ALWAYS HUNHAN FICTION

.

.

Yaoi Boy x boy !

Don't Like Don't read ! Please close this page !

.

PLAGIATOR ? MINGGAT SANA !

.

.

.

Disclaimer :

Sehun dan Luhan milik keluarganya masing masing. Lieya hanya meminjam nama dan karakter mereka demi kelancaran ff ini ( tanpa izin pula -_- ). Hati dan seluruh tubuh Sehun milik Luhan. Namun cinta dan kasih sayang Luhan hanya untuk Lieya ( Plakk. . #DitabokHHS )

Abaikan . . . .

.

Summary:

Oh Sehun adalah seorang mahasiswa berusia 20 tahun. Putra tunggal dari salah satu Donatur Sosial terbesar di Korea Selatan itu memiliki sifat yang kasar dan arrogant. Suka bergonta-ganti pasangan, minum-minuman keras dan melakukan sexs bebas merupakan kebiasaannya sehari-hari. Namun kepribadian buruk yang dimiliknya berubah setelah ia bertemu dengan seorang namja cantik yang harus menopangkan kehidupannya diatas kursi roda.

.

Bagaimanakah kisah selanjutnya ?

Apakah yang membuat Sehun begitu cepat merubah kepribadiannya ?

.

Go to Story . . .

.

.

.

***BELIEVE***

Present

.

Cast :

Luhan

Oh Sehun

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

And Other . . .

.

Genre :

Boy's Love. Drama, Romance.

.

Rate :

M

.

Lenght :

CHAPTER

2

.

StoryLine by :

Lieya EL

.

.

.


Dentingan piano dengan indah mengalun didalam ruangan bernuansa putih. Nampak lelaki berparas cantik tengah duduk didepan sebuah benda yang cukup besar itu. Jari-jari lentiknya menekan tuts-tuts piano itu dengan lincah. Wajahnya yang rupawan bersinar begitu terang saat sinar matahari yang datang melalui celah jendela menerpa wajahnya. Senyum indah tersungging dari bibirnya saat ia sampai pada nada-nada yang di sangat sukainya.

Prok prok prok

Suara tepuk tangan itu berhasil menghentikan kegiatannya. Sosok cantik itu memutar tubuhnya sehingga bertatapan langsung dengan sosok tampan yang kini tengah berdiri di dekat pintu ruangan itu dengan bersidekap menatapnya.

"Kemampuanmu semakin berkembang sayang. Mungkin sebentar lagi Baekhyun akan mendapatkan pesaing yang sepadan untuknya" Ujar sosok itu.

Sosok tampan itu berjalan mendekati lelaki berparas cantik yang kini tengah sibuk menyembunyikan rona merah yang entah sejak kapan sudah menjalar dipipinya.

"Angkat wajahmu, sayang" Sosok tampan itu menyentuh dagu si namja cantik kemudian mengangkat wajah cantik yang memerah itu agar berhadapan langsung dengan wajahnya. "Kau merona, Lu" guraunya.

"Yak, Kris! Jangan menggodaku" Jeritnya malu. Namja tampan bernama Kris itu terkekeh geli melihat tingkah laku namja cantik yang berstatus sebagai kekasihnya saat ini.

Bagaimana mungkin ada lelaki super imut dan cantik seperti Luhan-nya ini, eoh? Sungguh namja bernama lengkap Wu Yifan itu masih juga tak percaya bahwa Luhan-kekasihnya hanyalah manusia biasa, ia masih yakin bahwa Luhan adalah titisan dari salah satu dewa di surga sana.

"Kau semakin cantik saat malu-malu seperti ini, Lu. Haha, aku semakin ingin menggodamu" Kata Yifan sembari mencubit gemas pipi gembil Luhan dan berhasil membuat sang empunya mengaduh dan mengerucutkan bibirnya kesal.

"Putri cantik jangan cemberut, eumm. Bagaimana kalau kita jalan-jalan" rayunya. Beruntung hari ini pekerjaan dikantornya sudah teratasi, jadi namja berusia 26 tahun itu bisa membujuk sekaligus mengajak kekasih tersayangnya itu bersenang-senang.

Bibir yang tadinya maju itu kini berubah melengkung keatas. Mata rusanya berbinar-binar saat mendengar ajakan itu. Sunguh Luhan juga sangat merindukan kebersamaan dengan kekasih super sibuknya itu.

"Baiklah, ayo!" Ujarnya antusias.

Senyum bahagia juga tercetak di wajah Yifan. Lelaki tampan itu mendorong kursi roda kekasihnya keluar dari ruangan musik keluarga Park.

Kris dan Luhan sudah lima bulan menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Keduanya sudah saling mengenal sejak pertama Luhan menginjakkan kaki di Universitasnya. Kris adalah salah satu Sunbae yang menjadi mentornya kala itu. Sejak itu hubungan keduanya semakin dekat, berawal dari pertemuan menjalin hubungan pertemanan beralih menjadi sahabat dan berubah status di bulan satu kemarin menjadi sepasang kekasih.

Berdasarkan usia dan rating percintaan, memang hubungan mereka masih di usia dini, belia, kencur (?) masih terlalu rentan dengan masalah-masalah yang mungkin akan segera datang menghadang. Namun keduanya memiliki keyakinan bahwa hubungan mereka akan bertahan lama. Mereka akan mencoba mengerti dan memahami kesibukan masing-masing, dengan itu keduanya berhasil mempertahankan hubungan itu hingga saat ini.

"Hyung, kau mau kemana?"

Dari arah dapur terlihat sosok Chanyeol yang tengah berjalan kearah Luhan dan Yifan.

"Aku mau keluar sebentar, tolong sampaikan ke Paman kalau aku pergi bersama Kris" Ujar Luhan. Chanyeol mengangguk paham. "Baiklah. Hati-hati" ujarnya.

Yifan tersenyum tipis kearah Chanyeol sebelum mendorong kursi roda Luhan kembali.

"Kris Hyung" Panggil Chanyeol. Kris dan Luhan menghentikan langkahnya, namja berwajah tampan itu menatap Chanyeol penuh tanya "ya?"

"Tolong jaga rusa cerewetku" cengir Chanyeol sembari tersenyum lebar, ah tersenyum bodoh lebih tepatnya.

"Yak! Chanyeol!" Teriak Luhan tak terima

Kris memutar bola matanya malas. Sudah jelaslah dia akan menjaga kekasih cantiknya ini dengan sekuat tenaga, tidak perlu diingatkan juga ia pasti akan melakukan itu, huh.

"Baiklah kami pergi dulu" Ujar Kris kemudian menghilang di balik pintu (?)


"Hey, Kim Jong In! Apa yang kau lihat, eoh?" Namja berkulit seputih tulang itu berjalan mendekati sosok namja berkulit sedikit gelap yang kini tengah berdiri dengan postur yang mencurigakan di samping jendela.

"Ssstt. Diamlah! Kau menggangguku konsentrasiku!" Desis namja berkulit gelap itu.

'Dasar aneh' batin Sehun.

Tiba-tiba sekelebat ide yang cukup menarik –menurut Sehun terlintas dikepalanya. Sebuah smirky yang ehm, menggelikan tersungging di bibir tipisnya.

Duakk

"ASTAGA! TEROPONGKU!" Namja berkulit gelap itu menatap horror teropong yang baru dibelinya satu minggu yang lalu, lensa pecah dan bagian-bagiannyapun juga terpecah belah.

"OH SEHUN! BODOH! SIALAN! KAU HARUS MENGGANTINYA! DUA MINGGU LEBIH AKU TIDAK MAKAN HANYA UNTUK MEMBELI TEROPONG INI! DAN KAU DENGAN MUDAHNYA MENENDANG BOKONGKU DAN MENYEBABKAN TEROPONGKU PECAH,EOH?! " Teriaknya murka "KAU HARUS MENGGANTINYA. ALBINO JELEK! YAKK ! JANGAN LARI KAU" Namja berkulit gelap itu berlari mengejar si biang keladi yang kini sudah melesat meninggalkan ruangan itu.

"SEHUUUUN!"

Hosh hosh hosh

Nafas keduanya terengah-engah setelah melakukan adegan kejar-kejaran di pekarangan tadi. Kini keduanya tengah duduk berselonjoran di bawah pohon mangga dengan posisi yang saling berhadapan.

"AWAS KAU, hah hahhh. Gara-gara kelakuan konyolmu itu, teropongku rusak! Dan aku kehilangan kesempatan untuk memandangi wajah malaikatkuhh. Aku tidak mau tau, pokoknya besok kau harus menggantinya. MENGGANTINYA!" Ujar Kai menggebu-gebu dan menekankan kalimat terakhirnya dengan tegas dan tajam.

"Cih, Teropong murahan seperti itu saja aku bisa membelikan 100 ribu untukmu. Tenang saja aku akan menggantinya 10x lipat lebih canggih dari punyamu itu. Lagi pula siapa suruh kau berpose aneh di samping jendela, seperti cicak yang gagal merayap haha. Jadi jangan salahkan aku, jika aku berpikir kau gila dan menendang pantatmu" Ujar Sehun meledek.

"Kau!" Kai menggeram marah, tangan kanannya sudah mengepal bersiap meninju wajah bodoh si namja albino. Namun dengan cepat Sehun mencekal kepalan itu "Waitt. Kau mau memukulku?" Tanya Sehun, Kaipun mengangguk polos.

"Kau berani?" Kai mengangguk

"Kau masih mau aku mengganti teropongmu, kan?" Kai mengangguk lagi.

"Kau tidak mau kehilangan kesempatan menguntit malaikatmu lagi, kan?" Kai mengangguk cepat. Sehun tersenyum menang.

"Maka dari itu singkirkan tangan kotormu itu, BODOH!" Kata Sehun sembari menghempaskan kasar tangan sepupunya itu dan memasang wajah datarnya kembali.

"Ck. SIALAN!" Decak Kai mendelik kesal kearah Sehun. Sehun menjulurkan lidahnya mengejek Kai.

Sungguh kekanakan -_-


***BELIEVE***


"Kyaaa~"

Klonteng klonteng

"Omona!"

Druk druk druk

Sosok lelaki tampan berjalan dengan tergesa menuruni tangga setelah mendengar suara melengking yang terdengar dari dalam dapur rumahnya "Astaga! Apa yang kau lakukan Baek?" Matanya memelotot lebar setelah melihat bagaimana berantakannya kondisi dapurnya.

"Huwa~ tanganku!" Lelaki tampan itu segera mengalihkan perhatiannya saat mendengar jeritan yang cukup memilukan yang keluar dari bibir sosok cantik yang berdiri disampingnya. Wajah lelaki cantik bereyeliner itu memerah menahan isakan yang akan keluar dari bibirnya, bibir kecilnya mengerucut meniup-niup ujung jari tangannya.

"Mana yang sakit? Sini biar ku lihat" pintanya. Lelaki tampan itu mengambil alih tangan mungil lelaki bereyeliner yang diketahui sebagai kekasihnya itu, kemudian meniup-niup jarinya yang sedikit memerah itu sembari mengelusnya lembut "Huuuuft~ pasti sakit, eum?"

Bluss, seketika rona merah menyebar diseluruh penjuru pipinya. Sungguh kekasihnya ini sangat perhatian sekali, perlakuan-perlakuan kecil seperti ini lah yang selalu lelaki cantik itu – Baekhyun sukai dari kekasihnya. Bibir tipis itu melengkungkan sebuah senyuman lebar selaras dengan jantungnya yang sedari tadi berpacu tak beraturan. Namun raut wajahnya berubah seketika mengingat apa yang baru saja ia lakukan "Yeol-ah Mianhae" Lirihnya sembari menundukkan wajahnya sedih. Lelaki tampan bernama Chanyeol itu menghentikan kegiatannya meniup-niup jari kekasihnya itu, kemudian menatapnya penuh tanya "Wae? Apa yang salah Baek?" Tanyanya.

Baekhyun menatapnya gugup "Maaf karena kecerobohanku sup untuk makan siang kita tumpah. Sungguh aku tidak sengaja menjatuhkannya" Jawabnya sedih dengan raut wajah penuh penyesalan.

"Sssstt. Jangan bersedih sayang" Ujar Chanyeol sembari mengelus pipi gebil Baekhyun "Kita bisa memesan makanan malam nanti. Luhan Hyung dan Appa juga tidak ada dirumahkan? Jadi pikirkanlah keselamatanmu sendiri, jangan pikirkan yang lain, Arra?" Baekhyun menganggukkan wajahnya imut membuat Chanyeol tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum "Lagi pula aku tidak ingin jari-jari lentikmu yang selalu memanjakanku ini terluka hanya karena sup sialan itu" Ujar Chanyeol dengan polosnya.

"A-pa maksudmu Chan?" Tanya Baekhyun tergugup. Entah mengapa pernyataan Chanyeol barusan terdengar memalukan di telinganya.

Chanyeol menyunggingkan smirkynya "Tidak usah sok polos begitu, Baeki sayang. Bukankah setiap jari-jari lentikmu itu yang selalu bermain disini" Kata Chanyeol sembari menunjuk, ehm sesuatu yang bertengger manis di tengah selangkangannya tanpa dosa.

Bluss, pipi Baekhyun memerah sempurna sekarang. Bahkan tomat matang yang warnanya merah hampir menyerupai darah sekalipun terkalahkan oleh rona merah yang menjalari pipi Baekhyun. Lelaki manis yang gemar memakai eyeliner itu tidak bisa berkutik sekarang. Wajah cantiknya hanya bisa ia tundukkan untuk menghindari tatapan tajam dari kekasihnya yang kini tengah menatapnya dengan gairah nafsu.

"Ak-aku-"

"Ayolah Baek. Tidak ada siapapun dirumah, bagaimana kalau kita menyelesaikannya dengan cepat, hemm?"Pinta Chanyeol penuh harap.

Baekhyun menatap kekasih tampannya itu dengan enggan "Tapi Chan, kita baru saja melakukannya em, semalam. Aku tidak yakin kalau aku-Ssstt diamlah" Chanyeol segera menutup bibir Baekhyun dengan jari telunjuknya "Kau hanya perlu menikmatinya, biarkan akulah yang akan memanjakanmu, eum?" Baekhyun mengangguk pasrah setelah melihat sorot mata penuh ketulusan dari kekasihnya.

Senyum lebar jelas tercetak di wajah Chanyeol "Sayang kamu" katanya sebelum meraup bibir Baekhyun penuh nafsu.

" Eungh . . ." lenguh Baekhyun disaat gigi Chanyeol menghisap dan menggigit permukaan bibirnya dengan gemas, membuat Baekhyun secara reflek membuka Chanyeol tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan segera ia memasukkan lidah nya ke dalam mulut Baekhyun. Lidah keduanya bertemu, keduanya saling bertubrukan untuk bertukar rasa.

"Ssshh-Ah" Desah Baekhyun saat Chanyeo menghisap ujung bibirnya bersamaan dengan tangannya yang mulai nakal mencubit area privasinya.

"Eunghh-ah sshh"

CUT

Panas-panas. Kenapa didapur ini suasananya berubah menjadi panas, eoh? Apakah AC nya mati? Tidak ada ventilasi udara? Ataukah karena kehadiran Baekhyun dan Chanyeol, kedua sijoli super mesum yang membuat udara enggan untuk memasuki ruangan ini eumm? Oke biarkanlah mereka berlovey dovey, mari kita meninggalkan mereka disini!


Suara bising dan manusia yang berlalu lalang menjadi backdrop siang hari ini. Terik matahari begitu menyengat dimuka bumi, tak sedikit manusia yang mulai mengeluh saat terkena sinar sang surya tersebut namun tidak dengan kedua anak adam yang sedang dimabuk cinta ini.

"Kenapa kau tidak mau aku mengahantarmu menggunakan mobil, Deer? Kau tau kan kalau sepupumu itu sangat cerewet, aku tidak mau dia menghabiskan tenaganya untuk berceramah hanya karena aku mengantarmu pulang dengan panas-panasan seperti ini" Kata sosok tampan yang kini mendorong sosok cantik yang tengah duduk dikursi rodanya. "Tenanglah Kris, Chanyeol tidak akan marah-marah. Aku tau kebiasaannya dihari libur seperti ini, pasti dia sedang sibuk dan tidak akan menghiraukan aku" Tenangnya, bibirnya melengkung membuat senyuman yang sangat cantik "Lagi pula, aku yang menginginkan ini. Aku ingin menghabiskan waktu berdua, berjalan-jalan denganmu"

Lelaki yang dipanggil Kris itu juga tak enggan untuk mengukir senyumnya "Jadi, apakah kau kurang puas setelah bermain seharian ditaman bersamaku? Sebegitu rindunyakah?" Tanyanya menggoda.

Lelaki bermata rusa itu mengerucutkan bibirnya sebal. Apakah kekasihnya ini tidak peka, eoh? Bagaimana mungkin Luhan tidak merindukan kekasihnya setelah berhari-hari mereka tidak bertemu. "Menurutmu"

Langkah mereka terhenti. Lelaki tampan itu berjalan kedepan sosok yang memakai kursi roda kemudian berjongkok didepannya. Mata tajam itu bertemu dengan mata rusa yang menatapnya sendu.

Kris menyentuh ujung pipi kekasihnya yang lembut itu penuh kasih "Mianhae sayang, aku tidak bermaksud menyinggungmu. Aku janji setelah proyek ini selesai, aku akan lebih sering lagi menemanimu" Katanya meyakinkan.

Luhan mengangguk mengerti, tidak ada satu kalimatpun yang keluar dari bibirnya. Ia sudah terlalu hafal dengan sifat kekasihnya yang hampir selalu tidak menepati janji (?). Berharap sajalah, semoga janjinya kali ini memang benar akan ditepati.

"Baiklah. Ayo kita pulang, sebentar lagi kita akan sampai dirumahmu" Ujar Kris senang kemudian berjalan kebelakang dan mendorong kembali kursi roda Luhan.

Hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk sampai didepan pekarangan rumah Tuan Park. Yifan menghentikan langkahnya kemudian mengunci kursi roda Luhan.

Yo~ yo~ I'm you're man. Yo~yo~ I'm you're Boy. . .yeah~

Nada dering yang memakai lagu andalan Rapper Park terdengar dari saku celana Yifan. Sesaat kegiatannya untuk membuka kunci pagar rumah itu terhenti, tangannya beralih mengambil benda persegi dari dalam sakunya.

'Yuri is calling'

Dahinya mengkerut bingung saat melihat nama yang tertera diponselnya.

'Sebenarnya apalagi yang perempuan itu inginkan darinya, huh'. Dengan sedikit ragu Yifanpun mengangkat panggilan itu.

"Yeoboseo?"

". . . " Yifan memutar matanya malas. Ia sedikit menjauh dari tempat Luhan setelah sebelumnya melemparkan senyum kearah lelaki bermata rusa itu.

"Apa maumu?" Tanyanya tajam.

". . ."

"Baiklah. Jangan macam-macam aku akan segera kesana" Kata Yifan kemudian menutup panggilan itu dengan kesal kemudian berjalan mendekati Luhan yang masih terdiam ditempatnya.

"Lu" Panggilnya. Luhan menatap Yifan dengan binarnya "ya?"

Wajah Yifan berubah sendu "Sepertinya aku tidak bisa mengantarmu sampai ke dalam. Aku harus segera pergi kekantor, ada seseorang yang sangat penting yang harus kutemui" Kata Yifan penuh penyesalan. Binar diwajah Luhan seketika memudar digantikan dengan raut wajah kecewanya. "Baiklah" namun Luhan mencoba mengerti keadaan "Aku bisa masuk sendiri"-bagaimanapun juga, urusan kantor Yifan lebih penting dari pada dirinya "Sekarang pergilah. Aku tidak apa-apa" Kata Luhan melemparkan senyum palsunya.

Yifan tersenyum lembut, sungguh kekasihnya ini sangat pengertian sekali. Ia mengusak surai madu Luhan "Terimakasih sayang. Aku mencintaimu" Yifan mencium kening Luhan lembut setelahnya Ia berjalan menjauhi Luhan tanpa menyadari senyum palsu yang terpatri di wajah kekasihnya.

'Aku harap kau tidak memberikan harapan palsu lagi, Yifan'


***BELIEVE***


Lampu warna-warni berkerlap-kerlip didalam ruangan yang cukup luas ini. Sebuah lagu yang cukup keras diputarkan oleh seorang Dj cantik yang kini dengan lincah memutar-mutar piringan hitamnya. Para lelaki dan wanita didalam gedung itu sibuk meliuk-liukan dan memutar tubuhnya sesuai dengan irama lagu yang dialunkan. Nampak sosok lelaki tampan dengan tubuh putih nyaris sempurnanya tengah duduk di kursi yang tengah disediakan diujung ruangan itu dengan secangkir vodka dtangan kanannya. Mata tajamnya sibuk menelusuri sosok-sosok yang sangat diharapkan akan menarik perhatiannya. Namun sayang sedari tadi sepertinya ia tak kunjung menemukan sosok yang sesuai dengan seleranya,

'ck sial' lelaki tampan itu mendengus kesal.

Dengan kasar ia meletakkan gelasnya yang sudah kososng diatas meja kemudian berjalan keluar meninggalkan gedung setelah meninggalkan beberapa lembar won disana.

.

.

"Payah! Kenapa disini tidak ada satu orangpun yang membuatku tertarik, huh?" Keluhnya kesal. Lelaki tampan itu sibuk menendang batu-batu kecil dijalanan disertai dengan gerutuannya.

"Perempuan disini, tidak ada yang menarik seperti di Seoul! Semuanya kampungan!"

"Diskotik kampungan!"

"Paman kampungan!"

"Bibi kampungan!"

"Saudara kampungan!"

"Dan sebentar lagi pasti akan ada para guru-guru yang kampungan juga!"

"Para orang tua itu selalu merusak kesenanganku! Jika bukan karena uang itu, aku tidak akan mau tinggal 2 bulan disini! Sialan!" Gerutunya. Sungguh ia sangat kesal dengan orang tuanya sekarang. Seenaknya saja mereka menyuruh lelaki tampan seperti Sehun tinggal dikampung, membuat posisinya sebagai lelaki terpopuler tergores begitu saja, huh.

Seketika ide dari otak jailnya muncul saat melihat sebuah kaleng cola yang berada di depannya. Dengan keras lelaki berkulit pucat itu menendang kaleng cola itu tak tentu arah hingga-

Duakk

"AWW!"

"SIAPA YANG BERANI MELEMPARIKU DENGAN KALENG INI?"

"Mampus!" rutuk Sehun. Dengan sigap ia melangkahkan kakinya melewati sosok lelaki bertubuh gendut dengan alis tebal menyeramkan yang tengah memasang wajah bengisnya itu, setelah memiliki jarak yang cukup jauh sosok itu Sehun segera memacu kecepatan berjalannya hingga kini tak terasa ia sudah berlari dengan terbirit-birit.

"Hey! KAU! JANGAN LARI!" Teriak sosok itu setelah menyadari bahwa Sehunlah yang melempar kaleng itu hingga mengenai kepala botaknya. Lelaki berbadan segar itupun memutuskan untuk tetap mengejar Sehun, dengan bobot yang lumayan ehm beraatt mampukah lelaki itu mencekal Sehun? Tentu saja. . . :/

.

Hosh hosh hosh. . .

Terlihat sosok tampan yang tengah berjongkok dibawah pohon yang cukup besar itu sembari mengatur deru nafasnya yang tak beraturan. Wajahnya yang tampan sudah dibanjiri oleh peluh yang berjatuhan.

"Sial! Hah hah . .Ternyata si gendut itu memiliki kecepatan yang lumayan untuk mengejarku, huh. Untung saja aku bisa mengecohnya" Katanya sembali mengusap kasar peluh yang jatuh dari pelipisnya.

Lelaki tampan itu menegakkan tubuhnya untuk melanjutkan langkahnya menuju kediaman sang paman yang tinggal beberapa langkah lagi dari sana. Namun sebelum itu senyuman jahat tercetak dibibirnya saat melihat siapa sosok yang tengah kesusahan didepan matanya.

"Aish. . susah sekali mengambilnya" gerutunya. Tangan lelaki cantik itu sibuk meraih kunci pagar rumah yang terjatuh cukup dajuh darinya. Posisinya yang berada diatas kursi roda, membatasi pergerakannya untuk menjangkau benda itu.

Kenapa Yifan bisa lupa tidak membukakan pintu pagarnya terlebih dulu tadi huh.

Tiba-tiba ada suara derap langkah kaki yang berjalan mendekat kearahnya. Luhan segera memutar kursi rodanya untuk melihat sosok itu.

"Maaf" sosok itu menghentikan langkahnya "Bisakah kau menolongku?" tanya Luhan hati-hati.

"Siapa kau?" tanya sosok itu tajam hingga membuat Luhan bergidik ngeri.

Luhan segera menghilangkan rasa takutnya kemudian mengulurkan tangan kanannya "Namaku Lu-Luhan" kata Luhan ragu-ragu.

Sosok tampan itu menghiraukan tangan Luhan yang ter ulur dan lebih memilih mengambil kunci yang terjatuh tidak jauh dari tempatnya itu kemudian memasukkannya tepat di jari jempol Luhan, setelahnya ia melenggang pergi dari hadapan lelaki manis yang masih terpaku dalam keterkejutannya itu tanpa kata.

"Go-gomawo" lirih Luhan sembari mengamati punggung lebar yang kini berjalan menjauhinya.


END of Chap 2