Character:

Hendery x Xiaojun

dan karakter lain dari WayV, NCT, dan mungkin grup lain.

Mengandung:

BXB, highschool!AU, fluff

Disclaimer:

Karakter milik SM Entertainment, tetapi cerita murni milik author.

*

"Boleh aku jadi papanya?"

Dejun dan Yangyang terdiam hingga akhirnya si pria Jerman itu berbicara dengan senang, "Oh, ya, tentu. Kalian sangat cocok!"

Xiao Dejun menatap dua pria lainnya dengan ekspresi kesal. Hendery ini sepertinya diam-diam menghanyutkan. Dan Yangyang juga kenapa mengangguk-angguk saja pada perkataan si model tanpa berpikir. Jika si pria menjadi ayah dan dirinya menjadi ibu, otomatis mereka sepasang suami! Mana bisa seperti itu.

Lagipula, ini jokes khusus mereka yang ada di cafe sebagai selingan saat suntuk bekerja dan sepi pengunjung. Dejun sebagai ibu dan Yangyang sebagai anak bayinya walau bertubuh lebih tinggi. Lalu ada Mark yang berperan sebagai saudara Dejun dan Ten sebagai lintah darat yang suka menganggu ketentraman. Mereka bahkan memasukkan Yeri —pelanggan setia mereka— sebagai karakter nona muda tetangga yang hobi membantu. Ya, begitulah keanehan mereka di kala senggang.

"Orang asing tidak boleh ikut main."

Dejun melempar tatapan sedingin es pada Hendery. Model itu hanya diam dan berekspresi kosong mengerjapkan mata menatap si pelayan cafe. Yangyang tampak kecewa melihat situasinya. Lagi-lagi ia mulai mendalami karakternya, "Mama tidak boleh begitu, orang tampan seperti Hendery ini adalah pasangan yang pas untukmu."

Memang benar dugaan Dejun jika Yangyang penggemar berat Hendery!

Dejun memutar bola matanya malas.

"Hentikan main-mainnya, Yangyang, " matanya melirik ke arah kasir yang kosong kemudian berkata, "kenapa kau tidak jaga kasir saja?"

Yangyang melepaskan lengan Dejun dan memajukan bibirnya cemberut. Persis seperti anak-anak yang marah hanya karena tidak diberi permen. Pria itu kemudian berdiri dan mengembalikan kursinya ke tempat semula. Kemudian berdiri di samping Dejun dan menatapnya dengan tajam.

"Kenapa tidak kau saja? Tadi aku sudah bekerja, sekarang giliranku duduk di sini menemani Hendery."

Dengan alasan begitu, Dejun tak bisa menjawab lagi. Membuat Yangyang mendapatkan kemenangannya setelah checkmate itu. Sebenarnya, bisa saja dirinya membalas dengan alasan Hendery hanya ingin si Xiao, bukan yang lain. Sehingga ia tak harus bekerja dan cukup menuruti keinginan si tamu. Namun, itu alasan tak logis —kecuali Hendery mau bekerja sama dan meng-iya-kan statement itu. Kalaupun begitu, pasti adik kelasnya akan salah paham dan curiga ada hubungan antara mereka.

Dejun pun berkata, "Baiklah, kau dengan Yangyang saja, dia anak yang baik."

"Tidak perlu, aku sudah selesai dan akan pergi sekarang. Kalian bisa melanjutkan pekerjaan."

Wajah Yangyang langsung lesu karena tidak jadi berduaan dengan kakak kelasnya. Berbanding terbalik, raut Dejun justru tersenyum penuh kemenangan. Tamunya ini sepertinya memang pengertian dan peka. Karena dengan pergi, maka dua pelayan itu impas dan tak mendapat kesempatan—meski sedikit tak adil bagi si bocah Jerman. Pada akhirnya, Hendery berdiri, Dejun ikut berdiri. Pria berpakaian serba hitam itu membungkuk kecil pada mereka.

"Terima kasih. Semoga kita bertemu lagi, Mungil."

Dalam hati, Dejun merutuk. Faktanya, tinggi badannya hanya pada kisaran seratus tujuh puluhan sentimeter. Jika dibandingkan dengan rata-rata tinggi pria di Korea Selatan, jelas berbeda jauh. Hendery yang berasal dari Macau itu juga sedikit lebih tinggi. Namun, memanggilnya mungil itu sedikit tidak menyenangkan. Tapi, Dejun membiarkannya saja.

Seperti sebelumnya, Hendery tetap menatap Dejun sebelum dia tersenyum, mengenakan masker hitamnya kembali. Lalu menuju ke arah pintu dan menghilang di baliknya misterius. Meninggalkan kondisi cafe yang kembali seperti sempurna, kecuali mood Yangyang memburuk dan meja kotor di pojok tadi. Anak itu kini menatap Dejun dengan tatapan benar-benar tidak menyenangkan.

Memang menyebalkan!

Orang dapat menyimpulkan dengan jelas Yangyang adalah remaja labil. Sedikit menyenggol perasaannya maka dia akan memusuhimu selama beberapa waktu. Pada akhirnya dia akan sendiri mendatangimu jika dia butuh. Sedangkan Dejun yang hanya berbeda setahun bersikap sangat lain. Ia adalah remaja yang mulai menginjak kedewasaan dan lebih tenang —tak menutup fakta jika dirinya sendiri masih agak cengeng juga.

"Kau mau menatapku sampai kapan?" tanya Dejun.

Orang itu tidak membalas kemudian berlenggok menjauh menuju ke kasir. Tak mengindahkan pertanyaan Dejun sedikitpun. Pada akhirnya, si Xiao harus membersihkan meja tadi sendiri. Ya, ini memang pekerjaannya dan tadi si Liu Yangyang sudah bekerja, sedangkan dirinya malah menemani seorang pelanggan. Jadi, Dejun tidak merasa terlalu berat hati melaksanakannya.

Ia bersenandung dan merapikan mejanya.

"Aish, kalian bertengkar lagi? Sekarang karena seorang pria? Kenapa dia?"

Ten tiba-tiba muncul di samping meja dan membuatnya terkejut. Dejun pun langsung berhenti dan menatap si bos yang santai memainkan ponselnya. Pria Thailand itu pada dasarnya memiliki kekasih ada di Amerika dan mereka berhubungan jarak jauh lewat internet. Maka tak heran, saat berbicara pun, atensi utamanya terkunci ke layar. Membuat si pekerja merasa sedikit tidak dihargai, tapi karena 'bos selalu benar', Dejun tak bisa berbuat apa-apa. Dengan agak enggan dia menjelaskan situasi antara dirinya dan pelayan lainnya.

Dia hanya menjawab, "Biasa. Dia itu marah karena aku tadi menemani tamu tadi. Kebetulan tamu itu idolanya di sekolah. Sedangkan dia bekerja melayani tamu lain dan tak menyadarinya. Ketika dia sudah menghampiri kami, tamu ini malah pergi."

Ten menatapnya sebentar sambil memiringkan kepala, "Hendery menjadi populer ya?"

Xiao Dejun pun menyipitkan mata menatap bosnya dengan penuh selidik. Baru saja pria itu menyebut nama Hendery dengan sangat jelas. Padahal selama hampir setahun dirinya bekerja di sini, ini pertama kalinya pria itu kemari. Si pria asal Tiongkok itu sampai pada kesimpulan bahwa Ten mengenal Hendery sudah sejak lama.

Artinya dia bukan orang asing bagi bos.

Dan artinya juga, Hendery boleh saja masuk ke permainan mereka.

Dalam hati, Dejun merutuk. Berharap Yangyang tak tahu fakta bahwa bos mengenal si model. Jika sampai tahu, maka anak itu benar-benar akan memaksa Hendery masuk ke dunia fiksional mereka —sebagai ayah si Liu dan suami si Xiao. Lalu dirinya tak bisa melontarkan alasan penolakan. Jangan sampai itu terjadi karena Xiao Dejun masih belum siap mental untuk bermain peran bersama orang yang dia kenal sehari saja.

"Tunggu, kau kenal dia?"

"Saat cafe ini baru mulai dan hanya ada aku yang bekerja, dia sering kemari lalu menghilang begitu saja. Aku tak sadar itu dia, sampai dia pergi tadi. Anehnya, dia tak menyapaku," jelas Ten sambil tersenyum.

Pria itu mematikan ponselnya lalu duduk di meja yang sudah Dejun bersihkan. Ia menepuk meja itu, mengisyaratkan agar bawahannya menempatkan diri di sana. Ten melengkungkan kurvanya cerah dan itu tak seperti biasanya. Dejun langsung duduk di hadapannya sambil berpikir jika bosnya sedang dalam mood bagus —sampai melepaskan smartphone dan kekasih jarak jauhnya.

Ten tak bertutur kata.

Begitu pula dengan Dejun, ia membalas senyum bosnya tanpa tahu maknanya.

"Jadi—" ucapan si bos terputus.

"Jadi apa?"

"Kau tak ingin berbaikan dengannya?"

Pria itu menghela napas berat.

Hal mudah tapi penuh pengorbanan.

Bertengkar dengan anak itu selalu berujung dirinya yang mengalah. Ia akan menghampiri si Liu lalu meminta maaf. Egocentric, keras kepala, dan agak picik. Yangyang akan memanfaatkan momentum seperti itu untuk mendapatkan apa yang dia mau. Dengan ancaman tak diampuni, orang yang berhubungan dengannya akan dijadikan budak seharian. Dejun sudah berkecimpung beberapa lama dalam bidang 'membujuk Yangyang' dan tahu bagaimana sikap anak itu.

Benar-benar, tipikal remaja labil juga sadis.

Kadang lebih baik didiamkan saja.

"Akan kucoba," ujarnya dengan nada lelah.

"Baiklah, haruskah aku memanggilnya kemari untuk berunding denganmu?" tanya Ten. Dejun hanya mengangguk saja dengan patuh. Pria Thailand itu segera memanggil anak yang sedang duduk di kursi kasir itu, "Yangyang, tutup cafenya dan kemari!"

Pria Jerman itu segera menoleh dengan heran. Matanya masih menatap si Xiao agak kesal. Ia segera melangkah ke arah pintu masuk dan mengubah tulisan open menjadi close. Kakinya lalu membawanya ke arah Dejun dan Ten duduk berdua. Yangyang berdiri dengan bertumpu pada satu kaki saja, tangannya dilipat di depan dada —angkuh. Bibirnya dimanyunkan dan alisnya bersatu. Persis, seperti bocah yang sedang merajuk!

"Berhenti memasang wajah seperti itu," tegur Ten dengan senyum kecil hampir tertawa.

Dejun yang memperhatikan itu pun justru sengaja tertawa. Matanya melirik si rekan kerja dengan puas. Bukannya hilang, raut marah itu semakin kuat tercetak di wajah Yangyang. Dengan sengaja, Dejun berkata, "Kau tahu, merajuk seperti itu membuatmu kelihatan lucu, jadi berhentilah."

"Aku tidak merajuk."

TBC.