My Dear Vampire (3).
Pairing : Mikaela x Yuu (girl ).
Warning : Ada unsur kekerasan didalamnya. Ceritanya menyimpang dari cerita sesungguhnya.
Enjoy
Aku tak percaya ini.
"Ichinose Yuu! Apa kau sadar kalau pelajaran masih berlangsung?! Apa yang kau lamunkan dari tadi hah?! Ikuti pembelajaran dengan baik!" Teriak guru yang sedang mengajar di depan kelas.
Aku melengos dengan malas. Sudah dua minggu berlalu semenjak dilaksanakannya tes itu dan belum satupun kegiatan pelatihan untuk menjadi pemburu vampir dimulai. Yang lebih mengecewakan. Saat aku sudah menyiapkan jiwa dan raga untuk menjadi pemburu vampir aku malah harus terjebak dalam mengikuti pelajaran di kelas biasa ini. Kalau kalian bertanya kenapa aku terjebak dalam situasi ini semuanya berawal dari kejadian 2 minggu lalu.
Meskipun lulus ujian masuk Guren menendangku keluar dari puri tempat kelas khusus berada seketika saat aku mencoba memasuki ruang kelas di puri itu. Aku yang tidak terima dengan perlakuannya berusaha menyerang balik, tapi Guren dengan tenaga monsternya mengalahkanku seketika dan membuatku tak berkutik. Seluruh staff pengajar dan anak buah Guren yang berada di tempat itu melihat kejadian itu dengan wajah pucat pasi. Aku tahu mereka berniat menghentikan Guren menendang putrinya sendiri. Tapi pandangan mata super seram Guren yang mengisyaratkan mereka untuk menyingkir membuat semua orang mundur.
Sesaat sebelum benar-benar terkapar aku mendengar Shinoa berbicara sesuatu. "Jadi karena itu Yuu tumbuh menjadi gadis seperti ini. Menarik." Katanya santai. Lagi-lagi ia mendiamkan perkelahian yang terjadi di depannya karena menganggapnya sebagai sesuatu hal yang menarik.
Guren berjalan menerobos kerumunan pengajar dan peserta lainnya dengan santai. Saat aku terhempas ke lantai dan tidak mampu bergerak lagi karena kesakitan ia mengangkatku seperti karung dan membawaku menjauh dari puri. "Karena kau bodoh aku akan mengingatkanmu lagi. Aku tak akan mengijinkanmu masuk ke kelas khusus sebelum kau belajar bagaimana cara berteman dengan orang lain." Kata Guren sambil tersenyum licik seperti biasa.
"Tunggu dulu. Bukankah aku sudah memenuhi persyaratan itu?! Aku punya Shinoa." Protesku.
Guren memicingkan mata dan menatapku dengan pandangan mata curiga. "Kau tidak menyebutkan pemuda vampir itu sebagai temanmu lagi. Apa terjadi sesuatu yang membuatmu mengakuinya sebagai pacarmu?! Apa yang kau sembunyikan dariku, Yuu?"
Aku menelan ludah. Guren tidak boleh sampai tahu kalau aku sempat bertemu dengan Mika secara rahasia. Tidak boleh. Jika ia tahu selesai sudah. "Kau ini bicara apa Guren? Bukankah kau sendiri yang berkata kalau kau tidak akan pernah memasukkan Mika dalam hiunganmu? Karena itu aku aku menyebutkan nama lain, itu saja." Kataku memberi alasan.
Meskipun masih tampak curiga Guren tidak bertanya hal apapun lebih jauh. "Shinoa juga diluar hitungan. Berhasil mengakrabkan diri dengan keluarga sendiri bukan hal yang aneh."
"Ha?! Shinoa bukan keluargaku. Apa makhsud perkataanmu Guren bodoh?!"
Guren terdiam sebentar. Sepertinya ia mengatakan hal yang tidak seharusnya dikatakan. "Tidak tidak...itu hanya perumpamaan saja. Lupakan perkataanku barusan. Yang jelas, gadis itu menyukai segala sesuatu yang unik. Kau bisa berteman dengannya bukan karena kau sudah belajar bagaimana cara berteman, tapi itu pasti karena ia tertarik pada keanehanmu dan menawarkan diri menjadi temanmu. Karena itu kali ini belajarlah mencari teman yang sesungguhnya di kelas biasa." Kata Guren sebelum melemparkanku ke asrama kelas biasa. Dan itu lah akhir dari reka ulang kejadian dua minggu yang lalu.
"Ichinose Yuu! Apa kau mendengarkan perkataanku?!" Teriakan guru itu membuyarkan lamunanku. Guru yang memarahiku tampak sangat kesal dengan sikapku. Tapi sejujurnya aku tidak peduli meskipun dia marah padaku atau tidak. Setelah melirik ke arah guru itu sebentar aku memalingkan wajah ke arah berlawanan.
"Apa-apaan sikapmu itu?! Kalau kau masih saja bersikap begitu aku akan menskorsmu, Ichinose Yuu!"
Di skors? Kalau itu terjadi aku akan punya waktu untuk berlatih dan mencari informasi tentang cara mendapatkan senjata kutukan iblis tanpa harus berurusan dengan Guren. Karena senang aku berdiri dari bangkuku dan berteriak. "Di skors? Benarkah? Kalau begitu dengan senang hati aku akan melaksanakan hukuman itu."
Melihat reaksiku yang diluar dugaan, guru itu melemparkan bukunya ke lantai dan wajahnya terlihat lebih kesal dari sebelumnya. "Berdiri di lorong sampai jam pelajaran berakhir Ichinose Yuu!" Teriaknya marah.
"Baik...baik..." Jawabku ogah-ogahan. Aku melangkah keluar dengan niat kabur dari pelajaran dan dari kelas itu. Tapi kemudian handphoneku berdering dan kudapati sebuah pesan dari Shinoa.
From: Hiragi Shinoa.
Hai, Yuu. Bagaimana kabarmu? Aku harap kamu tidak membuat masalah di kelas biasa karena saat ini Guren sedang menyuruh anak buahnya mengawasimu. Percaya atau tidak saat ini aku sedang melihatmu yang berniat kabur dari kelas. Aku sarankan agar kamu bekerja sama dan menjadi anak baik supaya hukumanmu tidak diperpanjang. Karena itu urungkan niatmu untuk kabur dan berusahalah untuk mencari teman disana. Itu saja. Dah!
"Hah?! Yang benar saja?!" Teriakku tak terima. Pada akhirnya. Walau merasa terpaksa, selama sisa waktu jam pelajaran itu aku berdiri di lorong melaksanakan hukuman yang diberikan kepadaku.
"Guren dan Shinoa sialan! Ketika hukumanku selesai kalian akan berurusan denganku!" Gerutuku kesal.
Aku berjalan ke di lorong sekolah dengan mood luar biasa buruk. Akademi Sakura, sekolah baruku ini sepertinya diperuntukkan untuk anak orang kaya. Gedung sekolah yang besar dan baru, fasilitas super lengkap, dan penggunaan pajangan mewah yang dapat kau lihat dimana-mana. Pelajaran di sekolah ini juga sangat maju dibandingkan sekolah lamaku. Dengan posisi rangking 10 terbawah yang kudapat di sekolah lamaku membuat kemungkinan untuk bisa mengikuti pelajaran disini menjadi semakin kecil. Tidak ada harapan. Dalam beberapa bulan atau bahkan minggu aku pasti dikeluarkan dari sekolah ini.
Aku tidak habis pikir kenapa Guren mau repot-repot memasukkanku ke sekolah semacam ini. Kalau ia benar-benar ingin aku belajar berteman sekolah ini adalah pilihan terakhir untuk menjadi tempat belajar berteman. Kenapa, karena aku paling lemah jika berurusan dengan tipe orang yang berkepribadian layaknya anak orang kaya. Terutama tipe orang yang memiliki harga diri yang tinggi dan ambisius.
Sekarang ini aku berniat ke ruang laboratorium untuk mengikuti pelajaran berikutnya. Tetapi bagiku, dua minggu belumlah cukup untuk mengingat seluruh jalan dan letak ruangan ini. Aku malu mengakuinya, tapi saat ini aku sedang berjalan tak tentu arah menyusuri lorong sekolah super mewah yang tiangnya merupakan ukiran batu putih dan berlantaikan keramik. Lupakan soal keindahan lorong ini. Singkat saja, aku sedang tersesat.
"Tolong hentikan!"
"Hei Yoichi! Bisa tidak sih kau melaksanakan perintah kami dengan benar?! Masa begitu saja tidak bisa, dasar bodoh!"
Suara beberapa orang anak laki-laki terdengar dari arah halaman belakang sekolah. Setelah mendengar kalau ada orang lain disana aku segera berlari ke arah sumber suara. Dari kedengarannya sepertinya orang-orang yang ada disana sedang berada di situasi yang kurang mengenakkan. Tapi aku tidak peduli kejadian apa yang sedang terjadi disana, yang jelas aku harus menanyakan jalan untuk bisa pergi ke ruang laboratorium.
"Dasar tidak berguna!" Sebuah teriakan kembali terdengar.
Saat aku sampai ke tempat itu 3 orang anak laki-laki sedang menendang dan menghina seorang anak laki-laki yang terkapar di tanah. Ke 3 anak laki-laki yang sedang asyik menganiaya itu berpakaian acak-acakkan dengan gaya rambut yang tak kalah spektakuler. Wow! Bahkan di sekolah elit seperti ini pun berandalan ketinggalan zaman semacam mereka masih saja ada dan berlagak seperti penguasa sekolah. Setelah dua minggu yang membosankan akhirnya aku menemukan sesuatu yang menarik.
Buak! Aku melompat dan menendang salah satu dari berandalan itu. Saat ini aku memang berada di dalam masa hukuman. Tapi memukul berandalan tak berguna seperti mereka tentu bukanlah suatu pelanggaran bukan? Mereka muncul tepat ketika aku membutuhkan sesuatu untuk melampiaskan rasa emosiku. Bila pihak sekolah memanggilku mereka pasti akan menyalahkan pihak berandalan ini. Siapa yang akan percaya seorang gadis menghajar ke 3 anak laki-laki seorang diri?
"Hei para pengecut disana! Maju sini kalau berani! Aku akan meladeni kalian sampai kalian puas!" Kataku sambil memasang pose menantang.
Seperti yang di duga, para berandalan yang tidak punya jiwa kesatria sedikitpun itu bergerak menyerang membabi buta meskipun lawan mereka hanyalah seorang gadis. Aku menghajar ke dua berandalan yang tersisa dengan penuh semangat. Tapi sayangnya pertarungan ini tidak semenarik seperti yang kuduga. Meski bergaya sok para berandalan ini tidak memiliki kemampuan bertarung yang memadai. Hanya dalam beberapa menit aku berhasil membuat mereka tak bisa berdiri lagi. Mengecewakan.
"Cih! Kalian bergaya sok meskipun kalian lemah. Menggelikan!" Marahku. Aku menghampiri anak laki-laki yang menjadi sasaran para berandal itu. "Kau baik-baik saja?"
Anak laki-laki berambut coklat seleher itu mendongak dan menatapku. "Aku baik-baik saja Ichinose Yuu." Jawabnya pelan.
"Cukup panggil aku Yuu. Aku tidak suka kalau ada orang yang memanggilku Ichinose. Bisa berdiri?" Kataku sambil menawarkan bantuan.
"Terimakasih Yuu."
Aku memperhatikan wajahnya lekat-lekat. Mata hijau yang besar dan tindak tanduknya yang seperti hewan kecil. Sepertinya aku pernah melihatnya sebelumnya. "Aku ingin bertanya sesuatu padamu."
"Hm?"
"Apa kita pernah bertemu?"
Anak laki-laki itu terlihat kecewa namun ia tetap berusaha tersenyum setelah mendengar pertanyaanku. "Aku teman sekelasmu di kelas umum, dan kita sama-sama mengikuti ujian masuk kelas khusus calon pemburu vampir. Namaku Saotome Yoichi, kamu boleh memanggilku Yoichi."
Yoichi? Apa anak ini benar-benar berada di kelasku? Entahlah, aku tak ingat. Tapi kalau ia berkata begitu hal itu mungkin saja benar."Ah! Benar juga. Kalau tidak salah kau memang ada disana. Kalau tidak salah juga kau lulus ujian masuk bukan? Jadi Yoichi, kenapa kau mengikuti kelas umum dan dibully oleh para berandalan itu?"
Yoichi tersenyum kecut. "Yah...Sepertinya para pengajar di kelas khusus menganggap mentalku belum cukup kuat untuk memasuki kelas khusus. Karena itu mereka membatalkan penerimaanku di kelas khusus. Hahaha..."
Dikeluarkan dari kelas khusus? Ternyata bukan hanya aku yang bernasib seperti itu. Anak laki-laki di depanku ini pasti juga diseret paksa keluar dari kelas itu sepertiku meski karena alasan yang berbeda tentunya. "Heh...Lalu kenapa kau sampai di bully oleh para berandalan itu? Kau belum menjawab pertanyaanku itu. "
"Aku tidak dibully! Aku hanya meminta sesuatu pada mereka. Karena itu aku menuruti permintaan mereka. Itu saja." Ucapnya tak terima.
"Ya ya ya...semua orang yang di bully berkata demikian." Kataku dengan suara monoton.
"Aku tidak bohong! Banyak yang bilang kalau ketiga berandalan itu direkrut secara khusus oleh pasukan pemburu vampir. Karena itu aku berharap mereka mau membantuku mendapatkan kesempatan sekali lagi untuk membuktikan kepada para pengajar di kelas khusus kalau aku mampu. Makanya aku... "
. Aku memiringkan kepala, berpikir sejenak. Direkrut oleh pasukan pemburu vampir? Ketiga berandalan itu? Mustahil. Dengan kemampuan bertarung tingkat rendah dan mental pecundang yang mereka miliki rasanya mustahil. Orang-orang seperti mereka pasti akan langsung lari terbirit-birit atau bahkan pingsan di tempat hanya dengan melihat Guren menampakkan aura membunuhnya dan mengeluarkan pedangnya.
"Aku tidak mengerti kenapa kau percaya Orang seperti mereka direkrut oleh pasukan pemburu vampir. Tapi yang jelas..."
Kring! Kring!
Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku handphoneku tiba-tiba berdering. Telpon dari Shinoa.
"Halo? Mau apa lagi kau Shinoa?!"
"Apa kamu membaca emailku baik-baik Yuu?"
"Email? Ya...kubaca kok."
"Membaca tanpa memasukkannya ke kepalamu lebih tepatnya. Aku mengerti. Kamu ini memang memiliki otak monyet yah."
"Kau mau cari gara-gara denganku ya?!"
"Dengarkan aku Yuu, karena otak monyetmu itu sekarang kamu dipanggil ke ruang kepala sekolah. Sepertinya ada guru yang tidak sengaja menonton aksi heroikmu barusan. Jangan lupa ajak anak laki-laki yang sedang bersama denganmu sekarang ke ruang kepala sekolah juga. Semoga beruntung. Dah!" Bip! Shinoa memutuskan sambungan telponnya.
Lupakan tentang minggu. Sepertinya aku tak akan bertahan di sekolah ini dalam hitungan beberapa hari lagi.
...
Aku benar-benar dalam masalah besar sekarang. Di hadapanku saat ini seorang laki-laki berambut perak sedang duduk menatapku sambil tersenyum. Senyum yang dimiliki laki-laki itu seolah menyembunyikan apa yang ada dipikirannya, senyumnya mengingatkanku pada senyum Shinoa yang seringkali memiliki makhsud tersembunyi. Laki-laki itu adalah kepala sekolah sekaligus orang yang memegang kekuasaan besar di pasukan pemburu vampir, mayor jendral Hiragi Shinya.
"Seorang gadis yang menghajar tiga anak laki-laki seorang diri...kedengarannya sedikit dibuat-buat." Kata Hiragi Shinya sambil tetap tersenyum. Nada bicaranya yang santai justru membuatku semakin merinding. Orang ini memiliki kekuasaan besar di pasukan lebih dari Guren, mencari masalah dengannya berarti bunuh diri.
Tiba-tiba saja sebuah ide melayang di kepalaku. Sebuah ide yang mungkin bisa membebaskanku dari hukuman ini. "Tentu saja, aku tidak melakukan apapun! Ketiga berandalan itu berusaha menggangguku dan Saotome Yoichi datang menyelamatkanku. Dia sudah menyelamatkanku!" Kataku. Membuat Yoichi menjadi pahlawan adalah satu-satunya cara yang terpikir olehku. Dengan begini masalah akan selesai dan Yoichi juga akan mendapat penilaian lebih karena menghajar tiga orang berandalan itu seorang diri. Keadaan ini akan sama-sama menguntungkan kami berdua.
"Begitukah? Tapi kamera pengawas menunjukkan fakta yang sebaliknya. Memang sulit dipercaya, tapi semuanya jadi masuk akal kalau mengingat kamu adalah putri orang itu."
Kata Hiragi Shinya. Semua kebohongan yang kubuat terbongkar sudah.
'Orang itu', seseorang yang dimakhsud oleh Hiragi Shinya pastilah Guren. Meski pernah beberapa kali bertemu dengannya aku tidak tahu bagaimana hubungan Hiragi Shinya dengan Guren. Jika Hiragi Shinya menaruh dendam pada Guren, semua ini akan berakhir lebih buruk dari dugaanku.
"Tunggu sebentar pak kepala sekolah. Ichinose Yuu san menyerang ketiga berandalan itu untuk menolongku, karena itu aku mohon jangan hukum dia. Jika anda ingin menyalahkan seseorang semua ini adalah salahku." Kata Yoichi sambil membungkuk. Tindakan yang dilakukannya sedikit membuatku terkesan, kebanyakan orang pasti tidak akan melakukan hal seperti itu. Selama ini, setiap kali peristiwa semacam ini terjadi orang yang kutolong pasti akan diam dan seluruh kesalahan akan ditimpakan padaku. Ini pertama kalinya ada orang yang mau membelaku.
"Saotome Yoichi kun. Apa kamu teman Ichinose Yuu chan?" Tanya Hiragi Shinya.
Yoichi menatap Hiragi Shinya dan mengangguk.
Hiragi Shinya tertawa kecil."Aku menyukai anak muda yang penuh semangat seperti kalian berdua. Sangat disayangkan kalau kalian harus berada di kelas biasa. Karena itu permasalahan ini akan kuserahkan kepada orang yang tepat."
Setelah Hiragi Shinya menyelesaikan kata-katanya pintu ruang kepala sekolah terbuka. Dan sosok yang muncul dari balik pintu itu adalah sosok yang paling tidak ingin kulihat saat ini. Ichinose Guren. Dua kata yang langsung terpikir olehku saat melihat wajahnya. Selesai sudah.
...
Kami berdua dipindahkan ke kelas khusus, atau lebih tepatnya di usir dari kelas biasa, itulah keputusan yang dikeluarkan oleh kepala sekolah Hiragi Shinya. Hari ini aku dan Yoichi mengangkut barang dari asrama biasa ke puri tempat kelas khusus berada. Asrama sekaligus ruang kelas khusus berada di dalam bangunan yang sama, sebuah puri tua dengan kesan horor yang menyelimutinya. Puri itu terlertak satu kilometer dari area kelas biasa. Untuk mencapai ke sana kami harus melewati jalan setapak yang berliku. Di saat seperti ini aku berharap Guren mau mengantar kami dengan mobil, tetapi karena permasalahan yang terjadi kemarin aku tak berani menatap mata Guren untuk sementara waktu.
Guren tak berkata banyak mengenai permasalahan kemarin. Ia hanya berterimakasih pada Hiragi Shinya karena sudah mau menangani putrinya yang nakal dan menjitakku tepat di depan Hiragi Shinya. Setelahnya Guren hanya terdiam. Entah apa yang ada dipikirannya aku tidak tahu, cukup sudah masalah yang kutimbulkan saat ini. Aku hanya ingin segera memasuki kelas khusus dan mendapatkan senjata terkuat.
"Yuu! Tunggu aku!" Panggil Yoichi dari belakang. Tanpa kusadari aku sudah berjalan jauh di depannya. Aku berbalik dan menatap Yoichi yang berjalan terengah-engah di jalan setapak sambil membawa barang miliknya.
"Kau lambat sekali, Yoichi."
Dengan susah payah Yoichi berhasil menyusulku. "Aku rasa Yuu lah yang berjalan sangat cepat."
"Aku? Kau bercanda. Jika kau berjalan dengan Guren saat ini pasti ia sudah meninggalkanmu jauh di depan."
Yoichi tertawa pelan. "Kau sangat akrab dengan ayahmu ya Yuu."
"Begitu menurutmu? Bagiku dia itu cuma om om berisik yang kasar dan main pukul."
"Tapi ayahmu tampak sangat menyayangimu dan menjagamu. Buktinya ia mengontrol segala kegiatanmu."
Aku terdiam sebentar memikirkan akan menjawab apa. Rasanya sulit mengatakan kalau Guren mulai bersikap protektif seperti itu sejak Mika, seorang vampir berniat membawaku. "Entahlah...Mungkin ia tidak punya kerjaan lagi selain mengawasiku." Kataku asal.
Tak lama kemudian kami sampai di depan puri. Disana seorang pemuda berambut merah muda berkacamata juga berdiri membawa barang bawaan miliknya. Pemuda itu berbadan kurus dengan postur tubuh tinggi mirip tiang listrik. Kalau tidak salah ingat pemuda itu juga ada saat ujian masuk kelas khusus malam itu.
"Ah! Itu Kimizuki Shiho kun."
"Kau kenal dia Yoichi?"
Yoichi mengangguk. "Aku memang belum pernah bicara banyak dengannya, tapi saat malam ujian itu aku sempat menanyakan siapa namanya."
"He..." Ucapku datar.
Sejujurnya aku tidak peduli siapa pemuda itu, tapi tinggi badan yang dimilkinya sedikit membuatku iri. Kalau tubuhku bisa setinggi itu aku pasti akan lebih kuat dari sekarang. Saat aku memperhatikan pemuda bernama Kimizuki Shiho itu, tak sengaja mata kami bertemu.
Kimizuki Shiho memandangku dengan tatapan tak suka. Ia menghampiri kami dengan wajah ditekuk. "Huh..Seorang gadis bodoh yang masuk ke kelas khusus berkat koneksi ayahnya. Benar-benar menjijikkan."
Darah naik ke atas kepalaku. Aku akui Guren memang memiliki kekuasaan lebih di sekolah ini, tapi keberhasilanku melalui tes masuk kelas khusus bukanlah karena bantuan Guren. Aku berhasil melalui tes itu karena kemampuanku sendiri. Mendengar ada orang yang menganggap kalau aku tidak mampu melakukan sesuatu dengan kekuatanku sendiri membuatku sangat kesal. Aku ingin melayangkan tinjuku ke pemuda tiang listrik berwajah preman ini, tapi saat ini aku merasa harus menjaga posisiku di kelas khusus.
Sedikit belajar dari pengalamanku selama ini, berkelahi hanya akan membuat masalah baru, ada kemungkinan kalau aku akan dikeluarkan dari kelas khusus hanya karena meladeninya. Selama ini Guren dan Shinoa sibuk mengataiku bodoh karena mudah marah dan memulai perkelahian. Karena itu setidaknya kali ini aku ingin membuktikan kalau aku bisa berpikir tenang dan bersikap dewasa. Aku berjalan maju dengan tenang, mengacuhkan perkataan pemuda tiang listrik itu.
"Heh...Jadi kau mengakui kalau kau bisa masuk kelas ini karena bantuan ayahmu. Perempuan sepertimu memang tidak bisa melakukan apa-apa." Ejek Kimizuki Shiho.
Krak! Aku merasa sesuatu pecah di kepalaku. Akal sehatku mulai hilang. Tiang listrik ini benar-benar menginginkan pukulan dariku. "Hahaha...Kau yang meminta ini, tiang listrik sialan!"
Buagh! Dan dengan segenap tenaga yang kupunya aku melayangkan pukulan tepat ke wajahnya. Lupakan tentang berpikir tenang dan bersikap dewasa, saat ini aku akan melakukan hal yang paling ingin kulakukan. Yaitu menghajar pemuda tiang listrik ini hingga ia tak bisa berdiri lagi. Itu saja!
...
Hari pertamaku di kelas khusus dimulai dengan duduk bersimpuh sambil mengangkat tangan di depan kelas. Yoichi berdiri di sebelah kananku dan Kimizuki Shiho duduk disamping kiriku, melakukan hukuman yang sama. Setelah aku memukul Kimizuki Shiho perkelahian kami mulai berlangsung. Pemuda tiang listrik yang satu ini sepertinya tidak memperdulikan fakta bahwa aku perempuan atau tidak. Ia berkelahi dengan mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya tanpa menahan diri sedikitpun. Tak begitu lama setelah kami mulai berkelahi Guren dan guru lain yang datang memergoki kami dan memberi hukuman.
"Dengar! Aku akan memperkenalkan 3 orang murid baru pada kalian. Yang berdiri ini namanya Saotome Yoichi, dan dua anak bandel yang sedang dihukum ini Ichinose Yuu dan Kimizuki Shiho. Singkatnya mereka ini si pencundang, si bodoh, dan si preman." Kata Guren di depan kelas.
"Tunggu, siapa yang kau makhsud dengan si bodoh?!" Protesku.
"Itu kenyataan. Jangan membantah anak bodoh! Ah sudahlah! Aku beri kalian waktu sepuluh menit silahkan perkenalkan diri kalian sendiri." Perintah Guren.
Aku berdiri dan berjalan ke tengah-tengah kelas. "Kalian tidak perlu tahu siapa aku, aku tidak memiliki niat sedikitpun untuk berteman dengan sampah seperti kalian. Dan jangan lupa seberapapun kalian berusaha akulah yang akan mengambil senjata terbaik disini. Selesai!" Teriakku dengan suara mantap.
Seluruh kelas menatapku heran. Shinoa tertawa di bangku paling belakang dan Guren memegang kepalanya sambil menggeleng.
"Apa-apaan itu? Kau bodoh ya? Apa kau masih punya otak di dalam kepala batumu itu? Bergaya sok hebat seperti itu meskipun kau bodoh. Tingkahmu tak seperti gadis dan isi otakmu kosong. Menyedihkan." Cibir Kimizuki.
"Tiang listrik sialan! Maju sini!"
"Ok! Aku tidak takut denganmu, gadis jadi-jadian!"
Dan perkelahian ronde ke dua kami dimulai. Hanya saja kali ini perkelahian kami berlangsung sangat singkat karena Guren membuat kami berdua tak berkutik sebelum sempat menyerang satu sama lain.
Meskipun hari pertama kami di kelas khusus diwarnai dengan kebrutalan, kehidupan kami di kelas ini dimulai. Tujuanku belajar di kelas ini hanyalah untuk menjadi pemburu vampir terhebat dan menemukan cara untuk mengembalikan Mika menjadi manusia. Aku yakin dengan kekuatanku yang akan terus berkembang mulai saat ini, aku pasti akan bisa memenuhi tujuanku sepenuhnya.
...
Seminggu setelah kelas khusus dimulai guru pembimbing kami, Sayuri sensei mengadakan tes untuk menguji pengetahuan kami. Dan pagi ini Sayuri sensei memberikan hasil ujian yang kami kerjakan sebelumnya.
Hal yang kubenci di dunia ini ada dua hal. Yang pertama vampir jahat. Dan yang kedua adalah ujian. Saat mengerjakan sesuatu yang bernama ujian mendadak aku merasa sakit kepala dan ingin lari saja. Dan saat-saat yang paling menyebalkan dari semua itu adalah ketika hasil ujianmu dibagikan.
Saat ini aku duduk di bangku paling belakang kelas, di mejaku tergeletak kertas-kertas yang berisi hasil ujian yang kemarin kami kerjakan. Aku merebahkan diri ke kursi sambil menguap, tak tertarik sedikitpun untuk melihat kertas hasil ujian itu. Tanpa melihatnya pun aku tahu berapa nilai yang kudapat.
"Jadi bagaima hasil ujianmu, Yuu?" Tanya Shinoa yang duduk di sampingku.
"Entahlah..." Jawabku malas.
Shinoa tersenyum usil. Ia bergerak cepat dan mengambil kertas ujian milikku. "Wah...Apa ini? Nilai yang luar biasa. Hanya manusia legendaris yang mampu mendapatkannya." Kata Shinoa. Ia memegang kertas ulanganku tinggi-tinggi dan membawanya berkeliling kelas.
"Shinoa! Sialan! Kembalikan kertas itu!" Teriakku yang berlari mengejarnya.
"Heh..Nilai legendaris ya.. Kau bodoh seperti biasanya. Gadis jadi-jadian." Ejek Kimizuki.
Aku berhenti mengejar Shinoa dan menghampiri Kimizuki yang sedang duduk di bangkunya. "Hah?! Memangnya kau sendiri bisa, tiang listrik sialan?!" Balasku tak terima.
Kimizuki melambaikan kertas ujian miliknya. Semuanya bernilai sempurna, diluar dugaan. Tiang listrik yang sombong ini memiliki kemampuan belajar yang tinggi. "Isi kepalaku berbeda dengan gadis bodoh sepertimu. Ichinose Yuu. Aku yakin hasil ujianmu adalah yang terendah di kelas ini."
Aku mengernyitkan dahi. Tiang listrik yang satu ini memang paling tahu bagaimana cara mencari masalah denganku. "Kau mau cari masalah denganku hah?!"
Kimizuki berdiri dan mengacungkan jari tengahnya kepadaku. "Aku memang tidak memukul wanita. Tapi dalam pengelihatanku kau itu bukan wanita. Kalau berani maju sini!" Katanya menantang. Tentu saja tanpa ragu aku menyambut tantangan darinya.
Saat kami berdua mulai saling pukul Yoichi sibuk melerai kami berdua. "Kalian berdua tenanglah..."
Perkelahian itu berlangsung beberapa lama sebelum Guren memasuki kelas dan menyuruh kami semua untuk duduk. Ia menghentikan perkelahian kami dengan tendangannya.
"Ada alasan khusus kenapa aku, wali kelas kalian datang ke kelas hari ini. Untuk kedua kalinya dalam minggu ini aku akan memperkenalkan murid baru pada kalian." Kata Guren malas.
Shinoa mengangkat tangan. "Hanya mengoreksi, bukankah yang namanya wali kelas itu seharusnya datang setiap hari, pak Guren?" Sela Shinoa dengan nada menyindir.
Guren berdecak. "Ck!Diam kau!" Teriaknya kasar. Entah kenapa rasanya hari ini Guren berada dalam mood yang luar biasa jelek. "Kembali ke pokok pembahasan aku akan memperkenalkan murid baru pada kalian. Oi kau yang di depan pintu! Cepat masuk!" Perintahnya kasar.
Aku masih tidak mengerti kenapa Guren memiliki mood super jelek dan berkata super kasar hari ini. Tetapi ketika aku melihat sosok murid pindahan itu aku langsung mengerti alasannya.
Murid pindahan itu berjalan masuk dan berdiri di depan kelas. Seorang pemuda berambut pirang dan bermata biru yang sangat kukenal. Ia melihat ke arahku, tersenyum dan melambaikan tangannya. Melihat pemuda itu melambaikan tangan padaku membuat mood Guren semakin jelek.
Jika mataku tak mencoba menipuku sosok yang berada di samping Guren adalah sosok yang paling ingin kulihat saat ini. Aku tertegun, tak percaya dengan apa yang kulihat didepanku. "Mika?!"
###
Semoga kalian menikmati cerita ini.
Karena saya masih pemula kalau ada komentar atau saran perbaikan akan sangat saya hargai.
Review, please...
Sampa jumpa di fanfic saya berikutnya.
Terimakasih.
