate sudah berada di sisiku, atau lebih tepatnya aku terbangun di rumahnya"
Baru 2 hari aku di sana, tapi aku terasa sudah melewati banyak hal. Dan itu sudah sangat kurasakan. Dan juga, panggilan kakak untuk Hayate harus kubiasakan.
"Saatku terbangun, aku merasa bersyukur karena bisa bertemu dengan kak Hayate, berkat dirinya aku mungkin masih bisa hidup, walaupun saat itu aku masih terluka." Aku melanjutkan ceritaku ke Nanoha
"Saat itu kau terluka?" pertanyaan Nanoha mulai membuatnya semakin penasaran. Dia berpikir sendiri.
"Ya, tetapi sekarang sudah baikan, oh ya aku mau bertanya, apakah kau penyihir juga seperti kak Hayate?" aku bertanya walaupun sebenarnya itu rahasia.
"Eh.. apa, oh ya..." Nanoha terlalu fokus dengan ceritaku tadi. Padahal menurutku itu biasa saja.
"Ya, kau benar, ini Partnerku, Raising Heart" Nanoha memperlihatkan Raising Heart kepadaku.
"Greetings" Raising Heart menyapaku dalam bahasa inggris
"Ngomong-ngomong, mengapa kau tidak kaget dengan kami para penyihir?" Nanoha sepertinya penasaran.
"Sebenarnya diriku agak mengerti tentang menjadi penyihir" aku menjelaskan, tetapi sebenarnya yang bisa untuk sekarang adalah Gerald, bukan diriku.
"Heee, Apakah kau punya semacam device?"
Nanoha memintaku memperlihatkan Device yang kupunya, aku memperlihatkan pendantku, Stardust.
"Waaah, hebat."
Aku hanya menjelaskan singkat saja. Tentang apa yang kutahu dari pendant ini.
"Kalau begitu, aku mau tanya juga Nanoha-san, pertemuanmu pertamakali dengan kak Hayate bagaimana?" aku penasaran dengan bagaimana pertemanan mereka dimulai.
"Menyenangkan, tetapi menyedihkan juga." Nanoha menjawab dengan muka murung
"Maaf, kayaknya pertanyaanku menyakitkan" aku tidak tahu bahwa pertemuan mereka dimulai dengan hal yang menyedihkan.
"Ah tidak, bukan berarti menyedihkan sekali, hanya saja pertemuan kami berasal dari ketidakmampuan kami untuk mengerti satu sama lain" Nanoha melanjutkan alasannya
"Mengerti satu sama lain?" aku penasaran
Nanoha menceritakan kejadiam 2 tahun yang lalu, bagaimana pertemuan mereka dan menjelaskan konflik yang terjadi. Dimulai dari kutukan yang dialami Hayate sehingga dia lumpuh, para Ksatria yang diam-diam mengumpulkan energi dari Linker Core para penyihir untuk mengisi halaman buku langit malam, juga pertemuan pertama mereka di rumah sakit dan mengetahui bahwa Hayate adalah pemilik dari buku langit malam dan juga ksatria lainnya yang berada di dekat Hayate.
Aku akhirnya mengerti, pertemuan mereka, tak kusangka bahwa pertemuan mereka dengan ksatria adalah sebagai musuh. Dan aku merasakannya, Gadis seperti mereka sudah melewati berbagai banyak hal.
"Tetapi nanoha-san, Bagaimana kau menyikapinya? Bagaimana kau menyelesaikan masalah yang kalian hadapi?" aku ingin tahu apa mereka yang mereka lakukan, mungkin bisa juga untuk menghadapi masalahku dengan Signum dan lainnya.
"...Kami bertarung..!" Mereka meninggapi permasalahan dengan pertarungan, aku terkejut.
"Saat itu, aku ingin sekali menghentikan pertarungan, dan menginginkan mereka mendengar omonganku, bahkan walaupun harus dikatakan sang iblis" Nanoha menjawab dengan kepalanya menoleh ke-atas.
"Tetapi Nanoha..., dari pertarungan, Apakah kalian bisa menghentikan masalah kalian ? Bukankah hanya menimbulkan kepahitan lebih lagi? Dan lagi jika mereka musuhmu bukankah kalian harus mengalahkannya? Aku tahu ini egois, tetapi jika kau tidak bisa memikirkan dirimu, Bagaimana kau bisa memikirkan orang lain?"
"Galeth-kun. Kau tahu, jika musuhnya musuhku adalah temanku, apakah temannya temanku adalah musuhku?"
"..." aku tidak berkata apa-apa.
"Itulah yang kurasakan, mereka semua adalah temanku, semuanya sudah kuanggap temanku, maka aku pun ingin mereka memahamiku sebagai teman. Rasa sakit mereka, penderitaan mereka, sangat kurasakan sampai aku mungkin akan menggila, mempunyai seseorang yang berharga, dan hanya bisa diselamatkan hanya melewati pertarungan. bertarung saat itu memang Cuma satu-satunya jalan. Tetapi-"
"Tetapi...?" aku penasaran.
"Keajaiban itu ada dan pasti ada."
"Keajaiban...?" aku bertanya-tanya dengan keajaiban yang mereka dapatkan.
"Saat itu program pertahanan Buku kegelapan mulai rusak, dan Hayate diambil alih oleh master program, Reinforce Eins. Hayate memberontak dari keinginan Reinforce, saat itulah Hayate menyadarkan keinginannya bukanlah keinginan yang dipikirkan Reinforce. Saat itulah kejaiban muncul, do'a kami mencapai langit, air mata kami seakan berubah menjadi cahaya dan pelangi, malam panjang yang kami lewati pun berakhir. Semua itu dilalui dengan keinginan masing-masing."
Nanoha melewati banyak hal saat pertemuan mereka dengan Hayate. Aku ingin sekali menanyakan tentang keberadaan Reinforce Eins. Tetapi mendengar cerita Nanoha, aku jadi yakin bahwa mungkin akan terjadi kesedihan dari cerita itu. Mungkin aku mengurungkan penasaranku, karena terkadang, lebih baik menjadi rahasia.
"Apakah kau penasaran dengan keberadaan Reinforce Eins, Galeth-kun?"
"Eh, tunggu? Kenapa kau bisa tahu?" Penasaranku sepertinya selalu ketahuan.
"Hanya tebak saja, biasanya orang pasti bertanya tentang keberadaan sesuatu hal, jika dia sudah tidak ada." Nanoha bisa mengerti rasa penasaranku.
Ini berlogika, tidak seperti Gerald yang selalu tahu apa yang kupikirkan.
"Memang benar, aku penasaran, tetapi tidak jadi, karena perpisahan itu menyedihkan karena biasa menjadi akhir dari cerita, apalagi jika secara diam-diam."
Walaupun aku penasaran, lebih baik aku tidak tahu.
"Eh, Tunggu, mengapa kau tahu kalau dia diam-diam?"
Sekarang giliranku yang bisa menebak ceritanya. Orang yang akan berpisah tidak ingin diketahui agar tidak adanya kesedihan di hatinya, atau dia gak kuat saat melihat kesedihan orang tersebut.
"Tebak saja, jadi benar?"
"Memang benar, tetapi perpisahan itu ketahuan Hayate, dan saat itu Hayate berusaha menghentikan kepergian Reinforce. Tetapi Galeth-kun, kau salah dalam suatu hal, memang perpisahan itu menyedihkan, tetapi itu bukanlah akhir, itu adalah awal yang baru."
"Awal-kah?"
Awal yang baru, sesuatu yang baru sudah dimulai, pertemanan mereka dan lainnya, semua sudah dimulai, dan mereka memulainya dengan keinginan mereka untuk mengerti satu sama lain.
Tak terasa perjalanan kami sudah mau selesai. Gedung sekolah mulai terlihat lagi. Kulihat Hayate dan yang lain sedang berada di depan Gerbang menunggu Nanoha dengan wajah ceria dan melambaikan tangan. Nanoha membalas mereka dengan melambaikan tangannya juga.
Mengerti satu sama lain..kah? sepertinya akan menjadi perubahan yang baru. Tetapi aku akan memulai dari orang yang ada didalam diriku ini.
Cerita Nanoha membuatku hatiku terbuka, semua hal yang berakhir akan mempunyai awal yang baru. Oleh karena itu, aku akan akhiri semua ini, semua kesedihan ini, apapun caranya.
Untuk pertama, aku bersiap-siap untuk balik ke kediaman Hayate dan bersiap untuk mengurus kediamannya seperti biasa. Hayate mengucapkan terima kasih karena menjaga Nanoha selama perjalanan, walaupun aku tahu, penjagaanku tidak dibutuhkan karena Nanoha lebih berpengalaman.
Aku akan mendapatkan uang transport untuk balik. Ini pertama kalinya aku dapat saku, tetapi aku menolaknya dengan halus. Hayate untuk menggunakan uangnya untuk keperluannya, apalagi karena aku bertaruh bahwa kegiatan di sekolah mulai berat, akan mengeluarkan banyak tenaga hingga mungkin akan sangat mencapekkan. Lagipula aku juga berjalan sendiri saat mengantarnya pergi ke sekolah kemarin. Walaupun awalnya dia protes, tetapi protesnya akhirnya reda karena dia tidak bisa berdebat lebih banyak lagi dikarenakan sekolah mau dimulai. Semua sangat indah saat pertama kali bertemu dengannya sampai sekarang.
Tetapi semua berubah saat orang itu, yang menyebut dirinya Luna, entah apa maksudnya membuat ulah. Saat kutanyakan ke Hayate tentang Luna, dia tidak mengingat sama sekali tentang dirinya, padahal Gerald hanya bisa melupakan kejadian yang hanya bisa dilupakan dalam beberapa menit. Walaupun berdebat dengan para wolkenritter saat itu, maka aku hanya bisa bilang untuk tidak pernah membicarakan tentang kejadian saat itu dan meminta Gerald untuk diam-diam menghapus ingatannya. Serangan entah datang darimana-mana. Oleh karena itu aku harus terus bersiaga.
Perjalanan balik dimulai lagi, dan aku memulai perjalanan dengan keadaan senang. Hatiku berdebar-debar dengan apa yang akan terjadi nantinya.
Tetapi, pandanganku mulai berkabur. Kesadaranku mulai hilang, tubuhku melemas dan akhirnya jatuh ke tanah. Saat sadar aku sudah di tempat biasa dalam diriku. Saat itu juga Gerald mengunuskan pedang ke arahku. Pedang yang dipakainya saat bertahan dari serangan Luna. Aku kaget dengan kelakuan dia, Apa yang dia lakukan dengan menghunuskan pedang ke arahku?. Dia seolah menantangku.
"Apa maksudmu?" aku bertanya maksud dari yang dia lakukan.
"Sudah jelaskan, kita akan bertarung."
"Apa alasan kita bertarung?"
"Kau sudah mendengar cerita Nanoha kan, dia bertarung sebelum menjadi teman."
"Jadi saat ini kita bukan teman?"
"Hooo, sejak kapan aku bilang temanmu, aku sepertinya salah saat memberi tahumu, ucapanku, semuanya sepertinya sangat kusesali, buat apa aku menasihatimu?. Semua yang kuucapkan ke dirimu semuanya adalah kebodohan yang kulakukan."
"Kebodohan?"
"Hmm, kau pura-pura bodoh, atau kau memang bodoh, semua yang ku ucapkan ke dirimu adalah kebodohan yang kulakukan di masa lalu."
"Terus mengapa kau terus memberiku nasihat bodoh itu. keyakinan, perubahan, apa yang kau inginkan sebenarnya?"
"Entah, mungkin melihat potensi dirimu untuk apa yang ku lakukan seharusnya adalah benar, ataukah membuatmu merasakan dosa yang telah kulakukan?"
"KAU! Jadi selama ini kita bukan teman? Apa maksudmu dengan kau adalah diriku, apa maksudmu dengan berwajah sama denganku? APAAA?" niatnya mulai keluar. Tetapi aku masih tidak bisa memercayai ini.
"Hmm, hihihi, HAHAHAHA. Ya, aku melakukannya agar kau mengetahui bahwa yang kaulakuan tidak pernah membuat hal yang baru, yang kaulakukan hanya mengulang kejadian yang sama berkali-kali."
"Kalau begitu, siapa kau sebenarnya?"
"Hmmm, aku sudah memberitahu bukan?, aku adalah GERALD, Greed, Envy, Refuse, Ambitious, Liar, Despair. Kebalikan dari namamu yang mempunyai makna positive, aku adalah program yang mempunyai makna Negative." Semuanya bermakna dosa.
"Despair? Apakah kau kebalikan dari namaku yang disebut harapan?"
"Pastinya. Jadi, bertarung? atau kau menyerah dan mati?."
"Bukankah kalau aku mati, kau juga akan mati."
"Sudah kubilang kan, aku tidak peduli dengan tubuh ini. Jadi jangan berharap banyak, dasar manusia. Idealisme yang kaupunya adalah palsu."
"Tetapi, tidak ada yang bilang bahwa asli tak bisa dikalahkan dengan yang palsu."
"Hmm, kita lihat saja" Gerald menunjukkan Aura yang mengerikan, Pedang Stardust berubah menjadi kegelapan yang sangat pekat.
Entah apakah aku bisa mengatasinya dengan mudah. Tetapi jika ini satu-satunya yang bisa kulakukan untuk bisa mengubah diriku juga. Nyawa pun akan menjadi taruhannya. Pertarungan dimulai, aku memakai Stardust copy-an juga untuk menyeimbangkan serangan, walaupun potensinya tidak penuh.
"UGHH, GAH" tiba-tiba rasa sakit menjulur ke tubuhku. Inikah jika orang yang bukan pemiliknya memakai dengan paksa. Dan juga Stardust ini hanyalah copy-an.
"Itulah yang kau rasakan jika memakai yang bukan milikmu" dia membuat wajah sedih, "Tetapi aku tidak akan goyah lagi, aku akan menghancurkanmu, dan mengakhiri semua penderitaan ini."
Gerald mulai menyerang.
Aku tidak bisa apa-apa, hanya bisa memakai tangan dan kakiku untuk pertahanan diriku. Stardust tidak bisa beraksi satu sama lain. Sejak awal, stardust hanya bisa dipakai dirinya.
Tubuhku hanya bisa menerima tebasan dari pedangnya. Aku tak bisa apa-apa.
Tetapi rasa penasaranku melebihi rasa sakit di tubuhku. Rasa penasaran dan kebencian yang kubuat berdasarkan dari ucapan dia, tetapi rasanya sakit. Mempunyai sesuatu dosa yang kekal tetapi tidak di mengerti. membuatku merasakan keputusasaan yang luar biasa.
"Kalau begitu, Mengapa kau ada di dalam diriku, Mengapa...?, padahal kau hanya sebuah program, Bukankah yang memprogrammu adalah diriku? Bukankah kau harusnya menjadi tangan kananku?"
"Yaa, memang seharusnya aku adalah program, tetapi dirimu membuatku merasakan apa itu namanya perasaan, itulah dirimu."
"Dan juga, jangan salah... aku bukanlah tangan kananmu, tetapi hanya pengamat, aku hanya diprogram jika kau sampai melakukan kehancuran, maka aku akan mengalahkanmu dan menghancurkanmu." Gerald mulai menyerangku balik.
"Terus Mengapa kau menyerangku? Apakah aku berbuat yang pantas kau serang?"
"Memang kau belum melakukan apapun, tetapi kau sudah punya niat!"
"Niat...? Selama ini kulakukan adalah melakukan yang kau minta, kau memotivasikan aku, kau memberiku semangat, dan aku menjalankan kehidupanku karena sesuai dengan tingkah laku yang seharusnya. Apakah berubah, mempunyai keinginan, dan saling mengerti satu sama lain adalah sesuatu hal yang salah? Bukankah kau yang mengajarkan pada diriku, dan rubahlah dunia ini."
"Karena itulah, kebodohanku untuk memotivasimu, kau merasa itu masuk akal, tetapi kau akan merasakan penderitaan yang amat menyedihkan, Aku mempunyai hati, dan memintamu sesuai hatiku, tetapi, aku bodoh, padahal aku hanya disuruh mengawasimu, tetapi aku malah membuat sesuatu yang menyebabkan putaran nasib, bahkan lebih parah dari itu. Kau akan merasakan keputusasaan yang besar!"
"JADI, RASAKAN KEGELAPAN KEPUTUSASAAN YANG DIBUAT OLEHMU INI"
Gerald, Aku tak mengerti maksud dia. Tetapi, melihat dia tak memikirkan rasa keinginan orang lain, hanya memanfaatkannya, dan setelah itu menjebaknya. Aku hanya bisa membencinya.
"Mengapa, mengapa, MENGAPAA...!" aku kesal, benar-benar kesal.
Aku merasa dipermainkan, semuanya yang kulakukan adalah kebodohan dari seseorang yang kuanggap sebagai temanku sendiri. Aku kehilangan semua harapan, tidak bisa tertawa, kelakuanku penuh dengan kontradiksi, tidak bisa menghibur, bahkan diriku sendiri tak bisa kuhibur, hati dan ingatanku kosong. Semua serasa tidak ada gunanya. Apakah benar namaku Galeth? Apakah diriku adalah sumber harapan. Apakah perbuatanku pada akhirnya hanya akan merusak? Apakah aku tidak pantas mempunyai kehormatan? semua cahaya dalam hidupku sirna.
Ruangan itu mulai gelap dan gelap, sehingga hampir tidak ada cahaya lagi.
"Bagaimana rasanya merasakan keputusasaan yang luar biasa? Itulah mengapa kau tidak mempercayai orang lain! semua kau anggap musuh! tidak ada teman untukmu, saat itu kau berusaha untuk memahami orang lain. Tetapi disaat yang sama, orang lain kecewa saat semua rahasianya terbongkar, padahal kau hanya ingin mengerti dirinya."
Dia mengungkit masa laluku, dia tidak pernah menceritakannya, tetapi selalu mengungkitnya.
"Karena itu kau berpikir bahwa memahami satu sama lain adalah hal yang konyol, menganggap bahwa itu bukanlah dari sesuatu perubahan, tidak ada keinginan lagi saat kau merasakan keputusasaan tersebut, tetapi kau masih berharap dengan sangat bodoh, kau merasa bahwa jika dirimu yang lain bisa mengubah jalan hidupnya, maka selama ini yang kau lakukan tidak sia-sia, itulah dirimu yang sebenarnya, masih berharap bodoh, memprogramku untuk berpikir dan bisa membawamu ke jalan yang dia lalui dengan mereset ingatanmu."
Diriku yang dulu. Apakah seputus-asa itukah diriku?
"Mengakhiri semua kesedihan ini, JANGAN BERCANDA. Tidak ada yang bisa mengubah takdir, bahkan sejarah pun tidak akan pernah berubah, sepertinya lebih baik mengalir seperti air tenang. Karena memaksakan diri, maka kau akan menguap dan menjadi hilang, bukan lagi bagian dari sesuatu yang seharusnya."
"TERUS KENAPA?, semuanya bukankah penuh pengorbanan, dan lagi mengapa kau tidak turut saja pada perintah Diriku, bukankah seharusnya kau bisa mengerti apa yang dia rasakan, bukankah kau juga punya hati dan emosi. Aku bertanya-tanya, Apa yang diinginkan dari diriku?"
Aku tidak tahu mengapa. Dia diciptakan untuk mempunyai pemikiran agar sejalan dengan diriku yang dulu.
"Sudah kubilang bukan, karena itulah dia bodoh, menganggap bahwa jika aku punya hati dan emosi maka bisa mengerti pemikiran dia, padahal dirinya dibenci oleh banyak orang" sesuai dengan penglihatan itu.
Tetapi, semua omongannya hanya membuatku merasa kesakitan, rasa sakit di dada, membuat ku ingin menghancurkan duniaku yang penuh dengan kontradiksi ini. karena semua orang selalu ingin berpendapat berbeda.
Kegelapan yang pekat, diriku dirasakan oleh rasa amarah yang begitu dalam, tanganku mulai bergetar, semua perasaan yang kurasakan akhirnya musnah. Tidak ada lagi yang ada dalam ingatanku, yang ada hanyalah kegelapan abadi.
"I'm the Eternal Dusk"
"Always Embrace the Blackened Sun"
"But never gain an Answer and Truth"
"looking down to bottom of The Land"
"Never Trust anything, and Never be trusted"
"Fight Alone and never be understood by other"
"So, I Callforth..., Sunblaze"
"Sunblaze, Generated"
"GERALDDDDDD" Aku menyerang Gerald dengan Sunblaze.
Stardust dan Sunblaze saling beradu satu sama lain. Gerald menyerangku tidak segan-segan. Suara pedang yang tidak berhenti. Tetapi karena kurangnya pengalaman maka aku terhempas, tetapi tidak sama sekali membuat diriku menyerah. Mungkin karena Aku sangat putus asa, sehingga hanya melawan Geald lah satu-satunya keinginanku.
Aku yang merasa tidak ada keyakinan untuk kembali lagi sudah dipenuhi oleh kontradiksinya sendiri.
Kegelapan sudah mencapai titik maksimum, tidak bisa dilihat. Kesempatan itu dipakai olehku untuk melangsukan serangan balik dan memulai serangan beruntun. Semua serangan itu membuat Gerald kewalahan.
Dan diakhiri sebuah tusukan pedang yang menusuk perut Gerald.
"Huaaagghhh" Gerald tertusuk.
Pertarungan berakhir tragis. "Haha, padahal tidak punya kekuatan, akhirnya dengan menjual jati dirinya, kau menghabisiku. Hhh.. "
Nafasnya tersenggal.
"Aku tak peduli dengan kemenangan ini, asal bisa menghancurkanmu, sudah cukup bagiku."
"Jadi bagaimana dengan dirimu? kau sudah mengalahkanku, toh dirimu juga akan mati!"
"Mati?, bodoh, keseimbangan ini sudah tak ada hubungan dengan diriku, selama aku hidup, semua ambisiku akan ku kerahkan. Bahkan jika tubuh ini adalah halangannya."
"Hooo, hebat juga, orang yang sudah berada di jalan kegelapan biasanya akan tersiksa dengan yang namanya ambisi. Ya sudahlah..."
"Hoi, sebelum mati, ceritakan dulu, ingatanku juga hubunganku dengan yang lainnya"
"Heee, masih...penasaran. Hahaha, bukan salahku kalau aku menceritakan ini ya!" dia menyeringai seolah ini adalah permainan yang sudah dia rencanakan.
Gerald menceritakan hal yang tak terduga. Semua ini terhubung, yang membuatku tidak terima dari kenyataan ini. tetapi semua ucapannya menarik pelatuk ingatanku. Adanya kelompok yang disebut sebagai Arcana Rebellion, dan pengkhianatanku terhadap mereka. Juga sampai pertemuan awalku sama Hayate. tetapi...
L.E.T.H., keluargaku, dan aku mengkhianati mereka dengan alasan yang begitu hina, diriku ini terlalu bodoh, bodoh sekali tidak memikirkan perasaan mereka, aku merasa semua ingatan ini hanyalah manipulasi dari Gerald, tetapi...
"Bohong, kau bohong, ITU BOHONG"
"Bohong?, kau sendiri saja yang meminta ceritaku. Sisanya kau sendiri yang mencari tahu."
"GERALD, SIALAN KAUUU...!"
Aku berusaha untuk menghajarnya. Pukulanku hanya membuat dia terluka di wajahnya, tetapi dia hanya tersenyum. Senyuman itu membuatku kesal, aku berusaha menghajarnya hinga tubuhnya mulai transparan dan akhirnya menghilang tiada sisa.
Melihat dia menghilang aku hanya menunduk. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, inikah... ke-putus-asa-an.
