Who Am I?

Chapter 2

Jaejoong berjalan kearah bayangan itu dan…

.

.

.

.

"sedang apa kalian disini?"Tanya Jaejoong dengan lembut dan mensejajarkan dirinya kepada dua bocah itu. Bisa terlihat oleh Jaejoong jika salah satu dari mereka menangis sedangkan yang lain berusaha untuk menenangkannya.

"hiks… hiks… hiksssss.."

"ssshhh, uljima Minnie."bujuk bocah yang sedikit pendiam itu kepada adiknya yang memiliki tinggi lebih dari anak seumur dirinya.

Melihat itu, Jaejoong pun berinisiatif menarik lembut bocah yang dipanggil Minnie itu kepelukannya. Dengan sayang, ia mengelus-elus lembut kepalanya dan menelontarkan kata-kata bujukan kepadanya. Alhasil hal tersebut membuat si kakak merasa cemburu akan kasih sayang yang diberikan oleh Jaejoong kepada adiknya dan dia pun mengeluarkan aura suramnya. Jaejoong terkekeh, dia tahu jika si kakak merasakan iri. Oleh sebab itu, Jaejoong mengulurkan sebelah tangannya yang disambut baik oleh si kakak.

Melihat interaksi antara kedua keponak'annya dan yeoja yang baru saja dicintai itu, Yunho pun tersenyum. Dia… eh, tunggu? Yeoja? Yang baru saja dicintainya? Jaejoong? Ohh, sepertinya kini si tokoh utama kita akhirnya mengakui juga perasaan yang berdesir dihatinya tiap melihat yeoja cantik itu. dan dia juga merasa sedikit tenang karena si duo bocah itu 'sangat' menyayangi yeoja-nya. Mengingat betapa sulit sosialisasi kedua bocah itu terutama si kakak.

"mma… Bummie bogochippo, hiksss.."isak si kakak dipelukan Jaejoong. Jaejoong terkesiap, dia tidak menyangka jika si kakak juga ikutan menangis. Tapi, Jaejoong memakluminya karena setegar apapun mereka tetaplah seorang anak kecil yang haus akan kasih sayang.

"ne, kalau Bummie merindukan eomma, Bummie boleh kok menganggap Jae nonna sebagai eommanya Bummie dan Minnie."

"jeongmal?"

"euhm, tentu saja. Apasih yang tidak buat kalian?"

Bummie a. ka Kibum dan Minnie a. ka Changmin memeluk Jaejoong erat. Sungguh, sudah sangat lama mereka menginginkan ini. Pelukan dari sang eomma yang tidak pernah mereka rasakan. Dan hal itu membuat hati dingin sang beruang terenyuh.

"apakah tidak apa-apa Jae?"

"apanya Yun?"

"mereka…" tunjuk Yunho kepada Jaejoong.

"wae? Apa salahnya? Lagipula mereka sama denganku yang tidak mengenal siapa-siapa selain dirimu kan?"

Yunho terkesiap, bagaimana bisa yeoja ini mengetahui jika ia tidak pernah mengenalkan siapapun kepada kedua bocah itu. jangankan orang, untuk mengenalkan mereka kepada dunia luar saja Yunho takut. Tapi, ditepisnya jauh-jauh pemikiran negative tersebut. Yunho kembali menatap Jaejoong dengan senyuman.

"geurae, jika Boojae nonna adalah umma kalian maka mulai sekarang aku adalah appa kalian."putus Yunho.

Kibum dan Changmin yang mendengar itu langsung menerjang tubuh Yunho. Karena tidak bisa menahan beban berat yang tiba-tiba menimpanya, Yunho dan kedua bocah itu terjatuh berguling-guling dibawah lantai. Jaejoong hanya menggeleng-gelengkan kepalanya menatap acara lovely-dovey antara paman dan keponak'annya tersebut. Akhirnya Jaejoong memutuskan untuk beranjak dari sana dan menyiapkan sarapan pagi untuk orang orang yang menyembunyikannya. Ya, menyembunyikannya.

Yunho tak melihat ada senyuman lain dibalik wajah Jaejoong. Dia terlalu sibuk bermain dengan keponak'annya itu. jujur, setelah satu tahun lamanya, baru kali ini Yunho berinteraksi seakrab ini dengan Kibum dan Changmin. Selain urusan pekerjaannya, sifat Yunho yang agak dingin dan sulit untuk berinteraksi membuat kedua hubungan mereka agak sedikit merenggang. Dan untuk itu, sekali lagi Yunho bersyukur memungut(?) Jaejoong didepan rumahnya.

Jaejoong menatap ketiga orang tersebut dengan wajah yang bersalah, dia benar-benar ingin menangis mengingat betapa besarnya dosa yang ia lakukan kepada mereka. Tapi ia tidak menyesal melakukannya. Dan ia besyukur dapat terdampar dikeluarga yang seperti ini. Jaejoong tersenyum miris melihat senyuman Yunho.

"sekali lagi aku benar-benar minta maaf, Bear."lirih yeoja cantik itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"masih berani kau menempatkan wajahmu kehadapanku Kim Hankyung setelah apa yang kau perbuat kepada anakku?" desis namja paruh baya itu tajam.

Hankyung yang ditatap seperti itu menghela nafas, dia menangkupkan kedua wajahnya ke meja seakan-akan dia tidak mendengar sindiran dari mantan besannya itu, Choi Seung Hyun.

"hiks… istriku mengusirku dan Jonggieku menghilang. Apa yang harus kulakukan sekarang hyung? Bahkan untuk makan saja aku begitu sulit karena memikirkan keluargaku itu."rengek Hankyung.

Mendengar ucapan dari teman lamanya itu membuat Seung Hyun menghela nafasnya juga, tapi lebih berat. Dia sudah terbiasa akan sikap seenaknya dari temannya itu. Bahkan, dia juga sedikit ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada istri dan anak temannya itu. Semoga saja dengan adanya kejadian ini, sifat childish presdir Kim itu menghilang dari dunia peradaban.

"amin."lirih Seung Hyung.

"kau mengucapkan sesuatu hyung?"

"aku sedang berdoa besar, pabbo." Ketus Seunghyun.

Dahi Hankyung mengkerut, "dimana anakmu?" Tanya Hankyung yang memutuskan untuk tidak peduli.

"hhh, sepertinya anak itu merasakan depresi berat. Tahu sendirilah betapa besar dia mengagumi anakmu itu Han-ah."

"iuhhh, berhentilah memanggilku begitu, hyung. Aku terlihat seperti uke-mu saja jika dipanggil seperti itu. itu nama perempuan."

Oh, betapa inginnya namja tampan paruh baya itu menjedotkan kepala namja didepannya itu ke dinding terdekat. Kedutan di kepalanya itu membuktikan betapa kesalnya ia pada sifat temannya itu.

" siapa pula yang mau menjadikanmu uke-ku? Bahkan jiyongie-ku saja jauh lebih sexy dan manis dibandingkan denganmu."

"cih, namja itu saja yang rugi mendapatkanmu hyung. Kau itu pervert."

"mwo? Yak, kau yang lebih pervert dariku Han-ah. Bisa kupastikan jika tiap malam kau selalu meminta jatah pada istrimu yang cantik itu."

"enak saja kau berbicara. Aku tahu hyung sifat sadistisme yang kau anut. Bisa kupastikan jika kau sering melakukan BDSM kepada namjamu yang manis itu."

"tapi setidaknya lebih baik daripada nafsumu yang besar itu. pasti kau meminta jatah dari malam hingga pagi tiba kan?"

"alahhh, gak seberapa dibandingkan denganmu hyung yang suka memakai toys yang tidak kira-kira itu." ujar Hankyung sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke muka Seung hyung.

Tanpa mereka sadari, jika pembicaraan tidak senonoh mereka didengar sangat amat jelas oleh namja tampan yang memiliki bibir joker dan orang yang dibawanya. Namja yang bernama lengkap Choi Siwon itu menatap appa dan mantan mertuanya itu cengo.

"ehm, appa, ahjussi.. sebaiknya kalian harus menghentikan pembicaraan bodoh kalian itu." ingat Siwon sambil berdehem.

Sesungguhnya, dia tahu kebiasaan yang sering dilakukan oleh kedua orang yang diam-diam dikaguminya itu jika bertemu, berbicara hal yang pervert dan merusuh. Dan dia tidak mempermasalahkannya karena tak jarang juga dia ikut dalam pembicaraan tersebut. Masalahnya, kini dia sedang membawa seseorang yang sangat penting bagi perusahaan miliknya dan presdir Kim tersebut, mau dikemanakan mukanya jika melihat kedua orang yang salah satunya adalah appanya sendiri berbicara seperti itu. Merusak image saja.

"ahaha… tidak apa- apa, tidak apa-apa." Namja yang dibawa Siwon itu tersenyum maklum tanpa merasa sedikitpun risih dan kekesalan yang terlihat diwajahnya. Malah, dia ingin tertawa terbahak-bahak akan tingkah laku kedua teman bisnisnya itu yang dengan blak-blakannya menceritakan kegiatan sex mereka dengan pasangannya itu. apalagi jika kedua orang tersebut adalah orang yang sangat berpengaruh pada per ekonomian korea. Sesuatu yang mencengangkan bukan?

"ahh, maafkan kelakuan kedua pria tua itu Yoochun-ssi. Mereka memang suka lupa diri jika sudah bertemu."terang Siwon membuat kedua pria yang dibicarakan itu mendelik kepadanya. Walau menciut ketika di deathglare balik oleh Siwon.

"ne, tidak masalah Siwon-ssi. Bahkan aku sangat memakluminya. Wajar kan jika kita sering membicarakan sesuatu yang sedikit vulgar jika dengan sesama namja." Bela namja yang ternyata namja berjidat lebar a. ka Park Yoochun a. ka Mr. Park, pengusaha yang paling disegani oleh perusahaan besar lainnya melihat betapa hebat usaha yang dibuatnya dalam bidang kontruksi, hiburan, dan hotel itu. Meski dia selalu menjawab jika dia tidak bisa apa-apa jika tidak memiliki patner sehebat temannya itu, meski yang diucapkannya itu memang benar.

Siapa yang tidak mengenal Park Yoochun? Namja muda berbakat dan jenius. Dalam usianya yang muda ia berhasil menggeserkan kedudukan perusahaan besar lainnya dan menduduki singasana tersebut. Usut punya usut, ada yang mengatakan jika ia memiliki seorang patner yang mempunyai kecerdasan yang sangat tinggi dibalik kesuksesan Park Yoochun itu. ditambah dengan Yoochun yang mengiyakan omongan itu membuat beberapa pengusaha pengusaha lainnya mencari tahu siapa orang yang dibalik layar itu. tapi sayang, sampai sekarang tidak ada satupun orang yang tahu siapa dia yang dibicarakan itu.

Jika namja itu yang mengurus tentang masalah yang terjadi diperusahaan yang diberi nama DBSK company itu. Maka Yoochun adalah yang mengatur seluruh jadwal dan menemui client-client mereka. Oleh sebab itu, banyak orang yang berbondong-bondong untuk mengikat kerja pada perusahaan itu. Walau sangat sulit mengingat betapa kompetennya kedua orang itu dalam memilih rekan.

"terima kasih lagi Yoochun-ssi sudah mau memaklumi kedua orang bodoh ini." Ucap Siwon sambil memamerkan kedua dimplenya tersebut.

'aish, sayang sekali ya sepertinya dia tidak cocok kujadikan uke-ku.' Batin Yoochun sambil tersenyum bisnis kearah Siwon.

Hankyung menatap Yoochun terkesima. Dia benar-benar kagum akan charisma dan wibawa yang dikeluarkan oleh namja itu. ingin rasanya dia menjodohkan namja itu dengan anaknya. Mengingat hal itu, Hankyung tersenyum miris. Untuk kali ini dia harus membuang jauh-jauh ambisinya tersebut jika ia tidak mau dibenci lebih lagi oleh orang-orang yang dicintainya itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

Suara dering hp membuat seorang yeoja cantik berambut ikal itu menggerutu kecil. Dengan umpatan-umpatan yang dikeluarkannya dia mengambil hp nya itu dan menatap layar tersebut.

' appa bear mertua is a calling… appa bear mertua is a calling.'

Kyuhyun langsung beranjak dari kasur empuknya itu dan tanpa pikir panjang men-dial penelpon itu.

"anyyeong, ayah mertua~" panggil Kyuhyun manja.

"….."

"ne, baiklah appa bear, aku akan menyiapkan baju-baju dan keperluan calon eomma mertuaku itu."

"….."

"bye, appa bear, salamkan salam cintakyu ini pada Minnie chagi, ne?"

"….."

Kyuhyun pun menutup hp nya dan kembali memasuki dunia mimpinya lagi. Namun, tak lama kemudian dia kembalik duduk dan menatap hapenya itu bingung.

"calon eomma mertua?"

.

.

.

.

.

.

"uhhh~ dimana sih dirimu chagi? Oppa benar-benar lelah mencarimu tahu! Jika tahu begini tidak seharusnya aku meng iya-iya kan usulan dari appa pabbo itu." gerutu namja manis berpantat bebek itu sambil menendang kerikil-kerikil kecil yang dilihatnya dijalan.

Dia melongokkan kepalanya kekanan dan kekiri, berharap menemukan sesuatu tentang keberadaan adiknya itu. Namun, bukannya menemukan adiknya ia malah menemukan sesosok yeoja yang ditarik paksa oleh segerombolan namja kedalam gang yang cukup sepi.

Melihat adanya gelagat yang tidak beres itu, Junsu akhirnya mengikuti mereka dan bersembunyi saat menemukan tempat yang pas dan tidak mungkin diketahui oleh gerembolan itu.

"hahaha, lihatlah yeoja ini. Sepertinya kita mendapatkan tangkapan yang sangat besar hari ini. Tak kusangka jika kami dapat bertemu dengan yeoja pelacur keluarga Park." Ujar salah satu namja disana dengan aksen yang menurut Junsu menjijikan.

"apa yang kalian inginkan dariku?" Tanya yeoja imut itu tegas. Bahkan junsu terkagum-kagum akan sikap yang ditunjukkan yeoja itu.

"hahaha.. tidak ada, tapi salahkan suamimu dan anakmu itu yang memiliki banyak musuh diluar sana. Menyewa kami untuk menyakitimu." Ujar namja itu sambil menatap yeoja didepannya itu dari kepala hingga ujung kaki dengan tatapan lapar.

"boss, bagaimana kalau kita nikmati saja tubuh pelacur Park ini. Lihatlah, meski dia sudah berumur aku sempat salah mengira jika dia ini yeojachingu anaknya bukan eommanya." Sahut yang lain.

"kalau boleh tahu, berapa jumlah kita?"

"dua puluh tiga boss."

Namja menjijikan itu menjilat bibirnya dengan gaya yang menjijikan, "hmm, baiklah kita cicipi tubuhnya satu persatu. Tapi, harus aku yang pertama kali menyicipnya, arra?"

"ne." koor mereka.

Junsu terkejut mendengarnya, 'omona, aku harus menyelamatkannya. Tapi, otthokhae? Mereka dua puluh lebih sedangkan aku hanya sendiri. Bagaimana ini?' batin Junsu. Dia tidak bisa membayangkan jika yeoja terhormat itu akan disentuh oleh namja-namja biadap macam itu. meski yeoja itu tetap diam ditempat menatap mereka dengan tajam. Tapi, bisa dilihat oleh Junsu jika tangan yeoja itu sedari tadi tidak berhenti begetar.

Akhirnya, setelah berdebat dengan diri sendirinya itu. Junsu pun keluar dari persembunyiannya. "YAKK, LEPASKAN DIA BANGSAT!" teriak Junsu sambil menendang tong sampah yang mendarat kearah mereka dan berhasil membuat tiga orang tersungkur pingsan.

' I got you babe.' Batin Junsu. Dia menjilat bibirnya sendiri sebelum menerjang dua orang didepannya dan menyikut dua orang dibelakangnya.

Lima orang menyerangnya, dengan sigap Junsu mengelak tendangan dan pukulan dari mereka. Akan tetapi, ada satu atau lebih pukulan dan tendangan yang diterimanya. Membuat Junsu harus mundur menghindar. Junsu mengelap darah yang keluar dari mulutnya.

'sialan, meskipun aku diajarkan oleh appa pabbo itu martial art. Tapi, kalau orangnya sebanyak ini apalagi aku tidak tahu yang mana saja membawa senjata tajam, shit.' Umpatnya dalam hati.

Tiba-tiba, datang satu pukulan ditengkuk Junsu berhasil membuatnya terjerembab dalam tanah. Junsu meringis kesakitan, dia tidak tahu apa yang terjadi. Tapi, dia dapat merasakan betapa derasnya darah yang merembes dari pelipisnya.

Namja yang memukul Junsu tersebut menarik tubuh namja manis itu dengan kasar. Junsu menjerit karena namja itu menariknya dengan menjambak rambutnya. Namja itu menjilat telinga Junsu dan menatapnya lapar. "wah, kalau dilihat-lihat kau ini manis juga,"

"lepaskan dia!" teriak yeoja imut itu.

Plakk.. namja itu menampar yeoja imut itu dan membuatnya jatuh ketanah. Junsu menatap shock kejadian yang dia lihat. Bayangkan saja, eomma nya saja tidak pernah ditampar seperti itu. melihat yeoja tersebut meringis merasakan memar dipipinya. Membuat kemarahan Junsu sampai keubun-ubun. Aura hitam kelam menguar dalam dirinya. Beberapa helai poninya menutup matanya. Menambah kesan aura membunuh melekat pada tubuhnya itu. dia tersenyum sinis kepada orang yang memegang tubuhnya itu,

"kau mau mati?" tanyanya dengan senyuman yang sangat mengerikan untuk namja manis sepertinya.

.

.

.

.

To be continued

Hiks, saya agak sedih melihat betapa sedikitnya review yang saya terima. Memang diawal-awal cerita aku membuatnya tanpa diedit sedikitpun. Tapi, aku tidak menyangka jika tidak banyak yang suka dengan ff saya ini. Sebegitu burukkah? Tapi tak apa kok, karena aku akan berusaha lebih baik lagi. Dan aku mengucapkan terima kasih banyak buat para keempat review saya dhirayewon, bumkeyk, 5runashine88, dan miss key ... juga ketujuh orang yang memfavoritekan dan delapan orang yang memfollow fanfic saya ini. Aku sangat amat berterima kasih. Jeongmal gomawoyo.