KYUMIN

By: Clara Eduardo Wijaya

.

A Darkness

.

Warning : GS, EYD tidak sesuai, typo(s).Nama pemain hanya author pinjam.

Don't Like? Please don't read ;)

.

.

"Te-tentu saja...," Sungmin bergerak salah tingkah, "Kalau begitu saya permisa dulu, Tuan Ch-"

"Panggil aku Kyuhyun saja, jangan terlalu formal seperti itu." Kyuhyun melebarkan seringainya.

"Y-ya. Baiklah, saya permisi dulu Tu- maksud saya Kyuhyun." Yeoja itu membungkukkan badan hormat.

"Hn." Mata obsidan Kyuhyun menatap Sungmin lekat, "Jangan sungkan denganku Sungmin...," Ucapnya saat Sungmin menghilang dari balik pintu ruangan pribadinya, gigi taringnya terlihat jelas mengancam dan menyeramkan, "Karna secepat setelah ini kau akan menjadi milikku dan kau tak boleh sungkan denganku, Sungmin-ah."

.

.

"Selamat datang Tuan Cho." Kepala pelayan berpakaian hitam itu membungkuk pada Kyuhyun. Tatapan pelayan ini tampak datar, tidak jauh dari wajah Kyuhyun.

Namja yang disambut itu tidak menjawab, hanya mengangguk dan memberikan jasnya kepada kepala pelayan tersebut. Dia berjalan menuju ruang kerjanya dan mengurung diri disana.

Kembali memutar memorinya saat berkenalan dengan Sungmin di kantor tadi. Dia tersenyum puas saat berhasil membuat Sungmin mengenalnya tanpa memberikan kecurigaan sedikitpun kepada Sungmin. Usahanya selama ini, akhirnya membawakan hasil.

Walaupun dengan cara licik. Ya, Kyuhyun mengakui itu semua. Beasiswa Sungmin, pekerjaan Sungmin, hidup Sungmin, segalanya, Kyuhyun yang membuatnya menerima semua itu dan mengaturnya bagaikan Sungmin adalah sebuah boneka.

Telah lama Kyuhyun mengincar Sungmin, 14 tahun. Mulanya Kyuhyun hanya menatap Sungmin sebagai yeoja kecil, polos dan rapuh. Yeoja yang riang dan sederhana, bagaikan peri kecil yang indah dan tanpa beban. Kyuhyun terus melihat Sungmin dan mengikutinya. Sampai rasa itu datang menghampiri Kyuhyun, dia tidak bisa melepaskan matanya dari Sungmin. Namja ini ingin terus melihat Sungmin ada di sampingnya, tahu semua perkembangan Sungmin. Dan akhirnya Kyuhyun menjadi seorang yang mempunyai obsesi besar terhadap Sungmin.

Cho Kyuhyun. Namja ini dulunya adalah manusia. Manusia yang ramah dan hangat.

Tapi, suatu kesalahan membuatnya seperti ini.

Semuanya karena orang tua kandungnya. Karena orang tua kandungnya yang dengan mudahnya membuat kesepakatan dengan makhluk paling menjijikkan dan kejam. Vampir.

Perjanjian yang membuat Kyuhyun merasa jijik dengan dirinya sendiri, membuatnya benci dengan orang tuanya dan tubuhnya sendiri. Suatu kenangan yang paling tidak diinginkan Kyuhyun. Karna pada kenangan itu Kyuhyun harus membunuh semua orang yang ada di sekitarnya -kecuali orang kepercayaan keluarganya, kepala pelayan Kyuhyun-, membuatnya tidak bisa bertemu dengan siapapun, dengan Sungminnya. Itu semua membuat Kyuhyun tersiksa. Dia terus memberontak, ingin bertemu dengan Sungmin.

Dulu, pada umur Kyuhyun yang menginjak 21 tahun, dia berniat bunuh diri, menghilangkan kejijikan pada tubuhnya sendiri. Dia tidak boleh hidup, dia tidak boleh hidup dengan mengorbankan tubuh orang lain dan dia takut, jika dia terus hidup dia akan membahayakan hidup Sungmin yang terus ada di kepalanya.

Sampai pelayan Kim -Kepala pelayan- mengabarkan bahwa orang tua Sungmin meninggal. Keinginannya bunuh diripun hilang, tergantingan dengan rasa bersalah dan rasa ingin melindungi Sungmin yang sekarang hidup sebatang kara.

Sungmin hidup sendiri sekarang dan banyak bahaya yang mengancam tubuh yeoja kecilnya itu.

Dia memulai semuanya dari awal. Belajar memimpin perusahaannya, membuat kekuasaan agar dia dengan leluasa bisa melindungi Sungmin, dan sampai sekarang. Dengan tangan kanannya pelayang Jung -yang juga menjadi vampir- dia bisa berkuasa dan terkenal ganas dan dingin hingga sekarang, pelayan Kim yang tidak lagi meminum darah, beda dengan dirinya yang masih membutuhkan darah. Dan setiap 3 hari sekali, dia harus membunuh seseorang untuk meminum darah yang mengalir pada tubuh orang tersebut. Tapi tak pernah ada yang mengetahui kasus pembunuhan yang Kyuhyun lakukan, semuanya mulus terkendali dan tanpa jejak.

Siapa yang sangka jika yang membunuh semua orang tersebut adalah dirinya yang tampan dan rupawan.

Ketukan pintu membaut Kyuhyun berhenti melamun dan memikirkan Sungmin sejenak.

"Masuk."

"Permisi Tuan Cho." Pelayan Kim membungkuk hormat, lalu masuk mendekati Kyuhyun.

"Ada apa Yesung hyung?" Tanya Kyuhyun. Namja ini sudah menganggap kepala pelayan tersebut sebagai kakak laki-laknyai sendiri.

Kim Jong Woon atau Yesung ini, sudah mengabdi pada keluarga Kyuhyun sejak lama. Selain merasa senasib dengan Yesung, Kyuhyun juga merasa jika namja yang ada didepannya ini bisa dipercaya.

"Aku ingin melaporkan tentang pembelian tanah yang diajukan perusahaan tadi pagi. Pemilik tanah itu menolak mentah-mentah penawaran kita." Yesung memberikan laporan yang diberikan oleh pihak perusaan kepada Kyuhyun.

"Benarkah?" Raut wajah yang ditunjukkan oleh namja arogan itu biasa-biasa saja. Yesung mengeryit bingung. Biasanya Tuannya ini akan marah besar dan menyuruhnya untuk berusaha mengambil apa yang dia inginkan. "Kalau begitu, cari lahan tanah yang lain...," Ucap Kyuhyun santai.

"Tapi-"

"Tidak apa, kali ini kita tidak usah memaksa untuk memiliki lahan itu." Dia menutup laporan yang tadi diberikan oleh Yesung dan mengembalikannya.

"Apakah terjadi sesuatu?" Yesung merasa ada yang tidak benar dengan sikap Kyuhyun saat ini. Beda dari kebiasaannya.

"Tidak ada. Hanya saja aku sedang merasa senang saat ini...," Kyuhyun tersenyum miring, "Apakah tak boleh?"

"Boleh, tentu saja boleh Kyuhyun...," Pelayan itu mengelak pertanyaan Kyuhyun cepat, tentu saja kesenangan Tuannya ini adalah salah satu yang harus ia utamakan, "Hanya saja terlihat aneh melihatmu seperti ini," Yesung tersenyum tipis, "Apa karena Sungmin?"

"Kau selalu tahu segalanya Hyung," Kyuhyun tertawa, "Memangnya siapa lagi kalau bukan dia Hyung? Kau tahu, hanya dia yang kuinginkan."

"Aku tahu Kyuhyun, aku tahu. Tapi kau tak boleh terlalu mencintainya. Kau ingat? Dia berbeda dengan kita." Yesung berpedapat. Memang seharusnya Kyuhyun tidak boleh mencintai Sungmin. Karena itu adalah cinta terlarang dan nasib Sungmin yang terancam jika berada dekat dengan Kyuhyun. Namja ini belum bisa hidup tanpa darah, begitupun juga dia tidak bisa hidup tanpa Sungminnya. Yeoja yang dia cintai adalah seorang manusia, dan hidup manusia terbatas. Itu berarti, Kyuhyun harus melihat Sungminnya pergi meninggalkannya. Kembali ke pernyataan yang tadi, Kyuhyun tidak bisa hidup tanpa Sungmin.

Mungkin perkataan Yesung tenpo hari memang betul, "Kau tidak boleh mencintai Kyuhyun, karna sekali saja kau mencintai seseorang dengan keadaanmu yang seperti ini, berarti kau juga harus menyakiti dirimu sendiri, melihat orang itu pergi meninggalkanmu. Belajarlah untuk menjadi penyendiri dan menutup hati pada orang lain, karena sekali saja kau buka, kau akan menyimpan rasa sakit selamanya."

Aku menyadarinya Hyung, tapi andai saja aku bisa berhenti mencintainya seperti perkataanmu, itu akan menjadi mudah. Tapi sayangnya, aku tidak bisa.

.

.

Sungmin duduk bertopang dagu di meja kerjanya, matanya terbuka kosong. Tidak ada tugas penting yang harus di kerjakannya.

Cho Kyuhyun. Nama itu memenuhi kepalanya sekarang, diikuti dengan kenangan dari sikap aneh Kyuhyun.

Sungmin tersenyum manis tanpa sadar. Jika dipikir-pikir, untuk apa atasannya itu memperkenalkan diri padanya? Belum lagi sikap dan perkataan Atasannya "Semoga kita bisa saling dekat, tidak hanya sebatas teman pastinya." Aneh. Tapi menyiratkan sesuatu.

Sungmin menggerutu dalam hati. Apa yang dia pikirkan? Itu semua pasti hanya kebetulan. Atasannya itu tidak mungkin menyimpan perasan padanya. Dasar.

"Selamat siang Sungmin." Suara bass itu membuat Sungmin mendongak. Mata Sungmin melebar tak percaya. Ini pasti hanya halusinasi, bangunlah Sungmin. Sungmin menepuk pipinya pelan dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Beharap sosok tinggi didepannya menghilang. "Kau kenapa Sungmin? Kau sakit." Kyuhyun menatap geli kelakuan Sungmin.

"Ti-tidak." Sungmin menggelengkan kepalanya cepat.

Kyuhyun membulatkan mulutnya dan berguman 'o', masih tersenyum melihat gelagat Sungmin.

"Apa aku mengganggumu?" Mata obsidan Kyuhyun menjelajah ke arah meja kerja Sungmin yang terlihat rapi sekarang.

Yeoja itu menggeleng lagi, "Hari ini saya tidak punya kerjaan yang penting Tuan Ch- maksud saya, Kyuhyun."

"Bagus," Kyuhyun merasa puas dengan jawaban Sungmin, "Kalau begitu kau pasti bisa menemaniku makan siang." Dia mengedipkan sebelah matanya menggoda.

"Makan siang? Tap-"

"Aku lapar sekali." Kalimat Kyuhyun memotong pengelakan dari Sungmin, pokoknya yeoja ini harus menemaninya -titik-.

"Saya...," Sungmin menatap Kyuhyun, sebenarnya dia ingin menolak tapi melihat kilatan menuntut dari Kyuhyun, akhirnya dia menganggukkan kepalanya, "Baiklah."

"Bagus. Kajja." Tangan Kyuhyun menarik lengan Sungmin cepat, menuju ruang pribadinya.

.

.

"Berikan aku 2 steak dan segera bawa keruang kerjaku." Kyuhyun menaruh telepon genggamnya diatas meja setelah memutuskan pembicaraannya. Selain meminum darah menjelang 3 hari, Kyuhyun juga memakan makanan manusia sebagai penunda laparnya. Semula dia menolak makan makanan manusia lagi, karna perutnya akan berteriak ingin mengeluarkan isinya. Tapi pelayan Kim -yang memutuskan untuk tidak meminum darah- yang sudah terbiasa memasak makanan manusia dirumah Kyuhyun, mau tidak mau namja arogan ini juga harus ikut mekannya.

Sungmin hanya memandang Kyuhyun. Memandang semua pergerakan dan tingkah laku Kyuhyun. Merasa heran dengan keputusan namja ini untuk makan di ruang pribadinya. Kalau hanya untuk makan di ruangan pribadinya ini, bukankah dia tidak usah ditemani?

"Aku tidak biasa makan sendiri," Ucap namja itu seakan bisa membaca pikiran Sungmin. "Biasanya jika di rumah, Pelayan Kim akan menemaniku makan." Jelasnya.

"Tapi, kenapa harus saya? Bukankah disini ada sekretaris? Mungkin dia akan dengan sukarela menemani anda makan." Sungmin memang berpikir jika sekretaris Kyuhyun -seorang yeoja centil yang sangat tergila-gila dengan Kyuhyun- akan menemaninya dengan sukarela.

"Jadi maksudmu kau tidak dengan sukarela menemaniku?" Tanya Kyuhyun pura-pura tersinggung.

"Bukan, bukan maksud saya seperti itu, sungguh. Hanya saja, sekretaris anda terasa lebih layak menemani anda makan seperti ini." Sungmin berucap cepat. Takut jika atasannya ini tersinggung dengan ucapannya.

"Entahlah," Punggung yang tegap itu menyandar pada kursinya, menatap Sungmin serius, "Yang aku tahu, aku hanya menginginkanmu."

Sungmin melongo. Seburat merah muncul dipipi putihnya.

Mungkin maksud atasannya ini bukan seperti yang dipikirkan Sungmin sekarang. Mungkin pikiran Sungmin yang berbelok kearah lain, sampai melenceng ke arah pikiran yang tidak benar. Tidak mungkin bosnya ini 'menginginkannya' dalam arti yang tidak-tidak.

Sungmin malu sendiri. Menyadari otaknya yang dulu polos, sekarang sudah ternoda oleh pikiran kotor hanya karna ucapan Kyuhyun padanya.

Otak Sungmin terus mengumpat dan berhenti setelah makanan yang Kyuhyun pesan tadi datang.

.

.

"Oh ya," Setelah mereka benar-benar selesai makan, Kyuhyun kembali berbicara, "Mungkin setelah ini, kita akan banyak bertemu...," Namja ini tampak menimbang-nimbang pertimbangannya, "Jadi aku berharap tidak ada lagi kata sungkan di antara kita."

"Benarkah? Tapi bagaimana bisa anda dengan saya bisa sering bertemu?"

"Dan aku juga berharap kau tidak mengunakan kata saya-anda jika berbicara denganku. Itu membuatku risih dan tidak nyaman." Pinta Kyuhyun. Sungmin berusaha berbicara, mengeluarkan ketidak setujuannya tapi Kyuhyun juga cepat-cepat menambahkan, "Kau tahu? Aku tidak mengenal penolakan Sungmin."

.

.

Memang benar apa yang dikatakan Kyuhyun tentang pertemuan mereka. Karena setelah hari itu, Sungmin dipenuhi dengan tugas dan laporan yang harus dia buat dan baca. Sama seperti sekretaris saja. Jadi untuk apa ada sekretaris Kyuhyun, jika dia yang kerjanya hanya sebagai pegawai biasa mengerjakan semua tugas yang seharusnya dikerjakan oleh sekretaris Kyuhyun.

Belum lagi semua permintaan Kyuhyun yang terasa aneh baginya. Tekadang Kyuhyun menyuruh Sungmin pergi ketempat lokasi yang harus Kyuhyun lihat, minta ditemani makan, jalan-jalan, cerita tentang masalah perusahaan sampai masalah pribadi mereka -walaupun Kyuhyun tidak mengatakan yang sebenaranya pada Sungmin, bahwa dia adalah vampir-. Biasa juga sebelum jam pulang kantor, Kyuhyun akan datang kepada Sungmin dan mengatakan mereka akan pulang bersama. Aneh memang, tapi Sungmin menikmatinya.

"Sungmin, hari ini kita tak bisa pulang bersama." Gelagat Kyuhyun aneh. Wajahnya semakin pucat dan dia tidak mau menatap Sungmin.

Ada raut kekecewaan di wajah Sungmin, "Oo, tidak apa-apa," Sungmin mengangguk menerima, "Lagi pula aku bisa pulang sendiri." Bibir M Sungmin tertarik tipis.

"Maafkan aku, tapi ada hal yang harus kulakukan setelah ini." Kepalanya menunduk. Sungmin merasakan perasaan aneh yang keluar dari tubuh Kyuhyun. Aura mengancam dan menakutkan, tapi Sungmin mengabaikannya.

"Nde, aku mengerti Kyu." Setelah mendapat pengertian dari Sungmin, Kyuhyun berbalik dan cepat-cepat meninggalkan Sungmin.

.

Darah. Namja ini membutuhkan darah.

Dia tidak tahu akibat dari kedekatannya dengan Sungmin membuatnya dengan cepat membutuhkan darah dari biasanya. Lehernya terasa kering dan perih. Sudah beberapa kali dia mencoba menelan ludah atau minum tapi rasa itu tidak hilang.

Kyuhyun sudah tidak tahan lagi. Matanya berubah merah, taringnya keluar mengerikan. Dia membuka jendela ruangan kerjanya dan melompat dari jendela tersebut.

Hari sudah malam dan jalanan terlihat sepi. Dia sedang mencari mangsa. Dalam satu tarikan nafas, dia mengendus aroma darah yang mengalir dalam tubuh seseorang. Dan detik berikutnya namja itu sudah menerkan tubuh seseorang.

.

.

Sungmin berjalan letih saat melewati lorong yang biasa ia lewati saat pulang dari kantor. Entah mengapa dia merasa kecewa dengan keputusan Kyuhyun yang tidak bisa membawanya pulang.

Tadi, setelah pulang dari kantor, dia menyempatkan diri untuk singgah di satu mini market dekat rumahnya dan pulang larut malam karena membeli kebutuhan yang ia perlukan.

Ia menatap kantong belanjaannya denga pandangan miris. Apa Kyuhyun berniat menjauhinya? Mungkin saja begitu. Mungkin Kyuhyun sudah bosan dengan dan namja itu berniat mencari penggantinya.

Sungmin kembali menatap jalanan yang ada didepannya dan langkahnya berhenti.

Wajahnya terlihat pucat dan sangat kaget.

Apa dia salah lihat? Tapi itu...,

"Kyu-Kyuhyun." Bibir Sungmin bergetar.

.

Merasa namanya dipanggil, Kyuhyun mendongakkan kepalanya, memekik geram karena merasa di ganggu.

Tapi rasa geram itu menghilang saat melihat sosok mungil yang ada di depannya itu bergetar ketakuatan. Jelas saja Kyuhyun kaget, tapi rasa kaget itu hanya sebentar.

Dia menjatuhkan tubuh yang tak lagi bernyawa itu dan memandang Sungmin. Rautnya tak terbaca.

"Well, kau sudah melihatnya Sungmin," Kyuhyun mendekati Sungmin, "Dan kau tahu akibatnya." Sungmin melihat namja itu tersenyum licik dan sedetik kemudian pandangannya gelap, dia tidak sadarkan diri.

.

It's time you became mine, Sungmin.

.

TBC.

Review please?