Hope you like this fiction :)


Halaman villa ditutupi lapisan tebal salju segar. Salju tersebut menutupi kesan suram dan tua yang ada di villa itu, membuat Jongin berhenti saat melewati jendela besar di ruang duduknya. Dari sana Jongin dapat melihat pohon oak besar, tempat Jongin membuat manusia salju untuk pertama kalinya, ditemani ibunya yang membimbing dengan semangat. Tidak jauh disebelah kiri pohon tersebut ada lapisan tebal es yang menutupi kolam ikan besar milik kakeknya, tempat pertama kali Jongin diajarkan berseluncur oleh ayahnya. Setelah hujan salju begini biasanya kenangan tentang kedua orang tuanya muncul lebih kuat daripada hari biasanya. Seperti sekarang saat dia berdiri disini, dia bisa melihat bayangan kedua orang tuanya berjalan di atas salju, tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya, memintanya bergabung bersama mereka berdua.

Kalau aku bisa, aku pasti akan bergabung. Dia melihat ibunya tersenyum ke arahnya seperti yang selalu ada di ingatannya, senyum secerah matahari terbit, sesejuk angin di musim panas. Dia tidak terkejut melihat bayangan kedua orang tuanya lebih jelas hari ini. Ibunya selalu menyukai salju segar yang baru saja turun dan ayahnya suka melihat ibunya bahagia. Di hari seperti ini mereka merasa tidak akan ada yang bisa mengusik mereka, tidak ada satu hal pun yang lebih penting diluar sana kalau mereka sudah berkumpul di hari seperti ini.

"Jongin, saljunya sangat cantik sekali hari ini. Ayo keluar dan membuat manusia salju bersama ibu." Jongin tersenyum dan menghampiri jendela tersebut, menempelkan tangan pada permukaan kaca yang dingin. Suara ibunya berbicara terngiang di ingatannya, persis seperti dulu. "Ayo bermain bersama ibu." Setelah itu ibunya akan tertawa bahagia karena berhasil melempar bola salju pada ayahnya. Jongin akan memakai jubah musim dinginnya yang penuh bulu dan topi rajutan merah yang dibuatkan ibunya sebagai kado natal saat dia berumur 8 tahun. Ibunya akan terlihat sangat bahagia dengan matanya yang bersinar cerah. Jongin bahkan tidak bisa mengingat warna mata ibunya, cokelat? Cokelat tua seperti kayu oak atau cokelat yang lebih muda?

Aku tidak bisa. Kau bukan ibuku, kau hanya bayangan halusinasiku. Sakit di dadanya terasa familiar, karena itu lah yang selalu dirasakannya setiap kali dia mencoba berpaling dari bayangan kedua orang tuanya. Kadang dia tidak sanggup berpaling, kadang dia akan menjawab mereka, mendengarkan mereka. Tidak ada bedanya, rasa sakitnya sama.

"Ayo Jongin, saljunya sangat cantik. Ayo bermain dengan ibu." Suaranya menggoda, persis seperti yang diingatnya, kadang dia tak mengerti, kenapa waktu tidak juga menyerah untuk membujuk Jongin mengikuti ke dua orang tuanya? Enam tahun waktu yang cukup lama untuk hidup bertemankan bayangan. Setelah itu dia akan teringat mata cokelat Sehun yang menatapnya di pengadilan dan memintanya untuk tidak menyerah. Sekarang dia bisa melihat salju yang bersinar dimana bayangan kedua orang tuanya tersenyum disana dengan perasaan sedih.

Kaca di sekitarnya mulai berembun karena panas yang dikeluarkan tubuhnya, dia hampir tersenyum saat menjawab, "Lain kali, Bu." Jongin menghela nafas, "Ingat anak laki-laki manis di depan perpustakaan kota? Dia disini dan dia membutuhkan seseorang sekarang." Jongin mengambil jeda. "Aku ingin menjadi seseorang itu. Aku harus bertahan disini." Terasa janggal saat dia menyebutkan sesuatu yang hanya ada di pikirannya walaupun dia sudah menahan berhari-hari untuk tidak membicarakannya dengan keras. Tentu saja bayangan itu tidak bisa mendengarnya. Mereka tidak pernah merespon apa yang dikatakan Jongin, sekeras apa pun Jongin berusaha mengobrol dengan mereka. Tetap saja rasanya lega dapat mengucapkannya. Jongin berbalik dan melihat pintu cokelat besar tempat Sehun tidur. Anak laki-laki yang mempunyai bayangan halusinasinya sendiri, yang menghancurkannya lebih daripada yang pernah Jongin rasakan. Jongin berbisik, "Dia disini."


Seperti yang Jongin kira, memindahkan Sehun membutuhkan kesabaran dan banyak bujukkan. Mungkin juga sedikit kelicikkan, sesuatu yang Jongin senang karena tidak kehilangan keahlian yang diajarkan Ayahnya dulu. Setelah obrolannya dengan Baekhyun dan Chanyeol di depan kamar Sehun, Jongin menyusun rencana untuk menyampaikan pada Sehun, berlatih berbicara di dalam pikirannya sambil duduk di kamar tamu yang diberikan Baekhyun untuknya. Sengaja bersebelahan dengan kamar Sehun. Jongin akan diam sesaat dan memandang tembok di depannya seolah dia bisa menembusnya dan melihat Sehun. Dia memutuskan untuk tidak memberikan pilihan lain pada Sehun selain pulang dan tinggal bersamanya. Jongin juga yakin Sehun tidak akan menyerah begitu saja. Jongin membuat kemungkinan dia akan memberi tahu Sehun alasan dia tidak bisa tinggal lebih lama di Jepang, tapi Jongin takut mengingatkan Sehun pada Yifan, dia takut pada reaksi Sehun nanti.

"Fuck it!" Jongin menggeram pada ruang kosong sambil menatap tembok di depannya, "Kau akan ikut denganku Oh dan tidak ada penolakkan." Jongin menjatuhkan badannya di tempat tidur besar di tengah ruangan. Matanya berkunang dan Jongin reflek menutup kelopaknya. Jongin baru sadar dia terlalu bersemangat, rasanya seperti hidup lagi. Saat baekhyun menunjukkannya koran itu perasaan Jongin seperti bangun dari mati surinya.

Sehun tidak tidur selama yang Jongin harapkan, berjalan keluar kamar begitu efek obatnya habis dan terlihat seperti tidak tidur sama sekali. Belnya berbunyi hanya empat jam setelah Jongin tidur. Jongin langsung berdiri bahkan sebelum dia benar-benar bangun. Sehun berdiri di depan kamarnya begitu Jongin memasuki ruang duduk di depan kamar Sehun, ketakutan terpancar di wajahnya. Jongin tercekat melihatnya, Sehun sangat pucat, seperti habis bertemu hantu dalam mimpinya. Butuh beberapa saat sampai Jongin sadar kalau Sehun memang baru saja mengalami mimpi buruk. Sehun menatap Jongin dari sebrang ruangan, bibir pucat dan mata yang kosong. Untungnya Baekhyun datang cepat diikuti dengan pelayan, membuat Jongin berhenti untuk menghampiri Sehun dan memeluknya.

Baekhyun menyembunyikan ke khawatirannya dengan baik, dia hanya menuntun Sehun untuk duduk di kursi terdekat karena Sehun terlihat bisa jatuh kapan saja. Baekhyun mengusap tangan Sehun pelan berusaha menenangkannya, walaupun jelas terlihat tidak nyaman, tapi perlahan Sehun tenang. Kehadiran Baekhyun yang membuat Sehun tenang membuat Jongin merasa seperti orang asing yang tidak sengaja melihat sesuatu yang tidak boleh dilihatnya.

Jongin berbalik dan membiarkan Baekhyun menenangkan Sehun. Jongin menghampiri tempat obat Sehun dan menyusunnya. Bukan salah Baekhyun kalau dia tidak bisa mendekati Sehun, tidak bisa menjadi orang yang menenangkannya, membuatnya tersenyum. Baekhyun tidak bisa disalahkan tapi Jongin berharap dia bisa karena itu akan membuat semuanya lebih sederhana.

Jongin mendengar Sehun berbisik sesuatu yang tidak bisa ditangkapnya. Jongin berbalik dan meminta pelayan membuatkan teh kamomil untuk Sehun lalu mendekat sedikit ke arah Sehun dan Baekhyun. Mata Sehun lekat menatapnya sejak dia melangkah. Jadi Jongin menunggu pelayan datang membawa tehnya.

Setelah pelayan memberikan teh pada Jongin barulah Jongin menghampiri Sehun, "Efeknya tidak akan seperti obat penenang, hanya untuk membuat fisikmu sedikit lebih tenang." Sehun tetap menatapnya. Perlahan mengambil cangkir dari tangan Jongin dan meminumnya. Jari Sehun hangat ketika bersentuhan dengan tangan Jongin tadi. Jadi Jongin dengan reflek memegang dahi Sehun.

"Jangan menyentuhku!" Sehun menepis tangannya. Karena terkejut, Jongin pun mundur sementara Sehun sudah menjatuhkan cangkirnya dan merapat pada Baekhyun. Baekhyun menghela nafas seperti akan berbicara sesuatu tapi Jongin mendahuluinya.

"Aku minta maaf. Aku khawatir kau demam dan tidak berpikir panjang." Katanya pelan, "Kalau Baekhyun yang memeriksamu bagaimana?" Sehun masih menatap Jongin hingga akhirnya mengangguk pelan.

Baekhyun menyingkirkan poni Sehun dan menempelkan tangannya di dahi Sehun. Dalam keadaan begini saja Sehun tetap cantik, pikir Jongin.

"Dahinya panas." Kata Bekhyun pelan, terdengar sedikit khawatir.

Jongin langsung menuju tempat obat dan mengambil obat pereda demam. Jongin mengulurkan botol dan sendoknya pada Sehun, "Ini hanya obat penurun demam Oh." Saat Sehun menatap botol tersebut penuh tatapan benci walaupun akhirnya Sehun meminumnya juga. God, akan menjadi sangat sulit merawat seseorang tanpa salah berbicara dan tidak berdiri terlalu dekat karena takut menyentuhnya.

Panas Sehun turun dengan cepat dan mereka masih duduk disana dengan teh yang disiapkan oleh pelayan Baekhyun. Saat dikira Sehun sudah cukup kuat Baekhyun pun memulai pembicaraan tentang pulang dan pindah bersama Jongin.

"Tidak!" Sehun menggelengkan kepalanya kuat begitu dia mendengar kata pindah dan pulang. "Tidak. Tidak kesana." Lalu Sehun memeluk dirinya sendiri dan melipat kakinya, membentuk dirinya menjadi sangat kecil.

"Sehun," Kata Baekhyun lembut meletakkan tangan di atas kaki Sehun membuat Sehun berjengit dan membuang mukanya, "kalau ada pilihan lain kau juga tahu kami akan memilihnya." Tapi Sehun tidak mau berhenti, "Semua akan baik-baik saja disana."

"Tidak! Aku tidak bisa!" Sehun berteriak. Sehun menangis dan tidak berhenti menggoyangkan badannya. Jongin sudah menyangka reaksi Sehun akan seperti ini, tapi ini tidak membuat Jongin mudah melihatnya seperti ini. Yifan benar-benar sudah merusak Sehun.

Seperti tahu tidak akan di dengar, Sehun turun dari duduknya dan berlutut di depan Baekhyun, memohon. Memegang tangan Baekhyun erat. "Aku minta maaf." Tangisnya. "Aku minta maaf atas kesalahan yang ku perbuat. Aku akan memperbaikinya, tapi.." Sehun menundukkan kepalanya dan suaranya penuh dengan ketakutan, "tolong jangan usir aku." Baekhyun tercekat mendengarnya dan ikut menangis.

"Sehun.. kau tahu kami juga sangat ingin kau tinggal disini.." Baekhyun berkata diantara isakkannya, "Tapi disini tidak aman."

Sehun menggelengkan kepalanya lagi, masih menangis, "Aku tidak akan berisik.. aku tidak akan mengganggu.. aku akan bersikap baik.. tolong, aku akan bersikap baik." Sehun mengatakannya berkali-kali.

Jongin memegang dadanya, menekan keras, menekan rasa sakitnya. Sehun terlihat seperti anak kecil di depannya. Lalu Sehun berbalik padanya, memohon. Tanpa pikir panjang Jongin mengeluarkan secarik kertas dari kantung celananya, dan memberikannya pada Sehun. Memang bukan rencana yang baik, tapi setidaknya Jongin butuh Sehun untuk sadar akan bahaya di didepannya. Baekhyun menggeram marah dan mencoba merebut kertas itu dari Sehun tapi Jongin mencegahnya, "Tidak Baek." Jongin menarik Sehun mendekat, "Dia harus tahu."

Sehun terlihat bingung, tapi dia terlihat lebih kuat, "Harus tahu?" Sehun menatap Jongin. Sehun mengerjapkan matanya, seperti kembali menjadi Sehun yang kuat, "Apa yang harus ku ketahui?"

"Alasan kenapa kau harus pulang dan tinggal bersamaku. Baca suratnya Oh." Kata Jongin tegas.

"Jangan Sehun!" Baekhyun masih berusaha tapi Sehun sudah mengalihkan perhatiannya pada kertas ditangannya. Sehun tidak akan pernah sembuh kalau dia tidak bisa menghadapi ketakutannya.

Sehun membaca kertas ditangannya dengan sangat serius, sesaat Jongin berpikir dia baik-baik saja. Jongin pikir mungkin Sehun tidak selemah kelihatannya. Perlahan Sehun mengangkat kepalanya dari surat tersebut, nafasnya memburu, tangannya bergetar hebat membuat kertas yang dipegangnya terjatuh. Sehun bahkan terlihat lebih pucat dari sebelumnya.

"Datang..dia akan.. dia.." Bibir pucatnya bergetar sementara air mata meluncur di pipinya. Baekhyun ikut berlutut di samping Sehun sementara Jongin mengambil obat penenang. Tanpa Jongin sangka Sehun menolak pelukan Baekhyun dan berjalan ke arahnya, mencengkram tangan Jongin, "Dia tidak boleh menemukanku." Katanya tegas. "Aku tidak bisa membiarkannya, aku tidak bisa, tidak lagi." Air matanya mengering dan dia terlihat sangat terpukul, membutuhkan sandaran. Jadi Jongin membiarkan Sehun bersandar padanya. Jongin membawa Sehun duduk. Merasakan wangi shampoo Sehun yang manis mengelilingi indera penciumannya. Perlahan Jongin membalas genggaman tangan Sehun dan jantungnya berdetak sangat cepat saat Sehun tidak menjauh atau berjengit.

"Tidak akan." Jongin mengatakannya seperti itu sesuatu yang jelas tidak akan terjadi. "Dia bahkan tidak akan bisa menghampirimu. Lagi. Aku janji, aku akan meng.. membuatnya menjauh selamanya bahkan sebelum dia menghampirimu. Walaupun aku harus melihatnya mati untuk memastikannya." Setelah selesai berbicara Jongin baru sadar apa yang dikatakannya, pipinya memanas. Semua kata-katanya benar, tentu saja, tidak ada sedikit pun keinginan untuk menariknya lagi. Tetap saja dia membuka lebih banyak dari yang diinginkan, dia belum siap kalau Sehun menolaknya lagi. "Itu lah kenapa kami pikir akan lebih baik kalau kau pindah bersamaku, jauh dari kota, bahkan jauh dari desa terdekat. Tempatnya terisolasi dan dia tidak akan pernah tahu kau berhubungan denganku. Baekhyun tentu akan membantu menyiapkan penjaga disana." Suaranya terdengar terburu-buru dan Jongin dengan cepat menutup mulutnya sebelum dia membongkar rahasianya.

Sehun menegakkan badannya walaupun tetap berada dekat dengan Jongin. Sehun menatap Jongin. Dibelakangnya, Jongin dapat melihat Bekhyun tersenyum penuh arti. Jongin menatapnya tajam sebentar sebelum mengalihkan perhatiannya pada Sehun lagi. Sehun menunduk. Tangan Jongin yang dipegang Sehun terasa terbakar.

"Bisakah aku mempercayaimu?" Tanyanya pelan. Sehun mengangkat kepalanya untuk menatap Jongin lagi. Jongin dapat melihat jejak air mata di pipinya dan matanya yang masih merah habis menangis.

"Tentu." Jongin tidak bisa menolak, "Kau bisa mempercayaiku Sehun." Bukan kebohongan sama sekali. Sehun mengangguk pelan dan melepaskan tangan Jongin. Jongin bersikap seolah dia tidak merasakan dingin atau sendiri setelah tangannya dilepas.

"Terima kasih." Kata Sehun pelan dan Sehun memberikan Jongin senyuman kecilnya. "Apa menurutmu aku bisa meminum obat penenangku sekarang?"

Saat itu Jongin sadar kalau dia memanggil nama Sehun untuk kedua kalinya, bukan marganya.


Setelah itu Baekhyun langsung mengirim pelayannya ke villa Jongin untuk membersihkannya sementara Jongin memastikan Sehun tertidur. Paviliunnya adalah hadiah yang diberikan oleh orang tuanya untuk ulang tahun Jongin yang ke sebelas. Dan paviliun itu terlalu besar untuk ditinggalinya sendiri, jadi dia meminta pelayan untuk menyiapkannya sebagai kamar Sehun. Jongin memang bercocok tanam dan meramu obat, tapi kalau masalah bersih-bersih, dia jauh dari harapan. Makanya pelayan sangat dibutuhkan disana. Satu hal yang Jongin pastikan, dia tidak mau ada pelayan yang memasuki paviliun ayah dan ibunya. Dia ingin tetap seperti itu. Sehancur apa pun, seberantakan apa pun, dia ingin ruangan itu terkunci dan tidak diganggu. Entah kenapa tapi bukti kehancurannya kadang membuatnya nyaman. Tempat itu bisa menjadi tujuannya saat dia sadar kalau tidak ada tempat lain yang bisa dikunjunginya.

Mereka tinggal di tempat Chanyeol dan Bekhyun selama yang Sehun mau. Sehun meminta agar berada dibawah pengaruh obat tidur selama di pesawat dan itulah yang dilakukan. Membawa Sehun ke tempat umum seperti bandara terlalu beresiko, wartawan dan masyarakat lainnya karena ada Jongin juga disana. Jadi Baekhyun mengatur mereka agar naik helikopter dari rumahnya ke bandara Haneda baru setelah itu naik jet pribadi milik kolega Suho. Turun dari pesawat Sehun sudah terbangun. Tidak mengatakan apa pun saat mereka berada di mobil menuju ke villa Jongin.

Sehun tidak berbicara apa pun untuk menanggapi Baekhyun. Sehun tidak berbicara apa pun saat Baekhyun menunjukkan kamarnya. Harus Jongin akui, pelayan yang dikirim Baekhyun melakukan tugasnya dengan baik, tidak ada debu, tidak ada sarang laba-laba di sudut ruangan. Jendela sudah sangat bersih, bahkan kamar Sehun dipenuhi cahaya yang salju pantulkan dari matahari.

Sulit awalnya bagi Jongin menjelaskan pada Bekhyun kenapa dia tidak ingin paviliun kedua orang tuanya di perbaiki tanpa mengatakan alasan yang sebenarnya. Tapi itu sudah menjadi syarat yang Jongin ajukan sebelumnya. Dengan keadaan begini semakin sulit untuk Jongin menghindari bayangan kedua orang tuanya. Dia dapat melihat bayangan mereka dari mata fasetnya. Semakin sulit karena dia harus menemani Baekhyun dan Sehun mengelilingi villa. Untungnya Baekhyun mengambil alih pembicaraan terus-menerus.

Walaupun Sehun tidak membalas perkataannya.

Kamar Sehun terlihat tenang dan bersih diterangi oleh cahaya senja. Kamar ini sudah bertahun-tahun diabaikan Jongin. Jongin yakin baunya sudah seperti rak buku tua neneknya, tapi pelayan yang ditugaskan Baekhyun bisa menghilangkan kesan tersebut. Baekhyun masih berbicara sampai Jongin mengambil alih dan berkata kalau Sehun boleh tinggal disini selama yang dia mau lalu menyuruh Sehun masuk ke kamarnya karena dari tadi Sehun hanya berdiri di depan pintu kamar seolah menunggu perintah. Sehun masuk dan membiasakan diri dalam kamar barunya.

Baekhyun menarik Jongin agak jauh dari Sehun dan memberi Jongin ponsel, "Di dalamnya ada nomorku, Chanyeol dan Suho." Jongin menatap ponsel ditangannya. "Aku tahu kau akan membutuhkannya kalau bahan-bahan ramuan dan obatmu habis atau keadaan lainnya."

"Terima kasih Baek." Jongin berkata.

"Aku tahu aku sudah meminta terlalu banyak darimu Jong, kau tahu sebuah ponsel tidak cukup membalas kebaikanmu." Baekhyun berbicara.

"Kau tahu jelas alasan aku melakukannya." Jongin berbisik.

"Tapi aku yakin kau akan membutuhkan bantuan." Seolah Baekhyun tidak mendengar, "AKu berbicara pada Chanyeol dan dia setuju untuk mencarikanmu pelayan yang bisa dipercaya." Baekhyun berkata pelan, "Mereka akan kesini seminggu lagi setelah pelatihannya selesai."

"Mereka? Baekhyun aku tidak mau banyak.." Jongin menolak.

"Hanya dua orang, aku juga tahu kau tidak ingin diganggu." Baekhyun memotong. Jongin mengucapkan terima kasihnya pelan, "Kau tahu berterima kasih tidak diperlukan kan?" Tanya Baekhyun, "Saat ini Sehun sangat membutuhkan kasih sayang, perhatian, afeksi, aku tahu kau bisa memberikannya." Jongin menunduk, tidak membantah. "Good boy. Ada satu hal lagi." Baekhyun menyerahkan sebuah katalog pada Jongin. "Aku tahu kau membutuhkan banyak alat kesehatan untuk memeriksa Sehun, tapi aku tidak tahu harus membelikan apa. Jadi tolong pilih alat apa saja yang kau butuhkan dan aku akan secepat mungkin mengirimkannya kesini." Jongin hampir protes tapi Baekhyun memotong lagi, "Untuk Sehun, tolong pikirkan saja." Katanya pelan kali ini.

"Terima kasih Baek." Jongin berkata pelan, "Terima kasih banyak."

Baekhyun mengangguk. "Aku akan mengunjungi kalian setiap hari sebelum pelayan datang." Baekhyun mengusap pipi Jongin, "Aku tahu harusnya aku tidak pernah meninggalkanmu Jongin. Tidak satu hari pun berlalu tanpa penyesalan." Baekhyun berbisik dan Jongin mempercayainya. Mungkin suatu saat Jongin juga bisa memaafkannya.

Saat Baekhyun pergi, Jongin melihat Sehun duduk tenang di kursi yang menghadap ke jendela memperhatikan matahari terbenam.


Itu tiga hari yang lalu dan Jongin mulai khawatir tentang diamnya Sehun.

Pagi hari, villa akan dipenuhi cahaya matahari yang dipantulkan salju. Jongin akan berjalan ke kamar yang ditempati Sehun. Jongin akan duduk bersama Sehun yang memakan buah dari Baekhyun sebagai sarapan. Jongin juga menyediakan teh dan susu jadi Sehun tinggal memilih mana yang diinginkan. Sementara Jongin akan memakan roti bakar dan telur untuk sarapannya. Di hari ketiga ini Jongin melihat Sehun memakan sereal yang diberikan Baekhyun kemarin.

Biasanya Jongin akan membicarakan sesuatu yang ringan seperti cuaca, yang semakin dingin beberapa hari ini dan kira-kira makanan apa yang dinginkannya untuk makan siang. Membicarakan tentang ramuan yang diberikannya pada Sehun, untuk menambah nutrisi, memperbaiki pencernaan dan lain sebagainya.

Hari ini sama saja sampai Sehun menegakkan kepalanya dan berbicara untuk pertama kalinya dalam tiga hari ini, "Aku suka frosted flakes." Dia berkata dengan suara pelan, Jongin bahkan hampir mengabaikannya.

Jongin mengerjapkan matanya terkejut, "Frosted apa?" Tanyanya bingung.

Sehun mengangkat kotak serealnya dan menunjukkan pada Jongin. Jongin mengambil kotaknya dan memperhatikan kotak tersebut. "Sereal ini varian frosted flakes, merknya Kellogg's."

Jongin mengernyitkan dahinya bingung. Dia pura-pura memperhatikan kardusnya. Sebenarnya Jongin memperhatikan Sehun yang sudah tidak berjengit lagi ketika Jongin mendekat, tidak seperti hari pertama dia datang kesana. "Kenapa namanya harus frosted?" Jongin bertanya sambil melihat isi kotaknya, "Apa rasanya dingin?" Sementara Sehun menatapnya tidak percaya. Karena Jongin tidak mempedulikannya, Sehun pun mulai memakan sarapannya. Saat itu Jongin dapat melihat cahaya kembali ke wajah pucat Sehun.

Pelan-pelan Jongin memasukkan tangan pada kotak sereal tersebut, memperhatikan bentuknya sebelum memasukkan ke dalam mulutnya. Jongin sudah lama tidak memakan makanan instan seperti itu, dia biasanya hanya makan buah, sayuran, ikan, daging saja jarang. Jongin terkejut mendapati rasa manis yang membanjiri lidahnya saat dia mengunyah sereal tersebut. Jongin berkedip dan memperhatikan lagi kotak sereal tadi. Sadar atau tidak Jongin tersenyum, "Rasanya enak!" Lalu memasukkan lagi tangannya ke dalam kotak untuk mengambil lebih banyak sereal dan memakannya langsung, Jongin hampir tersedak mendengar suara tawa pelan.

Terdengar seperti lonceng kemenangan di telinganya.


Suara tawa itu membuatnya semangat menjalani hari sampai ke hari berikutnya. Setidaknya sekarang Jongin dapat berharap kalau keadaan Sehun akan semakin membaik. Sehun tetap tak banyak bicara tapi sekarang Sehun sudah bisa menatap Jongin saat Jongin bicara dan sudah tidak berjengit ketika Jongin mendekat. Selain itu Sehun juga makan dengan baik dan kulitnya sudah tidak sepucat dulu, tapi ekspresi sedih Sehun belum menghilang. Jongin tahu akan butuh waktu yang lama untuk mengembalikan senyumannya. Kekerasan yang dialami Sehun sangat serius, akan sangat sulit bagi Sehun mempercayai orang lagi, apalagi kembali seperti dulu.

Jongin merasa aneh karena tidak tinggal sendirian lagi di villa ini. Tadinya dia mengira kalau dia akan terus sendirian sampai nanti masyarakat melupakan apa yang dilakukan orang tuanya sehingga dia bisa meraih gelar dokter yang diinginkannya. Walaupun sekarang dia tidak yakin menginginkan itu lagi. Sekarang dia mempunyai seseorang yang membutuhkan pertolongannya, dan dia harus menolongnya. Villanya sudah tidak lagi kosong dan dia bahagia karenanya.

Jongin sudah tidak membutuhkan bayangan sebagai teman bicaranya, walaupun mereka tidak berhenti muncul.

Menghabiskan waktu dengan Sehun terasa menyenangkan walaupun Sehun tidak banyak berbicara dan lebih memilih memperhatikan salju yang jatuh dari langit. Jongin menghargai keinginan Sehun akan keheningan. Baekhyun juga masih datang untuk menemani Sehun mengobrol dan Jongin akan menggantikannya ketika Baekhyun sudah pulang. Jongin harus menemani Sehun karena Sehun tidak suka ditinggal sendiri untuk waktu yang lama. Tapi Jongin memperhatikan kalau perlahan Sehun sudah berani keluar dari ketakutannya. Mulai ada kehidupan lagi dimata Sehun. Jongin menemani Sehun karena, walaupun Jongin tahu ini nyata, Jongin takut Sehun akan menghilang dan Jongin akan kembali sendiri.

Lebih dari itu, karena ini Sehun.

Sehun tampak lebih hidup dari hari ke hari, karena dia sudah bisa tidur sedikit lama di malam hari. Sehun menjadi lebih manis lagi sampai Jongin kadang tidak bisa mengalihkan perhatiannya. Membuat Jongin semakin mencintai Sehun, pada setiap senyumannya, setiap pandangan matanya, setiap Sehun menatapnya. Jongin tidak takut karena ini bukan perasaan yang baru. Jongin takut karena perasaan ini sudah lama tidak dilihatnya sesering ini, biasanya dia akan menekan perasaan ini. Sekarang, dia bisa merasakan kalau perasaannya pada Sehun semakin hidup, perlahan menghangatkannya.

Sekarang Sehun akan tertawa pada sesuatu yang dikatakan Jongin atau membalas ejekan Jongin seperti saat mereka sekolah dulu. Sekarang Sehun sudah berani keluar dari kamarnya, duduk di ruang tamu saat Baekhyun datang, mengobrol dengan baekhyun. Jongin memperhatikan kalau sekarang Sehun sudak sedikit tertarik pada topik apa pun yang sedang dibicarakan.

Dua hari setelah kejadian sereal itu Sehun bertanya apa Jongin punya buku untuk dibacanya atau apa Jongin bisa bermain catur dengannya. "Aku sangat payah bermain catur." Kata Sehun, "Tapi aku lumayan dalam permainan janggi." Dia tidak menatap Jongin saat mengatakannya, tapi ada sedikit harapan di suaranya yang Jongin tidak akan tega untuk kecewakan.

Jadi sore hari setelah Baekhyun pulang, Jongin akan menyiapkan papan janggi di ruang kesukaan Jongin, menyalakan perapian dan mereka bermain sampai Sehun mencoba menutupi rasa kantuknya. Sehun masih mempunyai masalah tidur karena mimpi buruk masih menghampirinya. Kadang Jongin bisa mendengar Sehun menangis. Tapi mereka akan bermain dua sampai tiga putaran sampai Sehun tidak bisa lagi membuka matanya. Dan mereka tidak pernah bosan. Jongin tidak pernah mengalihkan perhatiannya dari Sehun. Dia suka melihat Sehun berkonsentrasi dengan bibirnya yang dilengkungkan ke bawah. Jongin berharap akhir minggu ini dia sudah bisa menyentuh Sehun untuk memudahkan segalanya.

Sehun juga tidak berbohong saat dia berkata lumayan bisa memainkan janggi. Sehun sering mengalahkan Jongin. Setidaknya Jongin tahu Sehun sudah mulai bisa berkonsentrasi. Sehun sering tertawa karena biasanya Jongin akan bermain curang agar tidak kalah, memindahkan bidak Sehun atau mengacak-acak papannya saat sudah benar-benar kesal.

Saat sedang tertawa atau berkonsentrasi mengalahkan Jongin, Sehun tetap cantik. Rasanya Jongin bisa menatap Sehun sepanjang malam tanpa merasa lelah. Yang sebenarnya sering Jongin lakukan. Masuk ke kamar Sehun perlahan untuk melihat Sehun tidur dari kursi yang biasanya mereka gunakan untuk sarapan sampai pagi. Kalau Sehun keberatan, dia tidak menunjukkannya sama sekali. Sehun masih memberikan senyuman untuk Jongin ketika dia bangun.

Jongin berpikir apa yang sudah dia lakukan sampai pantas mendapatkan sedikit kebahagiaan ini. Kalau dipikir lagi dia tidak melakukan apa-apa. Kadang dia merasa tinggal menunggu kapan ini akan berakhir. Kebahagiaan tidak pernah bertahan lama di hidupnya. Sementara dia tahu Sehun disini hanya karena dia membutuhkan tempat yang aman untuk penyembuhannya. Jongin tidak bisa berhenti berharap untuk mendapatkan kesempatan kedua.

Yang Jongin butuhkan hanya kesempatan lainnya.