Banyak hal yang harus Baekhyun tahu dan pelajari mengenai Park Chanyeol. Ahjusi yang menurutnya mesum dan seperti tiang pemancar ini, bukanlah tipe pria yang bisa diajak main tendang-tendangan sembarangan. Salah memperhitungkan langkah kakinya, nasibnya bisa berada dalam bahaya. Kalau pun posisi mereka sekarang bisa disebut 'dalam bahaya', tapi menurut Baekhyun begitulah kejadiannya, karena selain kakinya yang melingkar dengan sendirinya dipinggang pria itu, tangan si ahjusi ini pun juga sudah bermain sangat jauh ke bagian bawah pinggulnya, turun sedikit saja, maka bokongnya akan disentuh oleh jari-jari besar yang dia yakini penuh dosa itu.
Oh, ini bukanlah sesuatu yang harusnya diperdebatkan lebih jauh. Dia hanya perlu menikmati kondisinya yang sedang tidak beruntung dan merasa perlu sedikit waspada karena menemukan pria yang tidak kelihatan takut dengan kemampuan hapkido-nya.
Seharusnya Baekhyun berteriak meminta pertolongan ketika dia menangkap aura tidak menyenangkan datang dari tatapan si ahjusi, tapi yang dia lakukan justru menghantamkan kepalanya dengan sangat kuat kearah wajah yang dengan kurang ajarnya sudah berani melumat bibirnya yang sedang sariawan.
"AAKKK!" Chanyeol memegangi tulang sinus diarea dahinya yang mendapat pukulan keras dari kepala Baekhyun, secara otomatis tubuh bocah itu limbung ketika Chanyeol melepaskan rengkuhan disekitar pinggulnya demi mengelus tulang dahinya yang berdenyut. "Apa yang kau lakukan? Kau hampir saja membuat tempurung kepalaku retak!"
"Seharusnya yang marah adalah aku! Ahjusi menciumku sembarangan! Aku sedang sariawan! Memangnya ahjusi pikir aku tidak kesakitan!"
Chanyeol melongo. Sariawan katanya? Jadi dia gagal memperawani bibir anak itu hanya karena sedang sariawan? Tuhan, lelucon sialan macam apa ini? Ingin sekali rasanya dia menghentakkan piston kearah pompa injection agar mengalami turbulensi kencang yang dapat mengguncang semua sistem motorik dalam kepalanya.
Sariawan; kenapa kata sial itu terdengar seperti Baekhyun tengah mengejeknya sambil melakukan tarian salsa di pantai? Hal terakhir yang sempat terpikirkan oleh Chanyeol untuk dapat menggagalkan aksi terselubungnya itu adalah; Sehun yang datang tiba-tiba seperti pahlawan kesiangan dan menghentikan perbuatannya yang lancang. Itu pun benar-benar hal paling tidak mungkin yang sempat dia pikirkan karena terdengar sangat konyol. Tapi ternyata ada yang lebih konyol dari itu.
Sariawan. Hah. Sialan.
Haruskah dia merayakan ironi ini dengan sebotol cilsung soda nanti?
Chanyeol sebisa mungkin menahan ekspresi wajahnya agar terlihat wajar dan meraih tubuh bocah itu, dia lalu mengangkat Baekhyun naik keatas drum besi yang ada dibelakangnya kemudian mendudukkan bocah itu disana. Jika dilihat-lihat, sepertinya tinggi Baekhyun hanya berkisar 150 senti atau baru akan menginjak 160 lebih rendah dari itu. Untuk seukuran remaja lelaki berumur 18 tahun, wajah Baekhyun tergolong masih seperti anak-anak, dia kelihatan lebih muda dari usianya. Itu bisa terlihat dari pipinya yang masih belia, tidak ditumbuhi satu pun jerawat disana. Jika pun Baekhyun normal, diusianya sekarang yang sedang dipengaruhi oleh hormon yang berlebihan, dia seharusnya sudah memiliki beberapa jerawat di wajahnya.
Tubuhnya pun ringan, pikir Chanyeol. Sepertinya bocah ini lebih banyak mewarisi gen feminim daripada gen jantan seorang laki-laki. Chanyeol sedang tidak berlebihan. Lihat saja bagaimana jari-jari Baekhyun yang begitu lentik, seperti dia sering merawatnya. Jakunnya juga tidak ditemukan menonjol ditempat yang seharusnya, lehernya datar seperti leher wanita. Dan pinggulnya, Baekhyun memiliki pinggul yang bagus. Jika jakunnya tidak menonjol, justru pinggulnya lah yang diciptakan menggantikan kekurangan tersebut dengan bokong kencang yang berisi.
Chanyeol hampir saja berpikir bahwa Baekhyun adalah seorang anak perempuan jika saja dia tidak menyadari bahwa dada bocah itu rata seperti dadanya. Chanyeol juga tidak pernah mendapati Baekhyun memakai rok maupun itu sekali dalam hidupnya, dan suara Baekhyun terdengar lebih berat daripada suara khas anak perempuan.
Sejak mengenal bocah itu, Chanyeol tidak pernah menyangka bahwa dia berubah menjadi pedofil yang menggilai anak kecil seperti Baekhyun. Chanyeol memiliki ketertarikan secara seksual dan romance pada Baekhyun. Dia bahkan mengakui bahwa rasanya sangat menyenangkan bisa memiliki perasaan semacam ini pada anak laki-laki yang usianya bahkan cukup jauh dibawahnya. Chanyeol sering mengorbankan jam istirahatnya di bengkel dengan mengunjungi Byun Holly setiap jam makan siang berlangsung demi menguntit Baekhyun. Dia sadar perbuatannya itu membuatnya terlihat seperti pria cabul, tapi Chanyeol bersikeras mengatakan pada dirinya sendiri bahwa apa yang dilakukannya adalah perasaan alami dari dalam dirinya. Perasaan yang membuatnya selalu bertanya-tanya mengapa dia memiliki ketertarikan pada seorang anak laki-laki seusia Baekhyun. Dan setiap dia berhasil melihat bocah tersebut, pertanyaan-pertanyaan itu seperti telah terjawab dengan sendirinya.
Karena Baekhyun adalah jawabannya. Tidak ada yang lain.
"AHJUSI!"
Chanyeol tersentak. Halusinasi sialan ini lagi. Dia pasti kelihatan begitu idiot didepan Baekhyun, pada saat seperti ini masih sempat-sempatnya dia melamun sementara bocah yang dipikirkannya sudah berada dihadapannya dengan bibir yang mencebik kesal.
Ketika Baekhyun mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya, Chanyeol mengernyit tidak mengerti. "Apa yang kau lakukan?"
"Aku ingin lapor pada kak Tiffany karena ahjusi menciumku tadi." Katanya sambil menempelkan ponsel di telinganya yang memerah.
Mata Chanyeol membeliak dan buru-buru merampas ponsel itu dari pemiliknya. "Tidak usah ya? Tadi itu aku hanya terlalu gemas dan malah jadi lupa diri." Dia nyengir mengusahakan agar wajahnya tetap kelihatan tampan.
"KEMBALIKAN PONSELKU!"
"Janji dulu kalau kau tidak akan melapor pada siapapun? Kalau tidak patuh nanti kucium lagi, lho." Diam-diam Chanyeol menyembunyikan tawanya melihat reaksi terkejut di wajah bocah itu.
"Mana bisa seperti itu!"
"Bisa saja. Disini 'kan hanya ada kita berdua, tidak ada yang tahu apa yang akan kulakukan." Secara otomatis Chanyeol semakin memajukan wajahnya, memberikan ruang yang lebih intens bagi mereka untuk berdekatan. Tangannya yang kuat dia tumpukan pada tepi drum besi yang diduduki Baekhyun, sehingga menciptakan kesan intimidasi yang lebih dominan untuk mereka. Tubuh Baekhyun terasa tengah dipenjara diantara lengan-lengan Chanyeol yang dua kali lebih besar dari lengannya.
"Bagaimana? Ingin pulang dengan keadaan normal dan tenang atau pulang dengan berjalan kesusahan?"
Baekhyun tidak mengerti maksud dari perkataan ahjusi ini, tapi kalau dilihat dari bibirnya yang ditarik sebelah itu, Baekhyun dapat menyimpulkan bahwa hal tidak menyenangkan akan terjadi padanya jika dia tidak patuh.
Bocah itu meneguk liurnya susah payah sebelum menjawab, mungkin mengalah untuk kali ini tidak akan membuatnya merugi. "I-iya sudah, aku tidak akan melapor pada kak Tiffany."
"Pada Tiffany, Jessica dan semuanya. Kau tidak boleh melapor pada siapapun." Chanyeol menekankan sekali lagi.
Baekhyun memajukan bibir bawahnya merasa itu sangat tidak adil, dia sedang diancam atau apa sih?
"Kenapa diam saja? Mau kucium ya?"
"Ish tidak mau! Iya-iya aku tidak akan melapor pada siapapun." Bocah itu mendelik kesal padanya sembari bergumam, Huh dasar menyebalkan!
Chanyeol sudah tidak dapat menahan tawanya yang dia simpan sejak tadi, Baekhyun sampai memukul wajahnya untuk membuatnya diam. Tapi Chanyeol benar-benar tidak bisa berhenti, dia bahkan tidak percaya kalau bocah itu bisa dengan mudah dikerjai.
Kau memang keparat ulung, Park.
"Anak pintar." Dia mengusak rambut pink Baekhyun. "Lain kali kalau ingin membuatku gemas jangan keterlaluan seperti ini ya? Penisku sampai berdenyut."
Baekhyun terlonjak dan menutup mulutnya sendiri. Oh ya Tuhan, apakah seseorang boleh tercipta semesum ini?
"Jha, ayo kita obati sariawanmu." Dengan mudah Chanyeol berhasil membuat bocah itu naik keatas punggungnya.
"Memangnya ahjusi punya obatnya?" Tanyanya sinis, dia sempat menggeliat tidak nyaman dan minta diturunkan, tapi Chanyeol lagi-lagi mengancam akan menciumnya jika dia terus protes.
Ketahuilah, itu licik sekali.
"Aku biasanya menggunakan alkohol untuk mengobati bibirku yang berdarah jika kalah berkelahi. Coba saja, siapa tahu sariawanmu sembuh."
"Mama bilang aku belum boleh minum alkohol, nanti kalau aku mabuk bagaimana?"
Chanyeol tergelak mendengarnya. "Bukan alkohol yang itu. Alkohol yang kumaksud beda lagi."
Baekhyun hanya diam tidak mengerti. Apa mungkin dulu gurunya pernah menjelaskan jenis-jenis alkohol tapi dia tidak masuk sekolah?
Merasakan bocah itu hanya diam saja, Chanyeol dengan sejuta kemesumannya mulai melancarkan aksinya.
Kebetulan sekali 'kan tanganku sedang berada di bokongnya? Diremas sedikit tidak ada salahnya. Karena dia belum bereaksi bagaimana dengan dua kali remasan? Belum? Mungkin tiga kali? Ah, lima kali! Oohh ini menyenangkan.
"APA YANG AHJUSI LAKUKAN?!"
"Apa? Memangnya apa yang kulakukan?"
Keparat! Sialan! Bedebah! asdfghjklasdfghjkl!
Baekhyun berakhir menjambak rambut pria itu tanpa ampun. Rasakan kekejamanku, dasar mesum!
...
Ada beberapa lagi Chanyeol lain yang dia temui ketika mereka tiba di ruang pengobatan. Pria-pria itu memandanginya dengan penuh minat, Baekhyun pikir mungkin dia sudah mengambil keputusan yang salah dengan menyetujui untuk datang kemari dengan si ahjusi. Bahkan ada yang tanpa segan menjilat bibir saat melihati bokongnya, membuat Baekhyun ingin menendang wajah mereka semua. Sudah cukup Chanyeol saja yang membuatnya mati berdiri, dia tidak ingin ada Chanyeol-Chanyeol yang lain berada disekitarnya.
"Bodoh, lap itu liur di dagumu." Chanyeol menggeplak kepala salah satu rekannya, Bobby.
"Hoi Chanyeol, kenapa kau membawa video porno berjalan kemari kalau tidak ingin berbagi dengan kami?! Kau ini payah sekali."
"Maaf bung, dia asetku. Aku tidak membaginya dengan siapapun." Katanya menatap tidak suka pada celetukkan Gikwang.
"Adik manis, mau hyung tunjukkan sesuatu tidak? Besar, lho." Satu lagi pria tidak jelas memanggilnya, Baekhyun dapat melihat pria itu menarik resletingnya bersiap-siap menunjukkan sesuatu yang dia maksud.
"Tidak sudi!"
"Wow, kalian dengar itu? Dia menolakku." Pria itu memegangi sebelah dadanya sambil meringis berlebihan, seolah-olah harga dirinya baru saja dijatuhkan. Sontak saja kekonyolannya itu mengundang tawa dari teman-temannya yang lain. Sedangkan Chanyeol memilih untuk tidak ambil pusing dengan kelakuan montir-montir sinting ini, dia membawa Baekhyun duduk pada salah satu kursi yang dekat dengan buffet dan memastikan bocah itu aman dari jangkauan siapapun.
"Ini alkohol yang kumaksud." Chanyeol menunjukkan botol kecil berwarna putih gading yang tutupnya menyerupai obat tetes mata. Antiseptik, eh?
"Tidak berbahaya kan?"
Chanyeol tersenyum maklum, "Ini akan sedikit perih." Dia duduk diatas buffet kesayangan milik seniornya; Kim Joong kok, andaikan pria Kim itu tahu buffetnya sedang diduduki, bisa dipastikan Chanyeol akan dipaksa push up seratus kali kalau tidak ingin kakinya dibuat terkilir.
"Tidak mau." Baekhyun menutup mulutnya dengan kedua tangannya setelah mendengar bahwa rasanya akan perih. Kemarin Jessica dan Tiffany juga sudah memberikan antiseptik di bibirnya hingga kedua kakaknya itu harus rela tertendang karena Baekhyun begitu anarkis saat diobati.
"Ingin sembuh tidak?" Chanyeol bertanya seraya menaikkan satu alisnya.
"Apa itu benar-benar bisa menyembuhkan? Bagaimana kalau semakin parah dan bibirku melepuh?" Terlihat sekali Baekhyun sedang memutar-mutar pembicaraan mereka.
Hampir saja Chanyeol memutar matanya kalau dia tidak ingat betapa sensitifnya bocah ini dengan hal-hal yang berbau sarkatis. Ketika bersikap sangat manis saja Chanyeol masih suka dibentak, apalagi kalau berkata sinis seperti kebiasaannya pada teman-temannya? Bisa-bisa Baekhyun menganggapnya sebagai polusi.
"Ini hanya alkohol biasa. Bibirmu tidak akan melepuh, kecuali aku memberimu air baterai." Jawabnya terlampau cepat, bahkan tidak memberikan dirinya sendiri jeda untuk bernapas.
Baekhyun tidak ingat kapan terakhir kali dia bisa begitu percaya dengan ucapan seseorang, mungkin itu sudah sangat lama, jadi ketika Chanyeol menawarinya sebotol alkohol yang 'katanya' bisa menyembuhkan, itu membuatnya sulit untuk percaya.
Tapi kemudian, sekelebat ide jahat menyeruak di kepalanya, menari-nari bersama seribu satu jenis iblis yang berada di muka bumi. Meskipun Baekhyun tidak terlalu yakin apakah iblis itu berjenis-jenis.
"Ahjusi bisa menjaminnya?"
Alis Chanyeol kembali terangkat karena merasa pembicaraan mereka semakin bertele-tele, "Tentu saja."
Tapi dia tidak memperhitungkan satu pukulan mengenai sudut bibirnya. Cukup keras hingga dia merasa telinganya memanas karena menekan semua emosi dalam dirinya untuk tidak membalas perlakuan Baekhyun. Dia baru saja ditinju, oke? Dan itu sedikit merobek sudut bibirnya.
"Nah, sekarang teteskan alkohol itu pada luka ahjusi, dan kita lihat bagaimana dia bereaksi." Baekhyun bersidekap tak berdosa, seolah yang dilakukannya barusan hanyalah latihan dasar dalam beladiri.
Sungguh Chanyeol tak habis pikir. Diluar sosok mungil itu yang terlihat lemah dan butuh perlindungan, ternyata bersemayam keanarkisan yang sulit diprediksi akal sehat. Atau jangan-jangan, secara mengejutkan kedua kakaknya adalah orang dibalik semua ini—yang mengajari Baekhyun bertindak menyeramkan?
"Aku akan membantingmu keatas ranjangku suatu saat untuk menebus yang barusan." Chanyeol bergumam pelan tidak membiarkan Baekhyun mendengarnya.
Sementara itu pada waktu yang bersamaan, Baekhyun terkikik didalam pikirannya. Dua tanduk imajiner muncul diatas kepalanya.
Sehunie, aku sudah membalas si barbar ini dengan cara yang lebih kejam.
"Aku baru saja melihatmu menyeringai, kutebak itu bukan karena kau berhasil membalas dendam padaku untuk kekasihmu itu."
Bingo! Aku ketahuan. Apa dia bisa membaca pikiranku? Ahjusi ini? Atau itu hanya sebuah tebakan yang beruntung?
Ekspresi polos Baekhyun adalah kenyataan yang berbalikan dengan apa yang sedang dipikirkannya. Baekhyun tidak ingin pria di depannya ini curiga. "Aku tidak sedang menyeringai." Kilahnya. Merasa tindakannya ini sudah sangat benar.
"Tadi, sebelum wajahmu terheran-heran seperti saat ini." Chanyeol terkekeh, yang terlihat aneh karena seharusnya dia marah setelah bibirnya ditinju.
"Sudahlah, aku ingin pulang sekarang." Putusnya dan menarik dirinya untuk berdiri.
"Kau tidak bisa pulang tanpa diobati terlebih dahulu—"
"Dan sejujurnya aku tidak ingin ahjusi mengobatiku, sejauh ini yang kulihat ahjusi hanya memodusiku saja." Katanya final, tidak memberikan ruang untuk Chanyeol membela dirinya karena setelah kalimat itu berakhir dia telah menjajakan kakinya untuk meninggalkan tempat ini.
Baekhyun menggerutu macam-macam ketika beberapa tangan sialan milik montir-montir di ruang pengobatan menampar bokongnya, dia memaki mereka yang malah tertawa melihat wajah kesalnya. Dia berteriak 'Bangsat' kepada mereka semua dan berharap wajahnya bisa terlihat seperti Hulk agar mereka takut padanya, tapi apa yang dia terima justru 'Anak manis yang hot'. Ugh, ketahuilah itu menyebalkan sekali.
Belum sempat Baekhyun bernapas dengan tenang pasca pelecehan yang diterimanya, saat akan keluar dari ruangan itu tubuhnya justru sudah diangkat seseorang dan dia terlampau terkejut untuk menyadari bahwa Chanyeol membopongnya seperti karung beras. "Aku tidak akan membiarkanmu pulang sendiri, manis."
"LEPASKAN AKU! KEPARAT KAU!" Baekhyun memukul punggung telanjang pria itu dengan bringas.
Chanyeol hanya tersenyum menang menikmati penyiksaannya yang manis seraya mencuri-curi kesempatan menampar bokong bocah itu dengan gemas. "Dasar anak nakal."
.
.
.
Pertanyaan panjang dan beruntun yang dilontarkan mamanya bukan lagi hal yang patut Baekhyun khawatirkan. Sebelum mencapai pintu rumahnya dia sudah memikirkan enam ribu sembilan ratus enam puluh sembilan tips untuk membalas Park Chanyeol dengan cara yang lebih keji dari ini.
Kenapa bajumu kotor?
Apa itu yang ada di rambutmu?
Apa-apaan oli di wajahmu itu?
Jessica dan Tiffany tidak menyuruhmu membenarkan kompor restaurant mereka, bukan?
Apa kau berkelahi dengan Kyungsoo?
Kenapa kau malah cemberut?
Hei, mama sedang bicara denganmu Baekki!
Bisakah setelah sebagian hari yang dilaluinya dengan penuh kesialan, mamanya tidak menambah daftar kekesalannya? Kenapa wanita bisa begitu sangat cerewet?
Baekhyun mendengus sebelum meminum susu strawberry-nya didalam kulkas, bahkan mamanya mengikutinya sampai ke dapur. Entah dia harus merasa beruntung atau sial karena memiliki keluarga yang sangat protective padanya melebihi apapun.
"Tanyakan saja pada anaknya paman Choi, dia yang membuatku jadi seperti ini." Mungkin Baekhyun kekanakkan karena dia baru saja menjadi pengadu, tapi berbohong pun bukan pilihan yang baik. Bisa dipastikan mamanya akan menanyainya macam-macam. Kenapa bisa begitu. Kenapa bisa begini.
Baekhyun sudah sangat hafal bagaimana mamanya.
"Siapa? Seunghyun? Buat ulah apalagi dia?" Terlihat sekali sang mama sudah siap untuk mencincang pria itu dengan pisau dapurnya kalau saja Baekhyun tidak segera menjawab.
"Bukan kak Seunghyun, tapi ahjusi-ahjusi yang suka menggangguku di Restaurant-nya kakak." Baekhyun bersungut-sungut tidak ingin menyebutkan nama pelakunya.
"Maksudmu Chanyeol? Bukannya dia itu anak baik?"
Oh please. Baekhyun memutar matanya.
"Tunggu sampai mama tahu seberapa menyebalkannya dia." Si mesum itu bahkan menciumku dan melecehkan bokongku berkali-kali. Tanpa sadar Baekhyun meremas kotak susunya sebelum akhirnya benda malang itu masuk ke tempat sampah. "Sudahlah aku ingin mandi."
Meninggalkan sang mama yang masih terbengong-bengong dengan banyak pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya.
Baekhyun tahu kesan pertama yang berhasil diciptakan ahjusi itu pada keluarganya, bahkan mamanya sampai menganggap Chanyeol sebagai pahlawan Petty, Jessica juga pernah bilang dia pemuda yang sopan.
Oh bagus, Baekhyun sampai berpikir dia akan kelihatan jahat jika menjelek-jelekkan ahjusi itu dihadapan keluarganya. Yang harus dilakukannya saat ini hanya memikirkan bagaimana caranya dia akan membalas Chanyeol lalu mereka tidak akan bertemu lagi selamanya.
Malam beranjak naik ketika kedua kakaknya pulang membawa serta beberapa saudara mereka yang tinggal di Busan untuk merayakan natal bersama-sama. Tak lupa kedua kakaknya itu menjahilinya seperti kegiatan rutin mereka, lalu dilanjutkan dengan Baekhyun yang akan mengejar mereka sampai kedua wanita usil itu menghilang masuk ke kamar mereka masing-masing.
Ah, satu lagi, natal tahun ini dilaluinya dengan banyak kesialan. Sepertinya dia harus merayakannya dengan menendang apapun untuk melampiaskan kekesalannya kali ini.
"Hei, ada yang ingin bertemu denganmu tuh diluar." Jessica menyenggol bahunya ketika dia sedang membuka kado natal yang paling besar dari paman Jung.
"Siapa? Kyungsoo?"
Tapi, mau apa sahabat pendeknya itu kemari, pikirnya. Kyungsoo bahkan bukan jenis teman yang mau repot-repot datang ke rumahnya di malam natal agar dibilang romantis, dia lebih suka bermain dengan anjing buldognya; Kang Woo, dan membawa hewan itu bermain di Han untuk melihat festival natal disana.
"Bukan Kyungsoo."
Tuhkan, apa kubilang.
"Minseok?"
Baekhyun sangat berharap bahwa itu adalah Minseok. Mereka tidak bertemu selama dua hari dan Baekhyun mulai merindukan sahabat pendiamnya itu.
"Bukan."
Haahhh.
Kemudian satu nama tanpa diduga muncul di kepalanya seperti cacing tanah yang memaksa minta dipikirkan. Park Chanyeol. Bagaimana jika yang berada diluar adalah pria itu? Gawat. Baekhyun bahkan belum memikirkan cara apa untuk balas dendam secepat ini. Dia harus sudah membalas ahjusi itu dengan cara paling sadis ketika mereka bertemu nanti.
Berpikir. Ayo otak, berpikirlah.
"Katanya sih, dia pacarmu."
Eeng?
Sehun?
Bukankah mereka sudah sepakat untuk menyembunyikan hubungan mereka dari keluarga masing-masing? Seharusnya jika Sehun ingin ketemu, mereka bisa bertemu diluar seperti biasa. Kenapa pacarnya itu justru mendatanginya ke rumah?
Double gawat. Mamanya tidak boleh sampai tahu kalau Baekhyun menjalin hubungan dengan anak seorang koruptor. Bisa-bisa mereka dipaksa putus saat ini juga.
Tanpa memikirkan Tiffany yang ditabraknya hingga kakaknya itu terjungkal ke lantai, Baekhyun sudah melesat seperti peluru menuju pintu utama rumahnya.
"Hya! Byun Baekhyun awas kau!"
...
"Oh jadi begitu, bibi pikir dia berkelahi. Tapi tumben sekali dia ingin main ke bengkelmu."
Baekhyun menggeram seperti seekor singa ketika dia akan mencapai pintu, mamanya sudah lebih dulu berada disana dan terlihat akrab dengan ahjusi yang sangat ingin dikirimnya ke neraka itu.
Membuat suatu kelicikan lain dengan mengarang cerita? Dan melibatkan Jessica untuk membohonginya? Pacarnya katanya? Oh bagus sekali. Baekhyun tidak bisa menahan dirinya lagi untuk menerkam ahjusi itu sekarang juga kalau saja mamanya tidak berbalik dan menyadari kehadirannya.
"Kau sudah disini rupanya. Chanyeol sudah menceritakan semuanya pada mama, kau seharusnya tidak berlebihan begitu sampai marah padanya, dia 'kan hanya ingin mengobati sariawanmu saja."
Melihat senyum pria itu yang terlempar untuknya, senyum sialan itu, senyum kemenangan itu, membuat Baekhyun mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih—demi menahan dirinya untuk tidak berteriak kearah wajah mamanya dan mengatakan bahwa; sebagian cerita sudah dikarang oleh si keparat ini, mama jangan percaya padanya karena cerita sebenarnya lebih menyakitkan dari itu. Tapi yang ada lidahnya malah dia gigit saking pengecutnya dia. Bagaimana nanti kalau Chanyeol kembali membela diri dan mengatakan kalau Baekhyun datang ke bengkel untuk membalas perbuatannya terhadap Sehun? Bagaimana nanti kalau mamanya malah bertanya siapa itu Sehun?
Aargghh. Chanyeol bisa merasa diatas angin jika pria itu mengetahui rahasia kartu As nya. Selama ini Jessica dan Tiffany hanya tahu Sehun adalah anak kuliahan biasa yang menjadi teman Baekhyun. Tidak lebih.
"Tidak baik lho jika saling bermusuhan di hari natal seperti ini, cepatlah berbaikan."
Baekhyun ingin menangis rasanya ketika sang mama tidak mengerti dengan penderitaannya. Apa susahnya menebak wajah cemberut-kusut-kesalnya ini? Kenapa wanita itu justru masuk kedalam rumah dan meninggalkannya berdua dengan ahjusi tidak tahu diri ini. Entah Baekhyun harus menamainya dengan sebutan kejam apalagi, karena untuk disebut sebagai manusia saja Park Chanyeol sangat tidak pantas menurutnya.
"Hai selamat mal—"
"Aku tidak butuh kau beri salam!" Ketusnya tidak ingin terlihat baik.
"Baiklah, aku minta maaf soal kejadian di bengkel tadi. Aku tahu itu sangat keterlaluan." Chanyeol tidak berbohong dengan ucapannya, dia benar-benar tulus untuk minta maaf dan menghabiskan berjam-jam latihan di kamarnya agar terlihat layak saat mereka bertemu.
"Bermimpi saja aku ingin memaafkanmu. Jangan ahjusi pikir mama dan kakakku baik lantas aku juga akan berubah menjadi baik tiba-tiba. Hah, tidak akan." Omelannya terdengar sangat sentimentil. Mungkin jika dia seorang wanita, Chanyeol akan menebak kalau bocah itu sedang menstruasi.
"Ini rumahku, itu artinya ini adalah wilayah kekuasaanku. Aku boleh saja terlihat lemah saat di bengkel, tapi aku bisa sangat menyeramkan jika sudah berada di tempatku."
Lihat betapa sangat kekanakkannya Baekhyun.
Chanyeol dengan kurang ajarnya mengabaikan kekesalan anak itu dan justru tertawa. Dia tidak mendapati ada yang lucu dari perkataan Baekhyun, tapi wajah imut bocah itu yang dibuat-buat kesal justru terlihat sangat kocak.
"Kau sedang marah apa sedang menakut-nakuti nyamuk?"
Baekhyun merasa sangat terhina. Di sekolahnya, guru Kang; pelatih Hapkido-nya bahkan sangat sayang padanya karena Baekhyun merupakan murid yang cepat mahir dalam menguasai ilmu bela diri. Dan sekarang, seorang pria jelek yang bukan siapa-siapa justru menghinanya?
Gghrrrrr. Singa, harimau, serigala dan semua jenis hewan buas merasukinya kemudian bersemayam di tubuhnya secara magis. Tiba-tiba dia merasa ingin mencabik-cabik tubuh pria itu hingga darahnya muncrat mengenai wajahnya. Mungkin itu akan terlihat lebih menarik daripada menyaksikan kecoa terbalik lalu mati.
"Sialan!" Satu tendangan tanpa aba-aba melesat dengan momentum yang cepat mengenai daerah kemaluan Chanyeol. Seringai Baekhyun terkembang sempurna mendapati pria itu begitu kesakitan dan tersiksa merasakan sesuatu yang paling tidak ingin dialaminya justru menyerang daerah pribadinya. Masa depannya.
"Sial Baek, dari semua bagian tubuhku, demi Tuhan, kenapa harus yang ini?" Keluhnya dengan wajah kesakitan dan suara yang tercekat.
"Itu lah tujuanku, ahjusi. That bass, ah?"
Mungkin jika ini bukan disekitar kompleks rumahnya, Chanyeol pastikan dia akan memperkosa bocah ini mengingat betapa kesalnya dia sekarang. Chanyeol menggigit bagian dalam bibir bawahnya sembari menggeram saat menarik lengan Baekhyun ketika bocah itu lengah dalam tawanya. Lalu membanting tubuh kecil itu ke lantai teras rumahnya, sebelum Baekhyun bahkan dapat bergerak, Chanyeol sudah kembali mengunci kaki anak itu dengan memiting pergerakannya menggunakan kedua kaki panjangnya dalam hitungan satu nanodetik.
"Lihat, konsentrasimu bahkan cukup buruk. Jika kau berpikir ingin berkelahi denganku, maka kau menemukan lawan yang salah."
Baekhyun mencari-cari dimana keberadaan hewan buas yang merasuki tubuhnya beberapa saat yang lalu, kemana mereka semua menghilang? Dan kenapa tiba-tiba dia lupa bahkan untuk mengingat teknik dasar penyerangan yang sering guru Kang ajarkan padanya? Kenapa dia selalu membenci dirinya setiap kali merasa kalah dengan kekuatan pria ini? Apa sebenarnya tujuannya mempelajari bela diri selama ini jika menyerang saja dia tidak mampu? Hanya agar terlihat keren?
Sial, kenapa dia sangat tampan?
Bahkan mulutnya pun berkhianat dengan egonya.
"Menyingkir dari atas tubuhku sebelum aku berteriak." Baekhyun mengancam dengan suara rendah, dia sempat terkejut karena suaranya yang mendadak berubah menjadi serak.
"Jika kau ingin keluar denganku malam ini?" Chanyeol melakukan penawaran.
"Dan ahjusi berharap aku akan mengatakan, ya?" Dia mendengus.
"Sangat."
"Ini bukanlah cara yang elit untuk mengajak seseorang keluar, memitingku seperti ini?"
"Karena kau bertindak sangat berbeda dengan beberapa orang yang pernah kuajak kencan keluar, makanya aku harus melakukan ini. Karena kau berbeda."
"Tidak akan."
"Aku akan memaksa." Chanyeol mulai membuat jarak yang tipis diantara wajah mereka. Merasakan hangatnya nafas Baekhyun yang terbuang secara teratur dan sedikit gugup.
"Ke-kenapa aku harus takut jika dipaksa?" Tanyanya kentara sekali tengah tergagap.
Chanyeol menyeringai dan turun lebih ke bawah, mencapai telinga anak itu. "Karena kau tidak akan suka jika aku sudah memaksa."
...
Baekhyun meyakinkan dirinya bahwa dia sedang tidak waras sekarang.
Dia mulai menanyakan dimana keberadaan Sehun pada saat-saat paling dibutuhkan seperti ini. Seharusnya lelaki itu lah yang datang dan mengajaknya keluar untuk menyaksikan pertunjukan fireworks di langit Itaewon. Bukannya ahjusi disebelahnya ini yang sedang nyengir lebar menatap langit. Melihat cengirannya saja membuat Baekhyun mempertanyakan seberapa besar keidiotan senyumnya itu bekerja hingga mampu memenuhi seperempat bagian wajahnya.
Park Chanyeol. Pria yang sering melempar rayuan murahan untuknya.
Ketika pandangan mereka bertemu untuk momen paling membingungkan dan pertama kali terjadi, Baekhyun merasakan sesuatu berderak di hatinya. Menggeser nama Oh Sehun sedikit demi sedikit untuk menerima penghuni baru yang mengetuk-ngetuk pintu relungnya sejak lama, tapi terlalu urung dia terima karena satu alasan paling masuk akal.
Dia tidak mencintai pria ini.
Atau mungkin, belum.
.
.
.
—TBC—
.
.
.
A/n :
So guys what is it? What the shit I write? HAHAHAHA this is nonsense. *lame*
Aku merasa kualitas menulisku sangat sangat menurun belakangan ini. Semangat juga lagi jelek banget aggh. Ini mungkin karna aku malas ngerevisi diksinya dan lebih rajin berkutat sama deadline di tempat bimbel. Kabut asap hilang, aktivitas baru datang /tadaa say hello-for-my-unlucky-_-
Writer block is very very suck you know this well! Kayaknya aku butuh hiatus sampai tahun depan atau sampai aku yakin kalau tulisanku membaik atau sampai writer block ini hilang.
Aku benar-benar menghargai apresiasi kalian untuk ff ini walaupun aku gak pede sama beberapa bahasa slengeannya, tapi bro (re: brau) makasih banget karna kalian udah berusaha bilang ini bagus dan kalian niat banget ngehibur. Your review's really something.
More love for the loyal readers/reviewers ever :
Babypark94 | urichanbaekhunhan | Pupuputri | Hyurien92 | fjkdhsksbsb | Kiyomi381 | rilakkuchaan | ani oktavia 96 | wijayanti628 | chanmeeh | memomy | chan banana | AeriBee | seogogirl | rika maulina 94 | JoKykio | yousee | pinkpurple94 | keziaf | erocomizaki13 | WinnBaekwinn | CYBH | chanbaekssi | GitaPark | sunsehunee | Orielspy | anaals | SeiraCBHS | Baekkaebyeol614 | ChanSeHanee | Oh Grace | septhaca | neapolitana | littlechanbaek | deux22 | jondaelz | baekggu | See the light-B | nnsoynnlooin | HoshinoChanB | nur991fah | xomins | Vanilla92 | socloverqua | BLUEFIRE0805 | chocolabee | DoubleBae | pinkukumaaa | Lenaa Park | PexingYixing | ilasungkyu | CHANBAEK FOREVER | CYBH
Okay, sampe ketemu tahun depan? Atau Desember? Kita lihat nanti :') lafyaa efriwan~
-Silvie-
