Title: Overload

Rating: T

[Karakter dalam cerita ini adalah milik penciptanya, bukan saya, suer.

Tidak ada satu pun karakter yang terluka selama pembuatan cerita

*kecuali Eren, mungkin* XD]

Warning: AU, Shounen ai/Yaoi, OOC, alur maju mundur kaya odong-odong


Part 3


Kesadaran menghampiriku dan aku membuka mataku perlahan. Aku ada di dalam ruangan yang gelap dan tidak familiar. Satu-satunya cahaya yang menerangi ruangan ini hanya cahaya matahari yang masuk melalui lubang kecil di dinding ruangan.

"Uuh…di mana ini?" aku memegangi kepalaku yang terasa sakit, rasanya seperti habis terbentur benda keras.

Aku melihat sekeliling. Jelas sekali tempat ini bukan rumahku. Tempat yang sangat kotor, gelap dan berdebu. Beberapa benda berserakan di sekeliling ruangan dan aku bisa mencium bau aneh yang mulai memenuhi ruangan. Aku tidak ingat kenapa aku bisa ada di tempat ini.

"Eren?"

Seseorang memanggil namaku. Aku melihat ke belakang dan menyadari ternyata aku tidak sendirian. Seorang wanita duduk tak berdaya di dekat pintu ruangan, di pangkuannya tertidur seorang anak gadis yang kelihatannya sebaya denganku.

"Eren…kau tidak apa-apa? Kemari sayang," wanita itu mengulurkan tangannya dan memintaku mendekat. Dia tersenyum, senyuman yang selalu kulihat setiap hari saat aku terbangun dari tidurku.

"Ibu?" aku berdiri dan berjalan ke arahnya, "kenapa ibu ada di sini? Tempat apa ini? kenapa ibu menangis? Apa yang sebenarnya terjadi?" aku tidak tahu tapi mulutku tidak bisa berhenti memberi pertanyaan.

Air mata kembali mengalir di pipinya, "Maafkan ibu sayang," ujarnya lemah.

Pintu di sampingnya tiba-tiba terbuka, aku tidak ingat siapa yang datang–aku terlalu bingung untuk mengingatnya. Hanya saja sebuah cahaya mengejutkanku. Sinar matahari yang menerobos masuk lewat dinding di belakangku terpantul di benda yang dibawa orang itu. Dia membawa sebuah kapak yang besar…dan mengangkatnya di atas kepala ibu.

"Maafkan ibu," ibuku kembali terisak.

"Tidak, tidak…" aku mendekati mereka, tapi tubuhku gemetar, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan "hentikan..."

"Hentikan…"

"Maafkan ibu…"

Kapak berlumuran darah itu kembali bersinar saat terkena cahaya matahari. Laki-laki itu mengayunkannya ke arah ibu…tidak…hentikan…kumohon…hentikan, hentikan…

"HENTIKAN!"

"Eren!"

Aku membuka mataku. Aku terbangun di dalam ruangan bercat putih yang penuh peralatan medis. Ini… ruang kerja ayahku.

"Eren?" ayah menggenggam tanganku, "kenapa kau menangis?"

"Huh?" aku menyentuh wajahku yang basah karena air mata.

Kenapa aku menangis?

Kenapa?

Apa yang terjadi?

Apa yang…

Tidak!

"Ayah! ibu…ibu! Kita harus cepat! Jika tidak…jika tidak…!"

"Eren! Tenanglah…apa yang sedang kaubicarakan?"

"Apa…yang kubicarakan? Apa maksud ayah?! Mereka…mereka mengurung kami! Ibu…laki-laki itu! Laki-laki itu melakukannya! Aku akan membunuhnya! Aku akan membunuh mereka! AKAN KUBUNUH MEREKA SEMUA!"

"EREN! Tenanglah, semuanya baik-baik saja…" ayah memaksaku kembali berbaring, dia mengambil sesuatu dari meja kerjanya dan saat dia kembali ke hadapanku, dia memegang sebuah jarum suntik, "semuanya akan tetap baik-baik saja, Eren… kau hanya perlu melupakannya…lupakan semuanya…"

"Apa maksudmu? Apa yang akan ayah lakukan? Kenapa kau melakukan ini?" aku menjauh tapi ayah menangkapku dan menusukkan jarum itu ke tubuhku.

Kenapa? Kenapa aku harus melupakannya? Tidakkah kau menginginkan itu juga? Orang-orang seperti mereka…orang-orang seperti mereka pantas mati…benar 'kan?

"Dokter Yeager…obat penenang hanya akan memperlambat proses pemulihan ingatannya, bahkan mungkin keadaannya akan jadi lebih buruk dari sekarang…"

Seseorang datang dan bicara pada ayah. Tapi pandanganku berubah buram. Tiba-tiba semuanya berputar. Aku tidak bisa fokus. Telingaku berdenging. Apa yang terjadi?

"Kecelakaan ini…bukankah ini kesempatan yang baik? Lebih baik dia melupakannya…kau juga melihatnya 'kan? Wajahnya terlihat lebih tenang saat dia tidak mengingat apa pun…"

Apa maksudmu…ayah?

Aku tidak kuat lagi, kepalaku terasa berat dan beberapa saat kemudian semuanya menjadi gelap.

.oOo.

"Rivaille-senpai…gadis yang itu manis sekali…kau harus lihat yang ini…"

Sama sekali tidak ada yang berbeda dengan kegiatan Eren, walaupun beberapa hari sebelumnya dia mengalami sakit perut akut karena tendangan Rivaille. Laki-laki itu pulih dengan cepat dan sudah mulai melakukan ritual pengintipannya kembali, dengan sebuah teropong baru tentunya–kali ini warnanya merah.

"Berisik, bawel," Rivaille ingin sekali menutup telinganya tapi sialnya hari itu dia tidak membawa iPod-nya.

"Tapi kau harus lihat, senpai pasti setuju gadis ini sangat manis…"

"Aku tidak peduli."

"Tidak Senpai, kau harus lihat dengan matamu sendiri."

"Berhentilah, sudah kubilang aku tidak peduli."

"Tapi ini seorang gadis, dengan pakaian renang!"

"Aku tidak tertarik pada gadis," ujar Rivaille singkat.

Eren menghela nafas kecewa, "Oh…" tapi sedetik kemudian matanya terbelalak sempurna, "oooh?!" laki-laki bermata kehijauan itu pun langsung berjongkok di depan Rivaille.

"Apa?" Rivaille menatap Eren dengan wajahnya yang selalu tampak tanpa emosi–yah, kecuali saat dia terlihat kesal karena Eren selalu mengganggunya.

Eren tampak ragu-ragu tapi karena dia sangat penasaran akhirnya dia memutuskan untuk menanyakannya, "Jadi…kau tertarik pada lelaki?"

"Kapan aku bilang begitu?"

"Tapi tadi Senpai bilang Senpai tidak tertarik pada gadis?"

"Aku hanya bilang aku tidak tertarik pada gadis, aku tidak pernah bilang aku tertarik pada lelaki."

"Ya tapi kalau kau tidak tertarik pada gadis bukankah berarti kau tertarik pada lelaki?"

"Apa hanya itu kesimpulan yang bisa datang ke otakmu?"

Eren mengerucutkan bibirnya dan berjalan lagi ke pagar pembatas, "Kenapa sih, padahal kalau kau tertarik pada laki-laki juga tidak apa-apa 'kan, kenapa harus disembunyikan?" laki-laki yang lebih tinggi itu kembali mengambil kesimpulan asal.

"Hei, kau-"

"Ah jangan ganggu aku dulu, Senpai! Gadis yang satu ini lebih manis lagi."

Rivaille memutar bola matanya, "Agh…terserah."

.oOo.

Setelah pertemuannya dengan Eren sepertinya kata ketenangan tiba-tiba menghilang dari kamus kehidupan Rivaille. Masalahnya, setiap hari juniornya itu selalu saja mengganggunya dengan gadis yang ini dan gadis yang itu. Berapa kali pun Rivaille mengatakan dia tidak peduli, berapa kali juga Eren tidak memedulikan perkataannya. Laki-laki berwajah datar itu bahkan ragu kalau telinga Eren masih bisa berfungsi dengan baik.

"Senpai-"

"Stop!" Rivaille menutup mulut Eren dengan telapak tangannya, "jangan ganggu aku dengan gadis ini dan gadis itu lagi!"

"Hapi hadis yhang inhi-"

"Agh," Rivaille menarik kembali tangannya dan melihat telapak tangannya yang sedikit basah dengan jijik, "menjijikkan," ujarnya sambil melap tangannya dengan saputangan.

Eren memegang bibirnya, "Kenapa sih? Tadi pagi aku sikat gigi kok…ah, tapi Senpai kau harus dengar-" tapi Eren tidak melanjutkan kalimatnya karena Rivaille keburu menatapnya dengan tatapan membunuh yang kejam. Eren mengangguk dan mengatupkan mulutnya kemudian dia menggerakkan tangannya dari ujung kiri ke ujung kanan bibirnya seperti sedang menutup ritsleting.

Untuk beberapa saat Rivaille bisa membaca buku di tangannya dengan tenang. Hanya untuk beberapa saat, sungguh, hanya untuk beberapa saat karena 10 detik setelah Eren menutup mulutnya laki-laki sudah mulai kembali bicara.

"Senpai, aku tidak suka keheningan seperti ini…"

Rivaille melirik Eren sebentar tanpa berkata apa-apa. Pandangannya terarah ke wajah Eren kemudian jatuh ke teropong merah di samping kakinya.

"Kalau begitu kembali ke kegiatanmu, jangan ganggu aku."

Eren melirik teropongnya. Benar, dia bisa kembali mengintip dan berteriak sesukanya. Tapi entah kenapa dia selalu ingin melibatkan seniornya itu dalam percakapannya. Mungkin karena Rivaille tidak pernah terlihat tertarik dengan kegiatannya. Atau mungkin karena Rivaille berbeda dengan anak-anak lain yang dikenalnya. Entahlah, pokonya Eren selalu ingin memanggil nama seniornya itu dan membuatnya kesal.

"Kau sedang baca apa Senpai?" dan pada akhirnya Eren memutuskan untuk melupakan teropongnya. Laki-laki itu mendekat ke arah Rivaille dan mengintip lembaran novel yang sedang dibaca sang senior.

"Saat kau membunuh untuk yang kedua kalinya, itu bukan lagi untuk balas dendam, tapi hanya untuk menyembunyikan darah yang pertama…" Eren membaca salah satu dialog yang ada di halaman novel itu, "hmm…senpai suka novel misteri?"

Rivaille melirik Eren, "Aku harus menyukainya, karena jika tidak akan terlihat mencurigakan."

Eren menatap wajah Rivaille, "Huh? Apa maksudmu senpai?" kening Eren sedikit mengernyit saat mendengar pernyataan membingungkan dari pria berambut hitam di sampingnya, "meskipun kau menyukainya kau akan tetap terlihat mencurigakan…ahaha…ha…ha…ha… maafkan aku, tolong hukumlah aku…" candaan Eren langsung digantikan bungkukkan dalam saat pandangan menyeramkan itu kembali menyerangnya.

"Tapi…" Eren melihat kembali buku di tangan Rivaille, "bagaimana pun pintarnya pelaku pembunuhan itu, dalam cerita fiksi dia selalu tertangkap tanpa menyelesaikan balas dendamnya… apa pemeran utama cerita misteri selalu ahli memecahkan kasus seperti itu?" tanya Eren.

"Ah…" tapi sebelum Rivaille menjawab Eren mulai berkicau lagi, "mereka terlalu hati-hati… mereka membunuh korban satu persatu, jadi si peran utama punya banyak waktu untuk memikirkan trik dan mencari buktinya…kalau aku jadi mereka…"

Rivaille langsung menengok ke arah Eren saat laki-laki yang lebih tinggi darinya itu berniat memosisikan dirinya sebagai si pelaku, "Kalau kau? Apa yang akan kaulakukan?" tanya Rivaille. Sejak pertemuan pertama mereka, itu pertama kalinya Rivaille menanyakan sesuatu murni karena rasa penasarannya.

Bukan karena dia benar-benar menggilai cerita misteri, hanya saja, mata Eren saat mengatakan hal itu entah kenapa membuatnya sedikit tertarik.

Eren berpikir, "Kalau aku…kurasa aku akan langsung membunuh mereka semua…" ujarnya.

"Kau akan segera tertangkap kalau melakukan itu, bodoh."

Eren menurunkan kepalanya dan pandangan mereka berdua pun bertemu. Rivaille tidak bisa tidak terkejut saat melihat wajah Eren yang sedang menatapnya. Laki-laki yang lebih muda darinya itu tersenyum, tapi tidak seperti senyuman yang biasa diperlihatkannya–yang membuat Eren terlihat sangat polos dan menyebalkan–kali ini senyuman itu terasa sedikit menyeramkan. Ditambah lagi, pandangan mata Eren yang terlihat kosong. Meskipun secara teknis dia menatap Rivaille, tapi laki-laki itu tahu yang ada di pandangan Eren sekarang adalah sesuatu yang lain, yang tidak bisa ditebaknya.

"Tertangkap?" senyum Eren berubah sinis, "walaupun setelah itu aku mati…aku tidak akan menyesal… Setidaknya, aku sudah menghabisi mereka semua…"

Rivaille menaikkan sebelah alisnya saat mendengar perkataan Eren, "Oh…boleh juga," ujarnya santai sambil menutup buku di tangannya.

"Huh?" tiba-tiba Eren mengerjap, "kenapa tiba-tiba kau menutup bukumu, Senpai?"

Lagi-lagi Rivaille dibuat terheran-heran. Hanya dalam selang waktu 1 detik, pandangan Eren yang biasa telah kembali dan kelihatannya, Eren sama sekali tidak menyadari apa yang sudah dikatakannya tadi. Memberikan kesan seakan orang yang bicara tadi bukanlah dirinya tapi sesuatu yang tiba-tiba 'menempel' dan mengambil alih tubuhnya untuk bicara.

"Kau," Rivaille menyimpan jari telunjuknya di dahi Eren, "lumayan menarik."

Eren membelalakkan matanya saat mendengar kalimat Rivaille, "Senpai…maksudmu…" tangan Eren bergerak dan dia menyilangkannya di depan dada seperti berusaha menutupi tubuhnya, "kau…tertarik padaku?"

Rivaille memutar bola matanya, "Tentu saja bukan, maksudku…" tapi laki-laki itu tidak meneruskan kalimatnya dan memutuskan untuk mengikuti arah pembicaraan Eren, "ah…entahlah, mungkin?" ujarnya sambil memberikan Eren sebuah senyuman.

Eren terdiam, terbius oleh sesuatu yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

"Kenapa kau?"

"Ah! Belnya sudah berbunyi!" laki-laki bermata kehijauan itu langsung berdiri dan berlari memasuki gedung sekolah, meninggalkan sang senior sendirian di sana.

"Ah…" Eren berhenti di ujung tangga dan memegangi dadanya, "ba…baru kali ini aku melihatnya tersenyum…" dan tanpa disadarinya, wajahnya bersemu merah.

.oOo.

"Haaaah…" Eren menghela napas, "benar-benar hari yang melelahkan," ujarnya sambil mengangkat tangan dan meregangkannya.

Sebenarnya hari itu sama saja dengan hari-hari yang lainnya. Tidak ada pelajaran olahraga, tidak ada pelajaran tambahan dan tidak ada hukuman meskipun Eren terlambat datang 20 menit di pelajaran kimia. Tapi entah kenapa Eren merasa berat dan lelah.

Mungkin karena hari itu dia terlalu banyak bicara jadi energinya banyak terkuras. Mungkin juga karena dia tidak sengaja meninggalkan teropongnya di atap sekolah–entah benda itu masih akan ada di sana atau tidak besok. Atau mungkin hanya karena satu nama, Rivaille-Senpai.

"Haah…" Eren berjalan sambil menenteng tas sekolahnya. Adegan itu entah sudah berapa kali terputar di dalam kepalanya. Padahal tidak ada yang spesial, manusia tersenyum itu adalah hal yang sangat biasa dan Eren mengerti betul tentang itu. Tapi tetap saja, setiap kali bayangan sang senior muncul di dalam kepalanya–sedang tersenyum, tentu saja–Eren tidak bisa menahan dirinya untuk menghela napas.

Kakinya terus melangkah ke depan tapi Eren sama sekali tidak memperhatikan jalanan di depannya, dia terlalu larut dalam pikirannya sendiri sampai-sampai tidak menyadari kalau beberapa siswi Tsubasa Gakuen sedang berkumpul di depannya.

"Kyaa!"

Baru saat mendengar suara itu Eren mengangkat kepalanya. Tapi sudah terlambat. Laki-laki itu sudah terlanjur menabrak salah seorang siswi Tsubasa Gakuen sampai sang gadis terjerembap ke tanah…dengan memperlihatkan warna celana dalamnya.

"Ah…"

Eren menghentikan setiap pergerakan tubuhnya. Hanya dalam waktu beberapa detik, keberadaannya menjadi pusat perhatian di tempat itu. Dia berdiri di depan gerbang sekolah Tsubasa Gakuen dengan gadis-gadis berseragam putih di sekitarnya. Sebenarnya tidak ada yang salah karena jalanan itu adalah jalan umum, tapi sialnya, saat itu hanya Eren laki-laki yang ada di sana.

"Apa yang kaulakukan pada Historia?" tiba-tiba semua gadis yang ada di sana menatap Eren dengan tatapan yang galak dan tidak menyenangkan. Sebenarnya sejak dulu bukan rahasia lagi kalau para gadis selalu siap maju ke garis depan saat teman satu kelompok mereka ditindas. Tapi…

Eren menelan ludah, "Tapi aku tidak menyangka akan semenyeramkan ini…" gumamnya pelan.

"Apa katamu?"

"Ah, tidak-tidak…maafkan aku, aku tidak sengaja…aku sedang melamun tadi…"

"Apa kaupikir kami akan menerima alasan semacam itu?!"

Eren hanya bisa mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Kenapa dia memilih jalur itu untuk pulang, kenapa dia harus melamun, kenapa dia membiarkan bayangan tentang seniornya memenuhi kepalanya, kenapa seniornya itu harus tersenyum hari itu? Dan kenapa para gadis bisa begitu menyeramkan seperti ini?!

"Semuanya gara-gara Rivaille-senpai…" fitnah Eren dalam hati.

"Nah, apa yang harus kulakukan padamu sekarang?" seorang gadis berkulit gelap mendekati Eren sambil mengepalkan tangannya.

"Hentikan Ymir…sudahlah aku tidak apa-apa…" gadis lain dengan rambut pirang menahan gadis itu. Dia gadis yang ditabrak Eren. Walaupun dia bilang tidak apa-apa, tapi mata birunya berkaca-kaca dan wajahnya merah. Kelihatan sekali dia merasa sangat malu.

"A…aku benar-benar menyesal…maafkan aku…" Eren memohon. Dia benar-benar merasa bersalah karena menyebabkan gadis semanis itu berkaca-kaca.

"Hah, kalau minta maaf saja cukup, untuk apa aku melatih tinjuku?!"

"Ymir!"

"Apa yang sedang kalian lakukan, kenapa ribut-ribut begini?" sebuah suara terdengar. Suara yang kalem, lembut, tenang dan hampir tanpa emosi. Diikuti penampakkan seorang gadis berambut hitam sebahu yang berwajah dingin.

"Mikasa!"

Gadis bernama Mikasa itu berjalan ke arah kerumunan dan sampai di hadapan Eren. Eren tidak tahu kenapa, tapi saat Mikasa melihat Eren, wajah dinginnya tiba-tiba berubah. Ekspresi yang tidak bisa Eren terjemahkan, seperti campuran antara terkejut, tidak percaya dan…lega?

"Apa ini benar-benar kau…Eren?" gadis itu memanggil namanya.

Eren memperhatikan Mikasa. Tidak, dia tidak ingat pernah bertemu gadis itu sebelumnya. Tapi suara itu, suara saat gadis itu memanggil namanya…rasanya sangat familiar. Apa dia mirip dengan seseorang? Tidak, kalau iya Eren akan mengingatnya saat itu juga. Mungkin…mungkin dia bagian dari memori Eren yang hilang?

"Akh…" tiba-tiba kepala Eren terasa sakit. Dia tidak bisa melihat dengan jelas karena tiba-tiba beberapa bayangan menghampiri pikiran dan menutup pandangannya. Suara yang tidak dikenalnya, kejadian yang tidak diingatnya. Tapi rasanya tidak asing, mungkin itu potongan-potongan dari masa lalu Eren yang terlupakan.

Lari!

Dia menangis.

Eren!

Dia memanggil namaku.

Aku harus melakukan ini, Eren!

Dia mendorongku kemudian berlari menjauh.

Sesuatu yang hangat mengaliri tubuhku. Darah?

Mikasa… kenapa kau melakukan ini?

Mikasa!

Dia… Mikasa?

"Akh!" Eren memegangi kepalanya yang pusing. Pandangannya berputar. Tenggorokannya tercekat. Dadanya terasa sesak. Seluruh tubuhnya rasanya sakit.

"Kau kenapa?" Mikasa mendekati Eren, tapi laki-laki itu menepis tangan Mikasa dan menjauh.

"Siapa…kau?"

"Eren?" Mikasa terkejut mendengar pertanyaan Eren. Mungkinkah Eren telah melupakannya?

.oOo.


Thanks for reading :D

Aaa...cerita macam apa ini...maapkan karena ga bisa bikin yang sesuatu... #derita author abal
makasih review follow dan favnya mentemen :') #terharu