Pintu kamar terbuka dan aku bisa langsung melihat wajah terkejut Claire Novak sambil ia masuk ke dalam kamarnya.
"Castiel!" pekiknya pelan. "Kenapa kau di sini—apa yang kau lakukan di sini?!"
"Aku merasa perlu mengecek keadaanmu sekali-kali. Jadi kedatanganku hanya ingin memastikan kalau kau baik-baik saja," jawabku dengan nada datar seperti biasa.
Putri tunggal Jimmy Novak ini memutar bola matanya. "Maksudku memastikan bahwa aku tidak berbuat nakal? Dan lagi, ini kamar gadis. Malaikat atau bukan, harusnya kau bisa menunggu di luar kamar, bukannya mengejutkanku begini."
"Aku minta maaf sudah mengejutkanmu," ucapku. "Jadi ... bagaimana kabarmu?"
Claire menghela. "Aku baik-baik saja. Terimakasih sudah mengecek keadaanku."
Aku mengangguk. "Claire—"
'Cas, ini Sam Winchester. Kalau sedang tidak sibuk, bisa ke Bunker? Ini soal Dean.'
... itu suara Sam, kan?
"Castiel? Kau baik-baik saja?" Itu suara Claire. "Kau tiba-tiba ... seperti melamun."
"Ah, maaf. Barusan ... Sam memanggilku ke Bunker, katanya ini tentang Dean," akuku.
Kemudian Claire membuat ekspresi yang sampai saat ini tidak bisa kubuat dengan wajah Jimmy. Gadis ini menyengir. "Ah, tentu, tentang Dean. Aku paham. Sam paling tahu bagaimana caranya membuatmu datang ke tempatnya."
Aku menyerngit. "Apa maksudnya?"
Gadis ini masih menyengir. "Tidak penting. Sudah, kau tahu kalau sekarang aku baik-baik saja, Castiel. Pergilah, Sam memanggilmu, kan?"
Kuanggukkan kepalaku. "Kau juga, Claire, panggil aku kalau butuh sesuatu."
Ia mengangguk sambil tersenyum, lalu aku pergi meninggalkan kamarnya. Kuharap Dean tidak terkena masalah sampai Sam harus memanggilku begitu.
.
.
Disclaimer: Eric Kripke. Author tidak mengambil keuntungan.
Warning: post season 11, anggap Supernatural tamat di season 11 (keterangan lebih lanjut ada di paragraf terakhir author's note di chapter 1), AR, based on canon, maafkan untuk soal geografis.
.
Forget Me Not
Chapter 3: Cupid
by Fei Mei
.
.
Aku langsung terbang dengan cepat ke Bunker. Begitu aku mendarat, kusadari aku sedang ada di kamar Sam. Sebenarnya agak jarang Winchester yang adik ini memanggilku, karena biasanya sang kakak yang memintaku datang. Di kamar Sam, kakak-beradik ini sudah duduk dengan masing-masing melipat tangan di depan dada.
"Sam, Dean," sapaku.
"Hai, Cas," balas Sam, menyunggingkan senyum kecil.
Dean menatapku dan Sam bergantian. "Cas?! Sam, seriusan, kau memanggilku ke kamar karena kau memanggil Cas?"
Sekarang aku jadi bingung. "Ada apa ini?"
"Cas, kau ingat Lisa Braeden?" tanya Sam tenang.
Lalu kulihat kakaknya memutar bola matanya. "Oh, Sam, kau memanggilnya untuk bicara soal Lisa?!"
"Siapa Lisa?" tanyaku, masih bingung.
"Lisa Braeden," ulang Sam. "Beberapa tahun lalu ia pernah dirasuki iblis, lalu ia dan anaknya masuk rumah sakit, Dean memintamu untuk membuat Lisa dan putranya, Ben, lupa soal Dean dan segala hal tentangnya."
Ooohh ... saat aku bekerja sama dengan Crowley, saat dia janji tidak akan melukai Sam dan Dean tapi malah jadi melukai perempuan yang penting untuk Dean ini? "Ah, ya, aku ingat. Ada apa dengannya?"
"Kami hanya berpikir mungkin kau bisa, entahlah, mengembalikan ingatan mereka atau apa," ujar Sam. "Maksudku, sekarang harusnya dunia sudah lebih aman, kan?"
"Whoa, kami?" sahut Dean. "Maksudnya kau! Aku tidak pernah mau Lisa dan Ben ingat lagi tentangku. Bagaimana kalau mereka trauma, atau apa begitu?"
"Makanya kau kabur saat di supermarket dan waktu di bar kemarin?" tanya Sam sambil menyerngit.
"Aku tidak kabur, aku menjauhkan diri darinya. Itu dua hal yang berbeda. Kabur itu untuk diri sendiri, menjauhkan diri itu untuk orang lain," kata Dean.
Sam mengangguk pelan. "Paham. Dan itu menandakan kau masih peduli pada Lisa dan Ben. Dean, kau layak untuk bahagia, dan kebahagiaanmu itu adalah bersama dengan mereka berdua."
"Dan membiarkan mereka terluka, lagi?" tantang Dean.
"Mencintai itu bisa menghancurkan," ujarku pelan. Sam dan Dean langsung menoleh padaku.
Si bungsu menggeleng pelan. "Cas, kau tidak membantu."
"Cas benar, tahu," balas Dean. "Dan daripada meminta Cas mengembalikan ingatan Lisa dan Ben, aku lebih memilihnya untuk membuatku melupakan mereka berdua."
Aku terkejut bukan main. Ketika Dean memintaku menarik ingatan Lisa dan Ben Braeden tentangnya saja aku sudah cukup terkejut. Maksudku, selama aku mengenalnya, banyak 'korban' yang mungkin trauma atau apa, tapi baik Dean maupun Sam tidak pernah memintaku untuk menghapus ingatan orang-orang itu. Tidak pernah, makanya Dean mengejutkanku saat memintanya menarik ingatan ibu dan anak itu.
Tetapi Dean tidak hanya minta agar Lisa dan Ben melupakan tentang hal supernatural, melainkan ia minta padaku menarik ingatan mereka tentang dirinya. Dean ingin mereka melupakannya, dan segala hal, apa pun, yang menyangkut tentang dirinya. Mungkin aku masih belum bisa membuat ekspresi yang sama seperti manusia walau aku sedang menggunakan tubuh manusia, tapi aku tahu beberapa ekspresi, seperti misalkan ekspresi hati yang hancur pada Dean setelah aku selesai menghapus ingatan Lisa dan Ben.
"Yang benar saja, Dean!" pekik Sam, lalu ia menoleh padaku. "Cas, katakan kalau itu tidak akan kau lakukan!"
Kuanggukkan kepalaku. "Aku tidak akan melakukannya padamu Dean, atau kepada siapa pun lagi. Tidak akan."
Dean menyerngit. "Kenapa?"
" ... Karena itu tidak akan ada gunanya. Cepat atau lambat kau dan mereka akan ingat lagi apa yang mereka lupakan. Dean, aku bisa melenyapkan ingatan mereka tentangmu, tapi aku tidak bisa melenyapkan fakta bahwa kau pernah ada dalam kehidupan mereka. Ini hanyalah soal waktu," jelasku.
Si sulung menatapku dengan tatapan tak percaya. "Hanya soal waktu. Baiklah. Kau tahu, aku akan, yah, sebisa mungkin menghindar kalau bertemu dengan mereka, biar mereka jangan sampai mengingat tentangku."
"Dean ... aku bisa membuat ingatan tentangmu hilang dari otak mereka, tapi aku tidak akan bisa membuat hal tentangmu hilang dari hati mereka. Itu dua hal yang berbeda. Mereka akan tetap tahu bahwa mereka menyayangi seseorang, tapi mereka tidak akan ingat siapa. Lagipula Cupid—" aku menghentikan penjelasanku. Gawat, aku tidak boleh membocorkan ini. Astaga.
Kuperhatikan Sam dan Dean menatapku sambil agak membelalakkan mata mereka. Kutahu itu maksudnya antara kaget karena aku menyebut nama 'Cupid', atau karena mereka ingin aku melanjutkan perkataanku.
"Cupid?" ulang Sam.
Keduanya kini memberiku tatapan menuntut, ingin agar aku menjelaskan lebih lanjut. Aku tidak punya jalan keluar. Bisa saja aku kabur dan terbang dari sini, tapi aku tidak yakin aku akan melakukannya. Keduanya teman baikku, aku tidak ingin membuat mereka merasa tidak bisa memercayaiku lagi.
Kuputuskan untuk melanjutkan perkataanku. " ... Cupid ... beberapa minggu yang lalu, aku pergi ke surga untuk mengecek keadaan Jimmy Novak dan istrinya. Kemudian aku mengunjungi Cupid yang baru, ia sedang membaca daftar pasangan yang telah diberi panah asmara oleh Cupid-Cupid yang sebelumnya. Aku tidak sengaja melihat, Sam, Dean. Dan salah satu nama pasangan yang kulihat di daftar itu ... adalah nama Dean Winchester dan Lisa Braeden."
Untuk kesekian kalinya, aku melihat kakak-beradik ini membelalakkan kedua mata mereka. Lalu Dean mengerjap kedua matanya, Sam membuka mulutnya.
"Dean dan Lisa?" ulang Sam.
Aku mengangguk. "Waktu melihat itu, aku tidak ingat siapa Lisa Braeden. Tapi aku datang ke sini dan kalian memberitahuku tentang wanita itu, aku jadi ingat."
"Sam yang memberitahumu, bukan kami," koreksi Dean.
"Dean ... Cupid telah melepaskan anak panahnya padamu dan Lisa," kataku. "Itu menandakan, bahwa sekalipun aku berhasil membuatnya lupa tentangmu, hatinya masih ingat. Panah Cupid itu sangat kuat efeknya, contoh dari keberhasilan Cupid ya kedua orangtua kalian—John yang seorang Man Of Letters, dan Mary yang seorang Pemburu."
Tepat setelah aku mengatakan itu, pintu kamar terbuka, dan aku bisa langsung melihat wajah perempuan yang terakhir kusebut namanya. Mary Winchester masuk kamar dengan wajah yang menyiratkan kebingungan.
.
.
MARY's POV
.
Aku sedang membersihkan kamarku ketika aku mendengar suara berisik dari arah kamar yang lain—entah kamar Sam atau Dean. Tapi aku tahu suara terakhir yang kudengar paling jelas adalah suara putra bungsuku.
"Yang benar saja, Dean! Cas, katakan kalau itu tidak akan kau lakukan!"
Itulah yang Sam ucapkan. Kupikir ia tidak berteriak, tapi mungkin ia juga tidak menyangka suaranya akan sekeras itu. Dan, Cas? Oh, maksudnya malaikat Castiel itu ada bersama dengan mereka?
Sebenarnya jika waktu itu, beberapa bulan yang lalu Castiel tidak menampakkan dirinya di depanku, aku tidak akan bisa percaya akan apa pun yang dikatakan Sam dan Dean. Awalnya kupikir nama mereka hanya sama dengan nama kedua putraku, awalnya aku berpikir bahwa tidak mungkin saat ini tahun 2016. Manusia serigala, vampir, hantu, iblis, dan yang lainnya aku bisa percaya nyata karena aku pernah melihat mereka. Tapi malaikat? Seingatku aku tidak pernah bertemu dengan salah satu dari mereka, kemudian Dean dan Sam memanggil Castiel sebagai bukti.
Omong-omong, aku masih bisa mendengar suara-suara dari salah satu kamar di sekitarku. Aku sungguh berharap mereka tidak bertengkar. Yah, aku tahu mereka sudah dewasa, tapi aku masih ibu mereka, jelas aku akan langsung berpikir bahwa mereka sedang bertengkar. Jadi aku keluar dari kamar dan menghampiri salah satu kamar.
Pertama aku menghampiri pintu kamar Dean yang lebih dekat dengan kamarku. Kupasang telinga baik-baik, ternyata suara mereka tidak berasal dari kamar ini. Jadi aku bergeser ke pintu kamar Sam. Benar juga, aku bisa mendengar suara tiga orang pria di dalam sana.
Sebenarnya aku ingin mengetuk pintu, tapi pembicaraan mereka tampaknya serius sekali, aku jadi tidak ingin mengganggu mereka. Namun aku penasaran. Akhirnya aku hanya berdiri di depan pintu, menguping pembicaraan mereka.
"Dean ... Cupid telah melepaskan anak panahnya padamu dan Lisa." Itu suara Castiel.
Menyerngit, aku mengingat-ingat nama Lisa yang pernah Sam atau Dean ceritakan padaku. Dan, ya, aku ingat bahwa Dean pernah menyebut nama Lisa, perempuan yang pernah dirasuki iblis, lalu masuk rumah sakit dengan putranya. Oh, astaga, Cupid benaran ada?
"Itu menandakan, bahwa sekalipun aku berhasil membuatnya lupa tentangmu, hatinya masih ingat." Suara Castiel lagi.
Aku makin menyerngit. Castiel membuat Lisa itu lupa tentang Dean? Kenapa? Aku memang agak curiga tentang Dean dan perempuan Lisa ini. Soalnya waktu putraku itu cerita tentangnya, suaranya agak tersendat saat pertama kali menyebut nama 'Lisa', lalu melanjutkan ceritanya. Aku tahu pasti ada apa-apanya, tapi aku juga tahu Dean tidak ingin cerita lebih lanjut tentang mereka—tentang hubungan mereka.
"Panah Cupid itu sangat kuat efeknya, contoh dari keberhasilan Cupid ya kedua orangtua kalian—John yang seorang Man Of Letters, dan Mary yang seorang Pemburu."
Eh? Apa?
Oke, kedua putraku sudah menceritakan tentang John yang sebenarnya adalah keturunan Man Of Letters, yang makanya mereka berdua bisa tinggal di Bunker. Tapi ... Cupid? Aku dan John bisa bersatu karena panah Cupid?
Tanganku spontan memutar kenop pintu, dan pintu kamar Sam pun kubuka. Kulihat ketiga pria di kamar itu langsung menoleh padaku. Dean berwajah tegang, Sam berwajah kaget, dan Castiel berwajah datar seperti biasa.
"Mum?" gumam Dean.
Mataku mengerjap. "Oh, maaf, aku spontan. Maksudku, aku agak terkejut mendengar soal Cupid, namaku, dan John."
"Berapa banyak yang kau dengar?" tanya Dean.
"Aku baru ada di balik pintu waktu Castiel bilang bahwa Cupid melepas anak panahnya padamu dan Lisa," akuku. "Apakah itu Lisa yang sama dengan yang pernah kau ceritakan?"
Dean menutup mulutnya rapat-rapat. Castiel mendelik pada putra sulungku. Dan Sam menghela. "Ya, Mum, itu Lisa yang sama, Lisa Braeden." Malah Sam yang menjawab.
"Oh, Dean ... dan kau bilang tidak ada perempuan mana pun ... ?" ucapku.
Putraku itu mendecak. "Dia masa lalu, Mum. Jadi saat ini memang tidak ada!"
Kulipat kedua tanganku di depan dada. "Dean, aku memang telah melewatkan amat sangat banyak hal dalam hidupmu. Tapi aku tetap ibumu. Jadi aku tahu ada perbedaan ketika kau cerita tentang Lisa dengan cerita tentang perempuan yang lain."
"Mum—"
"Dean Winchester! Castiel membuat Lisa melupakanmu? Apa kau yang minta?" tanyaku agak galak, dengan suara seorang ibu. Dean mengangguk pelan. "Oh, kau, kuyakin John mengajarimu untuk bertanggungjawab atas apa yang kau perbuat. Tapi apa yang kau lakukan dengan Lisa? Kau melarikan diri darinya. Aku tidak tahu apa yang terjadi antara kalian berdua, Anak Muda, tapi sikapmu itu pengecut dan kuyakin John akan malu!"
Dean menatapku tak percaya. Lalu ia menoleh pada Castiel, lalu Sam, dan akhirnya mengerang. "Kenapa kalian begitu kompak?!"
"Anak Muda, pergi ke rumah perempuan itu, bicara padanya," tegasku.
Putra sulungku menganga sebentar sebelum menjawab. "B-bicara apa?"
Kuangkat bahu. "Apa saja! Bahwa kau menyayanginya, mungkin, atau kalau perlu kau bawa Castiel untuk mengembalikan ingatannya lalu kau bisa melamarnya."
"Melamar—astaga, Mum!"
Sekarang aku berkacak pinggang. "Jangan astaga Mum, Dean. Umurmu itu memang sudah sangat cukup untuk menikah!" Sam terkekeh, jadi aku mendelik padanya. "Kau juga, Sam."
Seketika itu juga kekehan putra bungsuku lenyap. "A-aku?"
"Ya!" jawabku. "Jadi, Dean, kau keluar dari Bunker sekarang, pergi ke rumah Lisa, jangan kembali kalau kau belum bicara, apa saja, dengannya."
" ... Mum, kau tahu kalau bisa saja aku tidak benar-benar pergi ke tempatnya dan bicara dengannya, kan?" kata Dean pelan.
Aku menyengir. "Aku sudah bilang, Dean, aku ibumu. Aku akan tahu."
Lalu aku beranjak keluar kamar. Tapi sebelum aku benar-benar menutup pintu setelah di luar kamar, aku masih sempat mendengar Sam berkata,
"Aku selalu ingin merasakan rasanya punya seorang ibu, tapi aku tidak menyangka akan jadi seperti ini."
Aku tidak tahu aku harus bereaksi seperti apa.
.
.
~BERSAMBUNG~
.
.
