Fandom: Kuroko no Basuke/Kuroko no Basket

Author: Shana Nakazawa

Chapter: 3/3

Jumlah kata: 5.656 kata

Summary: Orang boleh mencercanya atau mengatainya gila, Aomine Daiki tidak peduli. Toh, akal sehat takkan membawanya kepada destinasinya. Karena itu, sampai kapanpun, Aomine akan tetap menunggu di ujung jalan untuk seorang pemuda bersurai pirang yang telah mencuri posisi matahari dalam kehidupannya.

Warning: (possibly) OOC. AU. Charadeath. Based on the song 'The Man Who Can't Be Moved'.

Note: Entri untuk challenge Aiko Mini-Doujin and Fanfiction Challenge.

Disclaimer: Kuroko no Basuke/Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi. Cover © ゆた [Pixiv ID: 3234458]. The Man Who Can't Be Moved © The Script. Tidak ada keuntungan materil yang diperoleh dari membuat ataupun mempublikasikan fanfiksi ini. Fanfiksi ini dibuat hanya berdasarkan tujuan kepuasan pribadi.

.

.

.

The Man Who Can't Be Moved


Aomine memandangi kalung yang tergenggam di tangannya. Liontin miliknya, pasangan milik Kise, berbentuk setengah hati berwarna hitam. Di sisi kirinya ada ornamen kunci. Kunci itu hanya bisa membuka liontin milik Kise. Jika keduanya disatukan, kunci itu akan memperlihatkan foto Aomine dan Kise.

Di dalam liontin Aomine, tersimpan foto kecil Kise. Juga di dalam liontin Kise, tersimpan foto Aomine. Aomine menjaga kalung itu dengan sepenuh hati. Saat ia berpisah dari Kise, liontin itu menjadi perwujudan dari pemuda berambut pirang itu. Itu menjadi pengingat bagi janji yang mereka ukir bersama.

Sejak bertemu Kise, Aomine telah kembali ke apartemennya. Ruang apartemen itu Aomine beli dari Akashi yang ternyata mengelola kondominium tersebut atas nama perusahaan keluarganya. Akashi telah berbaik hati memberikannya dengan harga yang jauh dimiringkan karena Aomine adalah temannya. Dan kebetulan orang terakhir yang menyewa apartemen itu baru pindah bulan lalu.

Saat Aomine menginjakkan kakinya kembali di apartemennya, Momoi dan Akashi sudah menanti di sana. Gadis berambut merah muda itu telah melakukan sedikit beres-beres di sana-sini. Kuroko datang beberapa saat kemudian, membuat Momoi amat senang.

"Satsuki sudah menceritakan segalanya padaku. Selamat, Daiki. Aku tidak pernah mengira orang yang kaucari selama ini akan datang, tetapi ternyata dia memang ada," ujar Akashi dengan sebuah senyuman. Aomine sedikit merasa tertohok dengan perkataan mantan kaptennya tersebut, namun ia tetap senang.

"Aku setuju dengan Akashi-kun. Lalu, kau harus mengenalkannya pada kami kapan-kapan," kata Kuroko.

Aomine sedikit tersentak. Keberadaan Kuroko memang sedikit mudah dilupakan. "O-oh, oke," balas pemuda berkulit remang tersebut.

"Tenang saja," kata Momoi sambil tersenyum. Ia membusungkan dada dengan bangga. "Aku sudah menyuruh Dai-chan bertukar nomor telepon dan alamat e-mail agar mereka tidak akan sulit berkomunikasi. Bagaimana kalau kauhubungi Ki-chan dan ajak dia makan siang dengan kami—bersama Mukkun, Midorin dan Kagamin, tentu saja. Minggu di Majiba?"

"Ide bagus. Akan kutelepon dia nanti malam." Aomine tidak ragu-ragu dalam menyetujui ide Momoi. Pemuda itu tersenyum.

Akashi mengecek arlojinya dan berkata, "Baiklah, aku senang sekali dengan rencananya dan akan berusaha sebisaku untuk datang, namun sekarang aku harus pergi. Ada rapat dengan para orang tua itu dan aku malas mendengarkan ceramah ayahku jika aku terlambat. Kabari aku lagi."

Tatapan Aomine, Kuroko dan Momoi tertuju pada Akashi. Ketiganya mengangguk. Akashi tersenyum tipis dan pergi.

"Kalian juga harus pergi sekarang atau kita bisa tinggal untuk minum kopi?" tawar Aomine.

"Aku tidak keberatan minum kopi. Bagaimana denganmu, Tetsu-kun?" tanya Momoi. Kentara sekali ia berharap Kuroko akan tinggal sedikit lebih lama.

Kuroko tersenyum tipis dan menjawab, "Aku juga, Momoi-san."

Ekspresi wajah Momoi menunjukkan bahwa ia ingin menjerit senang. Ia tersenyum lebar dan menarik tangan Kuroko untuk duduk ke sofa. Aomine menghela napas dan melangkahkan kaki menuju dapur. Sebuah coffee roaster merah berkilat ada di atas meja. Aomine yakin di dalam lemari tersimpan bungkus kopi bubuk dan teh.

Aomine membuat cappuccino untuk Momoi dan Kuroko, serta kopi hitam untuknya sendiri. Ia merebus kopinya di dalam roaster. Uap beraroma khas biji kopi tercium oleh hidungnya. Rasanya amat menyenangkan di udara musim dingin yang beku.

"Punyaku jangan terlalu manis, Dai-chan!" seru Momoi dari ruang keluarga.

"Berisik!" balas Aomine.

"Apa katamu!?" Momoi berteriak lagi dengan suara cemprengnya. Nadanya terdengar kesal. Aomine kini harus bersiap-siap menghadapi omelan gadis bersurai merah muda tersebut.

Aomine membawa nampan berisi dua cangkir cappuccino dan secangkir kopi hitam miliknya. Ia juga membawa satu toples kecil berisi kue kering rasa cokelat yang ia temukan bersama jejeran toples berisi kue kering lain. Akashi benar-benar baik hati memberinya banyak persediaan makanan.

Saat Aomine meletakkan nampan di meja, Momoi dan Kuroko tengah menonton drama. Pemeran utamanya adalah Hiruma Ryuga, aktor favorit Momoi. Kuroko ikut menikmati walaupun ia tidak tahu plotnya; ia memang bukan orang yang pilih-pilih.

"Tunggu, Rin! Aku bisa menjelaskan ini!"

"Tidak ada gunanya menjelaskan, Haru. Aku tahu kok, kau menyukai Mizu. Aku tahu sejak pertama kita berpacaran. Haha, aku ini bodoh sekali dengan mengharapkanmu. Kita putus saja, ya?"

"Dengarkan penjelasanku dulu! Rin!"

"Lepaskan aku! Tidak ada yang perlu dibicarakan! Aku tidak akan pernah mencintaimu lagi!"

"Aaah, Hiruma Ryuga, kau memang pangeranku~" desah Momoi seraya menatap wajah sang aktor favorit di layar kaca.

"Dia itu bagusnya apa, sih?" gumam Aomine sebelum menyeruput kopinya. Rasanya pahit, seperti yang ia suka.

Aomine baru akan meraih remote televisi dan mengganti channel-nya ketika Momoi menepaknya dengan kecepatan super. Pemuda itu meringis melihat punggung tangannya yang merah. Momoi langsung mengamankan remote-nya.

Aomine menatap teman masa kecilnya tersebut dengan kesal. "Oi, Satsuki! Itu remote-ku, berikan!" serunya seraya berusaha meraih benda kecil berwarna hitam tersebut.

"Tidak mau!" Momoi menyembunyikan si remote di balik punggungnya. "Orang bilang, tamu itu adalah raja, jadi sekarang kau adalah pelayannya. Tidak tahu, ya? Dasar Dai-chan bodoh."

Ejekan Momoi membuat darah Aomine mendidih. Gadis itu kadang memang suka seenaknya. Padahal Aomine sudah lama tidak menonton televisi. Ia juga ingin menemukan hal-hal menarik yang sudah lama ia tinggalkan demi menanti Kise.

Kuroko memperhatikan tindak tanduk kedua temannya tersebut. Rasanya seperti melihat muridnya sedang memperebutkan dua mainan. Padahal umur murid-muridnya itu baru lima atau enam tahun, sedangkan umur Momoi dan Aomine empat kalinya itu.

"Oke, oke, terserah kau sajalah." Akhirnya Aomine menyerah. Ia terpaksa ikut mengikuti drama di televisi.

"Rin pindah ke Australia. Dia mendapat beasiswa sekolah di sana."

"Australia…?"

"Sudah kukatakan, jangan pernah menyia-nyiakan apa yang kaumiliki. Mungkin, dengan ini, kau dapat merasakan sakit hatinya Rin."

"Rin … maafkan aku…."

Baiklah, Aomine sudah melihat cukup. Ia bukan penggemar kisah romansa picisan ataupun drama termehek-mehek seperti ini. Akting Hiruma Ryuga sebagai tokoh utama laki-laki memang bagus, namun plot drama ini terlalu klise. Lebih baik Aomine menonton hal lain. Biasanya di waktu-waktu ini ada banyak siaran pertandingan olahraga.

"Kise Ryouta," kata Kuroko tiba-tiba.

"Ha?" Aomine menengok ke arah sang bayangan.

"Kise Ryouta-kun. Bagaimana dia?" lanjut Kuroko.

Aomine menggaruk kepalanya. "Kise itu bagaimana, ya…," gumamnya. "Dia itu baik, kurasa. Juga cantik."

Kuroko menatap Aomine lamat-lamat. "Aku heran dengan sedikitnya hal yang kau tahu tentang kekasihmu sendiri, yang selama tiga tahun ini kaukejar, Aomine-kun."

"Diamlah, Tetsu. Kata-katamu itu tetap tajam seperti biasa. Mengerikan." Sejenak Aomine termenung, memikirkan sesuatu. Tatapannya tertuju pada suatu titik imajiner di langit-langit. "Kise itu orang yang misterius. Dia sangat cantik. Seperti … aku tak pernah hal seindah dirinya sebelumnya. Dia baik hati dan lembut. Kise juga ceria. Setiap dia berbicara, seperti ada bola-bola cahaya yang mengiringinya. Kadang aku melihatnya seperti malaikat. Kadang dia hanya orang biasa. Yang aku tahu, dia sekarang pacarku, dan aku mencintainya."

Penjelasan Aomine menjadi panjang. Ia sepertinya tidak tahu akan kata-kata yang telah ia muntahkan untuk mendeskripsikan Kise Ryouta, kekasihnya. Beberapa kata mungkin terdengar hiperbolis, namun itu murni adanya. Aomine adalah orang yang jujur dan blak-blakan. Ia tidak pernah memiliki kepedulian untuk memoles kata-katanya.

Hal-hal yang dibicarakan Aomine mengenai Kise dapat membuat Kuroko tersenyum. Ia tidak pernah bertemu Kise Ryouta, namun ia tahu dia adalah orang yang berhasil membuat seorang Aomine Daiki jatuh cinta dengan tulus. Hal itu terpancar dari kebahagiaan di mata Aomine ketika ia mendeskripsikan Kise. Kenyataan ini membuat hati Kuroko merasa tenang.

"Kise-kun terdengar seperti orang yang menyenangkan," sahut Kuroko.

Aomine tersenyum lebar. Ia yakin Kise akan akrab dengan Kuroko. Ada suatu perasaan yang memberitahunya demikian. Tentu akan menyenangkan jika Kise dapat menjadi bagian dalam lingkaran pertemanannya bersama Kiseki no Sedai.

"Memang," jawab Aomine dengan nada pasti.

"Oh, ya."

"Ada apa?"

"Kau belum pernah menunjukkan foto Kise-kun padaku."

"Benarkah? Ah, sebentar, aku punya fotonya di ponselku."

Aomine merogoh-rogoh sakunya untuk mencari ponselnya. Ia menarik keluar sebuah ponsel keluaran lokal berwarna biru tua. Ia membuka galeri fotonya. Seorang pemuda berambut pirang tengah tersenyum manis di layar kecil tersebut. Pipi dan hidungnya memerah—kemungkinan karena udara dingin—seperti peri salju.

"Ah, ya. Dia memang tampan," komentar Kuroko. Ada sesuatu dalam senyum Kise yang membuat dirinya seakan ditabrak bintang-bintang.

Senyum merekah di bibir Aomine mendengar kekasihnya dipuji demikian. Ia berkata, "Iya, 'kan? Tapi Kise di foto ini bukan apa-apa. Dia lebih tampan lagi kalau dilihat langsung."

Nada bangga yang tertera jelas di suara pemuda berkulit gelap itu membuat Kuroko tertawa kecil. Ia tidak pernah melihat sahabat baiknya itu begitu tergila-gila pada seseorang. Walaupun, jika orang itu adalah Kise, rasanya dapat dimengerti mengapa Aomine amat sangat mencintainya.

"Ada apa tertawa, hei! Jangan mengejekku!"

Kuroko rasa, kebahagiaan yang kini ia rasakan adalah melihat Aomine menemukan tujuan hidupnya. Baiklah, mungkin tujuan hidup terdengar berlebihan. Akan tetapi, Aomine rela membuang tiga tahun hidupnya untuk menunggu sosok Kise Ryouta yang antara ada dan tiada. Tidak aneh jika pemuda bersurai biru tua itu akan meneruskan obsesinya pada si pirang.

Bagaimanapun juga, Kuroko hanya senang bahwa ternyata semua pengorbanan itu tidak bertepuk sebelah tangan.

"Aku turut senang Aomine-kun berhasil meraih Kise-kun," ujar Kuroko pelan. Suaranya nyaris tenggelam oleh hiruk-pikuk di televisi.

"Haha, terima kasih," Aomine menjawab dengan senyum lebar. Ia masih memandangi foto Kise yang tengah tersenyum cerah (sungguh, senyumnya benar-benar cerah karena Aomine seakan merasakan radiasi kehangatan dari gambar di ponselnya tersebut). "Kurasa aku memang pria yang beruntung."

Sebuah anggukan samar dari Kuroko adalah tanggapan berupa persetujuan terhadap pernyataan Aomine. Ia pun menambahkan, "Jaga Kise-kun baik-baik, kalau begitu."

Aomine mendengus tertawa. "Aku tidak butuh kau memberitahuku begitu, Tetsu. Kise itu segalanya bagiku. Aku pasti akan menjaganya. Aku tidak mau tiga tahun itu sia-sia."

"Sebegitu berharganyakah Kise-kun bagimu?" tanya Kuroko. Ia mendongak menatap Aomine dengan sorot mata serius.

Aomine mendengus dan tertawa lagi. Ia menatap senyum semu Kise di ponselnya dan menghela napas panjang. Jawabannya singkat, namun kata-kata itulah yang dunia butuhkan untuk yakin akan perasaan sang pemuda pada kekasihnya.

"Tentu saja. Kalau bukan dengan dia, aku harus hidup dengan siapa?"


Dua orang pemuda masuk ke dalam Maji Burger. Pemuda yang lebih tinggi merangkul pemuda lainnya dalam gestur akrab. Ia sempat mengedarkan pandangan ke sekeliling restoran sebelum melihat tujuannya. Ia berjalan bersama kompanyonnya menuju sebuah meja yang ramai di pojok ruangan. Seorang gadis di meja itu tersenyum lebar dan melambai-lambaikan tangannya dengan bersemangat.

"Dai-chan, Ki-chan! Sini!"

Suara berfrekuensi tinggi Momoi membawa Aomine dan Kise mendekat. Mata nilakandi Aomine menginspeksi orang-orang yang duduk di meja. Akashi, Murasakibara, Takao, Midorima, Kagami, Momoi dan Kuroko. Sepertinya semuanya sudah lengkap. Aomine tidak menyangka pertemuannya akan seramai ini.

"Kau tidak akan memperkenalkan kami pada kekasihmu itu, Daiki?" tegur Akashi dengan nada halus.

Aomine sedikit gelagapan karena ditegur sang mantan kapten. Ia menggamit tangan Kise dan menariknya mendekati teman-temannya.

"Semuanya, ini Kise Ryouta. Kise, ini teman-temanku. Yang rambutnya merah itu Akashi Seijuurou. Dia mantan kapten klub basketku di SMP."

"Salam kenal, Ryouta," ujar Akashi dengan mata merah yang berkilat.

"Salam kenal, Akashi-san," balas Kise seraya membungkuk. Ia sedikit heran dengan Akashi yang memanggilnya dengan basis nama depan, namun memutuskan untuk tidak terlalu mempermasalahkannya.

"Lalu yang ungu dan seperti raksasa itu Murasakibara Atsushi."

Murasakibara berhenti mencamil puding cokelatnya dan merengut, memprotes, "Mine-chin jahat~"

"Salam kenal, Murasakibara-san," ujar Kise. Ia membungkuk lagi.

Murasakibara menoleh pada Kise. "Oh, ya. Salam kenal juga, Kise-chin."

Sekali lagi, nama panggilan yang aneh.

"Eh, Takao di sini? Ya sudahlah. Yang rambutnya hitam ini Takao Kazunari, lalu si kacamata itu Midorima Shintarou," lanjut Aomine. Ia menunjuk (mantan) duo Shuutoku tersebut.

"Aku ada perlu dengan Shin-chan. Dan yaho~ Salam kenal, Kise-chan~" Takao membentuk tanda peace dengan tangannya dan tersenyum lebar. Personalitas cerianya terlihat jelas.

Midorima membenarkan kacamatanya dan menjawab dengan nada angkuh, "Midorima Shintarou, Cancer. Salam kenal dan senang bertemu denganmu."

Kise tersenyum. "Salam kenal juga, Takao-san dan Midorima-san."

"Ini Satsuki. Kau sudah tahu dia," ucap Aomine seraya menunjuk Momoi yang duduk di seberang Kuroko.

"Hehe, hai, Ki-chan~" Momoi tersenyum dan melambai pada Kise. Kise tersenyum manis pada gadis itu.

"Kalau kau bisa melihatnya, orang ini Kuroko Tetsuya. Lalu si muka bodoh di seberangnya itu Bakagami."

"Oi, apa maksudmu, Ahomine!? Abaikan pacarmu itu, dia iri padaku. Namaku Kagami Taiga. Salam kenal, Kise," kata Kagami. Ia mengulurkan tangan dan menjabat Kise.

"Salam kenal juga, Kagami-san." Kise tersenyum dan menjabat tangan Kagami.

Aomine menatap tajam pada Kagami, memberitahunya untuk tidak lama-lama memegang Kise, namun rupanya pemuda macan itu sedang ingin memancing kemarahan Aomine. Kagami melepaskan tangannya setelah puas dengan kejahilannya.

"Tidak sopan mengataiku begitu, Aomine-kun," Kuroko berkata dengan datar seraya menyeruput vanilla milkshake-nya. "Aku sudah mendengar banyak darimu dari Aomine-kun. Sungguh menyenangkan bertemu langsung denganmu, Kise-kun."

"Begitukah? Aku juga senang dapat berkenalan denganmu, Kuroko-kun," balas Kise seraya tersenyum. Aomine benar. Hawa keberadaan pemuda yang satu ini memang tipis. Kise nyaris tidak menyadari keberadaannya, padahal ia duduk tepat di depannya.

Aomine dan Kise pun duduk di tempat kosong yang telah disediakan. Tujuh pasang mata mengawasi pasangan kekasih itu duduk. Akashi lalu mengambil alih.

"Baiklah, karena kita sudah berkumpul, ayo kita mulai. Kuucapkan terima kasih atas kedatangan kalian. Juga, kepada Ryouta, selamat bergabung dengan kami. Jangan sungkan-sungkan, anggap kami adalah temanmu juga. Mari kita rayakan pertemuan ini dengan bersenang-senang."

Senyum melebar di wajah semua orang yang hadir di sana. Takao mengangkat gelasnya tinggi-tinggi dan berseru, "Bersulang!"

"Bersulang!"

Walaupun minumannya bukanlah yang beralkohol, namun semuanya mengangkat gelas dan membeo Takao. Gelas-gelas plastik berisi soda saling beradu sebelum pemilik masing-masing menenggak minumannya.

Tidak butuh waktu lama bagi kelompok beranggotakan sembilan orang tersebut untuk melebur dalam kehangatan persahabatan. Kise mengetahui dari Aomine bahwa sudah agak lama sejak mereka mengadakan pertemuan seperti ini. Pastinya teman-temannya sudah tak sabar ingin bertemu satu sama lain untuk melepas rindu.

"Sepertinya menyenangkan, ya, bersama dengan teman-teman," desah Kise dengan suara pelan. Ia tersenyum dalam diam dan memperhatikan Takao yang berbicara dengan ceria pada Kuroko, juga Kagami dan Murasakibara berebut burger.

"Kau dan teman-temanmu juga seperti ini, 'kan?" tanya Aomine.

"Eh?" Kise menoleh dengan kaget. "Aomine-cchi bisa tahu apa yang kupikirkan?"

Aomine memutar mata dan mencubit pipi Kise karena gemas. Ekspresi polos kekasihnya itu amat menawan, asal kautahu saja. "Kau mengatakannya tadi, bodoh."

Pipi Kise memerah karena isi pikirannya ketahuan. "T-tidak usah mengataiku bodoh juga, sih," gumamnya cepat.

Astaga, seseorang tampar Aomine. Ia harus diselamatkan dari tawanan pesona Kise. Pemuda bersurai pirang itu begitu imut dan manis. Tidak adil seorang lelaki—tidak, seorang manusia dapat menjadi seimut dan semanis itu. Aomine tidak tahan untuk tidak merangkul dan memberi sebuah kecupan lembut di pipi sang kekasih.

Suara siulan dan kekeh Takao terdengar segera setelah Aomine membuat kontak berbasis seksual tersebut. Wajah Momoi memerah dan ia kentara terlihat menahan sebuah jeritan.

"Bakappuru," gumam Kuroko dengan suara amat lirih.

"Cie cie~ Pasangan baru, cie~" goda Takao, masih terkekeh-kekeh.

Akashi menyilangkan tangannya di dada dan tersenyum. Manik heterokromnya berkilat saat ia menyampaikan, "Ini bagus, bukan? Daiki dan Ryouta dapat terbuka menunjukkan hubungan mereka."

Pipi bak porselen Kise dihiasi semburat merah muda karena perkataan pemuda berambut merah cerah itu. Aomine tidak memedulikan pendapat orang lain, khas dirinya, namun ia tahu Kise tidak nyaman menjadi pusat perhatian. Ia terpaksa melepaskan rangkulannya pada Kise.

"Dai-chan nakal~" Momoi terkikik.

"Oh, diamlah, Satsuki," balas Aomine dengan kesal.

Beberapa menit berikutnya dihabiskan dengan menggoda Aomine. Pemuda bersurai biru tua itu melayangkan berbagai macam protes, terkadang diakhiri dengan kata-kata kotor. Kise hanya tertawa tanpa ikut memperpanas situasi.

"Hei, Kise, bagaimana mungkin orang sepertimu mau bersama si Ahomine ini?" tanya Kagami, atau mungkin lebih ke mengejek.

"Hoi! Apa maksudmu dengan itu, dasar Bakagami!?" Kekesalan menghinggapi Aomine. Ejekan Kagami, alias rivalnya, berarti pernyataan perang baginya.

Tanpa Kise sadari, senyum dan tawanya menjadi lebih bebas. Sebelumnya, ia menahan diri karena walaupun ia adalah pribadi yang ceria dan mudah bergaul, tetap ada suatu batasan yang tidak mungkin ia lewati ketika ia baru saja bertemu seseorang beberapa menit. Akan tetapi teman-teman Aomine—atau yang sekarang dapat ia panggil teman-temannya juga—menyambutnya dengan hangat. Kise merasa senang karena diterima.

"Yah, aku juga tidak tahu bagaimana harus menjawabnya, Kagami-san. Kenapa, ya?" tanya Kise dengan nada berandai-andai yang dibuat-buat. Ia pun kini berniat untuk menjahili kekasihnya sedikit.

Dapat diduga, Aomine terpancing. "Kenapa kau malah membela si idiot itu, Kise!" serunya sambil menunjuk-nunjuk Kagami.

"Siapa yang kaupanggil idiot? Kau cari mati, ya, aho!?" Kagami balas berseru, menantang Aomine.

Seperti yang dapat diperkirakan semua orang, Aomine dan Kagami mulai masuk dalam mode bertengkar. Untungnya, sebelum kerusuhan terjadi, Akashi dapat mengendalikan keadaan.

"Ehem."

Sebuah deham sakti dari Akashi membawa Aomine dan Kagami kembali ke dunia. Mereka lebih memilih berdamai daripada harus bertarung dengan gunting sakti Akashi. Pemuda yang dibicarakan tersenyum puas dan mengangguk. Aomine dan Kagami pun duduk kembali di tempat mereka dengan patuh.

"Wah, Akashi-san hebat! Hanya dengan sekali berdeham begitu, Aomine-cchi dan Kagami-san batal bertengkar," puji Kise dengan mata berbinar. Jujur, Aomine tidak mengerti apa yang begitu keren dengan aura intimidasi Akashi dan manfaat yang terbawa olehnya.

"Humph. Akashi memang selalu jadi yang dapat diandalkan dalam situasi seperti ini," sahut Midorima.

Bahkan Midorima yang tsundere pun mengakui kehebatan Akashi secara gamblang. Kise terpesona dengan kemampuan intimidasi Akashi. Walaupun begitu, ia juga senang melihat sisi lembut pemuda beriris heterokrom tersebut.

"Tentu saja, Ryouta. Kau belum pernah dengar ini, 'kan. Perintahku itu absolut," tanggap Akashi dengan sebuah senyum di wajahnya.

Kise mengangguk. Perkataan Akashi terdengar berbahaya, namun ia tahu pemuda itu adalah seorang teman yang baik. Rasanya menyenangkan memiliki teman-teman seperti ini.

Waktu berjalan dengan cepat. Percakapan demi percakapan mengalir di antara kesembilan sahabat tersebut. Dalam waktu singkat, Takao mengetahui kebiasaan Kise menambahkan sufiks –cchi pada nama teman-temannya. Ia pun meminta Kise untuk memanggilnya demikian.

"Takao-cchi," Kise berkata dengan berbunga-bunga. Takao rupanya menyukai panggilan tersebut. Ia akhirnya memaksa si pirang memanggil semua orang dengan tambahan –cchi.

Midorima terlihat enggan, sedangkan Kagami blak-blakan menyatakan bahwa sufiks itu aneh. Kuroko menyikutnya dengan keras hingga ia mengaduh kesakitan. Walau begitu, Kise tidak merasa tersinggung. Reaksi Kagami yang mirip dengan reaksi Aomine saat ia pertama memanggilnya 'Aomine-cchi' (minus rona merah di pipinya, tentu saja) sungguh membuat Kise merasa terkesan.

"Ya, di Amerika keadaannya berbeda dengan Jepang!" seru Kise dengan penuh semangat. Ia tengah menceritakan pengalamannya tinggal di Amerika Serikat, atas permintaan Kagami yang juga pernah tinggal di sana. "New York itu mengagumkan. Aku sering melihat syuting film di sana-sin—uhuk! Ukh…."

Perkataan Kise terputus ketika ia terbatuk-batuk. Tangannya mencengkeram dadanya dan ia berusaha keras mengatur napasnya. Seketika semua orang menjadi khawatir.

Aomine memegangi punggung Kise dan mengelusnya. Ia begitu khawatir saat bertanya, "Hei, Kise, kau tidak apa-apa? Butuh sesuatu?"

Napas Kise masih pendek-pendek, namun tubuhnya mulai tenang. Ia tersenyum lemah pada Aomine dan menggeleng. "Tidak apa-apa. Aku hanya kena serangan batuk biasa. Kautahu, ketika kau tiba-tiba batuk-batuk tanpa alasan, haha," jawabnya. Ia berusaha menepis kekhawatiran Aomine dengan tertawa seperti biasa.

Aomine tidak sepenuhnya yakin akan kondisi Kise, namun karena pemuda bersurai pirang tersebut mengatakan ia baik-baik saja dan terlihat seperti itu juga, ia menyerah bertanya-tanya lebih jauh.

"Jadi, tadi aku sampai mana? Oh, ya."

Meja dua belas pun tenang kembali. Semua kembali berfokus pada cerita Kise. Masih ada seberkas rasa cemas terpendam di hati Aomine, dan itu membuatnya gelisah. Hal ini memaksanya untuk selalu melirik Kise, memastikan kekasihnya itu baik-baik saja. Lagipula, ia belum begitu tahu apa dan bagaimana Kise yang sebenarnya.

Aomine belum tahu bahwa Kise itu seperti seekor rubah.

Dan rubah suka menyembunyikan perasaannya.


"Hai, ini Kise Ryouta! Sayangnya aku sedang sibuk sehingga tidak dapat menjawab teleponmu. Tinggalkan pesan setelah bunyi 'bip' dan akan kutelepon balik~"

Sebuah bunyi bip khas mesin terdengar.

"Halo, Kise? Kau ada di mana? Aku sudah mencoba menghubungimu berkali-kali. Balas teleponku."

Aomine menutup teleponnya dan menghela napas. Ia kembali di tempat tidurnya dan meletakkan ponselnya dengan asal. Ia menutup wajah dengan lengannya. Kise tiba-tiba tidak dapat dihubungi. Ia tidak menjawab ponselnya. Aomine yakin ia tidak membuat Kise marah hingga pemuda itu menolak bicara dengannya.

Aomine mencoba menelepon lagi, namun kembali dihubungkan ke pesan suara. Pemuda berambut biru tua itu akhirnya menyerah. Ketidakmampuannya menghubungi sang kekasih membuatnya sangat khawatir.

"Ah, sial. Kenapa kau susah sekali dihubungi, sih, Kise?" gumam Aomine kesal. Ia mengutak-atik ponselnya, mencari akun Kise di media jejaring sosial yang sangat pemuda tampan itu gemari. Harapannya pupus saat ia melihat status terakhirnya dibuat empat hari lalu.

Pencarian Aomine di beberapa jejaring sosial lain juga berakhir nihil. Kecemasan merundung pemuda berkulit gelap tersebut. Apa yang sedang kekasihnya lakukan? Bagaimana keadaannya? Bagaimana jika terjadi hal buruk pada Kise? Oh, Aomine bahkan tidak mau memikirkannya.

Kadang, Aomine berpikir tentang betapa hebat dampak yang dibawa Kise terhadap kehidupannya. Pengetahuannya tentang pribadi Kise hanya secuil kuku, namun tiga tahun ia rela menunggu. Kini mereka menjadi kekasih. Mau tak mau Aomine menyadari bahwa ia tetap hanya mengetahui segelintir mengenai Kise. Hal ini membuatnya gelisah. Ia tidak tahu tempat favorit Kise. Ia tidak tahu tanda-tanda perubahan suasana hatinya. Ia tidak memiliki petunjuk apapun mengenai keadaan Kise saat ini.

Let me burn!

Baby, pull me to your embrace

Let me give you an all night long passionate poisonous kiss

Sepotong nada dering yang Aomine pasang khusus untuk Kise terdengar. Dengan refleks secepat kilat, pemuda itu meraih ponselnya.

"Halo? Kise? Kau ke mana saja? Astaga, kau membuatku khawatir! Lain kali jawab teleponku, bodoh!" cerocos Aomine segera setelah ia mengangkat telepon.

"Um, halo juga. Apa ini Aomine Daiki?"

Baiklah, itu tadi mengejutkan. Aomine benar-benar tidak mengharapkan suara Kise berubah menjadi seperti wanita.

"O-oh, iya, dengan saya sendiri," jawab Aomine yang kebingungan. "Ini siapa?"

"Ah, ya. Aku Kise Ryouko, kakak Ryouta. Salam kenal, ya, Aomine-kun. Terima kasih telah menjaga adikku," ujar wanita di seberang sambungan, Kise Ryouko.

Fakta baru ini membuat keheranan Aomine bertambah. Untuk apa kakak Kise menelepon? Terlebih lagi, mengapa melalui ponsel Kise? Apa kekasihnya itu tidak ada?

"Kurasa kau bingung kenapa aku meneleponmu. Bukan begitu, Aomine-kun?" Ryouko berkata, mengajukan sebuah pertanyaan retoris.

"Ya, kurasa," jawab Aomine.

"Maaf aku meneleponmu tiba-tiba begini. Ada … hal penting yang harus kubicarakan denganmu. Ini menyangkut Ryouta," aku Ryouko. Ia terdengar ragu-ragu dengan kata-katanya.

Ketika nama Kise diangkat, kewaspadaan Aomine meningkat. "Ada apa dengan Kise? Dia tidak apa-apa, 'kan?" tanyanya sedikit panik.

Diam adalah jawaban bagi pertanyaan Aomine. Hal ini tidak membuat perasaannya lebih baik. Setelah keheningan yang menyiksa itu, Ryouko akhirnya berkata, "Bisakah kautemui aku besok jam sepuluh di taman tempatmu menunggu Ryouta itu?"

Tentunya Aomine tidak mengharapkan sebuah pertanyaan dilemparkan kembali kepadanya.

"Kurasa aku bisa," jawab Aomine.

Entah kenapa, Aomine dapat merasakan bahwa Ryouko tengah tersenyum. Wanita itu berkata, "Baiklah, sampai bertemu besok, Aomine-kun." Ia lalu menutup telepon.

Aomine menatap layar ponselnya yang menampilkan tulisan 'panggilan selesai'. Raganya di sana, namun benaknya melanglang buana. Ada, secara literal, jutaan alasan Ryouko meminta untuk bertemu dengannya. Yang ia tahu pasti adalah bahwa itu berkaitan dengan Kise Ryouta. Aomine hanya tidak tahu apakah mengenai berita yang baik atau buruk.

Pemuda itu berharap dengan sepenuh hati agar itu adalah berita baik.

"Ahh, apa sih yang kupikirkan? Berpikir positif, Daiki!" gumam Aomine pada dirinya. Ia menatap sosoknya di cermin. Wajah seorang Aomine Daiki yang gelisah dan lelah menatap balik padanya.

Pada akhirnya, Aomine memutuskan bahwa istirahat dapat membantu menenangkannya. Ranjangnya terlihat amat senang menerimanya. Ia berbaring di sana, menanti kantuk yang tak kunjung datang.

Warna biru muda di langit-langit adalah tempat di mana sorot matanya menetap. Dari jendela, berkas-berkas cahaya matahari menerobos. Warna cerahnya mengingatkannya akan Kise dan keceriaannya yang menyilaukan. Ketiadaan si pirang di sisinya terasa abnormal. Aomine mulai merasa seakan sakau.

Aomine berguling untuk berganti posisi. Ada rasa dingin menyentuh kulitnya. Aomine menarik keluar dan meneliti objek tersebut. Liontin hitam yang berpasangan dengan milik Kise. Ia membukanya dan melihat senyum manis Kise di sana.

Helaan napas lolos dari bibir sang pemuda. Ia menutup kembali liontinnya. Ia mengecup objek berharga tersebut dan, sesuai harapannya, kantuk mulai membawa pikirannya dalam kondisi rileks.


"Aomine Daiki-kun?"

Aomine mengalihkan perhatian dari ponselnya dan mendongak. Seorang wanita cantik berambut pirang panjang sepinggang dengan mata cokelat terang tengah berdiri dan tersenyum kepadanya. Aomine segera bangkit. Senyum wanita itu makin lebar.

"Ah, aku benar. Ryouta banyak bercerita mengenaimu. Senang rasanya dapat mengenalmu secara langsung," ujar Ryouko, sang wanita.

Sebuah pikiran acak muncul di pikiran Aomine: Kise rupanya mewarisi senyuman manis dari kakaknya yang satu ini. "Senang juga bertemu denganmu, Ryouko-san."

"Aku benci harus melewatkan perkenalan, tapi aku tahu kau ingin tahu tentang Ryouta. Ikut aku. Ada suatu tempat di mana Ryouta menunggu," kata Ryouko lagi.

Cukup mencurigakan, memang, jika tiba-tiba wanita cantik itu datang dan mengajak Aomine pergi begitu saja. Hanya saja, aura Ryouko sama seperti adiknya. Mereka memiliki aura menyenangkan yang membuat Aomine ingin memercayainya.

Jadi, Aomine pun pergi bersama Ryouko. Mereka naik taksi berdua, dengan destinasi yang hanya Ryouko yang tahu.

Ban taksi berputar membelah jalanan Tokyo yang ramai. Gedung-gedung yang familier menjulang tinggi seakan ingin menembus langit. Di persimpangan Shibuya yang terkenal, Aomine melihat orang-orang menunggu untuk menyeberang.

Niatan Aomine untuk bertanya urung ketika melihat Ryouko. Wanita itu termangu sambil berpangku tangan. Matanya menatap ke pemandangan di luar jendela, namun sorotnya tak benar-benar berfokus ke sana.

Ketika taksi akhirnya berhenti, Aomine segera keluar dan melihat pemandangan. Apa yang dilihatnya membuat hatinya mencelos.

Tulisan Tokyo University Hospital terpampang jelas di gedung besar di hadapannya.

"Ayo masuk, Aomine-kun. Ryouta ada di sana," ajak Ryouko. Ia tersenyum dan mendahului Aomine masuk melalui pintu utama.

Aomine menelan ludah dan mengikuti jejak Ryouko. Ia bahkan tidak ingin berpikir tentang apa yang terjadi pada Kise. Pemuda itu mengikuti sang wanita naik lift. Mereka berhenti di lantai lima.

Lorong lantai lima sepi dan sunyi. Satu-satunya suara adalah suara berkeletak dari sepatu hak tinggi milik Ryouko yang beradu dengan lantai. Aura rumah sakit membuat perasaan Aomine tak enak. Ryouko lalu berhenti di depan sebuah ruangan. Aomine melihat pelat bernomor 507 terpasang di pintu.

Aomine terhenti di pintu, matanya melebar.

"Maaf mengejutkanmu seperti ini, Aomine-kun. Aku … aku tahu ini berat, tapi aku harus memberitahumu," kata Ryouko pelan.

Tatapan Aomine jatuh pada sosok Kise Ryouta yang terbaring di ranjang dengan berbagai macam selang terhubung ke tubuhnya. Berbagai alat medis rumit ada di sana untuk menopang kehidupan pemuda bersurai pirang tersebut. Elektrokardiograf terletak di sisi ranjang, menyumbang satu-satunya suara dalam keheningan. Hanya garis naik-turun di mesin itu yang membuat Aomine yakin bahwa masih ada kehidupan mengalir dalam nadi kekasihnya.

"K-Kise … kenapa?" tanya Aomine dengan suara tercekat. Ia menatap horor pada Kise yang tak kunjung membuka mata.

Raut sendu terpancar dari wajah Ryouko. Wanita cantik itu menepuk bahu Aomine dan berujar, "Ayo duduk, Aomine-kun. Akan kuceritakan segalanya."

Aomine mengangguk. Ia duduk di sofa bersama dengan Ryouko. Segala aspek dalam dirinya mencoba mengabaikan Kise yang terbaring di ranjang.

Segala aspek dalam dirinya pun menolak melakukan itu.

"Aku sudah dengar darimu dari Ryouta. Zutto matteru na otoko, dan penantianmu tiga tahun itu. Tiga tahun itu … mengarah pada hari ini," ucap Ryouko.

Aomine diam dan mendengarkan. Ryouko sendiri terlihat sulit membawa dirinya untuk menceritakan segalanya. Saat wanita itu mulai tenanglah saat ia akhirnya kembali bicara.

"Tiga tahun lalu. Segalanya bermulai tiga tahun lalu. Ryouta sering mengeluh sakit di dada dan terkadang sesak napas. Awalnya keluarga kami menganggap itu kondisi biasa. Lalu keadaan itu berlanjut, dan Kaa-san mulai khawatir. Saat itulah kami tahu bahwa kondisi Ryouta sangat jauh dari baik-baik saja."

Setetes air mata jatuh di pipi sang wanita, namun ia segera mengusapnya.

"Penyakit kardiovaskular. Ada kelainan di jantung Ryouta. Hal itu membuatnya dapat terkena serangan jantung kapan saja. Kaa-san histeris, dan Tou-san menolak untuk percaya. Tes di dokter lain menyatakan hal yang sama. Saat itulah adikku, Ryuka, meminta kami sekeluarga pindah ke Amerika Serikat. Ia bekerja magang di sebuah rumah sakit di bilang Ryouta akan mendapat pengobatan yang lebih baik di sana.

"Tiga tahun lalu, ketika kau bertemu Ryouta, itu adalah sehari sebelum kepergiannya ke Amerika. Hubungan kami dengan Jepang terputus. Yang ada di pikiran kami adalah kesembuhan Ryouta. Tahun pertama menunjukkan perkembangan yang baik. Kami mulai berharap. Akan tetapi, dokter mengungkapkan bahwa kondisi Ryouta dapat memburuk jika tidak mendapat donor jantung segera. Kami mencari ke mana-mana, namun ternyata belum ada donor yang cocok.

"Hingga akhirnya ada satu yang cocok. Tanpa ragu, keluarga kami setuju untuk mengadakan transplantasi jantung bagi Ryouta. Itu adalah keputusan yang salah. Ryouta nyaris mati. Tubuhnya tidak kuat menahan operasi. Saat itulah harapan kami hilang sudah. Ryouta mengerti ini. Ia tahu bahwa keluarga kami sudah menghabiskan banyak uang untuk pengobatannya."

"Lalu Kise merasa itu sudah cukup … dan menyerah," lirih Aomine. Ryouko menjawabnya dengan anggukan.

"Ryouta sudah lelah. Ia tahu pada akhirnya kematian yang menunggunya. Karenanya ia meminta untuk pulang ke Jepang. Ia ingin menghabiskan sisa usianya dengan tenang di sini, di kampung halamannya." Ryouko akhirnya mengakhiri penjelasan panjangnya. Pada akhirnya, ia tidak dapat terus bertahan tegar dan mulai terisak. Dengan terbata-bata, ia menambahkan, "Bertemu denganmu mengganti semua rencana. Ryouta jatuh cinta padamu, Aomine-kun. Ryouta tahu hidupnya takkan lama, namun ia ingin menghabiskan lebih banyak waktunya denganmu. Dia mendedikasikan hidupnya padamu. Karenanya, Ryouta … Ryouta bertahan. Ryou-chan kecilku terus berusaha hidup. Semuanya karenamu, Aomine-kun. Karenamu…."

Diam adalah kawan Aomine saat ini. Semua informasi ini terlalu berat untuk dicerna. Minggu lalu, Kise masih ada di sisinya. Minggu lalu, Kise masih ada dalam dekapannya. Minggu lalu, Kise masih tersenyum manis padanya. Lalu sekarang, mengapa semuanya berubah?

Suara bip, bip, bip elektrokardiograf bersatu padu dengan isakan Ryouko. Sebagai lelaki yang baik, Aomine seharusnya melakukan sesuatu untuk menenangkan wanita cantik tersebut. Sayangnya, ia sendiri terlalu tenggelam dalam kesedihannya sendiri.

"Nee-chan…?"

Sebuah suara serak nan lirih dari sisi lain ruangan menyadarkan Aomine dan Ryouko. Sang wanita berambut pirang segera mendekati adiknya yang terbangun dari istirahatnya. Ia mengelus rambut pirang sang pemuda dan membisikkan kata-kata penuh kecemasan.

Aomine mendekati Kise. Dari dekat, ia dapat menelusuri setiap fitur di tubuh kekasihnya. Matanya, yang selalu terlihat ceria, kini sayu dan kuyu. Bibirnya kering, dan wajahnya menjadi tirus. Aomine tidak ingat pernah merasa selega ini melihat dada Kise naik turun karena napasnya yang teratur, memberitahu bahwa si pirang masih memiliki kehidupan dalam bentuk oksigen dalam paru-parunya.

"Aomine-cchi? Kenapa di sini?" tanya Kise lagi, suaranya makin parau. Aomine ingin mengelus kepalanya dan menyuruhnya untuk tak bicara, namun suaranya tercekat di tenggorokan.

"Maaf, Ryou-chan. Aku yang memanggilnya. Aku tidak bisa melihatmu menderita sendirian. Aomine-kun berhak tahu," sela Ryouko dengan suara pelan.

"Ya. Ryouko-san sudah memberitahu segalanya untukku, Kise. Aku tidak marah padamu. Aku … aku tak tahu apa yang kini kurasakan," Aomine mengaku. Ia duduk di kursi di sisi ranjang Kise dan memegangi tangannya.

"Maaf, Aomine-cchi…," bisik Kise. Setetes air mata mengalir di pipinya.

"Jangan minta maaf, kumohon. Ini bukan salahmu. Jangan pikirkan hal lain. Jangan cemaskan aku. Saat ini, aku hanya ingin melihat wajahmu. Aku hanya ingin tahu bahwa kau masih ada di sisiku. Itu saja cukup bagiku. Jadi jangan cemaskan aku, ya?" ujar Aomine. Ia menggenggam tangan Kise seakan ingin menenangkan sang pemuda berambut pirang.

Ryouko menghapus air matanya. Matanya sudah cukup sembab karena itu. "Kurasa kalian butuh waktu berdua. Aku akan menjemput Kaa-san dan Tou-san. Aomine-kun, tolong jaga Ryou-chan." Setelah mengatakan itu, sang wanita tersenyum dan mengecup kening adiknya tersayang, lalu melenggang pergi.

Kepergian Ryouko meninggalkan keheningan yang menyesakkan di ruangan 507. Kise memejamkan mata dan tiada berkata apa-apa. Aomine tidak sanggup membawa dirinya untuk bicara. Tidak ada tukaran kata, tidak ada suara.

"Aku … ingin hidup demi Aomine-cchi," kata Kise pelan. Amplitudo suaranya nyaris terlalu kecil untuk dapat didengar telinga, namun keheningan yang menyiksa membuat Aomine peka.

"Aku tahu," jawab Aomine singkat. Ia mengeratkan genggamannya pada tangan Kise. Hatinya miris merasakan betapa kurusnya si pirang.

"Aku minta maaf sudah membohongimu." Suara Kise bergetar saat ia mengatakannya.

"Tidak usah meminta maaf. Itu bukan salahmu. Aku mengerti," Aomine menjawab lagi.

Kise menghela napas, membuat uap di maskernya. Ia berbisik lirih, "Aku cinta Aomine-cchi."

Dalam embusan napasnya, kata-kata itu terlantun, sarat akan perasaan Kise pada Aomine. Segala kepedihan, kepahitan, kesedihan, kebahagiaan, dan harapannya hidup di dalam untaian kata yang lolos dari bibirnya. Aomine menyadari hal ini. Segala perasaan yang Kise miliki terhadapnya; Aomine telah menerima semuanya.

Kise menangis kembali, dan Aomine turut meneteskan air mata bersamanya.

"Aku juga mencintaimu, Kise. Karenanya … bertahan hiduplah. Demi kita."


"Tambah dosisnya lagi! Siapkan CPR!" seru dokter Genta. Ia beralih pada sang pasien yang tengah meregang nyawa di ranjang di hadapannya. "Kise-san, tetap bersama saya. Bernapaslah. Cobalah untuk tenang."

Kise tak dapat merespon. Pikirannya terus bolak-balik berada dalam kondisi sadar dan terparalisis. Rasanya seperti ada sesuatu menjepit dadanya, berusaha menghancurkannya. Jantungnya mulai tak terasa detaknya. Napasnya putus-putus. Ia ingat untuk terbatuk-batuk, berusaha menghalau serangan jantungnya. Sayangnya, tubuhnya seakan menolak untuk berkooperasi lagi.

"Kise! Bertahanlah, sialan! Kiseee!"

Di jarak pandang Kise yang kini mulai dikotori titik-titik hitam, ia dapat lamat-lamat melihat Aomine. Suaranya terdengar gelisah dan marah. Kise tidak suka. Suara seperti itu tidak cocok bagi kekasihnya.

Dokter Genta melihat Aomine dan menepuk salah satu suster dengan agak keras dan memerintah, "Bawa dia pergi. Kita harus segera melakukan prosedur."

Suster itu mengangguk dan menarik Aomine pergi, dibantu seorang suster lain. Sayangnya, tenaga dua orang wanita dapat dengan mudah dikalahkan oleh Aomine.

"Aomine-san, tolong keluar. Kami sedang berusaha menyelamatkan Kise-san di sini!" seru salah seorang suster.

Aomine menolak dan langsung merangsek maju. Ia meraih tangan Kise dan menggenggamnya erat-erat. Ia menolak untuk melepaskannya, apapun yang terjadi. Hanya Kise pegangannya saat ini. Hanya dia yang ada untuknya.

Kise, di sisi lain, tahu ini adalah akhir baginya. Hidupnya sudah cukup lama. Jika diberi kesempatan, ia tentu ingin bersama Aomine lebih lama, walau hanya satu hari saja. Akan tetapi, ia tahu dirinya sudah diinginkan di dunia berikutnya. Air matanya menetes, namun ketika ia mendapatkan pandangan jelas akan wajah Aomine, ia tak dapat tidak tersenyum.

Aomine bersumpah, senyum Kise itu adalah senyum paling indah dan paling mematahkan hati yang pernah ia lihat. Seperti senyum waktu itu. Seperti saat Kise tersenyum dan mengisyaratkan kepergiannya.

Kise siap mengucapkan selamat tinggal.

Aku akan selalu mencintaimu, jangan ragukan itu.

Ingat selalu padaku, ya?

Maaf aku egois.

Maaf aku meninggalkanmu seperti ini.

Sekarang, kau tidak akan perlu menungguku lagi.

Jangan khawatir, aku yakin kita akan bertemu lagi nanti.

Untuk saat ini … selamat tinggal.

Semua kata-kata itu terwakili dengan sebuah senyum. Dan dengan itu, Aomine merelakannya. Seiring dengan jiwa Kise yang terasa terbang semakin menjauh, Aomine merelakan kepergiannya.

"Aku mencintaimu, Aomine-cchi."

Usaha para dokter dan suster pun tiada berguna kini. Aomine tahu segalanya berakhir. Hingga akhirnya para paramedis menepuk bahunya dan meminta maaf, Aomine tetap berdiri di sana. Ia hanya menatap Kise dan memegangi tangannya yang mendingin.

Air mata menetes lagi, mengotori wajah Aomine. Ia menunduk, membuat beberapa titik likuid bening tersebut jatuh ke wajah kekasihnya. Aomine mencium bibir Kise dengan lembut. Rasa manis yang terasa dingin itulah rasa perpisahan baginya.

"Aku juga mencintaimu, Kise. Akan selalu seperti itu."

Dunia Aomine runtuh. Ia pun menyatu kepada dunia normal. Dunia yang ia tinggalkan tiga tahun lalu. Dunia yang berputar tanpa penghenti. Dunia di mana Kise tak ada di sana.

Aomine memutuskan untuk melanjutkan hidup, dan menanti dunia lain. Dunia selanjutnya di mana Kise menantinya.


—The End.


A/N:

Ini dia chapter terakhir! Spesial buat beb Aiko karena ini emang entri challenge-nya~ Dan umm, ya, saya amat sangat minta maaf karena sudah nge-angst gini. Saya gak berharap ada yang nangis sih ya. Kalau ada, ya … maaf. Tapi kalau ada yang nangis kayaknya saya bakal nge-squeal karena ini rasanya pertama kali angst saya berhasil _(:"3

OH YA BARU INGET! GAYS GAYS AOKISE MAU DAPET DUET LOHHH! KITA TUNGGU TANGGAL 31 AGUSTUS SAMBIL DUDUK MANIS YUK~ *HEAVY BREATHING*

Btw saya nyelipin anime lain tuh di sini. Ada yang nyadar apa? (hints-nya terlalu blunt, emang)

Okay, sooo, sama seperti Kise, saya juga ingin ngucapin goodbye. Not for eternity, though. Saya udah cukup rambling di sini. I'm so sorry for this piece-of-crap I call fic. Favs and reviews are, as always, greatly appreciated~ See you next time!

070414 2149 —Shana Nakazawa