Naruto by Masashi Kishimoto
Highschool DxD by Ichiei Ishibumi
Crossover Naruto x Highschool DxD
Pair : Uzumaki Naruto x Xenovia Quarta
Rate : M for safe
Warning : Typo bertebaran, tidak sesuai eyd dan masih banyak lagi.
Genre : Fighting, Supranatural, Romance, etc.
Summary : Dia adalah sosok yang menjunjung tinggi kebenaran, menyelamatkan musuh dari rasnya dan membuat ia terusir dari tempatnya. Ini bukanlah cerita seseorang yang harus menyelamatkan dunia ataupun mendamaikan dimensi, ini hanya sebuah kisah dimana kebenaran harus selalu ditegakkan.
--The Great Exorcist--
"Rias! Untuk sekarang biarkan mereka tinggal di rumahku". Naruto masih memeluk Xenovia mengucapkan hal itu.
"Baiklah Naruto-kun". Ucap Rias mengerti.
Naruto, Xenovia dan Irina pamit pergi dari ruang klub. Perjalanan pulang diselingi dengan obrolan antara Irina dan Naruto, sedangkan Xenovia memeluk lengan Naruto tanpa mengatakan apapun.
Xenovia tidak menyangka selama ini Naruto kekasihnya tinggal di Kuoh yang notabene tempat dengan aktivitas supranatural tertinggi, hah tapi untung saja Naruto kuat selama hidup disini.
Sampailah mereka di kediaman Naruto, "Kita sudah sampai, maaf jika rumahku kecil". Ucap Naruto kikuk.
"Tidak masalah Naruto-senpai justru kita lah yang merepotkan senpai". Irina mengatakan itu dengan senyum di wajahnya.
mereka telah masuk ke rumah Naruto, "Disini hanya ada 2 kamar, tidak papa kan jika kalian tidur berdua?". Tanya Naruto.
" Uhm...Itu tidak masalah Naru-kun". Xenovia yang tadi bungkam akhirnya angkat suara.
"Akhirnya kau bicara juga Via-chan". Naruto mengatakan itu sambil tersenyum pada Xenovia.
"Duduklah dulu, kalian pasti lapar kan?". Naruto menyuruh Irina dan Xenovia duduk di sofa rumahnya.
"Biar aku saja yang memasak Naru-kun". Xenovia melangkah menuju Naruto dan tersenyum, ah Xenovianya telah kembali seperti dulu yang manis dan murah senyum.
"Baiklah, Aku akan membantu". Gelengan Xenovia membuat Naruto cemberut, seketika Xenovia mencium pipinya membuat Naruto terdiam.
Irina yang melihat itu menutup matanya, tidak kuat dengan adegan yang barusan terjadi.
"Biarkan aku saja, Kau duduk saja sayang". Naruto seketika duduk karena suruhan Xenovia.
Time Skip_
15 menit berlalu sekarang Naruto dan Irina duduk di meja makan yang sudah tersaji masakan mulai dari Kare, Sashimi, dan Udon.
"Gomenne telah membuat kalian menunggu, menu terakhir ini untuk Naruto-kun yaitu Ramen jumbo buatan Xenovia tercinta". Xenovia datang dan meletakkan ramennya di meja makan.
"Wah banyak sekali yang kau masak Xenovia". Ucap Irina melihat masakan yang banyak di meja makan.
"Tentu saja, mari makan". Xenovia mulai mengambil makanan dan meletakkan di sebuah piring.
"Buka mulutmu Naruto-kun". Ucap Xenovia menyuapi Naruto.
Malam harinya Naruto tampak sedang duduk sembari membaca buku.
~Krieet
Pintu kamarnya terbuka dan tampaklah seorang gadis bersurai biru yang menggunakan pakaian tidurnya.
"Via-chan? Ada apa?". Tanya Naruto sambil menutup buku bacaannya.
"Eto.. Naruto-kun bo-bolehkah aku tidur bersamamu". Xenovia mengucapkan itu dengan gugup.
Naruto yang mendengar itu terkejut kemudian tersenyum mendengar permintaan Xenovia.
"Kemarilah sayang". Ucap Naruto menyuruh Xenovia ke sebelahnya.
Naruto mulai tidur di ranjangnya dengan Xenovia di sebelahnya tampak gugup.
"Jangan berpikir aneh-aneh Via-chan, Aku tidak akan melakukan itu sebelum kita menikah". Naruto memeluk Xenovia di dadanya agar Xenovia tidak gugup.
Xenovia terkejut saat dipeluk Naruto, tapi lama kelamaan dia mulai menguap dan memejamkan matanya.
Di pagi harinya, Xenovia tampak membuka matanya. Dia meregangkan ototnya sejenak kemudian melihat ke sebelahnya yang kosong. Mungkin kekasihnya itu sudah bangun.
Ah Xenovia lupa jika hari ini adalah saatnya ia dan Irina mencari pedang Excalibur yang dicuri. Ngomong-ngomong soal Irina, Xenovia bangun dan berjalan menuju ke arah kamar Irina.
Terlihat Irina yang masih tidur dengan selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya. Xenovia melirik ke arah Irina sebentar, kemudian berjalan pergi dari kamar itu.
Xenovia berjalan menuju ke arah dapur, bau makanan pun tercium dari sana.
"Are...Kau sudah bangun Via-chan". Ucap pria berambut kuning yang sedang menata makanan di meja makan.
Xenovia tampak melihat-lihat makanan yang tersaji disana. "Kau membuat semua ini Naruto-kun". Naruto mengangguk membenarkan ucapan kekasihnya.
"Mandilah dulu kemudian makan". Suruh Naruto pada Xenovia.
Xenovia melangkah menuju kamar mandi. "Handuknya?". Tanya Xenovia.
"Sudah ada di belakang pintu kamar mandi". Xenovia mulai masuk ke kamar mandi.
Skip time_
Xenovia dan Irina tampak sedang menggunakan pakaian Exorcistnya, hari ini mereka akan memburu si pencuri pedang Excalibur.
Naruto menatap mereka dengan pandangan cemas, "Sebenarnya aku ragu kalian bisa menyelesaikan misi itu". Ucap Naruto. Kedua gadis itu menoleh ke arah Naruto.
"Kami tidak lemah Naruto-senpai". Ucap Irina karena tidak terima dengan perkataan Naruto.
Naruto bukannya meragukan kemampuan mereka, hanya saja mengingat si pencuri Excalibur bisa masuk ke salah wilayah gereja tanpa tertangkap itu membuat Naruto cemas. Itu membuktikan seberapa berbahayanya pencuri itu.
"Tidak usah cemas sayang, Kau akan melihat kami kembali dengan Excalibur di tangan kami". Naruto yang mendengar ucapan Xenovia malah tambah cemas.
"Berjanjilah padaku, Kau akan datang dengan selamat". Naruto mengatakan itu membuat Xenovia memeluknya.
Xenovia memeluk dengan penuh kasih, Irina yang melihatnya tampak menoleh ke arah lain tidak ingin terlihat jika wajahnya memerah melihat hal itu.
"Aku janji". Janji Xenovia kepada Naruto.
Naruto dengan berat hati membiarkan mereka pergi dengan bahaya yang akan menanti mereka.
"Sialan...aku tidak bisa tenang". Naruto menggerutu dengan kesal. Tanpa pikir panjang ia mengambil Katana miliknya dan pergi menyusul kekasihnya dan Irina.
~Back to Xenovia dan Irina~
Ditempat Xenovia dan Irina, mereka telah sampai di sebuah gereja tua yang menurut di dalam misinya adalah tempat Excalibur berada.
"Irina apa kau merasakannya". Xenovia mengatakan itu dengan masih memasang posisi siaga.
"Iya, aura Da-tenshi kenapa bisa ada disini. Aku juga bisa merasa aura dari pedang Excalibur meskipun samar". Ucap Irina.
~Plok ~Plok ~Plok
Suara tepuk tangan membuat Xenovia dan Irina menoleh ke arah belakang mereka.
"Well... ada urusan apa sehingga dua Exorcist datang kemari". Ucap seorang pria memakai topi vedora membawa pedang ditangannya dengan tersenyum gila.
"Freed Zelzen seorang ex-Exorcist". Ucap Xenovia dengan tajam.
"Excalibur itu...Rapidly". Xenovia tampak memicingkan matanya melihat pedang yang dibawa Freed.
"Ara, Aku sungguh tersanjung bisa dikenal oleh Exorcist pembawa pedang Durandal, Xenovia Quarta". Kata Freed dengan mengayun-ayunkan Excaliburnya, datanglah pasukan ex-Exorcist lain dibelakang Freed.
"Sudah cukup basa-basinya, kalian ingin mengambil Excalibur yang telah dicuri kan... Maaf saja kami tidak akan membiarkan itu". Freed melesat menuju ke arah mereka.
Xenovia yang melihat itu menyiapkan Excaliburnya. "Irina biar aku mengurus Freed, kau urus yang lainnya". Irina mengangguk kemudian merubah Excaliburnya menjadi pistol.
~dorr ~dorr ~dorr
Tembakan Irina menuju ke arah ex-Exorcist yang lainnya. Irina merubah kembali Excaliburnya menjadi pedang.
"Saa...mari bersenang-senang". Irina melangkah menuju kearah pasukan ex-Exorcist.
Sementara itu dengan Freed dan Xenovia.
~Ctingg
Benturan antara sesama pedang terjadi di tempat tersebut. Xenovia menebas ke arah Freed tapi dapat dihindarinya dengan mudah.
"Are..apa kekuatanmu hanya sampai segitu saja". Freed tersenyum meremehkan.
Xenovia mengangkat pedangnya kemudian menghilang dari pandangan Freed.
~Wush ~Ctinggg
Freed menahan serangan di belakangnya menggunakan pedang yang ada di tangannya. "Sugoii...Kau sangat cepat, tapi..".
~Wush ~Duak
Freed menghilang kemudian menendang Xenovia ke arah samping. Xenovia meringis merasakan tendangan Freed di perut bagian kirinya.
"Kau masih kalah cepat denganku Quarta-san". Freed mengatakan itu kemudian memukul Xenovia hingga menabrak tembok.
~Duk ~Booom
Xenovia terduduk dengan darah mengalir di pelipis dan mulutnya. Pedangnya telah jatuh di depannya.
"Ah...sepertinya ini adalah akhirmu". Freed mengarahkan pedangnya ingin menusuk Xenovia. Sebelum itu Naruto datang menendang Freed hingga menabrak tembok gereja.
Naruto yang melihat keadaan Xenovia tampak sedih, kemudian menatap ke kepulan asap bekas perbuatannya.
"Ara, itu sangat sakit tau. Bagaimana jika kita melakukan sesuatu dengan adil". Freed tersenyum gila.
"Siapapun Kau, jika berani menyakiti gadis ini...". Naruto menundukkan wajahnya.
"Aku akan membunuhmu". Naruto mengatakan itu dengan tatapan tajamnya.
~Sring
Naruto menghilang dengan disertai kilatan lalu menebas Freed menggunakan katananya. Freed melompat menghindari serangan Naruto.
"Triple Steps : Strike from World".
Naruto mengambil 3 langkah yang sangat cepat kemudian menebas lengan Freed.
Freed dengan susah payah menghindari tebasan Naruto yang mengarah padanya. Alhasil lengannya tergores Katana Naruto.
"Sugoii..kau sangat hebat". Freed mengatakan itu dengan tampang maniaknya.
Freed menggenggam Excaliburnya kemudian melesat dengan cepat menuju Naruto. Jual beli serangan mereka berikan untuk mengalahkan satu sama lain.
Freed menebas kepala Naruto dan lagi-lagi dihindari Naruto dengan menghilang seperti kilat. Naruto muncul di atas Freed dan memukulnya hingga menciptakan kawah dibawahnya.
"Cukup sudah aku telah muak denganmu". Naruto mengatakan itu kemudian memegang erat katananya.
"Triple Steps : Strike From Heaven".
Naruto mengambil 3 langkah cepat kemudian menghilang dan berada di belakang Freed.
~Jlebb
Freed merasakan tusukan di area dadanya, dia tampak terbatuk mengeluarkan darah di mulutnya.
"Kau hebat, tidak salah jika dirimu dijuluki yang terkuat dalam Exorcist gereja". Freed mengatakan itu kemudian menutup matanya dengan tenang.
Naruto menatap datar hal itu kemudian mencabut katananya dari tubuh Freed. Berjalan ke arah Xenovia yang masih pingsan. Naruto melupakan Irina dengan cepat dia menuju ke pertempuran Irina dengan membawa Xenovia di punggungnya.
Naruto telah sampai di tempat Irina dan terkejut melihat mayat-mayat ex-Exorcist berserakan di tanah. Irina tampak bertumpu dengan pedangnya dengan nafas tersengal-sengal.
Seketika Naruto tersenyum melihat Irina berhasil mengalahkan kelompok ex-Exorcist sendirian, itu menunjukkan betapa mahirnya dia dalam menggunakan Excalibur.
"Ayo pulang Irina". Naruto menghampiri Irina yang masih terlihat kelelahan. Irina mengangguk kemudian mengatur nafasnya menuju Naruto.
Naruto membuat lingkaran teleportasi untuk memulangkan mereka ke rumah Naruto. Sesampainya di rumah, Naruto menyuruh Irina beristirahat dan menidurkan Xenovia di ranjangnya. Tidak lupa ia mengobati luka Xenovia.
Setelah mengobati luka Xenovia dia keluar rumah untuk mencari sesuatu, dia ingin mengusut lebih lanjut tentang Excalibur yang dicuri, jika benar dugaannya pelaku pencurian Excalibur berada di pihak da-tenshi atau malaikat jatuh.
Sampailah Naruto di sebuah danau dimana selalu digunakan Azazel untuk memancing.
Naruto melihat Azazel yang sedang memancing dengan tenang.
"Azazel". Panggil Naruto yang membuat si pemilik nama menoleh ke arahnya.
"Naruto? Ada apa kau kemari?". Azazel menyudahi memancingnya dan melihat ke arah Naruto.
"Aku ingin bertanya sesuatu". Azazel menaikkan alisnya mendengar perkataan Naruto. Azazel nampak memasang wajah serius.
"Apa salah satu pihakmu yang mencuri pecahan Excalibur?". Tanya Naruto pada Azazel.
Azazel tampak terkejut mendengar pertanyaan Naruto, setahunya dia tidak menyuruh salah satu pihaknya mencuri benda berharga dari gereja itu.
"Aku tidak tahu mengenai hal itu Naruto, setahuku Aku tidak pernah menyuruh para bawahanku melakukan itu". Ucap Azazel dengan jujur.
"Aku sudah menduganya, tunggu dulu...". Naruto tampak teringat sesuatu. Azazel yang melihat tampak penasaran.
"Azazel, apa Kokabiel berada di pihakmu?". Naruto menanyakan itu membuat Azazel bingung.
"Tentu saja, tapi yahh begitulah". Azazel nampak pasrah jika salah satu jenderalnya itu berbuat nyleneh. Oh tunggu...Azazel baru menyadari sesuatu. Perubahan ekspresi dari Azazel membuat Naruto terkekeh.
"Jadi...Kokabiel yang melakukannya ya". Azazel menghela nafas sabar akan hal yang dilakukan salah satu Jenderal Grigory itu.
"Apa yang mendasarinya melakukan itu Azazel?". Azazel menoleh ke arah Naruto dan lagi-lagi menghela nafasnya.
"Dia tidak puas akan Great War yang dulu dan ingin menciptakan Great War yang kedua". Ucapan Azazel membuat Naruto tercengang.
"Apa dia gila?? Sepertinya harus ada yang menghentikannya". Ujar Naruto.
Azazel melirik ke arah Naruto kemudian menatap pancingnya yang tergeletak di tanah. "Biarkan muridku sendiri yang menghentikannya". Azazel mengatakan itu dengan nada rendahnya.
"Murid? Maksudmu Vali si Hakuryoukou". Azazel mengangguk mendengar pertanyaan Naruto.
"Yah baiklah kalau begitu, jadi aku tidak perlu ikut campur lagi". Naruto bersyukur tidak akan repot-repot membereskan Kokabiel.
Azazel terkekeh pelan dengan perkataan Naruto, dia mengambil pancingnya dan bersiap untuk memancing kembali.
"Jika begitu aku kembali dulu Azazel". Naruto mulai melangkah pergi meninggalkan danau itu.
Sudah tertebak pelaku pencurian Excalibur yang ternyata Kokabiel, Naruto berterima kasih pada Azazel yang dengan baik hatinya tidak menyuruhnya untuk menghentikan Kokabiel. Dengan begitu dia bisa bersantai di rumah dengan tenang.
Naruto berjalan menuju ke arah rumahnya. Dengan santai ia melewati taman yang banyak akan pasangan-pasangan muda.
Naruto juga melihat Issei dengan seluruh anggota ilmu penelitian gaib, tampak Issei sedang dipeluk oleh Rias, Akeno, dan Asia yang saling berebut. Sedangkan Kiba hanya tersenyum melihatnya dan Koneko menatapnya dengan datar.
Naruto tidak ingin menganggu acara mereka dan berlalu pergi meninggalkan taman.
Naruto melangkah kakinya di sebuah kedai ramen yang ada di Kuoh. Dia masuk ke dalam dan duduk di bangku yang telah disediakan.
"Jii-san, ramen porsi jumbo satu". Naruto mengucapkan itu pada pemilik kedai ramen.
Kebetulan kedai ini sedang sepi pelanggan jadi Naruto tidak perlu menunggu lama pesanannya datang.
"Silahkan dinikmati anak muda". Ucap paman itu dan kembali ke dapur.
Belum lima menit pesanan Naruto sudah datang. Naruto mengambil sumpit kemudian mematahkannya menjadi dua bagian dan mulai menyantap ramennya.
Skip_
"Jii-san uangnya kutaruh di atas meja". Teriak Naruto pada pemilik kedai.
Naruto keluar dari kedai. Dia tampak bingung ingin kemana lagi sekarang, lantas dia memutuskan untuk kembali ke rumah.
Hari sudah sore, gadis bersurai biru itu membuka matanya, tampak pelipisnya terdapat plester yang menempel. Xenovia memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Akhirnya kau bangun Xenovia". Kata suara itu yang membuat Xenovia menoleh.
Irina yang melihat Xenovia bangun mengecek keadaan tubuhnya. Dia sangat cemas dengan gadis bersurai biru itu.
"Irina? Apa yang terjadi?". Tanya Xenovia, setahunya ia pingsan melawan Freed.
Irina mulai menceritakan saat Naruto datang menyelamatkan mereka kemudian membunuh Freed dan membawa Xenovia ke rumah sekaligus mengobatinya.
Xenovia yang mendengar cerita Irina menundukkan kepalanya, dia sedih karena masih lemah dan perlu bantuan Naruto dalam misinya. Xenovia merasa jika dirinya adalah Exorcist yang gagal.
Irina yang melihat Xenovia menundukkan kepalanya ikut sedih.
"Sudahlah...Kau kuat Xenovia, jangan sedih karena kita gagal menjalankan misi". Hibur Irina.
Xenovia masih memasang ekspresi sedihnya, Dia tidak menggubris perkataan sahabatnya. Entahlah Xenovia tidak mengerti kenapa dia lemah, hanya karena hal kecil dia menjadi cengeng seperti ini.
"Aku...". Xenovia menghentikan kalimatnya.
"Jangan bersedih begitu, Aku selalu bersamamu kau tahu". Naruto datang tiba-tiba dan mengucapkan itu.
"Naruto-kun". Xenovia mendongakkan kepalanya melihat ke arah Naruto.
"Kau kuat, hanya saja misi ini terlalu sulit untuk kau hadapi. Aku juga bingung dengan pihak gereja kenapa dari semua Exorcist terbaik mereka mengirim kalian". Ucap Naruto.
Xenovia menggigit bibir bawahnya, "Itu semua karena permintaanku, Aku mengajukan diri dengan Irina supaya di kirim kemari". Xenovia berujar dengan pelan.
Naruto mengerutkan keningnya, "Mengapa kau ingin menjalankan misi ini Via-chan?". Tanya Naruto membuat Xenovia ragu menatapnya.
"I-itu...". Xenovia bingung ingin menjawab apa.
Naruto menghela nafas melihat Xenovia tampak bingung. Begitupun juga Irina yang tidak bisa membantu Xenovia menjawab pertanyaan Naruto.
"Hah...itu tidak penting, yang terpenting Kau sudah selamat dan jangan pikirkan misi itu biarkan aku yang menyelesaikannya". Naruto berujar kemudian berjalan keluar kamar dan berhenti di gagang pintu.
"Oh ya...yang mencuri Excalibur adalah salah satu jenderal Malaikat Jatuh, untuk itu mengapa Aku mengambil misi kalian". Naruto segera pergi dari kamar itu.
Xenovia dan Irina tampak mengerti dengan ucapan Naruto barusan. Mereka memilih untuk diam daripada membuat Naruto tambah cemas.
~Keesokan harinya~
Naruto sedang duduk di gedung yang sangat tinggi. Dia sedang melihat Rias dan peeragenya serta Xenovia dan Irina tengah melawan Malaikat jatuh bersayap 5 pasang yaitu Kokabiel.
Mereka tampak kelelahan menghadapi Kokabiel, terbukti dari keringat dan luka yang ada di tubuh mereka.
"Kalian lemah, kukira kalian dapat menghiburku lebih dari ini". Ucap Kokabiel dengan tersenyum meremehkan.
"K-kau sialan.." Issei mengucapkan itu dengan kesal.
"Kau Sekiryuutei...Kau lemah sama seperti mereka". Kokabiel mengatakan itu membuat Issei tersulut emosinya.
"Balance Breaker : Welsh Dragon Scale Mail". Issei mulai terselimuti oleh armor naga berwarna merah.
"Kau hanya dapat menggunakan dalam 5 menit aibo". Ucap Draig di dalam tubuh Issei.
Naruto yang berada di atas gedung menatap Issei.
"Hooo...Dia sudah menguasai Balance Breakernya". Naruto nampak terpukau melihat Issei.
"Saaa, ayo tunjukkan kemampuanmu Issei". Kata Naruto entah pada siapa.
Issei dengan Balance Breakernya melesat ke arah Kokabiel. Dia mencoba memukul Kokabiel tapi dapat dihindari Kokabiel dengan mudah. Kokabiel menghilang dari hadapan Issei.
~Duak ~Boom
Kokabiel muncul di belakang Issei dan memukulnya hingga menabrak tanah dibawahnya. Issei dengan susah payah bangkit tidurannya.
"Kau sama saja, kukira kau akan menghiburku dengan seru". Kokabiel mengucapkan itu dengan tersenyum maniak.
"Kau tidak akan bisa mengalahkannya dengan serangan fisik aibo". Ucapan Draig membuat Issei terdiam.
"Bagaimana Aku mengalahkannya Draig?". Tanya Issei.
"Tidak pilihan lain...gunakan Maximum Blaster". Saran Draig membuat Issei terkejut.
"Tapi...jika Aku menggunakan itu". Issei tampak ragu
"Yang terpenting sekarang adalah mengalahkannya bukan". Draig mengatakan itu dan membuat Issei yakin.
Issei dengan Balance Breakernya yang aktif berdiri dengan tegak. Armor atas lengannya membentuk sebuah double Cannon. Issei memusatkan energinya pada Cannon yang berada di atas lengannya. Semakin lama energi merah terkumpul di Cannon itu.
"Dengan ini matilah". Issei menatap tajam di balik helm Balance Breakernya.
"Maximum Blaster : Great Cannon Ball".
~Wushh ~ Swinggg
Tembakan dari Cannon itu mengarah pada Kokabiel. Kokabiel yang melihat itu tidak tinggal diam, Dia mengaktifkan sihir pertahanan terkuatnya.
~Krak ~Pyar ~BLARR
Pertahanan itu retak kemudian pecah dan tembakan Issei mengenai telak ke tubuh Kokabiel. Ledakan besar pun terjadi disana.
Issei yang melihat itu tampak tersenyum, keberadaan Kokabiel sudah menghilang yang dalam artian lain mati.
Naruto yang melihat barusan apa yang terjadi tersenyum kecil.
"Yare-yare... Kau sudah semakin kuat Issei". Ucap Naruto.
Rias dengan lainnya yang melihat kemampuan Issei tampak terpukau. Issei berbalik dan tersenyum ke arah teman-temannya, tetapi tidak berlangsung lama Dia pingsan karena kehabisan energi.
Rias yang melihatnya segera berlari menuju Issei diikuti peeragenya serta Xenovia dan Irina. Rias tampak cemas dengan keadaan Issei.
Naruto melompat turun dari gedung yang tadi ia tempati kemudian berjalan menuju ke arah Issei.
"Biarkan aku memeriksa Issei". Suara Naruto membuat mereka menoleh ke arahnya.
"Naruto-kun". Ucap Rias dan Xenovia bersamaan.
Naruto mengecek keadaan Issei, "Dia hanya pingsan karena energinya habis". Ucap Naruto membuat mereka yang ada disana menghembuskan nafas lega.
"Yokatta...Issei-kun Kau..". Rias menghentikan perkataannya itu kemudian tersenyum.
"Aku terpukau dia telah semakin kuat". Naruto mengatakan kekagumannya.
Rias yang mendengar perkataan Naruto menoleh padanya, Rias melihat ke arah Issei. Entah mengapa Rias sangat kagum juga terhadap Issei.
"Dia melampaui batasannya seminggu ini, entahlah itu yang dikatakan Azazel padaku". Ujar Naruto.
"Souka...sepertinya Issei-kun akan menjadi Iblis terkuat di peerageku". Rias mengucapkan itu dengan bangga.
Naruto melirik Rias sebentar, dia hanya diam tak ingin menanggapi perkataan Rias.
"Sepertinya aku terlambat". Ucap sosok bersurai putih menggunakan sayap mekanik berwarna biru di punggungnya.
"Kau telat Vali, Kokabiel telah mati". Ucapan Naruto membuat Vali penasaran.
"Siapa yang mengalahkannya". Tanya Vali pada Naruto.
"Hyodou Issei sang Sekiryuutei jaman ini". Naruto mengatakan itu membuat Vali terkejut.
Vali menatap ke arah Issei, "Dia semakin kuat, yah setidaknya dia tidak terlalu mengecewakan ". Ujar Vali kemudian terbang pergi menggunakan sayapnya.
Sona dan peeragenya tiba di tempat pertempuran itu.
"Rias apa kau baik-baik saja?". Sona menanyakan keadaan Rias.
"Aku tidak papa, untuk Kokabiel... Issei-kun berhasil mengalahkannya". Ucap Rias membuat Sona terkejut.
"Begitukah... Kau beruntung memiliki Issei di peeragemu Rias". Ucap Sona sambil membenarkan kacamatanya.
"Yah begitulah". Rias tersenyum melihat ke arah Issei yang sedang pingsan.
"Kau tampak senang Rias". Sona mengatakan itu dengan datar. Sedangkan Rias tidak membalas perkataan Sona .
Skip_
Seminggu sudah pertempuran Issei dengan Kokabiel. Hari ini Naruto dengan Xenovia sedang di ruang Klub Penelitian Ilmu Gaib karena undangan Rias.
"Ehem maaf mengundang kalian dengan tiba-tiba". Ucap Rias.
Naruto melirik Rias, "Tidak papa, memang ada apa Rias?". Tanya Naruto.
"Aku akan memperkenalkan peerage baruku". Ucapan Rias membuat Naruto dan Xenovia bahkan yang ada disana terkejut.
"Ara~ siapa orangnya Bochou? Kenapa aku tidak tahu hal itu". Akeno tampak penasaran dengan budak baru Rias.
Rias mempersilahkan seseorang masuk, dan tampak gadis bersurai cokelat diikat twintails. Semua yang ada disana terkejut minus Rias.
"IRINA". Teriak Mereka.
"Ah perkenalkan aku Irina Shidou, aku mengonsumsi bidak Knight". Irina mengatakan itu dengan gugup.
"Naruto-senpai, maafkan aku jika aku memilih jalan ini". Naruto yang mendengar perkataan Irina tersenyum maklum.
"Tidak masalah asalkan Kau tidak menyesal dengan jalan yang Kau pilih". Ujar Naruto membuat Irina senang.
"Xenovia". Irina melirik ke arah Xenovia yang masih diam.
"Hm, tidak papa". Ucap Xenovia.
Irina tersenyum kemudian memeluk Xenovia. "Arigatou". Irina mengucapkan itu sambil terus memeluk Xenovia.
~To be Continued~
Hai-Hai bertemu lagi dengan author gaje ini :v
saya tukar posisi Xenovia yang ada di canon dengan Irina. Xenovia dan Naruto akan terus menjadi manusia.
Saya juga akan konsentrasi ke 1 fic dulu, reader bisa menyarankan saya agar konsentrasi di fic mana.
Untuk yang sudah like dan review author mengucapkan banyak terimakasih.
Bagi author kalian adalah penyemangat saya untuk menulis fic.
Oke mungkin segitu dulu dari author, jika ada yang kurang atau salah ketik bisa komen di review pasti author baca kok.
Daaa di next chap.
...Log Out...
