Desclaimer : Tite Kubo

Yosh, ini update, maaf lama nunggu (nggak ada yg nunggu tuh XD)

Makasih buat Diarza, Zanpaku Nightfall Akenomyosei, Dongdonghae , Chaos Seth, and CCloveRuki. Makasih read reviewnya...:D

Chapter 3 : Start to Love You

.

.

.

"Grimm…Grimmy…" panggil Nelliel sambil menepuk-nepuk pipi seorang pria bersurai biru terang.

"Apa sih! Aku ngantuk! Dan jangan panggil aku dengan sebutan aneh itu." Merasa terganggu, Grimmy a.k.a Grimmjow bangun dari tidurnya. Karena kalau tidak, kakak cerewetnya itu takkan berhenti mengganggunya.

"Ah, kau ini memang kerjaannya tidur! Kau sudah tidur dari sore tauk! Ayo bangun Grimmy, ayo! Kau harus lihat ini." Girang Nelliel.

"Tch! Nggak tertarik." Dengus Grimmjow.

"Hei, jangan bilang begitu. Ini soal Ichigo."

Alis Grimmjow bertaut. Mendengar nama Ichigo disebut, ia jadi tertarik juga.

"Ayo cepat cepaaat…" ujar Nelliel dengan girangnya. Grimmjow mengikuti langkah Nelliel yang ternyata menuju…dapur? Grimmjow menggeram. Apa Nell mau menunjukkan kalau Ichigo sedang masak? Itu sih bukan pemandangan istimewa buat Grimmjow.

"Nggak jadi tertarik deh!" dengus Grimmjow.

"Huuuh, kau ini. Ayo!" Nelliel menyeret Grimmjow ke dapur. "Lihat itu." Tunjuk Nelliel.

"Tck!" dengan decak malas, Grimmjow menatap ke arah yang ditunjuk Nelliel dan kontan matanya terbelalak.

"What the Hell!" raung Grimmjow dan segera berjongkok sambil memegangi hidungnya yang mimisan super deras, sementara Nelliel jadi terbahak-bahak melihat respon adiknya itu.

Dan karena tawa Nelliel itulah, cowok berambur orange yang kini jadi topic pembicaraan, menoleh dan langsung pasang muka horror melihat Grimmjow ada di sana.

"G-Grimmjow!" raung Ichigo. "Nelllieeellll-chaaaan, kau bilang nggak akan bawa Grimmjow kesini!" kesal Ichigo dengan muka merah padam karena marah dan malu.

"Bwahahahahaha habis … hahaha, sangat sayang untuk dilewatkan hahahaha." Nelliel nggak berhenti ketawa.

"The Hell with it! Berry, demi apa kau memakai pakaian seperti itu! Cepat lepaskaaaannn!" raung Grimmjow sambil tetap memegangi hidungnya yang masih terus mengucurkan darah.

"Jangan Ichi!" cegah Nelliel. "Hei, Grimmy, kenapa kau menyuruh Ichi melepaskannya? Kau juga menyukainya kan? Tuh kau sampai mimisan seperti itu hahahahaha Ichi-chan sexy kan dengan pakaian maid itu?"

"Apanya yang sexy huh!" kesal Grimm. "Itu ko-…"

"Oh, ayolah Grimm. Akui saja. Lihatlah kaki mulus Ichi dengan rok 20 cm di atas lutut, lalu punggungnya yang…"

"Berisiikkk!" bentak Grimm.

"Nelliell-chan, kau jahaat!" kesal Ichigo. "Kau sudah janji tidak akan membiarkan Grimm melihatku dalam keadaan begini. Tapi kau malah-…"

"Diamlah Berry! Ngocehnya nanti saja! Cepat lepaskan pakaian terkutuk itu!" kesal Grimmjow.

"Tidak bisa. Pakaianku ada di-…"

"Cepat lepass!" Grimmjow menghampiri Ichigo dan serta merta menurunkan baju Ichigo sampai setinggi perut bagian bawah dan…blush! Seakan baru sadar apa yang barusan dilakukannya, wajah Grimm langsung berasap dengan warna lobster panggang yang sempurna, apalagi saat menatap bagian bawah perut Ichigo yang membentuk huruf 'v'.

"Dasar mesuuuummm!" seru Ichigo dan langsung menonjok muka Grimmjow yang tengah menatap daerah sekitar 'itu' nya dengan tampang mu-peng a.k.a muka pengen.

"Sakiiiiitt…" raung Grimmjow sambil memegangi mukanya, tapi Ichigo malah makin gila dan menambah penderitaan Grimmjow dengan menginjak-injak punggungnya. Sementara Nelliel tertawa terbahak-bahak sampai air mata mengalir deras dari kedua matanya.

~ OoooOoooO ~

"Grr…"

"Huuuh…"

"Hihihihi…"

Untuk beberapa saat, hanya suara-suara itu yang terdengar di ruang makan. Grimmjow, Ichigo dan Nelliel kini tengah duduk di kursi yang mengelilingi meja makan yang di atasnya tersaji masakan-masakan enak.

"Kau…" Grimmjow membuka pembicaraan. "Kenapa tadi memakai pakaian seperti itu?"

"Nelliel-chan yang menyuruhku." Ichigo tetap tertunduk.

"Kenapa kau mau-mau saja menuruti omongannya?" kesal Grimmjow, melirik Nelliel yang masih cekikikan.

"Nelliel-chan bilang aku baru boleh pakai dapur kalau aku mau memakai pakaian maid itu." Manyun Ichigo.

"Apa segitu inginnya kau memakai dapur huh!"

"Tentu saja! Baru kali ini aku menemukan dapur selengkap itu, peralatannya juga canggih semua. Aku benar-benar ingin memakainya." Ucap Ichigo dengan mata bling-bling yang ngebuat mata Grimmjow menyipit karena silau.

"Sudahlah…hihihi lupakan yang tadi. Sekarang ayo kita makan. Jam makan malam sudah lewat dari tadi lho…" Nelliel mengalihkan pembicaraan. "Mari kita cicipi masakan maid Ichigo yang sangat e-…" Nelliel tak melanjutkan ucapannya saat menyadari dua pasang deathglare mengarah ke dirinya. "Ehehehehe…" Nelliel nyengir kuda merespon tatapan dua pria di hadapannya itu, untuk kemudian ketiganya makan dalam keheningan.

~ OoooOoooO ~

Ichigo menatap jam dinding di ruang tengah, jarum jam sudah menunjuk angka 11.

"Grimm~…" Ichigo menarik-narik lengan baju Grimmjow. "Antarkan aku pulang, ini sudah malam." Ucap Ichigo setengah berbisik. Ia tak ingin Nelliel mendengar rengekannya atau gadis cantik itu akan kembali mengajukan hal aneh-aneh.

"Baiklah." Ujar Grimmjow.

"Eh, kok pulang sih?" ujar seseorang yang tak lain adalah Nelliel, Ichigo langsung pasang muka horror. "Ini sudah malam lho…menginap saja." lanjut Nelliel.

"Ah, ano, tapi besok kan aku sekolah. Hahaha…" Ichigo mencoba mengelak.

Nelliel tampak berpikir, dan bukan dia namanya kalau tidak bisa menemukan ide untuk membuat keinginannya terwujud.

"Kau kan bisa diantar Grimmy pagi besok." Nelliel mencoba menahan Ichigo.

"Ta-tapi aku kan juga ada Pe-eR." Kilah Ichigo lagi.

"Memangnya kau pernah mengerjakan Pe-eR, Berry?" sela Grimmjow yang membuat Ichigo menggeram kesal.

Di lain pihak, Nelliel tampak sedang berpikir. Ia ingin mengerjai Ichigo dan Grimmy lagi, yeah…itu hobby barunya sih…Beberapa saat kemudian, Nelliel tampak sudah menemukan cara untuk rencananya itu.

"Grimmy, ini kan sudah malam. Kau pasti ngantuk juga kan? Jadi lebih baik Ichigo menginap saja malam ini." ujar Nelliel. "Ah, ya. Kamar yang lain kan belum diberesi, jadi terpaksa Ichigo tidur di kamarmu. Kau tidak keberatan kan?"

Mendengar itu, Grimmjow langsung menyeringai, dan tanpa kata lagi langsung menyeret Ichigo ke kamarnya.

"Kyaaaa rencanaku berhasil!" girang Nelliel. Tapi…"Eh, aku lupa nggak memasang kamera dulu. Huweeeeeee…"

Grimmjow terus menyeret Ichigo ke kamarnya.

"G-Grimm, lepas." Ichigo mencoba melepaskan diri dari Grimmjow, tapi tampaknya percuma saja. Akhirnya Ichigo hanya bisa pasrah saat diseret masuk kamar.

"Gyaaa…" jerit Ichigo saat Grimmjow melemparnya ke kasur. "Apa-apaan kau Grimm!" omel Ichigo sementara Grimm mengunci pintu dengan seringaian terpampang jelas di wajahnya. Melihat itu, alarm tanda bahaya di otak Ichigo langsung berbunyi.

"Temeeee!" kesal Ichigo dan langsung melempar lampu duduk tepat ke kepala Grimmjow.

"Sakiiiiittttt!" raung Grimmjow sambil berjongkok memegangi kepalanya. Sementara Grimmjow kesakitan, Ichigo kabur ke kamar mandi dan segera mengunci pintu dari dalam.

"Berryyyy, kembali kau!" kesal Grimmjow sambil menggebrak pintu kamar mandi, tapi Ichigo tetap tak membuka pintunya.

"Yaaah…batal…" keluh Nelliel yang ternyata nguping di balik pintu kamar Grimmjow. "Hm…harus cari cara lain nih." Saat sedang berpikir, ia mendengar suara klakson mobil dari luar. Mata Nelliel langsung terbelalak karena mengenali suara klakson itu.

"G-Grimm, Grimmy! Gawat!" panic Nelliel sambil menggedor-gedor pintu kamar Grimmjow. Tak berapa lama kemudian Grimmjow membukakan pintu.

"Apa sih!" kesal Grimmjow masih memegangi kepalanya.

"Dia pulang!" panic Nelliel.

"Ichigo? Nggak kok, dia di kamar mandi!"

"Bukan, bukan Ichigo. Dia, dia pulang!"

Seakan baru mengerti, mata Grimmjow terbelalak.

"Kau-kau jemput duluan. Aku menyusul setelah memberesi Ichigo!" Grimmjow segera masuk kamar lagi sedangkan Nelliel beranjak dari sana.

"Berry, hei Berry, kau dengar aku?" Tanya Grimmjow sedikit berbisik.

"Apa! Aku tidak mau keluar. Dasar om-om mesum!" jawab Ichigo.

"Grr…bukan itu bodooooohhh!" bentak Grimmjow keras-keras.

"Suara siapa itu?" Tanya seorang pria pada Nelliel yang kini tengah membawakan jaz pria tersebut. Mereka masih berada di ruang depan, tapi teriakan Grimmjow bisa terdengar dari sana.

"Apa sih yang dilakukan si bodoh itu!" geram Nelliel.

"Nelliel?" ulang pria itu.

"A-ano, bu-bukan apa-apa, Aizen-sama, eh…Daddy. Hahaha…paling si Grimmy eh, Grimmjow sedang ngomel-ngomel pada pelayan." Jawab Nelliel sekenanya.

"Grimmjow? Oh, dia sudah pulang?" ujar orang yang dipanggil Aizen oleh Nelliel.

"I-iya, tadi sore. Aku yang menjemputnya."

"Aku ingin bertemu dengannya."

"EHHH?" shock Nelliel.

"Kenapa?"

"A-ano, tidak apa-apa sih. Tapi bukankah Daddy lelah, sebaiknya istirahat dulu." Cegah Nelliel.

"Kurasa bertemu putraku akan lebih sebentar dibandingkan waktu istirahatku." Ujar Aizen dan langsung melangkah menuju kamar Grimmjow dengan Nelliel yang mengekor dengan panic di belakangnya.

Tepat saat Aizen sampai di depan kamar Grimmjow, Grimmjow baru saja membuka pintu dan bersiap keluar.

"Se-selamat datang, Aizen-sama." Sapa Grimmjow.

"Bisakah kau panggil aku dengan yang semestinya, Grimmjow, putraku." Ucap Aizen dengan senyum lembut tapi di mata Grimmjow bagai senyum iblis.

"Umm…yeah, ayah. Selamat datang." Ulang Grimmjow.

Brak…brak…brak…terdengar gedoran dari kamar Grimmjow, tampaknya Ichigo-lah yang menggedor pintu kamar mandi.

"Siapa disana, Grimm?" Tanya Aizen.

"Umm, bu-bukan siapa-siapa?" jawab Grimmjow.

"Lalu apa?"

"Juga bukan apa-apa."

"Kalau begitu aku ingin lihat." Dan Aizen nyelonong masuk ke kamar Grimmjow. "Bisa kau buka pintu kamar mandinya?"

"Umm…"

"Oiii, Grimmjow! Cepat buka pintunya!" jerit Ichigo dari dalam kamar mandi. "Kau mau membunuhku ya? Kenapa malah mengunciku dari luar!"

"Grimmjow…" ulang Aizen. Dan dengan berat hati, Grimmjow pun membuka pintu kamar mandi itu.

"Bwaaah…dasar kau ini!" omel Ichigo begitu keluar dan langsung mencengkeram baju Grimmjow. "Kau mau membunuhku ya? Dasar om-om mesum, sebenarnya…"

"Wah…wah…" Aizen menepuk tangannya beberapa kali, membuat perhatian Ichigo teralih pada sumber suara. Dan Ichigo tercengang saat mendapati seorang pria berambut cokelat yang disisir rapi ke belakang, berdiri tak jauh dari hadapannya dengan Nelliel di belakang si pria. "Kau sudah berani 'memelihara' sesuatu rupanya, Grimmjow." Ujar pria itu.

"K-kau…siapa?" Tanya Ichigo.

"Perkenalkan. Aku Sousuke Aizen. Ayah dari Grimmjow dan Nelliel."

"A-ayah?"

"Nah, Grimmjow." Aizen beralih menatap Grimmjow. "Kau berani membawa 'mainan'mu kemari tanpa seizinku. Oleh karena itu…kurasa aku akan menyita 'mainan'mu itu."

"Tapi Aizen-sama…" Grimmjow keberatan.

"Ha? Aizen-sama?" bingung Ichigo. "Kau bilang dia ayahmu, kenapa memanggilnya dengan nama?" bisik Ichigo.

"Cerewet!" balas Grimmjow.

"Tenang saja, hanya untuk satu malam, putraku. Selain itu, aku akan memainkannya dengan hati-hati." Ujar Aizen yang sama sekali tak bisa Ichigo mengerti maksudnya.

"Tidak bisa!" protes Grimmjow. "Kali ini hukum saja aku, tapi jangan ambil mainanku." Grimmjow sama-sama menggunakan kata 'mainan' supaya Ichigo tetap tak mengetahui maksud Aizen yang sebenarnya.

"Sebegitu sayangnya-kah kau pada 'mainan'mu?"

"Bukan begitu, hanya saja…" Grimmjow terdiam sejenak. "Ah, tidak penting. Yang jelas, sebagai gantinya hukum saja aku!"

"Hn…"

"A-aku juga. Hukum kami berdua." Tambah Nelliel. "Tapi jangan apa-apakan dia. Ichigo disini atas tanggungjawabku."

"EHH?" shock Ichigo. Dia baru sadar kalau dia-lah yang sedang jadi topic pembicaraan. "Ke-kenapa kalian mau dihukum?" bingung ichigo.

"Berisik!" kesal Grimmjow.

"Apanya yang berisik? Kalau ini gara-gara aku, biarkan aku yang menyelesaikanya!" ujar Ichigo sok heroic.

"Ichigo!" Nelliel menatap Ichigo dengan pandangan jangan-katakan-apapun-lagi.

"Ke-kenapa memangnya?" ulang Ichigo. "Aku bukan orang yang suka lari dari tanggungjawab."

Aizen menyeringai. "Benar, kau ini laki-laki." Aizen mem-provokasi. "Kalau begitu kau mau menerima tanggungjawabnya?"

"Tentu saja. Memangnya apa yang harus aku lakukan setelah ini?"

"Datanglah ke kamarku 15 menit lagi." Seringai Aizen dan berbalik lalu pergi dari kamar Grimmjow.

"Dasaaaaarrr bbeegggooooooo!" raung Grimmjow dan memukul kepala Ichigo dengan Koran bekas yang tak tahu dari mana asalnya.

"Aduuuh, apa sih?" kesal Ichigo.

"Huuu Ichi-chan, padahal kami berusaha menolongmu…" sesal Nelliel.

"Menolong dari apa?" Tanya Ichigo bego.

"Dari pria tadi laah, tolol!" maki Grimmjow.

"Dia itu ayahmu, kenapa kau panggil 'pria itu', tadi juga panggil nama?" heran Ichigo.

"Dia bukan ayah kandung kami." Jelas Grimmjow. "Kau tahu kenapa?"

Ichigo menggeleng.

"Karena dia GAY!" lanjut Grimmjow. "Dan dia punya istri hanya sebagai pajangan, setelah mengadopsi kami, istrinya juga langsung dicerai. Dan kau tahu apa arti semua itu?"

"Eh? Ja-jangan-jangan…" Ichigo mulai panik.

"Yeah, tentu saja. tadi dia bilang mengajakmu ke kamar kan? Menurutmu dia mau apa?"

"Gyaaaaa aku tidak mauuuu! Jangan-jangan aku mau diperkosa!" jerit Ichigo.

"Nasib lo, bego! Tadi gue sama Nelliel kan udah berusaha nylametin lo!" ujar Grimm saking kesalnya sampai pakai bahasa lo-gue.

"Te-terus…aku harus bagaimana?"

"Tidak tahu. Kami tidak tahu bagaimana caranya untuk membebaskanmu dari Daddy." Sesal Nelliel. "Yang bisa kau lakukan sekarang hanyalah menurutinya untuk ke kamar lalu memohon supaya dia membebaskanmu."

"Huaaaaa kenapa jadi begini!" Ichigo mengacak-acak rambutnya frustasi. Tiba-tiba pintu kamar terbuka tanpa permisi, dan seorang bertampang bodyguard muncul di depan pintu.

"Aizen-sama memanggil." Ucap orang itu, membuat Ichigo panic seketika.

"Griiimm…" Ichigo merengek, membuat Grimmjow menggeram.

"Kau pergilah, biar aku yang mengantarnya." Ucap Grimmjow pada bodyguard tadi. "Siapa tahu aku masih bisa bernegosiasi." Gumam Grimmjow dan segera membawa Ichigo keluar kamar.

"Aku ikut." Kejar Nelliel.

Mereka bertiga berjalan menuju kamar Aizen, tapi baru sampai di dekat tangga yang dari lantai satu, Aizen tampak berdiri di atas tangga. Sepertinya baru saja dari lantai satu.

"Hn…" Aizen menyeringai dan mendekati Ichigo yang langsung ngumpet di balik tubuh Grimmjow.

"Apa masih ada negosiasi?" Tanya Grimmjow.

"Tidak." Jawab Aizen tegas dan langsung menyeret Ichigo ke dalam dekapannya. "Aku ingin bermain dengannya malam ini, dan tidak ada yang boleh…"

"Aizen…!" terdengar suara seseorang. Mereka ber-empat menoleh ke asal suara, dan melihat seorang pria bersurai hitam berdiri di tangga.

"God…" umpat Aizen pelan dan sedikit keterkejutan terpampang di wajahnya.

"Ta-tampan sekali…" guman Ichigo dan Nelliel bersamaan yang sontak ngebuat Grimmjow cengok.

"Kau bilang mau apa dengan bocah orange itu?" Tanya si pria berambut hitam dengan nada tegas.

"A…umm, bukan apa-apa." Ujar Aizen, dan seakan baru sadar, ia melepas dekapannya pada tubuh Ichigo. Dari situ Grimmjow dan Nelliel bisa menyimpulkan kalau pria bersurai hitam itu adalah kekasih gay Aizen.

"Tch!" decih kesal pria itu dan langsung berbalik menuruni tangga.

"Byakuya, tunggu!" kejar Aizen pada pria bersurai hitam yang ia panggil Byakuya itu.

"Byakuya? Nama yang bagus, kyaaaaa." Gumam Nelliel.

"Apanya yang bagus?" cibir Grimmjow.

"Huh!" Nelliel hanya balas mencibir, lalu ikut menonton kelanjutan drama antara Aizen dan Byakuya.

"Byakuya, aku bisa jelaskan." Aizen mencekal lengan Byakuya.

"Aku tidak peduli." Jawab Byakuya dingin.

"Aku hanya ingin mengerjai Grimmjow saja."

"Dengan 'memainkan' mainannya?"

"I-itu…sudah kubilang itu hanya bercanda."

"Persetan." Balas Byakuya dan langsung melepaskan diri dari cekalan Aizen dan berjalan keluar mansion, dikejar oleh Aizen.

"Oooooke! Drama selesai! Aku antar kau pulang, Berry." Ucap Grimmjow.

"Dia tampan…" ucap Ichigo.

"Iya, benar-benar tampan." Balas Nelliel.

"Sangat tampan."

"Iya, sangat-sangat tampan. Baru kali ini aku…"

"KALIAN DENGAR AKU ATAU TIDAK SIIIIHHHH!" omel Grimmjow yang langsung membuyarkan hayalan indah Ichigo dan Nelliel.

"Iya iya, aku dengar." Ucap Ichigo.

"Kalau begitu ayo cepat kuantar pulang!"

"Tidak mau."

"APA! Kau mau benar-benar diperkosa ya?"

"Aku mau pulang, tapi tidak mau diantar olehmu. Kau ini sama mesumnya!"

"Aku ini bukan gay, Berry!"

"Tapi kenapa tadi kau mengunciku di kamar?"

"Untuk mengerjaimu." Seringai Grimmjow. "Kurasa itu hobby baruku."

"APAAA?"

"Dan hobby baruku adalah mengerjai kalian." Timbrung Nelliel yang langsung mendapat deathglare dari Grimmjow dan Ichigo.

"Sudahlah, cepat kuantar kau pulang." Grimmjow menyeret Ichigo menuju tempat parkir.

"Ayo masuk." Kesal Grimmjow saat Ichigo malah diam saja setelah Grimmjow membuka pintu mobil. Ichigo tetap diam, sehingga Grimmjow melihat arah yang ditatap Ichigo, dan melihat pemandangan yang…well, seharusnya anak dibawah umur tidak melihatnya. Dan kurasa Ichigo termasuk.

Di depan pintu masuk utama mansion, Aizen tampak sedang mendesak Byakuya ke mobil di belakangnya. Hingga tubuh Byakuya terhenti karena tertahan body mobil, lalu Aizen dengan paksa menciumnya.

"Aizen, hentikan!" Byakuya mencoba berontak, tapi tampaknya sia-sia. Aizen bahkan mengalihkan bibirnya ke leher Byakuya.

"Sudahlah Ichigo, ayo cepat masuk! Ini bukan tontonan untuk bocah dibawah 18 tahun." Kesal Grimmjow.

"Grimm, kita harus menolongnya. Byakuya mau diperkosa!" ujar Ichigo polos.

"Dasar buodoooohh! Sudahlah, itu urusan mereka!"

"Apanya yang bukan urusan kita? Byakuya mau diperkosa di depan mata kita dan kita…"

"Diam! Berry, kau ini tidak tahu apa-apa. Sudah cepat masuk!" Grimmjow memaksa Ichigo masuk ke dalam mobil lalu Grimmjow segera menjalankan mobil itu dengan kecepatan tinggi,

"Heeeeh…" Ichigo menghela nafas sepanjang jalan. Hingga setelah yang keberapa ratus kalinya, Grimmjow menegur karena merasa terganggu.

"Kau ini kenapa sih?" omel Grimmjow.

"Byakuya mau diperkosa." Manyun Ichigo.

"Lalu apa hubungannya dengamu?"

"Kan sayang, cowok setampan dia diperkosa sama seorang gay."

"Tch! Dasar bodoh. Dia itu kekasih Aizen, sudah pasti sama-sama gay."

"Apa seperti itu? Rasanya aku tidak rela."

"Kau cemburu? Jangan-jangan kau menyukai Byakuya pada pandangan pertama?"

"Bu-bukan begitu!" Ichigo blushing, menatap kesal pada Grimmjow.

"Habisnya dari tadi kau bilang 'Byakuya ganteng' terus. Kalau Nelliel yang bilang sih aku tidak merasa aneh. Tapi ini kau yang bilang, dan kau itu laki-laki. Jangan-jangan kau sudah berubah menjadi gay, Ichigo."

"Aku bilang bukaaaann!" kesal Ichigo. "Lagipula kenapa kau mempermasalahkan argumenku tentang Byakuya sih?"

"Karena aku lebih tampan darinya, puas!" kesal Grimmjow. Ichigo terdiam sejenak, barulah ia tertawa terbahak-bahak.

"K-kau…? Apanya yang tampan? Bwahahahahaha…Dasar! Kau kena syndrome narsis ya? Hahahaha." Cemooh Ichigo.

"Hei, buktinya para gadis selalu mengerubutiku." Kesal Grimmjow.

"Heeeh terserah. Tapi bagiku kau ini sama sekali tidak tampan. Beda dengan Byakuya."

Grimmjow menggeram. "Jadi kau mau bilang kalau orang itu lebih baik dariku, huh?"

"Yeah, begitulah. Kau kan…"

Ckiiiiittt!

Grimmjow membanting stir ke kanan, mengerem tepat sebelum menabrak pembatas jalan dan…

"Mmnnh…" Ichigo terbelalak saat merasakan sesuatu yang basah menari-nari di dalam mulutnya. "G-Grimm…" Ichigo berusaha mendorong tubuh Grimmjow menjauh, tapi nihil. Grimmjow malah semakin mendesak tubuh Ichigo dan memperdalam ciuman.

"Mmnnhh…nnh…" erang Ichigo, ciuman mereka berlangsung cukup lama, hingga nafas Ichigo menipis dan ia memaksa Grimmjow melepas ciuman dengan menggigit lidahnya.

"K-kau…hosh…hosh…apa yang kau lakukan, Grimm! Hosh…hosh…" Ichigo masih berusaha mengatur nafasnya, wajahnya juga masih semerah tomat.

"Jangan membicarakan laki-laki lain saat bersamaku!" ucap Grimmjow, wajahnya dan wajah Ichigo masih berada di jarak yang dekat.

"A-apa? Kalau begini jadi terdengar seperti kau yang Gay, Grimmjow!"

"Terserah kau mau bilang apa!" Grimmjow semakin mengurangi jarak antara wajahnya dan wajah Ichigo. "Kalau kubilang aku mulai menyukaimu…apa kau percaya?"

Dan belum sempat Ichigo memberi jawaban, matanya kembali terbelalak saat bibir Grimmjow kembali mengunci bibirnya.

~ To be Continue ~