Hyahooooooooo...
gara2 mid semester dan dimulainy les, jdi ngaret updateny nih TT_TT
Io minta maaf ke semua reader yg udh menantikan klanjutan nasib dari Kuroko bersaudara dan Kapten psikopat kita #bungkuk
Akashi : Apa maksudmu dengan "Kapten psikopat", Io-san?!
Io : Errr, kenyataannya emang gitu kan?
Akashi : Oh, ternyata kau tak jera juga ya dengan gunting manisku ini?!
Io :A, Akashi-kun, kumohon jangan TT_TT
Akashi : Kalau begitu, cepat disclaimernya!
Io : I, Iya deh.
Kuroko no Basuke Fanfiction
Desclaimer : Tadatoshi Fujimaki-sensei~
Warn: Typo(s), OC, OOC, abal-abal, bahasa yang amburadul, dll
Ch. 3 Kedua GoM saling bertemu
"Tadaima," kata itu selalu Shiroi ucapkan saat ia sampai di rumahnya yang sepi. Kedua orang tuanya bekerja di luar negeri dan hal itu menyebabkan mereka berdua harus mengurusi rumah dan diri mereka sendiri.
"Okaeri, Shiroi. Kau pulang telat seperti biasanya," tak lupa Kuroko menyambut kepulangan adik kesayangannya dengan tatapan datar namun lembut.
"Kan tadi sudah dibilang aku bakal pulang telat," Shiroi menyanggah pernyataan Kuroko yang ia anggap tak benar.
"Ah, Tetsu-nii sudah makan malam?"
Kuroko terdiam dan tak lama, bunyi yang terdengar familiar muncul dari dalam perutnya. Kuroko sedikit mengalihkan pandangannya sembari berusaha menutup ekspresi malunya walaupun tak terlihat jelas. Namun berbeda dengan Shiroi. Ia tahu apa yang kakaknya sembunyikan dan itu merupakan hal yang ia anggap lucu sampai-sampai sebuah tawa kecil ia keluarkan.
"Baiklah, baiklah. Akan kubuatkan makan malamnya."
Tanpa memperhatikan tasnya yang tergeletak begitu saja di sofa ruang keluarga dan baju seragamnya yang tak berganti, Shiroi dengan sigap memasang celemek dan mempersiapkan bahan-bahan makan malamnya.
"Lengkap sekali bahan makanannya?" Shiroi heran dengan tumpukan rapi bahan makanan yang tersedia di kulkas mereka.
"Aku baru saja membelinya," Kuroko menjelaskan kebingungan Shiroi.
"Oh. Kalau begitu, kenapa Tetsu-nii gak coba memasak kalau bahan makanannya lengkap kayak gini?"
"Shiroi lupa kejadian seminggu yang lalu?"
Shiroi menghentikan aktivitas memotong sayurnya dan mengingat-ingat kejadian itu. Kejadian mengerikan yang terjadi disaat ia pulang sangat larut akibat kegiatan tim basketnya yang padat. Begitu baru memutar gagang pintu rumahnya, terdengar sebuah ledakan yang harus membuatnya langsung berlari menuju sumber ledakan yang diduga berasal dari dapur itu. Dan ia langsung sweatdrop tatkala melihat kondisi dapur yang sudah amburadul bin berantakan, asap hitam mengepul-ngepul memenuhi ruangan dan api yang mulai menggerogoti meja makan yang terbuat dari kayu. Untungnya, api itu segera dipadamkan oleh kakaknya dengan kondisi yang selaras dengan dapurnya.
"Tetsu-nii, kau mencoba memasak makan malam sendiri?"
Sesuai yang dikatakan Shiroi, Kuroko memang mencoba memasak makan malam sendiri, terlihat dari celemek yang ia gunakan. Sayangnya, usaha kakaknya itu malah membuat dapur bersih dan rapi mereka harus hancur tak terbentuk.
"Aku kelaparan dan Shiroi tak mengabari. Jadi terpaksa," ucap Kuroko yang masih dengan tampang innocentnya walau tercoreng oleh sisa-sisa kekacauan yang ia buat.
Sejak kejadian itu, ia melarang keras kakaknya sampai-sampai mrngubah mode sifatnya dan mengancam kakaknya dengan penggaris besi yang setia menemaninya untuk menyentuh peralatan memasak tanpa pengawasan darinya. Beruntungnya saat itu Kuroko hanya menggunakannya selama 5 menit. Coba dibayangkan jika ia menggunakannya lebih lama dari itu, bisa-bisa rumah mereka yang hancur.
"Hah, aku gak bisa membayangkannya kalau aku pulang lebih larut lagi," Shiroi bergidik ngeri mengingat kejadian absurd itu.
"Dan aku juga gak bisa bayangkan kalau harus menghadapi Shiroi-chan yang satunya lagi untuk kedua kalinya," inner Kuroko yang sudah keringat dingin mengingat dan membayangkan dirinya dikala terkena amukan menakutkan plus mengerikannya Shiroi yang sampai membuatnya menggigil tak bisa tidur seminggu yang lalu. Sungguh, ia terkapok-kapok dan tak berani memasak sendiri lagi.
Tak mau terlarut dalam flashbacknya, Shiroi kembali melanjutkan kegiatan yang sempat terhenti itu.
"Oh ya, Tetsu-nii. Kalau dipikir-pikir, kenapa waktu itu gak mesan makanan aja?" tanya Shiroi dengan fokusnya yang tak berkurang.
"Aku hanya ingin mencoba membuat makan malam sendiri," ucapan Kuroko yang sempat terjeda sebelum ia kembali melanjutkannya.
"Selain itu, aku juga ingin Shiroi-chan mencicipi masakan buatanku."
Shiroi terhenti dan tiba-tiba terkekeh.
"Aku mengerti. Tapi, alangkah baiknya kalau Tetsu-nii tak nekat seperti itu. Minimal, beritahu dulu."
"Aku ingin membuatnya sebagai kejutan."
"Tapi itu terlalu mengejutkan."
Kuroko terpuruk mendengar pernyataan adiknya itu yang begitu menohok hatinya karena apa yang diucapkan benar adanya. Aura hitam keunguan yang kuat mulai muncul disekelilingnya.
Melihat dan merasakan kondisi kakaknya yang terbilang suram, Shiroi menghiburnya.
"Hah. Lain kali, kuajarkan Tetsu-nii cara memasak yang baik dan benar deh."
Dengan cepat dan mengejutkan, Kuroko tiba-tiba bangkit dan melirik kearah adiknya dengan mata berbinar dan wajah yang begitu imutnya. Dan lagi-lagi, hal itu membuat Shiroi kembali tertawa.
"Nii-san lucu sekali..."
oOoOoOoOoOo
Pagi menjelang, namun matahari masih meredup. Embun-embun juga belum bisa berpisah diujung dedaunan. Udara masih begitu dingin menusuk, membuat mata setiap orang enggan untuk terbuka. Kecuali sesosok dengan surai putih kebiruan panjang yang terkibar oleh angin dingin pagi dan manik dengan warna senada yang lebih memilih menggerakan tubuhnya diantara kabut yang mulai menipis daripada meringkuk di bawah selimut tebal nan menghangatkan jiwa dan raga. Ia tak mau menjadi malas bergerak. Toh, menggerakan tubuhnya seperti sekarang ini juga bisa menghangatkan dirinya. Telihat dari peluh keringat yang bercucuran di kulit wajahnya yang putih pucat itu, menandakan bahwa ia lebih dari sekedar hangat.
Dengan ditemani musik yang keluar dari headphonenya, ia berharap acara jogging rutin mingguan kali ini bisa berjalan lancar seperti biasanya. Namun, kali ini tak sesuai harapannya. Tak sengaja di tengah larinya, ia berpapasan dengan seseorang dengan kilatan emas dan merah dalam manik kecilnya yang begitu jelas telihat di dalam kabut ini. ditambah lagi dengan surai yang membara dan juga tatapan angkuh dingin yang dinginnya melebihi udara dingin pagi ini, membuat Shiroi yakin seyakin-yakinnya siapa seseorang itu. Ya, dialah Akashi Seijuuro
"Bertemu lagi."
Sapaan dingin langsung membuat Shiroi membeku dihadapan Akashi. Ia bisa mendengar suara dingin yang menekan dengan jelas walau kini di telinganya terpasang headphone dengan volume suara yang lumayan keras. Untungnya dia bisa menahan perubahan mode sifatnya, jadi kali ini dia bisa menyapa balik dengan cara yang lebih halus daripada terakhir kali ia bertemu.
"Begitulah," sembari ia melepaskan headphone dari sepasang telinganya.
Shiroi memposisikan tubuh lelahnya duduk dibangku taman dan Akashi mengikutinya.
"Apa kau juga ikut jogging?"
"Hanya terbangun terlalu awal, itu saja."
"Oh."
Sunyi makin mencekam saat mereka menghentikan pembicaraan. Namun, hal itu tak membuat masalah bagi Shiroi. Yah, dia sendiri juga tak ada yang mau ditanyakan lagi dengan pemuda heterokromia yang berada tepat di sebelahnya. Tapi tiba-tiba, Akashi membuka mulutnya.
"Kudengar sebentar lagi Inter-High basket cewek?"
"Ya, lalu mengapa?"
"Tandinglah bersama kami."
"Ha?"
"Apa aku perlu mengulangnya dua kali?"
"Bukannya hasilnya jelas kalian yang menang?"
"Jangan banyak bertanya dan turuti saja!" garis perempatan muncul di wajah Akashi. Tak disangka, gunting keramat miliknya juga sudah bersiap dalam genggamannya jikalau cewek polos berkepribadian ganda itu masih berbasa-basi dengan mimik wajah tak berdosanya.
"Kau sudah lupa aku tak suka dipaksa dan diperintah?" saking bencinya dengan yang namanya perintah, Shiroi keceplosan membuka tabiat aslinya. Dan jangan lupakan, kebiasaan membawa penggaris besinya kemana-mana itu. Yang pastinya kini sudah berputar-putar di tangan kanan Shiroi.
"Hoooo, jadi kau tak mau?"
Shiroi tersentak seketika. Kemudian ia tundukkan kepalanya dan matanya memandang ke tanah tempat ia berpijak. Terlihat guratan tajam di dahinya yang menandakan ia sedang berpikir keras menentukan pilihan yang tepat, apakah ia harus menolak perintahnya atau terpaksa setengah hati mengikuti hal yang paling dibencinya itu.
Bisa saja ia gengsi mengacuhkan perkataan Akashi tadi. Namun ia teringat dengan timnya yang saat ini butuh latihan tanding. Mau tak mau, terpaksa ia harus tunduk menuruti keinginan pemuda paling angkuh dan menyebalkan di matanya itu.
"Hah. Baiklah, kali ini saja aku menuruti perintahmu."
Senyum kemenangan terpancar dari wajah Akashi. Ia sudah tahu Shiroi tak akan menolak ajakan atau lebih tepatnya perintahnya kali ini.
"Kalau begitu, kami datang jam 3 sore ini ke sekolahmu," Akashi lalu menapakkan kakinya meninggalkan tempat dan Shiroi yang masih terduduk itu. Senyum atau seringainya masih saja ia tampilkan walaupun ia menjauh dari Kapten Kanshou Academy itu. Terpuaskan oleh kemenangan besar yang baru ia dapatkan setelah sebelumnya dikalahkan telak olehnya.
"Mulai saat ini, kau tak bisa lagi membantah perintah absolutku..."
oOoOoOoOoOo
"KAICHOU/SHIRO-CHU/KAPTEN/SHIROI-SAN/SHIROI-NYO SERIUS?!" serempak tim Shiroi beserta manajernya menampakkan ekspresi kagetnya. Jelas, itu disebabkan oleh keputusan mendadak Shiroi yang bahkan dirinya sendiri pun sempat kaget dibuatnya jauh sebelum mereka terkaget.
"Jadi kalian anggap ini bohongan?" Shiroi menyakinkan anggotanya itu.
Di tempat yang berbeda...
"YANG BENAR AKASHI-KUN/AKASHICCHI/AKASHI/AKACHIN?!" kondisi yang tak jauh berbeda dengan di Kanshou juga terjadi di Teikou.
"Apa aku ini tipe orang yang suka berbohong?" suara dingin ditambah penekanan yang mengintimidasi keluar dari mulut Akashi.
"Asyik-ssu! Ketemu sama Shiroicchi lagi!" Kise riang gembira tanpa memperhatikan sekelilingnya.
"Whoah, aku ingin cepat-cepat melawan mereka!" Aomine juga ikut-ikutan bereaksi sama dengan Kise.
"Ide yang bagus nanodayo," Midorima dengan santainya kembali mengangkat kacamatanya.
Jangan ditanya tentang Murasakibara. Ia masih saja sibuk mengunyah makanan yang ada di mulutnya hingga ia tak bisa mengatakan apa-apa.
"Hei, Tetsu-kun. Apa kau tahu hal ini?" Momoi berbisik dengan Kuroko yang mungkin saja tahu tentang pengumuman mengejutkan ini.
"Tidak, Shiroi tak memberitahuku hal ini," jawab Kuroko singkat dan padat. Sebenarnya ia juga penasaran apa yang dilakukan adiknya hingga ia dan Akashi sepakat membuat pengumuman itu.
"Bersiaplah, kita akan kesana," kericuhan sesaat mereka terhenti begitu Akashi menyuruh mereka untuk bersiap. Sesuai pikirannya yang tak pernah meleset, mereka sangat antusias dengan hal ini.
"Entah mengapa akan terjadi sesuatu yang besar nanti," ucap Kuroko dalam hatinya dengan gelisah tak menentu.
Sementara Teikou dalam perjalanan, di pihak Kanshou juga sibuk mempersiapkan diri. Bagaimana tidak, latihan tanding ini akan menjadi persaingan berat melebihi turnamen resmi mana pun. Pertandingan tim GoM cowok VS GoM cewek.
"Huah, mentang-mentang lawan tandingnya GoM, masak pemanasannya kayak gini-chu."
"Akina, lebih baik jangan mengeluh daripada terkena sabetan penggarisnya."
"Tapi Fuyuki-chu, apa gak berlebihan kita pemanasannya keliling lapangan 30 kali?! Belum lagi kita bakal bertanding."
"Sudah lah Akina-san, terima saja."
"Benar Nyo-ho."
"Tapi, tapi, tapi, ini keterlaluan!"
"Ada yang protes?!" terganggu oleh ocehan salah satu anggotanya, Shiroi mengancam mereka dengan sarkastik seperti biasanya.
"Ehehehehe, kaichou."
Yang lainnya hanya menggeleng dengan wajah ketakutan mereka.
"Ah, aku lupa. Kita akhiri pemanasannya, tinggal menunggu mereka saja," Shiroi menghentikan aktivitas pemanasan mereka setelah melihat jam digital yang berada dihandphonenya. Para anggota langsung terduduk lemas sampai-sampai ada yang tepar tergeletak di atas lantai licin lapangan indoor mereka.
"Aku tepar."
"Gak kubayangkan, mereka telat sekali."
"Natsura, bersabarlah."
"Em, em."
"Kaichou!"
"Hn?" Shiroi menanggapi panggilan sang manajer tanpa panjang lebar.
"Serius bakal gak apa-apa?" terlihat raut muka kecemasan dan kekhawatiran dari diri Ameda Ritsuku, sang manajer Kanshou.
"Ini hanya latihan tanding saja. Gak usah khawatir berlebihan," demi menenangkan manajer termanisnya, Shiroi rela mengubah modenya kembali menjadi dirinya yang polos.
"Em, ba, baiklah."
Tak lama, suara langkah kaki yang cukup ramai terdengar mendekati lapangan. GoM cewek beserta manajernya sudah menduga-duga pemilik dari langkah kaki itu. Dan sesuai dugaan mereka, langkah kaki itu berasal dari tim GoM cowok yang datang dengan aura tak biasa. Siap menerkam siapa saja yang berada di depannya tanpa terkecuali.
"Ah, sudah datang ya."
"Shiroicchi!" Kise yang baru menapakan kakinya di pintu lapangan langsung melesat menuju Shiroi. Tak lupa dengan rentangan tangannya yang menandakan bahwa ia akan memberikan pelukan maut miliknya yang menyesakkan.
Mengetahui dirinya terancam, refleks Shiroi mengacungkan sang penggaris 30 cm yang terbuat dari besi dengan kecepatan cahaya dan berhenti tepat di depan batang hidung Kise. Sementara keadaan orang yang teracungi, kini diam membeku ditempat karena shock berat dan hampir dibuat pingsan olehnya.
"Tolong hentikan tingkah kekanakanmu, Kise-san," Shiroi kembali ke sikap sarkasmenya. Matanya tajam menusuk memandang Kise menandakan bahwa ia tak suka dengan perlakuannya.
"Hi, hidoi-ssu," ucapan Kise begitu tergetar melihat sudut-sudut tajam penggaris yang berkilauan sedikit hampir menyentuh kulit putih bersihnya.
Dan untuk yang lainnya yang berada di sana, minus Akashi dan Kuroko hanya bisa bersweatdrop dengan derasnya melihat keadaan Kise yang begitu miris dan naas. Dalam hati, mereka bersumpah tak ingin berbuat yang macam-macam dengan cewek buas yang satu ini. Terlalu liar untuk dijinakkan pikir mereka.
"Ya, yah. Karena semua udah pada datang, bagaimana kalau kita berkenalan dulu," Ameda berusaha mengubah suasana meskipun dirinya canggung untuk melakukannya.
"Ah, maafkan aku. Aku terlalu berlebihan," Shiroi kembali ke dirinya yang polos dengan cepat hingga membuat anggota timnya dan tim GoM cowok lagi-lagi shock dibuatnya. Terkecuali Kuroko yang sudah sangat mengenal karakter adiknya dan Akashi yang merupakan teman psikopatnya #dilemparguntingsamaAkashi.
"Sa, sangat mengerikan-ssu."
"Melebihi Akashi."
"Shi, Shiroi-chan."
"Aku tak ingin terlibat lagi dengannya nanodayo."
"Cepatnya."
"Begitulah Shiroi."
"Hm."
"Ah, lebih baik aku mengenalkan timku terlebih dahulu," bersamaan dengan perkataannya, para anggota tim basket Kanshou beserta manajer langsung siap berdiri di sampingnya.
"Aku Akina Mitsuri-chu, posisi forward," sang surai orange dengan ikat sampingnya memperkenalkan diri.
"Fuyuki Ayana, center," kini giliran surai coklat kepang yang mengenalkan diri.
"Harumi Yosaka, guard juga shooter Nyo-ho," berikutnya si surai pendek magenta.
"Natsura Ishima, forward sekaligus Ace Kanshou!" dengan pembawaan sifatnya yang ceria, dengan lantangnya surai tosca memperkenalkan diri.
"Jadi kau Ace Kanshou?! Tapi, kok gak menyakinkan ya?" Aomine langsung pemotong acara perkenalan tim Kanshou begitu sang Ace GoM cewek menampakkan dirinya. Terlihat dari raut wajah semangatnya, Aomine senang mendapat lawan dengan posisi yang sama dengannya. Tapi, ia juga sekaligus ragu dengan cewek tosca yang berada dihadapannya. Pasalnya, dia terlalu pendek dan ramping untuk dianggap Ace.
"Kau meremehkanku, ya?!" Natsura jengkel dengan perlakuan Aomine yang seakan-akan merendahkannya.
"Soalnya, kau kecil dan ramping. Tak cocok dengan gelar Ace," ungkapan Aomine yang enteng dikeluarkan telah membuat banyak perempatan pada diri Natsura. Cowok kulit terbakar ini benar-benar membuatnya sangat amarah.
"Ka, kau!"
"Sudah, sudah Natsura-chan. Jangan buat suasana makin gak enak," Ameda berusaha menghentikan ambisi mematikan Natsura dan untungnya itu berhasil.
"Oh ya, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Ameda Ritsuku. Manajer dari tim basket cewek Kanshou Academy," Ameda dengan surai abu-abu sebahunya tak luput dari acara perkenalan itu. Tak lupa, ia berkenalan dilengkapi dengan senyuman manis khasnya yang melebihi Momoi membuat tim GoM Teikou terpana, beda cerita dengan Akashi dan Kuroko.
"Dan terakhir, aku, Kuroko Shiroi. Guard yang merangkap sebagai Kapten di tim ini," Shiroi juga tak mau ketinggalan.
"Kuroko Tetsuya-desu."
"Momoi Satsuki. Manajer tim basket Teikou."
"Kise Ryouta-ssu."
"Aomine Daiki, Ace."
"Midorima Shintarou nanodayo."
"Murasakibara-nyam-Atsushi."
"Akashi, Seijuuro."
"Huah, aku baru tahu kalau kakaknya Shiro-chu juga anggota GoM," Akina berbinar-binar melihat Kuroko.
"Benar-benar mirip," timpal Fuyuki.
"Walau jika Kapten dalam mode polos," terselip perkataan batin Fuyuki.
"Anu, lebih baik kita segera mulai latihan tandingnya," ajakan Ameda ternyata diikuti oleh kedua tim dengan tenang tanpa interupsi.
Setelah perkenalan singkat yang diselingin sedikit perselisihan antara Ace kedua tim, tim Kanshou dan tim Teikou memisah untuk pembicaraan strategi permainan.
"Kaichou, aku sudah menyiapkan strategi yang cocok untuk pertandingan kali ini."
"Terima kasih, Ameda-san. Tapi, aku ingin menegaskan sesuatu."
"Heeeee?" anggota tim bertanya-tanya dengan maksud dari Kaptennya itu.
"Aku ingin menegaskan, bahwa kita tidak bisa menang melawan mereka," ucap Shiroi tegas dan dingin.
"APAAAAA?!"
"Shiroi-san, kenapa kita gak bisa menang dari mereka?!" Natsura heran dengan pernyataan yang baru didengarnya itu.
"Banyak hal yang tidak menguntungkan dari pihak kita. Pertama, perbandingan tubuh kita sangat jauh. Kedua, kekuatan mereka lebih unggul daripada kita."
"Jadi, karena alasan bahwa kita cewek Nyo-ho?" tebak Harumi.
"Ya," Shiroi menjawab dengan sangat singkat.
Jawaban yakin dari Shiroi mematahkan semangat tim Kanshou dalam sekejap. Tapi dibalik itu semua, Shiroi telah merencanakan sesuatu.
"Meskipun kita gak bisa menang, setidaknya kita bisa melakukan sesuatu dipertandingan ini."
Seketika, pandangan anggota timnya langsung mengarah padanya dengan tatapan kebingungan plus harapan. Sepertinya, dia berhasil membangkitkan semangat mereka lagi.
"Apa itu, Kapten?" kali ini, Fuyuki ikut angkat bicara.
"Perkecil, selisih skor kita."
oOoOoOoOoOo
Sesi perundingan selesai. Sekarang, kedua tim yang sama-sama menyabet gelar Generation of Miracle walau berbeda gender itu berjalan ke tengah lapangan. Dari tim Kanshou, sudah ada Shiroi, Natsura, Harumi, Akina, dan Fuyuki. Sementara pihak Teikou, telah berdiri Akashi, Aomine, Kuroko, Kise, dan Midorima. Mereka saling berhadapan dan terasa, aura persaingan yang kuat muncul dari diri mereka. Seolah-olah mereka mengatakan bahwa mereka tak akan dan tak mau kalah. Meskipun tim Shiroi sudah mengetahui dengan pasti mereka tak akan bisa menang, tapi mereka juga masih punya tekad untuk tak menyerah dan tak suka dikalahkan.
"Momochin, aku juga mau ikut bertanding," Murasakibara merengek pada Momoi dibangku cadangan.
"Maaf ya, Murasakibara-kun. Akashi sudah menetapkanmu dibangku cadangan," sebenarnya Momoi ingin mengikutsertakan Murasakibara dalam pertandingan. Namun sayangnya, perintah Akashi terlalu absolut untuk dilanggar sehingga ia tak bisa berbuat apa-apa untuk formasi tim.
"Baru pertama kali aku melihat Kaichou dan Kuroko-san saling beradu," sambung Ameda yang duduk di samping Kiri Momoi.
"Begitulah. Dan sepertinya, pertandingan ini akan berlangsung sangat sengit," Momoi bisa merasakan hawa yang sangat kuat yang ada pada kedua tim yang saling berhadapan itu.
Kembali pada kedua GoM yang saling lempar-lemparan tatapan dingin dan melawan.
"Jadi, kau sudah siap?" dengan nada angkuh dan merendahkan, ucapan Akashi ditujukan pada Shiroi.
"Tentu saja dan kami akan menang dari kalian," Shiroi menyambut ucapan Akashi yang tak kalah sombongnya. Meskipun itu hanya gertakan belaka.
"Hn, Kami lah yang pasti memenangkan pertandingan ini," sanggah Akashi.
"Oh ya?" Shiroi mempertanyakannya.
"Ya, karena setiap kata dari ku absolut dan selalu benar."
Situasi semakin memanas hingga tak seorang pun berani mendekatinya. Ameda dan Momoi hanya menatap mereka dengan kecemasan yang tergambar jelas di wajah mereka. Sementara untuk Akashi dan Shiroi, mereka saling melempar tatapan dan hawa yang jauh melebihi anggota lainnya. Wajar, sebagai Kapten dari tim mereka masing-masing, mereka telah dijatuhi kewajiban dan harapan dari setiap anggota mereka meskipun untuk Shiroi, ia yakin tak bisa melakukannya.
"Kemenangan..."
Te, Be, Ce~
Readers! Io senang banget KnB S2 udah keluar!
dan first impressionnya, KEREEEEENNNNN!
Io sampe greget gak sabar nunggu klanjutannya ^^
oh ya, sekarang sesi balasan review~
NisapikoRii :Yup, adeknya Kuroko itu bisa Yandere, punya 2 kepribadian. Kalo masalah penggaris besi, biar unik aja #hehehehe. Untuk GoM versi ceweknya udh ada dichapter ini dan masalah bisa gakny Shiroi misdirection, kemungkinan chapter depan djelasin^^
Akashi Keita : Arigatou~, iya nih Io masih bnyak kekurangan
Yuki Kineshi : Iya, kepribadian mereka campur dan menghasilkan Shiroi. Errr, warna rambut Shiroi ya? coba bayangin warna rambut Kuroko yang lebih muda, mendekati putih untuk lbih mudahnya
Kumada Chiyu : Untuk Shiroi gak bakalan. Untuk yang lain, maaf Io gak bisa janji
UseMyImaginatio : Oke, chapter ini ada sedikit perkenalan anggota GoM ceweknya. klo kemampuan, chapter depan akan dijelasin lebih detail^^
Makasih buat reviewnya readers! \(^0^)/
dan jangan lupa, please review~
