PASTEL COLOR

Standard Disclaimer Applied

Warna pastel adalah awal dari semuanya. Warna gelap membuat tragedi dalam kehidupan mereka dan pastel color menjadi sebuah pilihan juga jalan hidup kedepannya.


Coincidence and Miscommunication

Jingga dan awan yang terurai tipis. Merah muda, warna lain yang terbias ketika jingga melewati tumpukan awan yang sedikit tebal. Angin ringan, bunga aster dan pohon berdaun rindang. Disana, di halaman belakang sekolah tiga orang perempuan duduk di atas rumput teki beralas selapis kain bercorak polkadot. Harum rosemary, mint berbaur dengan rasa renyah cookies vanila.

"Euh. Ada apa memanggil kami ke sini" Hinata terlihat kebingungan menerka nama dari seseorang yang tiba-tiba memintanya untuk duduk disini, menikmati secangkir teh dan camilan sore hari.

"Temari. Namaku Temari." Hinata mengangguk, sedangkan sakura duduk bersila dengan pandangan tertuju pada Temari.

"Ah iya, kepalaku sepertinya akan berlubang jika terus menerus kamu tatap seperti itu, nee. Sakura-san?" Sakura memutar pandanganya. Mendecih kemudian mengubah posisi duduknya, berselonjor dengan tumpuan kedua lengan yang terjulur sedikit ke belakang tubuhnya.

Jawaban pertanyaan hinata belum terutara, melainkan suara seruputan juga kunyahan yang dilakukan temari.

'TUK' suara yang timbul ketika cangkir diletakan pada piring kecil sebagai alas.

"Baiklah, karena sepertinya kalian tidak tertarik dengan sajian yang aku bawa. Aku akan mulai" Temari kemudian berdiri, dan memposisikan dirinya menunduk.

"Aku mau minta bantuan kalian. Kumohon bantu aku" Sakura yang awalnya menatap hamparan bunga dan hinata yang sebelumnya sibuk dengan remasan di kain roknya, mereka terpaku pada posisi temari sekarang.

"Kumohon jadilah temanku"

"Hah?"

"Eeeeh?"

Teriakan hinata dan sakura menggema bersamaan.

.

.

.

Jingga telah berganti kelabu ketika mereka memutuskan untuk pindah ke selasar terdekat. Suasana sedikit menakutkan jika tetap bertahan di sana. Ditambah rumor konyol yang menyebar bahwa di pohon rindang tak jauh dari mereka ada penunggunya. Beberapa orang bahkan katanya sudah pernah melihat dengan mata kepala mereka sendiri.

Posisi mereka bertiga sekarang berjongkok sembari menyandar pada tembok ruang klub basket. Tepat menghadap pohon rindang dengan daun yang perlahan berayun karena tertitup angin sore menuju malam.

"Bisa kamu jelaskan apa maksud ucapanmu tadi?" sakura memulai pembicaraan lagi

"Apa ucapanku tadi sulit dipahami? Kupikir aku mengatakannya dengan jelas hehe" temari yang berada di tengah, di antara hinata dan sakura, terseyum sedikit bodoh menatap sakura yang sedang menghadap pemandangan di depannya.

"Merepotkan" ucap sakura, dia menghela nafas kemudian berdiri segera.

"Jadi waktuku terbuang hanya karena alasan bodohmu itu? Hah?" wajah hinata dan temari menengadah melihat sakura yang sekarang melipat tangannya di dada

"Ano boleh aku menyela?" cicit hinata sembari membawanya berdiri di samping sakura.

"Mungkin kondisinya sedikit aneh." Cicit hinata pelan, sedikit terbata

"Maksudku, kamu mengenal kami sedangkan kami tidak mengenalmu. Dan tiba-tiba kamu mengajak kami kebelakang sekolah. Kemudian menunduk seperti tadi dan mengajak kami untuk jadi temanmu. Apa itu tidak aneh?" lanjutnya hinata lagi, dengan volume yang cukup bisa terdengar.

"dan rambutmu itu aneh sekali" Sakura tiba-tiba mengangkat tangan kanannya menunjuk ke arah kepala temari.

Temari yang sebelumnya menengadah memperhatikan Hinata juga Sakura, dia tertawa. Dia bahkan duduk sembari menekan perutnya.

"Ya tuhaaaan" temari mengusap air di sudutan matanya, dia tertawa terlalu berlebihan.

"Ya tuhaaaaaan" ujarnya lagi, kemudian berdiri, berjalan ke belakang hinata juga sakura.

"Kenapa kalian sangat mengejutkan." Lengan kiri temari sekarang berada di bahu hinata dan lengan kanannya menggantung di bahu sakura, dia merangkul mereka dari belakang. Senyumannya lebar dengan otot pipi yang tertarik menimbulkan guratan tipis di sudut mata temari.

"Apa kalian ingat ketika upacara penerimaan?" hinata dan sakura berbalik pada wajah temari berbarengan.

"Kamu sedang apa?"

"Kamu berbicara padaku"

"Iya"

"Aku sedang bersyukur pada tuhan. Karena aku bisa masuk sekolah ini"

"Berlebihan."

Suara temari berubah bersamaan setiap kalimat yang berganti, dia memeragakan kejadian ketika upacara penerimaan. Percakapan pertama kali antara hinata dan sakura.

Hinata dan sakura terlihat kaget tapi mereka tidak berniat menyela. Seperti tahu masih ada yang ingin di sampaikan temari setelahnya.

Temari tertawa lagi, kemudian terdiam, dan berdeham.

"Apa kalian tidak sadar? Aku berdiri di antara kalian saat itu."

"Aaaah si rambut kuning dengan kantung mata!" ujar mereka berbarengan, temari memberikan cengiran

"Aaaaah. Akhirnya kalian menyadarinya" terari melepas rangkulannya kemudian menggenggam tangan kanan hinata juga tangan kiri sakura.

Mengayun ke depan , ke belakang, temari sibuk dengan itu sekarang. Si empunya tangan masih terlihat bingung setelah mereka tahu siapa temari.

"Apa kalian tahu" ujar temari dengan kepala yang menunduk

"Kalian sangat manis" lanjutnya lagi

"Aku merasa kalian itu menarik." Hinata menarik tangannya dari genggaman temari

"Sorry, tapi aku masih belum mengerti" sakura menatap hinata yang perlahan menarik kedua telapak tangannya menuju dada.

"HINATA!" sakura setengah berteriak.

"Apa kamu ingin sendirian sampai upacara kelulusan?" lengan kanan sakura yang bebas menarik lengan hinata, menurunkannya dari posisi sebelumnya

"Apa kamu akan selalu bertingkah seperti itu?" temari tidak mengerti kondisinya sekarang. Sakura dan hinata, sepertinya ada sesuatu yang harus di selesaikan diantara mereka

"Ketika upacara penerimaan. Wajahmu berubah murung hanya karena aku mengatakan berlebihan. Apa kamu tahu, maksudku itu bukan padamu tapi pada 2 orang di belakangmu yang menangis saling berpelukan" hinata mendengarkan dengan baik setiap kata yang sakura ucapkan

"Dan ketika di kelas. Setelah menyapaku kau pergi begitu saja sembari menunduk. Aku bingung kenapa wajahmu selalu seperti itu." sakura menghela nafas

"Aku tahu kamu salah paham ketika upacara penerimaan. Lantas apa salahku ketika di kelas? Hah?

Ah mungkin kau ingin balas dendam karena kamu kesal padaku, begitu?

Atau..." sakura berhenti sejenak

"jangan bilang kau salah paham lagi?" dia mengatakannya dengan perlahan, sakura sepertinya menerka.

Hinata menggigit bibirnya. Ketika sakura menunggu jawaban hinata. Temari hanya diam mencerna semuanya.

'Sebenarnya apa yang terjadi'

Hal kecil ternyata bisa jadi pemicu sesuatu, pemicu beberapa pemikiran yang awalnya ditekan agar tak muncul, meluap begitu saja, seperti semburan air dari botol yang sedang di remas. Langit sudah gelap saat itu dan mereka masih di sana, membawa diri juga pemikiran mereka. Agar bisa saling mereka pahami. Agar hati mereka tidak berkabut, berganti uraian tipis jingga dan pink seperti warna sore ketika mereka berkumpul.

.

.

TBC


Author Note

Well perempuan sebenarnya memang sedikit rumit? atau rumit XD

Yah mungkin begini kasus simple dimana sebenernya setiap sisi sok tahu kemudian menganggapnya sebagai kebenaran diri. Gw gak nyalahin perempuan, karena gw juga perempuan, tapi emang seringnya begini kan? Hayo ngaku. Kesalahpahaman yang berujung rasa tidak enak dalam hati terus malah kesel sama orang tanpa sebab wkwkwk

Yowes, here it is. Thanks buat para reader, apalagi untuk reader yang follow, fav juga review therima kasih bgt *kecupsatu-satu

Semoga chatper ini gak mengecewakan hahaha

daaaan

RNR jangan lupa X)

See ya